Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 28 Februari 2006

"Coz I'm Muslim"

By On Februari 28, 2006
seperti yang pernah kutulis pada artikel sebelumnya kalau jaman sudah tak lagi muda. banyak hal-hal baru yang muncul dan semakin menggila dan sepertinya sulit sekali dibendung. menerjang seperti air bah yang merusak tanggul-tanggul keimanan berupa akidah. tapi sayangnya tak ada yang sadar dengan bencana besar itu. merasa adem ayem saja padahal sedang menjadi korban dari keanehan jaman yang tua ini.
disekelilingku kutemui keganjilan-keganjilan yang sangat menyiksa batin ini. meraung-raung meneriaki karena mereka telah terseret arus yang demikian dahsyatnya. membuat mereka timbul tenggelam dan kian sesak tapi mereka tak merasakannya karena terbuai oleh gaya hedon tersebut.
berbagai alasan diberikan untuk melegalkan kekhilafan. alih-alih ingin mencari jati diri yang terjadi malah seperti kerbau yagn dicocoki hidungnya. diseret arus jaman dan kemudian dikenalkan pada budaya-budaya instant yang benar-benar instant. untuk berpakaian cukup dengan gaya minimalis saja dan dipenuhi dengan berbagai aksesori seperti tatto dan tindik yang belakangan ini semakin trend. padahal perbuatan tersebut sangatlah dibencioleh Allah sehingga Ia melaknat siapa yang memakai tatto. tapi apa daya, ternyata ayat-ayat Quran sekarang tak ampuh lagi untuk menjadi benteng pertahanan aqidah. tidak, tepatnya saya ingin mengatakan kalau kebanyakan orang sengaja meninggalkan al Quran agar ia terlepas dari segala norma dan aturan sehingga bisa berbuat apa saja sesukanya. kalau begitu benarlah kata rasulullah " jika kalian tak ada lagi malu, maka buatlah sesuka kalian".
saya miris sekali melihat anak-anak muda generasi islam yang mulai kehilangan jati diri kemuslimannya. identitasnya sebagai muslim mulai kabur dan buram. mereka lebih suka mengadopsi gaya hidup hedon dan suka berfoya-foya. menanggalkan indentitas diri demi mengikuti trend agar tidak dibilang kuper alias kurang pergaulan. parahnya lagi yang berfkir bahwa islam begitu berat dan mengekang. gaya hidup tersebut sebenarnya bukanlah berasal dari mereka sendiri tetapi asli jiplakan dari luar. sebagian orang mungkin akan berfikir darimana mereka menjiplaknya. tapi saya akan bilang kalau semua itu mereka jiplak dari media terutama media telivisi. darisanalah semua bencana ini bermula dan akhirnya menjadi kebiasaan dalam setiap individu sehingga semuanya menjadi lumrah dan diterima oleh masyarakat. realitasnya kadang lebih barat daripada orang barat sendiri yang menciptakan trend tersebut. tapi pertanyaannya, apakah dengan cara begitu kita menghormati diri? dengan cara mengikuti apa yagn disodorkan oleh jaman tanpa memfilternya terlebih dahulu mana yagn baik dan tidak dan menelannya mentah-mentah?
oke, saya ingin berbagi pengalaman saya sedikit. semoga apa yang saya paparkan ini menjadi renungan bagi kita semua dan juga untuk diri saya semoga tetap istiqomah menjalaninya. amin.
ketika saya mengikuti sebuah pelatihan, saya ditanya oleh fasilitator, dia berasal dari inggris dan beragama nasrani. "bagaimana kamu menghormati diri?" itu pertanyaannya.
tanpa ba bi bu dan berfikir panjang saya menjawab " dengan berpakaian seperti ini saya telah menghormati diri saya". hanya itu jawaban saya. berpakaian seperti ini maksudnya adalah menutup aurat dengan baik dan benar, sesuai dengan yang ditegaskan oleh agama. saya sama sekali tidak menduga dengan responnya dipenghujung acara. dia bilang sangat salut dengan cara saya menghormati diri, sementara dia cukup dengan tidur di akhir pekan untuk menghormati dirinya.
sebelumnya mungkin saya berfikir apa yang saya lakukan sederhana sekali. hanya menutup aurat karena saya adalah seorang muslimah. tapi setelah itu saya begitu mengebu-gebu dan begitu bangga dengan kemuslimahan saya. bukan berarti sebelumnya saya tidak bangga, tapi pengakuan itu saya terima dari seorang yang sama sekali tidak tahu mengenai islam. tetapi logikanya memang tajam sehingga ia mampu menalar bahwa dengan menutup tubuh dengan baik dan benar berarti mengurangi niat-niat jahat mata jalang yang melihatnya. bukankah suatu kehormatan besar ketikakita berjalan takada yang mengganggu apalagi melecekan? so, mengapa harus dijajakan? padahal Allah menciptakan kita telah begitu sempurna, bukan seperti barang loak yang bisa di jajakan dipinggir jalan tanpa ada pembungkus.
karena aku muslim, karenanya saya tidak mau kehilangan identitas diri saya. kalau orang lain saja bisa menghormati saya kenapa saya lantas menghinakan diri saya dengan mengikuti gaya-gaya yang tak jelas asal usulnya. bukankah itu sebuah kesiaan? dengan begitu bukan berarti saya ini sudah baik sekali, tapi seperti orang mengasah parang..makin diasah makin tajam. artinya mau berusaha untuk menjadi lebih baik. perhiasan yang ada ditubuh anda juga tidak serta merta menjadi seprti itu. perlu waktu lama untuk memprosesnya menjadi demikian indah. mulai dengan menggalinya dari perut bumi, kemudia di bakar dan ditempa dengan api. barulah kemudia dia diletakkan dietalase toko yang bersih dan terlindungi.
semoga kita bisa mengambil hikmah

Senin, 27 Februari 2006

"kerinduan yang tertunda"

By On Februari 27, 2006
hari ini kembali sepi menyergapku, meringkik bersama dingin malam dalam selimutku. menjawil leguhan hati untuk waktu kedepan. kembali kurasakan seperti kemarin. merenda hari-hari dengan perasaan berdebar-debar dan sedikit membayangkan kenyerian dalam hati kecil keperempuananku. tapi entah mengapa hari ini aku bahagia sekali. tak dapat kuterjemahkan seperti apa rasanya. seperti merasa dekat sekali dengannya. padahal seperti biasa tetap jauh.
hari ini kembali kerinduan akan menemaniku. menjejakkan langkah bersama alunan desau angin. menyelinap seperti sinar matahari pagi. panas tapi tetap indah. dan akan semakin resah bila tidak ada. ini bukan yang pertama dan bukan pula yang terakhir. akan ada waktu-waktu peristirahatan berat untuk batin ini. seperti ini akan ada terus.
ingin sekali aku berbicara dengan bahasa keseharianku. tetapi kenapa setiap kali menulis selalu bahasa seperti ini yang tercipta? bahasa kalbu yang terlukiskan dengan kehalusan perasaan dan naluri. bahasa kalbu yang kadang sulit untuk diterjemahkan oleh lisan. kadang terlintas juga di benak untuk bertanya tentang ini dan itu, mencoba mencari jawaban dari semua gundah yang ada dihati. tapi kemudia hati ini berkata lain, berdebat dan akhirnya sebuah keputusan terlahir. kukandung dengan kegalauan hati dan asa yang menggebu. biarlah segala keresahan ini tertanam diahati. toh bukankah dari awal semuanya telah tercermin dengan baik. semuanya telah dipresentasikan oleh waktu dengan baik, tapi waat itu barangkali logika sedang berlibur ke taman rerumputan yang penuh dengan bunga-bunga indah kehidupan.
dua hari yang lalu, aku menjadi saksi bahwa cinta itu begitu kuat. setelah itu aku jadi berfikir mencintai dan dicintai adalah hak setiap insan. tetapi ketika kita tidak bisa memiliki cinta itu apakah harus menyakiti diri dan sampai frustasi? aku pikir mungkin itu yang salah dari pengguna cinta. banyak orang terjebak pada hal-hal seprti itu. oh...andai saja cinta itu tidak abstrak tentu akan mudah sekali memahaminya. dua hari yang lalu aku juga menyaksikan bahwa kekuatan cinta mampu menolak cinta-cinta yang datang berikutnya. mencoba bertahan dengan perasaan yang sudah ada dan selalu memupuknya. padahal selama itu pula cinta menggerogoti tubuh ringkihnya tetapi dia terus hidup untuk harapannya tetapi juga dia membunuh dirinya dengan cinta karena itu sebuah ketidak mungkinan.
sekarang aku semakin yakin, bahwa mencintai bukan berarti harus memiliki. hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah apakah cinta yang lain bisa kuterima ketika aku masih menyimpan cinta mu? sama seperti ketika aku membuat tulisan ini. aku lebih bisa membuatnya dengan baik disaat-saat waktu seperti sekarang ini kuhabiskan denganmu. dan meskipun kau tak ada, aku merasa kamu tetap ada. membalas pesan-pesanku atau memarahiku.
aku ingin mengetuk pintu kehidupanku untuk waktu bertahun-tahun kedepan. akankah sore hari seperti ini menjadi waktu palign istimewa bagiku? apakah akan selalu ada kenangan-kenangan indah yang terbekam dihati ini? sehingga aku akan terus mengenang mu?
aku tidak ingin bercerita apa-apalagi....karena aku hanya ingin mengatakan....ini adalah permulaan untuk waktu sebulan kedepan. kerinduan yang tertunda untukku.

Sabtu, 25 Februari 2006

"Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri" Oleh: Gede Prama

By On Februari 25, 2006
Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada masa sulit dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau kehidupan pribadi yang diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah keadaan yang diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin digoda oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan hidup ala anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencang-kencangnya dari godaan hidup sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun. Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung.
Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti seluruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi ‘patung logam’ yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan – dan bahkan mungkin trauma – yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuman selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-keadaan ini.
Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan hidupnya kadang mengagumkan. Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika dipuji maupun setelah dimaki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah, hanya untuk mendengar. Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa teknologi informasi bahkan mengatakan bangga menjadi sahabat saya. Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon, tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata indah Confucius : ‘Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa’.
Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataann inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah jari tangan. Cuman sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati ke diri ini. Lebih-lebih ketika sang kesulitan datang menghimpit badan.
Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden direktur di sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung menelepon saya dari tempat yang jauh. Ia berucap sederhana : ‘saya bangga jadi teman Anda’. Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang ketika kita amat membutuhkannya

"Kejujuran Hati"

By On Februari 25, 2006
tiba-tiba engkau hadir merayap jauh dihati, menelikungkelokan hidupku dan singgah dipelatarannya. selamaitu pula seperti ada yang membawaku terbang mengitariangkasa, merajut asa dan secercah harapan kembalitertata. kadang-kadang aku berfikir telah mengkhianatidiri tapi ternyata bukan, waktu yang membawaku kesana.mengenalkannku pada dunia lain yang sebelumnya samasekali tak kumengerti dan hanya ada dalam angan.sekali waktu ku coba bertanya dengan segala keingintahuanku tapi ternyata itulah awal dari segalanya.dawai-dawai yang berdenting bermula darikalimat-kalimat keheranan dan ketakjuban. hinggaakhirnya sebentuk pengakuan telah terjadi. pengakuandiri pada kejujuran hati yang tak mungkin didustai. ketika pagi-pagi ku berharap ada sesuatu yang hadirdan menyapa hati. beriringan dengan sapuan lembutangin yang telah membawaku ke alam lain. ketika semuamenjadi tak biasa. tak ada lagi yagn perlu kutakutiselainDia. ah...memang indah menjalani semuanya tapimengapa harus terbersit keperihan yang kadang membuatmembuat sesak di dada. saat kenyataan berbicara lain.sebenarnya apa yang kucari? aku ingin pengakhiran yangbagaimana? saat aku mulai mengayun langkah untukmemulai perjalanan ini, aku tahu ini hanyalah sebuahkesiaan dan tak ada perhentian bagi perjalanan hatiyang melelahkan. andai saja semua bisa ku skenariokansendiri aku akanmembuatnya lebih baik. ingin ku buatlakon yang indah tanpa ada air mata, tanpa keperihandan tikungan-tikungan yang berarti. sehingga takperlulah menyakiti hati siapun untuk memperolehbahagia. memang kadang perhentian yang bukan pada tempatnyamembuat lupa akan banyak hal. pelangi-pelangi yangindah padahal hanya ada disaat-saat tertentu bahkanlebih serign mendugn menghiasi pelataran langit.tetapi mengapa mau? itulah kejujuran hati. tambatanyang bukan pada tempatnya memang harusberpindah-pindah. agar tidak ada perahu-perahu lainyang merasa terganggu dengan kehadirannya. sekalipunsangat ingin menambat disana, tapi itu bukanlahdermaga yang cocok untuku. aku yakin dan percaya suatusaat akan ada pelabuhan yang sesuai untuk diriku.pelabuhan yang dihiasi dengan karang-karang yang kokohnamun tersimpan ribuan kelembutan dan kebersahajaanpada dinding-dinding hati kuatnya. kerinduanku yang sering kali tak bertepi. kadangmembuatku lupa akan diri ini. mengais kembali logikayang sempat terserak dan mengaitkannya dengan keimananyang kucoba semai kembali. mengajak diri sesaat untukpergi ke laut lepas hidup ini. bahwa aku tidak sedangberada di kelokan sungai yang kecil. tapi ada dilautlepas. saat hati harus menentukan apa dan apa. saatitu pula sering bergolak perdebatan batin yang akusendiri kadang tak bisa menterjemahkannya.menghadirkan gemuruh-gemuruh yang hampir merebahkanpertahanan diri. kupikr kejujuran hati adalah yangterbaik untukku. mencoba jujur pada diri sendiri dantak mengingkari apa yagn terjadi.kadang kupandangi langit untuk mencari jawaban darisemua ini, juga untuk menorehkan kecemburuanku padasemburat jingganya yang indah. mengais kembali logika.dan melihat kawanan camar yang terbang berkelompok.seperti itulah kadang gemuruh hati. ketika marah takterbendung tak ada yang patut untuk disalahkan. ketikabahagia datang juga itu bukanlah akhir dari segalanya.telah banyak surat-surat cinta tak bertuan yangkubuat. tak tahu harus ku kirim untuk siapa. tapimembutnya sangat indah, bercerita tentangrumput-rumput hijau dan bunga-bunga kehidupan. rasanyaseperti bermekaran kembali hati ini. padahal pagi iniada yang lebih dari itu ingin kuceritakan. tapimungkin belum saatnya dan aku harus menunggu lama lagiuntuk itu. salahkah kalau aku menginginkan sepucukbalasan surat cinta kepada yang tak bertuan itu?

Selasa, 21 Februari 2006

"karang-karang kokoh"

By On Februari 21, 2006
untuk seseorang,
betapa aku bahagia bisa mengenalmu. mengajarkanku arti kebebasan dan keagungan

Sabtu, 11 Februari 2006

Karena Cinta Perlu Pengungkapan

By On Februari 11, 2006
ilustrasi @profmuluka.com
Tiga hari lagi valentine day akan tiba, hari yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang. hm...apakah harus menunggu setahun lamanya untuk menunggu hari kasih sayang? ugh....terlalu lama. sangaaaaaat lama.

orang-orang terutama remaja menyambutnya dengan suka cita. berbagai persiapan lantas disiapkan sesempurna mungkin untuk memperingati hari tersebut. mulai dari baju cantik, pernak-pernik, aksesori sampai makanan dengan sejuta aneka, oh ya tak lupa juga kado untuk diberikan kepada seseorang yang dianggap paling istimewa. bukan hanya persiapan fisik seperti itu saja yang jadi menu utamanya, persiapan non fisik juga tak luput dari perhatian. seperti misalnya bagaimana mempersiapkan diri untuk mengatakan"aku cinta kamu" kepada someone specialnya agar tidak norak dan terkesan mengada-ngada.

Jumat, 10 Februari 2006

"Dari Mengutak-atik Bon sampai ke Sekolah Copet"

By On Februari 10, 2006
Jaman memang sudah tak muda lagi, barangkalai itu pula yang membuatnya jadi edan. tepatnya manusia yang menjadikannya edan. seperti orang yang mengatakan bajunya sempit, apa benar bajunya yang sempit....atau dia yang gemuk??? makanan kah yang membuatnya gemuk atau selera makannya yang enggak bisa di rem???
kita memang terbiasa dengan menyalahkan orang lain maupun menyalahkan keadaan, sehingga dengan dalih itu lantas melegalkan segalanya. termasuk perbuatan yang banyak mudharatnya. bahkan mencelakakan orang lain. membunuh, dengan alasan untuk nyari makan, menipu dengan dalih menyelamatkan diri, korupsi adalah kompensasi karena telah pusing mengurus rakyat, tapi rakyatnya tetap aja kelaparan dan miskin. wuih....pusing aku...
semalam, kira-kira pukul sebelas malam aku masih keluyuran di jalan with my sista. kami nyari voucher yang jumlahnya tidak sedikit. jadilah kami menyusuri jalan nyari dimana ada counter hape yang masih buka selarut itu. toko terakhir yang kami masuki cukup memberikan kejutan kecil bagiku. setidaknya sebuah ide langsung muncul ketika itu.
"harganya mau ditulis berapa di bon?" tanya penjualnya.
oow.....musibah apa ini pikirku kaget!
"buat aja harga jualnya yang seperti biasa...."
oow....aku malah lebih kaget lagi mendengar jawaban itu. tapi....untuk menegur pun aku tak berani, selain dia bukan kakak kandungku umurnya juga terpaut jauh....dan banyak lagian-laian lainnya yang tak bisa kujelaskan. kalaupun ingin menyentil tentu bukan saat itu waktunya. nanti saja, kalau ada waktu yang pas. hm....tapi kapan ya...??? ketemu pun se abad sekali.
harga vouchernya sembilan puluh delapan ribu rupiah per lembarnya, tapi karena ngambilnya banyak ada diskonnya seribu perlembar. tapi yang ku herankan kenapa si penjual harus menawarkan berapa harga yang harus di tulisnya di bon? bukannya langsung aja tulis sembilan puluh tujuh ribu karena memang segitu. tapi yang tertera justru harga dasarnya. ah...siapa yang edan??? tentu bukan aku kan?
tadi pagi, aku bangun tidur agak telat. jam setengah tujuh pagi. luar biasa. belum cuci muka langsung nyalain tv. diantara chanel-chanel yang ada aku memilih trans tv. acaranya aku nggak tahu apa yang pasti semacam news morning gitu lah...tanpa coffe tanpa snack...nonton tetap tidak menjemukan, apalagi sebelumnya ditayangkan liputan tentang bisnis esek-esek...hiks..hiks....lagi-lagi sepagi ini??? tuing..tuing....puyeng! hm...bukannya puyeng karena semalam nonton sampe jam tiga pagi?
kekagetanku pagi ini lebih dari yang semalam. setidaknya menundaku untuk mencuci muka dulu hihi.... di Surabaya, yang saat ini hujan tak henti-hentinya ternyata ada yang menarik disana. surbaya ternyata tidak hanya terkenal dengan rawon atau julukannya sebagai kota pahlawan aja. tapi ada yang sangat luar biasa uniknya. bahkan mungkin tidak ada di penjuru dunia manapun.
orang sekolah untuk menjadi pintar bukan sesuatu yang luar biasa. kalau ada program S 4 mungkin juga banyak yang mau minta ada program S5. dan dijaman modern ini yang nggak sekolah pasti akan terpinggirkan.
tapi kalau sekolah untuk menjadi copet....ini baru luar biasa. tidak ada gedung bertingkat seperti di universitas-universitas terkemuka. tak ada meja atau kursi belajar, apa lagi buku2 dan kurikulum yang teratur dan baku. yang ada hanyalah seorang dosen tunggal dengan beberapa murid yang di didik dan dilatih untuk jadi pencopet profesional. benar- benar menakjubkan. aku sendiri sampai terbeliak mendengarnya.
barangkali kata yang tepat adalah, apasih yang nggak mungkin di jaman sekarang ini? termasuk mengenai sekolah copet tadi. meski tidak formal tetapi telah mencetak alumni2 yang militan dan profesional dibidangnya. lagi-lagi dengan alasan yang sangat membuat trenyuh, "karena dia sayang aku makanya aku diangkat jadi muridnya di sekolah copet" begitulah ungkapan seorang alumni copet.
lain lagi alasan si tukang pijit yang menyediakan pilihan berupa paket-paket dalam melayani pelanggannya. demi si buah hatinya, tak apalah dia jadi pemijit cowok-cowok badung yang hidungnya sedikit belang. lalu diapun rela kemudian dipijit kembali. tiga juta empat juta hanya dalam tempo dua minggu...uhg...menggiurkan memang. tapi apa sudah sedemikian edannya jaman ini ya? karena single parent lantas dia jadi pemijit ganda begitu? uhg...naif.
uhh...sebelll....kalau sayang kepada sesama mengapa harus menjebaknya ke lembah nista begitu? dengan mengajarkannya sekolah copet. mengapa bukan di ajarkan alif ba ta saja. kalau cinta kepada anak, kenapa tega memberinya makan dari jerih yang tak halal? inilah jaman millenium. jaman edan, manusianya yang membuat dunia menjadi kehilangan berkahnya. sungguh, kalau saja bukan karena hewan-hewan ternak, bayi merah yang baru lahir atau karena tua renta, barangkali Allah telah menurunkan azabnya kepada kita. wallahu'alam. (ihan's)

Selasa, 07 Februari 2006

"Riak Hati Yang Bergelombang"

By On Februari 07, 2006
laut-laut bergemuruh berpindah kehati ketika kerinduan menyergap
angin-angin gunung menusuk kalbu ditengah malam tanpa cahaya
tubuh-tubuh menggigil memanggil-manggil
meratuk-ratuk menahan gelisah
berdenyut-denyut menahan sesak dan riak hati
agar tak tumpah kehadapan
cukup gelap menamani kesendirian
tak perlulah terlalu memaksa diri
karena rindu memang tak beradab
ketika purnama berbisik menyapa
terdiam bukan bisu
tapi tak tahu menjawab apa
kupikir gemuruh dihati adalah jawaban
atas apa yang terjadi
riak hati yang bergelombang
ada masanya

"Mahasiswa Bakar Bendera Denmar di Perwakilan Kantor Uni Eropa di Banda Aceh"

By On Februari 07, 2006
Banda Aceh, Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Anti Pelecehan hari ini(selasa,07/02/06) melakukan aksi protes ke kantor perwakilan Uni Eropa di Banda Aceh berkaitan dengan munculnya karikatur Nabi Muhammad di Denmark.
Para mahasiswa yang tergabung dari universitas negeri dan PTS juga dari berbagai organisasi kepemudaan dan Paguyuban tiba di kantor perwakilan Uni Eropa pukul 11:40 wib dengan menggunakan dua unit bus damri, satu unit mobil pick up, satu unit mobil pribadi dan puluhan sepeda motor.
para mahasiswa juga turut mengusung puluhan poster dan sebuah spanduk besar yang sangat mencolok dengan tulisan "Denmark Go To Hell". poster-poster tersebut diantaranya berisi kritikan pedas dan protes yang ditujukan kepada Denmark. diantaranya adalah "Denmark the Real Devil" dan "Denmark, Jyllands-Posten Go to Hell".
para mahasiswa meminta perwakilan Denmark untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat muslim di Aceh khususnya dan dunia umumnya. mereka menilai apa yang dilakukan oleh Harian Jyllands-Posten dengan menerbitkan gambar Nabi Muhammad merupakan penghinaan yang amat melecehkan umat muslim diseluruh dunia. karena itu mereka dalam pernyataan sikapnya menuntut agar pemerintahan Denmar menarik izin peredaran harian terkemuka di Denmark tersebut.
Kasus ini berawal saat seorang penulis Denmark, bernama Kåre Bluitgen, berencana menerbitkan sebuah buku yang berkisah tentang Nabi Muhammad SAW. Kalau tak ada aral melintang, buku itu akan terbit dua pekan lagi. Namun, si penulis ini tidak berani memberikan ilustrasi gambar pada bukunya itu. Alasannya, takut dianiaya dan ditekan Islam ekstrimis.Nah, Jyllands-Posten lantas berinisiatif merespons rasa takut Bluitgen. Harian itu mengundang 40 ilustrator untuk menggambar ilustrasi Nabi Muhammad. Dan pada 30 September lalu, sebanyak 12 gambar terbaik dipublikasikan dalam terbitan khusus edisi mingguan.
dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh Khalid Ashim selaku presiden mahasiswa Unsyiah mahasiswa juga menuntut agar pemerintah RI menarik duta besar Indonesia untuk Denmark hingga masalah ini selesai dan membekukan kerja sama dengan NGO yang berasal dari Negara itu yang saat ini berada di Aceh. selain itu mereka juga menuntut agar PBB bertindak tegas dalam hal ini, " karena ini menyangkut dengan seluruh masyarakat muslim yang ada diseluruh dunia. jadi PBB harus turun tangan bukan hanya dari pemerintahan Denmark saja".
Nadira, perwakilan KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim Aceh) mengutuk dan mengecam dengan keras apa apa yang dilakukan oleh Denmark." Denmark harus meminta maaf kepada seluruh muslim di dunia dan membuat pernyataan secara tertulis" teriaknya lantang.
sementara itu, perwakilan dari uni eropa mengaku tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi disana, mereka tahu soal itu juga dari pemberitaan di media-media. namun mereka sangat menyesalkan apa yang terjadi disana. "kita tidak ingin kejadian serupa terulang kembali. kami juga membuka diri untuk berdialog dan berdiskusi dengan siapa saja. kami sangat menesalkan apa yang terjadi di Denmark sana." demikian tegasnya. pun begitu mahasiswa menyesalkan karena bukan perwakilan dari denmark langsung yang menemui mereka.
aksi protes semakin memanas saat mahasiswa membakar bendera Denmark. pembakaran bendera tersebut merupakan bentuk perlawanan dan kecaman sekaligus peringatan atas apa yang telah dilakukan oleh Denmark, juga kepada siapa saja agar tidak melakukan tindakan serupa. mahasiswa juga mengancam akan membakar kantor mereka apabila kasus serupa terulang kembali. disela-sela aksi mahasiswa melantunkan shalawat badar dan beberapa yel. puluhan aparat tampak berjaga-jaga dan mengawasi jalannya aksi.(ihan's)

Senin, 06 Februari 2006

"MERETAS JALAN MENUJU JINGGA" bagian 1

By On Februari 06, 2006
Meretas 1

senja tak lagi muda. malam bertaburan kerlipan bintang dan langit begitu cerah. pertanda bagus untuk perjalanan waktu hingga esok pagi dan hujan tak perlulah menggoda bumi unutk malam ini. cukuplah ia memandikannya siang tadi, dan menyiram daun-daun yang kekeringan. namun begitu tetap bukan isyarat bagus untuk meneruskan petualangannya. apalagi untuk seorang perempuan. walaupun ini untuk yang kesekian kalinya. tetap saja ada getar-getar halus yang merangsek di dadanya tatkala ia belum sampai dirumah hingga pukul sembilan malam. tidak ada yagn akan memarahinya, tapi sudut hatinya berkata begitu.
seorang gadis, menyusuri jalan menuju rumahnya. cukuplah lampu-lampu disepanjang jalan menjadi penerang baginya. tak perlu obor-obor bambu seperti yang dulu ia lihat di kampung neneknya, puluhan tahun lalu, saat ia masih duduk disekolah dasar. saat listrik belum masuk ke desa-desa, dan penduduk menggunakan obor dari bambu sebagai penerangan untuk berjalan dimalam hari. indah sekali. ia tersenyum-seyum membayangkan masa kecilnya dulu. ingin sekali mengunjungi neneknya sekarnag, tapi ia sedang tak libur. nanti sajalah
uups....gadis itu melompati genangan air lalu kemudian menepi dan mengikat tali sepatunya. setelah itu ia menyeberang, tujuannya adalah swalayan yang ada didepan jalan sana. ia ingin membeli beberapa perlengkapannya yang telah habis. dan ia tak ingin berlama-lama disana. pergelangan kakinya sudah lelah tapi ia tetapmenikmati sisa perjalanannya hari ini. menikmati malam bertaburan bintang, mungkin sama nikmatnya dengan menikmati donat bertaburkan keju atau kacang. sesekali berjalan tidak ditemani oleh kekasihnya si Satria itu, yang selalu menemaninya kemana saja. ia ingin bebas untuk hari ini. tidak ingin direpotkan dengan urusan parkir memarkir kekasihnya. tidak sampai sepuluh menit ia telah keluar dengan menenteng kantong plastik besar. setelah menggendong kembali ranselnya ia pun meneruskan perjalanannya. menyusuri jalan t. nyak arif sambil sesekali mengernyit karena kebisiangan jalan, dan jengah melihat yang berseliweran dijalan. nempel kayak perangko.
jingga, begitu nama gadis itu. ia merebahkan badannya ke single bednya. terasa lebih segar setelah ia mandi dg air hangat yang dibubuhi garam. penatnya telah hilagn bersama air yang mengalir mengguyur tubuhnya tadi. tubuhnya kembali terasa ringan walaupun masih menyisakan sedikit capek dipergelangan kakinya. pun begitu ia belum berniat untuk menukar balutan handuknya dnegna piyama kesayangannya. biarkan tubuh itu meregang dulu tanpa balutan apapun. jingga memejamkan matanya, lalu meraih boneka hello kittynya dan memeluknya erta. seolah berjanji tak kan meninggalkannya lagi begitu lama. baru sadar kalau ia meninggalkan rumah pukul tujuh tadi pagi dan kembali mencium aroma kamarnya pukul sepuluh malam. wajar kalau si boneka imutnya cemberut terus dari tadi.
terbayang kembali saat ia menyusuri bantaran sungai krueng aceh, keluar masuk pasar aceh dan makan di warugn pinggir jalan. setelah itu ke perpus masjid raya baiturrahman membaca sebuah bovel keluarga lalu pergi lagi. menyusuri jalan dengan berjalan kaki. semua itu rela ia lakoni demi mencari inspirasinya, mungkin saja ia menemukannya pada hiruk pikuk jalanan atau riak-riak debit air sungai krueng aceh. ia ingin ceritannya nanti benar-benar sempurna. karena itu tak apalah sedikit capek dan kepanasan atau sepatu kotor karena lorong-lorogn becek.
"aku nggak bisa melukiskan keindahan malam atau siang kalau hanya mengandalkan imaji ku saja, Si. begitu juga tentang suasana pasar, keributan....kalau nggak pernah dirasakan, nggak maksimal...." begitu penjelasannya dulu ketika sisi menanyainya. saat itu mereka sedang menyusuri jalanan di penayong, lalu mampir di rex dan menghabiskan dua porsi sate jawa.
"hm....apa juga termasuk menyantap sate ini?" ledek sisi
"hehehe....mungkin. kalau kita udah makan, kita tentu bisa ceritakan rasanya seperti apa...pedas, asam, asin..manis...."
ah..tambah ribet saja dikepala sisi. ia juga heran apakah jingga akan mendapatkan inspirasi dari kolong jembatan penyong, atau dari lorong-lorong becek pasar aceh yang sempit, atau juga pada dua piring sate yang telah dihabiskannya...entahlah, sisi tak mengerti soal inspirasi.
"kalau begitu...jika kamu ingin menulis tentang pelacur apa kamu harus jadi pelacur dulu?" ledeknya tak mau berhenti. jingga menatapnya sejenak dan tertawa lebar, tak peduli dengan orang yang melirik mereka.
"tak lah aku begitu....pelacur itu tak diinginkan kehadirannya sedangkan malam dan siang itu selalu dinanti kehadirannya. melahirkan inspirasi buatku......dan aku masih belum ingin menulis tentang mereka....aku masih belum bisa adil untuk mereka"
"pelacur itu berjodoh dengan lelaki hidung belang...."
"ya ya...harimau...."
"haha....satenya non..habiskan dulu..."
ah....sisi...mengingatnya selalu saja berbuah rindu, ingin memeluknya dan mengecup pipi putihnya. dan sesekali meledeknya sampai pipinya bersemu merah. dua tahun bersama terasa belum cukup untuk menikmati kebaikan sahabatnya itu. masih banyak yang belum jingga pelajari darinya, kesabarannya, kelembutannya, kebersahajaannya, dan kesederthanaannya. sisi memang belum berjilbab seperti dirinya, tapi dalam beberapa hal dia lebih baik dari jingga. kini tak ada lagi yang berteriak membangunkannya disubuh hari, atau sesekali menyiapkan nasi goreng untuk mereka berdua. gadis itu telah pindah seminggu yang lalu. dan jingga tak berhasil mencegahnya.
"aku betah kok ngga tinggal dirumahmu, disini enak....menyenangkan, tapi jauh sekali dengan kampusku. kamu bisa hitugn sendiri berapa yang harus aku keluarkan tiap bulannya."
"tapi disana kamu tinggal dengan saudara, nggak enak lhoo..bla..bal..." cerita serem pun mengalir dari mulutnya
"yeee....sok tahu kamu ini, bibiku baik kok. lagian kalau aku tinggal disana kan bisa menghemat ongkos....."
"ya deh...tapi kalau kamu pengn balik lagi, atau nggak betah disini, aku welcome aja oceeee...."
"seep deh.....kamu emang baik."
"kamu juga apa kurangnya, mu buatkan aki mie goreng, mau teriaki aku kalau subuh...."
"itu nggak seberapa bila dibandingkan dengan kebaikanmu....lihat saja setiap bulan, bilagn kirimanku...."
"udah...udah...yang mau pindah kok malah ngobek sih, cepet beresin barangnya..."
"hahaa....."
jingga selalu saja mebcari celah bila sisi sudah mulai m,enyalip kearah sana. sisi memang bukan berasal darikeluarga serba kecukupan, sebagai anak tunggal ia sama sekali tak mendapatkan perlakuan istimewa, uang bulanannya pas-pasan. tapi ia tak banyak menuntut pada orang tuanya, ia selalu tampil apa adanya, sederahana, nggak neko-neko.
jingga bangkit dari tidurnya, dilemparnya hello kittynya ke sudut. ia merapatkan kembali handuknya yang longgar. ia berjalan menuju ruang tamu. gemericik air dari kolam ditengah2 rumahnya ,mengahdirkan suasana tersendiri baginya. ia mengintip purnama dali balik gordennya. membiarkan sinar keperakan berbingkai emas menyapu lembut wajahnya, bermain bersama desau angin yang menyaput malam. tempat ini adalah favoritnya dengan sisi, mereka serign menghabiskan separuh malam disini, bercerita ini itu atau sekedar mengintip si keperakan. ketika sisi tengah berceloteh tentang apa yagn dilihatnya dia malah terbang bermil-mil jaraknya, menikmati pendar pendar bulan bersama seseorang yagn entah siapa, dan entah dimana. saking jauhnya jingga bahkan tak berani membayangkannya dan cukup mengakhiri semuanya sampai disitu.
sepi dan rindu datang menyeruak, hadir dan hilang begitu saja tanpa dipinta. sama sekali tak tahu adat dan etika. menelongsong masuk ke setiap rongga jiwa tanpa merasa bersalah. setelah ia terlelah-lelah lalu rindu meninggalkannya. kejam.
angin menyapu lembut wajahnya. ada yang menjalri pori-porinya dengan lembut. sejuk. malam tak muda lagi. tapi dia tak peduli. dalam keremangan malam ia terus menyusuri lorong-lorong kehidupannya. berlari bersama kebahagian dan lara yang bersilih ganti. bercanda dengan perasaan yang merangsek-rangsek sisi keperempuanannya atau berceloteh dengan rindu yang tidak tahu adat itu.
air dirambutnya masih menetes, dan ia biarkan tergerai. merambati sekujur tubuhnya, menelusup jauh kerelung-relung. sejuk, dan semakin terasa ketika keduanya bercumbu dengan angin malam. ah....dalam keremangan malam.
gadis itumenyudahi penelusuran jalan kehidupannya, ia telah menemukan dirinya dan ada diabad mana dia sekarng ini. mungkin ia akan menunggu sampai tengah malam atau juga sampai besok pagi untuk menebus kerinduannya. hm....tiba tiba ada yang lebih perih lagi ia rasakan, dan tidak mungkin ditunggu sampai besok pagi. jingga memegang perutnya pelan dan berdesis setelah melambai dan tersenyum kepada sinar keperakan berbingkai emas.
bersambung...

Sabtu, 04 Februari 2006

"Ketika dunia tak lagi bersahabat"

By On Februari 04, 2006
Uang bukanlah segalanya. tapi untuk mendapatkan segala-galanya memerlukan uang. kata itu bukan pertama kali kudengar, memang ada benarnya juga, tapi tidaklah mutlak. sebab ada hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang; cinta. tapi kali ini aku sedang tidak ingin bercerita tentang cinta, terlalu sempit waktu yang kupunya untuk mengupas sisi-sisi cinta dalam sudut pandangku.

siang tadi, seorang perempuan berusia lima puluhan lebih masuk ke mushola di fakultasku. penampilannya terlihat rapi dan apik, tak ada tanda-tanda dia seorang pengemis ataupun apapun julukannya. setelah menyalamiku dan seorang temanku perempuan itupun berlalu. tujuannya adalah kepada sekelompok mahasiswa yang sedang mentoring disudut mushola. barangkalai ada keperluan apa..begitu batinku saat itu.

melihat perempuan itu sangat serius berbicara, akupun terpancing untuk menyimak pembicaraan mereka meski tak terlalu jelas. belakangan ku ketahui ia sedang dalam kesulitan. perempuan itu mengaku telah tiga hari berada di banda aceh dan terkatung-katugn karena tidak ada ongkos pulang ke kampung halamannya ditapak tuan. bisa ditebak, ia sedang berusaha untuk mendapatkannya.

entah mengapa, usilku kumat. aku tanya ini dan itu sebelum menyerahkan sedikit uang dan berharap agar uang itu bermanfaat untuknya. kutanya dimana dia menginap dan ia mengaku tidur di terminal. herannya lagi, dia juga tidak tahu kalau anaknya yang bertugas di Mata Ie telah lama pindah ke Tapak Tuan, dan anaknya sama sekali tidak memberitahukan perihal kepindahannya. keanehan lainnya, menurutku bukan itu saja, perempuan itu mengaku berasal dari pulau jawa tapi sama sekali tak ada tanda-tanda kalau dia berasal dari sana, dari logat bicaranya barangkali.

aku jadi teringat dengan bocah kecil yang meminta paksa kepada orang-orang yang ditemuinya. berbeda dengan anak-anak yang lain, bocah ini memang memiliki keberanian lebih, yaitu langsung menyerobot kantong orang yang dimintainya, dan sebagai imbalannya dia tak segan-segan untuk memberikan kecupan manis di pipi korbannya(laki-laki).

akhir-akhir ini, fenomena seperti diatas bukan lagi hal langka yang harus ditemui di tempat-tempat tertentu. bukan hanya di perempatan jalan atau di traffict light saja tapi juga sudah merambah ke tempat-tempat lain yang dianggap strategis seperti kampus. ada yang menjalankannya karena memang terpaksa dan ada juga yang suka-suka, dalam artian dia masih memungkinkan untuk melakukan perkerjaan lain karena fisiknya sempurna dan sehat walafiat. dan bisa jadi penghasilannya lebih besar dan tentunya kehalalannya terjamin seratus persen.

barangkali dunia sudah semakin tak bersahabat untuk mereka. entahlah. yang pasti setiap hari semakin bertambah saja profesi seperti itu. bahkan untuk anak-anak usia sekolah yang mestinya tak perlu disibukkan dengan kelelahan seperti itu guna mencari nafkah membantu orang tuanya. bahkan aku pernah membaca sebuah tulisan yang menggambarkan bagaimana pedihnya kehidupan di jakarta. ada yang jadi preman, pengemis dan yang parah adalah dengan menjadi pura-pura gila. alasannya sederhana saja, dengan menjadi pura-pura gila semuanya serba mudah didapat, makan gratis dan tidak perlu nyari uang cukup dengan menadahkan tangan saja.

terlepas dari itu semua, urusan kita adalah memberi. dan tidak mengkait-kaitkan apa latar belakangnya meminta-minta. tapi bukannya selesai setelah itu. kalau setelah memberi lantas mulut tak pernah berhenti mencerca lebih baik urungkan saja niat itu. dan lebih baik untuk tidak memberi katrena hanya melahirkan kesia-siaan. hanya diperlukan sedikit keihklasan bagi setiap kita. agar tak ada kemubaziran dan tak ada yang sia-sia. sebab hisup bukanlah untuk sebuah kesia-siaan.(ihan's)

"terkait penghapusan pasal-pasal RUUPA, mahasiswa demo ke gedung dewan"

By On Februari 04, 2006
Seratusan mahasiswa Unsyiah dan IAIN Ar Raniry yang tergabung dalam aliansi Mahasiswa Darussalam, kamis(2/2/06) melakukan aksi unjuk rasa ke gedung DPRD. aksi unjuk rasa ini merupakan sikap protes mahasiswa terhadap keputusan Depdagri yang telah menghapus beberapa pasal penting dalam draft RUUPA (rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh).

para mahasiswa dari dua perguruan terbesar di Aceh tersebut sudah berkumpul di depan eks gedung gelanggang sejak pukul 10.00 WIB. setelah semua massa berkumpul mereka langsung menuju ke gedung DPRD dengan menggunakan satu unit bus Damri dan puluhan sepeda motor.

mahasiswa menilai penghapusan beberapa pasal yang dianggap penting tersebut merupakan bentuk penghianatan terhadap perjanjian Helsinki sebagaimana yang tertuang dalam MoU ( Nota Kesepahaman) dan juga penghianatan terhadap rakyat Aceh yang mengharapkan perdamaian abadi di Aceh. "penghapusan pasal RUUPA ini merupakan bentuk penghianatan Depdagri kepada rakyat Aceh, dan bukan mustahil kalau ini akan kembali menyulut api konflik di bumi serambi mekkah ini" demikian orasi yang disampaikan oleh Erija Lastra, mantan sekjen Pema tahun yang lalu.

para pengunjuk rasa juga membawa puluhan poster yang berisi kritikan-kritikan pedas sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap Departemen Dalam Negeri. salah satu tulisan yang menjadi sorotan anggota dewan adalah DEPDAGRI PENGHIANAT NEGERI. dan menyuruh untuk mendokumentasikanya dan akan dibawa ke jakarta sebagai bukti bahwa mahasiswa kecewa dengan sikap Depdagri.

selain spanduk dan poster, mahasiswa juga menitipkan bingkisan berupa rencong kepada Depdagri melalui anggota Dewan. dalam orasi yang disampaikan oleh Zuanda, presiden mahasiswa IAIN, ia mengatakan rencong merupakan lambang heroik masyarakat Aceh yang tidak dapat ditaklukkan oleh siapapun bahkan sejak jaman penjajahan belanda dulu. ini merupakan bukti bahwa masyarakat Aceh tidak ingin diinjak-injak hak dan martabatnya oleh siapapun.

Khalid Ashim, selaku presiden pemerintahan mahasiswa Unsyiah dalam orasinya mengatakan bahwa mahasiswa akan terus melakukan pengawasan terhadap pembahasan RUUPA, "mahasiswa akan terus melakukan pengawasan terhadap RUUPA, dan apabila anggota dewan hanya berdiam diri saja, kita akan kejakarta langsung untuk menemui Depdagri".

sementara itu, salah satu anggota dewan menegaskan kalau mereka juga terkejut dengan keputusan Depdagri yang sewenang-wenang dan seenaknya menghapus pasal-pasal tersebut. dewan juga mengajak mahasiswa dan elemen masyarakat agar bersama-sama memantau perkembangan RUUPA tersebut."Depdagrilah yang memulai penyimpangan terhadap MoU tersebut" demikian tegasnya.

setidaknya ada empat point penting yang menjadi tuntutan para mahasiswa pertama, mahasiswa mengutuk sikap arogansi elit politik DEPDAGRI yang tidak menginginkan Aceh damai dan makmur. kedua, meminta ketegasan PEMDA dan DPRD untuk segera membentuk tim pengawalan dan advokasi terhadap pembahasan RUUPA. ketiga, menilai pemerintah RI dalam hal ini DEPDAGRI sangat radikal dan arogan serta dianggap main-main dalam menyelesaikan persoalan Aceh.keempat, meminta seluruh parpol Nasional agar membubarkan diri apabila depdagri tetap tidak mengijinkan berdirinya parpol lokal di Aceh.

Selain itu, draf yang diajukan pemerintah terkait dengan dana alokasi umum (DAU) Nasional yang diberikan pemerintah hanya 1 persen selama sepuluh tahun. Padahal, draf yang diajukan dari Aceh menyebutkan, DAU untuk Aceh sebesar 5 persen dan permanen.(ihan's)
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email