Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 10 Februari 2006

"Dari Mengutak-atik Bon sampai ke Sekolah Copet"

Jaman memang sudah tak muda lagi, barangkalai itu pula yang membuatnya jadi edan. tepatnya manusia yang menjadikannya edan. seperti orang yang mengatakan bajunya sempit, apa benar bajunya yang sempit....atau dia yang gemuk??? makanan kah yang membuatnya gemuk atau selera makannya yang enggak bisa di rem???
kita memang terbiasa dengan menyalahkan orang lain maupun menyalahkan keadaan, sehingga dengan dalih itu lantas melegalkan segalanya. termasuk perbuatan yang banyak mudharatnya. bahkan mencelakakan orang lain. membunuh, dengan alasan untuk nyari makan, menipu dengan dalih menyelamatkan diri, korupsi adalah kompensasi karena telah pusing mengurus rakyat, tapi rakyatnya tetap aja kelaparan dan miskin. wuih....pusing aku...
semalam, kira-kira pukul sebelas malam aku masih keluyuran di jalan with my sista. kami nyari voucher yang jumlahnya tidak sedikit. jadilah kami menyusuri jalan nyari dimana ada counter hape yang masih buka selarut itu. toko terakhir yang kami masuki cukup memberikan kejutan kecil bagiku. setidaknya sebuah ide langsung muncul ketika itu.
"harganya mau ditulis berapa di bon?" tanya penjualnya.
oow.....musibah apa ini pikirku kaget!
"buat aja harga jualnya yang seperti biasa...."
oow....aku malah lebih kaget lagi mendengar jawaban itu. tapi....untuk menegur pun aku tak berani, selain dia bukan kakak kandungku umurnya juga terpaut jauh....dan banyak lagian-laian lainnya yang tak bisa kujelaskan. kalaupun ingin menyentil tentu bukan saat itu waktunya. nanti saja, kalau ada waktu yang pas. hm....tapi kapan ya...??? ketemu pun se abad sekali.
harga vouchernya sembilan puluh delapan ribu rupiah per lembarnya, tapi karena ngambilnya banyak ada diskonnya seribu perlembar. tapi yang ku herankan kenapa si penjual harus menawarkan berapa harga yang harus di tulisnya di bon? bukannya langsung aja tulis sembilan puluh tujuh ribu karena memang segitu. tapi yang tertera justru harga dasarnya. ah...siapa yang edan??? tentu bukan aku kan?
tadi pagi, aku bangun tidur agak telat. jam setengah tujuh pagi. luar biasa. belum cuci muka langsung nyalain tv. diantara chanel-chanel yang ada aku memilih trans tv. acaranya aku nggak tahu apa yang pasti semacam news morning gitu lah...tanpa coffe tanpa snack...nonton tetap tidak menjemukan, apalagi sebelumnya ditayangkan liputan tentang bisnis esek-esek...hiks..hiks....lagi-lagi sepagi ini??? tuing..tuing....puyeng! hm...bukannya puyeng karena semalam nonton sampe jam tiga pagi?
kekagetanku pagi ini lebih dari yang semalam. setidaknya menundaku untuk mencuci muka dulu hihi.... di Surabaya, yang saat ini hujan tak henti-hentinya ternyata ada yang menarik disana. surbaya ternyata tidak hanya terkenal dengan rawon atau julukannya sebagai kota pahlawan aja. tapi ada yang sangat luar biasa uniknya. bahkan mungkin tidak ada di penjuru dunia manapun.
orang sekolah untuk menjadi pintar bukan sesuatu yang luar biasa. kalau ada program S 4 mungkin juga banyak yang mau minta ada program S5. dan dijaman modern ini yang nggak sekolah pasti akan terpinggirkan.
tapi kalau sekolah untuk menjadi copet....ini baru luar biasa. tidak ada gedung bertingkat seperti di universitas-universitas terkemuka. tak ada meja atau kursi belajar, apa lagi buku2 dan kurikulum yang teratur dan baku. yang ada hanyalah seorang dosen tunggal dengan beberapa murid yang di didik dan dilatih untuk jadi pencopet profesional. benar- benar menakjubkan. aku sendiri sampai terbeliak mendengarnya.
barangkali kata yang tepat adalah, apasih yang nggak mungkin di jaman sekarang ini? termasuk mengenai sekolah copet tadi. meski tidak formal tetapi telah mencetak alumni2 yang militan dan profesional dibidangnya. lagi-lagi dengan alasan yang sangat membuat trenyuh, "karena dia sayang aku makanya aku diangkat jadi muridnya di sekolah copet" begitulah ungkapan seorang alumni copet.
lain lagi alasan si tukang pijit yang menyediakan pilihan berupa paket-paket dalam melayani pelanggannya. demi si buah hatinya, tak apalah dia jadi pemijit cowok-cowok badung yang hidungnya sedikit belang. lalu diapun rela kemudian dipijit kembali. tiga juta empat juta hanya dalam tempo dua minggu...uhg...menggiurkan memang. tapi apa sudah sedemikian edannya jaman ini ya? karena single parent lantas dia jadi pemijit ganda begitu? uhg...naif.
uhh...sebelll....kalau sayang kepada sesama mengapa harus menjebaknya ke lembah nista begitu? dengan mengajarkannya sekolah copet. mengapa bukan di ajarkan alif ba ta saja. kalau cinta kepada anak, kenapa tega memberinya makan dari jerih yang tak halal? inilah jaman millenium. jaman edan, manusianya yang membuat dunia menjadi kehilangan berkahnya. sungguh, kalau saja bukan karena hewan-hewan ternak, bayi merah yang baru lahir atau karena tua renta, barangkali Allah telah menurunkan azabnya kepada kita. wallahu'alam. (ihan's)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email