Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 30 Mei 2006

"Mencari Mangsa"

By On Mei 30, 2006

"Menggotong Mayat"

By On Mei 30, 2006

"Membongkar Kuburan Masal"

By On Mei 30, 2006

"Sepatu Lars dan Tubuh Terkulai"

By On Mei 30, 2006
lihatlah sepatu sepatu lars itu...
dan juga moncong senjata itu...
lalu coba juga lirik
tubuh terkulai yang tak bernyawa itu..ucapkan dalam hati apa yang ingin kau ucapkan

"Bocah Surga"

By On Mei 30, 2006
mereka...
bocah-bocah kecil yang belum mengerti
apa itu perang
yang mereka tahu...
berlari
bermain
atau mengejar gerobak es krim
sambil menggelendot dipinggang ibunya
belum sempat ia merasakan indahnya menjadi anak-anak
dan waktu telah membawanya kedunia lain

"Payung Negara"

By On Mei 30, 2006
dulu ketika masih kecil, entah mengapa saya begitu kagum dengan sosok berseragam, apalagi dengan sematan payung negara wajarlah jika saya kagum karena mereka merupakan pelindung negara. waktu itu saya masih di sekolah dasar dan belum mengerti apa-apa. lambat laun saya mulai mengerti tentang arti sebuah pertikaian dan konflik. juga tentang makna kata payung negara tersebut. mereka benar-benar melindungi negara dan tidak peduli kepada warga negara, rakyat adalah tumbal demi keutuhan negara republik Indonesia ini. demi negara satu persatu nyawa rakyat dikorbankan, mungkin juga disembelih, diobok-obok dan disiram dengan air raksa. atau seperti yang terlihat pada gambar disamping. semakin bertambah usia saya semakin akrab pula saya dengan kekerasan, memang tidak pernah mengalami lagnsung tapi tidak sedikit yang menjadi korban adalah orang-orang yang saya kenal kalau tidak dibilagn dekat. setiap hari, mendengar berita kematian layaknya coffe morning yang telah menjadi trade mark masyarakat Aceh. ketakutan demi ketakutan menjadi bumbu kehidupan sehingga akan terasa hambar rasanya bila dalam sehari tidak terdengar letusan senjata atau mendengar kabar orang meninggal dan di temukan di parit-parit dipinggir jalan. bukan saya benci kepada orang-orang berseragam, tidak juga saya menyanjung mereka atau memuji mereka karena telah menjadi abdi negara yang baik budi. berhari-hari hidup dalam suasana mencekam, sesekali diselingi dengan tawa dan kelucuan yang disengaja cukup membuat saya mengerti mana yang benar dan salah, mana yang layak dibunuh dan mana yang harus dilindungi, mana yang layak dibela dan mana yang layak dimusuhi. jangan salahkan jika banyak yang mendendam, membenci dan mengeluarkan sumpah serapah. siapa yang tidak menyemai benih kebencian jika ayah yang ditungu-tunggu ketika pulang sudah tidak bernyawa, jika pungutan liar demi pungutan liar tidak pernah berhenti disertai dengan ancaman -ancaman yang liar. salahkah jika ada yang melawan?atau sekedar mendoakan keburukan? ketika nyawa binatang lebih berharga dari manusia apa kita harus diam saja? sekarang saya benar-benar memahami arti sebuah kata "Payung Negara"

Minggu, 28 Mei 2006

"Mengapa Harus Menikah"

By On Mei 28, 2006
dewasa ini banyak sekali orang yang tidak menikah alias melajang, laki-laki maupun perempuan terutama di kota-kota besar. alasannya pun beragam, mulai dari membenci lembaga perkawinan hingga karena tidak ingin mempunyai tanggung jawab ekstra, mengurus diri sendiri saja masih sulit gimana mau ngurus istri, anak, keluarga. apalagi biaya hidup yang sangat tinggi, mau dikasih makan apa nanti anak istrinya, tinggal dimana, dan seabrek alasan lainnya yang menjadikan mereka memilih jomblo terus. yang membenci lembaga perkawinan lain lagi ceritanya, mereka ini biasanya berasal dari keluarga broken home dimana sering sekali melihat adanya tindakan kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki sehingga beranggapan bahwa perkawinan tidak lebih sebagai pengekang gerak perempuan, aktivitasnya tidak lebih dari seputar kasur, sumur, dapur. selain itu ada juga orang yang terlalu perfeksionis, sehingga ia tidak menikah karena tidak menemui orang yang sempurna menurutnya. takut nanti tidak bisa masaklah, tidak bisa mengurus rumahlah, tidak sayang pada suami, atau tidak pandai merawat diri. sehingga ia memutuskan tetap sendiri atau memilih alternatif lain, pacaran! tapi jelas-jelas ini bukan solusi yang baik. sebegitu ribetkah perkawinan itu? sehingga banyak orang yang memilih hidup sendiri? kalau ingin punya anak tinggal adopsi saja dan jadilah single parent. ''Pintu-pintu langit akan dibuka dengan rahmat-Nya dalam empat situasi, yaitu saat turun hujan, saat seorang anak melihat wajah orang tuanya dengan kasih, ketika pintu Ka'bah dibuka, dan saat pernikahan,'' begitulah penjelasan Rasulullah SAW, jadi jangan beranggapan dengan menikah akan menambah beban hidup karena harus memberi makan anak dan istri, tapi sebaliknya justru dengan menikahlah pintu rejeki akan bertambah. selain itu dengan menikah berarti juga berbagi kasih sayang dan berbagi cinta kepada orang lain yang kelak menjadi pasangan hidup kita. dalam keluargalah sebenarnya seseorang akan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, bagi seorang laki-laki disinilah ia akan menjadi qawwam bagi perempuan, pengertian qawwam/pemimpin disini bukanlah pengekangan maupun bentuk otoriter kepada perempuan. seorang pemimpin seyogyanya menjadi pengayom, mampu membimbing dan mengajak keluarganya pada kebaikan. jadi, bila tidak pernah menikah bagaimana kita bisa mengaktualisasikan diri kita sebgai anggota masyarakat dan tidak mungkin tigas dan fungsi kita akan berjalan sebagaimana mestinya.selain itu, dengan menikah juga berarti melakukan penyelamatan diri. mengapa penyelamatan diri? karena seperti sabda Rasul ''Wahai para pemuda, jika salah seorang dari kalian mampu menikah, maka lakukanlah, sebab menikah itu baik bagi mata kalian dan melindungi yang paling pribadi (farj).'' (HR Bukhari dan Muslim). makna hadist ini sangat dalam sekali, karena seseorang yang telah dewasa ada kebutuhan lain selain makan dan minum, selain sandang dan pangan, ada yang lebih urgen yang harus disikapi dengan serius, yaitu kebutuhan seksual.mengapa dewasa ini tindakan pelecehan seksual sangat serign terjadi, penyimpangan seksual layaknya jamur dimusim hujan, kasus perkosaan sudah menjadi sajian hangat media massa, bapak memperkosa anak, paman mencabuli keponakan, pemuda yang nekat menggauli nenek tua, penyebabnya tidak lain adalah karena libido seksual yang sangat tinggi dan tidak mampu dibendung sehingga tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga merugikan orang lain. banyak orang yang tidak mau menikah dan membenarkan praktik prostitusi, padahal ini adalah sumber dari segala kerusakan dan juga penyakit. sehingga tidk sedikit dibangun tempat-tempat lokalisasi, belum lagi yg terselubung yang jumlahnya tidak sedikit. dengan menikah kebutuhan seksual tadi bisa tersalurkan dengan baik, selain itu hati juga menjadi tenang karena sudah punya tambatan hati, punya tempat berkeluh kesah dari himpitan hidup, sehingga tidak stres dan tidak merasakan beban hidup sendiri. bagi siapa saja yang sudah memiliki kecukupan dan umur sudah cukup, memang tidak ada alasan untuk menunda-nunda pernikahan, selain memang kita tidak bisa melepas diri dari yang namanya fitrah, menikah merupakan sarana ibadah kepada Allah dan juga sebagai pembuktian kalau kita ini adalah umat Muhammad yang senantiasa menjalankan sunnahnya. tetapi apabila masih juga belum mampu, menahan diri dan berpuasa adalah lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari hal-hal yang merugikan kita.

"Cinta dan sentuhan fisika"

By On Mei 28, 2006
mengupas soal cinta memang tidak akan pernah habis, selalu saja ada yang baru dan bisa diangkat menjadi tema menarik meskipun endingnya tidak seindah yang diperkirakan. berbicara cinta selalu saja menghadirkan semangat heroik yang tidak pernah habis, cinta ibarat air bagi dahan-dahan kering, kehadirannya selalu ditunggu agar selalu muncul tunas baru dan pucuk-pucuk baru dan semakin indah dilihat. cinta juga seperti lumpur becek disawah, jorok, menjijikkan, tetapi karena keberadaannyalah justru padi-padi tumbuh subur dan menjadi sumber kehidupan.
bibir-bibir tersenyum, wajah merengut, hati yang gelisah, mata yang enggan terpejam sekalipun kantuk menyerang, juga darah yang mengalir di medan perang, atau mengais sampah di got-got di pingir jalan, semuanya demi cinta. cinta seperti magnet yang menggerakkan besi-besi yang ada di sekelilingnya. cinta mampu melahirkan keberanian dan kekuatan yang mungkin tidak masuk akal, tetapi itulah cinta. kehadirannya adalah sumber utama kehidupan, penggerak roda mobilitas perjalanan hidup, tapi sayangnya sedikit sekali yang memahami cinta dengan benar.
ingin disayang, diperhatikan, adalah bagian dari cinta, namun ternyata cinta tidak cukup hanya sampai disitu saja. cinta memerlukan unsur lain yang dengnnya akan semakin terasa indahnya dan maknanya. sentuhan!
cinta memerlukan sentuhan-sentuhan fisika, tetapi jangan bayangkan sentuhan ini hanya sebatas nilai-nilai seksualitas semata, pelukan, ciuman, dekapan adalah bagian dari sentuhan fisika tersebut, yang dengannya kekuatan tadi bisa muncul dan semangat hadir memenuhi rongga-rongga kehidupan kita. memang tidak dapat dipungkiri seksualitas adalah puncak dari sentuhan fisika tersebut, tetapi sebaiknya sebelum berbicara lebih lanjut mengenai hal tersebut ada baiknya jika kita memperhatikan apa, siapa dan bagaimananya dahulu sehingga semua proses itu bisa dijalankan dengan sebagaimana mestinya, tidak melanggar etikia, norma dan agama.
setiap individu yang normal memerlukan sentuhan-sentuhan tersebut, bayi yang baru lahir sangat mengharapkan pelukan dan ciuman cinta dari ibunya, meskipun tidak dapat mengatakan ia bisa merasakan pesan cinta yang disampakan melalui pelukan tersebut dan ia juga merasakan bahwa ia disayangi dan diterima keberadaanya, seorang suami yang stress karena pekerjaannya memerlukan suplai energi lewat genggaman tangan istrinya, orang tua, anak-anak, pengemis, siapa saja...
melalui sentuhan sentuhan fisika tadilah keutuhan dan totalitas dalam mencintai bisa terwujudkan, karena darisanalah muncul kekuatan baru untuk menghadapi hidup yang pelik dan juga rasa aman ketika seorang istri berjalan disamping suaminya. sehingga darisanalah muncul peraturan-peraturan agar apa yang haram menjadi halal dan yang tidak boleh menjadi wajib untuk dilakukan. pernikahan merupakan pintu gerbang memasuki totalitas mencintai dan dicintai tadi. dan dengan melakukan pernikahan seseorang telah menunjukkan keberanian dan kesungguhannya dalam mencintai.

Senin, 22 Mei 2006

"Senarai Cinta"

By On Mei 22, 2006
ternyata memang tidak gampang melepas cinta....
apalagi mencabiknya dan melemparkannya ke selokan.
semakin sakit semakin terasa manisnya cinta
semakin jelas kemana arahnya
bibir memang gampang mengatakan ini dan itu...
tapi siapa yang dapat menipu suara hati?
sekalipun ingin sekali melakukan itu...
sepatah kata manja mampu meleburkan seluruh gundah yang bersarang di hati...
mampu mencairkan seribu sesak yang bergelantungan di pelataran jiwa...

Sabtu, 20 Mei 2006

"Parade masa kecil"

By On Mei 20, 2006
cerita masa kanak-kanak yang masih terekam jelas sampai detik ini, dimana kami berlari, dimana kami bersembunyi, dimana kami bermain petak umpet yang ujung-ujungnya dimarahi oleh guru ngaji yang tak lain adalah nenekku sendiri. dimarahi bukan karena kami bermain petak umpet tetapi karena bunga teh-tehannya yang berfungsi sebagai pagar halaman babak belur karena kami jadikan tempat persembunyian, kami, para bocah-bocah nakal hanya bisa tertawa geli, besoknya begitu lagi.

meski saat ini bayangan tentang desa kecil itu masih melekat dengan kental, tetapi menikmatinya tidak lagi seleluasa dulu. lekuk-lekuk desa tak bisa kujelajahi setiap jengkalnya apalagi sekedar untuk mencium bau tanahnya, rerimbunan pohon atau kicau burung yang tak ubahnya bagai alarm kehidupan. mungkin juga bukit kecil itu sudah menjadi belantara hutan karet yang tidak terurus, bukit itu namanya Lhok Jeuruweng, menyimpan seribu romansa masa kecil yang tidak akan pernah pupus dimakan usia. masih ingat sekalu aku bagaimana dulu diatas bukit ini kami bermain perosotan dengan menggunakan pelepah kelapa, meluncur tidak ubahnya seperti papan ski yang meluncur diatas salju, setelah itu naik lagi ke puncak bukit, melihat-lihat pemandangan yang indah sebentar lalu meluncur lagi kebawah, begitu seterusnya, membayangnkannya saat ini sudah membuatku lelah dan terengah-engah tapi waktu itu semua itu entah ada dimana.

hampir enam tahun aku tidak bisa menikmati lekukan tubuh desa kecil bernama padang petua ali ini, apalagi mencium aroma tanah basahnya dan lumpur lumpur becek di ruas jalannya, rerimbunan pepohonan dan kicau burung yang tak ubahnya bagai alarm kehidupan. semuanya telah berubah, berganti dengan ketakutan dan kengerian. tawa-tawa bocah teman sepermainanku berakhir dengan bibir mengatup rapat dan air mata yang mengalir namun tanpa suara, bukit itu...yang dulu menyimpan seribu pesona kini tidak ubahnya seprti mangkuk kengerian yang tidak segan segan menumpahkan isinya dan membuat orang orang tak berani lagi memandanginya.


entahlah...sempat juga terfikirkan, mengapa semua ini cepat sekali terjadi. tapi..barangkali inilah yang dinamakan takdir, tidak seorangpun bisa mencegahnya. tangan-tangan kecil dulu kini telah menjadi besar dan bertebaran dimana-mana, bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah menyalami mereka lagi, bukankah lebih baik begitu? daripada setiap kali memikirkan mereka yang ada hanya bayangan asap-asap yang mengepul namun bukan dari sudut dapur melainkan dari rumah-rumah yang terbakar, ketakutan-ketakutan disuatu malam diakhi kelulusan SLTP ku. ketika paman dan bibi ku lari entah kemana karena ketakutan.

dan aku menangis sesenggukan di pelukan ayah, karena saat itu ibu tidak ada dirumah. bagaimanakah bocah bocah lain yang tidak punya dua tangan kekar orang tuanya untuk memeluk mereka disaat ketakutan seperti itu?
teman kecilku...dimana kalian? apa kalian juga serign merindukan bukit kecil itu???tempat kita meluncur bersama dan menggembala? dan aku selalu berharap suatu saat kita bisa bertemu kembali.

"Merapi"

By On Mei 20, 2006

"Merapi"

By On Mei 20, 2006

"Merapi"

By On Mei 20, 2006

"Merapi"

By On Mei 20, 2006

"Merapi"

By On Mei 20, 2006

Jumat, 19 Mei 2006

"Menari, berdansa..bima-banda"

By On Mei 19, 2006
siang itu, matahari sangat cerah....burai burai sinarnya menerobos hingga ke lapisan kulit paling dalam, melahirkan keringat dan gerah yang teramat sangat. padahal ruangan tempatku berada ada air conditionernya...tapi ia masih kalah dengan semburat menyala sang surya. tapi syukurlah....setelah wudhu kembali terasa sejuk hingga ke selaput sukma.

menjelang asar...bulir-bulir keringat tadi telah berganti dengan kesejukan baru....jangan berfikir kalau hujan telah memandikan tanah-tanah kering, jangan juga berfikir mendung telah menguasai bumi hingga gelap. malah langit semakin beringas saja ...semakin menjingga...

kira-kira apa yang membuat seseorang bisa merasakan kesejukan ditengah siang menyala seperti ini? apakah secontong es krim yang meleleh susu diatasnya? atau segelas koktail dengan serbuk es berwarna warni? ada benarnya juga...tapi menurutku itu cocok untuk anak anak yang masih berumur dibawah sepuluh tahun, merengek-rengek pada bundanya lalu tersenyum ketika es krim sudah ditangan.


tapi tidak denganku. aku baru saja menerima sepotong kabar dari mbak ku....mbak yang belum pernah ku dekap meski hampir setiap malam aku mendekapnya dalam mimpi, mbak yang belum pernah kupandangi dua bola matanya meski itu sangat ingin kulakukan. kami jauh...teramat jauh....tapi juga begitu dekat...

begini katanya " dek, gimana kalau kita bikin kompilasi kumpulan puisi...itung-itung bisa untuk dakwah...". Allahu Akbar...siapasih yang nggak semangat 45...langsung deh...jari jemari kami sibuk merangkai kata..aku disini dia disana....kami dekat...hanya layar komputer pemisahnya.

matahari kian tenggelam, semburat jingga mulai digantikan oleh rembulan yang tak kalah indahnya meski dengan kilau cahaya yang terbatas. jemari kami tidak lagi merangkai kata....kata- kata telah berpindah ke kepala, menari...berdansa...untuk dituangkan besok pagi.

"Aji Mumpung Dedi"

By On Mei 19, 2006
Perempatan Cempaka Putih. Siang terik. Ramai. Macet. Bapak ibu Polisi mengatur lalu-lintas. Kali ini sambil berjoget diiringi musik disco-reggae yang disetel keras-keras dari sebuah sound-system besar yang ditempatkan di sudut pos mereka. Terik-panas-ramai kini lengkap dengan ingar-bingar.
Xenia kami antri di urutan keenam dari lampu merah. Dedy, teman kerjaku di Jakarta ini sedang pegang kemudi. Pedagang asongan, mainan, pengamen, dan lainnya bergerilya ke pintu-pintu. Seorang pengamen datang ke pintu mobil dengan gitar bututnya dan mendendangkan hidupnya yang sengsara. Dedy mencari-cari kepingan uang logam di dash-board, membuka jendela, dan sekeping-dua logam bundar segera berpindah tangan. Ia menutup lagi jendela mobil. Seorang anak kecil, lusuh dan bermuka banjir keringat menadahkan tangan. Ia bilang belum makan seharian. Dedy mencari-cari lagi kepingan logam di tempat yang sama, membuka jendela, dan sekeping-dua logam bundar kembali berpindah tangan. Ia lalu menutup jendela mobil.
Parade ini belum berakhir. Lampu belum juga hijau ketika seorang ibu dengan bayi kecilnya yang tengah menyusu di gendongan datang membawa sapu ijuk bulu ayam warna coklat sawo matang. Tanpa melihat kami, ia membersihkan kap, kaca depan, jendela, dan body mobil yang pagi tadi baru saja dicuci. Kemudian ia datang ke jendela Dedy. Teman saya ini, membuka jendela, dan segera sekeping-dua logam bundar diangsurkannya ke tangan ibu itu. Rupanya ia telah siap sebelumnya. Dan peristiwa berulang itu berakhir ketika lampu hijau menyala.
Enam bulan sudah ia di Jakarta. Enam bulan sudah kerapkali saya bersamanya menyusuri jalan-jalan Jakarta. Enam bulan pula saya perhatikan tingkah lakunya ketika berhenti di perempatan jalan. Dan enam bulan itu, setiap kali ada orang yang datang ke jendelanya dan meminta sedikit rezekinya dengan berbagai cara, ia kulihat hampir tak pernah sekalipun tidak memberi mereka. Mungkin sekitar lima ratus sampai seribu rupiah tiap orang. Dan laci di dash-board Xenia ini sepertinya tak pernah tidak ada isinya. Seperti kantong ajaib Doraemon. Setiap kali tangan Dedy menari-nari di sana, gemericik logam nyaring terdengar berdentingan serupa meraup kotak harta karun penuh kepingan uang emas. Bahkan tak jarang, ketika harus berhenti dua kali karena lampu merah keburu menyala kembali sebelum Xenia kami sempat meloloskan diri, orang yang sama yang sebelumnya sudah dikasih dan kini menggilir lagi dari depan, Dedy pun tetap memberinya lagi.
Subhanallah!
Hari ini, ketika kami sedang antri di perempatan yang sama dan Dedy tetap istiqamah melakukan hal yang sama sebagaimana sejak enam bulan yang lalu, saya penasaran bertanya.
“Kuperhatikan kamu selama ini, setiap kali ada orang minta di jendelamu, jarang kulihat tidak kamu kasih,” kataku padanya.
Ia hanya tersenyum, satu hal yang selalu kusaksikan di wajahnya setiap kali.
“Kenapa kamu lakukan itu, Ded?” tanyaku memancing.
Kembali ia tersenyum. Tapi tak menjawab.
“Banyak orang yang beranggapan bahwa memberi mereka yang bertebarang di jalan-jalan ini hanya dengan seribu-dua ribu perak tidak akan membantu mereka bisa hidup lebih baik,“ kataku mengutip pendapat beberapa orang yang pernah kutemui. “Justru membuat mereka menjadi malas dan tak berubah dari kebiasaannya untuk mengemis.”
Dedy masih saja tersenyum. Seorang pengemis baru saja pergi dari jendelanya dengan sekeping-dua logam di tangan.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu selalu memberi?”
“Ah, nggak juga kok, Pak,” jawabnya spontan merendah. “Kadang pas nggak ada ya saya nggak memberi mereka.”
“Bahkan tak jarang, kamu memberi seseorang dua kali, karena ia datang dua kali padamu.”
Ia hanya menengok padaku sesaat dan tersenyum lagi.
“Kenapa, Ded?”
Ia tersenyum lagi. Tapi kemudian membuka mulutnya. “Yah, mumpung masih bisa memberi, Pak.”
Lampu pun hijau. Xenia segera beranjak. Dan jawaban Dedy, temanku sejak enam bulan lalu di jalanan Jakarta ini, mengingatkan pada Rasul yang agung yang tidak pernah tidak memberi pada orang yang meminta pada beliau. Bahkan kadang dengan berhutang!
Mumpung masih bisa memberi. Begitu simple. Meski hanya satu-dua keping uang logam. Tak banyak. Tapi, jika ia setiap kali memberi, dalam masa enam bulan yang tak sebentar, yang sedikit dan tak seberapa itu, pasti sudah banyak sekali. Bukankah sebaik-baik amal adalah yang terus-menerus (istiqamah) meskipun sedikit? Mungkin bagi kita seribu rupiah tidaklah berarti. Tetapi, bagi mereka yang seharian tidak makan, mungkin nilai itu serupa kurnia besar yang membuatnya bisa menyambung hidup.
Menyambung hidup? Amboi! Sudah berapa ratus orang yang bisa “bertahan hidup” dari uluran tangan Dedy! Subhanallah! Betapa yang remeh itu ternyata tidaklah sesederhana yang bisa kita bayangkan. Sesuatu yang kecil itu, mungkin di sisi Allah SWT sungguhlah besar artinya. Apalagi jika ia dibarengi dengan ikhlas dan ittiba’ sunnah.
***
dikutip dari:
(setiap hari aku melewati simpang lima, simpang jambo tape...entah simpang simpang apa lagi. terlalu banyak simpang yang dijadikan tempat mangkal pengemis, sampai ke simpang yang tidak bernama dan tidak terkenal. tapi susah sekali tangan ini mengeluarkan sekeping atau dua keping uang logam, aku memang jarang sekali punya uang, tapi aku suka mengamati orang orang yang menggunakan mobil atau sepeda motor, mereka tak pantas kalau dibilang tidak punya, tapi mereka juga seperti ku, menatap....tapi entah apa yang ada dalam hati mereka. apakah sama seperti yang ada dihatiku?)

"Cinta..."

By On Mei 19, 2006
Cinta....
Ruh yang mengalir lembut
menenangkan
bersinar
jernih
dan ceria....
Cinta....
Ruh yang mengalir lembut
menyesakkan
berderai
jerih
dan badai....

Kamis, 18 Mei 2006

"Kabar cinta dari cintaku..."

By On Mei 18, 2006
ihan sayang....apakabar disana????
seperti apakah suasana jiwamu saat ini, sayangku........????????
semoga gelap malam kehidupan ini..kelak akan menyulapmu menjadi seekor kupu-kupu indah yang dewasa.....
ketika melihat wajah bulan..kakak teringat padamu. sebuah perjalanan panjang telah kakak tempuh. kakak harapkan senantiasa doa tulusmu agar musim yang terasa mulai menghangat ini terus dan terus mendekatkan jiwaku pada kesempurnaan takdir itu.

Jumat, 12 Mei 2006

"ntuk adik kecilku...."

By On Mei 12, 2006
di saksikan matahari
dada ini benar benar remuk
dek...andai saja kau dekat
tapi...apa yang bisa kakak mu ini lakukan
kamu sudah memilih
dan itu salah
kesalahan yang tidak pernah termaafkan...

kakak tidak bisa berbuat apa apa...
selain berdoa
agar kamu sama seperti yang lainnya
menuai cinta dari jalan yang benar
meski ridha Tuhan entah dimana

Kamis, 11 Mei 2006

"Tram"

By On Mei 11, 2006

Rabu, 10 Mei 2006

"Selamat ulang tahun yang terlambat (dari kakak besarku...)"

By On Mei 10, 2006
Tapi, walau bagaimana juga, mengucapkan selamat ulang tahun kepada sorang teman adalah baik. Kepada seorang adik tentu lebih baik lagi. Kepada seorang adik kecil? Wah, itu sangatlah baik. Bukankah ia masih kecil dan butuh banyak perhatian?
Ah tentu bukan perhatian, ia butuh banyak hadiah dan coklat tentunya! Haha, standar ulang tahun banget memang, Undangan dan pemberitahuan bahwa seseorang ulang tahun, ada pesta kecil, tiup lilin, nyanyi selamat ulang tahun kami ucapkan....., makan alakadarnya terus banjir hadiah deh........ Besok, kehidupan kembali normal pada usia yang baru! Itu saja. Tahun lalu begitu dan tahun depanpun akan begitu. Yang aku tahu begitu, mungkin orang lain tidak, entahlah.
Pada hari ulang tahun, berbahagia adalah baik, bergembira tentu. Tetapi berdoa kepada Tuhan yang di langit agar sisa hidup diberi keberkahan dan jalan yang lurus adalah lebih utama dari semua yang disebutkan terdahulu. Bukankah orang-orang bilang bahwa Tuhan itu baik? Biasanya memang begitu, Dia cukup sering mengabulkan do'a do'a yang dipanjatkan kepadaNya. Beberapa do'a yang kupanjatkan ada yang sudah dikabulkannya, sebagian belum. KataNya sih sebentar lagi..... He he he. Kuharap salah satu yang akan dikabulkanNya adalah yang kutulis dibagian bawah tulisan ini. Mengapa aku bisa yakin? Tidak tahu juga. Tapi bukankah Tuhan itu bagaimana prasangka ummatNya saja dan aku selalu berprasangka baik kepadaNya. Jadi, aku bolehlah masuk dibarisan ummat-ummat yang ge-er itu. Itu kata-kata bercanda saja dari seorang umat yang lemah, yang ingin menghibur seorang adiknya yang sedang berulang tahun. Karena tidak ada hal lain yang dapat dilakukannya kecuali menulis kata-kata yang menggelitik dan sedikit nyerempat dunia ghaib yang amat sakral. Tidak mungkin ia mengirimkan kado selamat ulang tahun yang dibungkus dengan kertas pembungkus bergambar bunga. Atau memberikan hadiah yang tidak tidak mungkin dibungkus, seperti sebuah Ruko, misalnya. Ha ha ha tidak mungkin. Bukan tidak mau, tetapi tidak mampu! Lagian rugi. Rugi? lha iya lah khan mahal. Satu ruko minimal 150 juta-an. nah mahal khan? Bukan.... bukan itu. kalau dikasih hadiah ultah yang semahal itu, nanti sang adik tidak mau kuliah lagi. Khan rugi jadinya. Kok ngelantur sih? Jadi, yah hanya do'a saja yang ia panjatkan. Tetapi do'a yang tulus dan penuh perasaan semoga sang adik menjadi orang yang berguna, terutama bagi dirinya sendiri. Jadilah sang adik ini seorang lembut sebagaimana fithrahnya sebagai seorang muslimah. Jadikanlah hatinya bisa menangis dikala sedih dan berduka, dan jadikanlah pula hatinya bisa tersenyum saat ada sedikit kebahagiaan yang diperolehnya. Jadikanlah matanya mata yang sejuk, yang bisa berair dikala sedih dan dapat pula berbinar saat gembira. Jadikanlah tangannya senantiasa berada diatas sebagai tanda kemurahannya. Dan jadikanlah senyum sebagai satu-satunya hal yang bisa dilakukan bibirnya tanpa perduli dikala apapun itu..... ah aku jadi malu padamu ya Allah, begitu banyak yang kumintakan padaMu. Tapi tak apa-apalah, untuk adik kecilku ini mungkin aku akan minta lebih banyak lagi. aku meminta lagi ya Allah, berilah adik kecilku ini cinta yang banyak, agar dia bisa berbagi kepada sesamanya, mungkin juga sedikit kepadaku nanti. Berilah ia tempat yang baik dan langit yang teduh. Berilah ia perlindungan, hingga dimanapun ia berada senantiasa berada dalam penjagaanMu. Ya Allah jadikanlah ulang tahunnya ini dapat diulanginya kembali ditahun-tahun yang akan datang, agar aku tidak sampai terlambat untuk mengucapkan "Selamat Ulang Tahun." untuknya. Amiiin

Jumat, 05 Mei 2006

"titip tanganku untuk menyalaminya

By On Mei 05, 2006
selamat menempuh hidup baru
mungkin tidak akan mudah
tapi dia patut mencobanya
tidak akan selalu indah juga
tapi itulah yang membuatnya lebih berarti
aku mendoakannya dalam arti yang sebenarnya
tuhan dilangit mudah-mudahan akan mengabulkannya
titip tanganku untuk menyalaminya
mungkin aku akan sulit tersenyum
mungkin juga tidak ada kata yang akan terucap
tapi kukira dia tahu apa yang bergemuruh dihatiku
sesaatpun aku tidak pernah merelakannya untuk tidak berbahagia
aku tidak akan menangis
tapi tidak sanggup juga tuk tertawa
mungkin hanya senyum kecil
tapi dengan aliran air mata yang kecil juga
dia telah berlabuh
sementara perahuku yang rapuh masih harus berlayar
entah hingga ke tepian mana
mungkin di kaki langit ada tempat kecil yang aku bisa membuang sauh
dan sejenak beristirahat sebelum kembali
yang kembali yang sebenarnya kembali


(dari seseorang untuk seseorang: sekali lagi ijinkan aku jadi merpati)

"Adik Kecil dan kakak"

By On Mei 05, 2006
Hari ini, disaksikan matahari, angin yang bertiup semilir, debu-debu yang berterbangan, aku punya seorang kakak, yang akan menuliska sebait dua bait puisi di penghujung pertemuankami.irma hafni: yang akan mengucapkan Assalammualaikum, ketika pagi menjelang. mengingatkan tentang cerita-cerita kehidupan dalam durasi yang tidak terlalu panjang
yang akan mengucapkan Assalammualaikum, ketika pagi menjelang. mengingatkan tentang cerita-cerita kehidupan dalam durasi yang tidak terlalu panjang
mendengar kicaunya, menelaah jejak langkah tengarainya, sembari mengikuti alur kehidupan yang diajarkannya kepadaku.
mendengarkan leguhan hatinya, mengajaknya membuka lukisan hati, tersimpan berbagai warna dengan nuansa yang berbeda, sehingga sulit sekali untuk diterjemahkan.
(hari ini aku punya adik kecil, tidak ada yang menyaksikan
cuma aku dan adik kecilku itu
atas nama aku dan adikku, sukarno hatta)

"Matahari dan Bulan

By On Mei 05, 2006
matahari,
ketika kau beranjak dewasa
kau pergi
aku tetap disini
dengan sejumput setiaku menantimu

bulan datang
tetapi dia malah mengajakku
berselingkuh

bulan,
pandai sekali ia bermain kata
ingin sekali aku bilang padanya
kamu saudaranya matahari
dan aku tidak bisa menuruti keinginanmu
tapi aku tidak bisa
aku tidak berani mengatakan
kalau matahari kekasihku


"Tulip Hitam"

By On Mei 05, 2006

"Tulip Hitam"

By On Mei 05, 2006

Selasa, 02 Mei 2006

"sampai jumpa"

By On Mei 02, 2006
seperti angin meniup kisi-kisi jendela
berdesir menyapa lembut
membawa pesan sepi
entah bermakna apa
seteleha perginya seseorang
dengan bunyi keriut terompah yang semakin pelan
jauh-semakin jauh
seperti buntut kereta api yang menjauh
angin itu mulai diam
kisi-kisi jendelapun sudah tidak bergoyang
sebuah sepi yang menghenyak hati hingga sedalam-dalamnya
lengang-yang lengang
nun
jauh disana
ada geliat keong kecil kabur menuju buih lautan membawa sedih sisa rindunya yang sedikit
untuk dijadikan bantal tidurnya yang tanpa mimpi
tidak lelap
karena tidak sabar ingin bertemu lagi
ah
mungkin harus kutulis sekarang
kata-kata SAMPAI JUMPA
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email