Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 30 Juni 2006

"For My Brother"

By On Juni 30, 2006
untuk kakak besarku...

aku sudah membuat skin baru pada blog ku
semoga tak lagi membuatmu burem bila melihatnya
dan tidak membuat kepalamu puyeng tujuh keliling
apalagi sampai meninggalkan jejaknya di shoutbox
dengan isi "Berantakan Sekali"
salam rindu untuk mu selalu
dan selalulah menasehati blog ku...

"tuhan** Sembilan Senti*"

By On Juni 30, 2006

oleh: Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa taktertahankan bagi orang yang tak merokok,Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawaimerokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok,di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwiranongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahunelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolahada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosenmerokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatanada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yangduduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, dikereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antarpulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnyakuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapitempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran ditoko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketikamelayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkanHIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kitadisebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau distopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannyaketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur didunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,bisa ketularan kena,Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obatmerokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokterpasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok,menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyimerokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalamlift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidangber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orangperokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujukkitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap.Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisaprokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselipberhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99butirnya,Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan merekamemegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangankiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin danyang sedikit golongan ashabus syimaal?Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'uttadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruanganber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalautak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujungrokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok diruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebihdahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbangbencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korbannarkoba,Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa dinegara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dancerdasnya,Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujuduntuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fanadalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

"Ayah Mu Kekasih Ku"

By On Juni 30, 2006
“Tidak salah menyayangi orang yang sudah berkeluarga, tapi jangan biarkan hatimu sampai mencintainya”

Kata-kata itulah yang sedari tadi diingat-ingat oleh Sulung, dimana ia pernah membacanya. Apakah dalam cerita-cerita yang ada dimajalahnya atau disalah artikel yang ada di surat kabar, entahlah gadis itu tak dapat mengingatnya dengan pasti. Yang jelas bundelan majalahnya telah ditelusuri lembar demi lembarnya namun ia sama sekali tidak menemukan penggalan kalimat tersebut.

Sulung sepertinya mulai lelah, beberapa butir peluh telah bertengger dengan manis di pelipisnya. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke dinding dan meraih sebotol air mineral yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk.ia meneguknya beberapa tegukan. Ia mencoba mengerahkan seluruh ingatannya dan mencoba mengingat kembali dimana ia pernah membaca penggalan kalimat tersebut. Tetapi percuma ia sama sekali tak dapat mengingatnya dengan baik. Merasa yang dicarinya tak diketemukan ia bergegas merapikan majalahnya dan beberapa surat kabar nasional.

Entah mengapa ia menjadi sangat peduli dengan kalimat itu sekarang, padahal dulu ia mengabaikannya begitu saja. Hanya menganggapnya angina lalu. Apakah karena semuanya mirip dengan apa yang dialami gadis berambut panjang itu, hanya Sulung yang tahu dengan pasti. Masih sambil bersandar Sulung meraih hand phonenya dan membuka folder kotak masuk dari seseorang.

“Barangkali ada diantara sms-sms ini…” desisnya.
Diantara sekian banyak pesan yang ada di folder tersebut ternyata tidak satupun yang isinya menyerupai itu, jangankan dibilang sama. Sulung mulai letih dan kecewa. Ia tampak begitu risau meski sesekali ia tersenyum karena pesan yang isinya menggelitik kalbu. Matanya menerawang. Mungkin membayangkan sosok tersebut.

“Duh…” ia menghela nafas. Berat sekali. Sangat berat. Seperti melepaskan tumpukan bertonton beban dalam rongga jiwanya yang sempit.

”Kalau saja kita tidak ketemu...semua ini pasti tidak akan terjadi, aku tidak harus merasa sesakit ini Kak...dan kalau saja aku sedikit mengindahkan penggalan kalimat yang pernah kubaca beberapa waktu lalu, tentu aku tidak perlu merasa bersalah pada diriku sendiri. Kisah hidupkupasti akan menjadi lain...” pekiknya dalam hati. Matanya tak berkedip menatap sebaris nama di nokia 3100 nya.

”Tapi sudahlah..bukankah aku pernah mengatakan pada diriku sendiri untuk tidak pernah menyesali semua yang terjadi? Apa kurangnya dia...baik, menyayangi ku dan selalu berempati dengan apa yang aku alami, bahkan tidak jarang ia memenuhi kebutuhanku meski aku tidak pernah meminta semua itu. Yah...tidak ada yang kurang pada mu kak...yang kurang barangkali karena aku tidak bisa memilikimu dengan utuh...tapi sudahlah, aku tidak perlu menyalahkanmu atau siapapun, bukankah kau tidak membohongiku tentang siapa dirimu?”

Sulung merebahkan tubuhnya, ia mencoba menyusuri kembali perjalanan waktunya hingga ke pertemuannya dengan seseorang. Tapi belum sempat ia menyusuri seperempat perjalananpun ia sudah tertidur pulas.


Ihan

”Ada yang kamu sembunyikan dari ku Lung”
”Tidak ada”
”Lung, jangan membohongiku. Kita berteman hampir tiga tahun. Kemana-mana selalu bersama, setiap ada persoalan juga kita sering berbagi bersama. Tapi untuk persoalan mu yang sekarang tidak bolehkah aku tahu Lung? Lihatlah tubuh mu sendiri Lung, sudah makin kurus. Kalau tidak ada beban yang kau pendam mana mungkin kamu jadi begini, kamu tidak seceria dulu Lung”
”seperti para normal saja kamu Vi”
”Ayolah Lung”
Vivian adalah teman dekat Sulung sejak ia duduk dibangku kuliah, dibandingkan dengannya Vivian cenderung pendiam dan sedikit introvert, kebiasaannya itulah yang membuat Sulung akhir-akhir ini merasa enggan untuk bercerita mengenai dirinya pada Vivian. Merasa tidak enak hati karena ada saja yang ia ceritakan pada sahabatnya itu sementara Vivian hampir tidak pernah mengeluh apapun padanya. Tapi apakah benteng pertahanannya akan bobol sampai disini? Dan dirinya harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?
”Lung...?”
”Ya”
”Kamu tidak ingin berbagi denganku?” desak Vivian dengan halus
”Aku tidak tahu harus memulainya darimana”
”Hm...”
”Vi..?”
”Ya?”
”Apa kamu pernah jatuh cinta?”
”Tidak” jawab Vivian polos sambil tersenyum.
Dalam hati Sulung berfikit bagaimana ia sempat jatuh cinta kalau setiap hari berkutat dengan buku dan buku, dirumahnya ada perpustakaan dengan jumlah ratusan buku. Disanalah Vivian sering menghabiskan sisa waktunya sepulang kuliah. Hanya sesekali ia bermain atau pergi berbelanja, itupun karena terdesak dan karena paksaan ibunya.
”bagaimana aku bisa bercerita padamu, kamu tentu tidak akan memahami persoalanku kalau kamu sendiri tidak pernah mengalaminya”
”sudahlah Lung...aku bukan anak-anak lagi kok...” jawabnya seraya menimpuk air dengan batu kecil.” aku sering membaca buku-buku seputar percintaan dan berbagai problemnya, aku juga sering mendengar keluhan-keluhan temanku sejak smu seputar hubungan asmara mereka.” Vivian tersenyum lagi.
”heheh...”
”Kamu sedang jatuh cinta Lung”
”Sudah lama”
”Sudah lama? Dan aku tidak pernah tahu? Betapa pintarnya kamu menutupi semua itu Lung”
”Karena aku tidak inginseorangpun tahu dengan kisah cintaku yang rumit ini, membingungkan dan membuatku tersiksa...”
”Juga tidak pada sahabatmu ini Lung?” Vivian menatapnya lembut.
”Entahlah...mungkin sekarang aku akan bercerita” Sulung menghela nafas.
”Baiklah, aku akanmendengarkannya”
keduanya lalu diam, tak ada yang berkata. Vivian masih menunggu Sulung untuk berbicara, tapi sepertinya tanda-tanda kearah sana belum ada.
”DImana kamu kenal dia?”tanya Vivian memecah kebekuan
”Disini” ”Disini?” tanya Vivian memastikan
”Ya, ditempat kita duduk ini”
“kalau begitu kamu sedang bernostalgia” ledek Vivian
”Tidakjuga” ”Lanjutkan”
”Kami kenal satu setengah tahun yang lalu,di tepi sungai ini. ketika itu keluargaku sedang ada problem yang membuatku sangat terpukul. untuk menenangkan diri aku pergi menyendiri di tepi sungai ini, hingga tanpa sadar hari sudah mulai gelap. tapi aku belum ingin pergi. kemudian seseorang mengingatkanku untuk pulang, mungkin dia mengira aku akan bunuh diri waktu itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu aku sedang menangis, dia menghiburku dengan petuah-petuahnya yang saat itu kuanggap sebagai angin lalu. Singkat cerita aku pulang diantar olehnya.”
Sulung menarik nafas, Vivian masih mendengarkannya dengan serius sambil sesekali menimpuk air dengan batu.
”Kupikir pertemuan kami hanya sampai disitu saja, tapi rupanya waktu membawa kami pada pertemuan berikutnya. Kami bertemu kembali ditempat yang sama”
”Lelaki itu sengaja menunggumu?”
”Tidak. Dia suka memancing disini”
”Oh”
“Setelah itu kami makin dekat, aku sering menceritakan persoalanku padanya, hanya dia yang tahu seluk beluk persoalanku dengan detil dan tak jarang dia ikut membantuku mencarikan jalan keluarnya sehingga aku merasa nyaman berad didekatnya, aku merasa semakin hari semakin tidak bisa kehilangannya. Lalu aku memberanikandiri mengatakan padanya kalau aku sering merinduinya, dan diluar dugaanku ternyata dia membuat pernyataan yang sama”
“Tidak bertepuk sebelah tangan”
“kami jarang bertemu, sebulan belum tentu sekali. Aku memaklumi aktivitasnya yang padat dan kesibukannya. Paling ia hanya menelfonku tapi itupun sangat jarang. Aku tidak terlalu memaksakan diri untuk bisa selalu bersamanya”
”Kenapa?”
”Karena dia bekerja di luar negeri, pulang kemari hanya sebulan sekali. Dan kalaupun pulang waktunya pastilah habis untuk keluarga dan aktivitasnya yang lain”
”OH ya?” Vivian heran. ”Kerja dimana dia?”
”kamu tidak perlu tau siapa dan diamana dia bekrja”
”Aku tidak memaksa. Tapi maksudmu keluarga....”Vivian menggantungkan kalimatnya.
”ya, dia sudah berkeluarga, punya anak dan istri”
”Oh...” bibir Vivian melongo, ia tidak bisa menutupi keterkejutannya.
”Itulah yang kusesali, mengapa aku sampai harus jatuh cinta padanya.”
”Hm...apa kamu sudah tahu dari awal kalau dia berkeluarga?”
”Ya, aku tahu”
”dan kamu masih mencintainya juga?”
”Aku sudah mencoba untuk melupakannya Vi, setidaknya mencukupkannya sebagai kakak ku saja tapi aku tidak bisa. Aku tidak mampu”
”Apa dia sering memenuhi kebutuhanmu?”
”Aku tidak pernah meminta”
”Mungkin karena itu kamu mempertahankan dia”
”Semuanya bukan semata-mata karena uang Vi, aku menyayanginya setulus hatiku. Aku tidak pernah mengharapkan apa apa dari hubungan ini. Tidak pernah. Mungkin kamu berfikir dengan uang yang diberinya dia bisa membeliku, kamu salah Vi, dia tidak pernah menyentuhku sekalipun. Dia sangat menghormatiku dan menerimaku apa adanya” suara Sulung terdengar datar sekali, ia merasa tersinggung dengan ucapan Vivian yang terakhir. Selanjutnya ia memilih diam dan menatap pada kedalaman air sungai. Ia masih ingat dengan jelas pertemuan mereka terakhir dengan Rifan diawal april yang lalu ditempat ini. Bahkan sudah setahun lebih hubungan mereka, Rifan tidak pernah sekalipun memegang tangannya.
Sulung membuka pesan yang masuk ke hand phonenya, dari Rifan. Isinya berupa ucapan selamat ulang tahun yang sangat sederhana sekali.
”Selamat hari jadi anak manis, tambah sholehah ya..”
Hanya itu isinya. Bukankah sangat sederhana?
”7 Mei....hari ini 7 Mei...hari ulang tahun ku...” Sulung mengingat-ingat sesuatu...”Bukankah hari ini aku berjanji akan menunggu kak Rifan di tepi sungai ini? Mengapa aku malah mengajak Vivian ketempat ini. Kenapa aku sampai lupa pada janjiku sendiri?” Sulung merutuki diri.
Sementara Vivian menatapnya dengan seribu pertanyaan yang tak berani diungkapannya. Ia merasa menyesal dengan pertanyaan terahirnya tadi. Tapi ia tidak berani mengusik Sulung kembali.
Benar saja, belum selesai Sulung merutuki diri ia telah melihat sosok Rifan di kejauhan sana, dengan menenteng sebuah tas pancingnya. Wajahnya begitu berseri dan bersih. Sebaliknya Sulung merasa detakan jantungnya menjadi makin kuat dan tidak menentu. Apa yang harus ia katakan pada Vivian bila laki-laki itu menyapanya. Apakah ia harus mengatakan sekali lagi itulah lelaki yang dicintainya? Belum lagi hatinya tenang ia harus dikagetkan dengan kejutan yang lebih dahsyat lagi.
”Papa...” Pekik Vivian memanggil ayahnya yang tidak lain adalah Rifan.
”Papa...” desis Sulung lemas, ototnya serasa remuk dan jatuh tercecer ke tanah. ”Vivian memanggil kak Rifan dengan sebutan papa...”
”Pa...kenalkan ini teman dekat Vivian namanya Sulung ...”
Rifan dan Sulung hanya saling diam setelah sesat bersalaman dengan kaku. Betapa Sulung ingin berlari dari sana, menjauhi ayah dan anak itu. Betapa ia tak dapat melukiskan apa yang dirasakannya. Sakit, perih dan perasaan bersalah.
”Mungkin benar tak seharusnya aku mencintai laki-laki yang sudah berkeluarga bila akhirnya begini...” batinnya pilu.
Sulung tak bisa menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Usai sudah perjalanan cintanya. Tinggallah Vivian yan terheran-heran mengapa Sulung menangis. Dengan susah payah Sulung mencoba berbicara dan...
”Aku pulang Vi....” hanya aitu yang terucap dari bibirnya.

(Terinspirasi dari status YM seseorang yang kulihat beberapa hari yang lalu)


Kamis, 29 Juni 2006

"Ytc" dan "Yth"

By On Juni 29, 2006
Ytc dan Yth adalah singkatan yang biasa di sematkan pada bagian luar amplop ketika seseorang ingin mengirimkan surat ataupun paket dan sejenisnya. ada yang menarik dalam hal ini, memang bila dilihat sepintas sama sekali hampir tidak bermakna, tapi tentunya ketika seseorang menuliskan dua kata yang berbeda tersebut pastilah ada niat dan alasan tertentu. begitu juga untuk orang yang menerima amplop, dia tentu akan lebih merasa senang dan berbunga-bunga bila diamplop sebelum namanya diawali dengan ytc yang berarti yang tercinta bla bla bla...
betapa senangnya hati tatkala menjadi orang yang dicintai dan itu dituangkan pula dalam bentuk yang nyata, artinya bukan hanya diucapkan dimulut saja. tetapi pernahkah kita berfikir bahwa cinta suatu saat baik cepat ataupun lambat pasti akan memudar dan sirna, dengan sedikit kesalahan yang tidak berarti cinta yang tadinya begitu menggebu-gebu dan menggelora dengan sendirinya akan padam dan meredup, bahkan bukan tidak mungkin posisinya akan bertukar dengan kebencian, jangankan untuk bersilahturrahmi sepanjang hayat, untuk sekedar mengingat namanya saja sudah membuat jemu dan enggan.
itu akan menjadi berbeda bila anda menuliskannya menjadi yang terhormat, menjadi seseorang yang dihormati bukanlah berarti tanpa cinta, tetapi cinta yang dihadirkan menjadi sangat luas maknanya, tidak sempit dan tidak terbatas. menjadi seseorang yang dihormati adalah sebuah keistimewaan yang tidak sebanding daripada dicintai, disanjung lantas dicampakkan begitu saja. tapi herannya banyak orang yang berharap untuk dicintai daripada dihormati, banyak orang yang begitu gila mencintai orang lain tapi tidak menghormatinya. bahkan ada orang yang tega menyakiti tidak hanya psikis dari orang yang dicintainya tetapi juga menyakiti fisiknya bahkan berujung pada kematian.
bukannya sok tahu, tapi ketika cinta diletakkan pada rel yang salah maka jalannya juga menjadi salah. kalau jalannya sudah salah jangan harap endingnya akan baik. tetapi kalau disuruh memilih maka aku akan memilih dihormati sekaligus dicintai. aku tidak mengatakan dicintai sekaligus dihormati, tetapi dihormati sekaligus dicintai.

Rabu, 28 Juni 2006

"Koran Kecil dari Kakak Besar"

By On Juni 28, 2006
Senin, 26 Juni 2006,
Pagi sekali, udara jakarta yang pekat berkabut,aku lewat tuk bkerja dan kulihat pintu dan jendelamu belum terbuka. kamu pasti belum bangun. Aku hanya menyelipkan secarik kertas dibawah daun pintumu. Semoga saja kau lekas-lekas membacanya.Isinya:Sengaja aku menaruh kertas ini dibawah daun pintumu, sambil menyingsingkan lengan bajuku menyambut sibuk yang akan segera menyergapku. Inilah yang bisa ku perbuat dan inilah pula yang kurasa paling sopan. Aku tidak melemparkannya seperti tukang koran pagi yang biasa melakukannya di halaman rumahku, tidak pula mejadikannya pesawat-pesawatan lalu melemparkannya ke lubang ventilasimu dengan harapan akan jatuh diatas tempat tidurmu. Aku berharap persediaan maafmu masih banyak, karena aku akan memintanya lagi pagi ini. Permintaan maafku atas kepergianku tanpa menutup pintu kemarin.Pekerjaan disini ternyata meminta sampai ke sisa-sisa waktuku disore hari menjelang pulangku, kadang-kadang juga meminta lebih dari itu. Bahkan kesempatan untuk berpamitan padamu sesaat saja pun tak diberikannya.Sekali lagi, maafkanlah aku dan maafkanlah juga kantorku ini.Hari ini, bila kamu bangun tidak terlalu siang, mungkin masih dapat menyaksikan bintang kecil di langit dari sudut jendela kamarmu. Tersenyumlah padanya karena ia telah berusaha sekuat tenaga untuk tetap bercahaya menyambutmu di pagi ini. Karena sebentar lagi ia akan lenyap tertutup bias sinar matahari. Setelah itu, bersiap-siaplah menyambut harimu ini bersama do'aku, semoga langit senantiasa teduh hingga kamu tidak terlalu berkeringat. Atau, kalaupun kamu harus berkeringat, semoga saja ada tukang es krim keliling yang segera dapat kau temukan...., amiin.Itu saja yang dapat kusampaikan, semoga saja aku segera dapat menyapamu lagi hari ini, dan terima kasihku untukmu karena telah menggenggam tanganku erat dan mesra sekali kemarin,
Wassalam,
Kaka Besar.....

"Kamar tidurku dan Bola Dunia"

By On Juni 28, 2006
selama piala dunia berlangsung aku hampir tidak bisa merasai bagaimana nikmatnya tidur, padahal sebelum tidur aku selalu merapikan tempat tidurku, meletakkan bantal di sisi kanan dan kiri juga di kepala tentunya. tak lupa menyemprotkan by fresh beraroma melati agar kamar terasa segar dan nyaman. dan tidak lupa mematikan lampu agar tidurku bisa nyenyak nantinya. semenit berlalu...setengah jam terlewati...mata ini sangat mengantuk tapi kemudian terbelalak dan jantung ku berdebar tidak karuan, sangat kencang sehingga aku tidak bisa tidur unutk waktu yang cukup lama.

ku coba susuri darimana arah suara menjerit jerit yang telah membuat tidur ku terganggu, dalam kantuk yang sangat aku mencoba untuk sadar dan kubyangkan aku sedang berjalan keluar, pelan kubuka pintu kamar dan menuju ke ruang tamu, lantas menyibak tirai jendela dan melongok kebawah. ah..ternyata ini dia..biang kerok dari semua itu. biang dari semua keributan dan suara menjerit jerit tadi. orang orang sangat ramai diwarung sebelah rumahku. mereka akan menghabiskan seperempat malam disana untuk menonton piala dunia yang tingga sepekan lagi. dengan memesan segelas kopi tentu akan membuat mata mereka semakin trebelalak hingga ke babak pertandingan terakhir. belum hilang ketidak sadaranku tiba tiba aku dikagetkan lagi dengan hentakan yang begitu kua, suara orang orang diwarung bertambah semangat saja, mereka juga memukul mukul meja dan berteriak senang karena kesebelasnnya menang, tapi ada juga yang memaki karena jagoannya kalah.

masih dalam keadaan setengah sadar, aku mencoba membayagkan, seandainya keramaian ini bukan diwarung kopi tapi di mesjid atau meunasah, tentu akan lebih indah lagi. tapi tentunya tidak mesti memukul-mukul lantai mesjid sehingga menjadi sangat riuh, kupikir cukup dengan suara orang berzikir atau bertilawah saja sudah cukup. atau biar lebih ramai mungkin perlu ditambahi dengan suara anak anak mengaji iqra' sesekali diselingi dengan pertengkaran sesama mereka. masih serasa seperti di mesjid aku diam diam juga mengamati apa yang dibicarakan oeleh orang orang yang ada disana, kutajamkan telingaku. ternyata mereka bukan membahas soal generasi muda bangsa ini yang sudah semakin kehilangn jati diri, bukan juga soal kemiskinan dan bencana yang sedang menimpa negeri ini, tetapi membicarakan klub klub sepak bola dunia yang ujung ujungnya kembali pada piala dunia.

ternyata piala dunia tidak hanya ada di warung kopi, tetapi juga masuk ke surau surau, ke kampus kampus, ke segala lini aspek kehidupan. bahkan ke kamar tidurku. padahal aku bukanlah penggila bola. dan aku sama sekali tidak menginginkan suara itu masuk kekamar tidurku. tapi apa daya...auranya begitu menggugah selera, dan aku tidak bisa mencegahnya untuk tidak masuk kekamar tidurku.

Selasa, 27 Juni 2006

"Bukan Kesempurnaan"(Balasan email seseorang)

By On Juni 27, 2006
sebenarnya aku ingin semua tulisanku bermakna, sehingga tidak sia sia aku menulisnya, paling tidak ketika ada orang yang membacanya seseorang itu akan merasa terhibur. atau minimal untuk diriku sendiri. selalu bermakna, tapi ternyata tidak gampang menyelipkan makna kesetiap kata yang terterakan disini. itu semua memang tergantung dengan suasana hatiku, ketika aku sedang menulis tentang anak jalanan misalnya, saat itu pastilah aku sangat miris sekali sehingga ketika sedang menulis aku merasa merea itu adalah aku. sehingga aku bisa merasai betul peluh yang mengalir di pelipis mereka, atau tangan kumal yang selalu tertadah pada jendela jendela mobil yang ditemuinya. atau..ketika aku menuliskan tentang seseorang yang tengah patah hati, mungkin ini akan sangat mudah bagiku karena aku sering mengalami yang seperti ini, paling tidak menyerupainya. bukan patah hati beneran, tapi sedikit bengkok lantas dengan cepat aku meluruskannya kembali, apakah besok akan bengkok kembali..aku tidak tahu.
lalau bagaimana kalau seseorang menginginkanku menulis tentan kesempurnaan? aku menjadi sangat bingung sekali karena aku hampir tidak pernah betemu dengan yang namanya kesempurnaan itu. baiklah, aku akan memulai dengan sekelumit kisah yang mirip-mirip dengan kesempurnaan itu, tetapi setelah ku telusuri lagi ternyata ujungnya tetap saja menjadi tidak sempurna. katakanlah aku bertemu dengan seseorang yang sangat cantik, bentuk tubuhnya bagus, langsing dan semampai, hidungnya bangir, kulitnya putih kuning, bibirnya tipis dan seksi, banyak lelaki yang menyukainya dan orang tuanyapun sangat menyayanginya karena dia cantik, temannya banyak, dunia serasa miliknya, tapi ternyata apa yang terjadi, kini orang orang ramai membicarakannya, orang tuanya marah dan tak ingin bertemu dengnnya untuk batas waktu tidak tertentu, saudara saudaranya banyak yang mulai mencium aroma tak sedap akibat pergaulannya yang tidak terkontrol...hm..kemana dunia yang indah itu?kemanakah kesempurnaan yang pernah ia miliki itu? hanya dia yang tahu.
dilain kesempatan ada seseorang yang sangat kaya raya, punya keluarga yang sangat harmonis, hidupnya bergelimang dengan uang, setiap bulannya ratusan juta akan masuk ke rekeningnya, anak anaknya cerdas, dia juga anak yang baik dan berbakti pada orang tua, punya istri yang cantik dan pintar, rumah besar, dikagumi banyak orang, sebentar-sebentar keluar negeri, perabotan rumahnya jangan ditanya, mulai dari kulkas, tv, hingga internet tersedia dengan lengkap, mau ini atau itu anaknya tinggal bilang saja. tetapi di sela sela kesetiaannya sebgai suami dan ayah ia punya kekasih lain, ia punya perempuan lain tempatnya berbagi, tempatnya berbagi tawa dan canda. di mata anak dan istrinya ia adalah suami dan ayah yang sempurna, tetapi dimata kekasih gelapnya di sama buruknya dengan dirinya yang mencintai lelaki yang sudah bersuami.
ada juga seorang yang sangat alim, sholatnya tidak pernah telat, tahajudnya, ibadah sunnahnya lancar, tilawah hariannya tidak kurang dari satu juz, aktif di organisasi dan lembaga sosial, dikenal banyak orang, dan punya tampang lumayan, pengayom dan semua orang menyeganinya, hidupnya sangat tenang, sederhana meski ia dari keluarga yang berlimpah dengan harta, banyak yang menyukainya karena kesalehannya itu, tapi kemudian ia menjadi "tahu diri" dan menjadi pemilih, setiap orang yang datang padanya ia menilai dengan jeli siapa dia, darimana, bagaimana, dan bla bla...sehingga ia merasa bahwa orang lain tidak ada yang pantas untuknya.
untuk menjadi sempurna itu tidak mudah, sebaliknya untuk menjadi tak sempurna itu sangat gampang, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadi tak sempurnah sebaliknya sulit sekali melakukan sesuatu yang menjadikan kita sempurna, paling hanya mendekati kesempurnaan saja. karena memang sudah begitu sunnatullahnya, yang maha sempurna hanyalah Allah semata, tidak ada yang lain.
sama seperti ketika aku ingin menuliskan sesuatu yang terlihat begitu sempurna, aku selalu merasa kewalahan, dan selalu merasa aku telah melakukan yang sempurna tapi ternyata tidak. entah yang ku tulis ini ada maknanya atau tidak..aku juga tidak tahu. tapi aku menulisnya dengan sepenuh hati, itu saja.

Minggu, 25 Juni 2006

"Lawatan Cinta Presiden Jayus"

By On Juni 25, 2006
bismillahhirrahmannirrahim....
mau ngeblog lagi nih
coz kemarin ngga sempat postingan, cuma sempat kirim email aja untuk kakak besar ku...maklum, listrik udah seminggu ini kena stroke di Aceh, belum ada obatnya walhasil kemaren tuh pukul satu siang baru nyala. ugh..di idi rayeuk malah mati total. gileee...
semoga aja hari ini tidk timbul tenggelam lagi, soale aku mo nyampa cinta ku yang saat ini tengah ada di pembaringannya, sudah tiga hari aku tidak menyapanya dengan cinta...dan barusn karena tidak tahan lagi akhirnya aku mengirimakan short massage service untuknya, dan ternyata cintaku sedang sakit. duh Allah...jahat nian aku ini ya...saudaranya sakit malah di tanyai OL ngga??? waaks...diapain ya si ihan tuh...cubit aja ya..hidungnya biar ngga pesek lagi hehe...tapi beneran ngga pesek kok...
hujan nih..dingin euy..mana air conditioner nya on lagi...ceileee syukur deh pakai baju ngga tipis, longgar dan tidak kekurangan bahan, jadi ketika panas tidak kepanasan dan ketika hujan tidak kehujanan...yaelah...tahu aja nih anak. tapi....ntar sore aku mo jalan jalan nih...mo shooping huhuhu....shoping sayur ama tempe dan cabe hiks hiks...sekalian beli kaus kaki lagi...musim hujan gini harus banyak persediaan kaus kaki..biar ngga bulukan...kaki juga harus dirawat biar letaknya ada dibawah ya kan...soalnya...soalnya..kaki itu...ups..ngga jadi deh rahasia japri itu...
niat awalnya nanti sore mo jalan sama teman, semalam dia ngingap di kostan ku...tapi tadi setelah aku berangkat kerja dia sms dan mo langsung pulang, katanya sedih dia..hhh...aku ngga tau sedihnya kenapa karena ketika aku pergi tadi dia cuma bersin bersin aja...tapi...ku tunggu besok deh..katanya besok dia mo cerita...dan...sepertinya aku ngga jadi shoping cabe dan sayur, apalagi tempe...males ah masak sendiri...paling kebuang ngga kemakan, maklum, kalau sendiri semuanya memang jadi ngga enak.
ups...ada yang bunyi nih...ada yang kriuk kriuk..uhg...dasar anak anak ngga bisa lihat induknya senang ngeblog...padahal tadi udah diingatkan diam aja didalam perut...hehe..taapi dasar anak anak...biarpun cuma anak cacing..tetep aja kalau laper ngga bisa ditunda ups...istilah kerennya kata orang pending....heheh...
ingatanku melayang lagi pada sesosok yang saat ini tengah terbaring di pembaringannya, dengan tubuh yang lemas terkulai, betapa aku merasa berdosa tak bisa memijit lengannya, menghiburnya seperti ia menghiburku, atau barangkali mendongengkannya, membuatnya tertawa dan kami bercerita ceriti..hehe...kalau diperkenankan aku akan menyuapinya dengan bubur atau sup...tapi...aku bingung soalnya cintaku ini banyak sekali pantangan, aku sudah lupa apa apa saja yang bisa dikonsumsi olehnya...cinta..maaf ya...aku tak sengaja lupa daftar menu mu, tapi aku tetap sayang kamu...ceileee romantis amat...yang baca jangan sampe ge er ya..nanti di tangkap satpam di depan poltek its.

Jumat, 23 Juni 2006

"Terjemahan Kehidupan"

By On Juni 23, 2006
apa yang kurasakan saat ini
adakah yang bisa melukiskannya
pertautan demi pertautan yang melahirkan gejolak dan rasa
membuatku membumbung tinggi
sejenak mengarungi nirwana dan keindahan mega mega
mengantar ku pada rasa yang tidak terperi
mengantar ku pada kesempuranaan rasa

memeluk rindu dan cinta
dalam bayang bayang diri yang
tak pernah sempurna
tapi cinta menjadikanku begitu sempurna
menjadikanku begitu berarti
menjadikan setiap debaran debaran menjadi sangat bermakna
dan langkah langkah kaki adalah gumpalan gumpalan kebahagiaan


entahlah
aku tidak ingin menterjemahkan semuanya
biar waktu pelan pelan yang mengabarkannya padaku
dia akan menceritakan mulai dari A
hingga Z
setiap kata
setiap bait
setiap teriakan
dan setia tangisan
karena dari sanalah semua kelengkapan itu bermuara


biarlah terulang ulang kembali
karena warna kehidupan memang tidak selalu sama
ada hitam dan putih
ada merah dan hijau
ada warna warna yang kadang melahirkan seribu tanya
serahkan pada waktu
karena waktu tidak pernah salah menterjemahkan warna kehidupan






"Cerita Kamis Malam"

By On Juni 23, 2006
sudah dua hari ini di kost kostan hanya tinggal aku dan seorang temanku, sepi. yang seorang lagi sudah pulang kampung dan yang seorang lagi sudah pindah dua minggu yang lalu. benar benar terasa sepi, tidak ada cerita, tidak ada cuap cuap karena masing masing sibuk dengan diri sendiri, tepatnya aku menjadi penguasa atas dan temanku menjadi penguasa bawah karena kebetulan aku berada di lantai atas dan dia di bawah.


sebagaimana lazimnya kebiasaan anak kost....memasak bukanlah suatu keharusan dan harus dikerjakan, meskipun saat itu sedang benar benar lapar. lebih gampang dan cepat membeli ke warung atau cuma sekedar merebus mie instant. sebuah kebiasaan yang buruk sebenarnya. tapi..tapi dan tapi...


karena kebiasaan itulah...semalam...temanku mengajak untuk makan keluar, aku mengiyakan saja...kasian juga melihat dia sedari pagi belum makan karena sibuk mengerjakan tugasnya, yang sebentar sebentar harus tertunda karena listrik padam.


setelah memesan dua piring nasi kami duduk agak di pojokan, aku agak heran juga kenapa dia memesan dua piring nasi, bukan satu saja untuk dirinya. aku sudah makan, dan seharusnya dia konfirmasi dulu ke aku apakah aku ingin makan atau tidak. kami terus saja makan, tapi dalam hati sedikit was was. soalnya aku tahu kalau temanku membawa persediaan uang hanya cukup untuk sepiring nasi. di tengah perjalanan ( setelah nasi hampir habis maksudnya) teman bertanya padaku apakah aku membawa uang, dengan santai ku jawab tidak. lalu...kami tertawa bersamaan. rada malu juga udah makan nasi orang tapi ngga bawa duit...hehe....yang penting nasinya abisin dulu kata temenku, soal uang gampang...yah..makan saja, soal uang kami terpaksa menelepon seorang tetangga kami untuk mengantarkannya. syukurlah waktu itu masih ada pulsa yang tersisa, dan acara makan malam kami kembali menjadi tenang dan nyaman setelah uang ada di tangan. tak henti hentinya kami tertawa sampai-sampai menjadi perhatian orang.

Minggu, 18 Juni 2006

"Kucing Geulis"

By On Juni 18, 2006

Sabtu, 17 Juni 2006

"Kunci Cinta (4 some 1)

By On Juni 17, 2006
sebenarnya aku punya stok cinta yang sangat besar sekali. stok cinta itu telah kupersiapkan untuk sepanjang umur hidupku. suatu waktu aku berjalan menyusuri lorong kehidupan. aku bertemu dengan pohon pohon yang kokoh, sagat menawan dan sungguh menarik. ia begitu rimbun, buahnya lebat, ingin sekali aku berteduh selamanya dibawah dahan dahannya yang rindang. siapa sangka dia juga menginginkan aku selamanya bertengger di dahannya, karena aku adalah burung kecil. karena itu pohon berfikir buahnya pasti cukup untuk ku.
dasar pohon, pelan pelan ia mulai mencairkan hatiku untuk tetap berteduh disana selamanya. padahal aku masih berniat untuk terbang lagi. terbang. terbang. oh ya, kunci stok cintaku tetap ku gantung di leherku. pohon selalu bertanya kunci apa itu. dan aku jawab, ini adalah kunci stok cintaku. hm..tanpa sepengetahuanku ternyata pohon ingin memiliki kunci itu dn membuka stok cintaku untuknya.
waktu terus berjalan, lama sekali. aku tertidur di dahannya, berkicau, bernyanyi nyanyi riang. siapa nyana ketika aku tertidur kunci itu terjatuh dan pohon menangkapnya, ups...rantingnya berhasil menangkap kunci yang terbuat dari emas itu. dan aku bermimpi, aku harus meninggalkan pohon, karena aku harus berjalan menemui pohon yang lain lagi. ketika aku terjaga aku terbengong bengong. memikirkan arti mimpi tadi, apakah aku harus berjalan atau tetap bertengger disini, tapi kemana aku mencari pohon besar itu? aku tidak tahu. ketika aku sedang mengucek ngucek mata samar samar kulihat ada burung lain yang bertengger di dahan pohon ini. pohon tengah merayunya agar mau mencicipi buahnya, burung itu tampak malu-malu tapi lama lama ia mau juga. aku merasa cemburu, tapi pohon tidak boleh tahu.
aku harus menmbil keputusan, aku tahu ini akan menyakitkan, tapi aku harus tetap pergi. aku harus mendatangi pohon lain yang ada dalam mimpi itu, meski dengan kunci yang sudah tida ada lagi. pohon telah mengambilnya. dan dia tidak mau mengembalikannya padaku. akhirnya aku pergi, pohon menangis, aku juga. perih, sakit dan pilu. maaf pohon, kau sudah ada burung lain kan?
aku terkulai, di negeri antah barantah. asing sekali. tubuhku lemas, lelah dan aku haus, dimana aku mencari air, dimana aku mencari makanan? disini gersang sekali. antara sadar dan tidak aku mendengar suara sedang memanggilku, sini...sini...kata suara itu. aku menoleh, mencari cari dimana asal suara. oh..ternyata dia ada dibelakangku. sejak kapan pohon itu ada disitu? sepertinya tadi tidak ada. sesaat aku terpana, di tanah tandus seperti ini kok ada pohon se rimbun itu, buahnya lebat, daunnya hijau dan dia tampak sangat segar. tidak ada yang bolong2 seperti daun pohon pertama tadi, meski cukup subur juga. aku melongok, dia membantuku bangkit, salah satu rantingnya dijulurkan kepadaku dan seketika aku sudah berada di dahannya.
setelah sekian lama aku berteduh di pohon itu, akhirnya aku merasa bahwa aku adalah miliknya, dan dia adalah millikku. hinga suatu hari pohon bertanya, dimana kunci cintaku. aku begitu tergugu dengan pertanyaannya, aku terhenyak. aku tak dapat bersuara danmenunduk, kunci cintaku telah tertinggal untuk pohon pertama tadi. aku.....airmata ini menjelaskan semua

"Pohon, Perahu layar, Burung dan Tanah"

By On Juni 17, 2006
pohon

aku adalah pohon
yang sangat tergantung pada bibit, tanah, air, dan matahari juga pupuk
kadang aku kurus,
tatkala aku kekurangan nutrisi dan kurang perawatan
kekuranan air juga bisa membuatku layu
aku menjadi tidak sanggup melawan kencangnya angin karena tubuhku yang lemas
aku
adalah pohon
yang ingin tumbuh subur dan besar
hijau
berbuah lebat sehingga menjadi peristirahatan burung-burung
berkicau dan mereka bahagia


perahu layar

aku juga sebuah perahu yang tengah berlayar dilautan luas
aku bisa menyaksikan matahari terbit
indah
tapi tak urung aku berhadapan dengan badai
ombak yang besar
dan karang yang menjulang
yang kadang kadang tidak terlihat oleh mata
hampir saja aku menabraknya
lalu orang orang menjerit dan aku tersadar
aku sedang melamun



burung

aku burung kecil
yang selau ingin terbang dengan keterbatasan sayapku
dengan keterbatasan daya jangkau ku
mencari satu dua biji bijian
sebagi bekal kubawa pulang nanti
kadang aku harus berebut dengan elang besar atau rajawali yang buas
lalu aku mengepakkan sayapku kembali
mencari dahan kecil dengan buah yang lebat
aku beristirahat sebentar
lalu terbang lagi
mencari peristirahatan hati


tanah

sejujurnya
aku ingin menjadi tanah saja
tanah becek atau tanah kering sama saja
biar yang lain memangdang ku hina
asalkan aku terus humus
agar pohon pohon tumbuh subur diatasku
manusia manusia bisa menanam padi dan sayur
sungai sungai mengalir diatasku
sungguh,
aku tidak ingin menjadi matahari yang menatapnya saja harus dari kejauhan
biarlah aku seprti air yang sejuk mengalir
dan seperti tanah yang selalu dipijak
tetapi semua membutuhkanku

"KIAT MENGENAL CALON TANPA PACARAN "

By On Juni 17, 2006
bagi anda penganut no pacaran before marriage tentunya harus punya jurus jurus sakti untuk mengenali karakter calon pasangan anda/calon istri, tentunya anda tidak mau kan bila niat tulus anda menikah karena ibada justru terbentur dengan realita yang tidak anda inginkan karena pasangan yang anda dapatkan justru jauh dari apa yang anda harapkan, anda juga tentunya tidak mau membeli kucing dalam karung, maunya putih malah dapat belang, nah, untuk itu anda bisa mempelajari jurus jurus jitu dibawah ini, agar anda bisa mengenali pasangan tanpa harus berpacaran.
Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :
1. Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama. Dalam sebuah syair diungkapkan "Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalahkepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orangtersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi". Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpasepengatahuannya.
2. Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholatistikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yangpaling tahu mana yang terbaik untuk kita. Rasulullahsaw bersabda : "Kalau anda menginginkan sesuatu makalakukan salat dua rakaat, rakaat awal setelah membacaal-Fatihah membaca al-Kafirun dan pada rakaat keduasurat al-ikhlas lalu berdoa...... ( doa istiharah).
3. Setelah memiliki kecendrungan yang kuat untukmempersunting maka langkah selanjutnya adalahperkenalan (ta'aruf) antar keduanya secara lebih dekatyaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-normaIslam.
4. Setelah itu, maka diteruskan dengan prosesberikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal inikedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan.Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran.
5. Kenapa untuk mengenali sifat-sifat calon tidak melalui pacaran terlebih dahulu ? Karena Pernikahan yang diawali dengan pacaran dapat diibaratkan membeli buku yang dijadikan contoh(sample) dari jenis buku yang mahal. Umumnya buku yang seperti ini di toko-tokobuku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan yang bertuliskan Membuka berarti membeli'sehingga bagi para pembeli untuk mengenali buku tersebut secaraterperinci ada dua pilihan, yaitu pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya, akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yangmembacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang beliannya kecuali sangat memaksa. Membeli buku seperti inilah ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran. Pilihan kedua,karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya kepada petugas melalui katalog komputer atau terlebih dahulu bertanyakepada orang yang telah memiliki dan membacanya sehingga dia memperoleh buku yang benar-benar barubelum pernah disentuh oleh siapapun termasuk pembelinya. Inilah ibarat orang yang menikah dengantidak proses pacaran tadi. Pada interval menanti hingga akad nikah nanti memang sering terjadi rindu kangen dan seterusnya. Rindu yangseperti ini merupakan kerinduan yang menjadi kesempurnaan sifat manusia. Kerinduan yang tidak mampudi tolak oleh manusia itu sendiri.
Imam Ibnu Qoyyim mengkatagorikan sebagai rindu yang sah-sah saja terjadi pada setiap manusia dan manusia tidak mampu memilikinya dan menolaknya, sepanjangtidak dibawa oleh kerinduan tersebut kepada ma`siatkepada Allah bahkan kita bersabar untuk menahannyamaka hal itu tidak apa-apa dan itulah rindu yangkarena Allah.
Tetapi jika rindu tersebut justru yang membawa kita kejalan hawa nafsu itulah rindu karena hawa nafsu bukan karena Allah. Wallahu `alam

Jumat, 16 Juni 2006

"Kepanjangan dari BRR"

By On Juni 16, 2006
1. Badan Rapat-Rapat
2. Baru Rencana-Rencana
3. Badan Raon-Raon
4. Baru Rapat-Rapat
5. Botak Rame-Rame
6. Bagi Rayeuk-Rayeuk
7. Bek Riyouh-Riyouh
8. Boh Rom-Rom
9. Berkabung Ramai Ramai
10. Bikin Rapat Rapat
11. Beu Reujang-Reujang
12. Beu Rapi Rencana
13. Badan Ralat-Ralat
14. Badan Rilis-Rilis
15. Berkunjung Rame-Rame
16. Bagi Rezeki Rakyat
17. Bangun Retak Rusak
18. Bangun Retak-Retak
19. Bangun Rame-Rame
20. Bangun Rumah Rusak
21. Buet Rame-Rame
22. Bah Runyoh-Runyoh
23. Buhuek Rame-Rame
24. Beu Rayeuk Rumeh
25. Bagah Reuloh Rumoh
26. Bah Reuloh Rumoh
27. Bungeh Rakyat Rayeukthat
28. Bala Rijang Rhoet
29. Biarkan Rakyat Reuhiek
30. Bersama Rampok Rakyat
31. Bohong Rame-Rame
32. Benci Ribut-Ribut
33. Berpakaian Rapi-Rapi
34. Bah Rayeuk Raseuki
35. Buncit Rame-Rame
36. Bangun Rumah-Rumahan
37. Beu Rayeuk Reklame
38. Bertambah Resah Rakyat
39. Bertambah Rakus Rupanya
40. Bikin Raker Refreshing
41. Bikin Rencana Rekreatif
42. Bikin Rapat Rileks
43. Bek Ramah-Ramah
44. Bikin Rakyat Resah
45. Baru Retak-Retak
46. Bangun Rumoh Reuloh
47. Boat Rusak-Rusak
48. Bangun Rumah-Rumahan

"Bola Mania"

By On Juni 16, 2006

"coz i luv u"

By On Juni 16, 2006
thanks for you to remind me to GOD...
thannks for taking care of me...
hope you will receive samething from GOD
amien....
how about you....
mizz you so much...

(ihan: hidup ini akan semakin indah bila kita saling mengingatkan)

"Tidak Secerah Mentari"

By On Juni 16, 2006
semburat cahaya yang indah, biasnya masuk dan menggelitikku, membuatku silau dan sedikit kepanasan. indah! tapi tetap saja tidak elok untuk dipandang, siapa yang berani menantang sang surya? kecuali dari kejauhan saja. wow..meredup sebentar lalu menukik tajam dengan semburan cahaya yang lebih garang. meredup lagi...bersinar lagi...ada apa gerangan???
tentu tidak ada kaitannya dengan matahari bila setelah ini aku menceritakan tentang seseorang, meskipun begitu setidaknya matahari telah menjadi pengantar untukku bercerita pagi ini, dengan perut yan keriuk-keriuk...dua bungkus beng beng ternyata tidak cukup untuk mengganjal perut yang terlanjur mengikuti aliran Sundari Soekotjo.
aku teringat akan seseorang, yang saat ini entah ada dimana, sejak kepulanganku seminggu yang lalu dia selalu ada di memori otakku, sudah dua kali aku berusaha menemuinya tapi gagal, dia berjanji menjemputku, tapi setelah ku tunggu seharian dia malah tidak mengabariku. aku mencoba menelepon atau meng sms nya...tapi balasannya tidak cukup memuaskan. aku benar-benar merinduinya dan entah dia merindukanku entah tidak aku tidak peduli. yang ku tahu sejak dulu hubungan kami memang tidak begitu harmonis, tepatnya sejak kami sama sama memasuki dunia kuliah, jarak diantara kami semakin terbentang, padahal sejak sd hingga sltp kami selalu bersama, ketika smu pelan-pelan pintu jarak itu terkuak. dia sering buat sensasi. tapi mungkin ini adalah yang terparah yang pernah dilakukannya. biasanya aku tidak pernah peduli dengan sepak terjangnya, aku selalu berusaha menutup telinga dengan apa yang dilakukannya. tapi untuk kasus ini mungkin aku harus tahu.
ke kagetanku bertambah saat orang orang menanyainya padaku, aku bingung. aku harus jawab apa selain geleng kepala dan bilang i don't know....tapi mereka ngga percaya karena aku kan sama sama di banda aceh. "ya, tapi aku tidak pernah tahu apa yang dikerjakannya, aku memang sering mengunjungi kostannya yang dulu, tapi kami tidak pernah bercerita soal pribadi, dan dia juga tidak pernah mengunjungiku" itulah jawabanku, yg pastinya membuat si penanya tidak puas. emang gue pikirin, yang ku pikirikan mengapa semua ini terjadi?
mungkin janin yang ada dalam kandungannya kini telah besar, hanya dia dan (suaminya) yang tahu...bahkan orang tuanya pun tidak tahu kalau diam diam dia sudah menikah, entah sejak kapan. ingin sekali aku memeluknya dan menasehatinya, kenapa ia melakukan semua ini, dia msih punya orang tua tetapi mengapa melakukan kebodohan yang seperti ini? tidakkah ia berfikir orang tuanya akan malu? betapa aku bisa merasakan luka yang teramat dalam dari mata kedua orang tuanya saat bercerita kepadaku, perempuan itu teramat sangat sakit hati, lalu, kalau sudah begitu masih beranikah kita berharap doa tulus dari orang tua kita? karena yang kutahu keberkahan kita ada pada doa kudus orang tua. tidak cukup itu saja, orang orang banyak yg tidak tahu kalau dia sudah menikah, dan mereka menduga dia MBA. ini lebih membuat miris lagi. aku ingin sekali menjenguknya, atau juga menemaninya melahirkan nanti....apakah itu bisa? mengingat kemarin pagi ayahku sudah mengultimatum agar aku jangan menemuinya lagi, aku bilang iya saja pagi itu. tapi dalam hatiku tetap ingin menemuinya, karena pesan dari orang tuanya belum tersampaikan. duh Allah....jangan sampai ini terjadi padaku, karena aku ingin orang tuaku selalu ada di sampingku disaat aku membutuhkan mereka, aku belum siap untuk hidup hanya berdua saja dengan orang yang kucintai di dunia ini. dan aku tidak siap dan tidak kuat untuk menanggung seperti ini. aku terlalu pengecut untuk menjadi pengagung cinta.
berdoa saja agar kedepan semuanya menjadi lebih baik, menjadi lebih berwarna...dan aku sangat ingin jarak diantara kami hancur. aku ingin menjadi seseorang yang diajaknya untuk bercerita saat ia susah maupun bahagia, tapi nyatanya...sampai hari ini itu tidak pernah ada. pun begitu dia tetap saudaraku dan aku sangat menyayanginya.

Kamis, 15 Juni 2006

"Aku mendengar Ketukan Pintu Dari Kakak Ku (balasan)

By On Juni 15, 2006
kakak besarku...
senang sekali hati ku membaca surat dari mu
rasanya sejuk sekali hati ini
dan akupun kembali mengantuk karena ingin menunggumu memperbaiki selimutku yang berantakan
tapi aku harus bangun
bersih bersih
kemudian menungguimu pulang, bukan begitu kakak besar?
tadi aku mendengar ketukan pintu dari mu, tapi aku sengaja tidak bangun dan pura pura tidur, tapi setelah kau pergi akupun bergegas bangun, aku tidak ingin merepotkanmu di pagi ini....
apalagi kau bilang dikantormu sekarang ini sedang sibuk dan kau sering pulang menjelang isya
tentunya kau perlu adik kecilmu ini untuk menuangkan ceritamu
tentang aktivitasmu seharian ini
tapi kita tidak bisa seprti dulu
aku tidak bisa menungguimu berpuisi untukku karena sesuatu telah terjadi di kantormu
aku juga tidak bisa berteriak keras keras karena kau lama membelas pesan pesan ku
sekarang yang bisa kulakukan adalah
menulis
menulis
dan menulis
lalu kau membalasnya untukku
di sela sela lelahmu
kau masih sempatkan untuk mencoret coret email mu lalu mengirimkannya untukku
bukankah itu bukti kalau kau begitu menyayangi adik kecilmu? dan aku tidak perlu meragui mu lagi kan?
maaf juga malam malam telah membuatmu tak langsung tidur, karena aku kau harus menunda waktumu untuk segera beristirahat
tubuhmu sudah sangat lelah sekali, aku tahu itu, tapi kakak tidak mengatakannya padaku...
oh ya kakak....jangan malu padaku, ge er itu biasa kan? aku sebenarnya ingin sekali melihat wajah merahmu saat kau cemburu seperti saat itu...kau masih ingat kakak besarku? oh ya... kakak ku...jangan lagi bercerita soal perjalanan cintaku...karena sungguh berkelok dan berliku...aku tidak menyesal telah menceritakannya padaku, karena aku tahu diam-diam kau pun masih menyayangi adik kecilmu yang dulu kan? bunga di tepi jalan, kau rawat lalu di petik orang, iya kan kakak sayang? bunga inj....a itu....iya kan? ah, kau tak perlu malu mengatakannya padaku....bukankah aku adik kecilmu yang selalu akan menghiburmu? betapa aku sangat rindu ingin berteriak di telinga mu dan bilang begini: kakak besar...adik kecilmu jatuh cinta lagi...hehe....

"Ketukan Pintu Kakak Ku...(dari Kak Nijar)"

By On Juni 15, 2006
Maaf, pagi-pagi sekali aku sudah mengetuk pintu rumahmu. Kulakukan karena sudah tidak sabar lagi ingin menyapamu.Mungkin kamu masih tidur, tak apa, aku akan meluruskan bantalmu yang miring dan merapikan kembali selimutmu yang berantakan. Lalu, silahkan melanjutkan tidurmu dengan suara nafasmu yang lembut. Aku ingin kamu tahu bahwa sedikitpun aku tidak pernah berkeinginan meninggalkanmu atau memendam rasa marah padamu tidak pernah sama sekali, itu saja. Selanjutnya aku akan segera mulai dengan kesibukanku.Hari-hari terakhir ini ada perubahan besar mendasar di tempatku bekerja, aku juga harus terpaksa ikut bersibuk-sibuk membantu para pembesar-pembesar itu membahas permasalahan keuangan negeri ini. Sekarang tidak jarang aku pulang isya. Ingin sekali rasanya berbincang-bincang denganmu lagi tapi tetap saja tidak bisa karena sepertinya ada masalah di pusinteknya. Sebagai gambaran, ditempatku ini ada ribuan komputer yang semuanya connect ke dunia internet melalui tiga line. kita bebas memilih satu dari ketiganya. Setiap salah satunya mengalami masalah, maka otomatis user akan beralih ke salah satu dari dua yang tersisa. bila pilihan menjadi lebih banyak ke salah satu line itu, maka potensi untuk menjadi masalah di line itu akan menjadi besar. Mereka akan mengatasinya dengan memblokir fasilitas-fasilitas yang menurut mereka tidak perlu, seperti mesenger, friendster, dan pop web. Apa daya, kakak besarmu ini hanya dapat bersungut-sungut.Kamu tetaplah menulis dan mengirimkan pesan-pesanmu padaku. Aku akan senantiasa membacanya dan mengaguminya.Pesanku: Kadang- kadang, kita merasakan rindu yang amat sangat disaat orang yang kita inginkan kehadirannya entah berada dimana. Tanpa kita sadari, kita membutuhkan seseorang untuk kita curhati, kita ajak berbagi kebahagiaan atau kesedihan. Untuk kita yang mempunyai hasrat untuk memarahi, kita membutuhkan seseorang untuk kita omeli, kita marahi, kita sakiti hatinya atau untuk dimusnahkan, ini bila kita sudah jadi psikopat. Tuhan dengan maha kreatifnya membuatnya seperti itu. Perasaan butuh kepada orang lain ini akan berwujud rindu, cinta, kehilangan, marah, benci, dendam dan macam-macamlah. Akupun begitu. Suatu saat aku merasakan rindu yang amat sangat padamu. Ingin rasanya merasakan kembali saat-saat kita berebut waktu, saling mendahului berbagi cerita atau salah satu dari kita diam menyimak tuturan syahdu dari salah satu lainnya. Kadang-kadang aku ingin pergi menjauh darimu sejauh-jauhnya karena perasaan cemburu yang amat sangat tatkala tahu dan menyadari kalau aku hanya bintang kecil yang kadang bercahaya kadang tidak, dilangit milikmu yang amat luas, yang ada bulannya, ada mataharinya, dan ada jutaan bintang lainnya yang lebih besar dan indah. Kadang-kadang aku ingin menatapmu dari jauh saja dan memperhatikanmu tengah bergulat dengan cintamu yang banyak yang datang silih berganti. Hari ini berbinar-binar karena mendapat cinta yang baru, besok, tiba-tiba bercucuran air mata karena menemukan salam perpisahan yang pilu.Kadang-kadang aku ingin mengelus dada melihat begitu bersemangatnya kamu menyapa sahabat-sahabatmu walau baru saja turun dari kendaraan setelah perjalanan panjang yang melelahkan.Kadang-kadang aku ingin menutup mukaku yang memerah karena malu dengan keterjebakanku didepanmu karena kege-eranku.Ah, itulah hidup. Kamu bilang seperti nano-nano. Perasaan kita memang berwarna-warni dan indah. aku tidak dapat membayangkan seperti apa tuts piano tanpa ada yang hitam, tidak akan ada lagu yang mengalun. Tidak dapat membayangkan bila pelangi hanya berwarna merah, maka lagu Pelangi akan berubah menjadi: Pelangi-pelangi alangkah indahmu..... merah-merah-merah...dilangit yang biru..... Warna-warni itulah yang membuanya indah. Perasaan rindu ada manfaatnya, agar kita bisa merasakan kalau kita sebenarnya pernah dekat. Perasaan kehilangan berguna agar kita tahu kalau kita pernah memiliki dan bisa menjaga apa saja yang masih menjadi milik kita. Perasaan sedih, duka, pilu, membawa manfaatnya masing-masing. Perasaanmu padaku, entah apapun itu, pasti juga ada manfaatnya. Bukankah Makhlaqta haza bathila.... Ingat-ingatlah pesan dari salah satu Kaka besarmu ini!

Rabu, 14 Juni 2006

"Persembahan Adik Kecil"

By On Juni 14, 2006
aku sering dipanggil adik kecil
yang tentunya oleh kakak-kakak ku yang sering ku panggil kakak besar
mereka menyayangiku sama seperti aku menyayangi mereka
tapi aku sering membuat mereka marah
aku sering mengusili mereka
seperti kemarin sore
aku mengatai kakak ku apa yang seharusnya tidak boleh kukatakan
tapi aku jujur
ku katakan saja apa yang ingin kukatakan
sebenarnya tidak boleh begitu
karena kakak kakak ku juga manusia yang punya perasaan
aku sudah minta maaf
ku yakin dia juga sudah memaafkanku


apa menjadi adik kecil harus selalu begini?
inginnya dimanjai terus
disayang terus
padahal kakak besar juga perlu diperhatikan
kakak besar juga ingin diistimewakan
bukan hanya adik kecilnya saja

senangya punya kakak banyak
aku di rindui terus
disayangi
kalau capek tinggal bilang
kak, aku capek
lalu mengalirlah kata-kata penyemangat yang tidak berujung
kalau sedih juga tinggal bilang saja
dan kakak besar tidak pernah lelah menghibur adik kecilnya ini
tapi...kalau kakak besar capek atau sedih
apa yang bisa dilakukan adik kecilnya ini?
aku tidak pintar merayu seperti kakak kakak besar ku

aku juga tidak pantar merangkai kata seindah pujangga dari arab
dan aku juga tidak bisa tuh membuat kakak besarku untuk tidak lagi memarahiku



kakak besarku....
siapa ya nama mereka
soalnya terlalu banyak untuk disebutkan
yang pasti aku senang bisa punya kakak sebanyak itu
mereka lucu-lucu...konyol...unik tapi menyenangkan sekali...


kakak besar ku....
boleh kan kalau aku berharap suatu saat kita ketemu
dan aku selalu berharap bisa memberikan kalian salam takzim tanpa harus berjabat tangan
atau...kalian mau mencicipi masakan ku?
hehe...paling cuma air putih dan sepotong pisang goreng
tidak ada yang lebih
aku selalu berdoa dan meminta pada illahi
agar kakak kakak besarku selalu bahagia
sisa usianya diberikan keberkahan
diselimuti salju kebahagiaan nan hijau
mawar-mawar kehidupan yang menebar wangi bak kasturi dari surga
tebar aroma bunga itu sampai ke adik kecil mu ini ya....



kakak kakak besar ku...
aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk kalian
tapi setelah ini disimpan dihati ya...
sstt...adik kecil cuma pengen bilang....i luv u coz 4JJI




"Kue Tart Dari Ihan"

By On Juni 14, 2006
hari ini....
usiamu bertambah lagi,
bahagia kan? karena ada yang mengucapkan selamat ulang tahun, selamat hari jadi atau mungkin juga selamat ilang tahun...
bahagia juga karena mungkin orang-orang terdekatmu ada yang memberikan hadiah untukmu, coklat, kembang, parfume atau juga buku....sedang aku....maafkan, aku tidak bisa memberikan apa apa untukmu...
kau kan tahu...aku jauh
sangat jauh malah
bayangkan saja, laut yang menjadi jaraknya
pun begitu, selalu terasa dekat jika aku mendengar suaramu
seolah kita sedang menyusuri jalan bersama sambil bercengkerama dan menikmati kilau senja yang menjingga



duh...aku jadi kemana mana ngomongnya
padahal tadi sedang bercerita tentang ulang tahun mu ya honey...
aku sedih karena cuma bisa meneleponmu semalam
itupun harus terputus karena hand phone mu drop total
tapi tadi pagi aku sudah mengirimkan ucapan super singkat beserta dengan kue tart yang ada lilin diatasnya, disekelilingnya di hiasi dengan almond dan tabur coklat
udah di cobain belum?
jangan jangan belum dibaca ya smsnya??


untuk yang sedang berulang tahun...
kalau saja aku dekat mungkin aku akan membuatkanmu sup atau puding
tapi karena aku jauh
aku cuma bisa berdoa
kupinta pada illahi
agar ia memeberi keberkahan pada sisa usiamu
menyegarkan dentingan desah nafasmu
memberikan kemudahan pada setiap jejak langkah kakimu
dan juga membuatmu semakin berarti
pelangi pelangi cinta
kuahrap ia selalu bersamamu
mewarnai hari hari mu, menoreh tabur tawa sumringah pada setiap garis senyummu
setidaknya ketika pesan cinta ini sampai kepadamu....


ihan

Selasa, 13 Juni 2006

By On Juni 13, 2006
semakin lama semakin tidak kupahami
apa yang salah dengan diri ini

Minggu, 11 Juni 2006

{Balasan Muhibah Lafadz Cinta Dua Jiwa}

By On Juni 11, 2006
dari bibir serambi selalu saja ada getar getar selaksa jiwa yang memburai, mengalir dan bercecer di relung hati. harapanku agar ia sampai kemuaranya ke negeri nun jauh di seberang pulau sana. memeluknya, membelainya, memberikannya sandaran atau sekedar seulas senyum yang tidak begitu sempurna.

saat kaki ini gontai melangkah
pikiran melayang ke negeri lain disana
apalagi ketika aku melihat pelangi terbentang di ujung langin
semakin teringat akan perkenalan kami yang telah lalu
sebenarnya ingin sekali untuk bertemu
melepas rindu dan menceritakan banyak hal
tentang nyanyian dua jiwa padang rembulan
terbayang semangat cintanya disetiap malam-malam panjang
lalu aku meneruskan pesan cinta itu kepada setiap orang
karena aku butuh cinta dari cinta-cinta yang suci
cinta cinta yang dihiasi dengan lilin lilin berwarna merah yang menerangi jalan-jalan kehidupan
betapa aku ingin mengajaknya bersama
menelusuri lorong kecil di depan rumahku
atau sekedar mencicipi sayur asem buatanku



sebenarnya
tidak ada yang istimewa dengan persahabatan kami
hanya ada sedikit perbedaan saja
aku sering diberinya donat bertaburkan kacang dan keju bernama petuah petuah cinta
dihidangkan dengan segelas air penyejuk jiwa dipenghujung malam
agar aku kuat menjalani keseharianku di dunia ini
bersama cinta lukisan dua jiwa padang rembulan

"Matahari ku"

By On Juni 11, 2006
kupandang hidup ini dari sisi pandangku saja, aku melihanya gelap, pengap, panas, sempit dan kadang menakutkan. membuatku tidak bebas bergerak, tidak leluasa, kemana-mana selalu dibayangi perasaan gelisah dan takut. kucari sebab dari itu semua, kusibak tirai jendela hatiku, ku buka pintu dinding jiwaku. tahulah kini, mengapa aku begitu gelisah, mengapa aku sering tak tenang, meski aku tak pernah menceritakannya kepada siapun, sudah lama aku menutup jendela hati, sehingga matahari tidak bisa masuk untuk menerangi lorong-lorong jiwaku yang gelap, angin-angin tidak bisa memberi kesegaran di rongga relung jiwa, karena aku...menutup seluruh celahnya. mungkin juga secara tidak sengaja aku menguncinya.
sekarang tahulah kini aku, mengapa hati ini tidak lagi mudah tersentuh melihat pegnemis-pengemis di pinggir jalan, melihat saudara-saudaraku yang tidak punya rumah karena berbagai bencana, tidak punya makanan, pakaian dan juga uang. tahulah kini mengapa aku begitu mudah menunda-nunda untuk berbuat kebaikan, entah itu untuk orang lain entah untuk diriku sendiri.
ku susuri lorong perjalanan waktu hidupku, yang telah membawaku pada usia yang tak lagi muda. banyak yang hilang, banyak yang kudapatkan. aku pernah mengenal matahari, indah sekali. mewarnai ranting-ranting hari ku, menyinari kelopak-kelopak mayang kehidupanku, mensejajarkanku pada cinta yang tidak biasa.aku dikenalkannya pada es krim lembut bernama kesederhanaan, membuatku tak peduli dengan jaman yang semakin hari semakin tidak karuan. aku adalah aku...begitu aku selalu diajarkan oleh nya. ada lagi vanilla yang mengalir ke rongga-rongga jiwa disaat sepertiga malam, tenang dan menenangkan. membuatku terus ingin bersimpuh di sajadah lusuhku.
sekarang, mungkin sedang mendung, meredup. matahariku sering timbul tenggelam, eskrim itupun sudah meleleh, dan taburan kacang diatas sajadah ku sudah berkurang. aku....sedang menunggu matahari lain....

Jumat, 09 Juni 2006

"Untuk Kakak Ku..."

By On Juni 09, 2006
kepada yang tersayang
kakak ku
wherever you are...
kakak...
aku tahu mungkin aku belum bisa menjadi adik kecil yang baik bagimu, yang bisa melakukan sesuatu yang membuatmu senang dan bahagia. atau sesekali menggurat senyum dibibir mu, aku belum bisa melakukan itu semua. bahkan hari ini aku telah membuatmu kecewa dan sedih, teramat kecewa hingga kakak mengatakan kata-kata terakhir untukku.
kakak...
aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, marah, sedih dan kecewa, karena aku juga pernah merasakan hal yang sama, tapi waktu itu kau menguatkanku, kau menyuruhku untuk mengabaikan semua itu, padahal yang kau rasa sekarang tidaklah sama seperti apa yang aku rasakan,
kakak...
aku juga minta maaf kalau aku telah membuatmu begitu marah, atau mungkin kakak tidak ingin mengenalku lagi setelah ini, tapi bukankah kakak yang bilang, memutuskan silaturrahmi itu tidak baik? aku sayang kakak, dan tidak mau kehilangan kakak, aku masih selalu menunggu kekonyolanmu, bayolanmu dan leluconmu. itu yang kuingin dengar saat ini, disaat hatiku galau seprti waktu sebulan lalu.
kakak...
adik kecilmu ini, bukan sosok yang sempurna seperti yang kau bayangkan, aku sedih sekali kenapa kakak mengatakan kata-kata terahir untuk ku. aku tidak punya kata-kata bagus untuk bisa membuatmu kembali tersenyum dan tidak marah padaku...karena aku, bukanlah adik kecil yang selalu bisa memahamimu. aku, dengan segala keterbatasanku sudah mencoba melakukan yang terbaik.
kakak...
aku tahu kakak tidak akan pernah membaca surat ini, tapi aku ingin kakak tahu, aku sayang kakak seperti aku menyayangi saudaraku yang lain, aku mencintaimu karena Allah...karena itu maafkanlah adik kecilmu ini yang telah melakukan kesalahan, sama seperti ketika aku memaafkan seseorang yang melakukan hal yang sama padaku.
adik kecilmu

"Kakak Besar dan Merpati Kecil (oleh: Kak Nijar)

By On Juni 09, 2006
Adalah seseorang yang dipanggil dengan panggilan ‘Kakak Besar’. Dipanggil ‘Kakak’ karena memang sang kakak ini lebih tua dibandingkan orang-orang sekitarnya. Dan dipanggil ‘Besar’ karena memang badannya relatif lebih besar bila dibandingkan dengan ukuran biasa manusia sesusianya. Penyebutannya denan ‘Kakak Besar’ semata-mata karena itu. Berbeda memang dengan penyebutan-penyebutan terhadap tokoh-tokoh, seperti ‘Bung’ yang memberi kesan penuh semangat, dengan lengan baju yang disingsingkan dan tinju yang mengepal, yang setiap saat bisa memberikan teriakan-teriakan komando. Sebutan ‘Bung’ mempunyai kesan sangat operasional. Mempunyai kesan yang senantiasa keep on moving. Bahkan lebih dari sekedar itu, sebutan ‘Bung’ mempunyai kesan yang berapi-api misalnya ‘Bung Tomo’, ‘Bung Karno’ atau ‘Bung Harmoko”. Sebutan ‘Pak’ adalah untuk tokoh yang lebih dituakan. Kesan yang tampil adalah wise dan cool berpengatahuan luas dan senantiasa dipikir masak-masak sebelum berbicara dan bertindak. ‘Pak’ menggambarkan kesan sederhana namun tetap tegas dan disegani serta akan senantiasa memberikan ilmu dan bijaknya setiap saat baik diminta maupun tidak, misalnya ‘Pak Harto’, ‘Pak Domo’, ‘Pak Lurah’, dan sebagainya. Sebutan ‘Kiai’ memberikan gambaran sosok yang mengenakan jubah putih panjang bersurban memegang tasbeh dan dari mulutnya akan meluncur hadits dan firman bak hujan lebat. Kata-kata yang keluar dari mulutnya senantiasa ada sumbernya, ada kitabnya. Apa lagi sebutan itu diperpanjang dengan ‘Al Ustadz Al Mukarom Kiai Haji......’ maka kesan yang tampil adalah seorang tokoh agamis sejati bahkan lebih dari itu, yang muncul adalah kesan Arab. Misalnya ‘Al Ustadz Al Mukarrom Kiai Haji Muhammad Munzir Al Faridzi’ Berbeda tentunya dengan ‘Prof, Dr, H Jain Hans., MA.’ yang kesannya tetap islami tetapi tidak arabi. Lalu ada banyak sebutan sebutan lainnya misalnya. ‘Aa’ yang sebenarnya panggilan lokal yang telah ada sejak adanya masyarakat sunda dengan bahasa sundanya, namun menjadi naik peringkat menjadi sebutan yang bertaraf nasional seiring dengan makin meningkatnya popularitas Aa Gym yang melekatkan sebutan ‘Aa’ ini dengan panggilan beliau, Gym. Sebenarnya, tidak layak orang yang bukan sunda dipanggil dengan sebutan ‘Aa’ sama tidak layaknya dengan orang Jawa dipanggil ‘Uda’, atau orang Batak dipanggil ‘Mas’. Bisa menjadi agak layak bila digunakan dikalangan terbatas misalnya istri yang Sunda tetap menyebut “Aa’ untuk suaminya yang bukan Sunda, karena memang ada niatan menyundakan sang suami. Tapi itu terbatas untuk dua orang itu saja, tidak untuk diproklamasikan ke lingkungan luar yang lebih luas. Jadi, janganlah karena ada satu ‘Aa’ yang sudah ngetop, yang lain ikut menyebut diri dengan ‘Aa’ sementara naman adalah Gatot, ada Brajamusti-nya lagi! Penyebutan ‘Aa’ kesannya lebih muda dan akrab. Ini bisa dirasakan oleh orang Sunda atau orang yang memahami rasanya bahasa sunda. Sebutan ‘Tuanku’ adalah untuk tokoh yang sangat tinggi derajatnya, sebutan ‘Yang Maha......’ hanya untuk Tuhan, Allah yang Kuasa.
Benak kita mempunyai gudang karakter-karakter tersebut dan manakala sebutan-sebutan itu diucapkan, secara otomatis otak mencocokkannya dengan karakter-karakter yang ada di gudang benak kita itu. Itulah yang terjadi tanpa kita sadari, alias otomatis. Tapi, sekali lagi, sebutan ‘Kakak Besar’ ini semata-mata karena ia sedikit lebih tua dari orang-orang disekitarnya dan badannya memang relatif besar. Jadi penyebutannya hanya karena harfiah!
Sang Kakak Besar ini tinggal disebuah gubuk disebuah dataran tinggi yang berhawa sejuk. Dia bekerja di sebuah perkebunan teh yang cukup besar yang memproduksi teh untuk tujuan ekspor, sebagian besarnya. Sebagian kecil dijual dipasar lokal dengan harga mahal. Dia adalah Sinder, jabatan setingkat diatas Mandor. Gajinya cukup untuk hidup sendiri.
Suatu sore hari, datanglah seekor merpati kecil di teras rumahnya lalu keduanya saling menatap.
“Apa kabar?” Merpati Kecil bertanya.
Sang Kakak Besar terkejut. Kamu bisa bicara?”
“Bukan bisa bicara, tetapi kamu tahu yang aku ucapkan.”
“Maksudmu?”
“Aku tidak bisa berbicara sepertimu. Aku tetap saja berciap-ciap layaknya burung, tetapi kamu bisa mengerti.”
“Ooh.”
“Dan kamu tetap berbicara selayaknya manusia, tetapi aku bisa mengerti.”
“Kok bisa ya?”
“Yang Maha Kuasa membuatnya seperti itu, dan terjadilah.”
“Iya ya.”
“Bagaimana kabarmu?” Merpati kecil kembali mengulangi sapaannya.
“Baik, kamu sendiri?”
“Baik juga. Ada banyak biji-bijian yang ketemukan hari ini dan aku merasa kenyang sekarang. Mukamu sedih, ada apa?”
“kamu mau tahu aja, tapi baiklah, aku sedih karena seseorang mengambil bungaku.”
“Bunga di dalam pot kembangmu?
“Bukan, bunga di pinggir jalan, yang setiap hari aku lewati. Sebenarnya bunga itu dulu kurus dan kecil, dan belum ada kembangnya lagi.” Kakak Besar mulai bercerita tanpa diminta oleh Merpati Kecil. “Lalu setiap berangkat kerja aku selalu mampir untuk memperhatikannya, mencabuti rumput-rumput disekitarnya dan sekali-sekali memberinya pupuk atau menyiraminya kalau sudah beberapa hari tidak turun hujan. Setelah beberapa lama, muncullah bunganya, hanya setangkai tetapi cantik sekali.”
“Bunga apaan sih?”
“Mawar hutan.”
“Bukan bunga yang cantik, bunga itu kembangnya sedikit, pohonnya tinggi daunnya keras dan durinya banyak. Mengapa kamu tidak buru-buru memetiknya?”
“Bunganya cantik, walaupun pohonnya tidak. Maksudmu buru-buru?”
“Buru-buru?”
“Iya, cepat-cepat.”
“Tidak bisa! Untuk bunga yang secantik itu, aku harus mempersiapkan dulu potnya atau kalau aku hanya mau mengambil bunganya aku harus membeli dulu vas-nya dan menunggu hari yang baik baru memetiknya.”
“Keburu diambil orang?”
“Iya.” Kakak besar itu kelihatan sedih.
“Bunga itu milikmu?”
“Bbb bukan sih.....” Kakak besar tergagap karena sadar, karena sebenarnyamemang bukan iya yang memiliki bunga itu.
“Tapi aku merasa telah memilikinya!”
“Merasa memiliki bukan berarti memiliki.”
“Iya.” Kakak berkata dengan wajah yang sedih.
Merpati kecil segera terbang berlalu.
“Ei, kamu mau kemana.”
“Ada seseekor maksudku seseorang yang perlu ku selamatkan.” Merpati kecil kembali terbang menjauh.
Tak lama ia kembali, “Ini kubawakan biji kembang coba saja kamu tanam.”
“Bagus?”
“Aku tidak tahu, tanam saja.”
Kakak besar segera mengambil arit dan segera menanam biji tersebut di halaman rumahnya.
“Jangan tanam di sana, tanam saja di sudut halaman itu di dekat pokok bambu yang sudah mati itu.”
“Kenapa?”
“Kalau nanti bunganya tidak bagus, tidak merusak pemandangan rumahmu, sebaliknya, kalau memang bagus, masih dipindahkan ke halaman.”
“Oh begitu.” Kakak Besar lalu menanam benih kembang itu dekat pokok bambu.
Beberapa hari berlalu, benih yang ditanam mulai tumbuh dan hati Kakak Besar mulai senang. Beberapa kali Merpati Kecil datang dan Kakak Besar menanyakan perihal benih bunga yang ditanamnya, bunga apa, apa warnanya, wangi apa tidak dan sebagainya yang dijawab oleh Merpati Kecil dengan tidak tahu, lihat saja nanti atau aku hanya mengambil benihnya yang kutemukan secara tidak sengaja saat aku mencari makan. Hingga suatu saat, Merpati Kecil datang disaat Kakak Besar sedang bersiap-siap membabat habis pohon bunga yang sedang rimbun itu.
“Eit, tunggu dulu, kenapa dengan bunga itu hingga kau ingin membuangnya?”
“Bunga yang jelek, pohonnya merambat kemana-mana, tidak wangi, warnanya ungu tanpa kelopak.....”
“Iya, memang seperti itu, bunganya mirip rambut yang terjurai berwarna ungu menghadap kebawah mirip sekali dengan payung keranda orang mati.”
“Justru itu, lebih baik dimusnahkan saja sebelum merambat lebih luas.”
“Bersabarlah sedikit, bila nanti pohon bunga itu sudah berbuah dan kamu tetap tidak suka, kamu bisa membuangnya.”
Kakak besar mengurungkan niatnya walau dengan bersungut-sungut.
Beberapa hari berlalu, dari rumah Kak Besar mengalun dentingan piano yang sangat merdu, lagunya ‘Indonesia tanah Air Beta’ sebuah lagu sederhana tentang cinta kepada tanah air. Tapi, karena dimain oleh jari-jemari Kakak Besar yang sangat mahir, suaranya menjadi sedemikian merdu yang mampu menggugah perasaan siapa saja yang mendengarnya, bahkan juga terhadap seseorang yang tidak mencintai musik sekalipun.
Merpati Kecil lantas mampir. “Permainan pianomu menyentuh sekali, kamu sedang berbahagia?”
“Iya, Allah sudah mengabulkan do’aku.”
“Kamu minta apa?”
“Mobil.”
“Mana mobilmu, aku tidak melihatnya.”
“Semalam aku baru saja membeli sepeda.”
“Kamu merasa Allah sudah mengabulkannya dengan memberimu sepeda itu?”
“Iya sebenarnya yang aku perlukan adalah alat transportasi ke tempatku bekerja. Lalu aku memohon mobil kepadaNya yang sebenarnya juga untuk aku pamerkan kepada teman-temanku di kantor, kepada tetngga-tetanggku, untuk suatu saat bisa aku gunakan membawa barang-barang berharga dari rumahku ini ke kantorku kalau ada perayaan-perayaan. Aku tidak tahu juga kenapa disaat melewati toko sepeda aku begitu tertariknya dengan sepeda itu sehinga aku membelinya. Kamu pernah berdoa’minta sepeda?”
“Tidak, untuk menempuh jarak yang kamu sebutkan itu, aku cukup terbang saja.”
“Oh iya ya. Sekarang aku menyadari bahwa sebenarnya sepeda itulah yang aku butuhkan. Jarak antara rumah ini dengan tempatku bekerja hanya beberapa kilometer saja yang ideal sekali bila ditempuh dengan sepeda. Sementara tempat maksiat terdekat dengan tempat ini adalah seratus kilometer yang tidak mungkin aku tempuh dengan bersepeda, hanya dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor. Aku menyadari sekali sekarang kalau Allah telah memenuhi kebutuhanku, sekaligus menjagaku dari dosa.”
“Ooh. Bagaimana dengan bungamu dulu?”
“Aku tidak tahu, kita lihat saja sekarang.”
Meraka lalu pergi ke pokok bambu disudut halaman yang telah tertutup habis oleh rerimbunan pohon bunga yang melilit-lilitnya seperti pohon sirih. Pohon itu sekarang tidak saja berbunga makin banyak, tetapi sudah mulai berbuah seperti timun berwarna hijau dan ada juga yang kuning.
“Coba kamu petik yang kuning.”
Kakak Besar lantas memetik buah yang berwarna kuning, membelahnya, melihat isinya sebentar, “Buah apa ini?”
“Coba saja cicipi?”
Kakak Besar lalu mencicipi isinnya, “Mm, manis sekali dan segar.”
“Itu buah Arbis. Pohonnya jelek, bunganya jelek tetapi buahnya manis. Isinya mirip dengan isi markisa, tetapi airnya lebih banyak. Kulit buahnya empuk dan juga bisa dimakan seperti blewah atau timun suri.”
Kakak Besar melangkah mendekati pohon arbis itu dengan parangnya.
“Kamu akan tetap memotong pohonnya?”
“Tidak, aku akan mengambil buahnya yang sudah masak ini agar bisa menanam bijinya di beberapa tempat lagi.”
“Ooh. Sekarang kamu bisa menanam lagi, memberikan kepada seseorang atau membuangnya, pohon itu sepenuhnya milikmu karena kamu tanam di tanah milikmu dan dengan benih yang kuberikan ikhlas untukmu.”
Diperjalanan pulang menuju rumah Kakak Besar, Merpati Kecil kaget melihat sangkar burung yang tergantung di sudut atap teras, yang tadi belum sempat diperhatikannya.
“Kamu benar-benar manusia yang biadab.”
“Kenapa?”
“Sangkar itu kamu persiapkan untukku kan?”
“Iya.”
“Disaat aku sudah sedemikian akrab denganmu dan telah beberapa kali memberikan pertolongan padamu, ternyata kamu bersiap-siap mengurungku di dalam sangkar itu!”
“Lihatlah sekali lagi sangkar itu dengan lebih teliti.”
“Kok tidak ada pintunya?”
“Selama ini bila kamu datang kesini kamu adalah tamu. Aku ingin kamu merasa rumahku ini sebagai rumahmu juga. Untuk itu aku menyediakan ruang untukmu. Tapi, tidak mungkin kan aku membuatkan kamar didalam rumahku? Untuk itu aku menyediakan sangkar yang didalamnya sudah kusediakan biji-bijian dan minum dan sengaja tidak kupasang pintunya agar kamu dapat setiap saat datang dan pergi. Dengan sangkar yang tak berpintu itu, kamu juga telah menjadi tuan rumah di rumahku ini.”
Merpati Kecil lantas mengepakkan sayapnya, pergi.
“Mengapa pergi, kamu tidak suka?”
“Aku tidak suka dengan sangkar yang polos seperti itu, aku ingin mengambilkan kembang putri malu untuk menghiasinya.”


Jakarta, 05 Juni 2006

Kamis, 01 Juni 2006

"hidup seperti permen nano nano"

By On Juni 01, 2006
hidup ini unik, begitu tadi siang aku mengatakan kepada seseorang. yah...unik karena semua unsur melebur menjadi satu, tidak sah rasanya hidup tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya susah, sedih atau bahagia, juga bukan hidup namanya jika tidak pernah mengalami kesulitan maupun kebahagian, dan itu berbeda kadarnya untuk setiap individu.
seorang pengemis makan mungkin hanya satu hari sekali, itupun kalau ada, tetapi ia sudah merasa bahagia bisa mencicipi bagaimana rasanya nasi,meski tanpa lauk yang berarti. sementara orang yang punya kecukupan rejeki makan dengan lauk ayam masih saja belum bisa membuatnya merasa nikmat, karenanya mereka menambah daftar menu makan mereka denga salad, kerupuk, sayuran atau juga sambal terasi, dan juga buah, segelas susu agar empat sehat lima sempurna bukan hanya selogan semata.
hidup juga harus diselingi dengan airmata sesekali, walaupun itu air mata kebahagiaan. juga tawa canda, meskipun hati saat itu sedang dirundung duka dan berkecamuk. hidup memang seperti permen nano nano...begitu seseorang mengatakan padaku tadi siang, yah...karena disana ada manis, ada asam dan asin.
pahit dan getir kehidupan haruslah dirasakan oleh setiap orang agar ia bisa berempati kepada sesamanya. yah..kenapa saya mengatakan begitu karena semakin tua zaman, semakin banyak pula keanehan-keanehan yang muncul. semakin banyak manusia yang kehilangan empatinya, coba saja lihat di perempatan lampu merah, tangan-tangan dekil tanpa alas kaki menadah menahan malu melalui jendela mobil-mobil mengkilat, sambil bergumam entah apa, kadang tidak begitu jelas, mungkin karena mereka lapar. ada yang memberi sekeping dua keping tapi lebih banyak lagi yang menghadiahi mereka dengan ucapan maaf!!!.
andai saja tangan-tangan dekil itu mampu menyahut tentu mereka akan bilang begini: kami tidak perlu maaf, yang kami perlukan adalah sekeping dua keping logam dari anda, agar kami bisa makan dan melanjutkan kehidupan hari esok. tapi ah...mana mungkin mereka berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kalau tidak mau mendapat umpatan balik.
memang benar kehidupan ini seperti nano-nano, manis asem asin rasanya. disaat yang sama orang merasakan nikmat dan manisnya hidup sementara orang lain hanya merasakan empedu dari kehidupan itu sendiri. disaat yang sama pula orang-orang menderita karena perang bertahun-tahun, kita malah bilang kok negeri orang yang jauh dibela-belain tapi negeri sendiri diabaikan, parahnya lagi ada yang bilang islam kok dijadikan alat untuk berbagai kepentingan. atau ketika suatu daerah dilanda musibah ya kok teganya mengatakan kalau itu adalah azab dari allah karena banyak melakukan kemaksiatan sehingga bukannya didoakan malah diaminin. hidup memang seperti nano-nano...disaat orang-orang kelaparan ada yang sibuk memperkaya diri dengan harta-harta yang tidak halal, disaat ada yang tidur di tenda...eh yang kaya malah sibuk tidur keluar hotel. wallahu'alam.

"Tempat Setahun Lalu"

By On Juni 01, 2006
duh...Allah....
andai saja yang terjauh bukanlah masalalu
dan yang terdekat bukanlah kematian
ingin sekali aku meminta dan memohon pada Mu
kembalikan aku kewaktu setahun lalu
ditempat aku belum mengenal cinta
belum mengenal arti sebuah kasih sayang
yang menjadikan ku begini....
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email