Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 31 Juli 2006

"Permintaan yang ringan"

By On Juli 31, 2006
pernahkah berfikir permintaan yang sangat ringan sekalipun bisa menjadi berat melebihi truk dari baja? dan pernahkah berfikir permintaan yang beratnya serupa dengan truk baja bisa menjadi seringan kapas? semuanya hanya terletak pada waktu, kapan saat meminta yang tepat. jangan harap bisa meminta untuk ditemani bercengkerama kalau dia sedang kepalang sibuk, apalagi meminta memelukmu lama-lama dan menyeka air matamu yang telah begitu lama menunggunya. konon lagi memintanya mendongeng untuk menina bobokan diri ini.
tetapi pernahkah dia melakukan sesuatu yang menurutmu tidak pantas dilakukan? menurutmu berat? misalnya menggantikan jemarimu untuk mengetikkan tugas-tugasmu yang belum selesai? memberikan lengannya ketika kau kelelahan karena pekerjaanmu yang menumpuk, memberikan pijitan-pijitannya tanpa diminta ketika karena dia tahu ada bagian dari tubuhmu yang sakit. atau juga memberikan sedikit perhatian ditengah kesibukannya yang begitu padat. pernahkah mendapat perlakuan seperti itu? atau mungkin hanya sapaan dan sedikit pujian.
sebuah permintaan, mungkin akan terasa ringan ketika semuanya dibalut dengan keihklasan dan kelapangan hati. tetapi...menerima tanpa meminta itu lebih indah, dan memberi tanpa diminta itu sungguhlah luar biasa. sesekali..cobalah mengatakan sayang sebelum disayangi, katakanlah rindu sebelum dirindui, cobalah memberikan air sebelum dia mengatakan haus. mungkin ini juga sebagai refleksi atas kesalahanku yang kemarin, karena itu aku tidak protes ketika kau memilih untuk berdiam diri selama beberapa hari ini. aku sudah cukup puas dengan apa yang kau katakan semalam, dan aku menciumnya berkali-kali. berkali-kali sampai aku membawanya dalam tidur. dan tidurku nyenyak sekali semalam. karena doa dan keikhlasanmu tentu saja.
cukuplah surat cinta kemarin menjelaskan tentang semuanya, tentang sifak kekanakan yang muncul secara spontanitas. tentang kekhawatiran akan sebuah kehangatan dan juga kemesraan. aku akan menunggu saja, menjadi seorang kekasih yang setia sampai waktunya tiba. menjadi anak dari angin dan hujan. menjadi istri dari malam dan siang. aku menjadi suami dari cakrawala dan menemui mu disana tepat di tempat yang telah kita janjikan. sebuah permintaan yang sangat ringan sekali...hanya untuk sebuah pahatan kehidupan...seperti yang pernah ku katakan kepadamu...bahwa aku akan terus menjadi kekasih yang setia...

"Cinta I, II dan III"

By On Juli 31, 2006
Cinta I

begini saja,
daripada ribut-ribut
lebih baik kita berdamain kan?
dan matahari akan kembali tersenyum
melihat kemesraan dan kehangatan kita...

begini saja,
kalaupun kau tetap marah
biar aku yang mengalah
mungkin kita perlu waktu lebih
untuk saling memperbiki diri
sesekali biar saja kita menjadi anak-anak
menimati kecemberutan dan rajukan tanpa paksaan
toh kita sama-sama manusia biasa kok
yang bisa marah, bisa melakukan apa saja yang kita maui
apalagi cuma sekedar merajuk
itu mudah saja kan?

biarlah air sesekali mengalir dengan ritme yang tidak biasa
dan awan saling bergemuruh berunjuk rasa
mungkin juga debu yang diterbangkan angin
bisa menjadi perumpamaan


cinta II

kekasih-kekasih yang pergi ingin dijemput kembali
tapi kujawab begini, juga minta ditunggu dengan setia
jangan membunuh siang dan melupakan malam katanya lagi
tidak !!! jawabku lagi
aku tidak akan melupakan siapa diriku
aku ingin seperti layang-layang yang terbang bebas di cakrawala
aku ingin seperti burung yang terbang bebas di langit terang
yang tahu kemana tempatnya berpulang


cinta III

aku sungguh sudah bingung
tidak tahu harus mengatakannya seperti apa
seperti ini saja ya?
dengan sangat apa adanya
dengan sangat sederhana sekali
karena sebenarnya apa yang terjadi sekarang ini
berawal dari kesederhanaan itu sendiri
aku mengerti maksud perkataan itu
jangan hari ini....
lain kali saja ya....

Minggu, 30 Juli 2006

"Menunggu"

By On Juli 30, 2006
sudah pukul 19:11 menit ketika saya menuliskan tulisan ini, harusnya jam segini saya sudah berada dirumah. atau paling telat tidak berada lagi ditempat ini, sepi banget. yang lain sudah pada pergi. tinggal saya sendiri. padahal hari ini saya sangat lelah, karena kurang tidur semalam. syukurlah hari ini ada seorang teman yang bisa diajak ngobrol dari hati kehati sehingga kelelahan itu tidak begitu terasa ( untuk ichie: tumben hari ini baik), namun keletihan itu tetap terasa, setidaknya sekarang ketika sudah waktunya pulang tetapi teman yang ditunggu-tunggu belum juga tiba. semoga tidak ada apa-apa dengannya. khawatir juga sih, sudah ditelfon tapi hand phonenya tidak aktif, di sms juga masih pending sampai sekarang, mungkin juga sampai besok pagi.
sampai pukul berapa saya harus menunggu? padahal tubuh sudah minta diistirahatkan, kalaupun tidak langsung tidur palign tidak rebahanlah untuk melempangkan otot-otot...maklum sudah seharian duduk terus, pegel. saya juga sudah rindu dengan kamar saya yang ditinggal sejak kemarin sore, semoga malam ini bisa bernostalgia. dan semoga kejadian serupa ini tidak terulang dihari yang lain. padahal hari ini sudah direncanakan untuk pulang lebih awal dari biasanya, seorang teman mengajak pergi kepantai sore harinya, sekedar untuk melihat-lihat keramaian. untuk melengkapi agenda diakhir pekan ini, minggu dan juga bulan juli ini. tetapi apa daya, ajakan tinggal ajakan, kata-kata 'iya' pun telah terlalui dengan begitu saja, mungkin harus menunggu waktu lain yang tepat untuk menambal apa yang terjadi dihari ini.
malam ini agak sedikit mendung, hujan tadi siang rupanya masih menyimpan sedikit dendamnya, sehingga ia tak mau berlama-lama melepaskan pelukannya ke bumi. ada yang kusesali, sedikit kecewa mungkin. kenapa kebekuan justru terjadi dimalam ini. padahal rindu telah mendekapku dengan sangat kuat sejak beberapa hari yang lalu. saking eratnya aku merasa seperti kehabisan nafas dan tersengal-sengal. tapi tidak apa...mungkin dia perlu berfikir dan beristirahat, aku mengerti kelelahannya, keletihannya, barangkali lebih dari apa yang kurasakan sekarang ini. aku merasakan ingin tidur, melempangkan tubuhku keranjang dan membiarkannya tanpa siksaan apa-apa. aku yakin, dia juga begitu. karena itu kubiarkan saja dia menutup "pintu kamar"nya. tanpa ada perintah maupun paksaan untuk tetap menemaniku.
entah kenapa, kemanjaan itu begitu meledak-ledak dalam beberapa hari ini. aku ingin dia memanjaiku lebih dari biasanya. lebih erat dan lebih kuat lagi. aku pun begitu, tapi kadang-kadang ketika bertemu hanya diam. aneh memang. tapi disanalah keunikan dari apa yang kurasakan. ketika harus pura-pura marah padahal sebenarnya ingin tertawa sekuat-kuatnya. ketika ingin menangis justru tidak bisa karena rayuannya yang membuat hati ingin tergelak. romansa jiwa. yang terkadang diri sendiripun tidak bisa memaknainya.
sudah pukul 20.00
saatnya pulang, dan memotong leher tulisan ini dengan paksa. dan teman saya belum muncul juga...

"Perempuan"

By On Juli 30, 2006

kemarin sore sambil jalan-jalan nyari bakso saya dan seorang teman saya melewati sebuah toko kecil yang menjual perlengkapan perempuan, ada beberapa celana jenas model terbaru yang terpajang didepannya, juga dua buah rok yang anggun sekali. warnanya lembut dan bahannya bagus, yang pasti enak dipakai, soal harga aku tidak tahu karena memang tidak berminat membeli, mungkin juga karena tidak ada uang. inilah faktor utama pengendali jiwa konsumtif manusia, uang!!

beberapa hari yang lalu jalan-jalan di pasar tradisional, sungguh sangat banyak yang bisa dilihat, mulai dari pakaian sampai buah, pakaianpun terbagi lagi ada pakaian luar ada pakaian dalam. dari alat-alat dapur sampai perhiasan, tapi yang paling menarik adalah aksesoris perempuan yang bentuknya unik-unik, berupa gelang, kalung, bross sampai ke cincin. harganyapun bervariasi, mulai dari yang ribuan sampai yang puluhan ribu bahkan ratusan ribu. tergantung dari materialnya. tetapi tetap saja aksesoris yang ada disini tidak seberapa bila dibandingkan dengan diluar Aceh. materialnya mulai dari kayu kelapa, shell, batu alam, saga seeds sampai mutiara. yang terahir inilah yang harganya paling mahal, minimal delapan ratus ribu rupiah dan mencapai lima jutaan satu untai kalungnya. untuk sebagian orang menganggap ini tidak lebih dari upaya menghambur-hamburkan uang, tetapi tidak sedikit yang beranggapan ini adalah trend, dan tidak adasalahnya untuk dicoba dan yang terpenting punya uang. habis perkara! kata teman saya produk semacam ini adalah produk untuk memanjakan wanita. ups...
perempuan, dibandingkan laki-laki memang sudah kelewat sering dimanjakan. oleh apa saja, oleh produk kecantikan, oleh fashion, oleh mode, dan oleh oleh lainnya. lihat saja, apa ada laki-laki yang begitu telatennya ke salon sampai tiga kali seminggu, melakukan padicure dan manicure dengan teratur, senam, dan melakukan perawatan spa. dan apa ada laki-laki yang menghabiskan waktunya seharian untuk bebelanja demi mencari model baju terbaru yang beredar dipasaran. juga lihatlah model-model pakaian yang dijual dipasaran, betapa sangat mencolok antara laki-laki dan perempuan. perempuan bebas mengeksplorasikan perasaannya melalui warna-warni pakaian yang mereka pakai, melalui keragaman model dan pernak-pernik tadi. sebegitu dimanjakannyakah perempuan oleh mode?
bukan berarti lelaki warga kelas dua dalam hal mode, tetapi malah tidak disukai bila lelaki terlalu berlebihan dalam beraksesoris. bayangkan saja bila ada lelaki yang memakai kalung, gelang dan cincin secara berlebihan. justru membuat orang kehilangan simpati. bukan berarti ketika perempuan mengenakan aksesoris yang berlebihan semakin sedap dilihat, tetapi sewajarnya saja.
saya sendiri, sebagai perempuan kadang jengah juga melihat ke "overan" yang sering ditampilkan oleh para perempuan dalam bergaya. tetapi, apapun ceritanya setiap orang tentu punya selera yang berbeda, bisa girly, sporty, glamour dan macam-macam, karena itu kehadiran berbagai aksesoris tadi turut memperjelas selera seseorang. mungkin juga pribadi seseorang. bagaimana dengan anda...

"Bulukat Kuneng"

By On Juli 30, 2006
beberapa waktu yang lalu di milis sempat heboh gara-gara ada issue bulukat kuneng yang muncul secara tidak disengaja. entah siapa yang memulai, yang pasti sayapun jadi ingin merasakan kenikmatan bulukat kuneng tersebut. aroma dan inti yang terbuat dari kelapa biasanya lebih menarik perhatian saya, palagi kalau proses pembuatannya memakai gula merah ditambah dengan daun pandan, harum. pun begitu saya bukanlah orang yang doyan banget dengan makanan tersebut, saya cuma tergiur dengan warna kuningnya dan taburan parutan inti kelapanya yang berwarna coklat tersebut. wajarlah kalau kemudian saya ingin mencicipi rasanya.
bulukat kuneng biasanya disajikan pada acara-acara tertentu di Aceh, misalnya pada acara peusijuek atau tepung tawar, peusijuek ini biasanya pada upacara perkawinan, sunatan, sampai tepung tawar rumah baru, kalau yang pernah kecelakaan atau selesai operasi biasanya juga di peusijuek in...ritual yang menurut saya mubadzir dan ngga jelas, tetapi saya hanya bisa mengatakannya disini. kalau didepan orang tua saya mengatakan ini bisa diomelin setengah hari. peusijuk ini tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan keberkahan bagi orang yang ditepung tawari, suapaya hidupnya adem...seperti percikan air yang dipercikan kepadanya.
tetapi saya bukan hendak membahas masalah peusijuek disini, saya lebih tertarik menceritakan bulukat kunengnya atau pulut kuning, karena tadi pagi saya sudah merasakan lezatnya pulut kuning tersebut. aroma dan warnanya sungguh membuat saya rela menunda sejenak kepergian saya, tidak ingin menyesal karena makanan semacam itu tidak sembarangan bisa didapat. kebetulan ada tetangga yang membuat rumah dan hari ini di peusijuek, maka sepupu saya juga kebagian rejekinya. syukur alhamdulillah. bersyukur karena semalam saya menginap disana, tidur pukul dua belas malam dan hari ini terkantuk-kantuk, bersyukur karena bukan hanya bertemu dengan saudara saya saja tapi saya mendapatkan kenikmatan dari pulut kuning tersebut. dan yang pasti saya bersyukur karena di milis sempat muncul wacana bulukat kuneng dan dalam hati diam-diam berdoa...semoga bisa cepat merasakannya...dan doa saya makbul....

Sabtu, 29 Juli 2006

"Cinta adalah..."

By On Juli 29, 2006


cinta itu seperti kupu-kupu. tambah dikejar tambah lari. tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang disaat kamu tidak menharapkannya. cinta dapat membuat seseorang bahagia tapi juga sedih. cinta baru berharga bila diberikan kepada seseorang yang bisa menghargainya. jadi jangan terburu-buru, danpilihlah yang terbaik.
cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang "sempurna" bagi seseorang. tapi bagaimana menemukan seseorng yang bisa membantumu menjadi dirimu sendiri. dankarena itu kamu menjadi sempurna.
jangan pernah bilang "i love u" kalau kamu tidak peduli. jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu menghancurkan hatinya. jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu berikan hanyalah kebohongan. hal yang paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat menangkapnya...
cinta bukanlah "ini salah kamu", tapi "maafkan aku...". bukan, 'kamu dimana sih..." tapi "aku disini...", bukan "gimanasih kamu.." tapi, " aku ngerti kok", bukan "coba kamu ngga kayak gini" tapi, "aku cinta kamu apa adanya"
kompatibilitas yang paling benar bukan diukur dari seberapa lama sebuah hubungan berjalan, tetapi selama hubungan itu berjalan sepertiapa kualitas dari hubungan itu sendiri. kesedihan dan kerinduan hanya akan dirasakan selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kami ijinkan. yang berat bukannya bagaimana menanggulangi kesedihan dankerindua tetapi bagaimana belajar darinya.
caranya jatuh cinta" jatuh tapi jangant erhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi danjangan bersikap tidak adil, megnerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih tetapi jangan pernah simpan kesedihan itu.
memang sakit melihat orang yang kamu sayangi berbahagia bersama orang lain, tetapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai tidak bahagia bersama kamu. cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisan dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu. tapi cinta lebihmenyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu sesungguhnya apa yang kamu rasakan. yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk mengetahui bahwa dia bukan untukmu dankamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk untuk orang yang tidak pernah menghargainya. kalau dia tidak "worth it" sekarang, dia tidak akan pernah "worth it" setahun lagi atau sepuluh tahun lagi, jadi biarkan dia pergi...

"Bapak Bercelana Pendek"

By On Juli 29, 2006

sore-sore bila kebetulan cepat pulang ada yang menarik untuk dilakukan, kebetulan kamar saya terletak diatas, jadi ada keasykan tersendiri. salah satunya adalah duduk didekat jendela, kadang dijendela belakang, yang terlihat adalah puncak gunung Seulawah yang sangat anggun. apalagi kalau sedikit mendung atau baru hujan, subahanallah, cantik sekali. saya sering melihat bintang ataupun purnama dari jendela belakang ini, disini kadang saya juga menangis bila mengingat sesuatu, kerinduan.

tetapi bukan itu yang akan saya ceritakan, saya ingin menceritakan sesuatu yang terkait dengan jendela depan, apa yang saya lihat bila saya kebetulan duduk disana. lupakan jendela belakang, dan mari ke jendela depan. pasti akan terlihat seorang bapak yang setiap sore setia nongkrong diwarung sebelah. dengan kaos dan celana pendeknya yang khas. diam-diam saya memperhatikan, bukan sekali dua kali lagi. bahkan ketika ada beberapa orang dari jamaah tertentu beberapa waktu yang lalu memberikan ceramah singkat, bapak itu masih dengan celana pendeknya. jelas saja, karena kelompok jamaah itu tidak memberi tahu kalau mereka akan berkhutbah didepan para anak muda dan bapak bercelana pendek yang sedang bermain batu. kepada mereka yang nongkrong diwarung. tiba-tiba sudah ada dihadapan, penampilang serba tertutup dan putih-putih.

bapak itu, adalah seorang ayah yang mempunyai tiga orang anak. bapak itu bisa jadi adalah gambaran dari anda-anda semua yang kebetulan diberi Allah jenis kelamin sama seperti bapak itu. seorang bapak yang idealnya memberikan contoh teladan yang baik kepad anak dan istrinya, bukan hanya dengan perkataan tapi juga melalui perbuatannya. barangkali mempraktekkan memakai celan apendek juga adalah contoh kepada anak. so, jangan salahkan jika anak menaikkan sedikit dari kependekan yang dipakai bapaknya. memendekkan sedikit lengan bajunya dari yang dipakai oleh orang tuanya, mengecilkan sedikit bajunya, menaikkan sedikit kerudungnya, toh semua itu dia contoh dari rumahnya. dan tidak ada larangan, lho, bagaimana mau melarang bila bapaknya saja memakai celana pendek. nanti kebalik jadinya antara yang dilarang dan yang dilakukan jadi tidak sinkron.

bapak itu tidak sendiri, diwarung tempatnya nongkrong ada satu orang lagi yang mempunyai hobby yang sama dengannya, baru saja menjadi ayah, anaknya masih berumur dua bulan. kami jadi hafal warna apa saja yang dipakainya. karena terlalu seringnya, tetapi jelas-jelas tidak ada kerisihan pada sipemakainya. kerisihan itu mungkin tidak berasal dari celana pendek yang dipakaianya, tetapi bisa saja dari rambut-rambut yang tumbuh dikaki mereka. tetapi yang jelas intinya mereka membiarkan auratnya terbuka, padahal aurat mereka tidaklah seperti perempuan yang boleh nampak hanya muka dan telapak tangan saja. tetapi toh tetap saja mereka keberatan menjalankannya, konon lagi perempuan? ini bukanlah pembenaran bagi mereka yang belum sanggup menutup auratnya dengan baik. tetapi bukankah ar rijalu qawwamuna alannisa'? laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. bagaimana memimpin rumah tangga jika diri sendiri saja belum sanggup memimpin...

"Berantakan juga perlu"

By On Juli 29, 2006
yang akan saya ceritakan disini adalah pengalaman saya sendiri, barangkali anda juga pernah melakukannya. terlepas dari apa yang akan saya katakan, anda semua pasti punya alasan yang berbeda. beberapa waktu yang lalu saya malas sekali bangun pagi, bahkan dalam tidurpun sempat berdoa agar waktu berhenti sejenak supaya tidak cepat-cepat pagi. tepatnya tidak cepat-cepat bangun pagi dan berangkat menjalankan rutinitas seperti biasa. saya tidur dilantai, dengan posisi bantal yang tidak beraturan, selimut juga sudah tidak berbentuk lagi, saya bukan orang yang setia dengan selimut jika tidur malam, didekat saya beberapa buah buku bacaan dan buku tulis tergeletak sama tidak beraturannya seperti saya. ada pulpen, ada kertas dan beberapa buah jeruk. berantakan sekalikamar saya waktu itu. tetapi saya biarkan.
akhirnya saya pergi dengan meninggalkan kondisi kamar yang sangat berantakan, bukan karena tidak sempat membereskannya, tetapi karena faktor kesengajaan. berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu saya menjalani rutinitas saya dengan porsi kenikmatan yang lebih, saya membayangkan kondisi kamar saya yang berantakan, darinya saya membayangkan apa yang saya lakukan semalam, dan saya puas. maka kepuasan itu ikut memberikan energi lebih untuk saya pada siang harinya. pun ketika pulang sore harinya, tubuh saya lelah sekali, capek dan letih. padahal saya belum mempersiapkan apa-apa yang perlu dipersiapkan untuk keberangkatan saya pada malam harinya. bayangkan saya pulang sampai kerumah pukul tujuh malam, padahal saya harus berangkat pukul delapan malam, sedangkan tiket belum saya pesan....tetapi..semuanya lenyap ketika pulang mendapatkan kamar berantakan. terkenang kembali peristiwa semalam, saya kembali memeluk bantal dan selimut yang masih dilantai. bahagia rasanya. jadi ingin menangis lagi seperti semalam, ajaib, lelah itu itu hilang...

"Bunga di depan Rumah"

By On Juli 29, 2006

saya sering bertanya-tanya mengapa bunga-bunga didepan rumah saya tidak cantik lagi, tidak elok lagi, tidak sesegar ketika didepan rumah yang dulu. dirumah yang dulu, yang terpaksa dibongkar dengan air mata dan rasa tidak ikhlas demi mendapatkan kenyamanan dan kelayakan untuk hidup. megnapa dirumah yang ini, bunga secantik dan seindah dirumah yang dulu menjadi layu dan tidak bergairah untuk terus hidup, sekalipun bunga jenis asoka yang terkenal daya tahannya. dirumah yang dulu, bunga asoka itu diletakkan begitu saja bisa tumbuh dengan cantik, bunganya macam-macam, ada kuning, merah, merah jambu sampai putih, kuningpun ada kuning muda dan kuning tua. belum lagi bunga-bunga yang lain yang indah-indah dan beraneka warna. pokoknya, dulu cuma rumah saya yang banyak bunganya, sekarngpun begitu, tetapi kondisinya berbeda dan membuat ibu saya jadi berkurang selera untuk mengurus bunga-bunga itu. padahal sebagian bunga yang ada dirumah sekarang adalah warisan dari rumah yang dulu, rumah yang teduh dan strategis letaknya, tidak seperti sekarang, kurang strategis.
akhirnya, keheranan saya dan ibu saya terjawab, tidak seperti dirumah yang dulu, dirumah yang sekarang tanahnya kering dan tidak bagus, sejenis tanah liat, keras. wajar saja kalau ditanami bunga akarnya tidak bisa tumbuh dengan sempurna. selain itu, dirumah yang sekarang sangat panas karena langusng berhadapan dengan matahari...kalau sore panasnya luar biasa sekali, tapi didalam adem, anginnya sepoi-sepoi karena rumahnya terletak di tengah sawah, angin berlalu lalang sesuka hatinya. kasian melihat bunga-bunga yang dulunya bagus jadi mati sekarang, bunga-bunga kesayangan ibu akhirnya diletakkan disumur belakang, agar lebih dingin dan tidak langusng berciuman dengan matahari. rasanya belum lengkap penderitan bunga-bunga ini, sudah terkena panas dan tempat tanam yang tidak bagus sekarang malah harus relah kena gusur karena timbunan tanah. eh...akhir-akhir ini malah lebih parah lagi penderitaanya, setiap hari harus berkelonan dengan siduri sawit. pulang kemarin aku cuma melihat pohon cemara salju yang masih kokoh ditempatnya, sedangkan asparagas dan bunga asoka kuning sudah meregang nyawa dan tidak berbekas lagi. kasian bunga-bunga itu...
padahal, kalau dilihat dari perawatan, bunga-bunga dirumah ini sangatlah ekstra dibandingkan dirumah yang dulu, seperti bayi saja layaknya. tetapi tetap saja tidak sebagus dirumah yang dulu. kalau dibilang kurang kasih sayang, rasanya tidak. tapi memang tanah disini tidak sesubur ditempat yang dulu. karena itu, sampai sekarang saya belum bisa melupakan rumah yang dulu, yang bunga-bunganya masih tersisa sampai sekarang, dan masih bagus walaupun disekelilingnya ditumbuhi ialang dan semak-semak, maklum, sudah jadi bangkai rumah. mungkin sudah nasib bunga-bunga dirumah ini, harus setia dijodohkan dengan tandan-tandan sawit yang tidak sepadan dengannya. walau bagaimanapun, dia juga harus tahu kalau pemilik rumah ini harus mencari makan untuk meneruskan kelangusngan hidupnya dari tandan sawit yang menurutnya tidak pantas menjadi temannya hidupnya.
bagimanapun, bukan keinginan kami untuk menelantarkan bunga-bunga itu, hanya saja sepertinya nasib baik kurang berpihak padanya. manusia juga banyak yang seperti itu...sudahsekolahtinggi-tinggi...kadang cuma jadi pengamen....apalagi bunga yang tidak bisa pindah sendiri mencari tempat yang layak huni bagi dirinya sendiri...

"Giant Bike"

By On Juli 29, 2006

Jumat, 28 Juli 2006

"Nah"

By On Juli 28, 2006
setiap orang pasti mempunyai ciri khas tersendiri, entah itu terletak pada kebiasaannya, pada perbuatannya, pada perkataannya maupun pada kegemarannya yang lain semisal dia hobby masak atau tidur, hobby bercanda dan lain sebagainya. karena ciri khas yang melekat itulah akhirnya dia menjadi mudah diingat dan susah dilupakan.
awalnya, saya tidak begitu perhatian dengan saudara yang satu ini, dia terbilang unik menurut saya karena beberapa hal sampai-sampai di hand phone saya namai dengan unique, bukan, bukan karena saya tidak tahu siapa namanya tapi yaitu tadi karena dia unik (maaf bila tidak berkenan dihati).
sekali dua kali berinteraksi semuanya masih biasa-biasa saja, tetapi karena intensitasnya makin sering akhirnya saya menjadi semcam kewajiban untuk menunggu-nunggu kapan kata itu diucapkan oleh teman saya itu. dan yang diucapkan kemarin sore sepertinya sangat berbekas sekali dibenak saya hingga lahirlah tulisan ini.
"Nah...". teman saya ini sering sekali mengatakan "nah..." saya tergelitik mendengarnya, terbayang dibenak saya ketika dia mengatakan "nah..." mulutnya sedikit terbuka dengan dilapisi senyum simpul, matanya berkedip-kedip jenaka sambil mengatakan "nah...". heheh..kalau yang ini sih imajinasi saya, saya sampai mempraktekkanya sendiri ketika menuliskan ini. padahal bisa saja ketika mengatakan "nah..." dia sedang tidak tersnyum atau cemberut karena pekerjaannya, tidak, bukan, tepatnya karena dongkol dan kesal kepad saya yang telah membuatnya hampir pingsan karena bumi berputar. oh...teman seperti apa saya ini ya? gara-gara saya dia harus bersilaturrahmi ke dokter untuk memeriksakan tensi darahnya. kalau saja waktu itu tensi darahnya rendah, sepulang dari dokter pastilah dia harus membeli daging kambing atau salak untuk menaikkan tensi darahnya, sebaliknya kalau darahnya rendah tetap saja harus mengkonsumsi makanan lain agar normal kembali. intinya sama saja, tinggi atau rendahnya tensi darahnya teman saya itu tetap harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tentunya. rugi? dan itu karena saya? entahlah...tapi yang pasti kalaupun harus disuruh bertanggung jawab maka yang lebih berhak bertanggung jawab adalah tulisan saya. karena teman saya itu begitu karena mengenang tulisan saya, ini buktinya, -tadi malam saya merasakan bumi seperti berputar kencang sekali, saya hampir hilang keseimbangan mengenang kalimat anda-.
begini saja, kalau dongkol saya persilahkan kepada teman saya itu untuk membunuh tulisan saya, menonjok hingga dia tak sadar lagi,t erserah..sesuka hatinya saja. saya tidak marah. kalau gara-gara itu tensi darahnya kembali naik dan terjadi sesuatupadanya, mungkin saat itulah penulis telah berhasil menjadi pembunuh karena apa yang dia tuliskan.
kembali ke "nah..." saya sering memeprhatikannya, tepatnya menunggu-nunggu kalimat berikutnya setelah "nah" tetapi tidak pernah ada, selalu saja berhenti sampai di "nah...". saya tidak tahu apakah setelah teman saya itu membaca tulisan ini dia akan tetap mempertahankan 'nah...'nya atau menhilangkannya, tapi kalaupun dihilangkan karena membaca tulisan ini, tentu bukan saya yang salah tetapi ya tulisan saya, nah...

"Jerawat"

By On Juli 28, 2006

jerawat! emang bikin gawat! kalimat itu sepertinya tidak selamanya benar, toh masih ada orang yang menunggu-nunggu kedatangan jerawatnya, minimal kalaupun tidak sampai menunggu tidak sampai cemas dengan adanya jerawat yang nangkring diwajahnya. lihat saja anak smp yang mau memasuki masa puber...kehadiran jerawat merupakan satu hal yang sagat disenanginya, itu karena mereka berfikiran aku sudah gede! karena sudah tumbuh jerawat, lihat saja anak balita mana ada yang jerawatan. itu artinya untuk menjadi besar atau dewasa harus melewati fase jerawatan dulu, ini tidak selamanya benar. karena saya sendiripun ketika akan besar tidak ada jerawat yang tumbuh, mulus-mulus saja. malah seingat saya baru setahun terakhir ini pipi saya mulai rajin ditangkringi oleh jerawat. itupun bukan bergerombolan melainkan satu-satu, paling sering di pipi kanan atau kiri, saya justru suka kalau ada satu jerawat disana, mungkin ini karena setiap bulan saya jatuh cinta dan cuti....
jatuh cinta...
berjuta rasanya
jerawatan....jangan disalahkan....

"Tikus "

By On Juli 28, 2006

sering saya berfikir mengapa di rumah kost saya ini banyak sekali tikusnya, dan apakah rumah yang sederetan dengan saya juga sama halnya dengan rumah yang ini. disebelah kanannya ada warung, disebelah kiri ada wartel dan rumah tetangga. yang pasti bentuk dan modelnya sama, hanya saja rumah yang kami tempati berlantai dua. dibandingkan rumah yang lainnya, rumah yang kami tempati ini agak sedikit berbeda, bukan dari bentuk tetapi dari yang lainnya lagi. rumah kami depannya masih polos dan sepertinya memang tetap setia dengan bata telanjangnya, pintunya yang lebih unik lagi, cuma di cat setengah itupun yang ngecat tetangga sebelah, yang di warung itu. ngecatnyapun tanpa permisi, ketika kami pada mudik pulang kampung saat lebaran puasa yang lalu, kalau ada kami pasti tidak kami ijinkan di cat setengah begitu, ngga bagus banget. biru lagi warnanya.
kembali kepersoalan tikus tadi, mungkin karena itu keluarga tikus itu betah tinggal disana, selain karena kami masih jomblo semua tentunya karena kami tidak pernah mengusik keberadaannya. terkadang menjengkelkan, apalagi kalau malam hari. sedang nyenyak-nyenyak tidur tiba-tiba harus terbangun karena suara berisik yan ditimbulkan oleh gerombolan tikus tersebut. anehnya ketika kita bangun dia diam, ketika kita tidur kembali dia pun berulah lagi. perlakuannya pasti akan berbeda bila dirumah keluarga, mereka pasti akan memburu tikus-tikus itu sampai mereka lelah sendiri. karena mereka takut perabotan rumah tangganya dirusak. sebenarnya kamipun tidak menginginkan tikus itu ada dirumah, kalau bisa pergi saja mereka ke negeri antah barantah. tetapi kami berbaik hati membiarkannya menetap disana, tepatnya kami tidak peduli apa yang mereka kerjakan. kadang geram juga melihat ulah mereka yang seenaknya, mengerat apa saja, termasuk toples kue yang lupa disimpan di lemari. tetapi lagi-lagi cukup dengan mengelus dada dan mendumel didalam hati, ini disebabkan karena teori yang kami dapatkan secara turun temurun dari mulut ke mulut, bahwasannya tidak boleh sembarangan mengatakan tikus. nanti tambah jahat katanya. tapi, ini adalah jenis tikus yang besar-besar, jangankan kucing, manusia aja takut dibuatnya. apalagi kalau mereka tengah reunian, berisiknya minta ampun.
kalau dipikir-pikir kenapa tikusnya semakin banyak saja, bisa jadi karena didaerah sekitar hampir tidak ada lagi sawah yang kosong yang dulunya tempat bermukim para tikus itu. semuanya telah berubah menjadi bangunan rumah yang besar-besar dan para tikus itu mau tidak mau harus mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ya ke kost kami ini. anehnya, mereka itu udah ngungsi tapi kok terkesan seperti rumah sendiri, makan sabun mandi sembarangan, ini sih teman saya yang ngalamin, waktuitu dia lagi pulang kekampung. setelah itu dia pakai sabun cair sampai sekarang. belum lagi ulahnya yang bikin sebel karena ngga tahu malu, suka ngagetin. pas kebetulan kita sedang santai tanpa malu dia lewat dari tepi dinding, dengan gaya sok selebritis sedikit, menggal menggol seolah sambil berkata...ayoo kejar aku...sekali lagi hanya bisa menghela nafas.
itulah tikus, binatang yang menjijikkan dengan postur tubuh tak begitu indah, ekornya panjang kecil, tubuhnya agak bulat dan bulunya berwarna kotor....tapi kumisnya kadang terlihat lucu juga, suka memakan apa saja, bahkan dia lebih buas dari harimau karena bukan hanya makan sayur dan daging juga tapi juga kain dan papan. tikus tidak peduli dirumahorang kaya maupun orang miskin, yang dia tahu adalah mengembat apa saja, tak peduli sedikit atau banyak. barangkali karena itulah koruptor diserupakan dengan tikus.

"Selamat Datang"

By On Juli 28, 2006

selamat datang kembali kerumah cinta...
setelah setahun lebih tidak ada kabar, tidak ada berita, tidak ada cerita, tidak ada canda, tidka ada tawa, tidak ada ledekan, tidak ada cemburu....
setelah hampir setahun, dan kau kembali dengan ucapan "apa kabar mu Dik?"
setelah sekian lama melewati pagi-pagi tanpa ucapan selamat pagi dari denting-denting tembang jawa...
akhirnya kembali dengan ucapan....sangat rindu... kembali dengan cerita yang tertunda karena harus menunaikan kewajiban sebagi seorang muslim. ku tunggu, tapi bukan dengan jawaban yang membingungkan seperti di akhir-akhir dulu. sampai membuatku bingung dan semakin mengejutkan ketika aku mengetahui apa artinya.
selamat datang kembali kerumah sederhana ini, yang telah menyimpan segudang cerita pada setiap sudut ruangnya yang tidak terlalu luas.
hhh...masih ingat dengan jelas kapan terakhir kita tertawa bersama melalui denting-denting nada cerita yang mengalir, pada segelas air kelapa yang membuat aku tersipu. juga pada pesan-pesan yang ku terima setiap pagi.
hanya ini yang bisa kukatakan untuk menyambutmu kembali.....selamat datang...kabarku baik...masih ada sisa rindu untuk mu...

"Lelah"

By On Juli 28, 2006

pernah ngga ngalami yang beginian???

Kamis, 27 Juli 2006

"perjalanan"

By On Juli 27, 2006

perjalanan ini,
terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk disampingku, kawan………


barangkali inilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, kenapa belum menikah? padahal usia sudah mencukupi, kehidupan juga sudah layak untuk membiayai seorang istri dan ditambah dengan beberapa orang anak untuk beberapa tahun kedepan. kau tidak tahu jawabmu selalu. tepatnya bukan tidak tahu tapi menyembunyikan apa yang kau rasakan, terlalu pintar kau menyembunyikan rasamu. dan aku tahu itu, karenanya aku tidak memaksa lagi dengan pertanyaan yang sama, aku yakin kau pasti akan menjawabnya dengan cara yang berbeda. dan benar saja, sekarang kau sudah menjawabnya. dengan sangat jelas sekali.
tanpa kau sadarai, karenanya kau bukan hanya menyiksa dirimu sendiri tapi juga orang lain. aku bukanlah siapa-siapamu, tetapi aku pernah mengambil peran dalam bagian hidup seseorang dengan menjadi merpati kecil tempat berkirim pesan. aku pikir kau tidak perlu menangis ketika harus kehilangan seseorang seperti beberapa waktu lalu, kau sudah punya cinta seumur hidupmu, kau telah memiliki kekasih seumur hidupmu, rasanya sangat tidak pantas bila kau pernah menangisi kepergian seseorang karena ia mondok ke hati yang lain. bagaimana mungkin bisa mencintai orang lain sepenuh hati bila dihatimu sudah ada sosok lain yang telah lebih dulu kau penjara disana, bagaimana mungkin satu hati ada dua nama dengan porsi yang sama untuk dicintai. dan sangat tidak adil rasanya, bila meminta orang lain untuk mencintaimu dengan tulus sementara kau mencintai orang lain melebihi kau mencintai dirimu sendiri. kau boleh menampik, kau boleh membantah, tapi kau telah membuktikan apa yang kau lakukan itu adalah benar. kau telah menyakiti dirimu dengan cara mu sendiri. aku sungguh tidak sanggup membayangkan apa yang akan dirasakan oleh adik kecilmu yang dulu seandainya kau memilikinya.
sekarang aku tahu, mengapa kau tidak pernah berani mengatakan apa yang kau rasakan padanya, mengapa kau tidak pernah berani berterus terang, padahal kau tahu dia pun sebenarnya merasakan hal yang sama sepertimu. aku tahu diantara kalian selalu ada rindu yang terpendam, dan aku juga tahu kalau dalam keseharian kalian pernah ada waktu-waktu khusus yang seolah menjadi kewajiban. tapi kau membendungnya demi seseorang, demi janjimu, demi cintamu yang telah kau pupuk sejak lama. salahkan jika kemudia dia pergi dari kehidupanmu, meski sebenarnya pada titik-titik vital dalam hidupnya dia masih menangisi mu? pernahkah berfikir seperti itu? kau begitu memperhatikan cintamu pada kekasihmu yang jauh, tapi kau tidak pernah memperhatikan orang lain yang mencintaimu.
sekarang, aku juga tahu mengapa kau tidak bisa mencintai orang lain dengan sepenuh hati...
pesanku...teruslah mencintai cintamu itu...
teruslah mencarinya untuk memenuhi janjimu...
aku salut dengan caramu mencintainya.....
perjalanan ini,
terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk disampingku, kawan………

"aku"

By On Juli 27, 2006


aku adalah seorang ibu dari anak-anak ku yang berjumlah dua belas orang, yang setiap hari berebutan untuk minta kupangku. tentu tidak semuanya karena sebagiannya sudah besar-besar. tetapi tetap saja memerlukan perhatianku. bangun tidur, menanak nasi, menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anak, menyiapkan pakian sekolah anak-anak dan juga pakaian untuk suami berangkat kerja. selanjutnya memandikan tiga orang balita, kakak-kakaknya sudah bisa mandi sendiri, sudah bisa sarapan sendiri, hanya sesekali mereka minta dimanjakan, itupun kalau aku punya waktu luang. mereka terpaksa harus mengerti dengan kondisiku yang kadang kerepotan megnurus mereka semua. pernah mereka bertanya mengapa ibu punya banyak anak, sampai selusin, tidak seperti tetangga yang lain, paling banyak hanya 5. ku jawab seadanya saja, supaya kita tidak sama dengan orang lain, keluarga kita harus berbeda, dan yang pasti banyak anak banyak rejeki, ini tentu saja alasan yang paling terakhir ketika pertanyaan itu terus dilontarkan oleh anak-anakku. tetapi, memang belum pernah kami merasa kerepotan dalam membiayai kehidupan mereka, setidaknya sampai saat ini, mereka masih bisa menikmati sarapan dengan beberapa menu, tidur enak dan sesekali liburan, juga kebutuhan lainnya.
dilain sisi, aku juga seorang istri dari suamiku yang baik hati, yang membutuhkan perhatian dan sayangku, bukan hanya terhadap anak-anak saja. kadang-kadang dia cemburu juga melihat waktuku yang banyak kuhabiskan bersama anak-anak, tapi dia juga berusaha mengerti dengan meringankan pekerjaanku, maksudnya tentu saja agar aku cepat menyelesaikan tugas kerumah tanggaanku dan setelah itu aku bisa menemaninya minum teh atau baca koran di serambi belakang. tempat yang paling kami sukai sejak menikah 18 belas tahun yang lalu. kalau sudah disana, anak-anak sudah mengerti, mereka tidak akan mengganggu. disanalah aku memotong kukunya, mencandainya, meledeknya. ku akui, waktuku menjdi sangat berkurang untuknya, diapun mengetahui itu, karenanya dia tidak terlalu memaksa harus memanjakannya seperti awal-awal menikah dulu. tetapi aku tahu kapan harus menyanjungnya bagai raja, aku tahu kapan menjadikannya balita yang harus kupangku dan ku peluk, aku tahu kapan menjadikannya suami yang harus ku hormati dan ku patuhi, aku juga tahu kapan menjadikannya teman sehingga aku bebas leluasa bercerita. bercerita tentang anak-anak kami mulai dari yang paling tua sampai yang paling kecil, bercerita tentang cerita romansa perkawinan kami, kadang aku menangis dipelukannya, dan dia dengan sabar mendengarkan tangisanku, dilain waktu kadang dia yang menangis dipangkuanku, ketika ia menceritakan ketakutan-ketakutannya, dia sangat takut tidak bisa membawa keluarganya ke surga. aku membelainya dan menguatkan hatinya, kita bersama-sama cinta.......
sekali waktu dia pernah bertanya, apa aku menyesal telah menikah dengannya? saat itu aku takut sekali, takut, kupikir dia akan meninggalkanku. tetapi ternyata, katanya dia yang merasa takut ku tinggalkan, dan dia pasti tidak akan setelaten saya dalam merawat anak-anak. ada-ada saja suamiku....
suamiku...rasanya baru kemarin aku menjadi istrimu...betapa cinta telah menyingkatkan waktu kebersamaan kita...

Rabu, 26 Juli 2006

"No Title"

By On Juli 26, 2006
"tetapi sebelumnya aku mau mengucapkan selamat pada seseorang yang entah siapa tiba-tiba telah memebersihkan seluruh ruangan dihatiku karena ia akan menetap disana, dia adalah jelmaan matahari pagi, angin, embun dan juga hujan. karena dia sekarang aku bisa tersenyum, dia juga adalah burung kecil yang setiap kicaunya meriangkan sanubari, aku ingin memilikinya..."
kalau boleh aku bertanya, dan tolong jawab dengan jujur...jujur sekali, apa dia masih jelmaan matahari pagi? angin, embun dan juga hujan? apa dia sekarang masih membuatmu tersenyum? atau justru semakin mendung. apa kicaunya masih membuatmu riang atau semakin memurungkannya....

"Semua ini Untuk Mu

By On Juli 26, 2006
tak kan kusimpn rinduku menjadi bisu, kan ku tebarkan pada angin malam atau titik-titik debu, yang lalu bersama burung malam, menghantarkan keperbatasan hatiku, rindu yang terpendam didalam hati kala jarak merentang menebas cakrawala. pelan-pelan ketika satu-persatu dari kemisterian itu terkuak, pelan-pelan juga apa yang kita rasa menjadi semakin terbentuk, menjadi utuh. yang akhirnya melahirkan komitmen untuk kita jalani dari buah ketidak mungkinan itu. masih ingatkan ketika kau mengatakan, apa yang tidak mungkin didunia ini. sekarang semuanya menjadi terbukti dan menjadi nyata, kita mengambil peran dari ketidak mungkinan itu dan mewujudkannya menjadi mungkin. komitmen, tidak lain adalah kuda tunggangan yang kita adalah pengendalinya, terserah kita untuk menjaga komitmen tersebut atau menjadikannya dalam bentuk yang lain.
sekali lagi, tidak akan kubiarkan rinduku menjadi bisu dan terpasung oleh jarak. ketika satu-persatu dari surat mu kulerai kembali dalam ingatan dan hatiku, ku bolak-balik dengan selera dan keinginanku, tak lain adalah untuk menebus rindu. ketika bulan-bulan berlalu adalah kesepian dan kerinduan yang menggebu, maka janji kita adalah penawar dari segala rasa yang tak berwujud itu. ketika pelan-pelan aku merasakan kecemburuanmu, ada rasa menggelembung yang amat besar dalam diriku. yang aku sendiri tidak bisa menterjemahkannya dengan baik, yang aku tahu, aku semakin menyayangimu, semakin sering pula mengharap surat darimu dengan semua kelucuan dan kekonyolan yang hanya kita yang bisa menikmatinya. satu lagi, menunggumu di waktu petang adalah hal yang paling membahagiakan buatku.
cinta...
kalau selama ini tidak ada surat khusus untukmu, seperti yang kulakukan ketika kau tidak ada, percayalah bukan karena rasa sayangku yang berkurang. tetapi aku menyajikannya dengan cara yang berbeda sekarang. semua ini untuk mu...

Selasa, 25 Juli 2006

"Setangkai Kembang yang lain untuk mu"

By On Juli 25, 2006
ketika musim berlalu
ada yang tidak pernah layu
ada yang tidak pernah berubah
ada yang tidak pernah berganti
cinta
ketika waktu berputar
ada yang semakin bertambah
ada yang semakin meninggi
ada yang semakin menggelembung
cinta
ketika jarak terbentang
ada yang selalu menanti
ada yang selalu menunggu
ada yang selalu mengharap
cinta
ketika semua terasa hambar
ada yang kembali memberi rasa
ada yang kembali memberi kehangatan
ada yang kembali memberi kekuatan
ada yang kembali memberi kesabaran
cinta

Minggu, 23 Juli 2006

"cinta...aku merindui mu"

By On Juli 23, 2006
cinta...
kalau kau dekat, sungguh sangat banyak yang ingin kubagi denganmu, tentang bulan purnama yang terlewatkan seperti biasanya, tentang matahari, tentang kehidupan, dan tentang laut, laut yang pernah kita ceritakan bersama...
sebulan tanpamu, ada yang berbeda dari hari demi hari yang terlewati, sepi....aku rindu keromantisanmu, juga ledekan-ledekan konyolmu. aku rindu semua, semuanya. aku ingin melihatmu, seperti diwaktu sesaat sebelum kau pulang.
tentu sangat tidak adil jika aku harus memakimu karen rindu yang sudah tidak terbendung ini, perih, sakit tapi juga terasa nikmat. kenapa harus seperti ini cinta?kenapa begitu banyak aral untuk merinduimu, apalagi memelukmu, tidak, bukan, tepatnya memandangmu dengan mesra.
andai perasaan bisa kubentuk, andai cinta bisa kuarahkan. aku hanya ingin yang sederhana saja, tidak perlu rumit-rumit sekali. aku mencoba mengkhianati perasaanku, tapi aku tidak mampu. ah sayang...kamu terlalu pintar membuatku mencintaimu, yah, kau telah berhasil memenjarakan aku dalam hatimu hingga aku tak pernah berikir berpaling darimu.
kapan kita terbang bersama honey? dengan cara yang hanya kita yang bisa melakukannya, aku ingin sekali. aku rindu sekali. rindu mendengar rayuanmu di telingaku seperti waktu itu, sesaat sebelum kau pulang.
2 zulags

Sabtu, 22 Juli 2006

memenuhi permintaan mu

By On Juli 22, 2006
sebenarnya banyak yang ingin kutulis untuk menyenangkan hatimu...tapi aku sama sekali tidak punya waktu...mungkin sebait puisi ini bisa membuatmu senang.

ketika kau rindu tanyakan kepada cinta,
layakkah aku merindu?
kalau cinta mengatakan layak
maka sering-seringlah menyebut namaku
karena dengan begitu aku pasti akan mendengarkan teriakanmu
dan aku akan membalasnya dengan lebih keras: aku juga rindu!!!


ketika kau bertanya padakau
apa aku merinduimu?
juga tanyakan pada cinta
apa tanda-tanda orang yang sedang rindu
bila sudah tahu maka tak perlu bertanya lagi
karena tanda-tanda itu sudah ada sejak kemarin
kemarin
kemarinnya lagi


semalam
aku telah menyiapkan banyak hal untukmu
tapi lagi-lagi kita hanya bisa bertumpu pada kata sabar
sabar yang tidak berujung
yang tidak bertepi
untuk sekedar mengatakan
kalau aku juga rindu
aku tidak ingin ditinggal dengan cara
seperti kemarin sore
aku tidak mau begitu
tanpa ada kata-kata mesra seperti biasa
walau hanya doa dan harapan yang tersemat diujung lidah
mungkin juga di ujung hati
yang tidak perlu diucapkan
tapi
percayalah...
aku rindu
dan aku rindu
aku rindu

Jumat, 21 Juli 2006

"Bunga"

By On Juli 21, 2006

"Tanyaku pada (para) Ibu"

By On Juli 21, 2006
ibu, harus seperti itukah yang dialami oleh perempuan? dikhianati dan terus dikhianati oleh laki-laki? pun begitu, kau tetap tersenyum ibu, menyembunyikan gurat sedih dan lukamu demi kami, anak-anak mu, demi menjaga keutuhan keluarga, agar kami anak-anak mu tidak tercerai berai dan tahu tempat pulang. ibu, segini umurku mengapa telah begitu akrab sekali dengan yang namanya pengkhianatan, dengan perselingkuhan. bahkan sejak aku kecil, mungkin kelas dua es de waktu itu aku telah mendengar hal serupa itu tetapi aku belum tahu kalau itu namanya perselingkuhan. pulang terakhir kemarin ibu menceritakan padaku kalau si pulan telah begini, dan pulan kali ini si ini yang begitu....ibu...haruskan hidup ini begitu?


ibu, apa sebenarnya arti pernikahan dan sebuah keluarga jika akhirnya harus seperti itu. apa setiap suami merasa harus menyakiti hati istrinya ibu? apa ia lupa kalau istrinya telah melahirkan anak-anaknya dan merawatnya dengan baik, apa ia juga lupa kalau istri selalu mendoakannya dan selalu mendoakannya, tetapi mengapa juga masih dibalas dengan penghianatan. ibu, aku tidak bisa menuliskannya dengan baik. aku sedih, aku terluka, aku marah menyaksikan ibu-ibu diperlakukan tidak adil oleh laki-laki yang tak lain adalah suami mereka.


ibu, apakah sudah tidak ada lagi laki-laki yang bisa menghormati perempuan dan senantiasa berterimakasih atas apa yang dilakukan seorang istri kepadanya? mengapa kemudian ia memberikan kehangatannya pada orang lain, lupakah dia sudah ertahun-tahun istrinyalah yang menaruh nasi kepiring makannya? mencuci pakaiannya dan mendoakannya. mengapa ibu...


ibu, salahkah jika sesekali telintas dibenakku aku benci laki-laki, aku muak dengan mereka. apa salah itu ibu? tetapi aku tidak bisa menyalahkan semuanya kan bu? aku tahu masih ada satu atau dua orang lagi yang tidak seperti itu. tapi siapa mereka ibu? ah, lagi-lagi merasa mual perut ku membayangkan apa yang dilakukan oleh mereka itu bu, mestinya lagu kemesraan itu tidak pernah ada saja, karena kemesraan itu tidak ada yang utuh, hanya sebagai pelengkap kehidupan saja diawal-awal pernikahan. selebihnya hanyalah kebekuan. hampir saja aku kembali menangis ketika mendengar apa yang kau cerritakan padaku kemarin menjelang siang, segitu kejamkah laki-laki itu ibu?



ibu, maaf kalau aku telah terlanjur mengatakan semua ini, bukan karena akutidak membutuhkan mereka, tetapi denganmelihat dan mendengar sepertinya mereka mengajariku untuk itu. mereka sendiri yang minta dikatakan begitu, tetapi tidak semua.
bu, sekali lagi aku ingin bertanya, apa setiap fase pernikahan harus mengalami hal yang seperti itu?

Jumat, 14 Juli 2006

"Ini, Untukmu"

By On Juli 14, 2006

ini....
bunga yang pernah ku janjikan untukmu
sangat sederhana sekali
hanya dengan tiga lembar daun
dan satu kembangnya yang putih
lihatlah
sangat sederhana bukan?
anggun sekali dia
bukan,
bukan aku tidak bisa memberimu kembang yang lain
banyak
ada mawar, ada kemboja
tapi itu sudah biasa
karenanya aku tidak mempersembahkan lagi sesuatu yang biasa untukmu
aku ingin berikan yang sederhana ini saja
yang putih kecil mungil
dengan tig lembar daun yang hijau
sekali lagi, bukan aku tidak sanggup memberimu yang sudah biasa itu
tapi...
aku tidak ingin menjadikanmu biasa seperti yang lain

"Sudah Kubawa"

By On Juli 14, 2006
kembali aku teringat akan puisi "ibu" yang dikirimkan oleh seseorang kepadaku, tetapi aku tidak mampu lagi mengeja kalimatnya sehingga tersusun dengan utuh. hanya makna tersiratnya saja yang masih teringiang-ngiang diti benakku. dan Subhanallah mampu menetralisir adrenalin ku yang sempat dibaluri emosi sesaat yang lalu. kupikir dimalam yang dingin dan basah ini aku tidak akan melanjutkan menulisku lagi karena emosi tersebut.
seseorang entah siapa malam ini telah mempermainkan ku dengan tidak bertanggung jawab dan dengan cara yang sangat murahan sekali, syukurlah aku masih bisa menahan diri untuk tidak memakinya dan itu memang bukan kebiasaanku, meski teramat sangat marah. keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan, bukankah begitu? semoga saja seseorang itu paham dengan sedikit petuahku diakhir cerita. bukan hanya membuat selera menulisku hilang tetapi juga telah memotong imajinasiku dengan paksa. syukurlah puisi "ibu"menjadi inspirator untuk ku, terimakasih kepada seseorang yang telah mengirimkan puisi tersebut.
lagi-lagi, aku mendapatkan keajaiban pada malam-malam ku. pada malam-malam yang mungkin dilalui orang dengan tidur yang nyenyak dan dengan mimpi yang indah. aku...menjadi tidak ingin meninggalkan kamarku walau sedetik, karena semua cinta dengan segala keajaibannya bermuara dari sana. semua bagian dari misteri terkuak pelan-pelan dari kamarku, seperti hari ini misalnya, aku meninggalkan kamarku dengan sangt berantakan sekali, dengan selimut dan bantal dilantai, dengan kulit jeruk yang terletak disudut pintu. tunggu, jangan berfikir kalau aku malas merapikannya, bukan, bahkan sejak subuh aku sudah bangun dan sudah membereskan pekerjaan ku yang lain, kecuali merapikan kamar tidurku. aku sengaja melakukannya. karena aku masih belum ingin melupakan apa yang terjadi dikamarku semalam. aku sangat menikmatinya dan menginginkannya lagi, tapi sayang mulai nanti malam aku ahrus meninggalkan kamarku lagi. karena itu aku tidak merapikannya pagi ini, agar ketika aku pulang sore nanti aku bisa menangkap kembali apa yang terjadi semalam, memeluknya dalam pelukanku dan ia menangis disana, mengadu galaunya dan menceritakan gelisahnya.
ah, andai saja dia tahu, bahkan jauh sebelum dia memintaku untuk membawanya kemanapun aku pergi itu sudah lebih dulu kulakukan. hanya saja aku tidak memberi tahunya, aku tidk perlu mengatakannya aku takut dia besar kepala nanti. beginikah menjadi burung kecil? menjadi pak pos bagi orang-orang yang ingin menyampaikan pesan cinta? ah, andai hatiku ada seribu kamar ingin rasanya aku mengajak semua orang untuk tinggal disana, memberikan mereka cinta dan sayang dengan takaran yang sama tapi itu adalah kemustahilan. ingin membahagiakan semua orang dengan takaran yang sama, bukankah itu sangat tidak mungkin? karena mencintai berarti juga totalitas dalam memberi. apapun, satu yang ingin aku sampaikan melalui ini, aku ingin ketika dia menangis lagi, akulah orang pertama yang menyandarkan bahunya ke dadaku, merasakan getaranjiwanya ketika ia terguncang dan mungkin merasai air matanya yang hangat. sejatinya begini, kalau ingin menangis, menangislah dipangkuanku, jangan pernah merasa malu dan rendah diri karena menangis. aku lebih suka kamu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, sudah mau menjadi bagian dari misteri hidupku saja sudah cukup dan aku menyukai semua itu.

Rabu, 12 Juli 2006

"Puisi Matahari"

By On Juli 12, 2006
Matahari…
Kenapa engkau terasa semakin lama berarak mengintai bumi, merah rona senjamu yang memantul awan semakin membuat aku silau meski dipelukan malam
Aku tak tau, karena besok pagi akan ada pelangi lagi?
Bila hujan turun, akan kurayakan dengan siapa
Matahari, di ufuk mana engkau berarak hari ini ?
Besok, lusa dan hari depan
Ah, akan kujangkau jika engkau mendekati awan
Akan kudekap agar tak jatuh ke bumi
Meski licin ujung jemarimu wahai Matahari

"Persembahan dari burung kecil"

By On Juli 12, 2006
mempersiapkan sesuatu dengan waktu yang teramat singkat. bahkan tersingkat dari yang paling singkat selama perjalanan gejolak hati ini. ah, barangkali waktu sesekali memang ingin memberikan kejutan kepada burung kecil ini, kejutan-kejutan kecil yang membuatku serasa dipucak kenikmatan yang paling tinggi yang aku sendiri tidak tahu apa namanya, tepatnya tidak ingin memberinya nama. biarkan saja semuanya menjadi misteri dan selamanya begitu, karena dalam kemisterian itulah terkadang kenikmatan akan semakin jelas sempurna. tak usahlah terlalu cerewet dengan bertanya siapa, apa, dimana dan akan kemana. biarkan semuanya terjawab satu-satu seperti semalam. terjawab satu-satu. dan, sekali lagi terjawab satu-satu.
mungkin setengah sadar ketika aku meminta pengulangan itu, dan setengah sadar pula ketika aku mengatakan akan ada sesuatu satu jam lagi, dengannya aku seolah-olah seperti berjanji pada diriku sendiri, yang aku sendiri menjadi terbeban karenanya dan mau tidak mau harus kupenuhi. lagi-lagi kujalani saja sama seperti dia yang menyelesaikan sarapan paginya dengan sangat sederhana sekali, hanya segelas teh hangat dan tiga potong tempe. biasanya orang-orang klau sarapan harus empat sehat lima sempurna, ada susu, ada roti, ada nasi lengkap dengan lauk-pauknya. ah...akupun tak melakukannya pagi ini, sama seperti pagi-pagi yang telah lalu. sedikt perbedaan pagi ini aku sama sekali tak merasa lapar karena aku masih belum ingin turun dari puncak nikmat itu.
tolong, untuk sesaat ini jangan memintaku untuk memberimu bonus karena waktu yang telah lebih sedikit itu. aku sedang berusaha merampungkannya di sela-sela pusingku, untuk kau ketahui saja, badanku masih belum sempurna betul rasanya. itu karena semalam yang ketiga kalinya aku tertidur dilantai karena kehadiranmu. jadilah tadi selepas subuh aku mengenggelamkan kembali tubuhku ke tempat kecil dimana aku menggeliat biasanya. itupun diselingi oleh pesan-pesan dengan seribu makna yang terkatakan dengan kedalaman rasa dan hasrat yang menggebu. setelah ini, aku menyerahkan semuanya kepadamu. selamat menikmati persembahan kecil dari burung kecil.

Selasa, 11 Juli 2006

"Dan Ku cemburu"

By On Juli 11, 2006
Ketika jantungnya bergetar
aku terdiam dalam hening ingin menuntun tangannya ke dada
seperti pernah kuajarkan kemarin-kemarin lewat batin
aku sendiri tanpa sengaja menelentangkan telapak tangan tepat di tulang dada
lalu aku bebrbisik sendiri: sekuat inikah getaran dijantungya
auh…darahku berdesir deras…
deras sekali…telapak tanganku hampir melepuh
aku hampir terpurukaku menarik nafas dalam-dalam
seperti pernah kuajarkan kemarin-kemarin lewat batin
dan……
jantungku cemburu

"Sandaran Hati"

By On Juli 11, 2006
yakinkah kuberdiri
di ampa tanpa tepi
bolehkan aku mendengarmu
tuk kubur dalam emosi
yang tak bisa tersembunyi
aku dan nafasku merindukanmu
terpuruk kudisini
terangi ayat sepi dan kutahu pasti kau menemani
dalam hidupku kesendirianku
teringat ku teringat
pada janjimu ku terikat
hanya sekejap ku berdiri
kulakukan sepenuh hati
peduli klu pedeuli
siang danmalam yg berganti,
sediku ini tak ada arti
jika kau lah sndaranhati
kau lah sandaranhati......
inikah yag kau mau
benarkah ini jalanmu
hanyalah engkau yg ku tuju
pegang erat tanganku
bimbing langkahku aku hilang tanpa hadirmu
dalam gepanya

malam hariku
teringat ku teringat pada janjimu ku trtikat
hanya sekejap ku berdiri
kulakukan sepenuh hati
peduli klu pedeuli siang dan malam yg berganti
sediku ini tak ada arti jika kau lah sndaran
hati kau lah sandaranhati
sandaran hati........

"Ku katakan sesuatu untuk mu"

By On Juli 11, 2006
persembahan untuk seseorang
jika saja aku diberi kesempatan untuk memilih dan memelihara dari sekian bunga yang ada ditaman hatiku, ijinkan aku memilih Melati saja dari sekian bunga-bunga yang lain. bukan aku ingin mengatakan mawar itu tak indah, atau kenanga itu tak harum karenanya aku tak memilih mereka. bukan, bukan karena itu. aku memilih Melati karena ada kebersahajaan dari kesederhanannya. bunga-bunga lain, menganggapnya tak istimewa barangkali, daunnya tidak terlalu bagus dan bungannya kecil, dia juga jarang dilihat orang karena pohonnya yang kecil. bunganya juga tidak warna-warni seperti bunga yang lain. tapi disanalah letak kekagumanku padanya, pada Melati yang menjelma dalam bayang-bayang mu. yang tidak pernah berubah meski hujan dan panas menerpamu, kau jarang dipetik oleh tangan-tangan jahat bukan karena kau tak elok, tapi karena mereka tak pintar melihat keanggunanmu. percayalah...kalaupun aku memilihmu bukan untuk memasungmu dalam kerangkeng besi hingga untuk bernafaspun kau kesulitan.
lihatlah pada kesakralan cinta, hanya kau yang ditebar, itu karena harummu tak terperikan, lihat pula, apa Mawar pernah bersanding denganmu untuk mensejajarkan kesederhanaannya? tidak. karena itu, kalaupun aku memilikimu tak lebih hanya untuk membuatmu merasa lebih berarti. tap pernah berniat untuk menyakiti atau menyiksamu.
aku ingin kita merasai hari bersama, merasai indahnya cakrawala bersama, merasai bahwa kita sama-sama berarti dan ingin selalu berarti. merasai mendung dan gelisah dalam geliat ritme yang teratur dan rapi, hanya itu yang kuingin, tidak lebih, apa salah jika kemudian aku ingin menaruhmu di salah satu ruang dihatiku yang tidak terlalu besar ini? yang sebagiannya telah terisi oleh asap dan polusi kota metropolitan ini. agar kau terhindar dari tangan-tangan jahil yang senantiasa ingin merusakmu? memetikmu lalu mencampakkkanya dalam semak-semak. dan aku, sesekali ikut merasai aromamu yang segar itu, itupun kalau kau mengijinkan. dan aku tidak pernah memaksa.

"Menebus Cemburu"

By On Juli 11, 2006
dengan ditemani
hujan dan gelisa....
kalau hari ini kau bertanya padaku siapa yang paling aku sayangi dan cintai, jawabku adalah kamu. kalau kau bertanya mengapa jawabku adalah karena kau sering membuatku ingin menangis. bilapun kau masih bertanya begityu aku akan menjawab begini,
sekarang duduklah dengan manis dihadapanku, tatap kedua bola mataku, apa aku sanggup membalas tatapanmu yang lembut itu? kemudian pegang kedua tanganku, apa aku terasa gemetar? lalu, letakkan sebelah tanganmu ke dadaku, apa kau merasakan deguban jantungku yang tak beraturan? lihatlah bibirku, apa kelihatan bergerak-gerak seperti ingin berbicara namun tak ada sepatah katapun yang terkatakan? apa aku menunduk? apa aku berusaha melepas genggaman tanganmu?apa aku kelihatan pucat? apa aku sesekali terpejam dan mafasku tak beraturan?
baik, sekarang sudah cukup. cukup kau menjawabnya dalam hati saja. sekarang, apa kau percaya bahwa rindu dan sayangku hanya untuk mu seorang? apa kau percaya bahwa malam-malam yang terlewati hanya kau yang ada dalam teriakan-teriakan rinduku? kau percaya ketika aku ingin tidur tetapi tiba-tiba aku bangun hanya untuk menulis sesuatu untukmu, itu karena aku ingat kamu.
ah, rasanya kamu tidak akan percaya, tanganku telah pegal. tubuhku letih dan penat, kepalaku pusing tetapi aku tidak ingin beranjak dari dekatmu hingga kau yang meninggalkanku. tanpa permisi, tanpa pamit. pun begitu aku tidak marah, hanya ada sedikit rasa kesal dihati, bukan hanya padamu tapi kepada semua orang yang melakukan hal yang sama, aku tidak suka cara begitu, tidak sopan. tapi baiklah, aku tidak akan menyalahkanmu, mungkin saja disconect atau listriknya sedang mual, itu semua bisa saja terjadi.
apa sekarang kau percaya dengan semua yang kukatakan?
tidak percaya juga tidak apa-apa. bukankah kata orang-orang, cinta adalah banyak memberi kalaupun harus menerima itu bukan karena dipinta. cinta adalah kerelaan dan bukan paksaan. ups, maaf, bukan aku sok tahu tentang cinta, ituhanyalah kata orang-orang saja. atau kau akan menjelaskannya padaku?
lihatlah sekarang, kantukku hilang, mataku melebar. bukan karena yang lain tapi karena kamu. lagi-lagi terlalu jujur. sekarang jantungku benar-bernar berdebar, melebihi debaran ketika dua bocah saling berebutan dipangkuanku, ketika keduanya berebutan mintal untuk diperhatikan lebih dari yang satunya. anak-anak ku yang lucu, penghilang rasa lelah dan kantukku. tetapi kamu bisa melakukan lebih hebat lagi dari apa yang mereka lakukan. kalau mereka sesekali hanya membuatku kesal, maka kau bisa membuatku menangis, entah karena sedih atau karena terharu. kalau mereka senantiasa membuatku terpingkal-pingkal, maka kau membuatku terbang dengan cara yang tidak biasa. yang hanya kau yang bisa melakukannya.
lihatlah bagaimana ketika kau cemburu melihatku menuliskan sesuatu untuk seseorang yang isinya sangat biasa sekali, padahal hampir setiap ahri aku menuliskan surat cinta untukmu, untuk kau baca disela-sela lelahmu. sebenarnya kita sama-sama cemburu hanya saja aku berbeda menyikapinya. tapi aku suka caramu cemburu, terlalu vulgar. katamu, pembagian cemburu yang tidak adil.
untuk untuk kamu ketahui, aku ingin menebus rasa cemburumu itu dengan ini. entah kamu berbunga atau tidak, atau malah cemberut nantinya. mungkin aku akan segera tahu, itupun kalau kau berkenan berbagi isi hatimu denganku. ini adalah jawabanku atas pertanyaanmu kemarin siang.
sini, mendekatlah padaku. sekarang letakkan kembali tanganmu di dadaku, sudah mulai normalkah detakannya? dan aku mulai sanggup membalas tatapan matamu yang lebmbut itu. aku tak takut untuk tidak menunduk lagi, malam ini hujan, aku harap kau tahu apa yang ku inginkan.
sekarang, kamu percayakan tidak akan ada yan gmeninggalkanmu, dan akan selalu ada yang menemanimu menangis, menemanimu dalam sesak karena gedung yang telah menjerembabmu didalamnya. bahkan aku ingin mendengar suara-suara jangkrik itu disetiap malam denganmu, sampai telinga kita bising hingga akhirnya kita menutup jendela.
aku ingin selalu merasai panas dan dingin, terik dan hujan hanya bersamamu. ah, lagi-lagi terlalu jujur.
jujur tidak selamanya menyakitkan tetapi terkadang juga memalukan.
semalam, ketika kau tidur aku menatapmu lekat-lekat. nafasmu begitu pelan dan teratur. aku jadi tak tega untuk membangunkanmu dan megnatakan semua isi hatiku saat itu. siang ini, bila kau sudh menyelesaikan semua pekerjaanmu maka bertandanglah kesenarai cintaku, ada sesuatu yang telah kupersiapakan untukmu, isinya adalah seperti yang telah kau baca tadi.
jika sudah selesai, jawablah beberapa pertanyaan dariku.
apa kamu tersenyum setelah membacanya? apa hatimu berdebar? apa kamu bahagia? apa kamu ingin cepat-cepat pulang setelah ini? dan memelukku dengan erat? atau kamu bermaksud membalas surat cintaku ini? apa setelah ini masih ada keraguan? apa setelah ini m,asih ada air mata yang berlinang? terakhir, apa kau akan mengajakku melihat bintang nanti malam?
dari gazebo kecil yang ada kolam dibawahnya, yang ada bunga-bunga bergantungan disekelilingnya, yang aromanya masuk ke tempat dimana sebagian waktu kita habis disana, menekan tuts-tuts piano yang hitam putih itu dan kita hanyut dalam gerakan yang berirama.
kalau semuanya sudah terjawab, sekarang ijinkan aku beristirahat. ijinkan aku tidur sejenak sebelum kau pulang dan menggodaku lagi, tetapi sebelumnya aku ingin mendengar sesuatu darimu, katakan dengan tulus dan ikhlas, dengan lembut nyaris berbisik, disini, ditelingaku, katakan, aku sayang kamu cinta...dan aku akan memejamkan mata.
burung kecil
22:32 wib
10/07/06

Minggu, 09 Juli 2006

"Apa itu cinta ?"

By On Juli 09, 2006
Aku bertanya kepada alam
Apa itu cinta



Dan Mentari menjawab
Cinta adalah ketulusan memberi tanpa berharap untuk menerima
Memberi kehangatan kepada mereka yang diterjang beku
Memberi terang kepada mereka yang terjebak gelap
Cinta adalah memilah bulir kejernihan
Dan mengirimnya ke ladang yang tandus
Dan turun menemui dedaunan pagi sebagai bulir sejuk embun




Dan
Pohon menjawab
Cinta adalah jemari kasih yang menghunjam kokoh ke dalam sanubari kehidupan
Cinta adalah keteguhan hati diterpa angin semakin kau menumbuhkannya
Cinta adalah rindang tempat kau berlindung dari terik perjalanan
Cinta adalah kelapangan jiwa ketika kau mampu memberi buah kebaikan walau kau dilontar oleh batu keburukan




Dan
Angin menjawab
Cinta adalah kekuatan
Yang dapat menghantarkan biduk citamu menuju pantai harapan




Dan
Tanah menjawab
Cinta adalah keikhlasan Ketika saripati kasihmu membuahkan beragam makanan
Tatkala kau diinjak dan diludahi



Dan
Samudera menjawab
Cinta adalah sebuah misteri
Kau hanya akan mendapatkan keindahannya
Jika kau benar-benar menyelami ke dasarnya
Dan Lilin menjawab Cinta adalah pengorbanan
Ketika kau mampu memberikan semua yang terbaik demi terang terpercik
Menuntun mereka untuk mendapatkan titian hidup yang benar




Dan
Bunga menjawab
Cinta adalah ketelatenan dalam menumbuhkan,
mengembangkan dan menjaga
Selalu menyiraminya dengan air dan matahari
Dan Ketika semua sisi alam seolah berlomba untuk mengungkapkan jawabannya
Aku bertanya pada diriku sendiri....
Sudahkah aku mencintai ?




"Akan ada pelangi yang cantik setelah turunnya hujan.."

"Cinta dan Perkawinan"

By On Juli 09, 2006
"Apa itu cinta?
cinta"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).
Sebenarnya aku telah menemukan
yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.
cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,
"Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana.
Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh)
dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja.
Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang
paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"
Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.
Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“
Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.
Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat
dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.
Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.
Adalah proses mendapatkan kesempatan,
ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya,
Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Jumat, 07 Juli 2006

"Bersaksi ditengah Badai" (seikat kembang dari sang kakak)

By On Juli 07, 2006
Ytc. Dinda Ihan
ini buku pertama yang bisa kamu cerna
selama 1 bulan.
menyusul 99 buku lagi
artinya kamu harus mempersiapkan
100 (seratus ) bulan agar bisa jadi:
"Pimpinan Masa Depan"
medan, 28/06/06
Kakak
----------------------------------------------------------------------------------------
kalimat singkat dari seorang kakak kepada adiknya, yang bahkan namanya saja ia tak tahu siapa. singkat dan sederhana. tapi menyiratkan seribu makna yang dalam. dalam. dalam.
sesuatu yang ku tunggu-tunggu sejak seminggu terahir tetapi baru sampai kemarin, ah kakak, lagi-lagi ia mencandaiku dengan cara yang tak biasa. sesuatu yang katanya aku adalah orang ke-4 yang memilikinya di naggroe tercinta ini, tidakkah aku merasa istimewa dibuatnya?
terimakasih kakak...
adik kecil

"Kembang Kehidupan"

By On Juli 07, 2006

kembang-kembang kehidupan.
sebuah taman akan lebih indah bila ditumbuhi tidak hanya dengan satu jenis bunga saja. siapa yang membantah kalau mawar itu cantik, tetapi akan terasa lebih sempurna jika dipadukan dengan kuntum-kuntum melati, kelopak mayang kenanga yang harum bisa juga lili dan asoka. tidak semua bunga harum, begitu juga tidak semua bunga cantik bentuknya. namun, dalam kelengkapan itu masih saja kurang lengkap bila tidak ditumbuhi oleh serumpun dua rumpun tanaman liar atau rumput.
rumput, kalau boleh diibaratkan adalah seperti kesedihan dalam catatan kehidupan kita, adakalanya ketika kebahagiaan itu tengah menyala-nyala, kesedihan menyelip tanpa disadari. mendesak-desa ruang jiwa hingga mengalirkan derai tangis yang tak tersuarakan. seperti terik siang yang tiba-tiba harus segera bertukar dengan hujan yang lebat bahka disertai angin lebat. ada saat-saat kita merasa tidak memerlukan rumput dalam catatan kehidupan kita, tapi hidup menjadi sangat tidak berwarna hanya dengan mengecap bagaimana rasanya bahagia saja.
hidup adalah butiran-butiran warna yang beraneka, sangat tidak lengkap bila hanya dihiasi oleh satu warna saja, karena pelangi saja berwarna-warni konon lagi kehidupan kita yang tak pernah lepas dari penat dan lelah, tidak cukup, airmata, gelisah dan cinta juga sayang. bukankah kita ingin kaya? tidak hanya dengan cukup mempunyai mobil saja? tapi juga rumah besar, kebun yang luas, ternak yang banyak. begitupun hidup, tidakkah kita ingin menselaraskan antara merah, kuning, hijau dan biru? agar semuanya terlihat sempurna dan mengagumkan. sehingga ketika ada yang membicarakan pelangi kita bisa merasakan dan membayangkan bagaimana indahnya pelangi dan ketika ad yangmenceritakan kegelapan kita juga bisa ikut merasakan kengerian yang ada dibalik kegelapan, walaupun gelap belum berarti selamanya menakutkan. tapi dengan kekayaan warna kehidupan tadilah kita bisa berempati kepada sesama. warna-warna yang tak ubahnya seperti kembang-kembang yang ada dalam taman hati kita.
bukankah kita tak pernah merasai bagaimana lelahnya mencabuti rumput-rumput tersebut bila tak pernah ada rumput dalam taman didepan rumah kita? lalu bagaimana pula bisa menghargai pelu orang lain tatkala mencari sesuap nasi untuk keluarga? bukankan kita tak pernah merasa bagaimana sakitnya menderita bila sekalipun tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya hidup? lalu bagaimana bisa mengeluarkan sekeping atau dua keping rupiah pada pengemis yang pagi atau siang tadi kita lewati di perempatan jalan.
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email