Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 30 Agustus 2006

yang tidak ku mengerti

By On Agustus 30, 2006
ada yang tidak ku mengerti dari diamnya orang-orang yang dingin
juga dari orang-orang yang sangat halus perasaannya
ada yang tidak ku mengerti juga dari jiwa ini
kenapa itu menjadi begitu pentingnya


ada yang tidak ku mengerti dari diamnya orang-orang yang dingin
mungkin saja salah penterjemahan
juga dari orang-orang yang lembut perasaannya
terlalu perasa
sehingga menjadi tidak perlu


aku tidak mengerti semua ini
dan kenapa terjadi padaku
untuk kalian
aku minta maaf atas kesalahan yang aku lakukan
yang aku sendiri tidak tahu itu apa

Selasa, 29 Agustus 2006

"meninggalkan Zal"

By On Agustus 29, 2006
“Sebelum kau benar-benar pergi. Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu, ucapkan satu kata yang tulus, bahwa kau mencintaiku sepenuh hatimu. Dan aku akan merasakan kau selalu disini”.
Mekar menggamit tangan Zal dan meletakkan tepat didadanya, ia yakin laki-laki itu merasakan detak jantungnya yang kencang. Juga air matanya yang menghangat. Mekar juga yakin kalau laki-laki itu bias memahami apa yang sedang dirasakan olehnya saat ini. Memang tidak mudah melepas cinta dengan cara seperti ini, meletakkannya di satu tempat yang jauh lalu meninggalkannya tanpa keihklasan dan kerelaan, hanya kesadaran logika sajalah yang mendasari semua itu. Hatinya pasti sakit dan terkikis pelan-pelan. Akankah ia patah hati?
“Hari ini Jumat, tujuh Mei dua ribu sepuluh, genap dua puluh lima tahun usiaku. Aku rasa sudah cukup aku belajar bagaimana mencintai dari mu. Aku sudah cukup belajar bagaimana caranya menyayangi dan mengasihi seseorang. Dan sepertinya memang sudah cukup kau mengajariku tentang makna cinta yang sesungguhnya Zal”.
Mekar merebahkan kepalanya kepundak Zal, tangannya terus menggenggam jemari yang panjang dan besar itu. Mungkin ia tak perlu berkata lagi, toh semuanya telah menceritakan dengan jelas dan rinci. Matanya merah dan berair satu pertanda bahwa ia tak menginginkan semua ini terjadi. Tangannya gemetar, hatinya bergetar, seluruh persendiannya lemas dan seolah tidak berfungsi.
Zal merapatkan pelukannya, inilah detik-detik paling mendebarkan selama waktu yang mereka jalani. Tak pernah ia merasakan setegang ini sebelumnya. Ia hamper tidak punya kata-kata, bahkan untuk menenangkan hatinya sendiri.
“Mekar, kamu tetap akan menjadi adikku, adikku yang manis, adikku yang baik, seperti janji kita dulu kelak jika cinta ini harus berakhir. Kita tetap akan selalu bertemu kapan saja kita mau dan melepas rindu dengan cara yang berbeda. Satu hal yang tidak pernah aku sesali adalah mengenalmu dan aku jatuh cinta padamu.” Suara Zal patah-patah. Terdengar berat dan parau. “lima tahun bersamamu rasanya seperti lima hari, aku masih ingin terus merasakan kehangatan dan kelembutan jiwamu, aku masih ingin mendengar kau memanggil namaku saja, Zal…meski usia kita terpaut sangat jauh. Aku masih ingin merasakan cemburu mu ketika aku menceritakan pacar-pacarku yang dulu. Aku masih ingin disisa-sisa waktu kepulanganku kau menemaniku dan mencandaiku…”.
“Tidak akan pernah bias lagi, Zal”. Sela Mekar
“Inilah penghujung dari pelajaran cinta yang sebenarnya, kalau kau merasa sedih dan patah hati aku pun sama. Tapi kita tetap melanjutkan hidup…”.
“Zal…”.
“Ya?”.
“Ternyata aku tidaklah sekuat yang kubayangkan selama ini, lima tahun waktu bersama telah merenggut semua cinta yang kupunyai. Kemudian aku menanggalkannya dan mencari cinta yang lain. Aku tidak yakin bias mencintai yang lain seperti aku mencintaimu…aku juga tidak tahu apa yang lain itu bias seperti mu Zal, yang bias mengajarkan cinta kepadaku dengan sesungguhnya…aku tidak tahu Zal”.
Tubuh Mekar terguncang, bibirnya bergetar. Sungguh tak pernah terbayang sebelumnya sisa waktu cinta itu akan seperti ini ujungnya. Harus dihancurkan berkeping-keping, harus terserak-serak.
“Kamu gadis terkuat yang pernah ku kenal. Kau telah berhasil melewati waktu lima tahun itu dengan sangat luar biasa sekali. Kau telah lalui malam-malammu dengan gelegak rindu dan letupan cinta sendirian, tanpa aku. Aku tidak selalu ada didekatmu ketika kau memerlukanku, dank au selalu setia untuk ku. Bukankah itu arti kekuatan yang sesungguhnya? Ketika logika mampu mengendalikan rasa dan ego. Selama lima tahun, coba hitung berapa kali kita pernah bertemu? Kau kuat saying ku, gadisku, adik kecilku yang manis dan lembut…kau kuat”.
“Zal…aku mencintai mu”.
“Aku juga. Sangat”.
“Boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir kali?”
“Apa aku pernah melarang gadisku memelukku?”.
Keduanya terdiam, bahasa tubuh merekalah yang berbcara. Lewat detakan-detakan jantung dan tubuh yang tergoyang akrena isakan. Angin bertiup lembut masuk dari jendela yang menghadap ke pantai. Menyapu lembut wajah keduanya dengan mesra. Mekar melepas pelukannya, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkan ke Zal.
“Apa ini?”
“Memoar. Kau tahu Zal, lima tahun waktu bersamamu telah memberikan banyak inspirasi bagiku dan jadilah aku seperti sekarang ini. Di dalam memoir ini ada surat-surat cinta kita yang aku kumpulkan, juga ada beberapa kartu yang kau kirim untuk ku. Ada potongan pesan pendek mu, ketika kau marah. Setiap detik bersamamu adalah keistimewaan karenannya aku tidak ingin menghilangkannya…”.
“Terima kasih…”.
“Sama-sama. Aku harus pergi Zal. Waktuku sedikit lagi. Setelah ini mungkin entah kapan lagi kita ketemu, tapi kalau aku rindu aku akan mengunjungi tempat ini dan menebus rinduku dengan cara yang tidak biasa itu…”.
Mekar bangkit lalu membenarkan letak kerudungnya yang bergeser. Matanya masih sembab dan merah. Hidungnya berair dan suaranya serak. Zal masih terpatung menatap memoir yang bersampul biru itu. Ada nama mereka yang terukir dengan huruf latin berukuran 16. cantik sekali. Tampak indah dan bermakna. Zal melihat bayangan Mekar dari cermin, ada luka lebar yang menganga terpancar dari sorot mata gadis itu.
“Aku pergi honey…mulai sekarang aku hanya adik bagi mu”
“Mekar, tidak adakah waktu sesaat lagi untuk ku?”
Mekar menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Zal yang tertunduk lesu di tepi ranjang. Matanya sendu. Ia tampak seperti berbicara tapi tidak jelas apa yang dia katakana. Mekar memeluknya dan merebahkan kepalanya keperutnya, ia membelai dan mencium kepalanya berulang-ulang.
“Zal, sisa waktu kita telah habis. Sekarang pulanglah. Anak-anak pasti sudah menunggu mu dirumah. Bukankah kau sudah berjanji pada mereka untuk membawa mereka jalan-jalan hari ini? Minggu depan kau sudah harus kembali ke tempat mu bekerja dan baru pulang bulan berikutnya. Manfaatkan sisa waktu mu dengan anak-anak dengan baik”.
“Terimalah ini…”
“Apa ini?”
Zal tidak menjawab, ia menarik tangan Mekar dan melingkarkan cincin itu di jari manisnya.
“Jangan lepas dan selalulah memakai nya..”
“Baiklah...terima kasih banyak. Sekarang pulanglah kerumah…”
Mekar mencium keningnya, lalu pergi dan tak menoleh lagi.

***
Apakah selalu terlarang mencintai seseorang yang sudah tidak sendiri lagi? Apakah selalu hina mencintai laki-laki yang tidak tepat? Haruskah ia menghukum diri atas semua itu? Lalu bagaimana caranya?
Kalau rasa bias diarahkan. Kalau cinta bisa ditentukan, ia pun tidak ingin mencintai laki-laki itu, yang usianya terpaut 18 tahun diatasnya. Tapi sayangnya cinta dan perasaan tidaklah seperti jarum jam yang tidak mungkin berputar terbalik. Dan waktu membawanya pada cerita ini, ia mencintai Zal. Dan Zal membalas cintanya.
Mekar bangkit dari tidurnya, ia membuka note booknya dan iseng membuka inbox di emailnya. Ada pesan masuk, dari Zal.

Gadisku,

Sebelum kau benar-benar pergi
Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu
Ucapkan satu kata yang tulus
Bahwa kau mencintaiku
Sepenuh hati
Dan aku akan merasakan
Kau selalu disini
Dihati ku

Zal

Mekar melihat cincin yang melingkar dijari manisnya, ia tersenyum. “ kalau orang melihat ada cincin dijari kananku…itulah cincin dari Zal”.
Dan malam semakin tua…




Rumah Adam
09:35 – 11:15 wib
29/08/06

Lukisan Krayon

By On Agustus 29, 2006

Kemarau telah membuat suasana menjadi kering. Syukur kampus ini terletak di dalam hutan (tidak tahu kenapa kampus ini dibuat seperti didalam hutan, katanya sih dari rektor dan jajarannya terdahulu yang semuanya berasal dari Gadjah Mada sehingga suasana kampus ini mencontoh plek apa adanya UGM) sehingga kemarau hanya berdampak pada banyaknya daun kering. Di jalanan, di halaman, di atas tanah hingga di atas selasar, hanya kerontang saja yang terlihat. Bedanya, angin lebih sering dan lebih banyak bertiup. Seperi saat ini, pukul dua siang, angin bertiup pelan.
Mm, jalanan sepi, sekaranglah waktunya. Wuss!! Kupacu Suzuki Satriaku, suaranya meringkik seperti kuda yang digebah. Angin menerpa wajahku dan dari spion kulihat dedaunan kering berhamburan, beterbangan kaget. Nikmat sekali. Terima kasih kepada pabrik sepeda motor Suzuki yang telah menciptakan motor yang tau betul dengan selera ngebutku, seperti Satria ini. Seseorang sedang berjalan kaki di pinggir jalan, dengan tas rangsel kuliahnya yang berisi dua tabung sebesar bumbung shuttle cock, lebih besar sedikit. Iseng ah, sepeda motorku kupacu lebih cepat dan melewati orang itu dengan jarak tidak lebih dari satu sentimeter saja! Ia terkejut amat sangat hingga terloncat ke rerumputan sisi jalan. Dari kaca spion kulirik ia menggumamkan sesuatu. Aku berhenti mendadak, berbalik arah.
“Ngomong apa barusan!”
“Ngomong apa?”
“Tadi ngomong apa? Nyumpahin gue ya!”
“Tidak.”
“Awas ya!”
Matanya menatapku. “Mbak yang salah kok marah sih?”
“Eh kamu, berani ya?”
“Ei, dimana-mana, cewek berjilbab tuh ngomongnya santun gak ketus gitu. Lagian bawa motor kaya kesetanan gitu, bahaya tau!”
“Sok teu!” Ngeeng..., aku ngebut kembali.
Laki-laki itu adalah Alip. Aneh, dia mahasiswa ekonomi Studi Pembangunan, tetapi tas rangsel kuliahnya berisi bumbung-bumbung seperti mahasiswa teknik sipil. Aneh emang.
***
Sekarang Akuntansi Biaya I.
“Ir, kamu tahu Alip?”
“Wat? Alip? Anak Sisa Penjurusan itu?” Kami menyebut anak-anak SP (Studi Pembangunan) dengan plesetan Sisa Penjurusan kami menganggap mereka sebagai mahasiswa ekonomi kelas dua. Beda dengan jurusan kami Manajemen.
“Iya, kenapa? Gak ada cowok lain apa yang bisa ditanyakan?”
“He he he, nama lengkapnya siapa yah?”
“Alip Ba Ta Tsa kali?”
“He he he, kayanya bete amat?”
“Iya, tadi pagi aku bawa motor, hampir nyerempet dia, padahal gak kena, tapi dianya marah, sebel!”
Kelas bubar.
“Ir, ngenet yuk?” Maksudnya ke College Net, fasilitas IT yang dibangun dan disediakan oleh fakultas Teknik Informasi. Disamping mengenai seluk beluk kampus, mulai dari urusan kademis seperti KRS dan LHS hingga ke urusan yang ringan-ringan saja, seperti cerita-cerita roman picisan postingan mahasiswa baru atau jadwal pertandingan bola antar fakultas dan macam-macam lah. Bagi yang iseng, dapat juga dijadikan tempat untuk mencari tahu tentang seluk beluk seseorang mahasiswa di sini. Seperti yang dilakukan Imas saat ini setelah berhasil setengah memaksaku masuk ke ruangan ini.
“Ir, coba liat, bagaimana ia melakukan ini?” Imas memperlihatkan biodata Alip yang kosong melompong. Hanya nama, Alip!
“Iya ya?” Aku juga terperangah. Tidak mungkin ia dapat melakukannya. Tidak seseorangpun yang dapat lolos. Siapapun yang hidup di Universitas ini harus tercantum di sini. Mulai dari Rektor hingga tukang kebun sekalipun. Asal terdaftar! “Ah mumet lah Mas, pulang yuk?”
“Kamu tidak tertarik?”
“Apa? Stroberi mangga apel!”
“Maksudnya?”
“Sori nggak lepel!”
“He he he, oke nona.”
Berdua sekarang, ngebut lagi.
***
Satu hari bersama ayah. Sebuah acara anak TK yang melibatkan orang tua murid, ayahnya. Adam ponakanku telpon ayahku, kakeknya karena orang tuanya tidak bisa hadir. Orang tuanya, kakakku bekerja pada perusahaan Microsoft dikawasan industri didekat sini, dalam area yang luasnya mencapai 300 Ha, didalamnya terdapat seluruh fasilitas yang dibutuhkan para pegawainya, termasuk ‘Flower Kidergarden’ tempat Adam sekolah TK.
Sore harinya, sebuah lukisan terpasang di dinding ruang tamu.
“Baru beli yah?”
“Beli dari Hongkong? Lha Ayah gak punya duit?”
“Emang mahal lukisan kayak gitu?”
“Jual Satriamu, baru dapat.”
“Ah, berarti nyampe sepuluh jutaan dong?”
Lukisan itu memaksaku menatapkan mata padanya. Memang luar biasa indahnya. Harimau yang sedang menyeberang sungai. Separuh badannya di dalam air separuh lagi di permukaan. Air yang dilaluinya beriak membuat gelombang-gelombang berbentuk elips. Matanya menatap kepada kita yang sedang menikmati lukisan itu. Benar-benar hidup. “Lukisan cat minyak yang indah sekali.”
“Krayon! Tadi guru TK itu memberikannya untukku. Dia pelukis yang sangat berbakat. Sambil mendemonstrasikan caranya mengajar melukis, ia juga memajang hasil karyanya. Beberapa bapak membelinya. Ayah beruntung diberi gratis. Coba lihat berapa harganya.
“Empat belas juta rupiah! Hah!
A Gardner, nama pelukisnya.
***
Hujan! Negeri yang memang amburadul, sampai cuacapun sudah tidak menentu. Mungkin ini hujan pertama diakhir musim kemaru ini. Terserahlah.
Jalanan basah, debu-debu hanyut dan air kotor mulai tergenang. Berarti kendaraan harus berjalan pelan. Wow, tidak ada itu dalam kamusku. Tancap terus, apalagi kuliah sebentar lagi mulai. Emang Diko pacarku itu sialan banget. Tadi dia janji akan jemput untuk berangkat bareng. Hingga tinggal beberapa menit lagi kuliah mulai tetap tidak kelihatan batang hidungnya. Terpaksa deh aku berangkat sendiri.
Nah, ni dia nih tempat melampiaskan kesal. Jebreet, sepeda motorku melintasi genangan air. Segera air kotor itu muncart ke kiri dan ke kanan, seorang di pinggir jalan menjerit. Ia memegangi pakaiannya yang basah dan kotor. Kelihatan wajahnya kesal sekali sambil mengacungkan telunjuknya ke arahku. Orang yang kesal dan sedih itu bersiap berbalik arah pulang, ketika sepeda motorku menghampirinya.
“Hei jelek, ngomong apa barusan?”
“Kamu tega sekali, aku tidak bisa kuliah, aku harus pulang.”
“Bodo! Monyet jelek!”
“Hei, kamu jahat sekali!” Ia menatapku heran
“Miskin belagu!” E Ge E lah, emangnya gue EGP! Aku memutar Satriaku lagi, tanpa bisa kutahan, sebuah angkot nyelonong, dan, GELAP!
Aku terbangun menatap botol infus yang tergantung dan sekujur tubuh yang serasa remuk. Tangan dan kakiku sebagian sudah diperban. Ah, rumah sakit lagi, sudah dua kali sepeda motor itu membawaku ke rumah sakit. Tak lama ortuku dan perawat masuk.
“Yah, aku jatuh lagi.”
Ayahku hanya tersenyum dingin.
“Sus, siapa tadi yang membawanya kesini?” Ayahku bertanya.
“Temennya pak, gak tahu namanya, pakaiannya basah kuyup.”
Kenapa lagi monyet jelek itu pakai nolongin segala, sok pahlawan!
Beberapa hari berlalu, aku berharap segera dapat keluar. Tapi mereka masih memberikan obat-obatan dan melakukan beberapa pemeriksaan.
“Sus, itu buah sama bunga dari siapa?” Aku berharap Diko yang membawakanya atau kalau tidak, mungkin Rio. Mereka pacar-pacarku.
“Oh, dari temennya mbak, yang kemarin mengantarkan mbak kemari.”
Ngapain lagi tuh anak sok perhatian segala. “Bawa keluar aja sus, buahnya kalau sus mau boleh untuk suster aja.”
“Iya, mbak, mas itu juga bilang kalau tidak suka tidak usah diterima gak apa-apa, cuma suratnya mohon dibaca.” Suster itu beranjak membawa keranjang buah dan karangan bunga itu keluar setelah sebelumnya memberikan sepucuk surat, lebih tepatnya kartu ucapan untukku.
‘Ir, semoga lekas sembuh.
Sakit dan sehat datangnya dari Yang Maha Kuasa. Sehat baik agar kita bisa berbuat banyak. Sakitpun baik agar kita tahu nikmatnya sehat dan bisa mensukurinya. Aku berharap kiranya sakit ini dapat memberikan cukup waktu bagimu untuk beristirahat sejenak dari selera ngbutmu yang besar itu. Lebih dari itu, aku berharap dengan sakit ini semoga Allah melembutkan hatimu yang keras itu, melenturkan otot-otot bibirmu agar lebih mudah dan lebih banyak tersenyum. Meneduhkan sedikit sorot matamu yang tajam itu, dan memelankan sedikit suaramu yang kuat itu. Semoga sakit ini dapat menjadikan hatimu bisa lebih bersabar. Lebih dari segalanya, semoga sakitmu ini merupakan jalan bagi Allah yang kuasa untuk mengangkatmu ke derajat yang lebih tinggi. Semoga sakit ini sebagai tanda dari Allah kalau Dia benar-benar menyayangimu. Sebelum kertas ini kau buang, sekali lagi, Semoga lekas sembuh.
Sok religius!
Hampir saja kertas itu aku buang. Tapi jangan, kalau aku buang berarti dia benar telah menduga kalau aku akan membuangnya. Simpan saja dan dia salah. Aku tidak membuangnya.
Sakit sialan itu akhirnya berlalu. Lega rasanya bisa duduk di atas jog Satria lagi. Kami memang senasib, aku masuk rumah sakit, dia masuk bengkel. Lalu keluar bareng, ke kampus bareng lagi, ngebut bareng lagi.
Mengapa si Alip kok ada lagi disitu? Ha ha, niat isengku tiba-tiba muncul lagi. Gigi motorku kuturunkan satu dan gas kutarik lebih dalam, treeeeennnnngg.......
“Alip!” Seseorang memanggilnya.
Ia menoleh dan melangkah, DERR!!
Alip terkapar, diam! Aku menabraknya. Aku panik dan hanya diam terpaku. Orang-orang mulai berkerumun, sebagian membopongnya, sebagian memandangiku dengan bermacam makna. Mereka berlalu dan aku masih terpaku. Aku mengendarai sepeda motorku pulang. Aku sangat takut, aku cemas.
“Yah, aku nabrak orang.” Kataku pasrah
“Apa?”
“Aku nabrak orang.”
“Sekarang dimana dia?”
“Dibawa orang-orang.”
“Apa? Kamu tidak membawanya ke rumah sakit?”
“Aku takut yah, aku panik.”
“Massya Allah! Irina!”
Kami berdua bergegas menuju ruang tempat Alip dirawat, setelah menanyakannya pada petugas administrasi.
Tubuh itu terkapar, lebih parah dari keadaanku dulu. Ada dua infus, satu bening atu merah, pasti darah. Ada juga selang oksigen. Tubuh itu hanya diam.
Ayahku menyentuh lengannya, memandangi wajahnya. Lalu kulihat ada air mengalir dari sudut matanya. Setelah itu, ia jatuh berdebam, pingsan!
Setelah siuman, ayah memanggilku yang tengah duduk menggigil, pucat disudut ruangan itu. Kami duduk di kursi tamu kamar itu.
“Ir, kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, ayah tidak dapat memaafkanmu!”
Aku hanya diam.
“Kamu tahu lukisan itu? Itu dia yang memberikannya. Dia anak teman ayah dulu, teman yang dekat sekali, sudah seperti saudara. Setelah sekian lama tidak ada hubungan, ayah bertemu dengan Alip anaknya yang kebetulan mengajar lukis di sekolah Adam. Begitu Alip tahu siapa ayah, dia memberikan lukisan itu sebagai tanda terjalinnya lagi tali silaturrahmi. Malamnya ayah menelepon ayahnya dengan nomor yang diberikan Alip. Ayahnya sangat gembira dan sangat berharap agar ayah dapat jadi orang tua pengganti selama ia disini. Ia berharap ayah dapat menjaganya.”
“Alip,” Ayahku meneruskan cerita tanpa melihat padaku.
“Namanya Alip Gardner, sebenarnya ia bukan mahasiswa ditempatmu. Ia seorang Mahasiswa Universitas Leiden Belanda. Ayahnya duta besar disana. Ia dikirim ke Indonesia hanya untuk mengikuti kuliah beberapa semester saja. Dan Alip memilih di sini, di kampung halaman ayahnya. Ayah telah berjanji untuk menjaganya. Ternyata ayah tidak bisa menepatinya. Anakku sendiri telah kencelakainya. Ayah tidak tahu apa yang harus ayah katakan pada Zain, ayahnya, sahabatku.”
Aku melihat ada tetesan air lagi disudut matanya. Aku tidak pernah melihat ayah menangis seperti ini sebelumnya. Pasti kesedihannya tak terperi, tak terkirakan. Dan itu penyebabnya adalah aku.
“Ir, setelah ini, kamu tidak akan pernah naik sepeda motor lagi.” Ayahku berkata tegas, lalu pergi entah kemana, meninggalkanku sendiri.
Aku hanya duduk termangu dalam kekosongan. Seorang perawat lewat. “Sus, siapa tadi yang membawanya kemari?”
“Oh, teman-temannya mbak. Sebelumnya diletakkan di UGD, lalu dipindah ke sal. Trus Kedubes Belanda memintanya dipindahkan ke sini. Semuanya ditanggung Kedubes Belanda mbak. Tidak usah khawatir. Mbak pacarnya ya?”
Pacarnya? Aku pembunuhnya!
“Oh bukan-bukan”
“Kelihatannya sedih sekali, maaf mbak,” Perawat itu berlalu.
Pantas aja ia ditempatkan diruangan yang paling bagus, seperti kamar hotel berbintang lima.
Hari ini aku melukai dua orang. Seorang aku lukai tubuhnya, Alip, dan seorang lagi aku lukai hatinya, Ayahku. Aku sungguh tidak tahu cara mengobatinya. Aku hanya menunggui Alip siang dan malam. Aku hanya duduk di sisi tempat tidurnya. Kadang sampai tertidur. Kadang sampai tertidur, terbangun tertidur lagi. Hingga suatu ketika ia membuka matanya. Aku sangat gembira, ia tidak meninggal.
“Maafkan aku.” Itulah kata yang sanggup kuucapkan.
“Iya.” Setelah itu ia tertidur lagi dan aku hanya bisa menangis.
“Yah, Alip sudah siuman.” Aku menelepon ayahku. Yang menerima ibu. Sejak kejadian, ayah tidak keluar-keluar kamar, hanya berdoa terus menerus, siang dan malam.
***
Semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Alip sudah mengajar les lukis lagi, aku sudah kuliah lagi. Ayahku telah mengajukan permohonan maaf dengan resmi kepada orang tuanya Alip. Aku setiap hari mengantar Adam ke TK-nya. “Lip, aku minta maaf.” Aku mngucapkannya sambil Alip terus mengerjakan lukisannya. “Iya.”
“Kamu mau jadi temanku?”
“Aku sudah jadi temanmu.”
Dingin sekali jawabannya
“Mm, kamu mau jadi......Eh, kamu sedang melukis apa?”
“Melukismu.”
Ia memang sedang melukis sesorang yang sedang tergolek lemah di tempat tidur rumah sakit lengkap dengan selimut putih garis-garis kelabu, gantungan infus, thermos air, buah dan piring buburnya.
“Lip, boleh aku menganggapmu lebih dari sekedar temanku?”
“Maksudmu?”
“Aku mencintaimu.”
Dia berhenti menggoreskan krayonnya. “Ir, kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya merasa bersalah padaku.”
“Ooh.” Kata-kata itu telah menembus hatiku, meninggalkan gores yang pedih.
Beberapa hari setelah itu,
“Ir, Alip tadi menitipkan ini untukmu, sepertinya lukisan, minggu depan ia akan kembali ke Belanda.” Ayahku menyerahkan lukisan yang masih terbungkus itu.
“Ooh,” Aku mambawanya ke kamar dan membukanya. Lukisan orang sakit. Yang sedang terkapar itu aku. Tetapi lukisan itu tidak selesai. Orang yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, yang sedang menunggui sisakit hanya kertas putih saja. Kosong! Sama kosongnya dengan hatiku ketika itu.
Lukisan setengah jadi itu diam di sudut ruangan, aku sedang berdoa.
Allah Tuhanku yang maha melihat, melihat sampai ke lubuk hatiku, Aku tahu aku banyak sekali berdosa, aku tahu aku banyak sekali bersalah, hingga Engkau memerlukan mengirim seseorang untuk membenahinya. Bila engkau ingin menghilangkan sombong dari diriku, ia telah meluruhkannya. Bila engkau menginginkan ia menghilangkan tinggi hatiku, ia telah melenyapkannya. Bila engkau menginginkan aku lebih dekat padaMu, dia telah melakukannya. Dia telah menyadarkanku kalau diri ini kecil dan tidak berarti ya Allah. Engkau telah membulak-balik hatiku dengan cara yang tidak terduga sama sekali. Bila hanya untuk itu maka ia Kau kirim padaku, maka dia telah melakukan semuanya. Dan dia akan segera pergi. Bila Kau izinkan, perkenankanlah aku memohon padaMu agar Kau tunda waktu kepergian itu, untuk memberikan waktu bagiku menemaninya, menghapus salah-salahku padanya yang rasanya tak termaafkan itu. Allah, aku tidak malu-malu mengakuinya, aku mencintainya........
“Kamu akan segera pergi?”
“Mungkin hari Minggu.”
“Ooh, setidaknya kamu dapat menyelesaikan dulu lukisan ini.” Ketika itu Alip berpamitan padaku di rumah.
“Siapa yang kau harapkan duduk di situ?” Ia menunjuk ruang kosong yang berwarna putih.
“Kamu tahu sendiri, siapa yang waktu itu duduk disitu.”
“Kamu menginginkan monyet jelek yang duduk disitu?”
“Iya, tapi mohon tidak mengatakannya seperti itu lagi.”
“Ir, aku mencintaimu.”
“Tidak, kau hanya kasihan padaku.”
“Tidak aku bersungguh-sungguh!”
“Sejak kapan?”
“Sejak kemarin.”
“Sejak kemarin?”
“Iya, sejak kemarin, sejak kemarinnya lagi, sejak dulu.”
Aku menangis.
“Ir, kamu kalau menangis, bagus juga kalau dilukis.”
“Pakai krayon?”
“Tidak, krayon tidak bisa dipakai melukis di dinding hatiku.”
“Ooh.”

Minggu, 27 Agustus 2006

">>>"

By On Agustus 27, 2006
Tuhan,
aku ingin pergi saja dari dunia ini
kemana saja
ketempat dimana orang-orang tak mengenalku
aku lelah seperti ini terus
aku tersenyum
kadang tertawa
dengan sorot mata berbinar
tapi hatiku tak henti menangis
tak henti hatiku menahan gelisah
aku memakai topeng kah Tuhan?
untuk menutupi yang sebenarnya
lalu sampai kapan?
aku mampu bertahan dengan semua ini?
Tuhan,
aku membutuhkan Mu.....
peluk aku
rengkuh aku
aku menangis Tuhan...

"Cinta Rumput"

By On Agustus 27, 2006
layakah Rumput jatuh cinta? pada pengembara yang menumpang lewat dalam kehidupannya. yang bercerita sekilas tentang arah dan tujuannya, sedikit tentang negeri asalnya lalu kemudian pergi lagi. Rumput beruntung, Pengembara memilih menginap ditempatnya malam itu, membuat api unggun yang kecil sehingga Rumput bisa merasai sedikit kehangatan dimalam yang benar-benar dingin. mereka mengobrol hingga malam tua dengan kata-kata sepatah-sepatah. Rumput merasa tertarik pada Pengembara muda itu, ia menyukai kekakuan dan kedinginannya, sedikit angkuh barangkali. Rumput juga heran bagaimana mungkin Pengembara dengan sifat seperti itu yang dia sukai, kaku, bahkan belum pernah sekalipun ia mendengar kata terimakasih atas apa yang telah dilakukan Rumput untuknya. Rumput telah mengijinkannya mendirikan tenda ditempatnya, memasakkan makanan spesial untuk menjamunya pertama kali, membantunya mencari kayu untuk perapian, tetapi lelaki asing itu seperti batu yang teronggok dan tak bisa mengucapkan terimkasih, tapi itu tak diambil pusing oleh Rumput.
tapi malam ini Rumput merasa ada yang berubah dari Pengembara itu. ia sedikit lebih hangat. sempat beberapa kali bercanda. tadi siang ia diajak ikut memancing ke sungai untuk lauk makan siang mereka.
"kau baik sekali hari ini" puji rumput tulus. matanya mengapung diair. sama sekali tidak melihat sipemilik wajah dingin itu. sorot matanya yang tajam membuat rumput tak berani menatapnya, ia takut hatinya kembali bergetar sama seperti setiap kali emreka beradu pandang.
"sebelumnya aku jahat?" tanya pengembara
"aku tidak bilang begitu"
"ya"
"Horee.....aku dapat ikannya" teriak rumput bersuka cita karena tangkapannya berhasil. tidak sia-sia ia sudah membuang waktu satu jam disunga berbatu ini, arusnya lumayan deras, batunya besar-besar, disekelilingnya tumbuh pohon pakis yang sesekali dipetik rumput untuk disayur. pengembara mengulum senyum melihat kesuka riaan rumput.
"masakanmu enak, Put" puji pengembara dengan tulus.
"oh ya?" rumput mendongak
"iya, ikan bakar mu enak sekali, begitu juga dengan tumisan pakisnya. dimana kamu belajar memasak?"
"Cinta"
"Cinta?"
"He-eh..."
"aku ngga ngerti"
"begini, sesuatu yang dilakukan dengan atau karena cinta, semuanya akan terasa lebih indah, lebih nikmat dan terasa sempurna. aku memasak dengan penuh cinta sehingga masakanku menjadi enak, yang makan juga barangkali memakannya dengan cinta sehingga ia merasakan enak pula, coba kalau dia makan dengan amarah dan benci, masakan seenak dan selezat apapun tetap terasa tidak enak..." jelas rumput panjang lebar.
"kau ini bisa saja, apa termasuk tinggal dihutan ini sendirian karena cinta?" tanyanya penuh selidik.
"iya, aku melakukannya untuk cinta. semoga aku bisa bertahan disisa waktu untuk mencintainya..."
"kau mencintai pohon beringin besar itu?"
"tidak" jawab rumput cepat. "beringin itu terlalu tinggi untuk bisa kugapai, aku tidak pernah berfikir untuk mencintainya"
"lalu?"
"ada burung, dengan warna yang cukup indah. dia tidak berasal dari wilayah ini, tapi tinggal dibelahan bumi yang lain yang sangat jauh sekali dengan ku. aku menyukainya, begitu juga dia, entah kami bisa dikatakan sepasang kekasih entah tidak. yang pasti diantara kami ada rasa cemburu, ada rindu, ada marah kadang juga sakit hati jika salah satu diantara kami ada yang melakukan sesuatu yang tidak kami sukai. mungkin untuk sebuah kesia-siaan...."
"kenapa begitu?"
"untuk sesuatu yang tidak pasti"
"hmm..."
"entahlah...apa rumput boleh jatuh cinta"
"Rumput juga punya perasaan, punya hati dan naluri....tak ada larangan untuk jatuh cinta"
"aku tidak tahu"
"apa saat ini juga sedang jatuh cinta?" tanya pengembara tiba-tiba. rumput gelagapan. mukanya bersemu merah, ia menunduk, jantungnya bergetar lebih kencang. rumput melirik pengembara yang dibalas dengan senyum yang lembut.
"aku...."rumput terbata. "aku...jatuh cinta kepada siapa disini? tak ada yang bisa kucintai ditempat seperti ini" akhirnya rumput menemukan jawaban jitu.
"kau yakin?"
"apa maksud pertanyaan mu?"
"jatuh cinta pada ku mungkin"
"he he he...aku? jatuh cinta pada mu? orang asing yang baru ku kenal dua hari? aku tak yakin..." elak rumput.
"Baiklah, tak apa. tapi coba kau renungkan apa yang telah kau lakukan untukku, menemaniku memancing, memasak untuk ku, kau bahkan sama sekalit idak marah atau kesal dengan sikapku yang acuh tak acuh. apa itu denganmudah kau lakukan bila tidak ada perasaan apa-apa?"
"aku tidak ingin kau salah menganalisa"
"Tapi sampai kapan kau mencintai yang disana? tanpa kepastian. atau kau memang tahu bahwa dia tak bisa kau miliki, bukankah ini namanya sia-sia?"
"apakah ada yang sia-sia untuk cinta?"
"Maaf, aku tak bermaksud menyinggung perasaan mu"
keduanya diam, rumput menjulurkan kakinya ke air. dingin. ia menjadi tak semangat lagi memancing. tapi meninggalkan pengembara seorang sendiri itu tidak mungkin pikirnya. sejujurnya ia ingin selalu dekat disamping lelaki asing itu. merasai sedikit kedinginannya juga kehangatannya yang tak biasa.
rumput terpekur menatap butiran air yang pecah, pikirannya melayang jauh. pada yang disana. sempat terfikir untuk membiarkannya begitu saja, mengakhiri catatan mereka dari hari-hari kemarin. tetapi nyatanya sampai hari ini masih ada pena yang terus bergerak untuk sebuah kisah. surat-surat cinta masih ada, kata-kata mesra masih sering terdengar.
selingkuh? ia sama sekali tidak pernah berfikir kesana. bagaimana kalau dengan pengembara ini? benar kalau ia menyukainya, betul juga kalau ia mempunyai rasa yang sukar diterjemahkan selama kehadiran pengembara ini. tetapi itu bukanlah bentuk lain dari pengkhianatan.
"hari ini kita cukupkan saja memancingnya, sudah ada lima ekor, sudah melebih dari cukup untuk makan siang kita"
rumput tak bergeming, sepanjang perjalanan pulang ia hanya diam, begitu juga ketika memasak, membersihkan ikan. tak ada suara selain gemerisik yang ditimbulkan dari suara-suara sekitar. pengembara heran dengan perubahan rumput tetapi ia tidak berani bertanya.
"kapan kamu pulang ke negeri asalmu?" tanya putri setelah mereka makan siang.
"dua tahun lagi"
"aku akan kembali sendiri, menunggui yang disana hingga masa waktu itu habis. dan entah sampai kapan." rumput menangis. tapi ia segera menyeka air matanya."apa tidak boleh rumput jatuh cinta seperti yang lain, yang bisa ia miliki, yang tak perlu menunggu waktu untuk mengadu rindu, yang tak perlu ditutupi dengan kebohongan untuk sekedar bertemu atau mendengar suaranya. apa tidak boleh..." rumput berkata lirih. ia sama sekali tidak mengharapkan jawaban dari semua itu.
"kau akan ada yang menemani, ada pohon, ada angin, hujan, bulan, matahari, bintang...." pengembara tak yakin apakah kalimat itu bisa menghibur rumput atau justru sebaliknya, membuatnya kian sedih. ia bisa merasakan kesedihan dan kelelahan pada diri rumput atas cintanya yang tak biasa. dia yang ingin mengakhiri semuanya tetapi tidak memiliki keberanian.
"alangkah tidak enaknya berada diposisi rumput" batinnya
"rumput..." pengembara menggenggam tangannya, sementara tangan kanannya menyeka dua butir di pipi rumput. "jangan menangis ya..."
"apakah menangis hanya untuk mengartikan kesedihan?"
pengembara menggeleng. ia memberanikan diri memeluknya. tubuh rumput terasa panas, tetapi ia kedinginan, mukanya pucat dan bibirnya bergetae. rumput nyaris tak bergerak dalam pelukannya.
"aku boleh mencintaimu?" tanya rumput nyaris berbisik
pengembara tertegun mendengar ucapan rumput, ia tak menyangkan rumput akan seberani itu menyatakan perasaaannya.
"jangan takut pengembara...aku tidak memintamu mencintai ku..."
"bukan itu maksudku..."
"ya, kau akan pergi dua tahun lagi dan aku tetap disini, menunggu sisa waktu itu...."
pengembara menguatkan pelukannya...
rumah Adam, 26-27/08/06
pkl 23:04-01:02

Jumat, 25 Agustus 2006

Adam, Alim, Aku

By On Agustus 25, 2006

Suara sepeda kecil beroda tiga terdengar memasuki teras, lalu pintu bergedeguman. Begitulah ciri khas Adam anakku kalau pulang.
“Mah, ada gopek?”
“Untuk apa?”
“Ada pengemis.”
“Mamah tidak punya, pakai uangmu saja.” Kataku sambil terus melanjutkan aktifitas memasak.
Anakku itu lalu mendorong kursi makan hingga menempel ke kulkas. Menaikinya, sambil berjinjit dan mengangkat dagunya agar lebih tinggi, ia mencari-cari sesuatu di atasnya . “Gak ada gopek mah, ada juga srebu.”
“Tidak apa-apa, seribu juga boleh, dimana pengemisnya?”
“Tadi masih di depan rumah si Ikhsan.”
“Cepetan, nanti keburu jauh.”
Anakku kembali keluar dengan berlari. “Nek, ini uangnya.”
Sang nenek pengemis itu berhenti lalu memutar badannya kemudian mengangkat sedikit topi capingnya. “Massya Allah nak, leutik keneh tos bageur pisan. Ya Alloh, gusti pangeran mugi-mugi ieu budak janten anak anu bakti kakolotnya, ka bangsa jeung agamana. Janteun budak sing cageur, sing pinteur, sing bageur! Sing jauh tina maksiat, beunhar hade tong hilap mayar jakat. Gera gede nya, gera sakola ka Bandung. Alhamdulillah ya Alloh. Atur nuhun nya Neng.” Nenek itu berlalu.
“Mah, Adam dipanggil Neng.”
Ini bukan kejadian pertama. Anakku Adam adalah seorang bocah laki-laki, tetapi wajahnya cantik jelita. Dagunya berbelah walaupun samar. Bibirnya tipis saja, dilanjutkan dengan dua lesung pipit kecil di pipinya. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik sekali seperti habis dirol.
Kalau dagunya pasti dari bapaknya. Bibirnya turunan dari keluargaku. Hidungnya? Seratus persen milikku. Bulu matanya? Dari ayahnya. Tapi, bola mata yang hitam legam dan besar itu? Dari manakah? Ah, aku tidak mau menelusurinya. Aku percaya saja itu milik Adam sendiri. Yang Maha Kuasa memberikannya khusus untuknya. Satu-satunya cara agar ia kelihatan benar-benar laki-laki adalah dengan memotong pendek-pendek rambutnya dan ini jarang dilakukan ayahnya. Lupa itulah alasannya selalu.
“Bapak terlambat lagi?” Adam kecil bertanya, lebih tepatnya mengungkapkan kekecewaanya kepada ayahnya yang sampai di rumah setelah adzan maghrib usai. Adam memang telah menunggu ayahnya untuk bersama-sama sholat maghrib ke masjid dari tadi, dengan baju koko biru mudanya.
“Iya, besok bapak akan pulang lebih cepat. Sekarang kita maghrib di rumah saja ya Mas.”
Suamiku, Alim kadang-kadang memanggil Adam dengan Mas karena menurutnya, kelahiran Adam dirasakannya seperti mendapat rejeki yang melebihi dari emas segunung. Ia seperti mendapatkan berkah yang tiada terhingga.
“Pak, tadi mamah bilang, kalau Adam memberikan uang untuk pengemis karena minta dido’akan, berarti Adam tidak ikhlas. Bener pak?”
Suamiku menatap ke arahku sebentar, “Tidak Dam, tetap ikhlas.” Ia lalu berdiri, sambil membuka kancing kemejanya, “Kurasa belum perlu sejauh itu mengajarinya.”
Adam memang telah jadi bahan diskusi yang tiada habis-habisnya sejak ia brol ke dunia ini.
“Siapa namanya dik?” Kak Alim bertanya padaku yang masih tergolek lemah di tempat tidur rumah bersalin, ketika Adam baru berumur dua hari. Ia membawa kertas dan bulpen. Aku tahu itu standar administrasi rumah bersalin ‘Syifa Budi’ ini. Mereka akan sekaligus membuatkan akte kelahiran untuk setiap bayi yang dilahirkan di sini.
Sejak pernikahan bahkan sejak sebelum itu, hingga kami memiliki Adam anakku, kak Alim masih memanggilku dengan ‘dik’. Dia baru ikut-ikutan memanggilku dengan Mamah ketika Adam mulai bisa bisa menyebutkan kata itu.
“Adam.” Sahutku.
“Oh, Adam siapa?”
“Adam Adrian.”
“Hanya itu?”
“Iya.” Jawabku dengan masih tergolek lemah.
Sepuluh hari kemudian, Akte Kelahiran itu jadi, tertera namanya ‘Adam Adrian Jimmy!’ Kata ketiga itu benar-benar merusak! “Mengapa Jimmy?” Tanyaku.
“Karena bagus aja.” Jawabnya enteng.
“Kalau mau menambah, tambahlah dengan kata-kata yang bagus. Kalau bisa yang berasal dari Al Qur an.”
“Apa artinya Adam?”
Oops
“Allah memerintahkan agar kita memberikan nama yang bagus kepada anak-anak kita. Tidak harus berbahasa Arab. Orang jawa memberi nama anaknya dengan ‘Slamet’ atau ‘Raharjo’, ‘Sugeng’ yang semuanya berarti keselamatan, kesejahteraan. Semuanya memiliki arti yang bagus. Apakah kau akan memberikan nama ‘Al Baqoroh’ yang berarti sapi betina? Atau ‘Annisatul Laily’ yang berarti perempuan malam?”
Dia lucu juga. Tapi dia benar.
“Jimmy adalah satu-satunya presiden Amerika yang bisa memaksa Muso Dhayan, pemimpin Yahudi laknat itu untuk berdamai dengan Mesir dan menyerahkan Gurun Sinai. Tidak ada orang lain yang sanggup. Aku menghargainya dengan mengambil sebagian namanya untuk anakku. Itulah alasannya.”
Ah, sejauh itukah pemikirannya?
Alasan yang tidak terlalu jauh berbeda diungkapkannya dikala tidak setuju ketika aku mengusulkan agar Adam memanggil ‘Abi’ kepadanya dan ‘Umi’ kepadaku. “Menjadi keluarga yang islami bukan berati menjadi keluarga arab. Kita tetap bisa menjadi keluarga yang islami dengan tetap menjadi orang Indonesia. Jeffrey Lang tetap seorang muslim sejati walau tetap seorang Amerika sama seperti Muhammad Ali. Ngomong-ngomong dulu anak-anak Abu Jahal dan Abu Lahab memanggil bapaknya dengan sebutan apa yah?”
Wat?
Adam telah menjadi inspirasi yang tidak pernah kering. Adam juga telah menjadi kunci pembuka hal-hal yang tidak aku ketahui tentang Kak Alim suamiku. Satu demi satu hal yang tidak terduga terkuak. Kukira semuanya akan ku ketahui begitu kami menikah. Ternyata tidak, ‘satu-demi satu’ itu terus berlanjut sampai Adam lahir, sampai kini.
Ketika kehamilanku menginjak usia delapan bulan lebih, kami mulai bersiap-siap membeli perlengkapan bayi, termasuk perlengkapanku sendiri. “Guritamu cuma satu?”
“Iya. Kurasa cukup.”
Kak Alim pergi ke pasar lagi lalu membeli bahan blacu dan menjahitkan gurita bertali dua belas untukku, tidak ketinggalan bebengkung alias stagen yang hanya dipakai orang-orang jaman dulu. Ternyata ia pandai menjahit juga. Itu terjadi di rumah orang tuaku. Disana memang ada mesin jahit.
Kak Adam berani memandikan Adam bayi yang ketika itu masih belum lepas pusarnya. Aku sendiri secara jujur akan mengakui kalau aku tidak sanggup. Ia memandikan dengan tenang, setenang ia memasang popok, gurita dan baju bayi. Kemudian membungkusnya dengan bedong yang sangat rapi. Melebihi rapinya bedonganku atau perawat sekalipun.
Wow, luar biasa. Setelah itu aku akan mendapat giliran mandi dengan air hangat yang telah disiapkannya. Begitu ia melihat aku kesulitan memasang guritaku sendiri, ia segera memasangkannya dengan kencang sambil menggerutu. Aku hanya tersenyum. Juga kasihan. Kak Alim pasti capek sekali. “Capek ya?”
“Gak apa apa, asal kamu jangan sering sering aja beranak.”
“he he he.”
Suatu ketika, Adam menunggu di depan rumah kami, menunggu mang Narno, tukang nasi goreng langganannya yang tidak kunjung lewat.
“Adam ingin nasi goreng? Kita bikin sama-sama yah?” Kak Alim mengajak Adam yang cemberut ke dapur. Lalu mulai mengiris bawang, menggiling bumbu, memotong kecil kecil daging ayam yang telah direbus yang memang selalu tersedia di kulkas, memotong kol, baso dan sosis. Suara berdesis segera mengalun dari atar kompor gas yang dinyalakan Adam. Kak Alim suamiku mulai sibuk menggorang nasi. Blue Band, Masako, kecap Bango, telur dan beberapa bahan yang telah diraciknya tadi sekarang tengah berguling-guling didalam wajan. Semuanya sedang diaduk-aduk Aroma wangi mulai berhembus. Tak lama setelah itu nasi gorang ‘Mang Alim’ segera tersaji. Adam memakannya dengan bernafsu. Akupun ikut mencicipi. “Waah enak banget ya?”
“Iya mah, nasi goreng mang Narno aja kalah nih!”
“Kok nggak ada api yang menyambar ke dalam wajan tadi? Tidak seperti di restoran?”
“Ooh itu pakai arak sedikit. Gak boleh tuh?”
“Ooh.”
“Pak, kenapa tidak jualan nasi goreng aja? Seperti mang Narno, kan enak tuh abis bikin langsung dapet duit, gak usah nunggu sampai sebulan kayak bapak?”
“Kalau bapak jualan nasi goreng, kasihan mang Narno dong, nanti jualannya gak laku...”
Sejak itu aku tidak pernah bikin nasi goreng lagi, tidak akan disentuh oleh Adam! Dia hanya mau makan buatan bapaknya.
“Mah bagaimana caranya Adam bisa lahir?”
Hah, pertanyaan yang tidak terduga sama sekali “Mm gimana yah? Ayahmu memberikan cinta yang banyak sekali untuk mamah sehingga lahirlah Adam.”
Ia kelihatan tidak puas dengan jawaban itu. “Pak, kok Adam bisa lahir, gimana yah?”
“Ooh, bapak sama mamah tertidur, setelah beberapa hari abis itu, lahirlah kamu.”
“Bapakmu bohong Dam!”
“Bapak bohong?”
“Tidak Dam, Bapak hanya salah menjawab. Yang bener jawaban mamahmu.”
Adam hampir tiga tahun dan kurasa sudah waktunya bagiku untuk mewujudkan cita-citaku mengajarinya Ali Ba ta, mengajarinya a i u e o, ba bi bu be bo. Beberapa buku dan lembaran kertas huruf latin dan arab ku beli. Adam malah mencoret-coretnya.
“Adam!”
Ia berlari ketakutan menghambur kepangkuan bapaknya yang sedang bermain piano. Suara piano yang sebelumnya sangat merdu sekarang ditimpali genjrang-genjrung yang sangat berisik.
“Adam!”
“Mah, Adam baru tiga tahun kurang!” Suamiku memandangku dengan heran. “jangan pinta ia melakukan sesuatu diatas usia itu. Umur berapa dulu mamah mulai belajar membaca?”
Ya Allah, dia benar lagi. “Pak kalau memberi contoh kepada anak dengan sholat berjamaah ke masjid sebaiknya dilakukan mulai usia berapa yah?”
“He he ‘bu Ustadzah’ benar. Dam, ikut bapak ke masjid yuk?”
Adam sedang tertidur di kasur palembang di depan tivi setelah menonton film kartun ‘catdog’ kesukaannya. aku dan dan kak Alim tengah memandangi wajahnya.
“Dulu, waktu Adam masih dikandunganmu, apa yang kamu do’akan?”
“Semoga ia menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tuanya, kepada nusa dan bangsa.....”
“Dalam hati kecilmu, apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin anak yang cantik”
“Ooh, aku inginkan anak laki-laki. Tuhan telah mengabulkan do’a-do’a kita.”
“Iya, anak laki-laki yang cantik.”
Kak alim mendekatkan wajahnya ke pipi Adam. Sesaat lagi ciuman itu akan terjadi. Adam akan terbangun dan aku akan menjadi repot menidurkannya kembali. Ia akan rewel lama sekali. Aku segera menahannya dengan menarik bahu Kak Alim.
Ia menatapku sebantar. “Ciuman yang sudah setengah jalan tidak boleh dihentikan!” katanya.
Bibir yang telah monyong itu tiba-tiba mendarat di bibirku. Mmmwwwaaah!
Ah Dam, cinta bapakmu memang banyak sekali....!

Rabu, 23 Agustus 2006

...

By On Agustus 23, 2006
aku sakit, kataku
istirahat yang cukup kata mu
aku gelisah
sholat sunnah ya Yank
pikiranku tidak enak
mengaji saja katamu lagi
aku tidak bisa tidur, kataku lagi
zikir sampai ngantuk
aku rindu Say...
aku juga Yank...

Minggu, 20 Agustus 2006

satu dua tiga

By On Agustus 20, 2006
semalam aku melihat bintang
kelap kelip
meski langit agak gelap
tetap tampak indah
menghilangkan getar dikaki
meratakan nafas yang tak teratur

hari ini ada matahari
memberiku kehangatan
dalam tubuh yang menghangat tetapi dingin
mensejajarkan langkahnya denganku
mengawasiku dari jauh
takut kalau aku hampir jatuh seperti kemarin sore
satu dua tiga dan seterusnya
kaki ini terus melangkah
menyusuri lorong
melewati ruas-ruas jalan
ada satu dua tiga rumput melambai
dan seribu anai-anai yang beterbangan
melemparkan doa
dan kusambut dengan kedua tangan terbuka

satu dua tiga
dan seterusnya
aku sampai
dan aku tertidur

Jumat, 18 Agustus 2006

"Ijinkan"

By On Agustus 18, 2006
andai kau ijinkan
walau sekejap memandang
ku buktikan kepadamu
aku memiliki rasa
cinta yang kupendam
tak sempat aku nyatakan
karena kau tlah memilih
mengetuk pintu hatinya

ijinkan aku mengatakan
inilah kesungguhan rasa
ijinkan aku menyayangi mu

sayangku ooo...
dengarkan lah
suara hatiku
cintaku ooo...
dengarkanlah isi hatiku

bila cinta tak menyatukan kita
bila kita tak mungkin bersama
ijinkan aku menyayangimu

sayangku ooo....
dengarkanlah
isi hatiku
cintaku ooo...
dengakanlah suara hatiku...


sudah tengah malam, sisa-sisa hujan tadi masih ada satu-satu. tik tok...tik tok..bunyinya dari atas atap. dan angin bertiup dua kali lipat lebih kencang dari tadi siang, menggoyangkan pohon-pohon, menggugurkan daun-daun, menerbangkan sampah-sampah. hujan dan angin bergumul. melahirkan dingin hingga ketulang iga. ditambah lagi dengan kipas angin yang sengaja dibiarkan berputar-putar, semakin sempurnahlah rasa dingin malam itu. tanpa selimut, tanpa baju tebal, hanya ada selembar kertas dan pena yang tergeletak dilantai.
seorang gadis masih terbeliak matanya hingga selarut ini. bulu-bulu halus ditangannya tampak berdiri menahan dingin yang teramat sangat. tapi entah mengapa dia tak ingin berselimut. pikirannya serasa masih menyusuri jalan-jalan gelap ketika ia pulang selepas magrib tadi. dipayungi hujan dan ditemani angin kencang, membuat motor yang dikemudikannya kadang-kadang agak oleng. bajunya pelan-pelan basah hingga akhirnya basah kuyup, syukurlah tadi sore ia tak lupa memakai helm sehingga kepalanya terlindungi. awalnya ia berniat untuk menunda pulangnya, tetapi melihat langit yang begitu gelap dan angin yang begitu kencang ia tak yakin kalau hujan akan berhenti sekitar sejam kedepan. karenanya ia memutuskan untuk terus pulang. setelah membeli salak di kios buah ia kembali melaju. sesekali ia masuk ke lubang-lubang kecil, motornya tidak ada lampu lagi. ia hanya mengandalkan penglihatannya saja dimalam yang gelap dan dingin itu. beberapa butir bening mengalir dari pipinya yang basah, tetapi sekejap saja sudah menyatu dengan air hujan dan mengalir. gadis itu terisak.
setengah jam kemudian ia sampai dirumah, mandi lalu ganti pakaian dan makan malam bersama kedua orang sepupunya. ia kembali ceria, tak ada bias-bias kesedihan yang membuat kedua saudaranya akan curiga. hatinya masih seperti tadi, kecewa dan kesal tetapi ia merasa tak perlu lah orang lain tahu.
"Mau minum susu?" tanyanya tadi sore kepada seseorang.
"Tidak"
"Maunya apa?" tanyanya lagi setengah bercanda
"Tidur lagi"
"Ya udah kalau begitu, tidur aja lagi" katanya lagi, sedikit geram
"Iya"
lalu setelah itu tidak ada kata-kata lagi. dan gadis itu pulang.
***
gadis itu tau kalau mereka sama-sama mencintai, sama-sama menyayangi. ia tahu semuanya. tetapi sesekali sebagai perempuan ia merasa semua itu memerlukan pengulangan. ia ingin sesekali lelaki itu mengulangi mengatakan ia mencintainya, dan tanpa malu-malu ia memintanya dan dengan sabar lelaki itu melakukan apa yang dimintai olehnya. mereka mengobrol berjam-jam. melewati hari-hari bersama-sama. dan semakin lama ia merasa cintanya kepada laki-laki itu semakin besar saja, padahal yang ia harapkan adalah berkurang sehingga ia benar-benar bisa melupakan lelaki yang telah menemaninya selama setahun lebih. lama-lama ia kian memahami bahwa cepat atau lambat hubungannya dengan lelaki itu akan berakhir. karena itu cintanya semakin besar dan dalam, ia ingin mencintai lelaki itu dengan sangat isitimewa sekali disisa-sisa perjalanan cintanya. kadang ia merasa tersiksa dengan semua ini, tetapi ia juga memberikan kekuatan baginya untuk terus mempertahankan cinta mereka.
entah apa yang membuatnya begitu mencintai lelaki itu, ketika ditanya ia selalu menjawab karena lelaki itu sangat istimewa. entah dimana letak keistimewaannya dia sendiripun terkadang bingung. selalu yang dikatakannya pada lelaki itu adalah "semoga aku bisa melupakan mu setelah menikah nanti". pernyataan yang terdengar sangat berat karena dia menyadari lelaki itu tak bisa selamanya dia cintai apalagi dimiliki. pun begitu sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya untuk menyesali pertemuannya dengan lelaki itu. entah sejak kapan ia mulai jatuh cinta kepada lelaki itu, yang pasti setiap kali mengenang awal-awal pertemuan mereka hampir tidak ada yang tidak indah.
pernah ia menangis memikirkan perjalanan cintanya yang rumit, tetapi kemudian ia teringat bahwa hidup memang rumit, setidaknya ia masih mempunyai logika untuk berfikir sehingga tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan
***
kemarin sore mereka bertemu lagi. setiap kali bertemu ia merasa semakin mencintainya. walaupun setelah itu ia kadang kesal dan marah, tetapi tetap tidak mengurangi apa yang ia rasakan. dan hari ini dia kembali menunggu untuk laki-laki itu...dia ingin sekali mengatakan...
bila cinta tak menyatukan kita
bila kita tak mungkin bersama
ijinkan aku menyayangimu

"tidur"

By On Agustus 18, 2006

tidur merupakan salah satu bentuk istirahat yang paling baik, ketika tidur tubuh menjadi rileks dan segar. otot-otot menjadi regang dan tentu saja melancarkan peredaran darah. selain itu tidur yang baik juga menghilangkan stress tentunya, selain penat dan rasa lelah yang mendera setelah beraktifitas seharian.

orang yang kekurangan tidur akan kelihatan pucat dan loyo, sebaliknya kebanyakan tidur juga tidak baik, tubuh menjadi tidak segar dan malas. ngomong-ngomong soal tidur memang mengasyikkan, membayangkan kasur yang empuk dan dikelilingi bantal-bantal yang empuk saja bisa membuat mata selalu merasa kantuk. apalagi kalau memang sudah berada diatasnya. perut laparpun bisa dihilangkan dengan tidur.

tidur merupakan salah satu aktivitas yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap orang, begitu juga saya. tidur inipun kata orang ada macamnya, ada yang namanya tidur ayam, ada yang tidur mati. jenis tidur ayam biasanya sering disebut sebagai tidur ecek-ecek karena totalitasnya dalam tidur kurang. artinya seseorang yang tidur ayam akan mudah sekali terganggu dengan kesibukan yang ada disekitarnya, misalkan suara berisik atau keributan lainnya walhasil tidurnyapun menjadi tidak nikmat. sedangkan tidur mati memang mirip-mirip orang mati, sama sekali tidak berpengaruh terhadap gangguan-gangguan yang ada disekitarnya. dan kalau mau digolongkan jenis tidur saya barangkali lebih tepat dan etis bila dimasukkan ke jenis nomer dua.

terkadang saya merasa aneh juga dengan jenis tidur saya ini. pernah saya dicubitin ibu ketika tidur karena menghimpit adik saya yang masih bayi, besoknya ditanyain apa semalam saya merasakannya? saya malah balik nanya ke ibu memangnya ibu nyubitin saya yah semalam? dan sekarang sudah hampir setengah bulan lamanya kelahiran bayi kecil dirumah kami, tetapi belum pernah sekalipun saya mendengarkan jeritannya dimalam hari bila saya sudah tidur. padahal hampir setiap malam si baby menangis karena haus atau ngompol. saya juga bisa tidur nyenyak tanpa gangguan berarti ketika orang lain sibuk mengeluhkan nyamuk-nyamuk yang rewel. kareanya tidur menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan bagi saya karena saya benar-benar bisa melupakan semua beban yang ada dikepala saya. saya tidak perlu terganggu dengan suara bising, gaduh dan gedebag gedebug

Rabu, 16 Agustus 2006

"Berlayar ke pulau hati"

By On Agustus 16, 2006
I am sailing
I am sailing,
home again cross the sea
I am sailing stormy water to be near you to be free
I am flying I am flying,
like a bird cross the sky
I am flying passing hihg clouds to be with you to be free can you hear me,
can you hear me through the dark night far away
I am dying forever trying to be with you who can say We are sailing We are sailing,
home again cross the sea We are sailing stormy waters To be near you to be free, oh love,
to be near you to be free
***
Aku pernah naik kapal layar dan sekarangpun masih berada dalam kapal layar itu.
Sejarah naiknya aku ke kapal layar ini tidaklah biasa. Tidak sebagaimana lazimnya orang-orang berlayar. Mencari agen perjalanan, membeli tiket, ke pelabuhan mencari kapalnya, naik lalu mencari kamar (atau hanya tempat duduk, bila naik kapal kecil untuk perjalanan yang singkat) lalu berlayar. Tidak, aku tidak seperti itu. Naiknya aku ke kapal layar ini adalah suatu kebetulan. Lebih tepatnya karena rasa iba alias kasihan sang pemilik kapal padaku. Saat itu, karena sesuatu sebab, aku sedang terapung-apung di tengah lautan. Lalu, ada sebuah kapal layar lewat. Berhenti sebentar, menurunkan tangga dan mempersilahkan aku untuk naik. Jadi, selamatlah diriku.
Pemilik kapal layar ini adalah seorang perempuan cantik dan luar biasa baiknya. Ia menyediakan salah satu kamarnya yang bagus sekali untukku. Di dalamnya ada tempat tidur yang empuk, pengatur udara yang bisa di set menjadi panas atau dingin sesuai keinginan kita. Ada pesawat televisi berikut kasur yang empuk di depannya untuk menonton sambil tiduran, beberapa lukisan, lemari pendingin yang penuh dengan makanan. Yang lebih penting dari semua itu, ada satu set komputer yang lengkap dengan jaringan internetnya!
Tidak kalah dengan kamar yang disediakan, sang pemilik kapal yang cantik jelita ini setiap saat mengunjungiku. Hanya sekedar menanyakan keadaanku sudah baikan atau belum (maklum baru ditolong dari tengah laut), atau meminumkan obat, atau menyuapi makan. Tidak jarang pula ia membawakan cerita-cerita yang amat menarik atau sekedar dongeng pengantar tidur yang lucu.
Kelembutan hatinya dan keramahan tutur katanya sungguh membuat hati siapapun akan terbuai. Tanpa kusadari, di hatiku mulai tumbuh rasa kagum, rasa terima kasih yang besar, rasa ingin selalu berada di dekatnya dan bermacam-macam rasa lainnya yang kalau disebut dengan satu kata adalah, cinta!
Gayung bersambut! Matanya mengatakan hal yang sama. Dan ketika dimintakan ketegasan padanya, bibirnyapun mengucapkan hal yang tidak berbeda. Kapal layar yang penuh cinta inipun bertambah kencang melaju di tengah langit yang biru dan timpalan kepak sayap burung camar yang sedang terbang.
Sang pemilik kapal masih tetap mengunjungiku di kamar ini. Tidak untuk meminumkan obat lagi, karena dilihatnya aku sudah sangat sehat. Tetapi tetap mengalunkan berbagai cerita atau untuk menatapkan matanya yang indah padaku. Disamping itu, ia mengajariku membuat sesuatu di jaringan internetnya, sesuatu yang disebutnya dengan ‘rumah maya’. Aku baru tahu juga, ternyata ia seorang guru yang sangat pandai. Dalam waktu singkat saja, aku langsung dapat membuat rumah mayaku, yang menurut ukuranku cukup indah. Tapi bukan hanya rumah maya yang indah itu saja yang berkesan. Kenangan bagaimana ia mengajariku, itulah yang lebih tak terlupakan. Suatu waktu, karena sangat seriusnya ia memberi petunjuk, tanpa disadarinya ia terpaksa mendekatkan mukanya ke wajahku sehingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya menampar pipiku. Seumur hidupku, walau hanya beberapa saat, itulah saat yang kurasakan paling indah. Aku berharap itu adalah mimpi dalam tidurku. Dalam tidurku yang panjang, dalam tidurku yang sangat panjang atau kalau mungkin, dalam tidurku yang tak akan terbangun. Karena aku tidak ingin mimpi itu berakhir.
Tapi setelah itu, sang pemilik kapal makin jarang menunjungiku. Kalaupun lewat dan bertemu, ia hanya memberikan seulas senyum atau hanya melambaikan tangan dari jauh. Terakhir, ia mengatakan, bahwa ia berlayar di kapal ini dengan seseorang yang ia sebut kekasih, yang tentunya tinggal dikamar lain yang jauh lebih indah, lebih besar dan pasti lebih dekat posisinya dengan kamar sang pemilik. Oops! Sadarlah aku. Sekarang aku sering duduk memandang lepas di buritan. Kapal layar ini jalannya semakin lambat. Beberapa layarnya sudah tidak mengembang. Layar mesra sudah tidak ada lagi, beberapa layar cintanya juga sudah digulung. Di sini, diburitan ini dulu aku sangat mengagumi sebuah layar yang kalau ia terkembang, sangat indah dipandang. Layar itu bertulisan ‘my soul’. Sekarang yang layar itupun sudah diturunkan.
Ah, tahulah aku, berarti aku harus segera bersiap-siap. Bila layar cinta terakhir sudah tidak berkibar lagi, maka kapal ini akan segera berhenti. Dan tanpa sang pemilik kapal memberitahupun aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus turun dan mempersilahkan mereka melanjutkan perjalanan. Aku sangat bahagia tidak harus turun atau ditinggalkan di tengah laut. Karena bila itu terjadi, aku akan sangat sedih. Karena tidak punya kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan dan mendengar ucapan standar dari pengeras suara bila penumpang kapal turun ‘thanks very much for have take a sailing with us, have a nice day and don’t forget to take a joint with this boat when you have a plan to get a sailing again, bla bla bla….., and thank you.’
Aku sangat bahagia telah diperkenankan ikut dalam sebuah pelayaran yang sangat menyenangkan, yang tak terlupakan, yang semuanya telah tersalin lengkap dalam catatan harianku.

Sabtu, 12 Agustus 2006

"sebuah arti"

By On Agustus 12, 2006
tidak terasa waktu telah berjalan begitu cepat, kadang merambat mengganti malam, berlari mengganti bulan dan mengeja tahun. purnama demi purnama terlewatkan dengan sangat sederhana, menatapnya dalam-dalam dan menikmatinya dengan kedalaman rasa dan keliaran imaji. kadang dari jendela kadang juga dari teras depan seperti kemarin...sambil tiduran dengan menatapnya lekat-lekat. menelanjangi setiap lekukan sinarnya yang mempesona.
hhh...
kapan menghubungi ku cinta?
.....
kulirik Adam kecilku yang tidur dengan nyenyak, matanya terkatup rapat dan nafasnya sangat teratur. aku jadi iri pada ketenangannya. kedamaiannya. tak bosan-bosannya aku ingin memeluknya, menggendongnya, mengganti popoknya dan menciumnya kuat-kuat, dia tidak bisa membalas, itu yang membuatku begitu bernafsu menggoda Adam kecil. jahatkah aku? mungkin juga. tapi dengan begitulah Adam kecil bisa merasakan kalau aku sangat dan sangat menyayangi dan mencintainya dengan setulus hati.
ah...teringat cintaku lagi
sedang apa dia disana?
adam kecil tidur, aku tergeletak dengan sisa-sisa lelah tadi siang. baru pukul sepuluh lebih lima menit. mau turun kebawah rasanya malas dan berat, rasa kantuk yang menggantung dipelupuk mata tak mampu di dikalahkan oleh sepiring bubur yang kubuat menjelang magrib tadi. sama sekali tidak ada keinginan untuk merasainya padahal aku sudah menyiapkan sendok dan piring kecil. mau menulispun tidak sanggup lagi, aku lelah sekali, mematikan tivi lalu tidur dan tidak ingat apa-apa lagi...
aku terjaga
nanti setelah pukul 12 wib
......
aku tidur lagi, sekarang baru pukul sebelas. dan memang aku masih sangat mengantuk. tanpa sadar ku letakkan benda mungil diatas dadaku, dengan harapan ketika ia berdering aku bisa mendengarnya dan tidak perlu meraba-raba. kembali aku tak sadarkan diri, bahkan mimpi apa semalampun aku tidak ingat.
aku terjaga dan melirik jam di hand phone ku, 02:56.
ini bukan lagi 12 wib tapi sudah 12 waktu ditempatmu berada cinta...
dan kau tidak menghubungi ku
aku tidur lagi dengan sedikit marah bercampur kesal
tapi...mungkin saja kamu ketiduran
kamu jauh lebih capek dari aku
maafkan aku
bahkan dalam tidurpun aku masih sempat memikirkanmu
apa artinya ini?

Jumat, 11 Agustus 2006

"Surat untuk Murid"

By On Agustus 11, 2006
aku, bu guru yang pernah dianggap sangat istimewa oleh salah satu muridnya. sampai ia mencatatnya dimana-mana. boleh jadi aku merasa istimewa atas perlakuan muridku ini, dimatanya barangkali dia melihatku sebagai seorang yang luar biasa, yang tidak hanya bisa mengajarinya bagaimana cara membuat "rumah" berikut dengan mengisi pernak-perniknya, berikut perkakasnya semaca buku tamu dan jam tetapi juga menyayanginya karena dia adalah murid kesayangan gurunya dari sekian murid yang lain.
hampir setiap hari saya mendapatkan surat dari murid yang satu ini, isinya beragam, kadang ucapan terimakasih karena ia telah berhasil mengerjakan tugas yang saya berikan dengan baik, kadang juga berisi tentang perasaanya yang beragam juga, kadang sedih, kadang bahagia, kadang bahkan ingin menangis. saya sungguh bingung menghadapi murid yang satu ini, apa dia manja? sehingga minta sering diperhatikan? entahlah...aku juga tidak tahu. pernah suatu hari ditengah-tengah kesedihannya yang mendalam, saya hadir sebagai orang lain, akhirnya dia tahu. seperti kataku dia murid yang cerdas.
hari ini kembali murid saya menggugat, barangkali dia sudah mendapatkan ketidak sempurnaan dari gurunya yang memang orang biasa ini. dalam beberapa hal dia bahkan mempunyai apa yang tidak dipunyai oleh ku. dia menggugat, mengkritik, mungkin juga ingin menghukum, saya nyaris tidak ada kesempatan untuk menjawab, dan memang tidak ingin menjawab, dan tidak ingin membela diri. kubiarkan saja dia melampiaskan semua kekesalan hatinya. mungkin dengan begitu dia akan merasa puas. dan aku masih saja tidak mengerti dengan apa yang kurasakan. aku diam, berusaha memahami apa yang diarasakannya, dengan mengabaikan apa yang sebenarnya sedang kurasakan.
beginilah menjadi seorang guru, dianjurkan untuk mendengarkan semua keluh kesah sang murid, mendiamkannya ketika menangis, menghiburnya ketika gundah tapi jangan sekali-kali menangis dihadapan sang murid, atau bersedih hati. karena dengan mudah sang murid mengatakan guru cengeng. sudah tanggung jawab guru pula untuk menenangkan kegelisahan hati sang murid, atau juga menerima cibiran dan ejekan darisang murid, mungkin juga menerima timpukan dari penghapus atau kapur, tapi tetap tidak boleh bagi sang guru untuk memarahi atau menyalahkan si murid.
untuk muridku sayang,
percayalah aku tetap menyayangimu seperti apa adanya, dan begitu seterusnya. kalau hari ini tidak bisa memperhatikanmu seperi biasanya, bukan karena rasa sayang yang sudah menguap, tetapi apa yang telah kau katakan untukku tidak akan ku bantah. aku kejam, aku jahat, tidak berperasaan....katakan yang lebih sakit lagi. aku hanya bu guru biasa yang tidak pernah minta dimengerti perasaannya oleh murid manapun, guru biasa yang boleh dikatakan apa saja, dan tidak membantah. aku memang tidak pandai berdebat, tidak tahu harus menjawab apa ketika tudingan-tudingan seperti itu ditujukan untukku. aku hanya diam. paling-paling melihat kelangit, mencari bayang-bayang dari purnama semalam. atau melihat jari-jari ku yang gemetar karena ketidak berdayaanku.
maafkan kalau telah menunggu lama tetapi ketika aku datang kau berfikir aku tidak memperhatikanmu, ada hal-hal yang tidak bisa kukatakan kepada semua orang, ada hal-hal yang kusembunyikan didasar hatiku, dan tidak pernah seorangpun tahu. dan aku tidak perlu menceritakannya. aku letih, lelah, tetapi akutidak dapat menikmati setiap waktu istirahatku dengan enak dan nikmat. aku selalu tersenyum, tertawa, bercanda, tetapi hampir setiap hari hatiku bergetar menahan semua yang kurasakan
muridku,
kalau kau merasa aku telah membuatmu menangis, maafkan aku ya...aku tak ingin terlihat rapuh didepanmu, dan aku tahu kepada siapa aku harus jujur tentang semua yang ku rasakan. maafkan aku...karena aku memang tidak sesempurna yang kau bayangkan....

Rabu, 09 Agustus 2006

"tanpa titik koma"

By On Agustus 09, 2006
ku tahan hati ini untuk tidak menyapanya
untuk tidak menegurnya
untuk tidak mencandainya
aku takut melakukan kesalahan
aku takut membuatnya marah lagi
lagi pula kekagetanku maish belum hilang
sore itu, saat aku dikatakan telah membohonginya
aku kaget sekali
sampai aku tidak sadar kalau aku menangis
padahal sama sekali aku tidak membohonginya
tapi aku menyesal menangis
toh air mata tidak bisa membuktikan kalau aku tidak membohonginya
aku menyesal
padahal dia adalah saudaraku

Minggu, 06 Agustus 2006

"Suami ku"

By On Agustus 06, 2006
kalau suamiku tidak menikah denganku
dia bukan suamiku tentu
aku kebetulan mencintainya
diapun mencintaiku
seandainyapun aku tidak mencintainya
dan dia tidak mencintaiku pula
dia tetap suamiku
karena ia menikah denganku

Jumat, 04 Agustus 2006

"Malaikat kecilku..."

By On Agustus 04, 2006
Assalammualaikum anak bunda...
selamat datang kedunia fana ini
jadi anak sholeh ya?
hanya itu pinta bunda sejak dalam kandungan
dan ketika mendengar teriakanmu subuh kemarin
juga ketika mendengar tangisanmu pada hari-hari berikutnya
ketika memandikanmu
ketika menyusuimu
ketika mendengarkan decapanmu
juga lesung pipimu

anak bunda...
jangan pernah kecewakan bunda ya?
bunda tidak minta kamu kelak jadi profesor atau presiden
bunda dan ayah hanya ingin kamu jadi anak yang sholeh
taat kepada Allah dan juga orang tua
bunda tidak ingin kulit merahmu kelak menghitam di negeri akhirat
bunda tidak ingin tangisan mu
yang sekarang membahagiakan bunda
kelak menyiksa bunda, nak...


anak bunda sayang....
lihatlah ayahmu yang ketakutan memegangmu
dengan tangannya yang gemetar ia tetap kukuh ingin menggendongmu
itu karena dia sayang padamu
yang telah menunggunya dengan sangat lama
dan ia sangat menyesal
ketika kau pertama kali menangis tidak bisa mendengarkannya
dia tidak bersama bunda
bukan karena tidak sayan bunda
tetapi karena harus menjalankan kewajibannya di tempat lain
lihatlah juga bagaimana ketika ia datang malam-malam dan langsung meneriakan nama yang telah disiapkan namanya
bunda memarahinya
karena telah membuatmu terkejut
dan dia hanya tersenyum dengan bonus cengiran
merasa menang
karena tahu bunda pasti tidak akan mengejarnya seperti biasa

malaikat kecilku...
selalu jadi malaikat ya...
yang putih bersih hatinya
tidak ada iri dan dengki
tidak ada dendam apalagi kesombongan
karena itu hanya milik Allah

malaikat kecilku...
bunda selalu merasa hebat setiap melihatmu
lebih hebat dari ayahmu
bunda merasa lebih perkasa karena bisa melahirkanmu
dan mengandungmu
sekarang, kembali tidur ya....
nanti kita bercanda lagi

"Doa"

By On Agustus 04, 2006
Doa I

aku bukanlah pendoa yang doanya selalu terkabulkan
juga bukan orang yang pandai sekali berdoa
aku hanya tahu satu satu tentang tata cara berdoa yang baik dan benar
aku adalah aku !!! dengan segala kekurangan dan keburukanku
dengan sedikit kelebihan tentunya
aku bukanlah pendoa yang baik
tapi aku yakin Tuhan pasti mengabulkan doaku
meski aku tidak memakai jubah, tidak berjenggot dan tidak berselendang panjang
aku hanya tahu sedikit tentang doa yang makbul
bahkan dalam berdoa,
seingatku jarang sekali aku menangis
paling aku hanya bisa membuat suaraku sedikit perlahan dan mengiba
memang begitu kan seharusnya etika meminta
dengan suara yang lembut dan mengiba
agar permintaan dikabulkan


Doa II

aku memang bukan pendoa yang baik
aku bahkan jarang sekali bersimpuh untuk berdoa
tetapi aku sering melakukannya ketika berjalan
ketika melihat sesuatau atau merasai sesuatu
ketika hujan atau ketika aku kesusahan
dan tidak lupa bersyukur kalau aku bahagia


Doa III


aku melihat anak-anak palestina satu-satu kehilangan nyawanya
dari tahun ketahun sejak aku belum mengerti apa itu perang
ketika aku menyaksikannya dari televisi
abu-abu yang beterbangan
juga mesiu-mesiu yang menyengat
sejarah perang yang paling lama
yang paling kejam dan biadab
aku melihat istri-istri palestina
satu satu menyandang status janda
anak-anak menjadi yatim


Doa IV

aku bukan pendoa yang doanya mujarab
yang sekali berdoa langsung di dengar oleh Tuhan
ketika aku meminta perang berakhir di palestina atau libanon
dan Tuhan langsung mengabulkan
ketika memohon agar tank tank milik israel terjungkal ketanah
atau meminta tentaranya mati mendadak karena flu burung atau virus lainnya
tapi aku tidak berhenti berdoa
meski tanpa jubah panjang atau jidat yang kehitaman
walau doaku harus terseok dan tersangkut di negara lain dahulu
baru entah beberapa waktu kemudian sampai kesana


Doa V

begini saja,
aku akan minta tolong pada si mungil ini untuk berdoa
bayi yang baru lahir tiga hari kemarin
bukankah doanya lebih di dengan Tuhan?
Nak,
doakan saudara-saudaramu disana dengan bahasa mu sendiri
dengan tangis dan senyummu
dengan decapanmu ketika kau menyusu pada ibumu
dengan desah nafasmu yang teratur
Nak,
aku tahu kamu terlalu kecil untuk kusuruh berdoa seperti itu
tapi itu harus kuajarkand ari sekarang
agar kelak kau terbiasa dengan penderitaan orang lain
agar kau tumbuh besar dengan hati yang lembut


Doa VI

aku bukanlah pendoa yang sekali berdoa langsung terkabulkan
tetapi mungkin Tuhan menundanya
hey! yahudi!!! perang pake adab!
jangan bunuh perempuan dan anak-anak
jangan hancurkan tempat-tempat umum
jangan musnahkan pohon-pohon dan ternak
tunggu saja semua itu melaknat mu
dan Allah mendatangkan azabnya
dan jangan seperti hewan
yang tidak mengerti tata krama


Doa VII


aku belum lelah
aku akan ajarkan terus anakku berdoa
aku berkeringat dan aku ikhlas
supaya keringatku bisa membantuku berdoa
Allah...jangan lantas karena dosaku
kau mengabaikan permintaan ku


12:19
jumat, August 04-06

Selasa, 01 Agustus 2006

"Kehidupan"

By On Agustus 01, 2006
kehidupan I

seperti apa kehidupan ini?
tanyaku semalam
pada bintang yang berlarian mengejarku
juga pada bulan yang tak henti menatapku
hidup ini adalah seperti yang kau rasakan saat ini
malam ini, siang ini dan juga detik ini
gelisah, air mata yang menggenang
juga bagian dari kehidupan itu sendiri
aku masih belum puas
kutanya lagi pada angin dan hujan
apa sebenarnya hidup ini
angin dan hujan menjawab hampir serentak
mereka berebutan menjawab
hidup adalah bayang-bayang dari kecemasan dan ketakutan

kehidupan II

aku masih belum mengerti
ketakutan dan kecemasan apa?
rasakan deguban jantungmu sendiri
sentuh ia dengan pelan dan pelan sekali
ketakutan dan kecemasan untuk tidak bisa menjadi lebih baik
ketakutan dan kecemasan menjadi lebih buruk


kehidupan III

hidup adalah kumpulan warna-warna
merah, biru, hitam dan putih
hidup membutuhkan keseimbangan
hidup membutuhkan irama dan ritme
hidup membutuhkan tidak hanya cinta, tapi juga sayang dan kerinduan
hidup adalah kombinasi antara kebahagiaan dan kesusahan
antara air mata dan senyuman
antara candaan dan juga sakit hati


kehidupan IV

hidup adalah lorong-lorong becek nan gelap
tetapi juga padang rumput hijau nan luas
bukan hanya keharuman tetapi juga amis
juga pengap
juga lumpur
hidup adalah...seperti apa yang kau gambarkan pada kertas putih


Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email