Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Kamis, 21 September 2006

Tentang Alam

By On September 21, 2006
ceritakanlah tentang hari ini, pada kawah-kawah lembah yang terjal. pendakian mencari jati diri yang tersaruk-saruk pada hasrat dan nafsu. dengan menjepit-jepit urat nadi hingga menjerit terperih-perih, persis seperti lolongan anjing yang mengejar bayangan tulang-tulang dimalam hari. ah...begitulah mengejar kepuasan, selalu merasa tak pernah cukup. keliaran dan kebuasan imaji semakin memporak-porandakan apa yang dipunyai oleh tubuh ini, sakit. dan akan selalu sakit.

ceritakanlah tentang malam yang merintih-rintih karena terus-terusan ditiduri dengan paksa oleh awan yang perkasa. ia tersaruk-saruk dan tak sanggup bangun, selangkangannya berdarah-darah. pun ia tetap berjalan dan melintasi malam. ia tertatih-tatih diantara gelap malam dan rumput-rumput yang basah...ah...adakah yang lebih indah dari ini? bercinta tanpa rasa sakit dan perasaan tercabik-cabik. tapi ia tetap melakukannya persetubuhan tak biasa itu, karena ia pun menginginkannya.

ceritakan tentang pagi yang basah, yang menyengat parfumnya hingga keujung selatan. ia sedang berebut misik dengan angin, dan membawanya terbang kemana-mana. ugh..kepala ku sakit, mas...tolong pijit dengan pelan dan lembut agar urat sarafku kembali mengendur.

kertas-kertas lusuh itu, semakin berdebu dan kusam. aku lupa kapan terakhir merawatnya. aku kadung mengukir nama itu besar-besar disana? ah, kadung? tidak, bukan! aku sengaja memahatnya, dengan warna terindah yang kupunyai. dan akan selalu ada....

hhh....kuceritakan sedikit tentang angin, sebagai penutup kisah ini. bahwa ia yang selalu menyampaikan pesan-pesan rindu melalui dawai-dawai hati yang kusut. melalui keringat-keringat yang muncul setelah nafas terengah-engah, pada rintihan dan erangan ditengah malam. yah...sampaikanlah aku akan kembali menggeliat siang nanti....

Ramadhan

By On September 21, 2006
Ramadhan...
tak setiap tahunnya aku bisa menyambutmu dengan menggebu-gebu
kadang aku terlalu sibuk dengan sesuatu yang entah
sampai aku lupa kau telah begitu dekat
setiap hari,setiap waktu setiap detik
aku lebih sering mengukir dosa
memahat kebengisan
aku berjalan mengambang
seperti diterbangkan angin
Ramadhan...
aku tidak ingin ada kesiaan lagi
hatiku tidaklah seputih kapas
karena itu prasangka akan selalu ada
tutur kataku tidak seperti Rasulullah yang selalu menenangkan
karenanya pasti ada yang sakit hati
aku Mohon ampun kepada Allah
kepada kalian semua
kepada sauradaku seiman
aku manusia kecil dengan segudang kekhilafan
aku tidak ingin ada kesiaan lagi
Ramadhan penuh berkah...
aku ingin menemuimu dengan hati lapang dan bersih
sampaikan maafku pada semua yang pernah kusakiti hatinya,
yang pernah kukasari,
yang pernah kudiami

Rabu, 20 September 2006

Ada apa dengan ku?

By On September 20, 2006
berapa kali aku ditanya
ada apa dengan mu?
ah, jawabnya ditanah pasir sana
pergi dan temui dia dulu
lalu datang kemari lagi dan tanyakan lagi padaku
ada apa dengan mu?
baru aku akan jawab denganku ada apa

ah....ada apa dengan mu kawan?
tanyalah pada potongan roti dan segelas air mineral dikamarku
pada sekat-sekat kamar yang debunya sudah lebih satu senti saking lamanya ku tinggalkan
kalau sore ini aku bercerita
bukan karena aku telah jujur

ah...kemana kutanya ada apa dengan diriku?
pada sprei tua yang telah bertahun-tahun menemaniku kah?
atau pada jarum berkarat yang sebentar lagi akan patah?
atau pada kertas-kertas usang yang ada nama-nama kekar diatasnya?
atau pada selesma yang keluar karena flu

hahahah....
mentertawai siapakah itu?
aku mentertawai diriku sendiri
dengan air mata yang jatuh tanpa henti
dengan sembab diujung senja
aku merindukan Zal...
lebih dari hari-hari kemarin


jendela kaca
17:52

20/09/06

selamat datang kekasih

By On September 20, 2006

Ba'da 'Ashar menjelang "tahrim"

Perlahan awan berarak memberi ruang pada matahari

memasuki ufuk barat nan senja

Matahari berpamitan pada senarai biru langit yang mengajari berhitung para fukaha

Mata merindu bulan sabit yang nyaris tak terlihat di pucuk angkasa

Anak dara berdebar-debar melipat sajadah dijemput sang perjaka yang baru "dikahwin" tadi siang

resah

gelisah

kerinduan

ketakutan

harap

Bulan madu sang malaikat itu berurai air mata tasbih, zikir dan raka'at tarawih

Para fukaha tak melanjutkan hitungan bulat sabit

Karena sang dara mengerang di malam pertama di peluk kekasihnya yang lama didamba

Mereka membuka selubung bulan di biliknya yang menghadap ke laut

Hitungan ke satu telah dimulai

Beduk bertalu-talu

Seperti rintihan sang dara yang tak mampu menahan rasa rindu :

Selamat datang kekasih

Dialog Dengan Adam

By On September 20, 2006
"Kenapa Bunda memilih Adam?"

kata-kata itu terlontar dari mulut mungil yang diisyaratkan adam dalam tidurku semalam, ketika tengah malam aku terjaga dan buru-buru melihat kesamping, dengan harapan segera kutemukan adam. aku lupa, adam telah pergi untuk beberapa waktu dan aku bukan lagi dirumahnya.

"Ah...haruskah bunda menjawab sayang?" mungkin aku tengah mengigau saat itu. tanpa sadar aku menjawab isyarat dari adam dengan suara parau.

adam tersenyum. matanya mengerjap-ngerjap. kakinya menendang-nendang popok birunya hingga terlepas. adamku semakin pintar sekarang, gumamku dalam hati. aku melirik jam dari layar hand phone ku, pukul dua malam. kepalaku masih terasa pusing dan tubuhku berkeringat.
"Bunda...." panggil adam lagi
"Ssstt..." kuletakkan telunjukku dimulutnya.
"kenapa bunda memilih Adam?" kali ini suaranya terdengar berbisik, mungkin ia takut ada yang terbangun dengan obrolan kami tengah malam ini.
"hm...kenapa bunda memilih adam? karena bunda yakin cuma adam yang bisa bunda cintai dengan sepenuh hati bunda, karena cuma adam yang bisa bunda sayangi dengan seutuhnya, karena cuma adam yang bisa menyelamatkan bunda disaat-saat genting seperti malam kemarin. dengar ya sayang...biarkan mereka-mereka itu menduga kalau malam kemarin bunda menangis karena takut berpisah dengan mu, itu juga tidak salah. tapi ada yang membuat bunda menangis sore harinya. kau tau siapa dia? yah...yang bunda ceritakan padamu pagi kemarin."
"dia menyakiti bunda?"
"tidak...tidak...bunda mu saja yang cengeng. dia dekat dengan bunda sekarang, tapi bunda memang marah sekali dengannya, bunda juga heran kenapa bunda bisa semarah ini padanya, dan bunda yakin dia juga bingung dengan semua ini." aku memeluk adam.
"hhh...." adam menghela napas.
"heheheh..kenapa sayang?"
"ya ya....adam ngerti sekarag bunda..." ia tersenyum nakal
"ngerti apa sayang?"
"biar kita berdua saja yang tau kan bunda?"
"iya, tapi sekarang sedang tidak ada siapa-siapa...kita bisa cerita dengan leluasa adam sayang"
"ya, semalam aku mendengar bunda ngobrol dengannya."
"kamu dengar apa?"
"bunda bilang ke dia kalau bunda rindu dia kan?"
"heheheh...kalau itu hampir selalu sayang...."
"apa bunda tidak bisa jatuh cinta kepada yang lain?"
"hust....anak kecil kok tanya begitu? umur adam belum pun genap 60 hari, ngerti apa soal cinta?"
"aku heran saja bunda...cinta itu seperti apa sih? kok bisa bunda mencintainya melebihi bunda mencintai diri bunda sendiri."
"sayang...suatu saat kau akan mengerti cinta itu seperti apa, dia tidak bisa digambarkan dalam sketsa-sketsa seganjil apapun, dia tidak bisa dibentuk atau diukir sekalipun oleh pengukir terkenal. dia tidak bisa dipentaskan hanya dengan senyum dan tawa, tapi jg dengan air mata dan sesekali dengan luka. ah..adam kecil bunda, kau tahu bunda ingin pergi dari cinta seperti ini, bunda ingin mencintaimu saja."
"bunda...sebelum kita tidur kembali, aku ingin tahu...apa bunda masih bisa mencintai yang lain?"
"bunda jawab lain kali ya sayang?"

Selasa, 19 September 2006

menjemput luka

By On September 19, 2006
pulang kerumah berarti kembali menjemput luka
memahat cinta berarti juga mengukir air mata
meninggalkan adam sama saja dengan membuang nafas
ketika tersaruk dan terjatuh tak ada lagi popok lusuh yang bisa menyembunyikan ku
ketika tersandung dan sekarat tak ada lagi yang bisa menolong seperti semalam
tak ada lagi yang mengerti akan isyarat dan bisa melindungiku dengan cinta yang sempurna ah,...tak ada adam kecil berarti hidup dengan sebelah kakia
aku mulai mengerti sekarang
adamlah yang bisa dicintai dengan seutuhnya

pulang kerumah berarti kembali menjemput luka
melihat kasur itu artinya mengais dosa
melihat dinding kebencianlah yang ada
melihat surat cinta di pintu lemari
sama saja dengan mengatakan semalamat tinggal
cinta Adam saja yang kubutuh
__________________

isyarat pada adam

By On September 19, 2006
tidak ada lagi adam kecil didekatku, tidak ada lagi yang bisa mengerti isyarat-isyarat yang kusampaikan. ah, tidak adalagi yang menyelamatkan ku seperti semalam, tidak adalagi yang menolongku seperti semalam, aku seperti tersaruk, sakit sekali. kemana aku lari ketika hati tercabik-cabik seperti ini, adam kecil...kau pergi ketika bunda masih ingin berlindung dibalik popok mu yang berwarna biru. kau meninggalkan bunda disaat bunda akan jatuh dan mungkin bunda akan mati sepeninggalanmu. tapi, satu terimakasih untuk mu. kau telah selamatkan bunda semalam, dihadapan semua orang, kau telah menjadi relasi yang baik untuk menutupi semua sandiwara bunda nak.

Cerita Bunda ke Adam

By On September 19, 2006
adam kecil...maafkan bunda ya nak, tanpa sengaja kamu telah jadi tempat pelarian gelisah bunda. dengan adanya kamu bunda bisa berbohong, bunda bisa menutupi kegalauan hati bunda dengan mencium pipi mungilmu yang merah. bunda bisa menangis tanpa ada yang tau sebenarnya tangisan itu karena bunda takut berpisah denganmu atau karena yang lainnya. ah...adam kecil bunda, terimakasih telah menolong bunda disaat-saat kritis seperti semalam ya nak. dalam tidurpun bunda terus memanggil-manggil namamu semalam, beberapa kali bunda terjaga dan bunda dapati bunda bukan ditempatmu. bunda sedih, bunda kecewa. dan pagi tadi bunda kembali menangis nak, tapi tidak ada kamu yang bisa menolong bunda, ah...bunda sakit sekali pagi ini. bunda mau pergi saja rasanya nak, tapi kamu mau kan ikut dengan bunda sayang?
kamu tau sayang, perih sekali yang bunda rasakan saat ini. pertama karena bunda kehilangan kamu untuk beberapa waktu, bunda tidak pernah menduga kalau semua ini terjadi pada bunda. seluruh kekuatan bunda rasanya hilang seperti anai-anai yang diterbangkan angin ketika kamu pergi. bunda tidak tahu harus menjalani hari-hari ekdepan ini seperti apa...adam kecil...dalam diam mu bunda yakin kamu thau apa yang bunda rasakan, kamu bisa menterjemahkan apa yang bunda isyaratkan padamu. kau lihat mata bunda semalam kan? terimakasih telah tidak menceritakannya pada siapapun.
adam kecil bunda...semua yang pernah bunda ceritakan padamu jadi rahasia kita berdua ya sayang? satu pesan bunda, kelak kalau kamu dewasa jadilah adam bunda yang bijaksana ya? terimakasih telah membantu bunda melewati hari-hari berat akhir-akhir ini. bunda tidak tahu apa bunda sanggup menjalani semuanya kalau tidak ada kamu nak. dan sekarang bunda benar-benar merasakan seperti jatuh. bunda capek sayang begini terus, bunda lelah...bunda...banyak sekali yang belum bunda mengerti dari hidup ini nak, bahwa mencintai mu lebih indah dari segala cinta yang pernah ada.

Senin, 18 September 2006

Ku tiduri hujan

By On September 18, 2006
semalam
Kutiduri hujan dengan tubuh setengah basah
setengah kedinginan
setengah kepanasan
setengah kuselimuti
setengah kubiarkan terbuka
semalam
kupaksakan hujan dengan kehendakku
untuk melepas sebagian sajas
ebagian untuk besok, kataku
hujan menurut
semalam,
kutiduri hujan dengan tubuh setengah basah...

Minggu, 17 September 2006

Sebuah Introspeksi

By On September 17, 2006
Untuk mengetahui nilai Satu Tahun
Tanyakan seorang siswa yang gagal dalam ujiankenaikannya
Untuk mengetahui nilai Satu Bulan
Tanyakan seorang ibu yang melahirkan bayiprematur
Untuk mengetahui nilai Satu Minggu
Tanyakan seorang editor majalah mingguan
Untuk mengetahui nilai Satu Hari
Tanyakan seorang buruh harian yang memiliki enam anak untuk diberi makanUntuk mengetahui nilai Satu Jam
Tanyakan seorang ayah yang sedang menanti kelahiran anaknya
Untuk mengetahui nilai Satu Menit
Tanyakan seseorang yang ketinggalan kereta
Untuk mengetahui nilai Satu Detik
Tanyakan seseorang yang selamat dari kecelakaan
Untuk mengetahui nilai Satu Milidetik
Tanyakan pada seorang atlit yang memenangkan medali olimpiade

Sabtu, 16 September 2006

Diam

By On September 16, 2006
aku diam
diam
diam
dan diam
mataku saja yang memandang tajam
hatiku saja yang menahan amarah
tanganku saja yang mengepal kuat
lututku gemetar
tapi aku tetap diam
tak ada satu katapun yang ku keluarkan
aku takut dia sakit hati

"Mertua"

By On September 16, 2006
Kepalaku rasanya mau pecah, gimana enggak, orang tua mau datang bukannya malah senang, maksudku begini, senang sih senang, sanat senang malah tapi aku tidak tahu kalau akan begini jadinya. Sejak sore tadi muka istriku di tekuk terus, aku tak bilang kalau ia tidak menyukai orang tua ku, tapi aku yang sekarang jadi tidak enak. Uang sepeserpun tidak ada ditangan, bahkan tadi sore istriku ngutang ke tetangga sebelah untuk membeli beberapa keperluan untuk menyambut kedatangan mertuanya. Pagi-pagi ia sudah bersih-bersih dan beres-beres rumah. Kamar sudah disiapkan, spreinya sudah diganti dengan yang baru, ia juga telah membeli selembar ambal Palembang untuk menyambut mertuanya yang tak lain adalah ibuku.
aku lebih-lebih tidak enak kepada mertuaku, meskipun mereka ngga bilang tapi aku bisa menangkap rasa kecut dari raut wajah mereka. Apalagi kalau bukan soal uang yang telah kuhabiskan sebanyak tujuh juta-an untuk membiayai ibuku dan tiga orang saudaraku yang datang dari Palembang kemari. Semua tiket pesawat aku yang tanggung, juga termasuk akomodasi mereka selama di Medan, dasar manja. Pesawat delay sebentar saja mereka harus istirahat di hotel. Memangnya ngga bisa tunggu di bandara aja. Huh…aku kesal sekali mendengar semua ini. Tapi apa boleh buat, sesekali orang tua datang menjenguk anaknya dirantau orang, wajarlah kalau aku berusaha untuk menyenangkan mereka. Tapi yang aku ngga habis pikir, mengapa untuk bawa oleh-oleh kemari mereka juga harus minta uang pada ku. Katanya mau jenguk cucunya, tapi sedikitpun ngga mau mengeluarkan biaya. Padahal mereka bukanlah orang tak punya, hanya aku saja yang paling miskin diantara kakak-kakak ku yang lainnya. Sudah miskin, tinggal di rantau orang lagi. Walhasil belum ada sepetak tanahpun yang kupunya, tinggal juga masih di pondok mertua indah. Beruntung, mertuaku baik dan mau menerima keadaanku apa adanya. Inilah yang membuatku merasa malu dan tak enak hati pada mereka.
Untuk mereka jarang sekali aku bisa ngasih, tapi untuk orang tuaku sekali datang habis sampai berjuta-juta. Belum lagi biaya bawaan mereka. Beli ikan sungai dari sana saja sudah satu juta. Mereka tidak doyan ikan laut jadi harus bawa bekal darisana, padahal disini kan banyak ikan mujair dan bandeng. Huh…
Aku masih belum berani menyapa istriku, ia tidur membelakangi ku. Kugerakkan tanganku pelan-pelan untuk menyentuh punggungnya tapi tidak berani. Ia masih marah. Salahku sendiri. Tadi aku keceplosan ngomong didepan tamu. Aku mengatainya pelit karena Cuma sepiring kue yang ia keluarkan untuk temanku, padahal aku sendiri tahu kue itu ia persiapkan untuk menjamu ibu ku nanti. Yang membuatnya marah karena aku mengatakan itu didepan temanku tadi, terang saja ia marah karena malu. Padahal teman itu hampir setiap hari datang kerumah, sebenarnya tidak dijamu pun tidak apa-apa.
Aku tahu kesalnya makin bertambah ketika rombongan keluargaku tidak mau makan malam dengan alasan sudah makan ketika akan berangkat tadi. Jangankan istriku, aku juga geram. Membayangkannya pontang-panting seharian ini sudah membuatku tidak tega, apalagi ditambah dengan recokan anakku yang masih kecil. Sampai-sampai tadi dia absen mengajar.
“De…maafin abang ya?” pinta ku memberanikan diri. “Abang ngaku salah, tadi abang keceplosan ngomong, maafin ya…”
“De…ngomong dong, mau maki-maki-in abang juga boleh. Abang ngga bakalan marah, tapi please….jangan diem begini, jangan ditekuk mukanya.”
Ah…istriku, dia sampai memotong rambutnya menjadi sangat pendek gara-gara ngga sanggup mikir lagi. Dia sama pusingnya denganku. Memikirkan darimana mendapatkan uang untuk mereka selama disini, kan tidakmungkin mereka duduk dirumah aja, pasti aka nada jalan-jalan, belanja….dan biaya semua dari aku. Huh…!!! Terima gaji masih lama lagi. Pusing….
“De….” Aku menggoyangkan bahunya.
Hhh….istriku sudah lelap. Percumah deh ngoceh dari tadi, Cuma angin yang dengerin.
$$$
“Ini namanya apa ya?” Tanya ibu ku pada istriku. Ia menunjukkan masakan khas aceh, asam keueng.
“Ini namanya asam keueng, Bu” jawab istriku dengan senyum. Aku bersyukur ia sudah tidak ngambek lagi. Dia sudah kembali riang lagi. “Cobain ya….”
“Iya”
Ibu ku mengambil sedikit dan mencicipi. Ah, tiba-tiba ia tersedak dan terbatuk-batuk. Sampai mengeluarkan air mata. Aku jadi kasian melihatnya, begitu juga istriku, ia buru-buru menyapu-nyapu pundaknya agar menjadi lega.
“Kok rasanya aneh begini, kecut, pedas lagi…”
Aduh ibu….seketika wajah istriku berubah. Aku meliriknya dan cepat-cepat membuang pandangan saat ia memelototiku. Aku jadi geli. “Ibu tidak mau, ikan sungai saja…”. Hhh…ibu sama sekali tidak berperasaan, apa tidak bisa bilang dengan cara yang lebih halus. Namanya juga asam pedas, ya asam, ya pedas. Kalau manis dan pahit bukan asam keueng namanya.
Sementara ketiga saudara ku yang lain saling melirik, aku perhatikan saja gelagat mereka. Semuanya merasa bersalah atas sikap ibu barusan. Jadilah makan siang hari ini berlalu dengan biasa-biasa saja, banyak yang diam. Aku sendiri menjadi tidak berselera untuk makan.
“Maafin ibu ya de?”
“hm…ngga ada yang salah kok sama ibu, kan memang bener masakannya asam dan pedas”.
“Iya tapi kan memang begitu rasanya…”
“Udah lah…ngga usah diributin. Sekarang mendingan abgn cepat mandi dan beres-beres, kita mau ajak ibu jalan-jalan. De tunggu setengah jam lagi, kalau telat de tinggalin.”
“Iya deh iya….”

Jumat, 15 September 2006

Dua Senarai

By On September 15, 2006
aku belajar keikhlasan pada lampu teplok dirumahku
belajar untuk sabar dan menerima apa yang diberikan Tuhan kepada ku
aku belajar melepas keinginan pada lampu teplok dirumahku
belajar melepas cinta dari orang yang kucintai
belajar memberi pada lampu teplok dirumahku
belajar untuk tidak menagih janji juga dari lampu teplok dirumahku
belajar menerima ketika salah jatuh cinta
ah, sudah ku bilang, aku belajar menahan amarah pada lampu teplok dirumahku
belajar berbagi pada lampu teplok dirumah ku


aku menitip pesan pada gadis kecil yang namanya sama dengan ku
senarai...
sampaikan salam untuk ibu mu
aku bilang nama kita sama
itu karena kita sama-sma dicintai
senarai mengangguk
ia masih tiga tahun
tentu belum mengerti
bahwa ada dua senarai di hati ayahnya


aku belajar menitip pesan pada lampu teplok dirumah ku
belajar menulis dua senarai pada hati seorang lelaki


Rumah Adam
Tengah Malam, 14/09/06
__________________

Senarai Cinta...

Jumat, 08 September 2006

Bentuk Setengah Utuh

By On September 08, 2006
kugambarkan Hujan
dalam bentuk setengah utuh
setengah keatas
atau setengah kebawah
supaya aku mudah menjelajahinya

hari ini kuselesaikan setengah
besok setengahnya lagi
lusa ku ulangi lagi

kugambarkan Hujan
dalam bentuk setengah utuh
setengah keatas
setengah kebawah
agar aku mudah menelusurinya


sekarang, dudukkan aku didekat Hujan
agar aku bisa memandangi bentuk setengah utuhnya

Hanya Aku Yang Tahu

By On September 08, 2006
hanya aku yang tahu
seperti apa tanganku mengepal
seperti apa kaki ku melangkah
seperti apa tubuhku mengatup
jadi,
janganlah kau sok merajaiku
mengatakan begini begitu
sementara kita baru kenal sehari


berhentilah berfikir menyalahkan orang lain
karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan
tidak tersemat dipundak ku
atau dibahu mu
jadi,
berhentilah mengatakan ku
pengkhianat, atau pengecut
karena penjahat
tidak juga ingin di cap pendosa


rumah Adam, 07/09/06
23:12

"Bulan Tampak Separuh"

By On September 08, 2006
kusaksikan bulan dari jeruji kepasian
dengan noktah-noktah kelabu yang melingkari
angin-angin basah
ramai-ramai mendorong awan
menutupi bulan
hingga kelihatan separuh saja
tampak sabit kini


malam-malam gelap
dibyang-bayangi samar bulan
dikipas-kipasi angin basah
diarak-araki awan gelap
yang saling adu ketangkasan
saling menampakkan kekuatan
hingga bulan tetap separuh


Rumah Adam, 07/09/06
22:36

Sabtu, 02 September 2006

"Itu kah Rindu?"

By On September 02, 2006
hei, rindukah itu
yang mencabik-cabik perasaan?
yang mengoyak-ngoyak logika
yang menyeret-nyeret hati


hei, rindukah itu
yang mengerat-ngerat jasad
yang mencincang-cincang batin


hei, rindukah itu
yang mampu mengalahkan logika
yang bisa membutakan mata
yang mampu mengelabui akal

apakah itu rindu?
yang menyerupai Scylla*
yang tumpah berserakan tak tentu arah
yang mengalir dan terus mengalir tak mau berhenti


ah, itulah rindu rupanya


*Scylla: dewi yang berubah wujud menjadi monster dalam mitologi yunani, yang meneror pelaut diselat messina

Jumat, 01 September 2006

"Cerita Sore"

By On September 01, 2006
aku duduk dikursi yang sudah tidak utuh lagi setelah menyerahkan motor kepada montir. aku memperhatikan dari jauh apa yang dilakukannya, mula-mula ia melepaskan ban dalamnya lalu menambalnya dengan karet dan dibakar suapaya menempel, prosesnya cukup lama juga. dan aku harus menunggu agak sedikit lama, mesin gen set besar sangat membuatku tak nyaman dan bising. saat itu masih pukul 17:39.
"kak, udah dicari kemana-mana ngga ketemu juga rumahnya, malah udah sampai ke fajar hidayah. bawa pulang aja lagi ke takengon jilbabnya" tulisku melalui layanan short message service. barangkali kedengarannya agak sedikit pedas tapi aku tidak bermaksud begitu. saat itu akupun tidak tahu apa yang sudah tertulis dilayar hand phone ku.
sudah satu jam lebih aku berputar-putar, keluar masuk lorong untuk mencari rumah yang dimaksud, tempat kak isra menginap selama ia berada di kota ini. tapi tidak ketemu juga rumahnya, yang membuatku sedikit kesal adalah karena sebelumnya aku sudah pernah kerumah itu beberapakali dan sudah pernah menginap, rasanya sangat tidak lucu kalau sekarang aku lupa dan sama sekali tidak tahu lagi dimana rumahnya. entah sudah berapa orang kutanyai tapi tidak ad satupun yang bisa memberikan petunjuk dengan benar.
"Assalammualaikum. kak numpang nanya ya? rumah yatim darul aitam dimana ya?" tanyaku pada seseorang yang ada dikios samping jalan.
"oh kedepan lagi dek, jalan ini lurus aja, nanti ada kios kecil rumah yatimnya disebelah kiri." tunjuknya. aku mengangguk meski agak sedikit ragu. pasalnya jalan yang ditunjuk oleh kakak itu sudah sangat jauh dari ruas jalan utama. tapi aku tetap saja menuju ke rumah yang ditunjuk tadi dan ternyata memang bukan rumah yatim yang ku maksud.
"duh...kenapa aku bisa lupa rumahnya ya?" batinku. padahal aku sudah pernah kesana. aku memutar arah dan berniat mencari rumah yatim yang satunya lagi. aku harus menemukan rumah itu, tekadku.
mei yang lalu aku pergi ke takengon dan meninggalkan selembar kerudung disana. kerudung berwarna biru yang sangat aku sukai. aku agak teledor dan waktu itu pulangnya memang agak buru-buru. tapi syuurlah kak isra tidak lupa membawanya kemari dan aku harus mengambil kerumahnya sore ini juga karena nanti malam ia akan pulang.
tapi rupanya Tuhan berkehendak lain, ban depan motorku tiba-tiba kempes. dengan kondisi seperti ini tentu saja akutidak bisa meneruskan pencarian. tugas berikutnya yang harus kulakukan adalah mencari bengkel untuk menambal ban, kalau tidak terlalu sore munkin aku akan meneruskan mencari rumah itu. kalau tidak ya aku harus mengikhlaskannya. biarlah dibawa pulang lagi ke takengon sana.
dengan laju yang lambat aku menyusuri jalan pulang, hatiku sempat kacau juga bagaimana kalau tiba-tiba hujan turun melihat langit sudah mulai gelap karena mendung. angin bertiup kencang sekali, menerbangkan debu-debu dan sampah membuatku kesulitan melihat.
apes belum cukup sampai disitu rupanya, ketika sedang jalan tiba-tiba motornya berhenti dan tidak mau bergerak lagi. "oh Tuhan..." hanya itu yang keluar dari bibirku, selanjutnya melihat kekiri dan kekanan, kalau-kalau ada yang berjualan bensin ditempat sepi seperti ini. beruntung tidak jauh dari sana ada pedagang bensin. akupun kembali melaju dengan laju motor yang terseok-seok.
sudah pukul enam kurang seperempat, ban motorku masih belum selesai ditambal. aku berdiri dan melihat sungai yang ada dibelakangnya. airnya mengalir tenang, berwarna agak kehijauan tetapi debit airnya tampak berkurang. yah..kemarau yang berkepanjangan telah membuat airnya menyusut. aku kembali lagi ketempat tadi, lalu mengeluarkan buku the motor cycle diary nya Che Guevara yang kupinjam dari seseorang. tinggal beberapa halaman lagi dan aku telah menyelesaikannya sore itu.
aku teringat lagi pada kerudung biru itu, harusnya sudah diambil sejak senin yang lalu tetapi karena ada sesuatu dan lain hal akhirnya tidak jadi. biarlah ia kembali lagi ke eropa barat daya sana, begitu aku menyebut kota dingin itu. aku benar-benar telah jatuh cinta pada kota itu. aku ingin kesana lagi, mungkin saja suatu hari nanti aku akan mengambil sendiri kerudung itu kesana.
pukul enam lebih, ban sudah selesai ditambal, aku langsung membayar dan meninggalkan tempat itu. aku melarikan motor dengan sangat gila sore itu, seperti orang mabuk. aku ingin cepat-cepat sampai dirumah. aku capek, aku lelah, dan aku hiv.

"Aku perempuan"

By On September 01, 2006
aku perempuan,
yang bisa menghargai dan menghormati diri
aku perempuan,
yang mempunyai seperti apa yang kau katakan
tapi bukan untuk menabur dosa pada yang melihatnya
aku perempuan,
yang ingin dihargai dan dihormati
tapi bukan dengan harus telanjang
sekali lagi,
aku tetap perempuan
aku merasa sangat perempuan
bukan dibawah ancaman siapapun
aku merasa sangat perempuan
bukan dibawah cercamu
aku merasa sangat perempuan
bukan dibawah selangkang mu
aku merasa sangat perempuan
karena aku hebat
aku bisa melahirkan laki-laki
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email