Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Kamis, 30 November 2006

Lelaki Lelaki Tikus

By On November 30, 2006
Sore yang memikat, langit-langit merah menggiring senja, diikuti rintik-rintik hujan gerimis setengah basah. Keduanya terlihat begitu kompak dan akur. Tak ada tanda-tanda saling berebut, baik matahari maupun hujan. Dari kekompakan keduanya lahirlah segaris pelangi yang melengkung indah dilangit sebelah barat sana. Melengkapi kesyahduan senja itu. Memuat siapapun yang melihat pasti berdecak kagum atas maha karya Tuhan yang dahsyat ini.

Namun tidak begitu halnya dengan Sheila, gadis itu justru ingin segera menyudahi sore itu agar bisa lekas pulang. Bukan karena dia tidaksuka hujan gerimis, bukan juga karena dia membenci pelangi. Musik yang mengalunlembut pun sama sekali tidak bisa memaksanya untuk duduk lebih lama lagi ditempat itu. Camellia-nya Ebiet G. Ade yang menjadi lagu favorite nya sejak dulu terdengar biasa-biasa saja.

Kopi ginseng yang ia pesan tadi sudah dingin, masih tersisa setengahnya tapi ia tak berniat menghabiskan minumannya. Ia menjadi tak berselera. Kehangatan yang sempat ia bayangkan justru menjadi dingin dan beku, lebih dingin dari sore ini. Yang ada dalam hatinya adalah bagaimana ia bisa segera sampai kerumah lalu tidur sepuasnya. Sesekali ia melirik si tikus yang duduk disebelahnya, membuatnya semakin jengah dan ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Menembus hujan matahari. Tapi yang dilihat sepertinya tidak merasakan apa-apa, ia seperti tidak sadar kalau dirinya telah menjadi gunjingan hati Sheila. Justru ia duduk santai sambil menikmati kopinya dan pisang goreng keju yang mereka pesan tdi dengan nyaman. Ia tidak risih atau kikuk dengan Sheila yang jelas-jelas tidak bersahabat. Dia memang laki-laki yang tidak memiliki sensitifitas.

“Kalau ngga ada yang dibicarain lagi aku mau pulang.” Suara Sheila memecah kebisuan mereka.
Eben menyeruput lagi kopinya hingga habis.
“Bahkan kita belum membicarakan soal kerjaan, kok mau pulang?” jawab Eben enteng.
Sheila meradang. Plin-plan sekali laki-laki itu, padahal tadi dia sendiri yang bilang urusan kantor ya dikantor bukan disini tempatnya. Dan sekarang dia bilang begitu. Dua hari yang lalu dia mengundangnya ke café ini untuk membicarakan soal pekerjaan, katanya bosan kalau melulu diruangan. Sekali-kali cari suasana santai.
“Mau kamu apa sih Ben?” Sheila menatapnya dingin. Eben tersenyum.
“Kita duduk danngobrol, ngga susah buru-buru pulang. Dirumah pun mau ngapain.”
Eben berusaha memegang tangan Sheila tapi dengan cepat Sheila menarik tangannya. Ia tak menyerah dan mencob sekali lagi namun kalah cepat dengan gerakan Sheila. Ia pun berhenti.
“Dasar laki-laki tikus.” Pekik Sheila dalam hati.

Dalam hati ia menyesal telah menerima tawaran Eben untuk bertemu di café ini. Bukan itu saja, dia juga menyesal telah bekerjasama dengan lembaga yang dipegang oleh Eben. Tapi sekali-kali membicarakan urusan kantor diluar tidak msalah. Iapun jarang sekali punya waktu untuk bersantai-santai. Jadi tak ada salahnya menerima tawaran Eben dua hari yang lalu. Tapi ia tentu saja tidak menduga kalau reaksi Eben akan seperti ini, walaupun sedikit banyak dia sudah dengar tentang Eben. Apalagi dia sebagai mitra harusnya Eben bisa bersikap professional. Tapi dasar tikus! Lagi-lagi Sheila mengerang dalam hati.

Tapi tikus yang satu ini bukanlah tikus biasa. Kalau yang lain diibaratkan dengan tikus rumah maka Eben adalah tikus cerurut, tikus hutan yang liar dan rakus yang bisa saja memakan tikus-tikus rumah.

Sheila tidak habis pikir bagaimana mungkin semakin lama semakin bertambah saja laki-laki yang harus ia masukkan dalam kelompok tikus. Bukan Cuma menyebalkan tapi juga menjijikkan. Begitulah Eben, genit, liar dan serakah. Rasanya tak cukup dengan itu menggambarkannya sebagai tikus, dia suka memanipulasi anggaran proyek, suma mark-up dan suka main dengan staff nya, beruntung ia maish punya tampang lumayan. Tapi kali ini Sheila benar-benar membuatnya tidak berkutik.

Ah, tiba-tiba saja ia jadi teringat Fikar, laki-laki santun yang dengan berat hati harus ia jadikan tikus juga.

***

Sheila hampir saja tertidur ketika mendengar suara pintu depan diketuk. Ia bangun dan memakai kimononya, sekilas ia melirik jam, pukul sepuluh kurang. Ia menebak-neba siapa yang datang kerumahnya malam-malam begini.

“Fikar, kok tumben malam-malam datang kerumah?” Sheila membetulkan kerah bajunya yang berantkan.
“Ada yang harus aku ambil dari mu.”
“Apa?”
“Boleh aku masuk dulu?”
“Oh pasti. Masuk dan duduklah dulu.”

Sheila meninggalkan Fikar dan segera masuk kekamarnya untuk mengambil sesuatu setelah Fikar menjelaskan maksud dari kedatangannya. Note book nya Fikar ketinggalan dirumah ibunya karena itu dia harus mengambil data di komputernya . karena laporan triwulanan peroyek pengadaan perahu untuk nelayan harus diselesaikan mala mini dan dikirim ke Jakarta besok pagi-pagi. Tidak banyak, hanya tinggal beberapa lembar lagi karena 90% nya sudah seelsai dan sudah di print out oleh Fikar.

“Nih, cari sendiri.” Sheila menyerahkan lap top nya kepada Fikar. Tanpa dikomando Fikar langsung mencari-cari file yang dimaksudnya. Sedangkan Sheila membaca majalah, sEbenarnya ia mengantuk sekali tapi meninggalkan Fikar sendirian tidak enak.

Sedang diluar sana langit mulai tampak tidak bersahabat, gumpalan-gumpalan hitam mulai memadati arus lalu lintas dicakrawala. SEbentar lagi gumpalan itu pasti akan berubah menjadi rintik-rintik hujan yang lebat dan deras. Bintang-bintang mulai tinggal satu-satu sedang bulan sejak tadi sudah meredup.

Angin bertiup tidak mau kalahnya, ia sepertinya juga ingin menunjukkan kekuatannya pada langit. Bahwa ia bisa meniup daun-daun, bahwa ia bisa menerbangkan sampah-sampah, bahwa ia bisa menggoyangkan nyiur-nyiur, bahwa ia bisa meluruhkan putik-putik jambu dan menjatuhkannya keatap rumah. Dan membuat bising serta memekakkan telinga. Tidak lama berselang hujan pun turun dan akhirnya tumpah menggasak bumi. Tanah-tanah menjadi becek, burung-burung malam menjadi kalang kabut.

Namun Sheila yang tengah terlelap sama sekali tidak mendengar suara klotek-klotek yang dituimbulkan oleh putik-putik jambu tadi. Apalagi suara angina dan hujan, ia benar-benar lelap dan terkapar.

Tapi tidak dengan Fikar, dalam ketakutannya ia tampak makin takut ketika ia sadar telah terkurung dirumah Sheila. Mau pulang menerobos hujan itu tidak mungkin, sebab hujan terlalu lebat dan angina kencang, sebab malam terlalu pekat untuk ditembus begitu saja. Dia pun tidak bawa mantel hujan. Jantungnya berdetak tidak karuan. Cemas, takut, dan entah apalagi. Dan keresahan itu terpaksa ia telan sendiri mana kala Sheila masih terbuai dengan alam tidurnya.

Detak jantungnya semakin tak berirama, mana kala ia melihat kerah baju Sheila tersingkap. Dia tidak memakai pakaian dalam. Darahnya berdesir hebat, adrinalinnya melonjak-lonjak tak mampu ia kendalikan.

Diam-diam ia mencoba memperhatikan Sheila, tampak anggun dan mempesona, bahkan dalam tidurnya pikir Fikar. Sheila tidaklah begitu cantik, wajanya biasa-biasa saja, kulitnya berwarna agak sedikit coklat. Tingginya hanya sekitar 158 cm. Tapi ia punya sepasang mata yang hitam dan tajam, alisnya lebat dan rapi. Pembawaannya selalu tenang dan berwibawa, pengetahuannya luas, Sheila cerdas dan romantis. Yang terakhir ini tentu saja Fikar tahu dari puisi-puisi dan tulisan Sheila yang sering ia baca di site nya.

Dalam hati kecilnya sesungguhnya ia mengagumi Sheila, dan berharap Sheila mau menjadi istrinya. Tapi ia tahu diri, pokoknya jangan macam-macam kalau tidak mau dipecat tanpa alasan oleh Sheila.

Lama Fikar memandangi Sheila, sejenak ia termangu. Angannya melayang begitu jauh, terbang mengitari langit-langit yang berserakan hujan, mandi bersama basah berdua, lalu duduk diatas bulan dengan kaki bergelantungan kebawah. Menjuntai-juntai…

“Maafkan aku Sheila…” Fikar menunduk dalam-dalam. Dia tak berani menatap wajah perempuan disampingnya. Hatinya semakin risau dan takut. Perasaan bersalah, berdosa, menyesal berbaur dalam relung hatinya. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa ia maupun Sheila sadari bagaiman semua itu bisa terjadi hingga akhirnya mereka tak berdaya.

Sheila memandang Fikar tak berkedip. Hatinya berkecamuk. Kepalanya semakin terasa pening. Mengapa harus Fikar teriaknya berkali-kali. Laki-laki yang ia kagumi sekaligus hormati. Ia kagum akrena pembawannya yang matang dan bijaksana, dalam bekerjapun Fikar selalu sungguh-sungguh dan tekun, karena itu dia selalu mempercayakan setiap ada proyek baru kepada Fikar.

Fikar tidaklah seperti Eben atau Lindan, yang suka menggerogot sana menggerogot sini. Seperti tikus-tikus busuk yang ada dirumahnya dahulu. Yang suka menggigit spreinya, menggigit buku-buknya, mencuri makanan dan terkahir melarikan dua buah celana dalam kesayangannya. Itulah puncak kemarahannya kepada hewan itu yang tidak bisa ia maafkan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pindah. Itulah yang mendasarai mengapa laki-laki yang dibencinya disamakan dengan tikus, tapi apakah Fikar harus juga?

Ia memang mengagumi Fikar, sesekali ia merinduinya. Tapi tidak lebih dari itu. Bukan untuk semua ini. Karenanya dengan berat hati ia harus menyebutnya sebagai tikus.

“Sheila?” Fikar terdengar memelas. “aku tidak bermaksud menyakitimu.”
Lalu apa? Jawab Sheila dalam hati. Ia pun meninggalkan laki-laki itu sendiri dan masuk ke kamar mandi. Ia menangis disana.

***

Sheila memandang Eben tajam, kali ini kesabarannya ada di titik kritis. Ia benar-benar tidak bisa mentolerir sikap Eben yang suka menjawil seenaknya, memegang tangannya, bahkan kalau ia tidak hati-hati pahanya pun bisa jadi sasarannya.

“Minggir! Aku mau pulang.”
“SEbentar lagi dong…”
“Kita udah satu jam lebih disini dan tidak ada yang penting yang kita bicarain, waktu ku ngga banyak apalagi untuk duduk seperti tikus macam kamu.” Akhirnya keluar juga kata-kata itu.
“Apa maksud mu?” Eben kelihatannya tersinggung.
“Pertanyaan bodoh! Harusnya sebelum kau Tanya mengapa kau fakir dulu.” Sheila pun pergi setelah meletakkan uang lima puluhan ribu diatas meja. Dalam ketersinggungannya Eben melirik uang itu. Pupil matanya melebar, bibirnya tersungging.

Tapi ia masih terheran-heran dengan keberingasan dan kekasaran Sheila yang mendadak. Padahal selama ini ia tahu Sheila sebagai perempuan yang lembut dan bersahaja. Eben termangu-mangu sambil menatap punggung Sheila yang makin menjauh.

Bilik hati
29/11/06
21:19

Minggu, 26 November 2006

Cerita Sore Tentang Kematian

By On November 26, 2006
"say, nanti malam aku nginap ditempat mu ya? di rumah sendirian nih, sepi euy..." begitulah pesan yang saya kirimkan kepada salah seorang teman. sayangnya sebelum saya tahu pesan tersebut sudah terkirim atau belum hand phone saya drop. mati total!
bisa dibayangkan kekesalan yang tiba-tiba muncul dihati? sedangkan kepastian untuk menginap menjadi tidak jelas. kalaupun pesannya sampai dan teman saya tadi membalas sudah pasti pesan itu tertunda dulu, baru setelah hand phone nya diberi nyawa pesan itu masuk.
tiba-tiba terlintas untuk menelfon melalui wartel tapi sayangnya saya tidak hapal nomornya (awalnya saya berniat menulis kata sayangnya dengan sialnya, tapi kemudian teringat bahwa tidak diperbolehkan memakai kata sial), inilah kelemahan saya, susah sekali menghapal angka-angka. seingat saya hanya beberapa nomor saja yang saya hapal, seseorang yang benar-benar dekat dengan saya.
dari kekesalan itulah kata-kata ini tersusun dengan rapi sampai akhirnya menjadi sebuah catan sore yang hambar. satu jam kemudian, saya menghidupkan kembali, sambil berdoa semoga saja ada sisa nyawa dari battery yang memang sudah layak diganti dengan yang baru. hand phone saya memang nyala tapi tak sampai satu menit, rupanya pesan dari teman saya tadi sudah masuk sayangnya belum sempat saya buka sudah mati lagi. sayapun cuma bisa menghela napas.
sementara itu diluar seorang gadis, usianya barangkali dua tahun diatas saya memanggil dengan wajah panik. saya melongo, setelah yakin saya yang dipanggil barulah saya keluar setelah sebelumnya menaruh hp dimeja.
"aduh kak...gimana nih, kami ngga sengaja." suaranya terdengar memelas. saya masih belum mengerti dengan maksudnya. kemudian dia menunjukkan genangan air yang tumpah dari pipa yang bocor karena tertabrak sepeda motornya. sayapun mafhum, tapi heran juga kenapa bisa sampai morotanya jumping kesana, padahal letak pipa itu berdampingan dengan dinding. ternyata tadi dia nabrak genset yang ada di dekat dinding, genset bergeser dan menjepit pipa air.
"kak kami ngga sengaja..." saya tersenyum, bingung juga harus berbuat apa. soalnya yang punya rumah bukan saya sih. akhirnya mereka berinisiatif membeli tali karet dan dengan bantuan seorang bapak pipa yang bocor itu ditambal. hanya untuk sementara waktu saja. lalu kedua kakak beradik tadi pulang dengan cemas setelah menitipkan no hand phonenya, kalau-kalau si pemilik rumah meminta ganti atau apalah.
saya tersenyum getir, begitulah dalam kehidupan sehari-hari, yang terjadi sering kali diluar keinginan kita. seperti saya barusan, berharap jawaban yang cepat dan pasti dari teman malah jadi lambat dan tidak menentu karena batre hp yang tiba-tiba drop. begitu juga dengan kakak beradik yang tadi. sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka akan mengalami hal seperti itu sore ini. contoh-contoh yang lain tentu masih banyak ragamnya.
beberapa tahun yang lalu, ketika itu saya masih duduk di sekolah menengah. sekitar tahun dua ribu dua-an kalau saya tidak salah ingat. siapapun tahu kalau tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang bergejolak di aceh. sampai suatu sore yang naas pun tidak bisa dihindari.
orang-orang memanggilnya bang Kariya, postur tubuhnya kecil dan kurus, tapi dia memiliki selera humor yang tinggi. anak-anaknya banyak dan masih kecil-kecil, baru satu orang saja anak sulungnya yang menikah. pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai agen kecil-kecilan, dia membeli coklat dari masyarakat dalam jumlah yang tidak seberapa lalu menjualnya kepada agen yang lebih besar.
sama seperti yang lain, ketika dipagi hari dia pergi dari rumah niatnya adalah mencari makan untuk keluarganya, anak-anak dan istrinya. tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. seperti burung yang pulang kesarangnya ketika hari mulai senja, begitu juga yang dilakukan olehnya. ia pun mengendarai motor tuanya untuk segera pulang kerumah. siapa sangka keinginan untuk pulang itu hanya sebatas keinginan seorang ayah untuk anak-anaknya. yang nyatanya ia pulang ke tempat lain yang jauh sekali. yah, laki-laki itu memang pulang, tapi pulang ke kampung akhirat. ia ditembak oleh tentara gara-gara dia tidak mendengar ketika dipanggil. ia pun jatuh tersungkur bersimbah darah. biji-biji coklat berhamburan bercampur dengan amis darahnya. tragisnya lagi jenazahnya dijaga dan tidak boleh diambil sampai malam menjelang. kalau tidak salah orang-orang PMI yang mengambil jenazahnya dan mengantar ke keluarganya. kedatangannya yang biasanya disambut gembira oleh anak dan istrinya maka sore itu disambut dengan pekikan histeris dan isakan tangis yang memilukan.
kajadian diatas adalah sedikit dari cerita-cerita yang sebenarnya sangat tidak kita inginkan, tapi manusia hanya bisa merencanakan, sedang yang menentukan adalah Allah. karenanya sebelum beraktifitas kita sangat dianjurkan untuk memulainya dengan Bismillah, mengharapkan keridhaan Allah kemanapun kita pergi. agar ketika ajal menjemput, kapan saja dan dimana saja, Allah tidak marah dan tidak murka kepada kita. Allahu'alam.

Sabtu, 25 November 2006

Alien dan Steek

By On November 25, 2006
Kuperhatikan bungkusan-bungkusan mie instant yang berserakan dikamarku, lebih kurang ada 6 bungkus dengan berbagai warna. Ada merah, kuning, hijau, seperti lagu pelangi-pelangi saja. Rasanyapun beraneka macam, ada yang rasa soto, ayam bawang sampai rasa sambal goreng yang ada ekstra terasinya.

Aku tersenyum kecut, sore tadi dengan sisa uang yang cuma delapan ribu lagi kubelikan sebungkus biscuit dan sebotol air mineral untuk stok makanan beberapa hari ini. Menyedihkan sekali mengingat sudah beberapa hari aku belum merasakan bagaimana rasanya nasi yang enak. Memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan korban-korban perang di Libanon, Irak dan Palestina sana. Uangku tinggal dua ribu perak tok! Cukuplah itu untuk ongkos angkot berangkat ke kantor besok pagi.

“Hi Aline, kok bengong?”
Aku mendongak, si Steward rupanya, pria kebangsaan Amerika yang bekerja disini. Bahasa indonesianya masih patah-patah dan membuat geli siapapun yang mendengarnya. Pun begitu dia tidak malu atau canggung mengucapkannya. Seperti tadi, ditelingaku nyaris terdengar “Hi Aline, kok begok?” aku dongkol mendengarnya.

“Hi Stik.” Jawabku berusaha tersenyum. Jujur, aku sedang ingin sendiri tapi dengan suasana kantor yang ramai seperti ini rasanya hampir tidak mungkin bisa menyendiri dengan tenang. Kalau tidak si A pastilah si B yang merecoki, tapi syaratnya ya ngga boleh marah. Namanya juga sama teman.

“Aku dipanggil lagi Stik, kau ingin memakanku?” Steward mengedip nakal. Anak satu itu memang hoby sekali ngebayol dan membuat kelucuan. Dia tak pernah marah kalau aku memanggilnya stik atau steek, makanan dari daging yang diberi bumbu dan terasa manis itu. Atau sesekali aku memanggilnya si rabbit, itu kalau aku teringat akan stewart, kelinci ku yang mati di tabrak tukang ojek beberapa bulan lalu.

“Nama kamu sama dengan nama kelinci ku.”
Ucapku suatu hari saat kami turun ke lapangan untuk memberikan pengobatan kepada masyarakat dampingan kami.

“Kamu boleh panggil aku apa saja, tapi kamu jangan marah kalau aku panggil alien heheh….” Laki-laki jangkung itu tertawa senang karena berhasil mendapatkan plesetan yang pas untuk namaku. Aku cuma mendengus tak ambil pusing.

Dibandingkan teman-teman Indonesia yang lain aku memang kurang peduli dengan si stik itu. Entah kenapa, sejak kehadirannya beberapa bulan yang lalu menggantikan pak Cristophe aku agak kurang sreg dengannya. Hal itu memang tidak pernah aku perlihatkan kepada siapapun dan berusaha untuk bersikap wajar didepannya. Tapi ledekan-ledekan kecilku seperti memanggilnya rabbit dan stik bukanlah ledekan biasa, tapi bentuk lain dari rasa tidak sukaku kepada orang asing itu. Kepada semua orang bule di kantor ini tentunya.

“Kalau makan kamu aku bisa kenyang sampe setahun, dan uangku tidak akan habis untuk beli makanan. Tapi, apa mau kamu aku kecapi, aku bakar dan aku jadikan lauk makan siang?”
“hehehe…kalau kamu yang beri kecap sendiri, bakar sendiri aku mau, tapi bakarnya harus pake arang ya?” Si rabbit itu makin tampak lucu dengan banyolannya.
“Oh ya,kamu sudah lunch baby?” Sok ramah pekik ku dalam hati.
“I’m fasting.” Jawabku pendek. Beginilah caraku menyiasati titik-titik kritis ketika uangku ludes sebelum akhir bulan. Sudah beberapa hari ini aku pun terpaksa mondok dikantor karena tidak ada uang untuk transport. Tiga hari lagi aku gajian dan sudah bisa pulang ke kontrakan lagi. Dan tentunya bisa bernapas lega karena tidak sering-sering melihat wajah si stik.
“Untuk apa puasa ini kan bukan bulan puasa?” Steward memandangku bingung dan mengharapkan jawaban yang memuaska.
Dasar cerewet, rutukku dalam hati.
“ Membayar puasa yang tertinggal di bulan puasa kemarin.”
“Oh…” Stik mengangguk-ngangguk, tapi aku yakin dia sama sekali tak mengerti dengan jawabanku.

Steward pun meninggalkanku setelah permisi untuk makan siang. Aku menggangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari layar computer. Aku tengah menyelesaikan catatan kecilku untuk ku postingkan ke rumah maya ku. Ketika steward sudah sampai dipintu dia melihatku dan aku melihatnya, dia melambaikan tangannya dan tersenyum. Tiba-tiba saja rasa bersalah menyelimuti ku. Aku telah memperlakukannya tak adil, dia baik padaku sementara aku sangat dingin padanya.

“Astaghfirullah..maafkan aku ya Allah…padahal aku sedang berpuasa. Tapi kok dongkol terus dari tadi.” Batin ku sambil terus melanjutkan ketikan.

***

Ku teliti dengan seksama uang yang ada didalam buku agendaku, sembari mengingat-ngingat kapan aku menyelipkan uang ini disana. Rasanya setelah lebaran ini aku belum pernah mengisi atau membuka agendaku sama sekali. Terus darimana uang seratus ribu ini muncul? Atau jangan-jangan ini adalah hasil dari doaku kemarin-kemarin yang di dengar oleh Allah. Aku heran dan bingung, sekaligus tak yakin dengan apa yang aku lihat.
“Hi Alien?”
“Hi juga kelinci.”
“Kamu lagi sibuk?”
“Tidak terlalu.”
“Bisa temani aku?”
“Kemana?”
“Aku mau kelapangan, dan Cuma mau ditemani sama kamu saja.”
Betingkah.
“Sama yang lain saja.”
“Kamu mau aku pecat?” Si bule yang rambutnya di cat hitam itu terpingkal-pingkal. Aku sewot dan mencibirnya, membuatnya semakin merasa senang dan menang. Dia Cuma bercanda, tapi melihatnya sebagai pemimpin tertinggi disini aku tak bisa berkutik. Khawatir juga kalau dia benar-benar marah dengan ku dia bisa saja memecatku.

Aku menutup tas cepat-cepat dan bersiap-siap untuk turun kelapangan, tak lupa ku bawa topi dan juga jaket. Hari-hari terakhir ini panasnya luar biasa dan berdebu.
Aku sebenarnya jengah melihat pemandangan seperti ini terus-menerus, setiap turun ke lapangan masyarakat menyambut si kelinci itu dengan sangat istimewa. Memperlakukannya bak dewa yang turun dari langit. Alasan mereka mungkin bisa diterima karena mereka sudah ditolong dan dibantu.

“Kami Cuma ingin menunjukkan rasa terimakasih kami dek. Karena sudah ditolong dan dibantu ” Ucap seorang bapak-bapak ketika aku bilang biasa-biasa saja menyambut steward, dia itu manusia biasa kayak kita jadi ngga usah berlebihan. Bedanya kulitnya saja yang putih sedangkan kita coklat. Si bapak malah mesem-mesem, pertemuan berikutnya dia malah menyediakan penganan kecil berikut kopi hasil racikan mereka sendiri. Steward tentu saja senang mendapat perlakuan seperti itu.

“Terimakasih sih terimakasih…tapi biasa aja lah pak.” Jawabku dengan bercanda.
Tapi yang aneh teman-teman yang lain yang sama-sama aktivis juga begitu, mengganggap bule-bule itu layaknya orang nomor satu yang harus diistimewakan. Padahal yang istimewa dan utama itu Cuma orang beriman saja. Tak ayal, untuk itu mereka juga ikut-ikutan mengecat rambut jadi warna putih atau merah. Dasar aneh! Belakangan malah abg-abg semakin banyak yang berprilaku aneh begitu, sok ke bule-bule an.

Kesal ku bertambah ketika suatu hari diam-diam aku mendengar obrolan si Stewart dengan Kathrine di kantor. Waktu itu kantor sedang sepi, orang-orang sudah pada pulang, beberapa teman yang nginap dikantor sedang pergi. Yang ada cuma aku, Steward dan Kathrine yang berasal dari inggris.

“Orang-orang disini aneh.” Kata si kathrine
“Aneh bagaimana?” Kali ini si stik itu benar-benar tampak bloon
“Lihat saja mereka, rambutnya di cat jadi kuning, jadi merah. Ngga pakai jelbab, padahal mereka muslim.”

Ugh…aku geram sekali mendengarnya, orang-orang bule itu hobi gossip juga rupanya. Tapi…yang mereka omongin memang bener. Bahkan diantara kami ada yang merokok. Memalukan sekali!
Sejak itu aku jadi lebih dingin lagi pada mereka, mereka itu baiknya didepan saja kalau dibelakang juga pada ngomongin untuk orang-orang kita. Nyelekit lagi ngomongnya.

***

“Hei….bengong aja kerjaannya. Laporannya harus siap minggu depan tuh.”
Laporan lagi laporan lagi. Itu artinya mulai sore ini aku harus siap-siap untuk berkutat dengan setumpuk kwitansi-kwitansi dan membuat laporan keuangan tiga bulan terakhir. Pekerjaan yang membosankan. Tapi mengingat posisiku di biro keuangan mau tak mau harus dikerjakan sebaik mungkin. Untuk itulah mereka memberi ku gaji disini dan memberiku berbagai fasilitas untuk memudahkan perkerjaanku.

“Iya,”
“Kamu sedang memikirkan sesuatu ya?” Tanya Steward dalam perjalanan pulang.
“Enggak, aku capek aja.” Jawabku sekenanya. Padahal benarnya aku sedang mikir, perlengkapan sehari-hariku sudah habis, sedangkan uang sedikitpun tidak ada. Mau pakai uang yang terselip di buku tadi aku ragu karena tidak yakin uang itu milikku. Ah…aku jadi pusing sendiri.
“Kamu bohong.”
“Ah sok tahu kamu stik.” Aku agak kesal.
“Jelek-jelek begini aku psikolog alien, jadi aku bisa baca pikiran kamu.”
“Hebat dong kalau gitu.” Aku makin tidak suka dengan cara bicaranya, sok tahu, sok hebat. Ugh…andai saja dia bukan bos ku pasti sudah ku labrak.
“Kamu pasti mikirin uang dibuku kamu kan?”
Aku mendongak. Dia tersenyum penuh arti.
“Uang itu aku yang letakkan disana, maaf…aku tidak bermaksud apa-apa. Aku Cuma mau Bantu kamu yang sedang dalam kesulitan.” Ucapnya lagi
“Kalau mau Bantu jangan segitu. Sekalian saja tanggung biaya hidupku seumur hidup.” Aku mkin sewot, malu dan tersinggung bercampur satu. Entah darimana si kelinci itu bisa tau aku sedang dalam kesulitan.
“Tidak sengaja aku buka blog kamu kemarin.”
Aku tersentak dan tidak menduga, yah…kupikir dikantor itu tidak ada yang tahu perihal rumah mayaku itu. Tapi nyatanya….
“Aku juga turut berduka atas musibah-musibah yang dialami keluargamu. Aku bisa rasakan kalau itu yang mengalami aku. Sedikit banyak aku tahu apa yang ada dalam pikiran kamu. Aku mohon, anggaplah aku sebagai teman dan saudaramu, bukan sebagai musuh walau kita berbeda keyakinan.”

Aku menunduk. Sama sekali tidak menduga apa yang tengah di bicarakan si stik. Paling-paling dia hanya iba dan pura-pura baik. Dasar…
“Kamu ngawur stik. Apa maksud mu untuk menyelipkan uang seratus ribu itu di buku ku? Sikap mu membuat ku tersinggung.” Aku benar-benar tersinggung jadinya.
“Maaf Aline, aku tidk bermaksud membuat mu tersinggung. Tapi sungguh, aku ingin menolong mu. Aku ingin membantu mu.”
“Tapi bukan begitu caranya.” Suaraku agak ku tekan. Keberadaan sopir didepan tidak membuatku risih karena aku memakai bahasanya si stik. Pak Rahmat, sopir yang baik itu Cuma bisa terheran-heran dengan apa yang kami bicarakan.
“Aku tahu, tapi aku merasa kamu akan lebih tersinggung lagi kalau aku tiba-tiba kasih uang ke kamu.”
“Entahlah. Aku memang butuh uang tapi….aku tidak bisa mentolerir sikap mu Steward.”
Muka ku memerah, stik juga kelihatannya agak tegang. Tahulah sekarang aku kenapa tadi dia memintaku turun kelapangan, padahal dia tahu aku sedang menyelesaikan laporan keuangan yang bikin runyam kepala.

Aku tak peduli lagi dengan apa yang dikatakan si rabbit tengik itu. Sepanjang perjalanan sampai tiba dikantor aku diam. Entah berapa puluh kali kata maaf yang dikatakan oleh Steward dan aku tak peduli. Aku marah dan sangat tersinggung. Harga diriku rasanya seperti terinjak-injak dengan uang seratus ribu itu.

***

Lama aku terpekur, mengulangi kejadian tadi siang. Aku benar-benar sudah kelewatan pada stik. Padahal niatnya tulus dan baik ingin membantuku. Terlalu tinggi kah egoku ya Tuhan? Sampai aku tidak bisa melihat kebaikan yang disodorkan oleh orang lain? Sebaliknya aku malah mengganggp itu sebagai penghinaan bagi diriku.

“Aline?”
“Stik. Ngapain kamu disini?” Entah sudah sejak kapan dia ada disitu.
“Kamu mikirin yang tadi siang?”
“Aku minta maaf stik, aku terlalu egois, padahal aku memang butuh tapi egoku mengalahkan logika ku.”
“No problem. Aku cari kamu kemana-mana tapi rupanya disini.”
“Untuk apa mencari ku?”
“Untuk menunjukkan ini.”
“Foto siapa ini?”
“Foto anak dan istriku, dia mirip sekali dengan mu Aline. Tapi mereka sudah tidak ada lagi, meninggal sewaktu kecelakaan tahun lalu.”
“Aku turut berduka. Tapi apa maksud mu menunjukkan itu pada ku?”
“Aku Cuma mau bilang, sejak pertama kali melihat mu aku sudah menemukan kehidupan ku yang baru.” Wajah Stik tiba-tiba berubah serius.
yang baik akan selalu terlihat baik walaupun segala macam cara dilakukan untuk mencari keburukannya. Begitulah aku melihat si kelinci bule itu.

Rumah Hilman
14:23 wib
24/11/06

Jumat, 24 November 2006

cinta

By On November 24, 2006
cinta,
ku tahu ia tak seputih kapas
tidak juga seperti noda
tapi kau bisa membuatnya lebih pekat dari noda
kau juga bisa membuatnya lebih putih dari kapas
suci, murni, bersih

cinta,
tak seindah yang kau bayangkan
tapi kau bisa membuatnya menjadi sangat indah
cinta juga tidak seburuk yang kau byangkan
tapi kamu sendiri yang menjadikannya lebih buruk

karena cinta alam ini ada
karena cinta aku terlahir
karena cinta kau dan aku bertemu
karena cinta pula kau dan aku berpisah


aku mau
kau tak persempit makna cinta
cinta itu seluas samudrasedalam lautan
setinggi awan
sekuat perasaan kita untuk saling memahami
setulus nurani kita

jatuh cintalah untuk bisa menulis

By On November 24, 2006
kalau ditanya pada saya, apa yang membuat mu semangat menulis? jawabannya karena saya sering jatuh cinta.
lho? kok bisa?
iya, mengenal BC membuatku sering menulis, melahirkan ide-ide kecil untuk ditulis walau waktu itu cuma sebatas pada lembar-lembar diary saja. kebiasaan ini akhirnya jadi kenikmatan tersendiri, saat lama tidak menulis sepertinya ada yang kosong dan hilang. aku semakin senang ketika mendapat kan job menulis diary dari teman untuk diberikan kepada mantan pacarnya, sampai tengah malam aku mengulik lembar demi lembar untuk menuliskan isi hati teman ku itu. aneh juga kalau dipikir-pikir, dia yang putus cinta kok isi hatinya disuruh tulis pada saya. inilah kelebihan orang-orang yang bisa menulis, kerahasiaan hati terjamin dengan aman.
kemudian ketika mengenal Z ide ku seperti tidak pernah kering lagi, setiap malam selalu saja ada puisi atau cerita untuk ditulis. begitujuga saat mengenal U, mengenal N...hidup ini semakin hidup dengan cerita-cerita yang terinspirasi dari mereka.
cinta tidak harus cinta yang sempit maknya, tidak terlepas dari ruang lingkup hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling menyukai satu sama lainnya. tapi cinta yang luas dan tidak terbatas pada sekat-sekat. mencintai keluarga, mencintai sahabat, mencintai alam, mencintai sang Pencipta.
lalu apa yang bisa ditulis dari mencintai tersebut?
banyak sekali, tulislah kekesalan mu, tulislah kerinduanmu, kegilaanmu, kenakalan dan kekurang ajaran mu. tulis semuanya tanpa memberi ruang pada ketiadaan kata-kata. jatuh cintalah pada lawan jenismu dan saya yakin sampai tengah malam pun mata akan sanggup menjaga. jatuh cintalah pada alam, dan kau tidak akan pernah kehabisan ide untuk menuliskan keindahan laut, keindahan sungai, juga alam yang semakin rusak. jatuh cinta lah pada teman-teman mu maka kau tak akan pernah lelah menuliskan puisi persahabatan.
tapi...
seorang kekasih, seorang teman, dan alam adalah sesuatu yang tidak kekal. suatu saat dia akan musnah, maka cintailah yang kekal agar ide untuk menulis juga tidak punah.
jatuh cintalah setiap hari pada Allah, dan Dia akan memberikan kucuran ide setiap waktu untuk mu. setiap langkah yang berjalan akrena Allah akan menjadi langkah penuh hikmah dan berkah, begitu juga menulis.
menulislah karena Allah karena itu akan menjadi amal yang tidak tergantikan sampai kapanpun, selamat menelurkan ide dan jangan lupa menetaskannya.

Berkaca Dari Sang Imam

By On November 24, 2006
Imam Hasan Al Bashri adalah seorang ulama terkemuka di kota Basrah, Irak. beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. beliau juga ulama yang kharismatik, dekat dengan rakyat kecil dan dicintai oleh rakyat.
beliau mempunyai seorang tetangga nasrani. tetangganya itu memiliki kamar kecil untuk kencing diloteng diatas rumahnya. atap rumah keduanya bersambung menjadi satu sehingga air kencing tetangganya itu merembes dan menetes ke kamar Imam Hasan Al Basri. namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal tersebut. beliau menyuruh isterinya untuk menadahi air kencing tersebut agar tidak mengalir kemana-mana.
selama dua puluh tahun hal itu berlangsung dan Imam tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun. beliau ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah SAW.
"siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya."
suatu hari Imam sakit dan tetangga nasraninya menjenguk beliau kerumah. ia merasa aneh melihat ada air menetes dari kamar sang Imam. ia pun memperhatikan dengan seksama dan tahulah dia dari mana sumber air tersebut yang ternyata air kencing mereka. dan yang membuatnya heran mengapa Imam tidak pernah mengatakan hal tersebut kepadanya.
"Imam, sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami?" tanyanya.
Imam tidak menjawab karena takut si tetangga merasa tidak enak. namun...
"Imam, kalau Engkau tidak mengatakan maka kami akan menjadi tidak enak hati." desaknya
"sejak duapuluh tahun yang lalu." jawab Imam dengan suara parau.
"kenapa tidak memberi tahu ku?"
"Nabi kami mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau bersabda siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya."
seketika itu si tetangga lansung mengucapkan dua kalimat syahadat. ia dan keluarganya masuk islam.
***
beberapa hari yang lalu ketika masuk ke kamar mandi tidak sengaja melihat ke got, kaget juga melihat tempe dan tahu berserakan disana, setelah di teliti ternyata tempe dan tahu itu berasal dari tetangga sebelah, yah, got kami memang satu saluran dengan tetangga sebelah. yang terpikir saat itu adalah menutup saluran got tetangga, agar sampah tidak bisa lewat. kejadian serupa terjadi lebih kurang satu tahun yang lalu, ketika rumah sebelah dihuni oleh tetangga yang lama. bukan cuma tempe dan tahu atau sisa makanan saja yang berserakan di got, tapi juga kemasan deterjen, dan sampah-sampah rumah tangga yang kecil lainnya. melihat itu terus-terusan terjadi kami pun mengambil inisiatif, menutup saluran got dengan papan bekas sehingga yang bisa lewat cuma air saja. kami tidak pernah mengatakan langsung karena takut tetangga kami marah. sesekali kami menggerutu dengan kejadian itu.
lain si tetangga lain lagi tentang orang-orang yang biasa nongkrong di warung sebelah. kalau sedang ramai-ramainya mereka duduk sampai kedepan pintu rumah kami. membuat kami agak jengah juga, kalau mau keluar rumah harus bilang "misi...mas, pak, bang, om..." biar ngga di bilang ngga tahu sopan santun, atau minimal tersenyum lah. yang menjadi persoalan bukan itu sebenarnya, melainkan jejak yang mereka tinggalkan. di rumah kami ada pohon jambu besar yang kalau sehari saja tidak di sapu jangan tanya banyak nya daun yang rontok seperti apa, konon lagi di tambah dengan kulit dan bungkus kacang yang berserakan. belum lagi puntung rokok yang bertebaran dimana-mana, kalau ada angin kencang dan pintu rumah terbuka maka sampah-sampah itu akan denan cepatnya berpindah tempat, masuk kedalam rumah. kadang-kadang kalau penghuni rumah sedang sibuk semua, dengan berat hati sampah itu dibiarkan sampai beberapa hari tak dibersihkan.
***
emosi dan suasana hati seseorang sering berubah-ubah, orang-orang sering menyebutnya dengan mood. ada kalanya ketika pikiran sedang kalut, emosi tengah labil, masalah belum selesai yang baik disampaikan orang bisa jadi tidak baik di telinga kita. sering sekali kita tidak bisa menjalankan sunnah-sunnah rasul seperti memperlakukan tetangga dengan baik, apalagi teman dan orang yang tidak kita kenal. secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sering sekali kita menyakiti orang lain, baik secara disengaja maupun tidak. baik itu orang yang kita kenal ataupun yang tidak kita kenal. baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
pernahkah kita berfikir sesering apa kita membuat orang lain sakit hati dan kesal dengan perlakuan kita? seberapa sering kita membuat orang lain berdosa karena kekesalannya kepada kita lantas memaksanya untuk menggerutu bahkan mungkin memaki. hanya karena tulisan kita yang sembrono dan ngawur misalnya, atau karena menelfon bukan pada waktu yang tepat.
pernahkah juga kita berfikir ingin menyenangkan orang lain walau kita tidak pernah mengenalnya? membuatnya merasa terhibur dengan apa yang bisa kita tulis atau sampaikan secara tidak langsung? yang membuatnya lega dengan mengenal kita sebagai teman maya yang jauh dan entah dimana.
catatan kecil ini hanya sebagai refleksi diri, bahwa sebagian besar kita tidak hanya berinteraksi dengan dunia nyata saja tapi juga dalam dunia maya. semakin sering berinteraksi maka seharusnya semakin seringlah kita merenung, apakah saya sudah memperlakukan tetangga saya dengan baik? teman-teman saya dengan baik? wallahu'alam.

Kamis, 23 November 2006

ROMANTIKA PASANGAN JIWA

By On November 23, 2006
oleh: Anis Matta
Orang-orang di negerinya, di Mesir sana, menganggapnya pasangan cinta. Mereka menyebutnya sebagai kampiun asmara. Dody Al Fayed dan Lady Diana
adalah sebuah roman yang tragis. Dua jiwa bertemu. Tapi tanpa raga.

Mereka tidak ditakdirkan bersatu. Tapi Lady Diana dan dan Pangeran Charles adalah juga roman yang tragis. Dua raga bertemu. Tapi tanpa jiwa. Mereka pernah
ditakdirkan bersatu. Tapi tidak ditakdirkan untuk saling mencintai. Tragis. Terlalu tragis. Dua setengah milyar umat manusia yang ikut menyaksikan proses
pemakaman Lady Diana dan Dody hanya mampu menangis.

Menyatakan haru entah kepada siapa: sebab di alam jiwa mereka semua nestapa. Tapi cerita Charles dengan Camilla Parker yang entah menjadi pemicu keretakan
rumah tangganya atau tidak, menyelipkan sebuah pertanyaan besar: mengapa sang pangeran lebih tertarik dengan perempuan tua itu ketimbang Diana yang cantik
dan anggun, Diana? Bahkan ketika Camilla menjadi musuh bersama rakyat Inggris, Charles tetap menikahinya beberapa tahun kemudian? Seperti sebuah kehendak yang
dipaksakan walaupun harus melawan arus. Tidak berartikah kecantikan Diana baginya? Dan apakah pesona perempuan tua yang membuatnya nekat itu?
Charles adalah sebuah cerita tentang kesepian. Punya ibu seorang ratu hampir sama dengan menjadi yatim.

Maka Charles tumbuh dengan sebuah kebutuhan jiwa yang akut: seseorang yang bisa diajak bicara, mau mendengarnya dan mampu memahaminya, seseorang yang bisa membuatnya merasa sebagai orang normal yang bersikap wajar dalam
kehidupannya. Camilla hadir dan bisa memenuhi kebutuhan jiwa itu. Sementara Diana tumbuh sebagai gadis cantik yang terlalu lugu untuk kerumitan-kerumitan besar yang
dihadapi Charles. Ia bagus sebagai icon kerajaan yang cantik. Tapi tidak bagi Charles yang rumit. Jiwa mereka tidak bertemu ketika raga mereka justru seranjang.

Tim kehidupan pada intinya adalah ide tentang pasangan jiwa dalam kategori cinta jiwa. Bukan terutama tentang poligami. Ini ide tentang pertemuan jiwa yang
disebabkan oleh kesamaan, atau kesepadanan, atau keseimbangan, atau kelengkapan. Jiwa-jiwa yang saling bertemu itu bisa dua atau tiga atau empat dan
seterusnya. Sama persis dalam sebuah bentuk tim dalam sebuah organisasi. Tim itu juga bisa besar pada mulanya lalu menciut pada akhirnya. Umar bin Khattab,
misalnya, menceraikan dua istrinya yang sangat cantik, Jamilah dan Qaribah. Tapi bisa bertahan hidup bersama Ummu Kaltsum binti Ali atau cucu Rasulullah saw yang usianya terpaut lebih 40 tahun.

Itu sebabnya cinta jiwa merupakan sumber semua cerita roman percintaan dalam sejarah umat manusia. Baik yang berujung tragis maupun yang berakhir bahagia. Jiwa mempunyai hajatnya sendiri. Maka ia lebih bisa mengenal pasangannya sendiri. Juga bergerak dengan caranya sendiri menuju pasangannya. Di alam jiwa terlalu
banyak kaidah dan kebiasaan alam raga yang tidak berlaku. Itu membuatnya rumit. Tapi agung. Rumit jalan ceritanya. Tapi agung suasananya. Rumit untuk dicerna.
Tapi agung untuk dirasakan. Maka romantika cinta pasangan jiwa selalu begitu: bauran yang kompleks antara kerumitan dan keagungan.

Sumber : Tarbawi, Edisi 140 Thn 8/Ramadhan 1427 H/28
September 2006 hal. 72.

nostalgia dipagi hari

By On November 23, 2006
pagi ini, sebelum matahari tinggi sekali. sebelum memulai menulis memoar cinta orang biasa yang super panjang itu aku ingin sedikit bercerita tentang hari ini dan kemarin. bangun tidur pagi tadi sebelum ke kamar mandi untuk mandi tentunya pikiran telah direcoki kerudung apa yang akan kupakai nanti. tidak seperti biasanya, dari kemarin persoalan kerudung apa yang akan dipakai hari ini terus kepikiran. pasalnya gamis berwarna hijau lembut telah tergantung sejak kemarin siang.
"sudah lama tidak memakai gamis." batinku ketika menyetrika baju kemarin. entah kenapa tiba-tiba keinginan untuk memakai gamis begitu kuat kemarin.
setelah mandi, buka lemari, lama kubiarkan pintunya menganga. "tak ada yang cocok." gumam ku lagi.
kerudung krem yang biasanya ku padukan dengan gamis hijau itu belum disetrika, kemarin belum kering dan pagi ini aku tidak mau direpoti dengan urusan setir menyetir alias menyetrika.
***
memakai kerudung memang bukan lagi satu hal yang istimewa di negeri ini, dari anak taman kanak-kanak sampai nenek-nenek memakainya, yang istimewa adalah hakikat dari memakai kerudung itu sendiri. setidaknya itulah yang ada di kepalaku sampai sekarang, untuk apa aku berkerudung? sekedar menghilangkan panas sengatan matahari saja kah? mungkin iya, atau cuma ingin ikut trend saja? maklum, sekarang kerudung juga bisa jadi ajang gaya-gaya an. atau...karena takut ketangkap WH? yang jelas alasan yang terakhir ini bukan, karena jauh sebelum aku tahu apa itu WH insyaAllah kerudung sudah kupakai.
sejak sltp aku sudah mengenal kerudung, itupun karena diwajibkan memakainya di sekolah. tapi sepulang sekolah kerudung menjadi pajangan di gantungan belakangan pintu. begitu seterusnya sampai sekolah menengah selesai. tidak ada yang mengesankan dari cerita kerudung selain sedikit kenangan di awal tahun 1999 lalu. ketika orang-orang gerakan mulai muncul kepermukaan. razia baju ketat dan kerudung sangat santer ketika itu. tapi tidak untuk saya yang sehari-hari sama sekali tidak peduli dengan penutup kepala itu. ketika sltp keluyuran dijalan dengan baju you can see dan celana pendek diatas lutut memang menjadi pilihan, ketika lebaran jelan jeans dan kemeja laki-laki menjadi kewajiban, plus kerudung yang ukurannya cuma 90 cm. awal-awal smu kegemaran memakai pakaian minimalis masih berlanjut meskipun kalau pergi jauh sudah memakai kerudung 90 cm itu.
back to orang gerakan. ketika smu aku tinggal bersama nenek, setiap sabtu siang pulang kerumah orang tua karena esoknya libur. seperti biasa, celana pendek selutut, dan baju kemeja puntung jadi pilihan.
"tidak pakai jilbab?" begitulah tanya nenek sekaligus mengingatkan, kalau sekarang sedang heboh rajia jilbab oleh mereka.
"enggak nek."
"nanti dipotong rambut lho heheh..." nenek sedikit melucu
"enggak." jawabku yakin.
begitulah...keras kepala. rambut memang sudah pendek, apanya yang mau dipotong lagi. begitu pikirku waktu itu.
malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, bukan malang sebenar-benar malang memang. hanya sedikit teguran barang kali bagi si keras kepala ini.
ketika akan sampai kerumah entah darimana datangnya serombongan orang gerakan, mereka naik mobil carry waktu itu. melihatku yang tidak memakai kerudung dari jauh mereka sudah memberi aba-aba agar segera memakai kerudung. gawat!!!
"cepat pake jilbab" komando bang Yon, saudara yang mengantarku pulang sore itu.
"ngga ada." jawabku dari belakang.
"apa yang ada ajalah."
apa yang ada gimana? protesku dalam hati. terus kalaupun kepala ditutu lutut tetap kelihatan, sama aja batinku kesal.
"udah?"
"belum."
aku jadi panik juga dibuatnya, sementara jarak dengan mereka sudah makin dekat. dalam kepanikan itu tiba-tiba teringat kalau ditas ada jilbab sekolah yang udah kotor, niatnya tadi dibawa pulang untuk dicuci, itu pun jadilah pikirku. sedangkan lutut ku tutup dengan tas sekolah.
setelah mereka lewat dan udah aman untuk melepas kerudung dadakan itu meledaklah tawa kami. pun begitu kaki masih agak gemetaran juga.
***
awal-awal kuliah masih betah dengan kerudung 90 cm itu. plus jeans cowok dengan baju-baju kaos yang enak dan nyaman dipakai. aku memang kurang menyukai celana-celana jenas perempuan, lebih nyaman dan pd pakai jeans cowok yang panjang menutup mata kaki, plus sepatu sport yang keren abis...bisa jalan cepat sih, ngga perlu angkat-angkat rok kalau mau nyebrang jalan. alasan yang terlalu berlebihan untuk membenarkan diri sendiri.
entah gimana caranya, dari yang awalnya mau masuk mapala kok malah jadi nyasar ke rohis. untuk ikut diklat dasarpun harus minjem rok punya teman se kost. dan gamis pertama pun kupakai pada lebaran di tahun itu. mantan pacar pun kaget melihat perubahan itu...heheheh...soalnya dulu waktu masih pacaran sama dia sering kali diingatkan untuk pakai kerudung, tapi aku tetap keukeuh dengan celana pendek, aku paling tidak suka diatur-atur.
***
kupandangi gamis hijau lembut ku dengan kagum, rindu sekali rasanya. sudah beberapa bulan terakhir tidak pernah kupakai lagi. akhirnya ku temukan juga kerudung yang bisa dipadukan dengannya. matahari mulai tinggi. dan aku selesai bernostalgia

Senin, 20 November 2006

kepada siapa

By On November 20, 2006
angin terus mengamati meski ia tak lagi bertuip
kehampaan melahirkan gelisah dan gerah
keringat meletup-letup
senyuman yang berubah menjadi seringai
pujian yang terdengar tak lebih dari sebuah ejekan
keketusan
dalam diam diterjemahkan oleh perilaku
kepada siapa mengatakan sakit hati
kepada siapa marah akan dilampiaskan?
kepada siapa benci akan disematkan

Minggu, 19 November 2006

Al Saja

By On November 19, 2006
biarlah untuk selanjutnya aku menyebutmu dengan al saja, rasanya tak cukup waktuku untuk mengeja namamu yang begitu panjang. abjad-abjad yang ku eja terasa seperti duri yang keluar dari kerongkonganku, meneteskan darah-darah merah yang mengental. dan aku terkapar Al, diujung tempat tidurku dengan kaki menggantung kebawah. aku kelelahan mengeja namamu hingga akhirnya aku memilih diam dan tidur.
aku tidur untuk menenangkan hatiku, karena semakin sering nama al kusebut ternyata semakin sepi yang kurasa. hingar-bingar dan bising deru mesin dijalanan pun tak mampu menghalau sepi yang meneteskan darah-darah yang mengental, menetes dibantal dan membentuk lukisan-lukisan kecil.
tak adalagi yang namanya berjaga tengah malam sekarang, akupun tak peduli lagi, apakah malm masih pantas ditemani atau biarkan dia mengapung hingga pagi. lalu mengajakku berjalan menyusuri lorong-lorong gelap, aku masih berharap sebuah ke ajaiban masih terjadi. ah, keajaiban yang biasa-biasa saja. aku tidak minta yang terlalu istimewa, seadanya saja. sebab cinta telah membuatku menjadi begitu istimewa melebihi apapun. dan darah itu masih menetes, merembes kebajuku, membasahi sebagian anak rambutku. sakit. sakit sekali.
aku tahu kabar ini tak pantas lagi disampaikan, kabar-kabar yang sudah kadaluarsa dan harus dienyahkan jauh-jauh. ingin berterus terang sajalah...pada awan gelap dan sepi yang tak kenal sekat. bahkan menelusup jauh hingga ke kolong tempat tidurku, lalu melolong pelan-pelan membuat ku bergidik dan merasa ngeri. tapi...al, kau tahu pelan-pelan kurasakan aroma tubuhmu seperti hadir, kau memelukku erat dan ketakutan itupun hilang. dan aku tak kecewa ketika kusadari ituhanya mimpi, ternyata memang begitulah cara cinta menghibur dirinya, ia tak peduli dikejauhan sana ada yang melambaikan tangan dan minta disambut.

ia tak akan mau tahu, ada yang menjerit-jerit minta namanya juga diukir dengan tinta berwarna biru. dengan sangat berat ku jwab "kau bukan langit biru hatiku." aku semakin sadis, menyakiti diri dengan cara tidak biasa hingga aku mengerang ditengah malam yang hampir tua. keinginan untuk menangis pasti akan selalu ada, tapi air mata yang tumpah belum tentu makna seutuhnya dari sebuah kegundahan, dan sebaliknya melampiaskan luka tidak selalu harus dengan airmata. bisa dengan menari-nari saat seperti aturan belum ada, bisa dengan menghitung bintang yang ada dilangit sana.

biarlah mulai hari ini al saja yang kupanggil, mengeja puluhan abjad adalah menetaskan anak-anak darah yang mengental dan pekat. lalu ia akan melompat-lompat memenuhi seisi ruangan tempat ku biasa menghilangkan penat, atau sekedar mengais gelisah.

al besar...teruslah besar dengan kebesaran dan kemegahan yang telah kau punyai, jangan biarkan ia mengecil karena mendung-mendung yang ada, rintik-rintik hujan akan selalu ada, tapi derasnya hujan akan melahirkan sejuk dan kehidupan.

Mimpi Menik

By On November 19, 2006
Mimpi Menik
Menik memperhatikan bapaknya yang sedang asyik menonton berita, sesekali berkomentar perihal kedatangan bush pada tangal 20 november nanti. Jelas sekali ia geram dan berang. Tapi sebagai rakyat kecil dia tidak bisa berbuat apa-apa, sama seperti tukang becak dan pedagang yang biasanya mangkal disekitar istana kepresidenan.
Bocah kelas dua sekolah dasar itupun geli sendiri dan tertawa terpingkal-pingkal melihat bapknya. Tidak lama kemudian pak Ali mengipas-ngipasi badannya dengan bajunya. Keringat-keringat kecil tampak tak beraturan didahinya.
“panas…”. Begitu komentarnya. “Menik! Menik!”. Ia mulai teriak-teriak, Menik yang dari tadi berdiri dibalik pintu makin geli melihat bapaknya.
“ada apa sih pak, teriak-teriak.”.
“coba kamu lihat listirknya mental atau enggak. Kok AC nya mati, panas bapak nih….”.
“hahahahah……”. Menikpun tak kuasa menahan gelak tawanya, buru-buru ia menutup mulutnya saat matanya bersibobrok dengan bapaknya.
“udah cepet sana lihat…kok malah ketawa.”
“ih..bapak ini gimana sih..klau listriknya mati mana bisa bapak nonton.”. tawanya pecah lagi, kali ini bukan Cuma menik tapi juga pak Ali.
“idupin AC nya gih…bapak kepanasan ini…”.
“Ac nya rusak pak. Tukangnya belum datang, tadi udah ditelepon sama ibuk.”
“oh…”.
“bapak geram ya lihat bush mau datang ke Indonesia?” Tanya menik.
“iya..sebel bapak, kesel. Tapi bapak bisa apa?”
“disantet aja pak”.
Pak Ali kaget mendengar ucapan menik, anak yang satu ini memang kritis. Tapi dari mana idenya menyuruh nyantet orang nomor satu di amerika itu. “Bapak kan dukun.” Menik menambahi sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“bapak ngga pernah nyantet orang.”
Pak ali memang dukun, tapi dari style nya sama sekali tidak menggambarkan sosok dukun seperti yang sering Nampak di tv-tv, dia cenderung trendy dan gaul. Tidak banyak yang tahu kalau dia para normal selain keluarga dan teman-teman dekatnya. Ia pun tampaknya tidak mau memperdalam bakat paranormalnya itu.
Wajar kalau dia kaget mendengar menik menyuruhnya menyantet bush, selama ini dia tahunya Cuma mengobati orang bukan mengguna-gunai atau menyantet.
“coba aja pak, kali aja bapak berhasil.”
“waduh..kamu ini, berdoa aja deh.” Pak ali menjawab apa adanya agar anak bungsunya itu diam dan tidak bertanya macam-macam.
“berdoa udah sering pak, menik mau yang real lho pak. Pas bush datang ke Indonesia trus dia kejet-kejet karena disantet bapak, trus mati. Kan ngga ada lagi perang pak.”
Entah apa yang ada dipikiran bocah es de itu. Pak ali benar-benar bingung mau menyampaikn isi kepalanya yang tentu saja akan sulit dipahami oleh anak seumuran itu.
“Menik, dengerin bapak ya…nyantet orang itu dosa lho, sama aja dengan membunuh. Masuk neraka nanti…”.
“tapi bush kan jahat pak, lagian yang ngga suka sama dia kan banyak, mending dia ilang aja dari dunia ini. Dari pada kita juga dibikin dosa sama dia, gara-gara ngejekin dia terus. Masuk neraka juga kita kan pak?”
Pak ali benar-benar kehilangan kata-kata dibuatnya.
“ambilkan minum sana…bapak haus”. Suruhnya, padahal niat yang sebenarnya untuk menghentikan obrolan ini.
“pak…”
“ya, ada apa?”
“kalau ngga gini aja…bapak sihir menik jadi kecil aja, trus nanti menik kan bisa masuk ke kantongnya bush, klitikin dia…gitu aja pak.”
Kali ini pak Ali benar-benar tak berkutik dibuatnya.
@@@
Demo menolak bush makin ramai saja, dari barat sampai ke timur penuh dengan orang-orang dijalanan yang membawa puluhan poster dan spanduk-spanduk menentang kehadirannya ke Indonesia. Berikut sound-sound yang menggema kemana-mana.
Suasana seperti ini membuat menik harus menutup kedua telinganya, ia pun menyusup dengan sigap. Melewati kerumunan orang-orang yang tinggi-tinggi dan besar-besar. Melewati pagar betis dan berhasil menerobos kawanan aparat yang berjaga di depan istana. Selanjutnya dia memanjati pagar dan segera masuk ke rombongan para petinggi negara yang sedang menunggu kedatangan bush. Dia mencari posisi yang strategis agar kemunculannya tidak diketahui oleh orang-orang. Meski sudah berubah menjadi kecil ia tetap khawatir dan harus ekstra hati-hati. Takut kalau-kalau ada setan-setan bawaan bush yang juga kecil, bagaimana kalau nanti dia dikeroyok dan mati tanpa ada yang tahu. Bapaknya pasti kewalahan mencarinya.
“Hupp…!!” menik berhasil melompat dan sekarang dia duduk di sebuah kanvas yang ada di sudut ruangan. Hampir saja tadi dia terpijak oleh sepatu lars seorang tentara. Hatinya berdegub kencang sekali. Tapi sekarang dia sudah agak tenang. Dia mengeluarkan botol air mineral yang juga sudah disulap menjadi kecil oleh bapaknya.
“indah sekali disini, aku pasti akan betah kalau disuruh tinggal disini.” Batin menik. Seolah tidak mau membuang-buang waktu diapun segera turun dari kanvas dan berkeliling istana. Melihat-lihat dari satu ruangan ke ruangan lain, dan sampailah dia ke ruang makan.
“woooowwwwwwww……..amazing!!!” teriaknya berulang-ulang. Beragam makanan ada disana, dan tidak ada satupun yang dia tahu namanya.
Menik mencari-cari orak arik kangkung, sambal terasi atau lalapan tapi tidak ada. Udang goreng mentega kegemarannya juga tidak ada, apalagi tempe dan tahu yang menjadi menu wajib dirumahnya.
“hm….enak banget…”. Menik mencicipi salah satu makanan yang ada di meja dengan telunjuknya. Tapi sayang perutnya sedang kenyang, dia Cuma mengambil beberapa strawberi dan pergi dari tempat itu.
Ketika kembali keruangan utama hampir saja menik kelabakan, pasalnya disana sudah banyak orang-orang. Ada yang berkulit sawo matang, yang ini orang Indonesia dan ada juga yang putih-putih. Ini pasti rombongan bush sudah datang pikirnya. Ia pun mengeluarkan selembar foto yang diambilnya dari internet. Menyamakan orang yang ada di foto dan yang tengah duduk disamping bapak presiden.
Menik manggut-manggut dan yakin dialah george w bush, presiden amerika yang dibenci banyak orang itu. Ia pun menyusun rencana, segera mengendap-ngendap dari balik kursi dan segera mendekati bush. Dan sekarang ia berada persis dibelakang bush.
Tak ingin buang-buang waktu ia segera menjawil pinggangnya.
“ow…!!!” bush kaget dan reflek berteriak.
“ada apa?” Tanya SBY
Suasana pun nyaris menjadi riuh.
“tidak ada apa-apa, mungkin otot saya ada yang kaku, maklum…lelah setelah melakukan perjalanan jauh.” Bush nyengir kuda. Menik jadi geli melihatnya.
Menik segera mengeluarkan bubuk merica dan meniupnya kearah hidung bush. Kontan saha bush menjai bersin-bersin.
“achiiiim…achiiiiiim….”.
Menik lompat-lompat kegirangan diatas sofa, dalam hati ia berterimakasih pada bapaknya yang telah menyulapnya menjadi kecil. Ia pun sangat menikmati melihat suasana yang mulai riuh melihat presiden bush yang tidak tenang dari tadi. Kalau tidak bersin pasti dia goyang kekiri atau kekanan karena dijawil menik.
“mungkin anda lapar…maklum setelah perjalanan jauh, kalau begitu mari kita makan dulu.”
Tanpa banyak Tanya bush pun mengikuti sby menuju ruang makan. Dalam hati dia berterimakasih atas pengertian sby yang mengajaknya makan. Perutnya memang lapar, apalagi setelah sampai ke Indonesia, laparnya jadi bertambah-tambah mendapat smbutan yang luar biasa hangat dari masyarakat Indonesia. Syukurlah ia sudah tidak lagi bersin.
Kesenangan bush tidak bertahan lama, karena sebelum ia sampai ke ruang makan menik sudah menunggunya disana. Saat dia makan takhenti-hentinya menik mengusilinya dan membuat bush menghentikan makannya. Ia pun menjadi berang.
“saya rasa di istana ini ada setannya. Sejak tadi saya tidak merasakan kenyamanan sedikit pun.” Ucapnya sambil berdiri dan melap mulutnya dengan sapu tangan. Pun begitu dia masih sempat mengambil sebuah srawbery yang tadi diambil menik.
“setannya kan anda sendiri.” Teriak menik sambil cekikikan.
“hei…siapa kamu?” teriak tentara-tentara yang sangar mukanya sambil memegang tangan menik. Tampaknya mereka heran dengan kemunculan seorang anak kecil yang tiba-tiba.
“aaaaaaaaaaaaaaaa….bapak….bapak….tolong……” menik yang menyadari tubuhnya telah kembali normal berteriak meminta tolong. Ia pun diseret keluar istana dengan paksa oleh tentara-tentara itu. Dalam hati ia menyesali keteledorannya, bapaknya sudah mewanti-wanti, dia Cuma bisa mengecil selama dua jam, setelah itu akan kembali normal seperti semula. Menik pun menangis sekuat-kuatnya sambil berteriak.
“tolong!!! Tolong!!!”.
“menik….bangun sudah siang…apa kamu ngga mau sekolah?”
“ibuk…” napas menik terengah-engah.
“tolong…tolong…memangnya kamu mimpi apa sih?”
“yah…Cuma mimpi….”.
Menik menarik selimutnya lagi.
“hei..dasar anak manja, ayo bangun, mandi sarapan dan berangkat sekolah. Sudah siang nanti ngga ada yang ngaterin.”
Menik tersenyum-senyum mengingat mimpinya tadi.
“mendebarkan…” ucapnya lirih.

19 November 2006
11:51 wib

Sabtu, 18 November 2006

Dialog menjelang malam

By On November 18, 2006
dimanakah dirimu berada?
disuatu tempat
kau kutunggu lama sekali datang
kenapa kabar tunggumu tak datang?
tak tahu kukirimkan kemana
pada hati, pada air itu bersumber
baiklah, aku akan mencobanya
air yang mengalir dengan tenang
dan hati yang beriak begitu kencang?
air adalah kodrat
sedangkan kodrat tidak bisa ditentang
angin mengguncang, membuat gelombang
gelombang diciptakan oleh sikap
maka jadilah angin yang menciptakan gelombang.
berhentilah untuk menjadi buih...
hancur dihempas gelombang
karena angin tahu buih takkan melawan
bukankahhakikat cinta seperti itu?
maka hati yang tertakhluk melahirkan kebadiam
cinta...itu seperti cantik
cantik itu luka bukan?
dimanakah dirimu tinggal?
disuatu tempat yang aku bisa mengukir cintaku disana
semoga itu adalah hati
mencintai bukan dengan hati sia-sia bukan?
bolehkah aku pulang, karena petang menjelang?
apa aku pernah melarang mu untuk pulang?
pulanglah....karena air selalu mencarimuara
aku adalah dermaga: kalau boleh
tempat berkumpul semua air?
lalu kau membagikannya untuk burung dan para nelayan?
bahkan perahu yang tersandar dan tak bertuan
tempat yang dituju oelh orang-orang yang patah hati
aku berbahagia...selamat tinggal
aku melambaikan tngan darijauh

Jumat, 17 November 2006

kabar dari merpati

By On November 17, 2006
tidak lama setelah itu ada merpati yang datang pada ku
membawa sepotong kabar dari mu
kau mengajak ku bertemu lagi?
dan bertanya apa yang kupersiapakan untuk pertemuan selanjutnya
sempat aku berfikir,
apakah aku perlu menyiapkan setoples kacang kulit untuk menemanimu nanti bermalam-malam
atau berlembar-lembar kertas untuk kutuliskan sesuatu diatasnya dan akan kubacakan didepanmu,
atau cuma tubuhku saja yang kubawa
atau aku yang memintamu untuk menyiapkan sesuatu untukku
sapu tangan misalnya,
ah...kenapa aku baru ingat sekarang ya?
justru yang kutanyakan dimana kau akan mengatakan cinta kepadaku kalau kita bertemu nanti?
hahaha....terlalu romantis membayangkan hal seperti itu
dan aku sudah mempersiapkan jawaban untuk pertemuan berikutnya
tak perlu repot-repot kau mengemasi pakaianmu dan pergi dengan terburu-buru

kemesraan akan berganti

By On November 17, 2006
katakan,
ceritakan tentang definisi cinta seperti yang kau tahu
tentang balur-balur tepung yang melumuri hati
tentang karat-karat yang mulai merapuhkan kesetiaan
katakan juga tentang ucapan selamat pagi
yang kini menjadi hancur berantakan
ucapan selamat tidur yang menyuruh untuk mimpi buruk
ah,
mari, sini
ku bisikkan sesuatu tentang makna kematian
ketika aku terburu-buru memasukkan pakaian dalam tasku
aku duduk dan termangu
saat bangun tidur aku merasa hidup dari dunia lain
hahahaha....kemesraan itu akan segera berganti
yah...akan segera berganti

Arisan

By On November 17, 2006
Sudah pukul dua belas lebih, malam mulai sepi tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Sejak tadi aku hanya bisa bolak balik kekanan dan kekiri sampai aku merasa lelah sendiri. Kepalaku terasa berat dan berdenyut.
Sementara hujan semakin lebat, bayangan kilat merembes masuk kekamarku melalui lubang ventilasi. Aku bergidik dan merasa ketakutan berada sendiri dirumah sebesar ini. Ketiga anakku menginap dirumah ibu mertuaku karena besok libur. Sedangkan pembantuku minta ijin menjenguk orang tuanya yang sedang sakit. Aku jadi merasa kesepian karena kak Evandra suamiku tidak ada dirumah. Dia baru akan pulang dua mingu lagi.
Ku tarik selimut dan kupejamkan mata, tapi sama sekali tidak berhasil. Aku meraih hand phone ku dan mencoba menghubungai kak evandra tapi sampai sepuluh kali aku menekan nomornya tetap saja tida bisa. Aku kesal dan tanpa terasa air mataku menetes. Ingin rasanya ku banting hand phone ini kalau saja tidak mengingat ini adalah hadiah dari suamiku. Aku mengirimkan shoert messege service tapi lagi-lagi gagal. Aku semakin kesal.
Aku memaki-maki diriku sendiri dan juga kak evan, aku marah karena sudah empat hari dia tidak menghubungiku dan tidak ada kabar. Tidak biasanya dia begitu, emailku pun tidak ada yang dibalasnya. Tangisku makin besar dan aku merasa kecewa atas sikapnya.
Ah, tiba-tiba saja aku teringat dengan Harry, lelaki berumur 32 tahun yang belakangan ini dekat denganku. Tanpa pikir panjang akupun menelfonnya.
“hallo selamat malam.” Sapaku begitu tersambung
“ada apa Alice? Tumben kamu menghubungiku malam-malam begini.” Suara harry kedengaran agak cemas. Aku diam dan menarik nafas berat.
“aku kesepian, aku perlu teman ngobrol Ry, kamu maukan temenin aku ngobrol?”
“baiklah…”.
@@@
Aku kenal Harry sejak tiga bulan yang lalu secara kebetulan, tepatnya sejak aku ikut arisan bersama teman-teman. awalnya arisan kami biasa saja, siapa yang menang mendapatkan uang dan berlian. Tapi lama kelamaan teman-teman ingin membuat arisan dengan konsep yang beda.
“kalau menang uang dan berlian itu sudah biasa”. Begitulah komentar Vivian waktu itu. Ide gila ini memang dari dia datangnya tapi entah kenapa teman-teman yang lain ikut menyetujuinya, hanya aku saja yang tidak menerima waktu itu. Tapi akhirnya aku ikut juga karena desakan mereka.
“trus gimana nih biar arisan kita lain dan ngga monoton”, Tanya Sila
“aku punya ide, tapi….” Sengaja Vivian menggantungkan suaranya, untuk menarik perhatian yan lain.
“apa”.
“ayo cepetan dong Vivian…”.
Aku diam saja menunggu komentarnya, Vivian memang suka membuat orang penasaran dan dia akan semakin suka kalau kalau yang lain semakin penasaran.
“bagaimana kalau yang menang arisan kencan”.
“kencan?!” aku terbelalak
“maksudnya gimana Vi?”
“begini, biasanya kan kita kalau arisan hadiahnya uang atau berlian. Tapi kedepan kita sediakan saja laki-laki, jadi siapa yang menang berkencan dengan laki-laki yang udah kita siapkan tadi.”
“nyari laki-lakinya dimana?” Tanya Sila dengan polos
“itu sih gampang, biar aku yang cari.” Vivian merasa senang karena mulai ada respon dari teman-teman.
“gila kamu Vi, apa kamu ngga tahu kalau sebagian dari kita sudah menikah. Aku ngga setuju, ini ide gila.” Aku tidak senang. Raut muka Vivian langsung berubah.
“tenang Lice…maksud ku begini lho, kita kan tahu suami-suami kita orang sibuk. Dan kita sering kesepian dirumah…jadi apa salahnya kalau kita cari hiburan dengan cara seperti ini.”
“aku tidak ikut.”
“ikut saja lah Lice…diantara kita-kita semua kan suami mu yang paling jarang dirumah, dia kan kerja di luar negeri. Kamu pasti sering kesepian”. Aku mendongak mendengar ucapan Vivian, tidak menyangka dia akan mengeluarkan ucapan seperti itu.
“ide bagus nih kayaknya. Kapan kita mulai?”
“lebih cepat lebih bagus”.
Entah apa yang ada dikepalaku waktu itu, aku ingin marah tapi sama sekali tidak bisa. Ingin pergi dari sana juga tidak bisa. Dan akhirnya akupun ikut dan sialnya lagi ketika dikocok aku mendapat giliran pertama. Dunia seperti gelap saat itu. Bayangan kak evandra tak pernah mau berhenti dimataku sampai aku berada dikamar hotel berdua dengan Harry.
“jangan sentuh aku”. Tolak ku ketika Harry berusaha memelukku.
Harry tentu saja kaget dan ia menatapku tak berkedip. Dia menggeleng lantas duduk di sofa.
“aneh…kamu benar-benar aneh….oh ya, siapa nama mu?”
“Alice”
“nama yang indah, orangnya juga cantik.”
“nama mu siapa?”.
“Harry.”
Nama yang gagah…se gagah orangnya batinku. Harry bukan Cuma tampan tapi juga tampak berpendidikan. Tapi kenapa dia mau melakukan semua ini?
“kenapa kamu menolak ku, bukahkah kamu sudah mengeluarkan uang banyak untuk memenangkan arisan ini?”
Aku menatap harry sekilas, bayangan kak evandra lagi-lagi memenuhi ruangan mewah ini. Dia seperti mendiamiku namun dari tatapan matanya aku tahu sedang menghakimiku. “istri yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya.” Begitu sepotong kata yang dikatakan bayangan kak evandra.
“aku tidak bisa mengkhianati suami ku, dia terlalu baik untuk kuperlakukan seperti ini. Kamu bisa mengerti aku kan?”
“iya, tapi…untuk apa kau ikut arisan gila ini kalau hanya akan membuatmu merasa berdosa dan menyakiti dirimu sendiri.”
“aku terpaksa, karena desakan teman-teman. Aku sudah berusaha menolak tapi aku tidak berhasil. Dan sialnya aku mendapat giliran pertama. Aku tahu ini gila, tapi aku tidak mau semakin gila dengan bercinta dengan mu.”
“oke, apa rencanamu?”
“kita mengobrol saja.”
“baiklah.”
@@@
Sejak saat itu aku jadi sering bertemu dengan Harry, tapi kami tidak lebih dari sekedar mengobrol. Ketemupun paling Cuma di café atau di mall.
“kenapa kamu mau dijadikan kunci arisan?” tanyaku suatu hari saat aku bertemu dengan Harry.
Harry tidak langsung menjawab, dia melihatku dengan senyumannya yang khas. Ia menyeruput kopinya lalu diam beberapa saat. Aku menunggu.
“aku juga sebenarnya tidak ingin seperti itu, tapi ngga taulah waktu membawaku kemari. Awalnya aku terjebak dengan hutang dan perlu uang banyak, aku bertemu seseorang dan kemudian dia menawarkanku pekerjaan ini. Lumayanlah menurutku”.
Harry tersenyum kecut, tidak bisa dipungkiri jauh dilubuk hatinya tersimpan seribu perasaan bersalah dan penyesalan.
“kamu sudah menikah?”
“belum”.
“kenapa?”
“tidak ada perempuan yang layak untuk dinikahi dan dijadikan istri.”
“maksud mu?”
“setiap hari aku melihat perempuan yang mengkhianati suaminya, itu membuatku berubah image tentang kesetiaan perempuan. Tidak ada yang bisa dipegang omongan mereka, mengaku setia pada suami tapi tetap saja bermain dibelakang.”
Aku terdiam. Mungkin secara tidak langsung harry tengah mengataiku. Aku merasa terpojok.
“suatu saat nanti kau pasti akan temukan pasanganmu, Ry. Yakinlah pada kebesaran Tuhan, asalkan kau juga berusaha untuk terus memperbaiki diri. Yang terbaik hanya untuk orang-orang pilihan. Yang kita lihat baik belum tentu baik, sebaliknya yang menurut kita tidak baik bisa jadi itulah yang baik. Yang penting kau harus berani membuat keputusan.”
Lama aku terpekur setelah sampai dirumah. Aku merasa malu dan tidak berarti. Bayangan-bayangan kak evandra semakin berkelebat dan menghakimiku. Aku merasa tidak pantas mengajari Harry sedang diriku sendiri hancur berantakan. Aku sendiri belum bisa menjadikan diriku panutan sebagai istri yang baik dan taat pada suami. Setidaknya didepan Harry.
@@@
“aku mau keluar dari arisan ini.”
Kabar itu ku sampaikan ketika ada arisan berikutnya di café tempat biasa. Semua teman-teman melihatku, ada yang sinis ada juga yang biasa-biasa saja.
“kenapa Lice?”
“ini bukan dunia ku, aku tidak bisa terus-terusan mengkhianati suami ku.”
Vivian mencibirku dan memandangku dengan pandangan yang tidak menyenangkan. Aku menduga setelah ini pasti mereka akan menjauhi ku tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak mau kehilanan suami dan anak-anak ku gara-gara ide arisan yang gila ini.
Aku menjajali langkah dengan seribu perasaan lega dihati. Langit agak mendung diatas sana, tapi hatiku berbinar-binar. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan dan aku tidak peduli. Aku ingin berjalan kaki menyusuri lorong rumahku. Benar saja, hujan turun dan aku basah kuyup.
“dari mana Yang kok basah-basahan…”.
Suara kak evandra mengagetkan ku.
“kakak…kapan pulang?”.
“kamu lupa kalau hari ini harus menjemput kakak ke bandara?”
“masyaAllah….”.
Serta merta aku memeluk suamiku dengan air mata yang berurai. Tak kupedulikan dia yang terkaget-kaget melihat sikapku yang aneh. “aku mencintaimu kak”. Dan suamiku semakin tidak mengerti.

Rumah Hilman
12:00
17/11/06

Minggu, 12 November 2006

Mencintai Dengan Luka

By On November 12, 2006
Entah sejak kapan tiba-tiba saja bumi mulai lain aromanya, padahal sejak beberapa hari yang lalu sampai tadi pagi aku mencium aroma bunga dimana-mana, aku berjalan kebelakang rumahku disana ada kebun bunga yang menebarkan aromanya hingga kesudut rumahku yang lain. Aku berjalan ke kota untuk membeli perlengkapan sehari-hari ku kawanan kembang-kembang melati turut menyertaiku dan tak henti-hentinya menyenyumiku dan mengatakan “ sebentar lagi kau akan bertemu dengan kekasih mu”. Tentu saja aku senang dan berbinar-binar mendengar itu.
Bahkan ketika mobil perlahan-lahan meninggalkan kota tempatku selama ini menetap aroma wangi itu semakin semerbak, membuatku terlelap karena buaiannya yang lembut dan menenangkan. Angin-angin yang masuk dari kaca jendela mobil seperti tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kuatnya sengatan wangi bunga-bunga melati, kenanga dan bunga cempaka. Angin-angin itu membuatku dingin tapi sama sekali aku tidak mengeluh. “sesaat lagi kau akan bertemu dengan kekasihmu”. Begitu terus menerus suara-suara lembut dari wangi bunga-bunga yang tidak terlihat itu. Aku semakin sumringah jadinya, dalam tidurpun aku bisa merasakan bibir ini tersungging dan hatiku berdegub tak karuan.
Entah sejak kapan tiba-tiba saja wangi bunga-bunga itu hilang, aku tidak menyadarinya. Mungkin setelah aku bertemu dengan kekasihku pagi tadi, dia berjanji akan menemuiku lagi dan nyatanya sampai hari ketiga aku disini dia tak muncul-muncul juga. Seiring dengan kerinduanku yang menguap menjadi marah dan benci pulalah barangkali yang membuat wangi-wangi melati itu hilang. Aku menunggunya sampai siang, lalu sore dan haripun menjadi gelap. Aku telah membasuh aroma itu dengan air mata yang kukeluarkan hingga ia menjadi luntur dan sama sekali tak berbekas.
Yah…tak ada lagi iringan kembang melati ketika pagi tadi aku menjejakkan kaki menyusuri trotoar menuju mesjid terbesar dikota itu. Mesjid peninggalan kerajaan terdahulu yang namanya begitu tersohor kemana-mana. Tidak ada lagi bisikan-bisakan halus yang mengatakan aku akan menemui kekasihku melainkan kata-kata lain yang sama sekali tidak ingin kudengar dan membuatku takut. “kekasihmu meninggalkan mu…kekasihmu meninggalkanmu”.
Ku tutup kedua telingaku sembari mempercepat langkah memasuki halaman mesjid. Segera aku membasuh kedua tanganku secara beraturan dan ku akhiri dengan menyirami kedua kaki ku hingga sebatas mata kaki, aku telah selesai berwudhu.
“Mau sholat ya?” Tanya seorang ibu, usianya mungkin sekitar enam puluhan.
“Iya, tapi saya tidak bawa mukena”. Jawabku
Aku duduk didekatnya dan memperhatikan barang-barangnya yang banyak, ada dua buah tas sedang yang diisi dengan baju-baju dan sebuah kantong plastik besar yang aku tidak tahu entah apa isinya. Pikirku pastilah ibu ini seorang musafir atau seorang tuna wisma yang tinggal di mesjid untuk beberapa waktu tertentu.
“Ibu tinggal dimana?” kuberanikan diri untuk bertanya dan berdoa semoga ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku. Mungkin dia akan berfikir aku ingin tahu tentangnya, tapi memang begitu, aku penasaran dengan ibu itu.
“Saya dari Jawa Timur, sekarang saya tinggal di Mesjid ini sudah beberapa hari.”
“Oh…” aku pun tidak perlu bertanya lebih lanjut lagi.
“kalau mau sholat, disana tempat mukenanya” tunjuknya ke sebuah lemari kecil dua pintu yang terletak dipinggir dinding mesjid. Aku tersenyum dan mengangguk. Beberapa tahun yang lalu aku sudah pernah masuk ke mesjid ini, jadi aku sudah tahu dimana tempat wudhuknya dan dimana tempat mukenanya.
“Kekasih mu meninggalkan mu!”.
Aku tersentak dengan suara bisikan itu. Ia kembali mengiang persis saat aku mengatakan Allahu Akbar pada takbir pertama. Konsentrasiku menjadi buyar, aku kembali bertakbir dan memejamkan mata. Menghalau bisikan-bisikan setan itu, yang aku yakin dikirim oleh orang yang bernama kekasihku. Entah mengapa aku menjadi sangat membencinya sudah tiga hari ini. Dia sudah mempermainkan perasaanku, dia menyuruhku datang kemari tapi setelah itu dia tidak mempedulikan ku. Aku kecewa, aku sakit hati, aku marah….aku benci dia!!!
@@@
Hari ke empat dikota ini, hari-hari yang sangat tidak mengenakkan. Hari-hari yang telah menorehkan sakit yang teramat sangat dihatiku. Tapi aroma itu mulai ada sedikit-sedikit. Telah ada satu dua bunga yang mengawalku ketika keesok sorenya aku kembali datang ke mesjid ini. Lalu duduk ditangga dan mengobrol bersama seorang bocah kecil bernama Aldi. Dia bertugas menjaga sepatu para pengunjung mesjid dan menerima imbalan seikhlasnya dari orang yang menitipkan sepatunya.
“Aroma itu datang dari rasa cintamu untuk kekasih mu”. Entah dari mana asalnya suara itu. Aku mencari-cari tapi tak tahu darimana arahnya, dia dekat, dekat sekali denganku. Suaranya begitu jelas.
“Aku tidak mencintainya lagi setelah dia memperlakukan ku begitu.” Ku seka air mata yang dari tadi keluar. Bantalpun sudah basah dan membuatku tak nyaman tidur. Mataku sembab.
“kau bohong!”
“Aku tidak bohong”
“kau bohong!”.
“Siapa kau berani-beraninya mengataiku pembohong!” aku sangat marah.
“Aku hati mu, aku tahu apa yang kau rasakan didalam sini. Mulutmu boleh saja bilang kau marah dan benci padanya, tapi kau tak bisa hohongi aku. Aroma-aroma wangi itu muncul dari sini. Cinta mu yang membuat seolah-olah kau melihat melati, mawar dan bunga-bunga yang lain saat kau berjalan. Tapi ketika kau sedang marah dia akan menghilang dan menjadi tak beraroma sama sekali. Lihatlah disekeliling mu, bukan kah bunga-bunga itu semakin tampak satu-satu? Itu artinya kau sudah tidak lagi marah pada kekasih mu, kau sudah memaafkannya. Kau mencintainya.”
Aku tertunduk disudut ranjang, tubuhku masih tanpa pakaian,
Benarkah aku masih mencintainya? Dan memang iya, aku teramat mencintainya. Aku sangat mencintainya. Aku pun heran darimana kekuatan cinta itu datang, padahal hampir dua tahun kami menjalin hubungan belum pernah sekalipun aku melihatnya secara langsung. Barulah pagi kemarin, tiga hari yang lalu dia muncul dan memelukku. Saat itu aku merasakan aroma melati yang begitu kuat. Ketika aku melihat matanya, ada cinta dan kerinduan yang dalam disana, dan aku tak ingin melepaskan diri dari pelukannya. Tapi pertemuan itu hanya sebentar, bahkan tidak sampai setengah jam. Bukankah menyakitkan, pertemuan yang dinanti-nanti selama hampir dua tahun hanya bisa ditunaikan selama waktu kurang dari setengah jam?
Aku lah yang paling sakit, karena setelah itu dia tak pernah menemuiku lagi, tak ada kabar bahkan sampai aku kembali lagi ke kamarku, tempat dimana aku memupuk cintaku untuknya.
Saat aku sedang asik melihat bunga-bunga yang kembali tumbuh satu-satu di tepi ranjang terdengar suara pintu diketuk. Saat itu aku sedang mengenang kembali perjumpaan kami, hatiku kembali senang dan aroma-aroma itu muncul lagi. Aku menarik selimut dan menutupi tubuhku. Rambutku masih acak-acakkan.
“Masuk!” jeritku dari dalam. Aku memang tidak megunci pintu setelah selesai mandi tadi.
“Apa kabar?”
“Baik”.
“Suaramu sendu sekali, matamu sembab, kamu kelihatan pucat.”
Sayang sekali bukan kekasihku yang mengatakan itu. Aku tidak terlalu mempedulikannya dan dia maklum, aku tak lagi menyembunyikan persoalanku. Karena kedatanganku yang tiba-tiba dan tak mengabarinya kemaripun sudah cukup membuatnya bertanya-tanya. Aku tak ingin membuatnya terus merasa aneh dengan kedatanganku dan sikap ku yang aneh terus menanyai Elius, adik iparnya. Akhirnya aku menceritakannya dan berharap dia bisa sedikit memberiku solusi dalam hal ini.
“udahlah….tinggalkan saja dia, toh kamu masih bis cari yang lain, yang masih sendiri, yang sayang dan cinta sama kamu.”
Lagi-lagi aku tidak mempedulikan apa yang dikatakan Emiri, kubiarkan dia sibuk dengan nasehat-nasehatnya dan kubiarkan pula diriku larut dalam pikiran ku sendiri.
“kamu masih mencintainya?”
Entah yang keberapa kali dia bertanya dan kujawab dengan anggukan.
“sepertinya sangat dalam cintamu ke dia, sampai-sampai kau terus menangisi ketidak hadirannya.”
“kau putuskan saja dia ya?”
Aku diam
“sudahlah, kau putuskan saja dia! Aku tidak mau lagi lihat kamu menangis untuknya”
Semakin Emiri menyuruhku untuk memutuskan Elius aroma-aroma itu semakin menyengat saja rasanya. Kembang-kembang melati muncul dari balik selimut dan bantal yang kutiduri, dari dalam ranselku keluar kuntum-kuntum bunga mawar, entah darimana asalnya.
“bunga-bunga itu muncul karena kau masih mencintainya, kau masih menunggu kedatangan kekasihmu.”
“tidak mungkin!” aku berteriak
“Jane….apanya yang tidak mungkin?” Emiri meneliti wajahku dalam-dalam, dia sepertinya menemukan keanehan pada diriku.
“hm…tidak…tidak apa-apa”. Aku coba tesenyum, tapi gagal.
“kau menyembunyikan sesuatu dari ku?” selidiknya
“apa kau mencium aroma melati dan melihat bunga-bunga dikamar ini?”
“hahahaha….Jane….Jane….mana ada bunga dikamar ini.” Dia tertawa
Aku kembali diam.
“kapan kau pulang?”
“aku ingin menunggunya sehari lagi, bolehkan?” suara ku begitu memelas
Emiri mengangguk.
“boleh. Aku bisa merasakan kebesaran dan kedalaman cinta mu pada Elius. Jane…asal kau tahu, aku tidak ingin kau disakiti oleh Elius, kamu mau memaafkan Elius kan?”
“bukan kamu yang harus minta maaf.”
“aku meminta maaf atas nama Elius, karena dia adikku.”
“tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah memaafkan bahkan sebelum dia menyakitiku seperti ini.”
“itu karena kamu sangat mencintai Elius”.
“aku tidak tahu….”.
“Kau tahu! Kau Tahu!” lagi-lagi suara aneh itu muncul dan menyerobot pembicaraanku dengan Emiri.
“Siapa kau?” teriakku lagi
“Aku hati mu Jane…aku hati mu!”
Dan kekasih ku benar-benar tidak pernah menemuiku lagi setelah pagi itu sampai aku kembali ke kamar ini. Lalu buru-buru ku tinggalkan karena aku masih belum cukup kuat melihat namanya yang besar menggangtung di dinding kamar. Aku melarikan diri ke rumah bibiku untuk menenangkan hati. Dan bunga-bunga itu semakin banyak mensejajari langkahku setiap aku berjalan.
“hati ku benar…aku masih mencintai Elius.”

10:38
12/11/06
Rumah hilman

Sabtu, 11 November 2006

Sebelum Mengeluh

By On November 11, 2006
Sebelum kamu mengeluh...

Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali!
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan!
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan!
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya! Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup!
Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat!
Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul!
Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yag tinggal dijalanan!
Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan!
Dan disaat kamu lelah dan menegluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda!
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa...!
Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !

Brankas Kehidupan

By On November 11, 2006
bukan berarti matahari ikut tenggelam ketika seseorang kehilangan cintanya untuk beberapa saat, air mata yang terus-terusan keluar juga tidak akan mengahadirkan air bah dalam kehidupan. tulang-tulang boleh saja melunglai sejenak, dan tidak ada yang melarang ketika dada terasa sesak dan naik turun menahan amarah dan kecamuk di dada. berikut sepatah dua patah makian atas kekesalan yang tidak tersalurkan.
hidup memang rajutan perca-perca berwarna warni, bercampur-campur antara keindahan dan kekurang sempurnaan. namun, dalam setiap kesempurnaan yang terlihat itu pasti ada setitik jelaga hitam menempel, dan dalam ketidak sempurnaan akan ada banyak keistimewaan.
keistimewaan terbesar dalam hidup adalah cinta. aku terlahir karena cinta, aku dibesarkan dengan cinta, dan aku menjalani hari-hari dengan cinta. cinta membuatku percaya akan pepatah-pepatah yang kadang sering tak masuk diakal. berjaga-jaga hingga larut malam, menembus panas dan kadang dingin yang menggigil, membuatku kelelahan dan kadang aku merasa hampir mati karenanya.
seperti perbincangan di siang yang tak bermatahari ini, yang indah hanya ada dihati. tempat menyimpan sesuatu yang baik hanya ada dalam hati. aku menamainya brankas kehidupan. aku sakit, aku senang, aku bahagia, dan aku terluka, semuanya ada dalam hati, tersimpan pada laci-laci yang tersusun rapi. meski sebenarnya hatiku bukanlah milikku tapi milik Tuhan ku. meski kadang aku sewenang-wenang terhadapnya.
semuanya bisa berubah dalam sekejap, bahkan sebelum kau sempat mengatakan rindumu untuk nya. semuanya bisa menghilang sebelum kau sempat mengatakan kau mencintainya. dan semuanya bisa terjadi sebelum kau sempat mengatakan bahwa kau sama sekali tidak mencintainya. hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana kita, karena manusia bukanlah penulis naskah yang baik. hidup seperti gelombang-gelombang air yang tidak menentuk riakannya. kadang ia pelan dan kadang arusnya menjadi kuat dan menyeret mu ke jalan yan tidak pernah kau duga sama sekali.
mungkin kau akan sama sekali tidak percaya, sesuatu telah membuat mu takut kembali ke kamarmu. kau pergi dan menguatkan diri lantas kembali dan barang-barang kesayanganmu telah hilang, sesuatu yang ingin kau persembahkan untuk cintamu, entah sudah dimana. ketika kau hampir menangis seseorang memberi isyarat, ada yang lebih berharga dari itu. aku tidak lagi ingin melihat mu menangis, aku tidak lagi ingin ada air mata dari kedua kelopak matamu yang bulat. terimakasih telah menghiburku untuk yang kesekian kalinya.
dan langit benar-benar menurunkan hujan, tapi hati ku telah kering dari percikan-percikan darah. dan matahari memang tidak muncul, tapi aku masih punya bulan untuk ku lihat sinarnya. dan memang harus menunggu malam, tapi aku masih punya harapan, nanti malam pasti akan ada.

Jumat, 10 November 2006

Jangan Paksa Aku Jatuh Cinta Padamu

By On November 10, 2006
seorang lelaki paruh baya bercerita kepadaku
dengan keparauan suaranya
dia bilang:
kalau aku jatuh cinta padamu, aku tidak ingin bertepuk sebelah tangan
karena aku terlalu lelah mencintai sendiri
aku cuma tersenyum dan menjawab dalam hati,
aku pun sayang padamu tapi jangan paksa aku jatuh cinta padamu
kadang, dalam hati kecilku aku seperti telah menjadi pengkhianat. tapi percayalah bukan itu berarti aku tidak lagi cinta pada mereka. aku sangat-sangat mencintai mereka, aku sangat menyayangi mereka.
berulang kali dia mengatakan, aku tidak ingin bertepuk sebelah tangan.
berapa kali lagi ku bilang, aku susah jatuh cinta.
dia mengusap wajahku dengan lembut,kau seperti mengembalikanku pada masa lalu yang begitu indah katanya. saat aku baru pertama kali mengenal cinta dan merasakan jatuh cinta.
yah...cinta sering kali mengherankan. membingungkan dan kerap kali membuat orang kehilangan logika. jangan paksa aku untuk jatuh cinta padamu
karena kau tahu untuk siapa cintaku

Purnama Yang Tak Biasa

By On November 10, 2006
keluar sebentar untuk melihat bulan bolehkan?
purnama malam ini
ada yang tak biasa seperti purnama-purnama sebelumnya
purnama kali ini tidak ada pena untuk menggariskan sebuah inisial
purnama kali ini tidak ada keinginan untuk memeluk pasir
juga keinginan untuk bercinta
walaupun sebenarnya percintaan itu sudah terjadi
secepat kilat
sebelum aku sempat mengatakan aku berani telanjang didepanmu
aku mau keluar sebentar,
melihat langit yang mendung
lalu memelukmu mewakili hujan dari langit
aku tidak lagi bercerita tentang hujan
maksudku....aku akan menundanya
sampai aku benar-benar bisa menghilangkan bekas cupanganmu diseluruh tubuhkua
ku biarkan kau menggigit tubuhku
seperti aku mengikhlaskan kau menggigit hatiku
purnama kali ini memang berbeda
ada yang berdera-derai
ada yang jatuh beserakan
dan serpihannya melukai banyak hati
purnama yang tak biasa
entah siapa yang salah
aku atau pasir
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email