Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 29 Desember 2006

jabaran

By On Desember 29, 2006
ihan,

ceritakan pada ku tentang rumput hijau yang sering dijadikan alas duduk anak penggembala dan padang padang yang dijadikan penyangga perut hewan hewan gembala.

katakan pada ku tentang manisnya roman percintaan namun dengan kesakitan menahan rindu yang terbelah-belah, rindu ku tak lagi bercabang, bahkan bulan ini tak seperti bulan kemarin.

jabarkan tentang kata "ha hah"...yang keluar dari mulutmu nyaris sebagai desisan hingga libido ku naik berlipat-lipat dan kau tidak mau bertanggung jawab, kau memang tak salah sebab itu memang sudah menjadi kebiasaan mu. dan kau bahkan tak tahu menahu tentang eranganku mendengar "ha hah" mu itu.

jangan lupa pada teriakan kita "malam ini gila! bushet! malam ini memang gila!" yah...malam ini memang gila dan kau bilang ada "body guard" disampingmu hingga kau tak bisa berbuat apa-apa. aku kesakitan, dan kau bilang "mengertilah dengan keadaan ku" dan aku mengerti.


ihan,

tuliskan tentang cerita burung pipit yang tak sengaja hinggap dikamarku dan menyampaikan pesan bahwa kau merindui ku malam ini, aku tak bisa menggambarkan bagaimana bentuk paruhnya yang tajam bergerak-gerak mengirim isyarat dari mu.

aku tahu kau gelisah akhir-akhir ini, ada yang "tak lagi biasa" kan? ada yang kau pikirkan, percayalah sayang itu hanya sebuah kesalah pahaman, lupakan siapa-siapa yang tak layak diingat dan rengkuh siapa-siapa yang bisa memberikan cinta untuk mu, ah...aku cemburu kau terlalu banyak mendapatkan cinta. sedang cinta yang kuberi tak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang sudah kau peroleh.

kirimkan kepada ku catatan kecil usang mu yang titipkan untuk seseorang itu, aku senang akhirnya kau bisa, aku senang akhirnya kau mampu. semua butuh proses, dan kau mulai mematangkan logika

hahahah...aku tergelak mendengar cerita mu tentang lelaki tikus itu...sungguhpun itu sebuah imaji tapi mereka selalu ada didekat mu...dan mereka menebar aromanya yang membuat selera makn kita hilang dan ingin muntah....hahahahaha...aku ikut membantu mu mentertawa kan mereka

ihan,

aku tahu kau kejam, sekali waktu kau membunuh dengan cara tak biasa, seperti cara mencintamu yang tak biasa pula. aku salut dengan cara mu membunuh, dengan cara mu menyiksa, mungkin aku bisa berguru pada mu untuk yang satu ini.

akhirnya...kita bebas terbang diudara kan? dengan teriakan teriakan gila yang lebh keras dan membahana memecah gelap malam, yah...pergi dan jangan lupa kembali.

Kamis, 28 Desember 2006

Malam Jahanam*

By On Desember 28, 2006
"maka air dimana-mana, air, air, air, air, air, air, air dimana-mana, dimana-mana air, banjir, banjir, banjir, banjir air, air banjir dimana-mana, dimana-mana banjir air, air banjir dimana-mana, dimana-mana air, dimata-mata air, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata..."

teman saya mengirimkan air berulang-ulang, maka saya membacanya dengan berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, saya amati dan saya pahami berulang-ulang, terus berulang-ulang, berulang-ulang hingga akhirnya saya membalas " kau menawarkan ide yang berat kawan" setelah sebelumnya saya mengatakan "aku sedang mati ide! ada saran?"

entah kenapa setiap kali saya berada diluar 'wilayah kekuasaan' saya, saya sering sekali mentok dengan urusan ide ini. hmm...tapi tidak juga, tepatnya ketika saya berada dirumah teman yang satu ini. suasana kamarnya yang cukup terang membuat saya seperti tidak bisa menangkap aura-aura gaib untuk menelurkan ide saya. suara radionya yang selalu ramai membuat saya kesulitan konsentrasi, anehnya itu terjadi kalau saya berada dirumahnya, tapi kalau ditempat sendiri, sebising apapun sekejap saja pasti selesai sebuah catatan kecil, sambil ngobrol dan sarapan pagi kalau saya mau sebuah cerpen bisa juga selesai, mm...ada apa ditempat mu kawan? sampai-sampai saya harus meminta tim SAR untuk mengantarkan idenya kepada saya malam-malam?

dirumah, tepatnya dikamar, ide persis seperti tikus-tikus yang berkeliaran diatas loteng, kadang juga pada botol-botol air mineral yang berjejer didekat lemari, atau juga pada donat-donat yang ada tabur kacang atau keju diatasnya, mm...bisa juga pada lingerie atau g string yang tergeletak diatas kasur, dan memang ada tulisan saya yang idenya dari sana. betapa sebuah under wear pun begitu berharganya bagi saya untuk membantu proses mengandung anak-anak tulisan. kadang juga pada sebatang rokok dan segelas kopi, tapi kalau yang ini hanya sebagai pelengkap saja sesekali.

bushet!!! saya benar-benar mati ide malam ini, menulis catatan ini pun dengan bantuan aura-aura gaib yang jauh dari seberang sana. dengan nafas yang tertahan-tahan dan mata yang merem melek sambil sesekali berteriak gila! bushet! gilaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! hahaha....malam ini memang gila!!! badanku terkungkung tak seperti biasa, hatiku berteriak dan aku kesakitan. bushet dah....bener kata mu mas....malam ini memang gila....



*judulnya diganti setelah ngobrol dengan yang memberi air

catatan akhir tahun

By On Desember 28, 2006
setiap masa ada catatan sejarahnya sendiri, setiap tahun, setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik...catatan itu berwarna-warni seperti pelangi. tetapi pelangi kehidupan sangatlah berbeda dengan pelangi yang muncul ketika hujan gerimis, pelangi kehidupan sangat kaya warna, ada putih, ada hitam, ada kelam ada cahaya, ada bahagia ada air mata, ada canda dan juga kegelisahan.


hari hari yang telah kulalui tak ubahnya seperti kain perca untuk menambal catatan sejarah hidupku yang terkoyak, namun hingga saatnya tiba tambalan tersebut bahkan tak pernah mendekati sempurna. banyak yang kutemui, banyak yang kudapatkan maka semakin kayalah aku namun banyak pula yang hilang dari diriku, banyak yang berkurang, miskin kah aku?


kaya dan miskin menurut catatanku bukanlah nominal rupiah yang juga berpelangi, bukan pula bangunan-bangunan kokoh namun dibaliknya terselip manusia licik yang culas tak bernurani. dan diluar sana rumah-rumah tak sempurna dengan dinding dari kardus berdiri menyainginya, padahal atapnya tak sempurna dan lantainya adalah tanah yang bau.

dua kertas putih tahun lalu kusiapkan ditempat khusus disalah satu ruang dihatiku. setiap hari kucatat melalui lisan, kaki, tangan, dan seluruh organ tubuhku. kadang sampai tercecer terbawa angin, mengejar aku memungutnya dan terkadang ada yang sudah belumur lumpur kehidupan, lalu kupercikkan kesana kemari kulipat lalu kumasukkan dalam kantung kecil dijiwaku. menjelang azan subuh akhir tahun dengan gemuruh didada kupandang catatan putih tersebut. nafasku nyaris tersekat diujung lorong urat leher ku.

hhhh...
perlukah aku uraikan dengan detil disini?
apa aku harus menuliskannya dengan begitu sempurna hingga lelah tangan ku? tak ada tinta yang cukup banyak untuk melukiskan kegilaan ku sebagai seorang hamba. tak cukup tempat untuk menguraikan hari ini detik ini, aku sedang melakukan apa Tuhan?

aku hampir tak punya muka,
ketika seluruh tubuh berebut meminta tangan mewakilkan suara hati mereka, catatan akhir tahun, mulut, hidung, telinga, kaki....semuanya,

tegakah menyiksa ku dengan semua catatan hitam ini wahai tangan ku?
tapi tanganku terus bergerak...
dengan bantuan remote control yang dikendalikan oleh hati dan akal.

Senin, 25 Desember 2006

Meri Krismes

By On Desember 25, 2006
"meri krismes juga" sebuah suara perempuan terdengar begitu nyaring diseberang sana, entah dimana dia. lontaran kalimat tersebut cukup membuatku kaget dan tersentak. selama dua puluh satu tahun ada didunia ini baru kali ini ada yang mengucapkan selamat natal kepada saya. dibelakangnya malah ada embel-embel "juga", dan itu sama artinya saya sudah duluan memberikan ucapan selamat natal kepada orang tersebut.

kekagetan dan keheranan saya bukan hanya pada ucapan tersebut tetapi darimana dia mendapatkan no telepon saya, mengingat sudah beberapa hari ini saya memakai nomor khusus yang tidak lebih dari lima orang yang mengetahuinya. "laura" begitu namanya ketika saya tanya siapa namanya. hmm..benar-benar aneh! nama laura tidak ada dalam daftar nama teman-teman saya. tadinya saya menduga dia adalah teman yang dibali tapi namanya tentu saja bukan laura, lalu siapakah dia??? entahlah...hanya dia yang tahu

ketika saya tanya dia ada dimana, saya pun tidak tahu daerah itu ada dibagian bumi sebelah mana yang pasti masih ditanah indonesia tercinta. mm...benar-benar aneh!

Minggu, 24 Desember 2006

Happy Iedul Adha

By On Desember 24, 2006

Happy Iedul Adha

Setulus Hati Ibrahim


Hidup Adalah Catatan Kegelisahan

Ketersarukan Dan Keterbataan

Dalam Ketidak Sengajaan Kesalahan Seringkali Membayang

Merangkul Dan Memeluk Raga Dengan Begitu Kuat

Hingga Kita Tak Bisa Bernapas

Membenihkan Dosa Dari Ujung-Ujung Lidah Hingga Ke Ujung Kuku

Kawan, Aku Disini

Kepada Mu Memohon Maaf

Setulus Ibrahim Mempersembahkan Ismail


Kawan,

Disini Aku Katakan

Karena Mu Aku Hidup

Nafasku Disandarkan Tuhan Melalui Mu

Melewati Hari-Hari Berat

Dengan Senyum Yang Kadang Kerap Dipaksakan

Dengan Lelucon Yang Sering Kali Kelewatan

Seperti Banyaknya Bulu-Bulu Domba Yang Desembeli

Seperti Itulah Aku Inginkan Keterbukaan Hati Mu

Beri Maaf Untuk Ku


Nyanyain Burung

Bait Lagu Cinta

Senandung Rindu Seorang Kekasih

Tak Ada Yang Lebih Indah Selain Mengenal Mu

Kau Ajarkan Cinta

Kau Ajarkan Nyanyian Merdu

Kau Ajarkan Makna Rindu Yang Sebenarnya


Kawan,

Disini Aku,

Merentangkan Kedua Tangan

Putihkan Hati Mu

Agar Hatiku Menjadi Putih Karena Pintu Maaf Mu

Sandarkan Aku Pada Keluasan Jiwa Mu

Seputih Hati Ibrahim Menyerahkan Diri Kepada Tuha

With Luv Senarai

Happy Iedul Adha

SENARAI HARAPAN UNTUK IRNA*

By On Desember 24, 2006

Beberapa hari yang lalu saya mendengar seorang kondektur Damri (angkutan kota) di Banda Aceh mengatakan “Inilah jamannya Irwandi..!”. Kondektur tersebut mengulangnya sampai beberapa kali, sebelumnya saya juga mendengar seorang warga yang melintas di perempatan Simpang Lima mengatakan “ditangan Irwandi Aceh akan bangkit".

Dua komentar atau bahkan beberapa komentar lainya yang meluncur dari mulut warga kota Banda Aceh itu hanyalah segelintir dari sekian banyak orang yang mengelu-elukan pasangan Irwandi Nazar atau IRNA yang pada Pilkadsung 11 Desember yang lalu menuai suara terbanyak dari kandidat gubernur lainya. Sorot wajah keduanya kelihatan begitu berbinar diikuti sungingan senyuman disaat menyebut nama Irwandi dan Nazar. Bisa jadi mereka sangat bahagia sebab secara tidak langsung, ucapan-ucapan yang dilontarkan menyiratkan makna seolah ditangan Irwandi dan Nazar, Aceh akan mengalami perubahan kearah yang lebih baik sebagaimana harapan jutaan rakyat Aceh lainya yang memilih pasangan IRNA ini.

Kemenangan Irwandi-Nazar memang menimbulkan ketakjuban tersendiri. Sebab diluar semua prediksi dari pihak lawan politik mereka ketika pemilihan berlangsung. Bagaimana tidak, ketika masa kampanye berlangsung, pasangan ini tampak begitu santai, tidak banyak melakukan kampanye sebagaimana hebohnya para kadidat lainnya yang dengan agresifnya memasang berbagai spanduk ukuran raksasa. Mereka sering menyambangi pendukungnya hampir diberbagai pelosok kota maupun desa-desa untuk mencari dukungan. Stiker kandidat non pasangan IRNA hampir bisa dibilang ada dimana-mana dan bahkan 'menyemak' disudut-sudut pinggiran kota Banda Aceh atau desa terpencil yang dulunya bahkan tak tersentuh pembangunan. Tembok, pagar rumah, halte sampai di body angkutan umum sekalipun tidak lepas dari sasaran penempelan stiker. Tapi pada saat penghitungan cepat hasil Pilkadasung Aceh ini pasangan Non IRNA mau tak mau harus menerima kenyataan pahit atas kekalahan dari pasangan IRNA yang memperoleh suara mencengangkan publik. Kemenangan IRNA sepatutnya diterima para kandidat yang kalah dengan jiwa besar.

Keunggulan IRNA sungguh diluar prediksi para pengamat politik tanah air atau masyarakat dunia internasional. Dikalangan masyarakat, berbagai komentar pun muncul beragam. Belakangan disebut-sebut kalau kemenangan pasangan ini dikarenakan baju adat Aceh yang mereka pakai, baik ketika melakukan kampanye maupun pada brosur-brosur dan spanduk yang mereka distribusikan ke masyarakat. Pasangan IRNA memang tampil beda dengan pakaian kebesaran Aceh, dimana rencong dan kupiah meukuetop yang melekat erat di kepala benar-benar memantulkan aura karismatis sebagaimana yang dipakai Teuku Umar atau para tokoh perjuangan Aceh Tempoe Doeloe.

Kalaupun benar karena kemenangan IRNA karena pakaian adat Aceh, toh tidak ada salahnya style itu dilakukan. Artinya, kemenangan IRNA bukan terletak pada pakaian adat Aceh tapi dikarenakan 'kejujuran' mereka yang ingin menampakkan kepada masyarakat bahwa IRNA betul-betul asli Aneuk Nanggroe Aceh. Mereka ingin menunjukkan bahwa meraka putra Aceh (pribumi) yang berusaha menjadi pionir untuk mengembalikan maruwah dan peradaban Aceh dimasa lalu yang sempat terkoyak-moyak dihantam berbagai prahara. Bisa jadi pakaian adat Aceh yang dipakai itu diyakini sebagai pembuktian bahwa untuk menjadi pemimpin Aceh tidak cukup terlahir sebagai anak Aceh saja tapi harus mempunyai semangat patriotisme ke-Aceh-an yang tinggi. Mengerti tentang seluk beluk serta karakter jiwa masyarakat Aceh hal itu diyakini sekali lagi bisa mengembalikan kebudayaan Aceh yang telah hilang karena bertahun-tahun telah 'ditelan' budaya Indonesia-isme.

Kita bisa lihat berapa banyak generasi muda Aceh yang tidak sudah mengalami degradasi moral dan jauh dari akar kebudayaan aslinya. Anak muda sekarang sudah tidak kenal lagi adat-istiadat dan hanya segelintir yang mungkin masih bertahan dari tata krama yang digariskan para leluhur. Lihat juga bagaimana kultus-kultus sejarah dan kerajaan di Aceh yang hilang tak berjejak dikarenakan hilangnya rasa memiliki atas warisan budaya luhur.

Namun, terlepas dari persoalan pakaian adat yang mereka pakai yang membuat pasangan IRNA meraup suara terbanyak, yang pasti kemenangan IRNA ini bukanlah terjadi begitu saja seperti membalikkan telapak tangan. Kemenangan IRNA bisa jadi bukan sulap siang bolong sebab melihat sepak terjang keduanya beberapa tahun kebelakang, sudah menjadi titik poin tersendiri bagi masyarakat untuk memilih mereka. Nazar yang mantan ketua SIRA dan Irwandi yang berlatar belakang orang-orang gerakan telah dikenal lama oleh masyarakat dan mereka mempunyai simpatisan tersendiri hampir dipelosok Aceh. Bahkan disebut-sebut, kemenangan IRNA adalah kemenangan yang tertunda dari Referendum delapan tahun silam.

Kini masyarakat sudah mengetahui siapa pemimpin mereka untuk lima tahun kedepan. Selama bertahun-tahun, masyarakat Aceh sudah sangat jenuh dengan pemimpin-peminpin Aceh yang hanya membual saat kampanye lalu ketika terpilih lupalah diri kepada nasib rakyat. Rakyat sangat mendambakan pemimpin yang betul-betul amanah dan peduli pada nasib rakyat. Kebijakan yang mereka terapkan diharapkan murni menyuarakan aspirasi masyarakat banyak. Jadi bukan suara untuk kepentingan partai atau golongan tertentu.

Kemenangan Irwandi dan Nazar menyisakan pekerjaan rumah (PR) yang harus mereka selesaikan seperti mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sosok pemimpin yang bervisi pembangunan kerakyatan. Kehilangan kepercayaan dari rakyat adalah salah satu sulitnya seorang pemimpin melakukan perubahan, oleh karena itu kepercayaan diatas segala-galanya. Jangan khianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat dan untuk mengimplementasikan atau menjaga kepercayaan ini, pemimpin Aceh harus betul-betul membuat kebijakan-kebijakan yang membela rakyat, bukan sebaliknya menindas. Perubahan memang membutuhkan waktu yang tidak singkat, oleh karena itu, pemimpin yang baik harus berkolaborasi dengan rakyat, meminta pendapat kepada rakyat tentang apa seharusnya yang diprioritaskan. Sehingga apa yang di idam-idamkan rakyat benar-benar terwujud sebagaimana visi dan misi yang dilontarkan saat kampanye.


*tulisan ini sudah pernah dimuat di www.acehinstitute.org



Sabtu, 23 Desember 2006

Tik Tok Tik Tok...

By On Desember 23, 2006
tik tok tik tok tik tok...itu bukanlah suara cicak di dinding melainkan suara hujan diatap. kalau saja tidak ada atap pasti air hujan jatuh tepat keatas wajahku. dan dinginnya pasti lebih dari ini, meringkukpun pasti bukan seperti ini juga. dagu dan lutut sudah pasti bertemu, tangan dua-duanya menyelinap ke paha. kepala dikempit sedemikian rupa persis kepala burung yang diselipkan kesayapnya. begitulah....

tik tok tik tok tik tok...lagi-lagi suara hujan masih seperti tadi, menendang-nendang seng tapi tidaklah sampai membuat bising sebab hujan tidak terlalu deras, dentingannya menimbulkan irama tersendiri dan menimbulkan geletar-geletar yang indah pula. yang tidak indah adalah hawa dingin yang disampaikan ujan terlalu berlebihan, tapi inilah kondisi alam yang mau tidak mau harus kita terima.

tik tok tik tok tik tok....
ritmenya memang terdengar indah dan berirama, persis seperti nyanyian cinta para ibu yang meninabobokan anaknya sambil dikepit dalam gendongan. apalagi sesekali ditambah dengan desau angin yang meliuk-liukkan pepohonan. aku hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat sebab meringkuk dikasur lebih menyenangkan daripada mengamati bumi dari jendela. tapi tidak sepenuhnya begitu, aku masih bermain kata disini, hingga tanganku terasa pegal dan jari jemariku serasa telah menjadi jempol semua. sebuah pertanyaan kecil muncul dibenak "bisakah ibu meninabobokan anaknya kalau perutnya lapar dan menjerit-jerit?"

tik tok tik tok tik tok....
entah mengapa akhir-akhir ini aku telah kecanduan tidur larut malam, kalau pukul sembilan sudah diatas tempat tidur rasanya ada yang aneh dengan diriku, dan aku kembali beringsut, mengambil kertas dan pulpen, lalu jadilah tulisan ini. baru menjelang tengah malam atau kadang lewat tengah malam kembali keperaduan. kalau bukan karena capek dan lelah semalampun pasti aku sanggup menulis, apalgi dengan cuaca yang sejuk bahkan cenderung dingin. tidak seperti biasanya, panas, panas dan panas. banda aceh memang panas!!!

hhhhhhh......brrrrrrrrrr..........
aku menyelonjorkan kaki, merebahkan badan, membentangkan kedua tangan...capek! letih!
mataku lurus menatap langit-langit kamar, kalau tidak ada loteng pastilah aku bisa melihat atapnya, kalau tidak ada atap lagi pastilah aku bisa melihat langit, dan air hujan jatuh tepat keatas tubuhku. mensucikanku dari persetubuhan dengan kertas-kertas dan tinta. mengeramas rambut ku dari debu-debu tubuhku sendiri. tapi dingin...kembali membuat ku meringkuk. kembali membuat ku menunda....ini tengah malam, tak baik menyiksa diri dengan air dingin walau sebenarnya itulah obat dari segala obat atas penyakitku ini.

tik tok tik tok tik tok....
rintik hujan kembali menyemai benih, tapi sayangnya ada yang hanyut terbawa arus yang terlalu besar. beningnya berubah hitam dan bau, akupun terasa mual ditengah malam begini. segarnya berganti dengan isakan tertahan disudut rumah tanpa dinding, tanpa atap, tanpa tiang, tanpa lantai dari marmer. jangan tanya pada ku rumah seperti apakah itu?


malam tak lagi muda, beberapa kali aku menguap, meskipun bayang-bayang dirimu masih berkelebat dipelupuk mata itu tak seberapa bila dibandingkan dengan kantuk yang telah memelukku. ia akan segera membawaku kelangit ketujuh, mengajakku bercinta dengan angan dan imajinasi ku. membawa ku terbang dengan mimpinya yang indah...dan kata ku..selamat malam...

Jumat, 22 Desember 2006

Ada apa Dengan Mu?

By On Desember 22, 2006
ada gerangan apa dengan mu? tiba-tiba diam dan timbul tenggelam, tidak menyapaku, tidak juga membalas sapaan ku, aku terus menyapa dan menyapa, hingga lelah tanganku mengetik dan hatiku merangkai kata. tapi kau tetap diam dan bisu. bahkan memberi kesempatan sedikitpun kepada ku tidak agar aku bisa memandangi wajahmu yang teduh, mata mu yang berbinar dan tajam.

aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi dengan mu, pagi sekali tadi...aku masih sempat mengatakan selamat pagi kepada mu, tapi kau buru-buru pergi dan diam sampai sekarang. sudah lelah aku menyapa, tidak kah kau tahu, sehari ini hanya ku sediakan untuk mu waktu ku. sejak bangun tidur tadi, sejak mata ini terbuka, kau terus membayang dipelupuk mata ku. rasanya tak sabar lagi ingin menyapamu...tapi hari ini...kau diam...diam dan menghilang.

aku ingin menangis saja rasanya, sama sekali tak bisa kau mengertikah akan keadaan ku? yang dari semalam telah merangkai huruf-huruf untuk kuberikan kepada mu hari ini. mengapa akhir-akhir ini kau terlihat aneh? merasa besar kepala kah karena kau menjadi yang teristimewa akhir-akhir ini dihatiku? ah..jahat sekali kau kalau begitu...

2 rumah maya ku, ada apa dengan mu???

Selamat Hari Ibu

By On Desember 22, 2006
alahai do....
do da....idi....
sinyak ubeut...
beu bagah rayeuk...
saya tidak bisa menyempurnakan bait-bait diatas karena saya memang tidak hafal lagunya, tapi saya suka sekali dengan lirik dan iramanya, kalau dihayati bisa-bisa menitikkan air mata. betapa perjuangan untuk menjadi seorang ibu tidaklah mudah.
ini bukan soal cerita mengandung dan melahirkan, karena siapapun pasti tak sanggup membayangkan mengapa seorang ibu bisa dengan kuat dan tegar untuk waktu selama itu? juga oleh perempuan sendiri
membawa janinnya ke kantor, ke sawah, ke warung, ke hutan, ke ladang, kemana saja...membawa serta sakit pinggangnya, sakit di tulang rusuk dan punggungnya, membawa mual dan mukanya yang pucat.
sekali lagi ini bukan soal cerita mengandung dan melahirkan, karena bongkahan emas sekalipun tidak sanggup untuk menggadaikan seorang bayi yang dilahirkan oleh ibu.
tapi ini soal soal yang lain, yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan prosesi melahirkan itu.
alahai do....
do da....idi....
sinyak ubeut...
beu bagah rayeuk...
kira-kira seperti itulah dulu ibu ku meninabobokan ku, menyelawatkanku, menyenandungkanku dengan kata-kata penuh doa dan hikmah. agar kelak ketika dewasa anaknya tumbuh menjadi manusia berguna dan jadi 'orang'.
tapi...apakah sudah demikian bergunanya aku ini?
bukan sekali dua kali aku bertanya pada diriku sendiri tentang itu.
pagi-pagi sekali ibu sudah bangun, seperti biasa ia menyiapkan teh, dan sarapan pagi. aku sendiri? harusnya diusia ku yang segini aku lah yang bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk mereka.
pukul delapan, ketika samar-samar suara ibu membangunkan aku malah memilih menutup mata lagi, bukan apa-apa...setelah suara ibu ku dengar suara ayah..."biarkan dia tidur lagi, jangan dibangunkan dulu." ah...ayah...lalu...."tidur apa lagi sudah siang begini...masak kalah dengan ayam..." aku tersenyum dalam tidur dikamar ku. oh...ibu...adakah yang lebih baik dari mu?
masih ingat sekali, ketika dulu waktu kecil dan saya sedang sakit...ibu dengan cekatan sekali merawat ku, menyuapi ku, kalau ingin keluar pastilah ia menggendong saya. tapi ketika ibu sakit? aku justru jauh, jauh sekali dengan beliau. jangankan menggendongnya, menyiapkan sarapan saja tidak bisa. apalagi yang lainnya.
lagi-lagi teringat ibu,
tadi pagi-pagi sekali beliau sudah menelepon ku, dan aku memberi kabar...lebaran ini tidak pulang...ada mendung diwajah ibu sepertinya. suaranya berubah seketika, ia pasti akan sangat kesepian sekali ketika lebaran nanti. tapi seperti biasa-biasa...mendungnya hanya sesaat saja, ia pun kembali berseri.
ah...ibu...lagi-lagi di usia ku yang segini belum ada yang bisa ku lakukan untuk membuat mu bahagia...
dari jauh aku cuma mau bilang, selamat hari ibu...untuk hari-hari sebelumnya, untuk tahun-tahun yang terlupa, untuk detik-detik yang terlewatkan begitu saja....
semua orang...saksikanlah rasa cinta ku kepada ibu, aku ingin kalian semua tahu...aku sangat cinta ibu...aku sangat cinta ibu....juga kepada ayah ku...yang sampai sekarang masih setia dengan kata-katanya "biarkan dia tidur, tidak usah dibangunkan..."

Kabut Di Malaysia

By On Desember 22, 2006
Langit terlihat berkabut, agak muram, suram dan tak bersahabat, bukan Cuma karena mendung tapi karena asap kiriman dari Negara tetangga yang telah menjadi rutinitas setiap tahunnya. Tapi mau bilang apa Negara tetangga itu juga Negara asalnya. Paling-paling dia hanya bisa tersenyum dengan menahan kesal dihati ketika orang-orang membicarakan tentang Indonesia yang selalu kebakaran hutan. Mau membela juga tidak bisa karena kenyataannya memang seperti itu adanya.

Ansar membuka jendela kamarnya lebar-lebar, angin bercampur kabut berebut masuk kekamarnya yang agak luas. Laki-laki lajang itu merentangkan tangannya, meliukkan badannya kekiri dan kekanan. Persendiannya berbunyi kruk kruk, apakah ini pertanda ia menderita osteoporosis? Ansar tidak tahu, tapi dulu temannya yang kuliah di analis mengatakan begitu. Tetapi sudah tiga tahun terkahir ini Ansar rutin mengkonsumsi susu kalisum, karena itu dia yakin tulangnya baik-baik saja.

“Ansar cari makan yuk. Lapar sangat nih.”
Wan Hamid teman kamar sebelah Ansar berteriak dari kamarnya. Kamar Ansar dan kamar Hamid berhadapan. Jadi kadang komunikasi cukup dilakukan dengan berteriak ria.

“Ayolah, perutku pun sudah berkeriuk.”

Wajar, jam didinding sudah menunjukkan pukul Sembilan lebih. Hari libur seperti ini sudah menjadi kebiasaan bangun telat, tentu saja kalau tidak ada aktivitas pagi. Ansar meraih jaket adidasnya dan menyisir rambut pendeknya dengan jari. Sekilas ia sempat menoleh kecermin dan tersenyum. Tak mandi pun ganteng aku nih…batinnya penuh percaya diri.

“Kopi jantan satu Mak sama nasi dagang campur mie.” Pesan Ansar pada Mak Yan, pemilik warung.
“Kau Hamid pesan ape?” Tanyanya kepada Hamid.
“Sama sajelah mak.”

Ansar dan Hamid pelanggan setia warung Mak Yan, warung Mak Yan terkenal enak, dan murah untuk ukuran mahasiswa seperti mereka. Selain itu Mak Yan juga enak orangnya, ramah dan bisa lebih kurang. Kadang kalau sedang tidak punya uang mereka diperbolehkan ngebon dulu. Tapi bagi Ansar ada alasan lain selain itu, bertemu dengan Nisa, gadis kelahiran Jawa Tengah yang sudah beberapa tahun ini bekerja di warung Mak Yan. Ansar senang mengobrol dengannya, ia merasa punya teman senasib seperjuangan sesama perantau. Bedanya kalau Nisa sebagai pekerja Ansar adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan disalah satu perguruan tinggi di Malaysia.

“Berapa Mak?” Tanya Hamid setelah mereka selesai makan
“Sepuluh ringgit saja.”
“Makasih Mak.”
“Iya balek lagi kemari ya?” Pesan Mak Yan
“Pastilah Mak, dimane lagi cari makan murah dan enak kayak Mak punya ni…” Hamid memang paling pintar menggoda Mak Yan. Ansar yang sedang berpamitan pada Nisa tersenyum melihat ulah temannya yang satu itu.
“Aku pamit dulu Nisa.”
“Iya, sering-sering kemari bang.”

Ansar mengangguk.

“Kau sepertinya suka sama dia ya?” Tanya Hamid ketika mereka pulang. Hujan mulai turun satu-satu. Hamid dan Ansar mempercepat langkahnya, jarak warung dengan flet tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima menit kalau jalan kaki. Jadi mereka tidak membawa kendaraan.

“Aku Cuma prihatin saja sama dia Mid, kasihan.”
“Ya itu artinya kamu punya rasa.”
“Bisa aja kamu, yang namanya seperantauan dimana-mana selalu gitu Mid. Kamu ini macam aja cakap.”
“Hehehe…dia cantik ya?”
“Jangan-jangan kamu yang naksir dia.” Todong Ansar. Hamid tersipu.
“Nanti temani aku ke Hospital University ya?”

Hospital university letaknya tidak jauh dari Petaling Jaya tempat mereka tinggal, rumah sakit terbesar dimalaysia, dibina langsung oleh University of Malaya dan pemerintah. Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk bisa sampai kesana dengan kendaraan roda dua, itupun kalau tidak macet.

“Rumah sakit terbesar kok namanya Cuma gitu aja?” Tanya Ansar ketika awal-awal dia menginjakkan kaki dinegeri itu.
“Nama tidak penting.” Jawab Hamid
“Yang penting apa?”
“Fasilitas dan pelayanannya bagus.”
Ansar membenarkan dalam hati.

“Ngapain ke Hospital University Mid?” Tanya Ansar
“Mom,”
“Iibu mu masuk rumah sakit?”

Hamid asli warga lokal Malaysia, tapi ia lebih memilih tinggal di flat daripada dengan orang tuanya yang kaya raya, Ansar pernah beberapa kali diajak kerumahnya dikawasan Pangsa Puri di Hulu Klang, kawasan elite tempat tinggal artis-artis di Kuala Lumpur. Seperti istana rumahnya, besar, cantik, halamannya luas…sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah Ansar dikampungnya sana. Meskipun Ansar juga bukan dari keluarga kekuarangan, rumahnya masih rumah Aceh, orang tua Ansar orang kaya kampung, punya tanah luas dan ternak yang banyak.

“Bukan.”
“So?”
“Pembantu Mom. Ngga tahu sakit apa. Ded lagi keluar negeri makanya saye disuruh kesana temani mom.”
“Oh.”
“Abis kita jenguk Mom kita ke Chow Kit ya…saye pingin makan sayur dari kampong mu.”
“Dengan senang hati.” Jawab Ansar cepat.

Kalau hari libur dan ada waktu luang Ansar dan Hamid sering ke Chow Kit, disana ada rumah makan Aceh yang sangat tekenal. Disanalah Ansar bisa mengobati kerinduannya kepada tanah kelahirannya, dengan pelayannya biasanya dia sering bercakap-cakap dengan bahasa Aceh. Dari Ansar juga Hamid keranjingan makan masakan khas Aceh seperti kuah pliek dan kari kambing. Juga makanan lainnya seperti timphan dan meuseukat.

@@@

“Kita langsung ke Chow Kit ya Sar, udah tak sabar nak makan kue timphan dari kampong awak.”
“Tak minat lagi saye, penat sangat nih. Nak langsung balek saja ke flet.” Jawab Ansar malas.
“Kenape pulak awak nih hah? Tadi cakapnya bisa” Hamid merengut
“Awak pegi sendiri saje lah.” Ansar meninggalkan Hamid sendiri. Ia segera menyeberang jalan dan menyetop angkutan umum. Sempat dilihat wajah Hamid masam dan juga heran dengan perubahan sikapnya. Ah, apa pedulinya. Hamid memandangi Ansar dengan sinis hingga ia menghilang dibalik jalan.

Kabut asap dari negeri jiran kampung asalnya kembali berputar-putar diluar sana. Semuanya kabur dan ngga jelas. Ansar menatap kabut itu tak berkedip. Perih hatinya. Sakit. Tersayat-sayat seperti diiris dengan pisau tajam lalu diberi cuka. Dia marah. Tapi kepada siapa? Kepada Hamid kah? Tapi apa salah Hamid? Tidak ada. Yang salah adalah ibunya. Orang kaya yang tidak tahu diri.

“Apa benar kamu jatuh dari tangga Pit?” Tanya Ansar ketika Hamid dan ibunya keluar ruangan.
“Iya bang…” jawab Pipit lemah.

Pipit adalah pembantu rumah tangga di rumah Hamid, dia juga berasal dari Indonesia seperti Ansar dan Nisa. Sudah dua tahun bekerja dikeluarga Hamid. Gadis dua puluh lima tahun itu kini tergolek tak berdaya diatas brankar. Tubuhnya memar-memar dan membiru, pelipis sebelah kirinya luka dan bibirnya bengkak.

“Pit…mau berbohong pada saya?” paksa Ansar. Dia yakin Pipit bukan jatuh dari tangga tapi dianiaya seperti kebanyakan pekerja-pekerja lainnya di Malaysia ini. Itu adalah cerita lama yang tidak bisa disembunyikan, apalagi oleh seorang Pipit.

“Bener kok bang” gadis itu masih bersikeras
“Ngga apa-apa kalau kamu masih mau bertahan dengan kondisimu seperti ini, aku ini saudaramu, kenapa harus takut bilang kalau kamu disiksa hah?” suara Ansar ditekan agar tidak terdengar keluar.

Beberapa kali kerumah Hamid membuatnya sedikit banyak tahu tentang Pipit, dia berasal dari Sulawesi. Anaknya pendiam dan tidak banyak omong. Pertemuan terakhir dengannya Ansar menangkap gelagat lain diwajahnya yang polos. Dia tampak tertekan sekali. Matanya mendung. Tapi Ansar tidak punya firasat apa-apa ketika itu. Apalagi dari yang ia lihat ibu maupun ayah Hamid sepertinya orang baik-baik.

Mata pipit menerawang, dua butir bening meleleh ke pipinya, ia meringis dan buru-buru menyapu air matanya.
“Iya bang, aku dianiaya oleh majikanku….”
“Sudah ku duga!!!”

Tangan Ansar mengepal, tapi dia hanya bisa meninju dinding kamarnya saja. Matanya menatap lurus kedepan. Menatap kabut. Pipit bukan hanya dianiaya, tapi juga diperkosa oleh ayah Hamid, dan sekarang dia dirawat dirumah sakit karena keguguran akibat dianiaya dan mengalami benturan yang keras diperutnya ketika ditendang oleh ibu Hamid. Dan ini bukanlah kejadian pertama yang dialami Pipit tapi sudah berulang-ulang.

Ansar benar-benar tidak bisa menerima kejadian ini, bukan kerena dia kenal dengan pipit, tapi karena Hamid adalah sahabatnya yang ia kenal sangat baik, begitu juga keluarganya. Tapi kenapa mereka memperlaukan seoran Pipit dengan begitu rendahnya.

Ansar terus menatap kabut. Ia tak peduli Hamid berteriak-teriak memanggilnya dari luar. Darahnya mendidih, marah telah membuatnya tak lagi ingin mengenal Hamid. Apakah Hamid tidak tahu perbuatan orang tuanya? Apakah Hamid ikut andil dalam semua ini? Dan masih banyak apakah-apakah lainnya yang terus berputar-putar dikepala Ansar. Bayangan Nisa, bayangan Pipit dan dirinya terus berkelebat menjadi bayang-bayang hitam. Sementara diluar sana Hamid tengah menyeringai bagai serigala lapar.
thx to mudy

Some Day With Matauroe

By On Desember 22, 2006
Matahari menyala merah, langit menyalak terang, angin betiup sedikit agak kencang, lumayan untuk menetralisir gerah yang tiba-tiba menyulut ketika kaki melangkah keluar. Di bulan Desember seperti ini harusnya curah hujan jauh lebih banyak ketimbang curah panas yang memanggang bumi. Tapi siapa yang bisa memprediksikan kekuasaan Tuhan? Apalagi aku, karenanya aku harus bisa bersyukur msih bisa merasakan hangat dan panasnya matahari.

Kaki ku terus melangkah, saling berlomba antara yang kiri dan kanan. Ingin saling mendahului. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling mesjid. Tampak para pekerja sedang merapikan bunga-bunga Asoka, mereka tengah menyiangi rumput-rumput liar dan menggemburkan tanah disekelilingnya. Kelihatannya mereka mengerjakan dengan sangat serius dan sepenuh hati walaupun sudah siang begini, biarpun matahari menyengat, biarpun mereka lelah dan juga kehausan. Binar keikhlasan jelas terpancar diwajah mereka. Senyumnya mengembang ketika kami bertemu pandang. Aku berfikir, seperti inilah cara mereka memuliakan rumah Allah yang satu ini, walaupun tidak bisa berinfak dengan uang tapi tenaga mereka untuk menjaga kebersihan mesjid adalah amal yang tidak terhinggak. Karenanya orang menjadi nyaman dan betah beribadah lama-lama dimesjid yang telah berumur ratusan tahun ini.

Angin bertiup makin kencang, meliuk-liukkan ujung jilbabku yang menjuntai, membuatku harus menyandangkan ranselku kedua lenganku. Angin semakin usil dan liar saja, rokku berkibar-kibar membuatku kesulitan berjalan. Aku melihat ke teras mesjid, orang-orang bercengkerama dengan teman atau saudaranya sambil tidur-tiduran. Siang-siang begini tiduran diteras mesjid memang menyenangkan, anginnya sejuk walaupun matahari menyalak panas. Beberapa diantaranya melihat kebagian paling bawah tubuh ku. Apalagi kalau bukan kaki. Mereka pasti melihat bulu kaki ku yang lebat dan panjang, seperti bulu kaki laki-laki. Aku tak peduli. Toh mereka Cuma melihat dan tidak bilang apa-apa, tapi ada yang tersenyum dan menggumam kecil kepada temannya. Entah apa yang dia katakana aku tidak tahu. Aku tidak ambil pusing. Setidaknya aku tidak perlu minder seperti teman-teman perempuanku yang lain, padahal bulu kaki mereka tidaklah telalu lebat seprti bulu kaki ku. Dibenak mereka barangkali sudah terpola bahwa menjadi perempuan haruslah feminim, lembut sampai bulu kakipun tidak boleh panjang dan kasar. Aku tersenyum mengenang itu semua.

Aku meringis, paha sebelah kiriku agak sakit dan semakin sakit kalau digerakkan. Ini pasti karena semalam aku tidur diatas tumpukan bantal, tubuhku jadi tidak seimbang dah jadinya beginilah. Ku keluarkan hp dari kantong saku ku, baru pukul dua belas. Aku harus menunggu dua jam lagi untuk bisa bertemu Pidoes. Kami berjanji untuk makan siang bersama tapi mungkin sekitar jam dua lewat, karena Pidoes harus kerja dulu.

Aku pun naik ke teras mesjid dan duduk sambil menyandar ke tembok. Ku keluarkan sebuah majalah usang dan membuka-buka halamannya. Sejenak aku memijit-mijit kening karena pusing. Kulemparkan pandangan ke halaman mesjid, rumput-rumput dan bunga asokanya tampak terawat dengan indah. Hanya saja kolam ikannya tidak lagi se cantik dulu. Sekarang ikan-ikannya sudah berkurang. Tapi pengunjung mesjid ini selalu ramai, tidak di pagi hari, siang maupun malam. Ada yang cuma duduk-duduk ingin santai, ada yang untuk sholat ada juga yang untuk pacaran. Beragam tujuannya, mungkin karena di Banda Aceh ini tidak ada tempat lainnya yang bisa dikunjungi selain pantai dan mesjid ini tentunya. Tidak seperti kota-kota besar lainnya yang banyak plaza-plaza besar dan mall yang tidak pernah sepi pengunjung. Aku menerka-nerka, karena itulah mesjid ini tak pernah ramai pengunjung.

Aku kembali menekuri majalah usang tadi, mataku sudah cukup terang untuk kembali membaca. Tapi tidak lama kemudian aku terusik dengan kehadiran seseorang yang duduk tidak jauh disampingku. Aromanya sedikit mengusik indra penciumanku, tapi aku tidak berniat beranjak dari tempat duduk ku semula. Itu pasti akan membuatnya tersinggung. Penampilannya agak kumal, bajunya tampak tidak bersih bahkan ada beberapa tambalan di lengannya. Rok nya juga tampak dekil dan berdebu, begitu juga dengan kakinya. Spertinya jarang tersentuh air. Wajahnya tampak kusam dan terbakar matahari. Ada duka yang bergelantungan diwajahnya yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Kutaksir usianya kira-kira tiga puluhan lebih. Rambutnya terlihat acak-acakan dan berantakan dibalik kerudungnya yang seadanya. Ditangannya sebuah timba kecil berwarna biru ia letakkan didepannya. Tapi sayang, hidupnya tidak sebiru timba kecil itu.

Aku melemparkan senyum seramah mungkin kepadanya. Ia tampak bersahabat, stidaknya ia berani merangsek lebih dekat kearahku. Aku mengeluarkan biskuit dan menawarinya. Ia tampak tak canggung menerima tawaranku. Aku suka melihatnya. Tidak pura-pura menolak padahal sebenarnya ingin.

“Tapi saya tidak punya air minum.” Ujarku
“Nggak apa-apa…saya bawa sendiri.” Ia mengeluarkan sebotol minuman yang tinggal seperempatnya saja, meneguknya lalu meletakkan didekat timba kecilnya.
“Nama saya Cemara, nama kakak siapa?”
“Matauroe.” Perempuan itu tersenyum getir. Senyum yang menyiratkan kepedihan dan beban hidup yang berat.
Setidaknya ia ingin menyampaikan bahwa hidupnya tidaklah secerah namanya. Harusnya sebagai matahari dialah yang memberi kehidupan kepada orang lain, bukan malah menjadi pengemis seperti ini. Begitulah pesan tidak tertulis dari isyarat matanya.
“Nama yang indah dan cantik.” Puji ku tulus. Lagi-lagi perempuan itu Cuma tersenyum. “Kakak tinggal dimana?” Tanyaku lagi.
“Dimana-mana…yang penting bisa kami tiduri kalau malam..”

Aku meringis, bukan karena paha sebelah ku yang sakit tapi karena mendengar penuturannya. Malang sungguh nasibnya. Dia tentu tak sendiri, masih banyak yang lain. Yang lebih buruk lagi kondisinya dari Matauoroe ini, setidaknya dia tidak penyakitan seperti yang lain, kakinya tidak korengan dan tidak ada anggota tubuhnya yang cacat. Ini juga lah yang membuatku sedikit menyesali mengapa dia memilih menjadi pengemis. Hidupnya mungkin akan jauh lebih baik kalau dia jadi pembantu rumah tangga, atau tukang bersih-bersih di mesjid ini. Aku yakin kalau ia mengajukan diri ke pengurus mesjid pasti dikabulkan.

“Kakak asli sini ya?”

Perempuan itu lagi-lagi menggeleng. Dia menceritakan kalau berasal dari salah satu desa di ujung selatan provinsi ini. Dia sudah menikah dua kali, suami pertamanya meninggal karena konflik. Lalu ia merantau kemari dan bertemu Salahuddin, suaminya yang sekarang sudah tiada lagi karena tenggelam akhir tahun 2004 lalu. Bahkan jasadnya tidak tahu kemana. Selain itu ia juga memiliki tiga orang anak dari kedua suaminya yang harus ia beri makan sekarang.

“Ngomong-ngomong anak kakak dimana?”
Aku baru teringat dari tadi anak-anaknya tidak kelihatan. Tadi sempat terfikir olehku dia sebatang kara saja didunia ini. Ah, malang benar nasibnya. Perkawinannya tidak ada yang mengesankan baginya selain harus berakhirr dengan cerita yang memilukan. Tidakkah itu kenyataan yang tidak mengenakkan? Belum lagi biaya untuk merawat ketiga anak-anaknya, biaya sekolah, biaya mengaji, ah…aku tak yakin ia telah menunaikan semua kewajiban itu selaku orang tua.

“Mereka ada di depan toko sana.” Matauroe menunjuk ke salah satu supermarket yang ada diseberang jalan sana. Aku melongok. Anak-anaknya mengemis juga seperti dia, mereka biasa mangkal didepan toko atau supermarket. Semakin miris hati ku mendengar semua itu. Harusnya aku lebih bersyukur diberi kedua orang tua yang tak kurang perhatian kepada anak-anaknya, menyekolahkan, mengaji, dan lainnya. Tapi mereka? Makan saja susah.

Angin bertiup semilir, burung-burung beterbangan di loteng mesjid, suaranya berderik-derik memecah kebisuan. Aku diam, begitu juga dengan perempuan itu. Aku tengah sibuk dengan pikiranku sendiri. Begitu juga dia. Sesekali dia menatap matahari, barangkali berfikir alangkah indahnya hidup jika seterang namanya. Bisa memberikan kehangatan dan kehidupan kepada seluruh alam, disanjung, dipuja, bahkan dijadikan sumber inspirasi bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, bagi para pujangga. Ah...

Dengan ekor mata aku bisa melihat ia sedang menyeka bulir-bulir yang jatuh dari sudut matanya. Ia pasti sedang mengingat suaminya. Atau anak-anaknya yang barang kali belum makan. Atau saudara-saudaranya dikampung yang sama melaratnya dengan dia. Atau mungkin juga berfikir Tuhan telah tidak adil padanya, menjadikannya terlunta-lunta dinegeri sendiri, menjadi pengemis yang untuk mendapatkan secarik ribuan saja harus bertadah tangan dan berlomba dengan para peminta yang lain. Di kejauhan aku melihat Pidoes, itu artinya aku harus segera pamit dan meninggalkan wanita itu.

“Saya pamit dulu kak. Teman saya sudah datang.” Suaraku memecah lamunannya.

Aku mengucap salam dan dijawab dengan anggukan olehnya. Aku tersenyum melihatnya. Perempuan yang malang, dia sebenarnya kelihatan cantik. Kedua matanya tajam dan bulat, alisnya tebal dan rapi. Dagunya runcing, kata orang-orang seperti lebah bergantung. Tapi nasib memang tak melihat pada paras, tak peduli cantik atau jelek, hitam atau putih.

Angin kembali bergerak-gerak, meniupkan rok ku dan menampakkan bulu kaki ku yang lebat dan panjang, satu dua orang yang ada disana meliriknya tapi aku tak peduli. Ini bukan kali pertama rambut-rambut dikakiku jadi perhatian orang-orang. Pertemuan dengan matauroe tadi lebih menarik untuk dipikirkan daripada orng-orang iseng yang suka melirik kaki-kaki orang, atau mungkin betis, paha, semuanya...andai hidup seperti matauroe. Ditunggu kehadirannya, dirindui, dinanti-nanti, didamba....sungguh berartinya hidup.

29/11/06
Siang yang panas

Kamis, 21 Desember 2006

Surat Untuk Neno

By On Desember 21, 2006
memang tidak enak ya menyimpan rindu ketika akan pergi, tapi begitulah...harus bisa dan kita harus belajar untuk itu. apa yang kamu rasa juga sama seperti yang aku rasakan, menunggu-nunggu surat mu, tapi yang ada ternyata cuma tiga baris kata kerinduanmu. dan itu belum cukup untuk menebus rinsu ku pada mu. bayangkan, tiga baris untuk waktu setahun, apa kau pikir itu cukup? jawablah sendiri.
pagi-pagi sekali kau sudah membangunkan aku, mengajak ku mengobrol sebentar, lalu kau kembali merapikan selimutku, menyuruhku sarapan dan dengan kecupan lebih kuat dari semalam. terakhir kau bilang, "nanti aku ingin bicara dengan mu..." aku pun kembali pulas setelah itu.
badanku kembali terasa lemas dan tak enakan, kepalaku kembali terasa pusing dan berdenting seperti garputala...sementara suara mu masih berputar-putar ditelingaku. dan kecupan mu masih terasa hangat dibibirku. "maafkan aku..." lirihku seperti dalam mimpi "aku tidak bisa menemuimu siang ini ditempat biasa..."
seharian aku tidur terus...memikirkan mu terus..kaki ini sudah berdenyit-denyit ingin melangkah, tapi pegal, rasa hangat dibadan mencegahku, nyeri dikepala membuatku lagi-lagi hanya bisa tertidur, dan mata ku terus mengatup. aku sakit say. dan kau akan pergi jauh sekali. untuk waktu setahun lamanya.
ah...neno....
entah sejak kapan peran itu tergantikan, yang pasti sejak itu pula diam-diam kita mulai saling mendatangi kan? saling memperbaiki selimut, saling mengingatkan untuk tidak lupa sarapan, juga pesan rindu walau tak banyak-banyak. jadi teringat ketika pertama kali kau mencium ku.... muka mu merah padam ketika itu, dan suara mu bergetar...sedang aku...menunggu dan menatap mu tak berkedip...
neno...belum sempat aku melihat ke kiri dan ke kanan, sudah dua hari kau pergi, mungkin ketika aku kedapur dan ke kamar mandi, waktu setahun itu sudah terbayarkan. entahlah...aku menyimpan rindu untuk mu. segudang rindu yang telah membuatku lelah ketika malam menjelang
seperti yang diceritakan none

Sahabat Sahabat Raran

By On Desember 21, 2006
Srrrrttttttt…..terdengar suara kursi digeser. Beberapa detik kemudian tombol on ditekan dan layar computer menyala. Situs-situs penghuni asrama dunia maya mulai kasak kusuk, ada yang bisik-bisik, ada yang tenang dan santai ada juga yang pucat, lemas tak bersemangat. Yang ini adalah situs-situs yang sifatnya berita, biasanya setelah dibuka dan dilihat head line nya saja dia akan dibiarkan berjam-jam dan tidak dilihat lagi hingga akhirnya di close. Si News pun lemas membayangkan kemungkinan serupa hari ini.
Yang paling genit dan tampak girang diantara mereka adalah si Yahoo. Wajahnya berseri-seri, bibirnya tak putus-putus menyunggingkan senyum, ia berjalan kesana kemari seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dirinyalah yang pertama kali di klik nantinya.
“Kenapa News…kok murung nih…takut kayak hari-hari kemarin lagi ya…” tanyanya dengan gaya dibuat-buat kepada News.
News mengangkat mukanya, menoleh ke arah Yahoo sebentar lalu menunduk lagi seperti semua, duduk manis dipojokan. Anak satu ini memang agak pendiam, apalagi bila sudah berhadapan dengan Yahoo yang centil, bawel dan resek.
Klik! Raran mulai membuka explorer. Sesaat kemudian sebuah home page sudah muncul, Yahoo kaget sekali menyaksikan itu, ia menggerutu kecil, tidak ada yang tahu.
“Siapa sih si Blogger itu, kok akhir-akhir ini kayaknya selalu dia yang duluan dibuka Raran.” Gelisah hatinya. Ia berusaha setenang mungkin dan menutup kecemburuannya kepada Blogger.
Blogger adalah penhuni baru asrama dunia maya ini.
Tik tik tik…Raran memasukkan user name dan passwordnya lalu enter. Sambil menunggu proses berikutnya ia membuka halaman web baru. Klik! Yahoo tersenyum lagi. Kali ini pasti aku nih yang dibuka Raran, batinnya senang. Mana mungkin aku keduluan lagi sama yang lain, Raran kan harus cek email, chatt dan melakukan pencarian apa saja. Fasilitasku banyak. Yahoo memuji diri sendiri.
Tapi…untuk kedua kalinya Yahoo harus menelan kecewa, kali ini Raran membuka Mas Afo alias aceh forum. Dan Raran tenggelam disana, dia memberi komentar, melakukan postingan, gadis itu tampak sangat menyukai Mas Afo. Berikutnya yang dibuka adalah Om Google, Astaga dan si imut ms Word. Yahoo hampir saja menangis melihat semua itu kalau saja tidak mengingat malu. Tadi dia sudah begitu belagunya didepan News sekarang malah dia yang nggak jelas nasibnya. Bagaimana mungkin Raran yang doyan banget internet itu lupa padanya, itu yang selalu membuatnya takhabis pikir.
“Nanti juga pasti dibuka kok…”ucap Blogger pelan seolah tahu isi hati Yahoo. Yahoo terhenyak, Blogger…makhluk yang dibencinya karena telah merebut posisinya dihati Raran.
“Tapi dia kan harus chatt dengan Nanda dan Neno, cek email, semuanya deh…” Yahoo masih belagu juga. Membuat yang lainnya agak eneg melihat dia, mungkin dia besar kepala karena banyak yang menggunakannya. Anak orang kaya, dari kelas atas lah.
“Hari ini minggu non, si Nanda ngga onlen dia, sedangkan Neno apa kamu lupa ya kalau sudah enam bulan ini mereka chatt pake google talk.” Jawab Om Google dari tempat duduknya. Yahoo melongos. Benarkah? Selama itu kah?
“Program Yahoo chatt di kantor Neno kan di block, makanya dia ngga make kamu lagi….hihihi…” Om Google terkikik. “lagian pake kamu ngga aman…bisa disadap” tambahnya membuat panas si Yahoo yang manja.
Sudah beberapa bulan terakhir ini Google memang mendapat tempat istimewa dihati Raran, dia dijadikan sebagai LO bagi tamu-tamu istimewa Raran.
“Kirimnya ke gmail aja ya…” begitulah selalu Raran mempromosikan dirinya setiap kali orang-orang istimewanya bertanya “Kemana dikirim suratnya.” Di google juga tidak berjubel seperti di Yahoo, hanya yang penting dan istimewa saja disana. Ini memang memberi kebanggaan tersendiri bagi Om Google, apalagi beberapa minggu ini Bloggernya Raran juga udah di switch ke google. Raran pun selalu memanfaatkan google searc untuk melakukan pencarian.
“Udah lah Hoo…ngga usah sedih gitu, ngapain pake nangis segala. Ntar juga di buka kok, percaya deh sama Teteh…” Ucap Blogger lembut dan bijak, dia sudah ketularan Raran sekarang selama dijadikan rumah mayanya oleh si Raran, Raran telah mengajarkan banyak hal padanya, kesabaran, mandiri, besar hati dan lapang dada. “kan banyak tuh email yang masuk kekamu setiap harinya.” Lanjutnya lagi sambil merangkul Yahoo.
“Memang sih banyak email yang masuk ke Yahoo, tapi email dari siapa dulu…paling juga dari milis yang isinya hujat sana hujat sini, ejek sana ejek sini, maki sana maki sini, bikin Raran mual dan mau muntah kayak orang dudul bacanya.” Kali ini Afo menjawab ketus. Dia sama sekali tidak peduli kepada Yahoo yang matanya udah sembab karena kebanyakan nangis.
“Afo!!!” teriak Blogger geram.
Afo cengengesan, maklum anak muda, darahnya masih panas apalagi untuk mengusili anak seperti Yahoo. Tapi mendengar bentakan blogger dia memilih diam, tidak ada untungnya berurusan dengan Teteh Blogger pikirnya.
“Bukan gitu teh Blogger, belajar tahu diri dikit kenapa sih dia…ini hari minggu, mana ada orang yang peduli dengan surat menyurat dan milis, apalagi nyari bahan kuliah. Yang kayak kita dong Teteh sayang…tempat nongkrong asik, banyak temennya dan bisa tukar fikirian, juga untuk menyalurkan bakat bagi Raran. Bukannya karena Teteh Raran jadi keranjingan nulis kayak sekarang?” Afo malah makin menjadi-jadi. Sebenarnya dia sudah berniat tutup mulut tadi, tapi melihat Yahoo meleletkan lidahnya Afo jadi berang.
“Afo…!!!” lagi-lagi Blogger Cuma bisa berteriak.
Apa yang dikatakan Afo memang benar, tapi harusnya dia juga bisa memahami perasaan Yahoo dong. Lagi sedih malah tambah dibikin sedih. “Kalau ngomong di rem dikit dong.”
“Hihihihi…..”
Yahoo malah makin lemes, biasanya walaupun agak telat Raran selalu membukanya, tapi hari ini???
“Huhuhuhu….” suara tangisannya memilukan
“Udah deh Hoo…baru sekali ngga dibuka aja udah sewot begitu, dulu aku juga pernah berbulan-bulan mengeram diperut kamu kan? Padahal awalnya Raran sendiri yang minta di invite sama Zulags.”
“Waktu itu si Raran belom ngeh tuh sama kamu…” News yang dari tadi diam ikut buka suara dan seperti mengingatkan si Google.
“Iya juga ya..oh..iya, aku ingat sekarang…” Om Google mengerut kan keningnya “Raran beberapa kali pernah membuka account ku tapi selalu error.” Om Google tersenyum senang.
Yahoo ingin menghilang saja rasanya mendengar perbincngan penghuni asrama, tadi dia sempat senang karena si Google lebih kurang pernah mengalami hal yang sama, tapi itu ternyata bukan keinginan Raran melainkan karena dia yang belum mengenal Om Google ketika itu.
Perdebatan-perdebatan kecil itu terus terjadi, Blogger sampai kewalahan menghadapi mereka semua. Dia jadi merasa tidak enak, karena dari tadi hanya dia yang diutak-atik oleh Raran, lalu sebentar-sebentar…
“sudahkan anda membuka www.Raran.blogspot.com siang ini?” begitu juga sore, malam, pagi…kapan saja Raran online. Si Afo tentu saja makin senang karena Raran ikut mempromosikannya juga. Bahkan diam-diam sekarang Blogger punya secret admirernya sendiri.
“Lihat saja di daftar pengunjungnya, sudah ribuan.” Ucap Om Google.
“Tapi di Yahoo kan juga sering, dijadiin status lagi…” lagi-lagi Blogger berusaha menengahi. Ia menghela nafas berat, lelah juga menghadapi Yahoo yang manja dan mas Afo yang Bengal.
Raran meremas jari-jarinya, pegel juga setelah seharian mengurusi Blogger dan Afo, menekan-nekan keyboard dan bermain dengan kata-kata. Handphonenya berbunyi…sebuah pesan masuk.
“Pesannya dikirim ke Yahoo”
Klik! Explorer ditekan lagi.
Yahoo melompat-lompat saking senangnya.
“Tuhkan, teteh bilang juga apa…Raran ngga mungkin lupain kamu” Blogger memeluk Yahoo.
“Makasih ya teteh…mas Afo dan om google”
“Makanya jangan negative thinking…” teriak si News ditempatnya.
Dia masih sama, dibuka, dilihat headline nya, lalu dibiarkan begitu saja selama berjam-jam.

Rabu, 20 Desember 2006

tak pernah kapok

By On Desember 20, 2006
mungkin memang begitulah...tak pernah kapok, setiap kali buka blog selalu saja ada yang ngulah, kalau ngga shoutboxnya yang ilang, sudah pasti tampilannya yang aneh, kalau itu masih belum cukup maka theme nya yang ilang semua, nah..kali ini lain lagi yang rusak...tuh udah jadi dua, aku pun ra ngerti nopo blog ku jadi ngono....ka meukilah kayak jih, pikiran sedang seret blog pun ikut mogok. kayak tuannya...

Minggu, 17 Desember 2006

Sleepy...

By On Desember 17, 2006
nyapu2, angguk2, geleng2, tunduk2....

bacalah bait diatas dengan irama lagu yang dipopulerkan oleh ahli fikir dari negeri jiran, kata-kata tersebut di post oleh seseorang yang punya nick name Muiz di aceh forum, saya menjadi tergelitik membacanya dan tulisan ini pun jadilah....

ngantuk2... yang tidak bisa hanyalah tidur...
begitulah tambah saya menyahuti bait diatas, mata saya memang sangat mengantuk, sudah beberapa kali menguap tapi tidak bisa segera tidur karena ada beberapa tulisan yang belum selesai di edit (ecek-eceknya mbak editor yang sedang deadline nih)

mungkin karena semalam saya tidur larut, atau mungkin juga karena sudah beberapa hari ini saya kurang istirahat, tidur larut malam terus, kadang menjelang pagi baru tidur. pagi-pagi dah bangun, itupun harus kebangun jam tiga malam karena ada tikus-tikus yang usil dengan suara keletok-keletoknya.

iseng sambil nulis ini saya ajak mas google keliling-keliling untuk cari tahu apa sih yang menyebabkan ngantuk. eh...hasilnya ngga jauh beda dari apa yang saya utarakan diatas, karena kekurangan oksigen dalam darah. karena itu usahakan agar tubuh selalu fresh dan cukup istirahat, biar ngga letoy dan loyo begitu. hmm...wajar dong kalau saya ngantuk siang ini? tidur siang memang udah jadi barang langka sekarang ini, tidur malam pun banyak yang recoki...gimana bisa istirahat cukup???

kurang tidur dan kurang istirahat memang tidak mengenakkan, badan jadi tidak segar, pikiran kacau, mata redup, pokoknya ngga enaklah...
so kalau udah gitu apa yang harus dilakukan? yah...upayakan agar tubuh kembali segar dan bugar. caranya?
mandi dong, kalau badan terlalu lelah, apalagi kalau mandinya agak sorean usahakan mandi air panas dan bubuhi sedikit garam dapur.
pakailah pakaian yang longgar supaya peredaran darah berjalan dengan lancar, ini untuk melancarkan kadar oksigen dalam darah juga, kira-kira begitulah analisa yang saya dapat dari hasil wet-wet sama mas google barusan.
trus usahakan minum air putih yang banyak, makan buah dan sayuran, makan teratur....saya sendiri kalau udah makan donat sepotong udah cukup...ngga perlu yang lainnya, tapi jangan ikuti cara saya..ikuti kata mas google saja....

thx 2 muiz

Ihan Sunrise

By On Desember 17, 2006
aku adalah diriku. dengan segala kegilaanku. dengan segala keterbatasanku. dengan segala kebiasaanku. dengan segala kekuranganku. dengan sedikit kelebihan juga tentunya. tapi entah apa itu. kelebihan berat badan kali. atau kelebihan imajinasi. inilah yang membuatku rela begadang sampe tengah malam, menelurkan imajinasi tersebut menjadi anak-anak tulisan yang berwarna-warni, biarpun induknya lokal tapi anak harus ada yang blasteran. atau minimal bercampur suku lah.
mengandung anak-anak tulisan supaya bisa lahir blonde memang agak sedikit butuh kejelian dan kesabaran ekstra. perlu hati-hati agar janin tulisan tidak keguguran sebelum waktunya lahir, prematur sedikit tidak apa-apalah. makasih ya Pak Joseph...temen mayaku yang tinggal di Holland, dan juga Roy yang sekarang ada di Argentina, udah membantu proses buntingnya si ihan sunrise sampai melahirkan si Kursi Goyang Madam Maria dengan mendekati sempurna. kalau hidungnya tidak semancung aslinya, atau kulitnya yang tidak terlalu putih, itu karena si Ihan ketika hamil suka sambil chatt ama si nanda dan si neno. jadi jewer aja tuh si nanda ama neno.
perdebatan-perdebatan kecil ihan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya ternyata membuatnya hami diluar nikah, maka lahirlah si lelaki tikus, si kunang-kunang Perempuan. hanya persetubuhan dengan dirinya sendiri lah yang melahirkan orang meubaje kureng dengan sempurna, tapi itupun sambil mencoba berselingkuh untuk melahirkan cerita Nanda, hasilnya, Nanda memang prematur, maklum...anak hasil selingkuhan. siapa yang menyelingkuhinya janganlah diberi tahu disini, privasi.
yang lebih lokal dan nggak kalah gaul ada juga, seperti memburu nafas, tapi itu cerita hanya untuk neno, balasannya udah diterima dan sudah dititipkan ke balai penitipan anak (blog ini), diam-diam anak itu aku adopsi dari neno dan ku titipkan disini. itu... yang judulnya if you were may baby...aku yakin yang membacanya pasti deg-degan, tapi yang memburu nafas lebih gila lagi dari itu. sekedar tahu saja, if you were may baby udah lewat proses editing yang panjang dan lama, tujuannya agar balai penitipan anak ini nyaman dikunjungi oleh siapa saja. walaupun ini rumah pribadi, tamu yang datang kemari sesekali orang penting juga. sekelas orang usil dan grasak-grusuk seperti ihan sunrise juga lah...ketika hamil dia memang butuh perjuangan berat, ngidamnya luar biasa, kepingin inilah kepingin itulah, sampai aku mencak-mencak dan marah-marah, nih anak kok susah amat lahirnya ya???lahir sungsang, makanya tidak di publish. ntar dia ngurut semua orang yang membacanya.
begitulah, aku dengan segala keliaran imajinasi ku. berhasil mengumpulkan banyak anak, ada yang hasil perselingkuhan ada juga yang hamil melalui jalur formal. ada juga yang terpaksa mencuri embrio dari puntung-puntung rokok....hahaha....botol aqua, kertas-kertas, dan gaya minimalis a la bunda ihan.
dan sekarang masa mengeram itu sepertinya sudah cukup, menjalani proses mengandung, ngidam, sakit-sakit pinggang, sampe proses persalinan diruang gelap memang menyenangkan. bahkan orang tidak tahu yang sedang hamil itu laki-laki atau perempuan ya? makanya tak jarang banyak yang memberi ucapan selamat yang agak mbalelo dikit.
"selamat ya mas ihan....anaknya cakep...itu tuh...si blonde"
"bang ihan...si farid atau si farid tuh..."
saya sih cuma mesem-mesem aja, laki-laki dan perempuan sama aja, bedanya dikit aja. banyak juga yang tanya ibunya gimana sih, kok anaknya cakep-cakep...ada yang bulek, ada yang genit, ada yang macho, ada juga yang kampungan kayak lampoh tanjong.
ini lho ibunya...yang pake kerudung warna biru itu, yang ada tai lalatnya dimana-mana, salah satunya ya yang dibawah hidung itu. udah capek ngeram, tapi sebenarnya selain alasan mengeram dan menjelaskan soal kepastian jenis kelamin ke publik ada alasan lain yang sangat-sangat penting. ini soal harga diri...ceile...ka i mubuet si ihan nyan...nyoe keuh ihan sunrise yang asli. grasak-grusuk juga kayak si nanda yang suka lompat sana lompat sini, kelewat lompat kejedut dinding. makanya, sebelum kejedut tembok kayak dia karena capek mengeram dikamar gelap harus duluan buat penampakan.
buk ihan teungeut that uroenyoe sebenar jih, semalam pulang jam setengah sebelas malam. cari angin segar biar proses persalinan kedepan lebih fresh lagi. soalnya ini sedang mengandung kembar, ada beberapa janin yang saat ini mengubek-ngubek perut bunda ihan, ada yang blasteran, ada yang lokal, ada juga yang agak udik sedikit. biar beda gitu lho...makanya sekarang sering 'sakit'. mume nyan hek sit rupajih euy...apalagi yang dikandung jenis kabut di malaysia.... tapi kok baru sekarang terasa capeknya ya? karena udah penampakan kali...hom hay..nyoe kadang...hihihihi...yeh...bunda ihan ka mulai lom.
terakhir...thanks alot to all my friend....wherever u are....terutama yang maya...
yang "tikus-tikus" juga....

Lampoh Tanjong

By On Desember 17, 2006
Langit mulai gelap, sesekali suara gemuruh terdengar menggelegar diikuti dengan sambaran kilat yang menukik hingga ke serambi rumah. Anak-anak yang tadinya bemain dihalaman rumah kini telah berpindah ke seuramoe. Begitu juga dengan tetangga-tetangga yang sedang memasak dibelakang, buru-buru memindahkan pekerjaannnya kebawah rumah, beginilah enaknya kalau Rumoh Aceh, dibawahnya bisa dipergunakan, setidaknya untuk kondisi darurat seperti ini.

Hujan turun sangat lebat, suaranya mengalahkan suara dari mesin kukur kelapa yang sedang dipegang oleh Asnawi, orang-orang terpaksa harus berteriak untuk tetap bisa berkomunikasi. Kasian yang tua-tua seperti Mak Cut dan Po Rabiah. Urat-urat lehernya sampai kelihatan kalau sudah berbicara.

“Asnawi…!!! Asnawi…!!!” Teriak Mak Cut. Tapi yang dipanggil masih asik dengan kelapa ditangannya. Mulutnya bergumam-gumam melantunkan lagu Saleum-nya Bidjeh yang sedang naik daun. Kayak ulat saja.

“Hai…Asnawi!!!” Kali ini Mak Cut sudah ada dibelakang Asnawi, menyenggol bahunya dengan sendok kayu yang dipegagnya.
“Ada apa Mak cut?”
“Angkatkan nangka itu sebentar kemari.” Perintah Mak Cut, ia menunjukkan nangka muda yang masih didalam goni.
“Iya.”
Asnawi menghentikan sejenak perkerjaannya dan mengangkat nangka dalam goni tadi, ia letakkan didekat Mak Cut untuk dikupas.
“Neu cang bek rayeuk-rayeuk that.” Kata Asnawi mencandai Mak Cut.

Sedangkan Po Rabiah terus merajang cabe untuk tauco, ada yang menggiling bumbu, ada yang memeras santan. Pokonya dibawah rumah penuh dengan tetangga-tetangga. Seekor sapi sudah disembelih sejam yang lalu untuk kenduri tujuhan Apacut Najar nanti malam. Tamu-tamu yang diundang bukan cuma orang kampung saja tapi juga dari kampung-kampung sebelah, dulunya almarhum termasuk orang yang cukup dikenal dimasyarakat, tak heran kalau banyak orang yang datang ketika ia meninggal. Keluarganya juga banyak, kalau cuma memotong kambing takutnya tidak cukup.

“Daripada nanti ada yang tidak kebagian, jadi bahan omongan dibelakang hari, bagus lebih.” Begitu kata Cut Teh, istri Apacut Najar ketika rembukan keluarga.

Hujan semakin deras, sesekali suara petir membahana, Po Rabiah yang latah tak henti-hentinya berteriak, membuatnya jadi bulan-bulanan yang lain.

“Bek ka peukhem long hai…” Po Rabiah cemberut
“Iidroe neuh lageenyan pih ka seutreng…” Asnawi tak mau kalah. Pemuda itu memang senang sekali menggoda Po Rabiah, marahnya cuma sebentar nanti juga baik lagi.

Sementara diatas rumah sana, para keluarga besar sedang riuh berdebat, suara hujan dan petir sama sekali tidak menjadi halangan bagi mereka. Justru seperti menjadi ajang untuk saling memperlihatkan siapa yang suaranya lebih keras dan melengking. Terutama Salim, dialah yang dari tadi paling besar suaranya. Berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Mulutnya memaki-maki tidak jelas, entah siapa yang dia maki.

Cut Teh menangis disudut ruangan, perempuan yang sudah berumur delapan puluh tahun itu tampak tidak kuasa menghadapi situasi seperti ini. Ia tak bisa berbuat banyak, kata-katanya tidak ada yang mendengar. Begitu juga yang lainnya, Yusuf, Afwadi, mereka tak berani melawan salim yang mencak-mencak tidak karuan.

Mendiang Apacut Najar adalah orang kaya, dia punya banyak tanah dimana-mana, tapi tanah itu sedikit-sedikit ia jual dan hanya tinggal lampoh tanjong saja yang tersisa, yang ada rumah aceh ini diatasnya dan itu sudah ia hibahkan kepada Syifa, cucunya yang ia asuh sedari kecil.
Apacut Najar menikahi janda abangnya, pulang balee istilah dalam bahasa acehnya. Umurnya sudah tua ketika itu, makanya dia tidak punya anak lagi, tapi kayaknya yang tidak bisa punya anak adalah Cut Teh, karena dengan almarhum suaminya dia sudah punya selusin anak, tapi yang selamat cuma dua, Salawati dengan Salamah, Salawati adalah ibu dari syifa.

Meyadari itulah Apacut Najar menjual sedikit demi sedikit tanahnya semasa hidup, rata-rata ia jual kepada cucu-cucunya dan familinya. Supaya tidak jatuh ketangan orang lain. Ia ingin mengantisipasi agar tidak terjadi keributan dikemudian hari, dan ternyata inilah yang terjadi.

“Ini yang paling ditakuti Nek Gam semasa hidupnya dulu. Berulang-ulang ia ingatkan agar jangan ribut soal tanah ini. Tapi ini juga yang terjadi.” Lirih suara Cut Teh kalah dengan suara hujan.
“Lampoh tanjong ini diberikan kepada Syifa tanpa persetujuan saya sebagai wali.” Kata dahlan melengking.

Dari dulu, sejak Apacut Najar masih ada Dahlan lah yang selalu sewot ketika Apacut mau menjual tanah-tanahnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Apacut Najar juga termasuk orang yang keras.

“Tanah itu diberikan ke Syifa jauh-jauh hari sebelum Nek Gam meninggal, jadi kalau kamu mau menggugat udah ngga ada gunanya lagi. Kenapa dulu waktu Nek Gam masih ada ngga berkutik. Sekarang kamu mau merampas tanah yang udah jadi milik Syifa?” suara Cut Teh bergetar.
“Itu karena Apacut Najar bergerak sendiri, tidak melibatkan saya.”
“Tapi kamu juga yang menyetujuinya, kalau ngga kamu teken mana bisa.”

Kali ini Dahlan tidak bisa bekutik, apa yang dikatakan Cut Teh memang benar, tapi dulu ketika ia menandatangani surat hibah itu karena terpaksa, ia tak punya kekuatan untuk melawan Apacut Najar, dengan hati berat ia terpaksa menandatangani surat tanah itu. Tanah terakhir yang dimiliki oleh Apacut Najar, dan itu berarti dirinya sebagai wali tidak akan mendapatkan apa-apalagi dari harta Apacut Najar. Dan itu berarti incarannya selama ini akan sia-sia belaka. Tapi begitulah, ia harus belajar menerima kenyataan.

@@@

Aroma daging menyemerbak dari luar, masuk dari celah-celah dinding, merangsang siapa saja yang menciumnya untuk segera mencicipinya. Dagingnya direndang dan dimasak putih, sedangkan tulang-tulangnya dimasak dengan nangka muda. Mengundang selera. Belum lagi masakan lainnya, mie hun, kuah asam keueng ikan tongkol dan tumis kacang panjang.

Suasana dibawah dengan diatas benar-benar bertolak belakang, dibawah penuh dengan keceriaan dan canda tawa, para ibu-ibu yang sedang memasak saling bergurau dan meledek. Ada juga yang tengah mencicipi makanan, ada yang menyusui bayinya. Macam-macam. Penuh keakraban. Sementara diatas sana wajah-wajah tertunduk sedih, mereka seperti kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Sehingga yang tercipta adalah kebisuan, hening. Hanya suara hujan saja yang terdengar berirama diatas sana.

“Harta orang semua punya orang kita yang ribut, kalau soal harta baru sayalah wali, kalau ngga ada harta entah kemana wali.” Celetuk Rusli tiba-tiba memecah kebekuan.

Dahlan yang merasa disindir tidak terima dikatakan seperti itu, tanpa berfikir panjang serta merta ia bangun dan menarik kerah baju Rusli. Matanya mendelik. Mukanya memerah karena marah, gigi-giginya bergemeretak menahan geram. Ia merasa dilecehkan didepan semua orang.
“Iini urusanku, jangan ikut campur kamu.” Ancamnya
“Urusan ku juga, karena Syifa adik ku.” Jawab Rusli tak mau kalah.
“Nggak ada adik adik disini. Semua sama saja.” Dahlan mulai kalap
“Apanya yang sama saja, sama rakusnya kayak kamu?”
“kurang ajar!”
“kamu yang kurang ajar”
“ka sep hai…male teuh I deungoe le gop di miyup.” Suara Salawati berusaha melerai.

Melihat situasi yang mulai memanas itu Adnan suami Syifa berinisiatif untuk melerai keduanya, ia bangun dan memegang Rusli, sedang Dahlan ditarik oleh Burhan. Namun Dahlan bersikeras agar ia bisa melepaskan diri. Tangannya dihentakkan kuat-kuat agar ia terlepas dari cekalan Burhan. Ia keluar. Orang-orang merasa lega karena situasi menegangkan itu akan berkahir.

Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena beberapa menit kemudian dahlan masuk dengan parang ditangannyaCut Teh dan yang lainnya berteriak-teriak histeris. Sedang Dahlan sudah seperti orang kesurupan. Dengan sekali sabetan Rusli luruh bersimbah darah, perutnya terkoyak. Darah mengalir dilantai. Salawati berteriak histeris dan memeluk Rusli yang terkulai tidak berdaya. Darah mengalir dari ujung parang yang dipegang dahlan, laki-laki itu tampaknya sudah puas. Ia berdiri garang.

“Dia pikir saya tidak berani!” Ucapnya penuh keangkuhan.
Bau aroma daging kini bercampur dengan bau amis darah, rasa lapar yang tadi sempat menyergap kini berganti dengan mual. Asnawi yang tengah mengaduk-ngaduk sayur nangka memperhatikan cairan kental berwarna merah yang menetes tak jauh dari tempatnya. Ia perhatikan dengan seksama. Darah!

“Mak Cut…lihat ini, darah apa?” tanyanya panik
“Hom hai….ngga tahu saya.”
“Gincu kadang.” Po rabiah menyela sambil terus merobek daun.
“Gincu apa kayak gini. Coba Po lihat dulu.” Kata asnawi
Mau tak mau Po Rabiah bangkit dari duduknya, orang-orang mulai kasak-kusuk, mereka-reka apa yang tengah terjadi diatas sana.
“Saya mau keatas dulu. Mau melihat apa yang sedang terjadi disana.”
“Lihatlah”

Asnawi kaget sekali melihat suasana diatas sana. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia bukanlah anggota kelurga itu. Syifa memeluk abangnya kuat-kuat. Ia jadi merasa bersalah dan merasa punca dari semua pertumpahan ini adalah dirinya. Seandainya saja ia tidak ngomong soal tanah itu tadi mungkin semua ini tidak akan terjadi.

Percekcokan itu sendiri berawal ketika ia menawarkan kepada kakaknya Burdah untuk mendirikan rumah diatas lampoh tanjong, karena Burdah tidak punya tanah. Dahlan merasa tidak setuju karena tanah itu diberikan oleh apacut Najar kepada Syifa, kenapa dia harus membagi-bagi lagi tanah itu kepada saudaranya yang lain.

Tapi siapa sangka percekcokan dari hal sepele itu berujung pertumpahan darah, padahal apa yang diributkan sama sekali tidak jelas. Tanah itu tetap menjadi milik Syifa dan Dahlan tetap tidak pernah mendapatkan apa-apa. Tapi begitulah yang terjadi.

Kunang Kunang Perempuan

By On Desember 17, 2006
Laki-laki adalah ular berkepala dua, hati-hatilah dengan mereka. Kadang mereka juga singa, yang selalu tidak pernah merasa kenyang dan puas. Sekali waktu ia seperti lebah yang mengantarkan madu-madu asamara tapi lain kali ia malah menyengatmu dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Begitulah selalu Sara meyakinkan dirinya, bahwa laki-laki adalah ular, singa dan lebah yang jahat. Karena itu ia harus mematuk sebelum dipatuk, mengeram sebelum dikoyak-koyak dan menyengat sebelum disengat. Ia harus bisa berlemah lembut tetapi kemudian harus menjadi jahat dan nakal. Begitulah Sara menyelematkan dirinya sekaligus melampiaskan dendamnya kepada laki-laki.

Malam terus merangkak, bulan tampak sabit diatas langit sana, bintangpun tidak banyak bertaburan. Langit gelap. Sara masih saja sibuk dengan rokok-rokoknya yang bertaburan dilantai, jam di nokia 3100-nya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Kulit kacang berserakan dilantai, sebotol fanta besar tinggal seperempatnya saja.

Begitulah Sara, dia tidak bia membedakan antara sedih dan senang, karenanya semua sama saja bagia dia, sedih merokok senang pun merokok. Entah apa yang dicarinya dari asap-asap rokok itu. Abunya sengaja ia biarkan menggantung panjang dari ujung rokoknya lalu jatuh kelantai. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Gadis muda yang sedang kasmaran, tapi juga dendamnya yang mulai terlampiaskan. Ia senang. Ia tepuk tangan. Dia juga menangis.

“Sebentar lagi Dandan pasti akan tahu kalau Sara bukan gadis lugu yang bisa senaknya diajak kesana kemari.” Lirihnya sambil menghirup dalam-dalam rokok djie sam sue premiumnya.

Gadis itu mengenal rokok sejak dua tahun lalu, dari awalnya coba-coba hingga akhirnya ia menjadi kencaduan seperti sekarang ini. Tapi masih dalam batas yang normal lah, satu bungkus sehari meskipun begitu bagi perempuan merokok masih agak tabu sepertinya untuk dikota-kota kecil seperti Banda Aceh ini. Karena itu Sara hanya merokok ditempat-tempat yang benar-benar aman dan tempat itu hanyalah kamar tidurnya sendiri. Setelah merokok dia menyemprot pengharum ruangan banyak-banyak agar baunya tidak menyebar dan bisa membuat curiga penghuni kost yang lain. Begitulah terus menerus selama ini ia jalani.

Dandan adalah penggila barunya yang telah ia beri umpan sejak enam bulan yang lalu, menaklukkan Dandan memerlukan kesabaran ekstra dan kejelian. Ia begitu kuat memegang prinsipnya, kalau tidak sabar mungkin ia telah gagal membuat Dandan seperti orang mabuk seperti sekarang. Dandan bukan lelaki bodoh atau culun yang gampang dibodohi oleh seorang perempuan muda seperti dia. Umurnya sudah hampir kepala empat, karena itu dia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa menaklukkan lelaki tersebut. Ia pun harus banyak membaca agar bisa mengimbangi ketika mengobrol dengan Dandan yang berlatar belakang aktivis.

Tapi sudah sebulan terakhir ini, Dandan sepertinya sudah bisa ia kuasai, dia sudah berhasil dijinakkan. Sara tinggal bilang ini, itu, dan Dandan akan menurutinya. Seperti ketika mereka bertemu tadi.

“Aku Cuma ingin kamu menemaniku beberapa waktu lagi disini Bang. pulang jenguk istri kan bisa bulan depan, toh dia tetap istri abang kan? Abang ngga pulang pun nggak akan diambil orang dan ngga berubah status.” Ucapnya manja kepada Dandan ketika mereka makan malam tadi.

Dadan mengangguk-ngangguk sambil berfikir. Benar juga fikirnya, bukankah dia sudah pulang menjenguk keluarganya ketika lebaran yang lalu? Berarti lebaran haji ini tidak pulang pun tidak apa-apa. Toh mereka tetap dikirimi duit. Dia nggak pulang baju lebaran anak-anak tetap ada. Kue lebaran tetap seperti biasanya.

“Kita kan baru seminggu jadian, masak sih aku mau ditinggal. Bisa gila nanti kerinduan abang.” Lagi-lagi suaranya dibuat semesra dan semanja mungkin. Ia harus bisa memberikan alasan yang masuk akal agar Dandan tidak pulang ke medan. Sara mulai menggombal, gadis itu memang pintar merayu.

Lagi-lagi kening Dandan berkerut. Ia tersenyum kepada Sara yang duduk disampingnya.

“Dasar laki-laki…serigala! Ular! Sekali dua kali kau bisa tidak tergoda dengan kemanjaan dan kemesraan ku, tapi yang ketiga kau pasti kalah!” batin Sara sinis. Ia tersenyum masam ke lelaki itu tapi Dandan tidak mengetahuinya.

Tapi kemesraan dan kemanjaan Sara tidaklah sepenuhnya dibuat-buat, sifatnya memang seperti itu. Dan ia memanfaatkannya untuk menjaring sebanyak-banyaknya laki-laki dan setelah itu dia campakkan. Umurnya memang masih muda, 21 tahun, tapi soal pengalaman menghadapi laki-laki dia sudah sangat lihai.

“Cukup berikan senyum manis, lalu sedikit perhatian dan manjakan. Jangan bilang laki-laki tidak bertekuk lutut kecuali memang dia taat beragama.” Selalu itu yang dikatakan Sara pada dirinya ketika ia merasa kewalahan menaklukan laki-laki. Tetapi Sara tetap sabar, sabar dan sabar, dan dia berhasil. Dandan adalah yang terlama berhasil ia taklukkan.

“Hmm…baiklah, demi kamu…abang akan tunda pulang ke Medan. Mungkin tahun baru nanti abang pulang.”
“Lho…tahun baru bukannya kita akan ke Sabang?”
“Hmm..ya deh…februari aja…”
“Valentine lho bang…”

Sara menuang minum ke gelas dan meneguknya berkali-kali, kerongkongannya agak perih karena soda. Rokoknya yang separuh ia matikan. Sudah waktunya tidur. Ia pun menarik selimut dan segera tidur.

“Sara lagi pulang ke Takengon nih bang, ada temen yang nikah.” Jawabnya dari ponsel.
“Kok ngga bilang-bilang sama abang?” Dandan protes
“Maaf abang sayang…Sara pergi buru-buru, ini masih dijalan. Belum sampai.”

Buru-buru Sara mematikan hand phonenya dengan alasan batrenya lemah. Padahal dia sedang bersama Rifkan sekarang, teman lelakinya yang sudah dua tahun dia kenal. Sama seperti Dandan Rifkan juga sudah berkeluarga. Laki-laki itupun sungguh gila mati ke Sara. Sara mengaku kalau dia sudah punya pacar tapi tetep saja ngotot.

“Mang enak dikerjain…” Desis Sara membayangkan kekecewaan Dandan, soalnya dua hari yang lalu mereka sudah janjian mincing ke Ule Lhee hari minggu ini.
“Dasar laki-laki…! Emang kamu siapanya saya sampai harus lapor dulu!!”

Entah apalagi umpatan-umpatan yang keluar dari hati kecilnya, sedang bibir mungilnya terus menerus bercerita bersama Rifkan, tertawa, bersenda gurau. Sara benar-benar jijik dengan mereka semua. Laki-laki pengkhianat. Laki-laki pendusta, bajingan!!!

@@@

Sara kecil hanya bisa meringkuk ketakutan disudut dinding, mata bulatnya berlinang air mata, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya gemetar, matanya mengerjap-ngerjap. Hatinya berontak tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Termasuk ketika ayahnya memukul ibunya hingga terpental ke dinding.

Lelaki yang dulu dikenalnya begitu baik kini telah beubah menjadi srigala lapar hanya karena pelacur tua yang telah merebutnya dari istrinya. Dari ibunya.

“Pergi kau laki-laki bangsat!” Teriak ibunya sambil tersungkur.
“Tidak kau suruhpun aku akan pergi.” Teriak ayahnya lantang. Matanya memerah. Tangannya masih mengepal.
Sara kecil terus meringkuk, sekarang diketiak ibunya.
“Bantu ibu mu !!!”
Sara tak berani memandang mata ayahnya. Dia menjadi benci. Sangat membenci laki-laki itu sekarang. Sejak saat itulah laki-laki tak ada harga lagi dimatanya. Sara kecil bertekad akan membuat laki-laki bertekuk lutut dikakinya.

Matahari mulai menjingga, angin bertiup agak sepoi-sepoi sore itu. Sara menjatuhkan pandangannya ke ujung timur. Awan membiru dan tampak cerah. Sore yang indah. Sekawanan camar terbang melintas diudara, sekitar dua puluh ekor. Membentuk leter u yang cantik dan mempesona.

Sebatang rokok menggantung di jari-jarinya yang lentik. Sesekali ia hisap dalam-dalam tapi lebih banyak ia biarkan menggantung hingga abunya jatuh ke tanah.

Pikirannya mengapung jauh, melanglang menjelajahi batok kepalanya. Ia teringat Rifkan, laki-laki yang punya dua anak yang sudah setahun lebih berjalan dengannya. Hati kecilnya mengatakan dia mencintai laki-laki itu. Tapi akalnya mengatakan dia harus membuatnya hancur. Membuatnya terluka supaya dia tahu bagaimana sakitnya dicampakkan perempuan, dilukai hatinya. Tapi ia selalu gagal. Ia tak berhasil menundukkan hatinya untuk tidak benar-benar jatuh cinta pada Rifkan. Inilah yang dia takuti, toh pada akhirnya ia tak bisa memiliki Rifkan.

Rifkan telah membuatnya jatuh cinta dan memberinya cinta yang tulus. Kedewasaan dan keluasan berfikir Rifkan telah membuat Sara benar-benar membukan hatinya untuk lelaki itu.
Ah, tapi selama ini ia tak pernah jahat kepada Rifkan, tak pernah mencuri waktu berkumpulnya dengan keluarga seperti ia melarang Dandan, tak pernah menerima apapun yang diberikan Rifkan karena memang bukan uang yang dia cari. Dia serba kecukupan. Justru sebaliknya, ia selalu ingin membuat Rifkan senang, dia akan marah besar kalau hari libur Rifkan mengajaknya jalan-jalan dan bukan keluarganya.

“Abang itu sibuk…kalau bukan hari minggu gini mau kumpul sama keluarga kapan lagi? Pergi sama Sara kan masih bisa kapan-kapan.” Ucapnya ketika itu.
“Sara ngga akan merebut waktu abang dari keluarga abang kok…” ujarnya lagi

Entahlah…mungkin Sara telah menjadi orang baik didepan Rifkan, tapi sebenarnya dia sendiri merasa jahat. Bukankah jahat namanya ketika diluar sana banyak laki-laki yang masih sendiri menawarkan cintanya ia justru memilih lelaki beristri untuk dijadikan temannya. Ia telah mengajarkan laki-laki berkhianat perasaan. Tapi ia puas, puas setiap kali laki-laki itu menceritakan kelemahan istri-istri mereka dan memuji-mujinya. Ia puas setiap kali laki-laki itu mengatakan cinta, rindu dan entah apalagi kepadanya. Sedang dalam hati ia puas memaki dan menghujat laki-laki.

Sara menyelonjorka kakinya, pandangannya berpantul ke arus sungai yang tenang. Ikan-ikan kecil tampak berkeliaran kesana-kemarin.

“Mungkin mereka juga sedang bercinta.” Batinnya sambil tersenyum

Ada ibu-ibu yang mencari tiram dikejauhan sana, ada juga lelaki-lelaki yang tengah memancing. Sara menarik napas dalam sambil membuang jauh-jauh puntung rokoknya. Diteguknya air mineral untuk membasahi kerongkongannya. Mendadak ia menjdi sangat galau, tak tenang. Ia sudah mengambil keputusan besar menurutnya. Rifkan tidak boleh ia permainkan, karena itu dia harus meninggalkannya walaupun resikonya dia harus kesakitan, rasa cintanya ke Rifkan sudah setinggi gunung seulawah yang ada didepannya, mengalir deras seperti aliran sungai Krueng Aceh ini. Rifkan telah begitu baik, ia tak tega membuat keluarganya hancur. Apalagi Sara kenal teman-teman dan sebagian keluarga Rifkan.

“Masih banyak lelaki jahat yang bisa disakiti, seperti Dandan, seperti Syahrul, dan bukan Rifkan.” Bisik hatinya
Ia menyampaikan salam terakhir kepada Rifkan melalui kawanan Camar yang terbang diatas sana. Salam rindu dan cinta yang tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun. “Sebab aku hanya bisa mencintai Rifkan.”
medio desember
ketika rindu mengapung pada salam terakhir
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email