Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 28 Februari 2007

Tentang Malam

By On Februari 28, 2007
apa yang kau tahu tentang malam?
tak ada kecuali sedikit saja, hanya ruang gelap tempat melepas lelah dan meneteskan peluh. sesekali sambil menatap langit yang bercahaya, menerangi tubuh telanjangku yang gelisah.

kadang-kadang, dengan sedikit harapan dan kecemasan yang berlebihan, berderu-deru seperti suara mesin air. aku tak tahu apa-apa soal malam, selain gelap dan kadang takut kehilangan. sebab malam bisa membawa ku pada mimpi yang indah dan tidur yang lelap sebelum akhirnya pagi da aku kembali lara.

sesekali berjalanlan ke hati mu, pancangkan tanda-tanda merah yang perlu diberi tanda. lalu jangan pernah beranjak dari sana, sebab kebahagiaan hanya ada disana. bermuara disana, cinta, rindu dan kasih saling merangkai hidup yang utuh. berarak seperti awan biru yang dilayangkan camar-camar berkawan.

lalu jika sudah lelah, berhentilah diatas rumput hijau jiwa mu, panggil matahari dan bulan, lalu peluk mereka dengan keinginan mu. kumpulkan burung-burung agar ia bernyanyi untuk mu. mereka tahu, kau sedang gelisah, kau ketakutan, sebab malam sebentar lagi akan berakhir.

sedikit sekali yang bisa diceritakan tentang malam, tetapi disebelah sana malam menjadi amat panjang dan melelahkan, sebab ia menunggu hari esok dengan berdebar-debar, katanya, ada matahari yang segera menjemputnya membawa ke nirwana. ah...alangkah indah jiwanya kalau begitu.

Senin, 26 Februari 2007

90 menit bersama “Meunasah di Gampong Kamoe”

By On Februari 26, 2007

Sore yang indah menjadi lebih indah, terasa lebih nikmat dan menyenangkan, nikmatnya bukan karena banyaknya snack yang disediakan oleh panitia ataupun teh manis yang menjadi pelengkap sajian kecil itu. Tetapi karena diskusi hangat yang membahas tentang buku anak “Meunasah di Gampong Kamoe” yang ditulis oleh sastrawan Aceh, Sulaiman Tripa.

Kenikmatan itu justru menjadi lebih nikmat lagi saat “Meunasah di Gampong Kamoe” dibedah oleh seorang redaktur seni Koran Tempo yang juga seorang sastrawan Aceh yang saat ini menetap di ibu kota, siapalagi kalau bukan Mustafa Ismail yang tulisannya banyak kita jumpai dimana-mana, terutama yang menyangkut dengan sastra.

Selain Mustafa Ismail ada beberapa orang lagi yang namanya cukup popular dimasyarakat, yah…sebut saja seperti LK. Ara, penulis buku anak sekaligus pelopor tari Didong yang berasal dari Aceh Tengah, ada lagi Al Chaidar penulis buku Aceh Bersimbah darah yang berasal dari Lhokseumawe, juga sederet nama seperti D. Kemalawati, Din saja, Murizal Hamzah, Fardelyn Hacky Irawani, Alkaf dan Sulaiman Tripa selaku penulis yang sepertinya sangat ‘enjoy’ menikmati setiap kritikan dan masukan yang diberikan oleh para ‘eksekutor’ buku.

Membaca judulnya saja jelas tergambar pesan religi yang begitu kuat dari sang penulis untuk kembali mengajak para generasi muda Aceh agar back to meunasah, bukan apa-apa, sekedar menebak, barangkali inilah kegelisahan si penulis terhadap anak-anak muda Aceh yang kian hari kian jauh dari tata kehidupan islami yang bermuara dari meunasah atau madrasah.

Walau baru membaca sekilas, sepertinya buku tersebut enak dan ringan dengan gaya bahasa yang sederhana, yah…namanya juga buku anak-anak. Meskipun oleh pembedahnya dikatakan ada sebagaian kosakata yang tidak ‘kekanakan’ seperti halnya kata-kata galian C yang diucapkan oleh si tokoh Aku dalam cerita tersebut yang masih anak-anak, dan ada beberapa kosa kata lainnya, menurut saya ini bukanlah kesalahan yang berarti mengingat anak-anak sekarang daya nalarnya bahkan seringkali diluar fikiran orang-orang dewasa walaupun terkadang mereka tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan.

Hal unik dan menarik lainnya dari buku ini adalah, cirri khas ke-Acehan yang sangat ditonjolkan oleh penulisnya. Mustafa Ismail sendiri mengakui, bahwa ada kosa kata-kosa kata yang telah dilupakan oleh banyak orang kembali ‘diingatkan’ oleh Sulaiman Tripa. Seperti halnya kata keujreun, meutiree dan lainnya.

Sebagai penulis yang telah terbiasa dengan buku-buku berat, karyanya yang satu ini saya kira patut diberi acungan jempol, karena, meski kita pernah menjadi anak-anak, tetapi membuat cerita anak itu tidaklah mudah, sebagai orang dewasa yang berusaha menyelami dunia anak-anak sangatlah sulit, jadi wajar saja jika ungkapan seperti galian C, atau kata dominan ikut terbawa dalam cerita.

Tidak ada gading yang tidak retak, buku sesempurna itu tetap saja ada celah untuk menjadi tidak sempurna, kecil sekali, seperti misalnya bahasa daerah yang tidak dicetak miring, atau tidak adanya foot notes atau catatan kaki sehingga ini mungkin agak sedikit menyulitkan bagi pembaca yang tidak mengerti bahasa Aceh. Tapi itu tentu saja bisa direvisi kembali.

Akan lebih sempurna lagi jika buku ini ada disetiap sekolah-sekolah dasar, karena selama ini buku anak-anak banyak yang ditulis oleh penulis dari luar Aceh, sehingga ketika dibaca oleh anak-anak Aceh secara tidak langsung akan ikut mempengaruhi pola pikir mereka juga bisa mengakibatkan lunturnya budaya local. Terus terang, saya iri dengan Sulaiman Tripa, produktif sekali. Salut Bang!!!

Surat Tak Bertuan

By On Februari 26, 2007
anggap saja surat ini surat tidak bertuan, saat seseorang berjalan-jalan ditepi sungai ia menemukan surat ini terselip dibebatuan terbelah. mungkin sipemiliknya ingin melemparkan ke air sungai yang dingin dan deras agar semua yang dia rasakan menjadi beku dan tidak terbentuk. tapi mungkin saja tadi, saat pemilik surat ini melemparkannya ke sungai arusnya tidak cukup deras dan kuat, sehingga jangankan menghanyutkan tubuh yang besar dan berat ini, sekedar selembar surat tanpa amplop pun tidan sanggup ditenggelamkan. maka, seseorang itu menemukannya, lalu dengan rasa ingin tahu yang sangat ia mulai membuka surat yang sudah setengah basah itu. hingga akhirnya ia meremasnya menjadi seperti bola lalu melemparkannya keseberang sungai atau menjadikannya butiran kertas lalu ia terbangkan bersama angin, bisa saja salah satu dari pasir kertas itu kembali lagi pada si pemiliknya.

ini hanya catatan kecil dipenghujung malam, kumpulan-kumpulan waktu yang sempat tergraffir pada dinding tak utuh, atau juga pada seberapa banyak lembaran kertas yang berserakan. semuanya mengumpul, membentuk gumpalan yang oleh pemiliknya tak perlu diberi nama serupa perselingkuhan dengan dirinya sendiri. seperti asap-asap rokok yang menggumpal dimulut lalu berserakan diudara. entah bagaimana menyatukannya kembali agar utuh. atau paling tidak jangan terlalu cepat hilang, sebab yang sedikit lagi itu biasanya lebih berkesan dan tersirat, sebelum kata terkahir terkatakan, barangkali disanalah nikmat merindui itu ada.

semuanya barangkali hanya duplikat emosi sesaat, dan esok, esoknya, dan esoknya lagi tergantung bagaimana kata hari ini, tergantung pertanyaan hari ini, tergantung jawaban hari ini. meyiksa diri bisa diterjemahkan dalam dua rasa, nikmat dan pedih. tapai apa yang terjadi kalau nikmat itu bersanding dengan pedih? barangkali akan semakin banyak puisi hanyut dan surat tak bertuan yang dilemparkan kepada seluruh penjuru mata angin. atau dititipkan pada musafir, atau juga menjadi permainan anak-anak yang bertelanjang dada.

tapi, terkadang begini, kita suka menunda sesuatu. hingga akhirnya keinginan itu terbang bersama angin, melebur besama awan, megnalir bersama air sungai yang dingin tempat dimana seseorang tadi menemukan surat ini tadi. lalu, apakah setelah yyag tersirat itu mnjadi tersurat semuanya menjadi nyata? belum tentu, rindu memang telah terkatakan, sebab rindu adalah milik jiwa. rindu kepada Tuhan, rindu kepada Rasul, rindu kepada surga, rindu kepada kekasih dan yang ingin dikasihi.

sedang aku, pemiliksurat tidak bertuan itu, ah, seseorang yang menemukan surat ini tidak perlu tahu siapa pemiliknya. aku, terbiasa dengan semua itu, menyuratkan apa yang tersirat dijiwa ku. karena apa yang kupunya hari ini belum tentu besok bisa ku miliki, rindu yang bisa terkatakan hari ini belum tntu besok akan terulang, aku terbiasa menterjemahkan perasaan ku menjadi huruf-huruf balok lalu menjadikannya puisi dan kuberikan pada yan merindukan puisi itu. aku terbiasa mengatakan, bahwa sebenarnya ingin sekali menjadikan dia lebih berarti dari yang sebelumnya. berarti bukan berarti harus dikerangkeng dalam jiwa yang sempit, bukan juga harus diendapkan dalam hati yang kadang lebih sering membuat sipemiliknya merasa kesakitan, seperti sakitnya burung yang dijadikan pengantar surat, padhal ia sangat ingin surat itu ditujukan kepadanya. aku tidak ingin begitu, karenanya aku tak perlu merasa berkecil hati ketika bisa bilang rindu, sebaliknya aku merasa bebas, bebas menterjemahkan rasa dan hati ku.

sebentar, sepertinya seseorang yang menemukan surat ini sudah begitu lama berada ditepi ini, aku hanya khawatir kau kan tertular aku, menuliskansurat tidk bertuan lalu melemparknnya ke sungai yang dingin dan beku.

dan kali ini aku seprtinya benar-benar rindu pada seseorang yang ku panggil adik!

Jumat, 23 Februari 2007

Republik Kodok

By On Februari 23, 2007
syahdan, didunia antahbarantah ada yang namanya Republik Kodok, sebenarnya tidak begitu tepat dikatakan Republik, tapi karena negeri ini mempunyai belasan propinsi, mempunya ribuan kecamatan dan puluhan bahkan jutaan desa barangkali maka dengan sedikit pede (percaya diri) yang berlebih negeri ini menyatakan diri menjadi Republik Kodok, tujuannya tidak lain adalah untuk menunjukkan kepada negeri-negeri lain bahwa negeri ini jaya dan makmur setidaknya ya dengan nama Republik tadi.
sebagaimana lazimnya sebuah republik yang menerapkan sistem pemerintahan yang demokratis bisa dipastikan bahwa yang tinggal dinegeri kodok bukan hanya bangsa kodok saja, tetapi juga ada bangsa jenis bebek dan bangsa jenis tikus yang terkenal rakus dan kemaruk. negeri kodok adalah negeri berbudaya, sejak masa kesultanan dulu masyarakat kodok sngat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat, selain itu negeri kodok juga dikenal dengan negeri yang religius meskipun akibat dari transmisi budaya yang begitu cepat nilai-nilai religiusitas itu hanya melekat pada plank nama departemen ke-kodokan saja atau lembaga-lembaga formal lainnya semisal sekolah dan perkantoran tempat sehari-hari masyarakat kodok beraktivitas.
siapapun tahu, yang namanya kodok pastilah tidak bisa jauh-jauh dari air, karena air merupakan sumber utama keberlangsungan hidup mereka. meskipun kodok bisa hidup di dua alam alias amphibi tetapi disaat-saat tertentu ia tetap tidak bisa meninggalkan habitat airnya, karena darisanalah mereka bangsa kodok bisa tetap meneruskan keturunannya, yah, menetaskan telur-telur mereka. hingga akhirnya mereka menjadi besar dan disebut sebagai kodok.
sebagai sebuah negara yang berdaulat, menjalin kerja sama dengan berbagai negara lainnya bisa dikatakan mutlak, karena siapapun tahu sebagai makhluk hidup kita tidak bisa hidup sendiri, kodok membutuhkan bebek, bebek membutuhkan tikus, dan tikus membutuhkan kodok, begitulah, kerjasama bilateral antara kodok dan tikus pun terjalin. awal-awalnya kerjasama kedua negara tersebut berlangsung baik dan aman, semuanya terkendali dan berjlan sesuai prosedur kenegaraan. tapi lama kelamaan, yang namanya khianat mengkhianati bukan hanya terjadi pada manusia, hal serupa juga bisa terjadi di republik kodok maupun dinegeri antahbarantah yang banyak didiami oleh warga tikus dan bebek.
sebagaimana negeri yang subur dan makmur, negeri kodok banyak terdapat sumber air yang melimpah, dimana-mana dibangun penyulingan air bersih agar rakyat kodok tidak perlu hidup diair kotor atau di selokan-selokan seperti yang selama ini terjadi dinegeri bebek. rakyat kodok membuat waduk dan bendungan agar ketika hujan air hujan tidak terbuang sehingga ketika musim kemarau mereka tidak kekurangan air dan bhkan melimpah. inilah yang tidak sanggup disaksikan oleh warga tikus yang tamak dan kemaruk tadi. merekapun akhirnya mencari akal supaya republik kodok yang tadinya makmur sentosa menjadi tergantung kepada mereka. perlu diketahui dinegeri antah berantah hidup dua bangsa yaitu bangsa kodok dan bangsa bebek yang dalam kehidupan sehari-harinya juga membutuhkanbanyak air.
bangsa kodok yang memang bangsa berbudaya, beradat dan beragama, menerima kedatangan para bebek dan tikus kenegerinya dengan hati putih alias tidak ada prasangka apapun. karena itulah selama ini mereka membiarkan saja saat perusahaan penyulingan air dinegeri mereka diminta agar dikelola oleh bangsa tikus dan bebek saja. "sebagai tanda terimakasih kami, supaya bangsa kodok tidak perlu capek-capek" begitulah alasan menteri sumber daya alam negeri tikus dahulu. tanpa pikir panjang gubernur kodok langsung mengiyakan, saat itu yang terbayang dipikirannya hanyalah rakyatnya yang tidak perlu bersusah payah untuk bekerja dan tinggal menunggu hasil saja.
singkatnya, beberapa waktu kemudian warga bebek dan warga tikus mulai banyak yang berpindah tempat ke negeri kodok. tetapi mereka tidak tinggal dikota-kota melainkan diwilayah-wilayah perkampungan yang masih banyak lahan kosongnya, disanalah mereka membuat kolam-kolam besar untuk bisa bertahan hidup, istilah ini dinamakan dengan transbetik alias transmigrasi bebek dan tikus. nah, disinilah awal mula konlik itu berpunca. bangsa tikus dengan kekuatan bebeknya mulai menguasai negeri para kodok. alhasil, kodok yang tadinya menjadi tuan dinegerinya pelan-pelan mulai terpinggirkan hingga kahirnya mereka sepakat melakukan perlawanan. mulai lah ada pertumpahan darah, dan ternyata para tikus dan bebek sudah menyiapkan rencana yang sangat matang untuk menghadapi situasi seperti ini. mereka sudah mengantisipasi sejak awal, karena itu negerinya sana tikus dan bebek mulai menyusun kekuatan.
maka dalam waktu yang singkat didatangkanlah prajurit-prajurit mereka sejenis tikus cerurut atau algojo para tikus yang terkenal buas dan sangat rakus serta tidak berprikebinatangan, dikirim ular yang tak terhitung jumlahnya untuk membunuh para kodok yang membangkang, sejalan dengan itu semua kekayaan negeri kodok sudah dikeruk habis oleh para tikus dan bebek yang entah bagaimana caranya kali ini kok bisa akur, padahal tanpa sepengetahuan bebek, para tikus itu pernah juga mencuri telur-telur mereka dan bayi bebek yang baru menetas. tapiitulah, para tkius piawai sekali menutupi kerakusan dan ke kemarukannya.
para aktivis kodok yang terkenall kritis dan tegas diculik dan sampai sekarang hilang tanpa jejak, mereka melepaskan teror dan intimidsi kepda warga kodok, akhirnya para kodok menjadi ketakutantinggal dinegeri mereka sendiri, kodok yang kaya dan punya uang banyak mencari perlindungan kenegara lain agar bisa hidup tenang dan bebas dari rasa takut, ada yang mencari suaka politik hingga ke benua lain, yang kodok puru atau cangguek pure alias kasta terendah dalam bangsa kodok hanya bisa gigit jari ditanahnya sendiri, tidak tahu mau pergi kemana, kodok bangsa ini juga tidak pintar mencari suaka politik hingga ke luar negeri jadi, mau tidak mau mereka ya menerima saja apa yang terjadi pada mereka. diteror, diintimidasi, diskriminasi dan sederetan istilah asing lainnya yang sama sekali tidak mereka pahami. namanya saja kodok puru alias cangguek pure., ngga banyak neko-neko.
tak cukup disitu saja kepedihan bangsa kodok, mereka yang selama ini hidup dalam kecemasan dan keputus asaan diperparah dengan adanya gelumbang raya yang memorak randakan seluruh kehidupan mereka, kodok-kodok yang jago berenang menjadi tak berkutik dan bergelimpangan menjadi bangkai kodok. sedih nian menjadi bangsa kodok, ujian tak habis-habis untuk mereka.
tapi setelah melewati perjuangan yang sangat panjang dan berat bangsa kodok menjadi lega kembali, pasalnya, antara bangsa tikus dan bangsa kodok sudah melakukan perjanjian damai. tapi tetap saja itu disesali oleh sebagian kodok, walaupun tidak dipungkiri mereka senang, karena sudah tak terhitung lagi banyaknya warga kodok yang menjadi korban pembunuhan, pembantaian, penganiayaan, pemerkosaan, anda bisa bayangkan kodok-kodok yang diperkosa oleh para tikus itu? jangn kan anda, ibunya sendiri puntakut melihat wajah anaknya yang punya moncing dan kumis, selain itu dia juga berdaun telinga tetapi postur tubuhnya menyerupai kodok. juga ribuan korban lainnya yang tewas dalam gelumbang raya
dan kini, setelah damai ditanda tangani (damai hanya diatas kertas barangkali) warga kodok membuat khanduri raya untuk mensyukuri semua itu, harapan mereka tak lain adalah bagaimana supaya bangsa kodok kembali menjadi bangsa yang beragama, beradat dan berbudaya, juga bangsa yang tidak mudah terlena oleh bujuk rayu bangsa tikus dan bangsa lainnya tentu saja.

Geutanyoe Duwa

By On Februari 23, 2007
phon phon meuturi geutanyoe duwa
uroe ngoen malam mata han teungeut
yoeh phoen meurumpok geutanyoe duwa
sang bumoenyoe padang bungong imawoe
bibi sabe-sabe teusinyum
hate meu dhub dhub
jantong meu thub thub
haba han ji teubiet sebab geutanyoe ka sapeu kheun

Kamis, 22 Februari 2007

Bulan Yang Tak Setia

By On Februari 22, 2007
Ngik…ngik…ngik…suara radio butut dari kamar Rosihan, bukan malah membuat telinganya enak tapi malah seperti akan tuli karena terlalu sering mendengar suara kresek-kreseknya. Belum lagi suara jeritan Alman dari halaman rumah yang menangis minta dibelikan es krim, padahal pedagang es krimnya sudah pergi sejak tadi.
Rosihan mengaduk-ngaduk nasinya yang tengah mendidih , lalu meniup apinya agar lebih besar supaya nasinya tidak mentah. Matanya memerah dan berair karena perih oleh asap dan bajunya sedikit agak kotor dihinggapi abu yang beterbangan oleh tiupannya tadi.

Setelah nasinya kering dan mengecilkan apinya Rosihan tergopoh-gopoh ke halaman rumah, dilihatnya Alman sudah berguling-guling ditanah, rambutnya sudah putih bercampur dengan tanah. Dibawah hidungnya cairan kental berlendir agak kehijauan membentuk angka sebelas.

Rosihan menghela napas berat sambil mengurut dada melihat ulah bungsunya, marah dan kasihan berkecamuk dalam jiwanya. Mengaduk-ngaduk perasaannya sebagai ayah dan sebagai lelaki yang terkadang sukar sekali mengendalikan emosi.

“Mandi yuk sayang…” Rosihan mengepit lengan Alman, setengah menyeret ia membawanya kebelakang rumah karena Alman sama sekali tidak mau berjalan.

Dengan telaten Rosihan menyabuni seluruh tubuh Alman, memberi shampoo dirambutnya, menyikati kuku-kukunya dengan sikat gigi bekas dan sepuluh menit kemudian ritual mandi sore itu pun usai sudah.

Bocah mungil yang baru berusia lima tahun itu kini merasa badannya lebih enakan dan segar, tidak ada lagi angka sebelas dan abu yang menempel dibadannya.

“Masuk sana pakai baju sendiri ya…”
“Iya ayah…”
“Jangan lupa bangunkan abang…”

Alman berlari kecil menuruti perintah ayahnya, suara sandalnya berkecipak-kecipak beradu dengan tanah. Mulut kecilnya bersenandung mendendangkan lagu bintang kecil. Rosihan termangu menatap punggung anaknya hingga hilang dibalik dinding rumah, batinnya berteriak-teriak menuntut keadilan bagi dua buah hatinya, tapi kepada siapa? Yang pergi tak kan pernah kembali.

@@@

Suara binatang-binatang malam terdengar sama jeleknya seperti radio butut milik Rosihan, kadang suara kodok, suara jangkrik dan suara cacing tanah. Semuanya berkolaborasi menjadi nyanyian Alam yang gratis namun sangat jauh dari kategori memuaskan. Tapi suara-suara itu tidaklah lebih menjengkelkan ketimbang suara nyamuk yang terus mengengeng ditelinga Rosihan. Bahkan menggigiti telinganya, tangan dan wajahnya, sampai kejari kakinya. Dengan menggunakan kipas pandan yang sudah usang Rosihan menghalau nyamuk-nyamuk nakal itu dengan harapan segera menjauh.

Dengan kaki kirinya Rosihan menggaruk kaki kanannya yang gatal digigit nyamuk, sedangkan matanya jauh memandang kelangit lepas, menerobos sekat-sekat mmlam dan belantara awan yang sedikit terang oleh pantulan cahaya bulan. Banyak bintang gemintang bertaburan disana. Ah, tiba-tiba ia jadi terkenang pada waktu beberapa tahun silam, saat malam-malam seperti ini dilalui dengan keberadaan Salma disampingnya. Mengapa pula ia menjadi ingat kepada mantan istrinya, tapi…apa pantas disebut mantan istri sebab dirinya tak pernah menceraikannya tapi disebut istri rasanya lebih tidak pantas lagi.

Dulu, ia sering duduk hingga larut malam dengan Salma di kursi bambu tua ini, membicarakan tentang masa depan mereka, tentang anak-anak, tentang apa saja yang bisa membuat mereka senang. Kadang disaat-saat seperti itu Rosihan belajar mempraktekkan ilmu merayunya yang sangat sedikit. Agar istrinya tidak terlalu menderita pikirnya, setidaknya hatinya menjadi terhibur walaupun hidup mereka susah, lebih tepatnya dikatakan melarat.

“Melihat wajah mu selalu membuat hati ku senang Salma”
“Kenapa?”
“Karena ada bulan menggantung disana”
Salma tertawa sambil mencubit pinggang Rosihan, dalam gelap bisa dipastikan wajahnya yang putih itu akan kemerahan karena menahan malu.
“Abang bisa saja…”
“Iya Salma, abang ngga bohong. Hh…seharusnya abang bisa sedikit menyenangkan mu, tapi beginilah…sudah punya dua anak kita masih melarat juga.”
“Hanya belum kaya barangkali.”

Salma dan Rosihan tertawa bersama, beban hidup yang berat seakan hilang larut dalam tawa canda mereka. Rosihan mengulang kembali kata-kata Salma barusan, “semoga…” tambahnya.

Tapi semua itu adalah kenangan lama yang kebetulan singgah dalam kehidupan Rosihan, dan sekarang, kenangan indah itu telah berubah menjadi mimpi buruk yang terus mengapung dalam ingatannya..

Ia menyesal telah menyamakan Salma dengan bulan, bulan adalah makhluk yang selalu setia kepada malam, sampai kapanpun hingga dunia dan isinya terbelah kelak. Dan selama itu ia tak peduli pada pergantian musim, hujan atau panas, semi atau gugur. Sedangkan Salma? Dia adalah bulan yang tak setia pada penderitaan hidup, bulan yang tak sanggup mendengar rengekan dan tangis anak-anaknya. Apa dia pantas disebut bulan? Semua itu hanyalah keterlanjuran bagi Rosihan yang pernah sangat mencintainya.

Hingga akhirnya Salma meninggalkan dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil, yang membuat Rosihan sangat marah dan merasakan sakit yang tidak terperi adalah Salma kabur bersama Samidan yang memang masih menyimpan cinta kepada dirinya. Yah…Samidan yang dulu sama-sama bermain petak umpet dengannya.

“Ayah…ayah…”

Suara Alman memanggilnya dari dalam rumah, Rosihan menyeruput kopi bikinannya sendiri sebelum masuk menemui anaknya.

“Ada apa? Kok bangun?”
“Alman mau pipis”
“Oh…ya udah sini” Rosihan menggendong anaknya keluar
“Ayah, punya ibu itu enak ya?” Tanya Alman tiba-tiba setelah selesai buang air kecil.

Rosihan terperanjat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, selama ini baik Alman maupun Alam tidak pernah bertanya perihal ibu mereka atau yang menyangkut dengan ibu. Atau barangkali mereka berfikir terlahir sendiri kedunia ini tanpa perantara ibunya.

“Ayah, kok diam?” Alman menjawil lengan ayahnya
“Eh…tanya apa barusan?” Rosihan pura-pura tidak mendengar
“Kata Dori punya ibu itu enak, benar Yah?”
“Mm…iya enak…” jawab Rosihan sekenanya
“Lalu kenapa Alman nggak punya ibu?”

Rosihan benar-benar kelabakan dibuatnya, untuk malam selarut ini pertanyaan seperti itu sangatlah mengusik ketenangan hatinya. Bukan apa-apa, mengingat Salma kadang ia ingin marah atau memakinya, menyumpahinya, tapi ia tidak bisa. Sebab dia tidak pernah diajarkan untuk menyerapahi orang lain apalagi bekas istrinya sendiri. Yang ia tahu hanyalah bagaimana mengikhlaskan sesuatu yang memang ditakdirkan bukan untuknya, termasuk istrinya yang dibawa kabur oleh temannya sendiri kah?

“Ayah…?”
“Tuh kan bengong lagi.” Alman protes.

Apa yang bisa ia jelaskan pada anak sekecil itu? Mengatakan kalau ibu mereka kabur dengan laki-laki lain karena tidak tahan hidup menderita. Haruskah hal sepahit itu diceritakan kepada mereka? Dalam kegamangan seperti itu entah mengapa ia jadi ingin melihat bulan.

“Coba Alman lihat ke langit”
“Ada bulan kan yah?”
“Itulah ibu kita…”
Ibunya malam, lanjut Rosihan dalam hati.

@@@

19 tahun kemudian

Rosihan yang tengah makan siang bersama kedua anaknya terpaksa menghentikan suapannya begitu melihat seseorang muncul diambang pintu. Lelaki itu memicingkan matanya Karena silau, siapa dia? Pikirnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Alman dan Alam, mereka saling bertatapan.

Seorang perempuan setengah baya berdiri mematung didepan pintu, wajahnya kelihatan lelah, bibirnya pucat dan kering. Mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak bisa dan tampak agak kepayahan. Alhasil ia hanya bisa berdiam diri sambil memilin-milin kerudungnya. Dalam hati ia berteriak “Kalian, sapalah perempuan ini jangan diam saja.” “Suruhlah aku masuk”

Piring yang tadi dipegang Rosihan tiba-tiba terjatuh kelantai dan dalam sekejap menjadi kepingan-kepingan beling, ia mulai mengenali siapa perempuan itu. Rasa tidak percaya dan kaget bercampur mengaduk-ngaduk perasaannya. Tak ada tanda-tanda pernah ada bulan menggantung diwajah perempuan itu, tak lagi bercahaya. Penuh keriput…

“Masuklah…” ucapnya sepatah, masih belum hilang kagetnya. Ia amat bingung menghadapi situasi seperti saat ini. Tak pernah sekalipun ia berfikir jika suatu saat Salma akan kembali, kalaupun sepeninggal Salma ia memilih tidak menikah lagi bukan berarti ia setia kepada Salma, tapi ia hanya ingin hidup untuk kedua buah hati terkasihnya. Itu saja.

Dan sekarang, Salma benar-benar ada dihadapannya, apa yang harus ia lakukan?

“Alam, suruh ibu mu masuk” ucap Rosihan kepada Alam melihat Salma belum bergeming.

Kali ini Alman yang terperanjat bukan kepalang.

“Ibu?!” ia menatap dengan seribu tanda Tanya pada ayahnya dan abangnya. “ Ibu?” ucapnya nyaris berdesis. “Ibu…” selama ini saat ia bertanya ibu ayahnya hanya menunjuk bulan lalu bagaimana mungkin sekarang tiba-tiba muncul perempuan sebagai ibunya. Air muka Alman berubah seketika.

“Ayah, katakana dia bukan ibu kami” ucap Alman tegas. Rosihan mendongak, begitu juga dengan Alam.
“Nak, itu ibu kalian.”
“Bukan!”
“Nak! Aku ibu mu, yang telah melahirkan kalian!” Salma setengah berteriak dari depan pintu. Kedua tangannya mengembang. Air matanya menetes. Ia sangat terpukul mendengar ucapan Alman barusan.
Alman menggeleng, jiwanya terguncang.

“Ibu ku bulan yang selalu setia pada malam” entah darimana ia mendapatkan kata-kata itu.
“Aku ibu mu nak!”
“Aku ibu mu! Bulan yang selalu setia pada bulan!”
“Aku ibu kalian!”

Teriak Salma berulang-ulang sambil menyusuri jalan. Ia menjadi gila sejak saat itu.

Bilik Hati, 10:04 pm
21/02/07

Rabu, 21 Februari 2007

Gubernur Pake Bahasa Apa?

By On Februari 21, 2007
tulisan sederhana ini muncul begitu saja saat tiba-tiba saya terkenang pada beberapa kejadian dimasa silam, sekitar tahun 1999, setelah DOM dicabut setahun sebelumnya. orang-orang gerakan saat itu sudah mulai berani muncul ketengah-tengah komunitas masyarakat, tidak tanggung-tanggung lengkap dengan paculan senjata AK - 47 nya. peristiwa itu tentu saja akan terlupakan begitu saja bila tida ada kejadian menarik yang sangat mengesanan dihati yang mau tidak mau harus diingat. karena apa yang terjadi setelahnya adalah rentetan dari apa yang terjadi saat itu. hingga pada suatu siang, dua orang gerakan datang kerumah dengan wajah sangar dan menakutkan, lengkap dengan senjata dibalik mantel panjangnya. saat itulah sesuatu yang mengesanan itu terjadi, saya yang seharihari terbiasa memakai bahasa nasional kena marah lantaran cakap bahasa nasional dengan adik didepan mereka. lucunya saya sadar mereka ureung nanggroe saat setelah dimarahi, lalu dengan jantung berdebar dan ketakutan saya minta maaf "peumeuah long...." kata saya dengan logat kacau pada waktu itu.

sekitar dua tahun setelah itu hal yang sama terjadi pada adik saya tetapi oleh orang gerakan yang berbeda, sejak sat itu anak-anak yang tadinya gemar berbahasaindonesia menjadi takut hingga pada akhirnya banyak yang lupa dan tidak mau lagi berbicara dalam bahasa nasional.

beranjak dari dua kejadian itulah tiba-tiba terlintas dipikiran saya, bahasa apakah yang dipakai oleh gubernur terpilih dalam menjalankan tugas kesehariannya? mengingat irwandi adalah seorang pentolan GAM.

tapibila memperhatikan petikan sumpah IRwandi ketika dikukuhkan menjadi gubernur Aceh oleh endagri pada tanggal 8 februari lalu sepertinya itu akan termasuk menyalahi aturan bila ia memakai bahasa Aceh dalam tugastugas kepemerintahannya. bahkan seulaweut prang sabi yang dulu menjadi simbol perjuangan mereka tidak dishalawatan ketika pelantikan. apakah ini berarti seuah perjuangan akan dengan begitu mudah dilupakan saat sudah berhadapan dengan kekuasaan? bukan ingin menghakimi siapapun, tapi mengingat yang dulu-dulu, rasanya mereka anti sekali dengan segala hal yang berbau Indonesia.

pun begitu selaku rakyat yang hanya bisa menonton penguasa dimenara gading sana sudah sepatutnya kita berdoa agar halhal sepele seperti persoalan bahasa dan atirbut dikesampingan agar prioritas utamanya tercapai; yaitu menyejahteraan rakyat. karena punca konflik sejatinya adalah rakyat yang tidak sejahtera sehingga muncullah perlawanan kepada para penguasa.

tapi selama ini, yang sering terjadi dan kita saksikan adalah sebaliknya, yang prioritas diabaikan sedangkan yang sepele tadi dibesar-besarkan. sehingga ketika urusan sepele ini selesai, persoalan utama tadi menjadi semakin kuat mengakar. tidak heran jika pada akhirnya label negara miskin dan negara korup terpaksa disandarkan pada bahu negeri ini. rakyat yang miskin semakin melarat sedangkan para penguasa ogah keluar dari ruangan ber AC karena takut kena panas sinar matahari, lalu dimana fungsi mereka sebagai pelayan rakyat? sudah terbalik, seharusnya pelayan yang melayani tuan tapi sekarang tuan melayani pelaya.

Selasa, 20 Februari 2007

Jari Jari Tangan Istri Ku

By On Februari 20, 2007

“tangan mu indah sekali dik,” ucapku suatu malam, saat itu kami tengah makan malam berdua disebuah café. Kami sengaja mengambil tempat agak dipojokan agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian orang-orang, sebaliknya kamilah yang menjadi leluasa untuk memperhatikan orang lain. Kebetulan malam itu agak sepi karena bertepatan dengan minggu malam, anak-anak muda tidak banyak berdatangan karena besoknya mereka harus sekolah dan mungkin malam ini harus menyiapkan tugas yang diberikan gurunya di sekolah.

“aku selalu bernafsu setiap kali melihat tangan mu dengan kuku-kuku yang indah terawatt.” Kata ku lagi melihat tidak ada respon apapun dari istriku. Sesungguhnya ini bukanlah kali pertama aku berkata begitu didepan istriku, sangat sering bahkan dan tak peduli dimanapun berada.

“sudah, sudah, makan saja dulu.” Jawabnya agak tersipu malu, aku tersenyum tipis melihatnya.

Mata ku masih belum beralih dari jari-jari tangannya yang lentik, aku justru menatapnya dengan semakin liar. Melihatnya merobek-robek ayam bakar dengan kedua tangannya. Ibu hari dan telunjuknya mencengkeram dengan kuat sedangt iga jari lainnya melengkung mengikuti kedua jari tadi dengan sangat indahnya. Sebuah pemandangan yang amat sangat menyenangkan untuk dinikmati.

“entah aku bisa mencintaimu atau tidak jika saja Tuhan tidak memberi mu tangan sebagus itu,” kali ini aku juga bicara jujur. Dan memang tidak ada gunanya berbohong kepada istri sendiri. Ku piker istriku masih tidak perduli, tapi rupanya tidak. Air mukanya seketika berubah, ia meletakkan ayam bakarnya dan menatapku seolah-olah meminta penegasan dari apa yang barusan aku katakan.

Ada kesedihan yang tiba-tiba menggantung diwajahnya, aku memaklumi perubahannya yang tiba-tiba itu. “tapi syukurlah jari-jari indah seperti itutidak dimiliki oleh perempuan lain,” sambungku cepat berharap selera makannya tidak hilang.

“lalu kalau seandainya besok tangan ku terpotong dan jari-jari ku hilang?” tanyanya dengan mimic wajah serius. Ada kekhawatiran dan kecemasan.

“itu persoalan lain, lanjutkan saja makannya”

Begitulah, tampaknya memang berlebihan kalau aku mengatakan asal muasal jatuh cinta kepada istriku karena terpesona pada jemarinya yang lentik dan indah. Saat itu, beberapa tahun lalu pertama kali aku melihatnya tengah mengetik sebuah artikel di rental computer. Lalu kuberanikan diri menanyai namanya dan meminta nomor teleponnya dan jadilah dia istriku sampai sekarang.

Barangkali ia berfikir kalau aku jatuh cinta karena terpesona pada wajahnya yang hitam manis, atau pada tutur katanya yang lembut dan sopan, atau pada sikapnya yang kadang agak grasak-grusuk itu. Itu memang benar, tapi datangnya jauh setelah aku menikahinya, setelah aku punya banyak waktu untuk memperhatikannya. Bahwa selain punya tangan bagus dan cantik istriku juga memiliki wajah hitam manis yang enak dipandang, punya tutur kata yang lembut dan menenangkan. Tapi yang selalu membuatku mabuk adalah jari-jemarinya yang lentik dan indah terawat itu. Barangkali karena aku tidak pernah memuji parasnya itulah suatu hari istriku memberanikan dir bertanya pada ku.

“apa yang membuat abang jatuh cinta kepadaku sehingga mau menikahi ku?” tanyanya suatu pagi.

Seketika saat itu aku melihat kejari-jarinya yang tengah mengaduk kopi, aku agak bingung juga mendapat pertanyaan seperti itu sepagi ini. Kalau aku jawab jujur bisa dipastikan dia akan salah paham nantinya.

“mau jawaban jujur atau jawaban bohong nih…”

“idih, abang ini gimana sih, ya jawaban jujur dong.” Saat itu aku mendapatkan bagian lain dari dirinya selain tangan indah dan wajah manis, yaitu senyum yang menawan.

“karena jari-kemari mu yang indah dik”

Ia tertegun mendengar jawaban ku,

“tidak ada yang lain?” tanyanya tanpa kedip

Aku menggeleng.

“benarkah?” ia tampak belum yakin.

Aku mengangguk lagi, ia tersenum sambil menyerahkan kopi kepada ku, tapis enyumnya agak getir dan hambar. Barangkali karena dipaksakan. Dan obrolan tentang asal muasal cinta pagi itu berhenti sampai disitu saja. Aku pun tidak pernah menyinggung-nyinggung lagi soal itu.

Hingga suatu hari aku melihat istri ku tengah menggosok-gosok kukunya dengan alat seperti gabus berbentuk persegi panjang pipih, aku hanya memperhatikannya saja dari jauh, benda apa itu piker ku. Tapi karena penasaran akhirnya aku mendekat.

“kenapa kukunya?”

“biar tetap cantik, biar abang terus mencintaiku” jawabnya datar tanpa senyum

Oohh…istriku, ia sepertinya sedang ingin berunjuk rasa kepada ku, menyampaikan sikap protesnya dengan cara seperti itu. Aku jadi geli mendengarnya. Tapi memang setelah ia melakukan ritual itu kukunya menjadi lebih cantik dan mengkilat, biasanya ia hanya membersihkan dengan jeruk nipis saja agar kukunya selalu bersih.

“Bagaimana?” tanyanya sambil memperlihatkan kedua tangannya kepada ku.

“cantik,” jwabku seraya menarik tangannya untuk ku kecu “cccuuuuppp…..”

“kenapa” aku bertanya saat melihat ia menjadi murung, bukankah seharusnya senang mendapat pujian dari suami tercinta dengan bonus kecupan ditangan?

“sedemikian buruk kah wajah ku sehingga abang tidak pernah menciumnya?” ucapnya pelan dan sendu.

Masya Allah…jauh sekali yang dipikirkan oleh istri ku, aku tersentak dibuatnya. Tapi dengan cepat aku segera mengkalkulasikan antara mencium tangannya dengan mencium keningnya, yah, mencium tangannya jauh lebih banyak, tak tehitung. Tapi…aku sama sekali tidak menduga kalau istriku akan berfikir hingga keayat itu.

“bukan begitu saying…” aku menjadi sulit menjelaskan kepadanya

“lalu apa?” suaranya bergetar tapi ia tidak menangis. Ini lah satu hal lagi yang kusukai dari istriku, tidak cengeng. Bahkan dalam beberapa hal ia tampak lebih maskulin dari diriku seperti hoby mengebutnya atau cara dia membenarkan listrik dirumah ini. Tapi semua itu tertutupi dengan kelembutan dan kelentikan jari jemarinya yang indah tadi.

Tangannya tetap lembut walaupun sehari-hari ia berkutat dengan cucian dan bumbu rempah, tutur katanya senantiasa terjaga meskipun ia bisa saja memaki ku dan aku tidak akan marah.

“begini, dulu, asal muasal abang mencintai mu memang karena tangan mu itu. Itu karena sedikit sekali waktu yang ku punyai untuk bisa bersama mu, sehingga setiap kali kita bertemu yang menjadi perhatianku adalah tangan mu. Tapi setelah kita menikah, setelah abang punya banyak waktu bersama mu, abang banyak menemukan yang lain lagi dari dirimu dik. Hingga akhirnya aku mencintai mu dengan stok cinta yang berlimpah-limpah.” Urai ku panjang lebar

“apa itu?”

Ah, istriku, ia meman sangat pandai berpura-pura. Sebenarnya ia sudah tahu apa maksud dan tujuan perkataan ku tapi ia ingin aku mengatakannya dengan jelas.

“adik punya wajah yang manis, ealau tidak seperti bulan tapi selalu ada bintang bergantung disana. Dan tidak pernah hilang meskipun saat kau marah. Adik punya senyum yang manis, memang tidak semanis senyumnya Desi Ratnasari, tapi cukup ampuh untuk menjadi penenang bagi suami mu yang sering dilanda gelisah ini,” aku memperhatikan wajah istri ku lagi, mulai bersinar kembali.

“kamu punya suara yang merdu sekalipun tengah berteriak menyoraki tim sepak bola jagoan mu.”

“heheheh…abang udah deh, jangan merayu terus, nanti aku bisa berteriak lebih keras lagi.” Tawanya begitu lepas

“berteriaklah ditelinga abang”

“aw…aw…” teriaknya riang, aku tertawa]

Istriku, kadang aku merasa Tuhan telah tidak adil kepadanya, karena untuk perempuan sesempurna dia hanya diberikan seorang suami yang cacat. Laki-laki yang hanya mempunyai sebelah kaki dan terus bergantung pada kaki palsu.

10:36 pm

19/02/07

Senin, 19 Februari 2007

Menangis

By On Februari 19, 2007
menjadi orang-orang kuat memang pilihan, karena tidak semua orang sanggup melakukan itu, dan aku masih sangat jauh dari karakteristik orang-orang kuat itu, bagaimana tidak, sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit menangis, mengeluh, berteriak, menjerit. ah...begitulah manusia seperti yang diceritakan dalam Al Quran, banyak mengeluhnya dan sedikit sekali rasa bersyukurnya.

baiklah, sepertinya perlu kuceritakan sedikit kenapa hari ini terus menangis, menangis dan menangis, hingga matahari bergulir ke barat dan terus kebarat sampai akhirnya ia tenggelam ditelan belahan bumi yang lain. betapa cengengnya hari ini, pada saat yang bersamaan menenangkan orang lain menangis tapi diri sendiri juga terus menangis hingga orang yang didiamkan itu hilang. dan meninggalkan secarik pesan yang isinya begini; kamu justru lebih sering menangis untuk ku, ah...tanda hijau itu menjadi kali lagi. dan sekarang aku harus beli obat dan itu artinya aku harus segera meninggalkan mu, semoga demam mu cepat sembuh, i luv you...oh ya, mohon tidak mengatakan yang----------untuk diri mu, hati ku perih mendengarnya...peluk cium untuk mu, sampai besok, wassalam.

waalaikumsalam, jawaban yang agak dipaksakan sepertinya. karena pada saat yang bersamaan aku masih ingin bersamanya, yah...setidaknya bisa melambaikan tangan sebagai pengantar pulang sore ini. tapi apa boleh buat, dijaman modern seperti ini saat semua orang menggantungkan kehidupannya pda kecanggihan teknologi, ternyata teknologi itu sendiri masih menggantungkan hidupnya pada teknologi lain, listrik. begitulah... ia pulang setelah pamitan pada secarik pesan yang dititipkannya pada email.

sebenarnya yang terjadi hari ini adalah kumpulan yang kemarin-kemarin, tiga hari lalu saat ia pulang dengan janji akan membawakan rindu yang banyak untuk ku pada pagi hari ini. pagi-pagi sekali saat aku bahkan kadang masih terlelap dalam tidur ku, lalu ia hadir menyapaku dengan tutur katanya yang lembut dan menenangkan, tak lupa dengan kecupan hangat sebagai penutup.

dan pagi ini, sejak subuh dengan suasana hati yang riang seperti burung yang senantiasa berkicau aku menunggu-nunggu ia hadir dengan rindu yang banyak itu. setelah mengganti kartu utama lalu tidur lagi sambil memeluk benda mungil trsebut dengan harap-harap cemas, menunggu-nunggu kalau-kalau sebentar lagi akan berdering nada khusus yang sengaja dipakaikan untuknya. tidur dengan senyum dan hati senang. tapi setengah jam, satu jam, tiga jam....hingga matahari setinggi diriku nada khusus dan gambar hati yang biasa muncul itu tak segera berdering.

"han menangis?" tanyanya saat ia melihat warna hijau kecil di inbox nya.
"kakak janji membawa rindu yang banyak pagi ini untuk ku...." jawab ku begitu polosnya, entahlah..aku merasa perlu memberi tahu perasaan ku pada nya. yang sebenarnya tanpa ku beri tahu pun dia sudah tahu. dan memang aku menangis. jadilah koor menangis hari ini, masing-masing berlomba untuk mengatakan perasaannya, tak peduli umur sudah sangat tua untuk dikatakan seorang yang masih cengeng, dan menangis bukanlah monopoli anak balita saja bukan? aku, atau dia bisa saja menangis, karena menangis bukan semata-mata untuk menunjukkan ke cengengan atau ke tidak berdayaan, tetapi karena sewaktu-waktu sifat kekanakan kita bisa saja muncul. dan begitulah....lucu sekali rasanya, menangis sama-sama, saling mengatakan ketidak berdayaan masing-masing, saling menyalahkan diri masing-masing dan akhirnya sama-sama bilang; aku menangis karena rindu yang banyak itu. duh...

sebenarnya bukan itu saja, supaya tidak terbuang waktu, sambil menangis itu coba-coba membuat tulisan, coba-coba chatting dengan yang lain agar perasaan bisa teralihkan, coba-coba sharing soal kepenulisan dengan yang lain, sambil mendengar curhat teman yang lain juga. nah, saat tulisan itu hampir selesai dan tinggal satu paragraf lagi, tiba-tiba listrik mati. duh...lengkap nian hari ini...seketika saat itu air mata yang tadinya sudah berhenti tumpah lagi. ilang semua tulisan ku. lebih sedih lagi ketika beberapa saat kemudian hanya mnemukan secarik pesan dari nya seperti yang diatas tadi.




Minggu, 18 Februari 2007

berlayar

By On Februari 18, 2007
I am sailing

I am sailing,

home again cross the sea

I am sailing stormy water to be near you to be free

I am flying I am flying,

like a bird cross the sky

I am flying passing hihg clouds to be with you to be free can you hear me,

can you hear me through the dark night far away

I am dying forever trying to be with you who can say We are sailing We are sailing,

home again cross the sea We are sailing stormy waters To be near you to be free, oh love,

to be near you to be free
***
aku pernah berlayar, dan sampai sekarangpun masih berlayar, bedanya dulu aku hanya berlayar berdua dengan kekasihku dan sekarang dikapal ini ada tiga pelayar, aku, kekasih ku dan seseorang yang secara kebetulan ikut berlayar dengan kami. semuanya hanya kebetulan. seandainya kami tengah berbulan madu tentu aku tidak akan mengajaknya serta secara diam-diam, dan dia ku pikir beruntung -sama beruntungnya seperti aku- berawal dari kebetulan itu ia menjadi bagian yang amat penting dari si pemilik kapal layar ini.
dan sekarang posisinya menjadi berbalik, tapi walau bagaimana pun pelayaran ini tetap menarik, ditengah laut lepas, bukan hanya ada gelombang tapi juga cemburu dan air mata, ada gelisah dan senyuman yang mengapung bersama riak-riak gelombang yang saling mengejar.
entah bagaimana suatu hari kekasih ku mengetahui dibalik yang diam-diam itu ternyata ada yang bergerak-gerak, ku pikir dia bukanlah seorang yang bodoh untuk tahu itu, dan aku berhasil membuatnya percaya bahwa dia hanya seorang sesat yang perlu ditolong, yang perlu diberi waktu agar bisa ikut berlayar bersama kami. dan memang benar. aku tak bohong. lalu setelah itu aku menghilangkan jejak kepada si penumpang kebetulan itu, mengunci rapat-rapat pintu kamar ku hingga ia kehilangan ku. tapi aku tak pernah memberi tahu soal pertengkaran hebatku kepadanya, yang dia tahu aku hilang. tapi...ku pikir dia akan tahu karena ada layar yang dulu terkembang kini telah diturunkan satu "my soul"
hingga suatu hari, aku muncul sebagai orang lain, menanyai kabarnya, mengirimkan pesan rindu kepadanya dan berusaha menjadi guru yang dulu sempat hilang, aku merasa kehilangan. karena itu aku kembal secara diam-diam. hingga suatu hari layar yang dulu sempat diturunkan itu terkembang lagi.

Yang Terlupakan

By On Februari 18, 2007
Seperti biasa, pagi itu Nek Limah bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya, ia mengunci semua pintu, menutup jendela lalu keluar dengan sebuah ember hitam ditangan kanannya. Selembar kain panjang yang sudah pudar melingkar menutupi urat-urat lehernya yang menonjol, songkok hitam yang sudah bertahi lalat menutupi rambut-rambutnya yang memutih, dan sebagiannya kelihatan. Untungnya songkok tersebut berwarna hitam sehingga tahi lalatnya tidak kelihatan.

Nek Limah meletakkan kunci rumahnya diatas toek-toek yang dicat dengan dua warna; merah dan putih. Namun sudah terkelupas disana-sini dan hanya tinggal bekasnya saja, maklum itu peninggalan beberapa tahun yang lalu. Kendatipun Nek Limah tidak mengunci rumahnya bisa dipastikan tidak ada pencuri yang masuk kerumahnya karena tidak ada barang berharga apapun dirumah yang layak disebut gubuk.

Dengan agak tertatih dan sedikit bungkuk Nek Limah segera berjalan menuju kearah barat, tujuannya tidak lain adalah kebun melinjo milik Haji Banta yang terkenal kaya dan mempunyai kebun melinjo yang luas. Disanalah sehari-hari Nek Limah menghabiskan waktunya dengan bekerja sebagai pemilih buah-buah melinjo yang rontok untuk kemudian dikumpulkan dan dijadikan sebagai kerupuk melinjo atau emping.

Karena matanya yang sudah agak rabun Nek Limah tidak bisa maksimal melakukan pekerjaannya, ia sering tertinggal dengan teman-temannya yang lain karena buah-buah melinjo itu sering tersusup dibawah-bawah daun yang kering. Pun begitu perempuan tua itu tidak pantang menyerah. Ia terus mengumpulkan biji-biji melinjo yang merah dan ranum dan sore harinya ia membawa pulang satu ember biji melinjo, atas hasil jerih payahnya itu ia dibayar sepuluh ribu oleh Haji Banta, tapi ia sering mendapat bonus dan tambahan dari pengusaha kampung itu. Dari uang itulah ia memenuhi kebutuhannya sehari-hari, membeli beras, ikan asin atau telur sebagai lauk makan.

Ho neu meujak Nek?” tanya Hamid tetangganya saat berpapasan diujung jurong dengan Nek Limah.
Lon neuk jak u lampoh Haji Banta” jawabnya sambil membernarkan lilitan kain di lehernya.
“Hari ini tidak usah bekerja saja Nek, nonton tipi saja kita,”
“Apa? Nggak dengar saya”
“Nggak usah kerja hari ini Nek, nonton tipi aja kita, udah damai hari ini”
Hana meuphom, kajak keudeh

Hamid tertawa melihat Nek Limah yang menyuruhnya pergi, perempuan setua dia mana ngeh kalau sudah berbicara soal yang begituan pikirnya. Ia pun pergi meninggalkan Nek Limah.

“Ya sudah saya pamit dulu Nek.”
“Ya, bilang sama istrimu agar nanti sore mengambil telur asin pesanannya kerumah saya”
Kajeut”

Nek Limah pun berlalu meneruskan perjalanannya menuju ke kebun Haji Banta, saat matahari tepat berada ditengah-tengah kepalanya ia pulang karena tadi lupa membawa minum, kerongkongannya terasa kering dan panas karena haus. Keringat memenuhi dahi dan bagian lain tubuh tuanya, ia mengipas-ngipas dengan kain panjangnya.

“Ada apa rame-rame?” tanyanya saat ia membeli sayur diwarung, laki-laki dan perempuan ramai berkumpul disana. Berkerumun menatap ke kotak kecil 21 inc berwarna. Tak ketinggalan anak kecil hingga bayi ada disana.
“Ka damai Nek,” ucap seorang
“Damai apa?” Nek Limah bertanya kepada pemilik warung.
“Orang GAM dengan TNI, mereka hari ini sedang teken MOU”
“Awak GAM nyoe?”

Seketika perempuan itu terkenang pada masa dua puluh tahun silam, saat ia bertugas sebagai tukang masak orang-orang gerakan yang pada saat itu masih disebut GPK. Nek Limah sendiri sampai sekarang tidak tahu apa kepanjangan GPK yang dia tau dari dulu adalah mencari kayu bakar dan memasak untuk mereka, dan berkali-kali ikut berlari saat markas mereka terendus aparat.

Meskipun sekarang ia sudah tua dan jarang berhubungan dengan dunia luar tetapi saat nama GAM disebut ia langsung connect. Rasanya tidak ada yang tidak langsung nyambung saat nama itu disebut.

“Itu apa? Kok rame sekali?” tanyanya lagi menunjuk ke tv.
“Itu di Banda Aceh Nek, di depan mesjid Raya, orang-orang datang kesana untuk menyaksikan penandatangan MOU yang saya bilang tadi. GAM dan TNI”
“GPK ya?” ia masih dengan pertanyaan yang sama
“Iya Nek, sekarang sudah damai ngga ada perang lagi” si pemilik warung masih sabar menjelaskan.
“O ya Allah…Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!” Nek Limah bersujud syukur agak kepayahan ditanah. Air matanya mengalir dipipi tuanya yang berkerut.
Geu that peudeh hudep yoeh watee nyan hai aneuk” ucapnya terbata sambil menyeka air matanya. Napasnya turun naik sehabis bersujud ditanah.
“Lari kesana kemari, kadang lapar kadang kenyang…” sambungnya
“Kadang ada yang sampai tiga hari berturut-turut kami cuma makan buah ubi, minum air sungai…pokoknya tidak bisa diceritakan bagaimana sakit dan pedihnya. Saya kehilangan suami, sekarang sudah tua anak pun tidak ada….” Ia kembali menangis. Perempuan tua itu mengenang hari-harinya yang pahit pada masa itu.
Kaboeh caplie rayeuk siribe…saya mau pulang” ucapnya kemudian setelah agak tenang. Si pemilik warung mengangguk, ia sudah kehilangan kata-kata dan ikut meneteskan air mata mendengarkan cerita Nek Limah.

Semua yang ada disitu merasa terharu dengan cerita perempuan tua itu, siapapun tahu di desa Meunasah Mawoe ini kalau dulunya Nek Limah termasuk salah satu gerilyawan perempuan, walaupun ia hanya seorang tukang masak. Dan sebuah perjuangan tentu saja tidak akan berjalan tanpa orang-orang seperti Nek Limah.

@@@

“Dengar-dengar orang seperti Nek Limah akan mendapat uang dari orang-orang GAM”
“Duit apa?”
“Ya duit…karena dulu mereka sudah menjadi bagian dari orang GAM”
“Ah, masak sih”
“Iya,”
“Wah, enak sekali Nek Limah, tidak perlu bekerja lagi.”

Nek Limah tidak menyahut apapun, ia hanya mendengarkan saja apa yang dibicarakan oleh teman-temannya. Ia tak mau ambil pusing dengan semua itu, apalagi hanya kabar angin, kalau dapat ya diambil tidak ya sudah. Yang penting banginya setiap hari sudah bisa mendapatkan sepuluh ribu dari hasil kerjanya sebagai pemilih buah melinjo ini. Jangan berharap yang muluk-muluk, begitulah pikirnya.

Tapi hari ini Nek Limah mulai berani sedikit berharap, siang tadi seorang anak muda datang kerumahnya untuk mendata namanya agar ia bisa memperoleh dana reintegrasi alakadarnya. Tapi sehari, seminggu, sebulan, uang yang dijanjikan itu pun tidak kunjung ia terima.

Pun saat menjelang lebaran, saat orang-orang eks gerakan mendapat sie makmeugang Nek Limah cukup berpuas diri dengan seekor ayam kampung yang selama ini dipeliharanya. Ia tidak pernah mendapat apa-apa.

Ia tak protes, dan cukup sadar dirinya dahulu hanyalah seorang tukang masak biasa yang tidak memanggul senjata. Saat para lelaki berlari dengan mengusung senapan ia justru berlari dengn periuk dan belanga menggantung dileher. Dengan dentingan sendok dan pisau dalam kelenditnya.

Hari ini, kembali seperti biasa Nek Limah menenteng ember hitamnya, dengan songkok hitam yang penuh tahi lalat menutupi rambut putihnya. Ia berjalan tertatih menuju kekebun milik Haji Banta disebelah barat.

“Ho Nek?”
“Lon jak pileh aneuk mulieng”

Mata tuanya mengerjap-ngerjap melihat Ramadi, mantan gam cantoi yang kini punya banyak uang. Punya sepeda motor baru dan berkilat. Pakaian bagus dan sepatu kulit yang mahal. Bahkan sebentar lagi ia akan menikah dengan anak Haji Malik yang kaya raya itu.

“Wah, kalau begitu Nek Limah tidak perlu bekerja lagi” kembali ucapan temannya beberapa terngiang ditelinga Nek Limah.
“Kecuali saya makan angin….” Sambungnya dalam hati sambil terus melangkah.

10:03 pm
14/02/07

Kegelisahan Laki-laki

By On Februari 18, 2007
Kegeisahan Laki-Laki
(Catcil Bagi Uda dan Mas)
menjadi yang lebih muda tidaklah enak-enak amat, tidak bisa asal suruh saja kepada para tetua, atau kalaupun ingin sekali maka harus melewati fase yang panjang dulu, harus ada hantaran berupa senyuman dan bujuk rayu yang memikat, barulah keinginan tersebut dipenuhi oleh para "tetua" tadi.
catatan kecil ini merupakan hasil dari kesewenangan sang "tetua" tadi yang dengan seenaknya menyuruh adiknya tanpa tendeng aling-aling, "Han, buatkan kisah tentang Uda..." perintahnya tanpa basa basi. uuwh...kok main todong begitu aja, memangnya saya ahli tulis biografi orang.
"Ihan coba deh...."
teringat sudah beberapa kali ada temen yang nyuruh dituliskan kisahnya, dan setelah saya coba ternyata hasilnya memuaskan. "Pas banget dengan kejadian yang sebenarnya nih Dek..." ucapnya senang, atau..."makasih ya....kamu baik deh..." yang ini pasti ada maunya hehehe...
sudah beberapa kali tulisan kecil ini akan dibuat tetapi selalu mandeg hingga akhirnya malam ini kembali mendapat ilham dari yang kuasa, sebenarnya jauh sebelum diberi PR untuk menuliskan sesuatu tentang dirinya sudah banyak teman-teman yang lain menggelisahkan hal yang sama, lelaki yang gelisah. gelisah karena saat usia dirasa sudah cukup matang, maisyah sudah mapan tapi kok belum ada bidadari yang datang. hm...timba menunggu sumur datang, mungkinkah?
tapi sepertinya ada yang kurang pas disini, meminta dibuatkan kegelisahannya oleh seorang perempuan kecil yang tentu saja tidak memahami seluk beluk jiwa laki-laki. tapi...anggap saja perempuan kecil ini sedang bermetamorfose menjadi laki-laki dewasa yang sedang menggelisahkan hal yang sama pula!
setiap orng merasa hidupnya menjadi lebih berarti ketika dia mampu menggenapkan setengah dien nya (menikah) lalu setengahnya lagi dicari sebelum dan setelah itu, bersama bidadari dan bidadara yang kelak menjadi teman hidupnya. namun, apakah kalau itu tidak terjadi apakah hidup menjadi tidak berarti? tidak begitu juga tergantung bagaimana kita menjalani dan mengisi kehidupan itu sendiri.
hanya saja begini, secara dangkal saya berfikir kita akan menjadi "kita" setelah melakukan tugas-tugas ke "kita" an itu. misalnya, selaku perempuan tugas ke "kita" an itu adalah mengandung, melahirkan dan berbagai kodrati lainnya yang sudah ditentukan oleh Allah SWT begitu juga dengan laki-laki. maka wajar, saat usia sudah matang gejolak-gejolak tadi begitu menggelegak, apalagi bagi mereka yang sudah berusia kepala tiga, gejolak-gejolak tadi berubah menjadi ketakutan-ketakutan yang sangat, ketakutan akan terus hidup sendiri karena merasa sulit mendapatkan pendamping karena dinilai dirinya sudah tidak muda lagi, ketakutan akan tidak punya keturunan (lha menikah saja tidak gimana ngga takut), juga ketakutan akan todongan-todongan orang tua yang takut anaknya menjadi perjaka ting ting atau perawan tung tung. lalu berfikir sebegini susahkah untuk membuktikan diri cukup dewasa? untuk bisa menerima amanah itu? untuk menjadi imam atau makmum? tapi kemana, dimana bidadari itu bersembunyi?
beberapa waktu yang lalu saat mengobrol dengan seorang teman maya dia mengingatkan "sunah Rasul itu menikah umur 25 lho bang" saya hanya tertawa, teman itu masih berumur 23 tahun jadi katanya dia masih ada waktu dua tahun lagi untuk menjalankan sunnah Rasul itu, sedang saya? "umur saya baru tiga puluh tahun" jawab saya kalem, dia hanya tau saya sebagai laki-laki ya jadilah saya menyesuaikan diri sebagai sangkaan dia. "apa?! itu bukan baru tapi sudah...."
begitulah, orang selalu merasa sudah tua ketika dia sudah atau hampir memasuki usia tiga puluh tahun, sedang saya selaku perempuan, lelaki umur segitu baru tahap memasuki untuk menjadi laki-laki yang sebenarnya. ini tentu saja berbeda untuk setiap individu.
dulu, saya pernah tanya pada seorang teman, seperti apa kira-kira calon yang dia suka? jawabannya cukup sederhana, yang tinggi, putih, langsing, cantik, rmbut panjang, pinter masak, romantis dan sayang kepada suami.yah...sederhana sekali. dalam hati saya menjawab kalau begitu dia bukan kriteria saya, sebab saya hitam, jelek, pendek, gemuk, rambut pun hanya 10 cm lengkap dengan seabrek kata tidak lainnya.
ada yang lain menjawab begini, asal tidak neko-neko, jujur, baik dan setia. yang lain lagi, asal lengkap secara fisik sudh cukuplah...mata tidak tiga, telinga tidak satu.
persoalannya hanya pada ikhtiar saja, kalau hanya duduk dibelakang meja, jangankan bidadari cicak aja ngga berani lewat. sebaliknya terlalu bersemangat nanti malah dapat kucing dalam karung, maunya kucing anggora eh malah dapat kucing liar.
tapi, persoalannya sederhana saja, dalam al quran sudah dikatakan bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik-baik, sedangkan laki-laki yang tidak baik kepada mereka yang tidak baik juga, jadi sebenarnya tidak perlu resah soal segala macam kriteria itu asalkan kita terus memperbaiki kualitas diri, karena apapun ceritanya, Dian Nitami hanya Untuk Anjasmara, jadi jangan berharap bakal dapat yang sperti DIan Nitami karena dia hanya satu.
tetapi yang namanya kegelisahan itu adalah sesuatu yang abstrak dan datang sendiri, kala malam menjelang tidur, atau saat sedang lelah dan sedang malas membuatkan kopi sendiri. maka ketika itu sensitivisme merajai diri kita. tapi sebaiknya kembalilah berfikir, tua atau mudanya seseorang bukan pada takaran 30 tahun atau lebih, tapi jiwanya.

Sabtu, 17 Februari 2007

Merenung Bersama Senja

By On Februari 17, 2007
Menjelang usia 30 tahun

Pelan tapi pasti usia 30 tahun kian mendekat dan hampir menjelang membuatku takut...usia seperti ini adalah usia yang dikatakan tidak muda lagi. Aku takut karena diusia ini belum ada satu pun wanita yang bisa menemaniku dan bagaimana kehidupanku selanjutnya?....Rasa takutku ini membayangiku setiap kali aku berada dalam kesendirian dan tatapan orang-orang membuatku malu. Usia ini adalah usia yang matang dan usia ini seharusnya aku telah memiliki pendamping wanita di sisiku sungguh ini keinginan yang diidam-idamkan setiap orang baik Laki laki mau pun wanita di mana pun dia berada.

Usia 30 tahun adalah permulaan hidup bagiku sesungguhnya dan aku ingin memulainya dari usia ini. Pelan-pelan semua akan berlalu akan kusambut kedatangannya dan hadirnya seorang wanita yang telah lama ku tunggu-tunggu dan waktu adalah jawabannya.

Tapi benarkah usia 30 tahun adalah batas akhir sebuah perjalanan? Aku coba mencari jawabannya dilembaran hidupku dan jawabannya aku sendirilah yang menjalaninya maka kan ku arungi perjalanan ini sendiri. Toh semua orang berhak atas keputusannya sendiri dan orang lain juga berhak untuk menjalani hidupnya dengan cara sendiri-sendiri dan aku adalah orang yang tidak terikat dengan hal ini. Aku bebas menentukan hidupku sendiri, dan jalan inilah yang menuntunku ke dermaga terakhir dimana aku berlabuh di situ pula aku akan kembali.

Ya aku tidak perlu pusing untuk memikirkan usia ini seperti saat aku menjelang usia 17 tahun akhirnya sudah berapa tahun telah terlampaui mungkin begitu juga sekarang aku pasti bisa melampauinya tanpa perlu takut apa yang akan terjadi kemudian.

Aku kadang merasa orang paling beruntung karena sudah 30 tahun aku menjalani hidup ini sudah selama inikah waktu yang telah terlewati apakah masihkah aku diberi kenikmatan seperti ini yaitu tuhan telah memberi usia yang panjang dan kira-kira apa yang telah aku lakukan dalam hidup ini? Adakah yang berarti? Atau kah telah membuat diriku bahagia?

Dan selama 30 tahun ini kebahagiaan apa saja telah kudapatkan kurasa membahagiakan orang tua adalah yang pertama yang kedua bagaimana membahagiakan diriku sendiri. Yah bagiamana kita hidup adalah bagiamana kita bisa menyiasati setiap kesempatan yang ada dimana ada jalan ambil saja tidak usah dipikir-pikir lagi, semakin lama dipikirkan semakin banyak pertimbangannya.

Usia 30 tahun bagi sebagian orang adalah usia yang sempurna kenapa? Aku sendiri tidak tahu diusia segini kok aku belum juga didampingi satu wanita pun masih betah aja sendiri apa enggak minder sama teman-temannya yang sekarang sudah ada punya anak lusinan, aku sendiri aja belum apa-apa. Sudahlah enggak usah dipikir terus nanti malah sakit.

Terima kasih kepada Ihan Sunrise yang mau mengunjungiku hingga membuatku terkaget kaget karena dia langsung menemuiku untuk menulis pesan ini diblognya...untuk Ihan Sunrise ku persembahkan pesan ini Terima kasih..

catatan kecil dari mas Fery Indawan
--------------------------------------

promo blog

By On Februari 17, 2007
banyak orang yang punya site pribadi tapi jarang dipublikasikan, ada juga yang sitenya kosong melompong tetapi dengan pe de nya dia mempromosikan blognya. dua-duanya tidak salah, toh mereka punya alasan yang logis untuk itu. sama seperti saya, punya site, lalu kemudian di isi dengan sepatah dua patah kata lalu dengan sedikit pe de yang berlebihan mulailah bergerilya mempromosikan site tersebut.

awalnya site yang tadi isinya hanya beberapa tulisan saya promo ke beberapa orang terdekat, minta masukan dan penilaian terhadap site tersebut, beragam komentar yang diberikan tetapi intinya hanya satu; teruslah menulis!

lama kelamaan saya mulai berfikir lain, kalau hanya orang-orang terdekat tidaklah cukup karena sangat sedikit, maka saya pun mulai mencari lahan lain, memang agak sedikit capek, masuk ke chatt room dan mempromosikan site saya disana. maka setiap kali setelah selesai meng up date blog saya langsung jadi promotor dengan keyword "sudah kah anda membuka http://www.ihansunrise.blogspot.com hari ini? lalu setelah itu berbagai pesan masuk ke yahoo messenger saya, ada yang bilang bagus, ada yang bilang saya seperti tukang iklan, sampe ada yang mengatakan saya ini bang salesman hehehehe....ngga masalah yang penting site saya banyak yang baca, malah ada yang mengira saya ini spammer, yang ini resiko namanya. operator warnet pun jadi target saya hahahaha....ngga papa, yang penting op nya baik.

tapi ada yang surprise sore ini, ketika saya sedang bergerilya tiba-tiba ada yang masuk dan mengatakan kalau dia sudah sering mengunjungi blog saya dan sangat terkejut ketika mendapat kiriman langsung dari si empunya blog. hm...apa sih yang enggak mungkin.

but...selain dari itu blog adalah cara lain untuk mengekspresikan diri, saat sedang kesel, sedang senang, sedih dan bahagia blog ini bisa jadi sarana untuk melampiaskan semua itu. hanya perlu sedikit polesan agar menjadi menarik dan enak dibaca, biar tidak terlalu biasa dan terkesan agak sedikit nyastralah.....walaupun agak dipaksain hehehe....

hari ini, walaupun dunia terasa gelap tetapi ada juga yang menyenangkan, salah satu temen yang saya tidak tahu entah dimana menawarkan agar kumpulan tulisan saya dibuat antologi (thanks to pak Bayu...) mudah-mudahan lolos seleksi ya pak? inilah salah satu manfaatnya mempromosikan blog.

kalau ditanya siapa guru saya menulis jawabannya adalah teman-teman maya saya, kebiasaan setiap kali selesai menulis saya suruh baca kepada teman-teman yang tidak saya kenal itu, dan mereka yang baik budi tentu saja memberi komentar, mengatakan dimana kelemahan yang perlu dikoreksi, lalu setelah itu baru saya mengirimkannya ke media, tapi sampai sekarang belum ada yang lolos hiks hiks...gpp, mas Gola Gong yang ke seratus kali baru dimuat, dan setelah itu dia menjadilah seperti sekarang, bayangkan bila dia berhenti di yang ke 99 barangkali kita tidak pernah tahu ada penulis bernama Gola Gong.

intinya, saya sudah berani menulis (huhuhuh...pe de lagi nih) itu yang bisa saya katakan saat ini kepada diri saya sendiri. yang lain sih tidak ada. karena saya hanyalah "perempuan biasa" yang punya segudang cinta hahahaha....sampai-sampai ada yang mengatakan "duh....rumah cinta banget..." atau adalagi yang bilang "all about love" mm...kayaknya enggak deh...ada lagi yang bilang gini "oh...pangeran ku...charming banget!!!" hahahahaha......saya seketika jadi lelaki paling romantis deh....

tapi sah sah saja sih mereka mengatakan seperti itu dan tidak salah, karena awal keinginan untuk menulis adalah karena cinta. menulis karena cinta, mengurai air mata menjadi senyum, luka menjadi indah dan sengsara menjadi nikmat.

begitulah, punya istri tidak dirinduin itu namanya bodoh, punya teman tidak mau berteman juga bodoh, punya site tapi tidak di publish juga bodoh, makanya saya memilih jadi orang pintar saja hehehe....



surat untuk kekasih

By On Februari 17, 2007
Kpd Ytc
Kekasih Ku
Wherever You Are


kekasih ku, hari ini aku bangun agak siang, pukul tujuh lewat satu menit saat ku lihat jam digital disampingku, mungkin ini pagi yang indah, karena langit begitu cerah, setidaknya cahaya mentari yang menerobos hingga ke kamar ku bisa jadi pertanda, sebuah perjalanan akan dimulai lagi hari ini. pun, begitu juga aku.

tapi ketakutan ku semalam masih mencekik ku hingga pagi ini, sekedar turun ke bawah untuk membasuh diri pun aku tak berani, sedemikian hebatkah rasa takut itu? mungkin bagi mu atau yang lainnya sama sekali tak berarti, munkin juga mengejekku, dasar pengecut!

kekasih ku, yang berwujud dalam angin dan hujan, panas dan siang, malam dan gelap, matahari dan bulan, juga bintang dan meteor. hari ini kerikil-kerikil ketakutan itu menjadi gunung, mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan magma yang panas, yang merah dan beracun. mungkin juga akan menjadikan ku batu atau cairan lumpur yang tak terbentuk, dan aku tidak lagi bisa menemui mu.

kekasih ku, silahkan mentertawa kan ku.
mungkin kau akan berfikir hari ini aku terlalu rapuh, aku terlalu lemah, dan begitulah, aku memang tak sekuat yang kau sangka, tak sehebat yang kau katakan, dan terlalu satir semua ini ku tulis disini.

kekasih ku yang berwujud batu, gunung, sungai dan laut, kepada mu semua luka dan perjalanan kulukiskan, semoga kau tahu hari ini aku begitu takut, takut melihat mu, takut melihat diriku, takut menemui waktu.

salam cinta untuk mu selalu

Musik Kematian

By On Februari 17, 2007
rasanya baru kemarin mengoek setelah sebelumnya menjalani diksar selama sembilan bulan di perut ibu untuk kemudian dilahirkan kedunia yang penuh hiruk pikuk ini. tidak terasa baru menjerit dua kali, balik kiri kanan dua kali sudah hampir seperempat abad hidup didunia ini, masih ingin mencicipi nasi pisang dan air kelapa muda, masih ingin diberi beras dan air garam dikepala setiap kali ada yang menjenguk, masih ingin ditimang-timang, di nina boboin, di shalawatkan, masih ingin semua ritual-ritual pada masa awal-awal lahir ke dunia....

tapi semua itu hanya cerita dua puluh satu tahun silam, cerita hari ini tentu berbeda dengan yang kemarin, yang kemarin berbeda dengan yang kemarinnya lagi, yang kemarinnya lagi berbeda dengan yang kemarinnya lagi begitu seterusnya hingga suatu hari ... aku terbangun dari mimpi buruk! jantung berdetak serasa hampir copot dan keringat jagung berserakan diseluruh badan. lama aku terpekur, ini bukan cuma sekedar mimpi buruk, tapi ini kehidupan nyata yang lebih buruk dari mimpi buruk sekali pun.

kehidupan buruk yang mengintai kemana pun aku melangkah, mengikuti ke setiap lorong, kesetiap gang hingga ke kamar tidur, mencekik ku, membenam kan ku kebantal sampai aku kesulitan bernafas lalu ia mentertawakan ku, suaranya yang terkikik menyeramkan nyaris membuat aku mati dalam kamar yang gelap, sendiri, terkapar dan tak berdaya.

rasa takut, gelisah, kengerian, tak ada yang tau seperti apa rasa semua itu, ketakutan ku berbeda, kengerian ku berbeda, kegelisahan ku berbeda. lalu dari hari ke hari aku meuncul dengan karakter yang berbeda-beda, dengan sikap dan jiwa yang berbeda-beda, aku hanya tak tahu lagi bagaimana mengekspresikan rasa takut dan kengerian itu, saat ingin menangis, saat ingin menjerit, saat ingin berteriak tapi semuanya tercekat diujung lidah, terkurung dalam kamar yang gelap, aku tak berani, tak berani melakukan itu semua karena takut si pengintai mengetahui keberadaan ku.

aku harus bagaimana? tanya ku suatu malam, aku merendam diri dengan air yang nyaris menenggelam kan ku, aku tak bisa bernapas, aku tersedak-sedak, tapi aku tak bisa menjerit, sedangkan pengintai itu terus mengetuk-ngetuk pintu rumah ku. meneriaku ku dari luar. hingga aku tak sadar dengan segudang ketakutan membuncah didada, dengan lampu yang hidup mati ulah si pengintai, dan paginya, saat aku sedang duduk, menerawangi sumber ketakutan ini, dia muncul dengan wajah sedingin salju dihadapan. dengan suara patah-patah mengatakan ini dan itu.
bukan, bukan begitu maksudku. tapi percuma, aku tak punya lidah yang bisa menterjemahkan semua rasa ketidak berdayaan ku. aku tak punya tangan sekedar bisa mengurut luka di dada yang kian menggunung. semuanya telah melebur bersama gelap dan pekat. mendung, senyum yang terbalur dengan kebohongan rasa kerinduan yang dalam. aku tidak tahu lagi. ingin rasanya meminta kembali menjadi janin dan hidup nyaman di perut ibu.
kadang aku berlari, jauh dan jauh sekali, tetapi kemudian aku kelelahan dan terkapar di ujung jalan kehidupan ku. kalau ada kematian yang indah aku hanya ingin kan itu. mainkan aku musik kematian dan tahlilan orang-orang berdoa.

kematian

By On Februari 17, 2007
bawa aku pada kematian yang indah...
kematian yang berselimut pelangi dan beralas bunga
yang bertabur mutiara dan berhiaskan perak emas
ajarkan aku tangisan yang sempurna
yang menghalau gelisah
yang mampu merobek duka
aku tahu, aku bukan aku
kau juga tahu
aku bukan aku
karena itu
beri aku kematian
beri aku kematian
beri aku kematian
kematian yang indah
yang mampu mengejawantahkan air mata
yang mampu mengubah benci menjadi cinta
beri aku kematian seperti itu

Jumat, 16 Februari 2007

Han Sun

By On Februari 16, 2007
"tuh dah tak kirim, jangan marah ya, mohon maaf juga atas penulisan nama pelakunya yang tidak minta ijin denganmu dulu selamat membaca aja"
ya ya...memang siapa yang akan marah, saya juga sering kalau bikin cerpen minjem nama nya, batin saya ketika itu. saat sebuah cerita ia kirimkan ke saya dan dengan nama tokoh Han Sun yang tidak lain adalah singkatan dari Ihan Sunrise. biasa saja, tidak ada yang lain dari singkatan nama itu.
tapi tunggu!
"itu singkatan dari nama ihan sunrise atau haning sunijar?"
"ya nama ihan sunrise dong"
oow...kok kayaknya menjadi tidak biasa ya??? menjadi suatu kebetulan yang sangat-sangat bikin surprise....awalnya yang tadi cuma mo nyingkat nama ihan sunrise eh...malah jadi singkatan namnya sendiri juga, haning sunijar
"pertanda apa ini kak?"
"enggak tahu, sebab aku bukan ahli pertanda"
"sama dong, aku juga cuma ahli ngerjain kakak doang"
"hehe...tapi kok bisa kebetulan ya?"
"ngga tahu..."
satu kebetulan yang bikin senyum-senyum
dulu, dulu sekali saat baru-baru kenal,
"ihan"
"haning..."
oow....
"bukan balikin nama saya kan?"
"ya bukan lah..."
oke deh kalau gitu....
hhh....ada ada saja memang,

My Soul

By On Februari 16, 2007
Prolog

Pagi ini sebuah harian nasional memberitakan tentang seorang pengusaha yang ditemukan tewas dikamarnya, tidak diketahui dengan pasti apa motif dari pembunuhan tersebut tetapi diduga yang melakukannya adalah orang terdekat korban. Disamping tubuh korban ditemukan setangkai kembang mawar merah lengkap dengan greeting cardnya bertuliskan “I Luv You…”

Seorang perempuan muda membaca head line Koran tersebut dengan air mata berurai, hati nya seperti dirobek-robek, oleh dirinya sendiri. Jiwanya telah pergi. Sangat jauh…..
Ihan

Kau yang memberi terang
Kala mendung membayangi
Ku salah menduga
Arti kehadiran mu

Kau bukan untuk ku
Mengapa ku selalu rindu
Salahkah diriku
Bila kuharapkan kau tahu tangis hati ku

Dengan malam Rania bangkit dari duduknya untuk meraih hand phone nya yan tergeletak di ranjang. Ia sedikit menyesal tidak meng switch off hape nya tapi sekaligus penasaran siapa yang menghubunginya sepagi ini. Ada perlu apa?

Tetapi begitu melihat “My Soul” nya muncul dilayar ha pe nya Rania menjadi sangat bersemangat. Buru-buru ia mematikan sisa rokoknya ke asbak.

“Assalammualaikum. Sayang apa kabar? Kangen euy…” ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada yang diseberang sana untuk menjawab.
“sama, aku juga kangen. Pengen ketemu kamu”
“hm…” Rania menggumam seraya memeriksa bungkus rokoknya, tinggal dua batang lagi. Kemudian ia bergegas memeriksa ranselnya, stok rokoknya habis.
“huh!” Rania menggerutu sebal. Ia sedang lupa kalau tengah berbicara dengan “My Soul” nya. Inilah yang paling tidak disukai gadis itu, kehabisan rokok sementara hari ini harus terus berkutat dengan aktivitasnya, dan sama sekali tak punya waktu untuk keluar sekedar membeli rokok ke warung belakang.
“ngomong apa barusan?”
“oh…enggak, kenapa sudah seminggu tidak menghubungi ku?”
“aku keluar kota, baru pulang semalam dan pagi ini langsung hubungi kamu. Oh ya, aku bawa oleh-oleh untuk kamu….”
“kok ngga bilang-bilang kalau keluar kota.” Rania cemberut tapi sayang, My Soul nya tidak melihat. “oleh-oleh apa?” lanjutnya
“surprise dong…he he he”
“okelah, dating satu jam lagi ya say ku…”

Rania kembali meletakkan ha pe nya ke ranjang, ia akan bersiap-siap menyambut kedatangan kekasihnya pagi ini, Han Sun!
Puntung-puntung rokok segera ia buang ke box sampah dan asbaknya ia sembunyikan ke kolong tempat tidur. Lalu menyemprotkan stella banyak-banyak agar kamarnya dan ruangan lainnya menjadi harum. Bisa gawat kalau Han Sun sampai tahu ia merokok, hubungan yang udah setengah abad itu berantakan tak karuan.

Sesaat kemudian Rania memandangi tubuhnya yang utuh didepan cermin besar, kedua matanya tampak lelah dan sembab, semalaman ia tidak tidur, wajahnya agak pucat karena kurang istirahat, tidurnya tidak menentu, apalagi sudah beberapa hari ini Rania terlalu banyak merokok, banyak mengkonsumsi kafein dan makan tidak teratur.

Ada beberapa tulisan yang sudah deadline dan harus dirampungkan dalam waktu dekat ini, kalau tidak maka ia harus mencari uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mengganti panjar honor yang sudah dia terima dari penerbit. Rania tidak mau ambil resiko untuk yang satu ini, karena itu sudah seminggu ini dia sama sekali tidak berhubungan dengan dunia luar, wajar kalau ia tampak begitu pucat dan letih.

Rania meremas-remas kepalanya yang agak pusing, beberapa kali ia menguap tapi dipaksakan agar terus terbuka, apalagi sebentar lagi Han Sun akan menemuinya.

Mengingat Han Sun selalu membuatnya kembali bersemangat. Ah…Han Sun ! Rania bergegas turun ke bawah, merebus air dan segera mandi air hangat.

Kembali Rania mematut dirinya dicermin, kali ini wajahnya sudah kembali segar dan merona. Pipinya diberi sedikit bedak agar kelihatan lebih cantik, matanya diberi sedikit serbuk celak arab yang diberi oleh temannya sebulan lalu. Ia tampak anggung dan bersahaja meski dengan rambut yang Cuma 10 centi diatas kepalanya.

“Han Sun…” desisnya berkali-kali. Nama yang indah untuk selalu diucapkan. Rania tersenyum.
Ihan

“Wow…ini cantik sekali” Rania memandang takjub pada hadiah yang diberikan Han Sun kepadanya. Seuntai kalung liontin putih bermata biru.
“psti mahal”
“murah kok” jawab Han Sun kalem
“aku buat minum dulu ya” Rania meninggalkan Han Sun setelah memberinya serangan mendadak di pipinya.
“oow…” Han Sun terkejut Karen tidak menduga mendapat serangan secept itu.

Laki-laki itu tersenyum geli melihat gelagat Rania yang kadang sangat kekanakan dan manja, tapi dilain waktu dia bisa menjdi perempuan yang sangat dewasa dan bijak sana meski usianya masih sangat muda, dia hangat. Kadang ia memperlakukan dirinya seperti raja kadang juga menganggapnya tak lebih seprti anak balita yang masih memerlukan gendongannya. Han Sun tersenyum mengenang semua perlakuan Rania kepadanya, ia seperti merasa muda kembali. Hidupnya penuh semangat.

Han Sun masuk ke kamar Rania dan mengeluarkan note booknya, sembari menungu Rania ia membaca tulisan-tulisan Rania.

“tulisan-tulisan Rania makin gila” desisnya
“kamar mu berantaka sekali sayang” katanya saat Rania muncul dengan dua gelas lemon tea di baki.
Rania tersenyum sambil nyengir. Manis sekali.
“deadline…sudah seminggu ini aku begadang terus, semalam malah ngga tidur sama sekali. Makanpun jadi ngga teratur.”
“jangan terlalu dipaksakan begitu dong, lihat tubuh kamu, sudah Nampak kurus, pucat, nanti kamu bisa sakit Rania”
“ya, aku tak punya pilihan untuk sekarang, setelah semua ini selesai aku akan liburan”
“itu lebih bagus, untuk merilekskan kembali tubuhmu”
“minum dulu deh…”
Han Sun tersenyum mesra menatap kekasihnya, entah kenapa tiba-tiba ia ingin menyentuh pipinya dengan punggung tangannya, memeluknya, merasakn detak jantungnya yang berirama.
“kapan potong rambut, kok rmbutny udah baru?”
“sudah seminggu lebih. Ngga suka ya?”
“aku suka jiwa mu, bukan rambut mu.”
“boleh aku menc….”
“sssttt….” Han Sun meletak kan telunjuknya ke bibir Rania.
Rania memandangnya dengan tatapan penuh kerinduan, begitu juga haning
“I luv u…”
“I luv u too”

Rania kembali menyalakan rokok, Han Sun sudah meninggalkannya beberapa saat yang lalu. Ia kembali menatap layer lap top nya setelah meneteskan insto kematanya. Idenya kembali mengalir deras. Han Sun memang sumber inspirasi utamanya. Karena itu kalau hubungan mereka sedang kacau bisa dipastikan idenya ikut mandeg.

“hhhhfffff…..” Rania menghisap rokoknya kuat-kuat lalu dibiarkan keluar melalui rongga hidungnya, mulutnya terasa getir tetapi ada sedikit rasa manis yang tertinggal dibibirnya.

Ihan

Lagu “kau bukan untuk ku” nya Nike Ardilla terus berputar ulang di winamp-nya. Bibirnya menyunging senyum tipis, entah kenapa dengan serta merta ia jadi teringat Zal yang saat ini ada di Kanada sedang liburan akhir tahun. Laki-laki yang telah memberinya cinta yang tak biasa.

“inilah hidup, dating dan pergi, hilang dan berganti” desis Rania sembari menghalau kenangan tentang Zal.
Ia menimang-nimang liontin yang tadi diberikan Han Sun, ia kembali tersenyum.
“Han Sun” ia mengecup liontin tersebut.

“boleh aku dating kerumah mu Han Sun?” Tanya Rania melalui telepon
“datanglah, aku sedang dirumah”
“setengah jam lagi aku sampai”

Sebelum kerumah Han Sun Rania mampir dulu di tokok kembang dan membeli setangkai mawar merah lengkap dengan greeting cardnya dengan ucapan “ I Luv You”

Ia akan memberi kejutan kepada Han Sun kali ini. Disepanjang perjalanan ia tak putus-putus tersenyum, membayangkan Han Sun yang pasti akan sangat senang menerima kejutan darinya.

“akhirnya aku sampai juga kerumah mu, aku membawa sekontainer rindu untuk mu Han Sun”
“benarkah?”
“ya”
“kalau begitu aku akan segera membongkar muatan rindunya agar kau tak keberatan lagi”
“ya, selain rindu aku juga bawa….” Rania menggantungkan kalimatnya
“bawa apa?”

Rania tak menjawab. Ia hanya tersenyum menatap Han Sun yang menunggu ia berbicara, matanya teralu teduh untuk tidak membuat hatinya bergetar, darahnya berdesir.

“alo?”
“bawa ini….untuk My Soul…”
Rania menyerahkan kembang mawar tersebut.
“oh…Rania”
“aku belum pernah memanggil seseorang dengan My Soul selain kamu Han Sun”
“benarkah…?”
Rania mengangguk, lalu ia memjamkan matanya.
Sepasang replica burung kecil melayang-layang diatas kepala mereka. Keduanya begitu tenang mengikuti irama jantungmasing-masing, mengarungi lautan jiwa mereka.
“Rania…”
“yah an sun”
“kamu masih ingat saat pertama kali memanggil ku my soul-mu?”
“ya, saat itu aku masih bersama Zal. Kenapa, ada apa?”
“aku tidak pernah menyesal memilihmu”
“jangan begitu”
“sungguh?”
“ah…”
“kau tidak percaya?”
“aku hanya ingin kau tahu apa pun yang aku lakukan padamu adalah atas nama cinta Han Sun”
“ya, aku tahu”
“I luv you”
“I luv you too”

Ihan

Epilog

Rania diam mematung saat orang-orang bertepuk tangan ketika namanya dibacakan sebagai pengarang terbaik tahun ini melalui novelnya “My Soul”, hatinya berteriak, orang-orang salah memberinya selamat dan tepuk tangan meriah.
“kau perempuan hebat Rania, masih muda, berbakat, pintar, kreatif, dan bersemangat.” Seorang laki-laki menyalaminya, ia mengaku sebagai pengagum berat tulisan-tulisan Rania. Rania tersenyum getir.
“tapi perempuan yang membunuh kekasihnya itu bukan kamu kan?” lelaki itu berkelekar. Sekali lagi Rania hanya tersenyum hambar
Diatas sana ia melihat bayangn Han Sun mengapung diudara menatapnya dengan tatapan seribu makna, lalu melebur bersama angina dan akan kembali ke langit.
“aku hanya ingin kau tahu, apapun yang kulakukan kepada mu adalah atas nama cinta Han Sun”
Rania terus melangkah…melangkah…melangkah…jauh diatas lorong-lorong kehidupannya tanpa pernah ada My Soulnya lagi.

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email