Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 30 April 2007

Kopi

By On April 30, 2007
seorang teman laki-laki semalam dengan sangat heran memandangi cangkir kopi saya yang sudah kosong. dengan nada tidak percaya diapun bertanya "benar ini cangkir kopi kamu?" dengan rasa heran yang sama pula saya menjawab, "benar, ini cangkir kopi saya."

kira-kira sebulan yang lalu, saat masuk ke sebuah warung dengan seorang teman hal seperti itu juga terjadi. kami memesan kopi dua gelas, tapi yang disiapkan ternyata hanya satu saja, dengan heran saya bertanya "kok untuk saya tidak ada?" serupa herannya dengan saya si pemilik warung menjawab "bukannya untuk bapak ini saja?" sambil menunjuk teman saya. "terlalu pede kamu...perempuan juga bisa ngopi." jawab teman saya sambil menyuruhnya membuat secangkir kopi lagi.

kejadian seperti diatas bukan sekali dua kali terjadi pada saya, kebetulan disamping rumah saya juga ada warung kopi, sesekali waktu dengan teman kami memesan kopi juga. jadi, bagi saya mengopi adalah hal yang wajar dan normal.

keheranan si pemilik warung kopi dan teman saya semalam menimbulkan tanda tanya sendiri bagi saya, yah, ternyata urusan kopi saja masih dianggap aneh apabila dilakukan oleh perempuan.

tetapi, melihat realitas dalam masyarakat ternyata bukan cuma kopi yang semakin digandrungi oleh perempuan, dulu dikampung saya perempuan ada yang jadi tukang ojeg, dipasar-pasar banyak perempuan yang menjadi pedagang ikan, apakah itu salah? tidak! tidak bertentangan dengan Al Quran dan hadist maupun UUD 1945. akhir-akhir ini malah perselingkuhan yang biasanya kerap dilakukan oleh laki-laki juga mulai sering dilakukan perempuan, tapi kalau yang ini jelas-jelas melanggar norma dan etika, dan kitab suci.

dalam beberapa hal saya melihat sikap kritis masyarakat kita semakin tumbuh, dan itu sangat baik untuk sebuah perubahan. tetapi dalam beberapa konteks yang dikritisi cenderung ke masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu dikritisi sehingga hanya menghabiskan energi dan pikiran saja. mubazir, misalnya ya...dengan mengkritisi perempuan minum kopi, perempuan jual ikan, sedangkan yang jual diri malah dicari-cari. aneh kan????

Minggu, 29 April 2007

Aceh Tidak Pernah Berontak Pada NKRI

By On April 29, 2007
Di dalam buku-buku pelajaran sejarah dan media massa nasional, beberapa tahun sebelum terciptanya perdamaian di Nangroe Aceh Darussalam, kita sering mendengar istilah ‘pemberontakan rakyat Aceh’ atau ‘pemberontakan Aceh’ terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak zaman kekuasaan Bung Karno hingga presiden-presiden penerusnya, sejumlah ‘kontingen’ pasukan dari berbagai daerah—terutama dari Jawa—dikirim ke Aceh untuk ‘memadamkan’ pemberontakan ini. Kita seakan menerima begitu saja istilah ‘pemberontakan’ yang dilakukan Aceh terhadap NKRI.

Namun tahukah kita bahwa istilah tersebut sesungguhnya bias dan kurang tepat? Karena sesungguhnya—dan ini fakta sejarah—bahwa Naggroe Aceh Darussalam sebenarnya tidak pernah berontak pada NKRI, namun menarik kembali kesepakatannya dengan NKRI. Dua istilah ini, “berontak” dengan “menarik kesepakatan” merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Sudah Merdeka Sebelum NKRI Lahir

NKRI secara resmi baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedangkan Nanggroe Aceh Darussalam sudah berabad-abad sebelumnya merdeka, memiliki hukum kenegaraan (Qanun)nya sendiri, menjalin persahabatan dengan negeri-negeri seberang lautan, dan bahkan pernah menjadi bagian (protektorat) dari Kekhalifahan Islam Tuki Utsmaniyah.

Jadi, bagaimana bisa sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Kerajaan Budha Sriwijaya, dianggap memberontak pada sebuah Negara yang baru merdeka di abad ke -20?

Nanggroe Aceh Darussalam merupakan negara berdaulat yang sama sekali tidak pernah tunduk pada penjajah Barat. Penjajah Belanda pernah dua kali mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang amat besar untuk menyerang dan menundukkan Aceh, namun keduanya menemui kegagalan, walau dalam serangan yang terakhir Belanda bisa menduduki pusat-pusat negerinya.

Sejak melawan Portugis hingga VOC Belanda, yang ada di dalam dada rakyat Aceh adalah mempertahankan marwah, harga diri dan martabat, Aceh Darussalam sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Qanun Meukuta Alam yang bernafaskan Islam.

Saat itu, kita harus akui dengan jujur, tidak ada dalam benak rakyat Aceh soal yang namanya membela Indonesia. Sudah ratusan tahun, berabad-abad Kerajaan Aceh Darussalam berdiri dengan tegak bahkan diakui oleh dunia Timur dan Barat sebagai “Negara” yang merdeka dan berdaulat.

Istilah “Indonesia” sendiri baru saja lahir di abad ke-19. Jika diumpamakan dengan manusia, maka Aceh Darussalam adalah seorang manusia dewasa yang sudah kaya dengan asam-garam kehidupan, kuat, dan mandiri, sedang “Indonesia” masih berupa jabang bayi yang untuk makan sendiri saja belumlah mampu melakukannya.

Banyak literatur sejarah juga lazim menyebut orang Aceh sebagai “Rakyat Aceh”, tapi tidak pernah menyebut hal yang sama untuk suku-suku lainnya di Nusantara. Tidak pernah sejarah menyebut orang Jawa sebagai rakyat Jawa, orang Kalimantan sebagai rakyat Kalimantan, dan sebagainya. Yang ada hanya rakyat Aceh. Karena Aceh sedari dulu memang sebuah bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat.

Dipersatukan Oleh Akidah Islamiyah

Kesediaan rakyat Aceh mendukung perjuangan bangsa Indonesia, bahkan dengan penuh keikhlasan menyumbangkan segenap sumber daya manusia dan hartanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia—lebih dari daerah mana pun di seluruh Nusantara, adalah semata-mata karena rakyat Aceh merasakan ikatan persaudaraan dalam satu akidah dan satu iman dengan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Ukhuwah Islamiyah inilah yang mempersatukan rakyat Aceh dengan bangsa Indonesia. Apalagi Bung Karno dengan berlinang airmata pernah berjanji bahwa untuk Aceh, Republik Indonesia akan menjamin dan memberi kebebasan serta mendukung penuh pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Sesuatu yang memang menjadi urat nadi bangsa Aceh.

Namun sejarah juga mencatat bahwa belum kering bibir Bung Karno mengucap, janji yang pernah dikatakannya itu dikhianatinya sendiri. Bahkan secara sepihak hak rakyat Aceh untuk mengatur dirinya sendiri dilenyapkan. Aceh disatukan sebagai Provinsi Sumatera Utara. Hal ini jelas amat sangat menyinggung harga diri rakyat Aceh.

Dengan kebijakan ini, pemerintah Jakarta sangat gegabah karena sama sekali tidak memperhitungkan sosio-kultural dan landasan historis rakyat Aceh. Bukannya apa-apa, ratusan tahun lalu ketika masyarakat Aceh sudah sedemikian makmur, ilmu pengetahuan sudah tinggi, dayah dan perpustakaan sudah banyak menyebar seantero wilayah, bahkan sudah banyak orang Aceh yang menguasai bahasa asing lebih dari empat bahasa, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Sumatera Utara pada waktu itu, manusia-manusia yang mendiami wilayah itu masih berperadaban purba. Masih banyak suku-suku kanibal, belum mengenal buku, apa lagi baca-tulis. Hanya wilayah pesisir yang sudah berperadaban karena bersinggungan dengan para pedagang dari banyak negeri.

Saat perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda pun, bantuan dari Aceh berupa logistik dan juga pasukan pun mengalir ke Medan Area. Bahkan ketika arus pengungsian dari wilayah Sumatera Utara masuk ke wilayah Aceh, rakyat Aceh menyambutnya dengan tangan terbuka dan tulus. Jadi jelas, ketika Jakarta malah melebur Aceh menjadi Provinsi Sumatera Utara, rakyat Aceh amat tersinggung.

Tak mengherankan jika rakyat Aceh, dipelopori PUSA dengan Teungku Daud Beureueh, menarik kembali janji kesediaan bergabung dengan Republik Indonesia di tahun 1953 dan lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) yang lebih dulu diproklamirkan S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Ini semata-mata demi kemaslahatan dakwah dan syiar Islam. Dengan logika ini, Aceh bukanlah berontak atau separatis, tapi lebih tepat dengan istilah: menarik kembali kesediaan bergabung dengan republik karena tidak ada manfaatnya.

Pandangan orang kebanyakan bahwa Teungku Muhammad Daud Beureueh dan pengikutnya tidak nasionalis adalah pandangan yang amat keliru dan a-historis. Karena sejarah mencatat dengan tinta emas betapa rakyat Aceh dan Daud Beureueh menyambut kemerdekaan Indonesia dengan gegap-gempita dan sumpah setia, bahkan dengan seluruh sisa-sisa kekuatan yang ada berjibaku mempertahankan kemerdekaan negeri ini menghadapi rongrongan konspirasi Barat.

Cara Pandang ‘Majapahitisme’

Mengatakan Aceh pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI merupakan cara pandang yang berangkat dari paradigma ‘Majapahitisme’. Bukan hal yang perlu ditutup-tutupi bahwa cara pandang Orde Lama maupun Baru selama ini terlalu Majapahitisme’ atau Jawa Sentris, semua dianggap sama dengan kultur Jawa Hindu. Bahkan simbol-simbol negara pun diistilahkan dengan istilah-istilah sansekerta, yang kental pengaruh Hindu dan paganisme yang dalam akidah Islam dianggap sebagai syirik, mempersekutukan Allah SWT dan termasuk dosa yang tidak terampunkan.

Bukankah suatu hal yang amat aneh, suatu negeri mayoritas Islam terbesar dunia tapi simbol negaranya sarat dengan istilah Hindu. Ini merupakan suatu bukti tidak selarasnya aspirasi penguasa dengan rakyatnya. Padahal Islam tidak mengenal, bahkan menentang mistisme atau hal-hal berbau syirik lainnya. Rakyat Aceh sangat paham dan cerdas untuk menilai bahwa hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.

Sosio-kultural raja-raja Jawa sangat kental dengan nuansa Hinduisme. Raja merupakan titisan dewa, suara raja adalah suara dewa. Sebab itu, di Jawa ada istilah “Sabda Pandhita Ratu” yang tidak boleh dilanggar. Raja di Jawa biasa berbuat seenaknya, bisa menciptakan peraturanya sendiri dan tidak ada yang protes ketika dia melanggarnya. Malah menurut beberapa literatur sejarah, ada raja-raja di Jawa yang memiliki hak untuk “mencicipi keperawanan” setiap perempuan yang disukainya di dalam wilayah kekuasaannya. Jadi, ketika malam pengantin, mempelai perempuan itu bukannya tidur dengan sang mempelai laki, tetapi dengan rajanya dulu untuk dicicipi, setelah itu baru giliran sang mempelai lelaki.

Ini sangat bertentangan dengan sosio-kultural para Sultan dan Sultanah di Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam Islam, penguasa adalah pemegang amanah yang wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hari akhir kelak kepada Allah SWT.

Kerajaan Aceh Darussalam saat diperintah oleh Sultan Iskandar Muda telah memiliki semacam Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR-MPR) yang hak dan kewajibannya telah di atur dalam ‘Konstitusi Negara” Qanun Meukota Alam. Ada pula Dewan Syuro yang berisikan sejumlah ulama berpengaruh yang bertugas menasehati penguasa dan memberi arahan-arahan diminta atau pun tidak. Aceh juga telah memiliki penguasa-penguasa lokal yang bertanggungjawab kepada pemerintahan pusat. Jadi, seorang penguasa di Kerajaan Aceh Darussalam tidak bisa berbuat seenaknya, karena sikap dan tindak-tanduknya dibatasi oleh Qanun Meukuta Alam yang didasari oleh nilai-nilai Quraniyah.

Jadi, jelaslah bahwa sosio-kultur antara Nanggroe Aceh Darussalam dengan kerajaan-kerajaan Hindu amat bertolak-belakang.

Nangroe Aceh Darussalam bersedia mendukung dan menyatukan diri dengan NKRI atas bujukan Soekarno, semata-mata karena meyakini tali ukhuwah Islamiyah. Namun ketika Aceh dikhianati dan bahkan di masa Orde Lama maupun Orde Baru diperah habis-habisan seluruh sumber daya alamnya, disedot ke Jawa, maka dengan sendirinya Aceh menarik kembali kesediaannya bergabung dengan NKRI. Aceh menarik kembali kesepakatannya, bukan memberontak. Ini semata-mata karena kesalahan yang dilakukan “Pemerintah Jakarta” terhadap Nanggroe Aceh Darussalam.

Dan ketika Nanggroe Aceh Darussalam sudah mau bersatu kembali ke dalam NKRI, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bersedia meletakkan senjatanya dan memilih jalan berparlemen, Aceh sekarang dipimpin seorang putera daerahnya lewat sebuah pemilihan yang sangat demokratis, maka sudah seyogyanya NKRI memperlakukan Aceh dengan adil dan proporsional.

Puluhan tahun sudah Aceh menyumbangkan kekayaannya untuk kesejahteraan seluruh Nusantara, terutama Tanah Jawa, maka sekarang sudah saatnya “Jawa” membangun Aceh. Mudah-mudahan ‘kesepakatan’ ini bisa menjadi abadi, semata-mata dipeliharanya prinsip-prinsip keadilan dan saling harga-menghargai. (Rz)


http://eramuslim.com/berita/tha/7410085656-aceh-tidak-pernah-berontak-pada-nkri.htm?prev


Kamis, 26 April 2007

19:52

By On April 26, 2007
19:52 wib

lama sekali idak menulis surat cinta untuk mereka, lupakah aku cara membuatnya? tidak mengertikan aku untuk menyusun kembali kalimat-kalimatnya? teryata tidak, malam-malam yang terlewati, hari-hari yang terlalui bersama kertas dan pena menjelaskan, surat cinta itu berbentuk lain sekarang.

selendang-selendang kasih dan sajadah cinta berpunca pada kumpulan rasa dan hasrat, hasrat untuk merindui dan keinginan untuk memiliki. romantisme masa lalu yang akan menjadi pisau tajam kelak bertahun-tahun yang akan datang. sedemikian rumitkah cinta? cinta telah menemuiku dan aku memeluknya dengan erat, dan aku tidak berani melepaskannya lagi. tetapi jeruji-jeruji itu memaksaku untuk terus menari, menari diatas sodoran kenyataan, bahwa matahari tidak hanya menerangi timur, tetapi juga barat, juga utara dan selatan.

cemburu kah aku bulan? bagaimana ku lukiskan isi hati yang terburai-burai laksana kapas yang diterbangkan angin. rindu ini menjadikan halaman demi halaman terasa mudah, apa yang dituliskan kelak menjadi pengobat, sekaligus racun atas apa yang akan terjadi.

bukan, bukan surat cinta ini yang salah. tapi cinta yang harus dihargai, setidaknya pernah belajar mengasah diri, pernah belajar menusuk diri dengan cara yang tidak biasa...

pukul 6.30 pagi

By On April 26, 2007

Ketika matahari terbit pukul 6.30 pagi

(kisah menanti kepulangan seseorang)

Tadi pagi : selamat datang kembali di sini (dari manapun, dari segala arah mata angin) kemanapun ke segala permukaan bumi, demikian aku membatin sendirian di kamar mandi yang berukuran sedang, tapi cukup bersih. tiba-tiba. Entah kenapa, terlintas saja secara spontan di pikiran, perasaan bahkan hayalan. Sejenak saya mencoba memasang kartu id ke handphone yang dipersiapkan kemarin khusus buat menampung gairah ataupun support ide atau karyanya yang mengalir deras. Tak salah juga pikirku,namun sesaat setelah dia pergi ke arah timur kala itu.


Terlambat memang, tapi tetap memberi nilai positif untuknya (toh tidak istilah terlambat berbuat baik). Handphone itu memang saya bawa serta ke kamar mandi, lucu juga karena saban hari berharap akan masuk tulisan sesuatu, tapi saya lupa, dia mesti buka emailnya dulu. Ah..mungkin dia sudah buka tadi tengah malam,sampai berpikir begitu.Tapi memang tadi pagi tidak ada pesan apa-apa,masih nol-nol,semua item masih kosong. pun demikian hati berkata; dia sudah tiba. Maka suasana mandi pagipun lebih bergairah dengan senandung kecil tanpa irama tanpa kata tanpa arah tak karuan (...dan kadang-kadang berdesis namanya di bibir dengan suara nyaris berbisik tapi patah-patah dan tersenyum sendirian di kamar mandi itu).


Nama yang disematkan di id itu terasa enak diucapkan dan memuaskan....ya....demikianlah sebutannya (rahasia, karena komitmen kami). Sempat terusik karena tiba-tiba airnya berhenti keluar dari mulut keran, yah...ternyata anak tingkat 1 (.......mmm....rahasia dikit, ada deh...hem..) memutar tombol agar airnya kebagian ke asrama mereka. Yah...kasian juga mereka, biarlah anak-anak tingkat 1 kebagian air pikirku,mereka juga berhak.sangat berhak mendapatkan jatah air, tidak rebutan dengan kakaknya yang tingkat 2, yah dengan jumlah yang hampir seratus orang sangat masuk akal bila rebutan. Setelah menyadari itu emosi tak jadi mendidih (fungsi otak kanan), sebutan namanya di id kembali dilafal,ternyata sangat membantu.


Yah...mandi berlanjalan lancar dengan HP dibiarkan basah kena percikan air di atas bak mandi, uhhh....lagi-lagi berharap akan menyala, lupa lagi dia mesti buka email dulu. Kali ini sadar dgn agak serius,sambil meraih handuk di sangkutan belakang pintu kamar mandi,HP itupun dilap lalu dipasang kartu utama lagi sambil keluar (karena memang bang hamdani akan datang pagi ini, jaga-jaga bila dia menghubungi). Dalam perjalanan ke tempat ini (dimana komputer ini terletak) perasaan dia sudah kembali semakin kuat, dan entah kenapa.....tiba-tiba berdebar.


Semakin dekat ke tempat ini semakin berdebar (sambil membayangkan saat-saat membuka menghidupkan komputer sebentar lagi. Hhh...sampai ke ruangan debaran semakin hebat, tombol on ditekan dengan penuh perasaan dan debaran yang membara. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit kemudian id-nya menyala : ...Masya Allah...jantung terasa berhenti berdetak, kemudian normal, trus naik-turun kembali. beda sekali dengan suasana kemarin.


Ingin segera menyapa (tak sabar), tapi teringat kemarin ada mengirim email, biarlah dia membacanya dulu (dalam hati berharap...ayo...bilang sesuatu...kasih salam dsb). Menanti detik-detik itu sungguh indah,tiada terkira kesannya. namun demi kesehatan, dan pencernaan yg sedang bermasalah akhirnya saya pergi ke luar untuk mencari sarapan pagi. Yang dicari adalah nasi. Nasinya setengah dari biasanya ya..kata saya ke penjual. Bisa jadi biar cepat selesai, atau memang segitulah ukurannya pagi tadi. Saya tak ingat lagi kenapa berpesan seperti kepada penjual.


Sambil makan,saya kembali membongkar HP untuk memasang kembali kartu spesial itu, jangan2 dia telah membaca email,dan hanya singgah sebentar, heheh...lagi-lagi meleset. tapi tidak repot atau kewalahan saat melakukannya. Setelah makan bergegas ke ruangan lalu menatap dalam-dalam layar monitor, masih belum menyala kotak kecil punyanya. Setelah menimbang beberapa saat saya tak sabar ingin menyapanya. dan....saya memberi salam dan menanyakan kabar dengan harap-harap cemas apa yang akan dia jawab.


Tapi alhamdulillah dia baik-baik saja, bahkan dia membawa berita gembira, sudah sembuh total setelah 4 hari berlibur katanya. Diapun dengan piawai dan penuh pengertian menjawab segala pertanyaan saya, komunikasi berlangsung lagi, walau awalnya saya agak malu-malu, apalagi mendapat sindiran tentang sumpah. Namun setelah agak tenang kemudian bisa saling memahami dan kembali hangat. Saya sangat menikmatinya,semua terasa hidup dan berwujud. Dugaan saya betul, dia pasti lelah dan letih, namun kunjungannya betul-betul memberi semangat buat saya, entah kenapa saya seperti kecanduan, ya kecanduan.


Tapi kami memiliki jurus tersendiri, bahwa semua hal ada etika dan norma yang berlaku, yg lebih penting lagi adalah otoritas pribadi, itu yang membuat saya tegar, semoga dia juga demikian. Ketika dia menyampaikan bahwa harus menemani seseorang berbelanja dan akan ada seseorang yang akan datang entah kenapa saya ingin membaca kembali puisi "dan ku cemburu" itu, agar merasa nyaman terlindungi, dan memang saya baca, saya berangsur sembuh seperti sediakala. Yah begitulah cerita singkat pagi hari tadi yang menghiasi hidup saya hari ini dalam menanti kepulangan seorang insan yang fana, tapi ada dan selalu hadir didalam denyut kehidupan saya dengan makna-makna yang penuh kejutan.

Bantuan Kepada Masyarakat Tidak Merata

By On April 26, 2007

Banda Aceh, Andalas

Pasca bencana besar akhir desember tahun 2004 lalu sangat banyak dana dari berbagai penjuru dunia yang mengalir ke Aceh. Tapi sayangnya aliran dana tersebut tidak merata keseluruh lapisan masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Perhatian pemerintah maupun LSM/NGO hanya terfokus pada beberapa wilayah yang terkena tsunami saja, sementara daerah yang secara langsung tidak terkena bencana tersebut luput dari perhatian.

Padahal kenyataannya banyak masyarakat didaerah bekas wilayah tsunami sudah jauh lebih baik kehidupannya dibandingkan daerah seperti Tangse atau Geumpang yang tidak terkena. Tetapi mereka tetap bertahan untuk tinggal dipenampungan/shelter dengan alasan yang tidak logis. Ungkapan tersebut dikemukakan oleh Burhanuddin, Direktur Eksekutif DeVa dalam bincang-bincang dikediamannya kemarin, rabu (25/4).

Dari hasil pengamatannya dilapangan selama ini, ia mengatakan bahwa tidak seluruhnya korban tsunami yang kondisinya masih sangat memprihatinkan malah tidak sedikit dari mereka yang mempunyai barang-barang mewah seperti sepeda motor, kulkas, tv/vcd player. “sebagian dari korban tsunami sudah mapan secara ekonomi, tetapi mereka tetap tidak mau pindah dari penampungan karena disana banyak bantuan.” Tegasnya lagi.

Selain itu seperti beberapa wilayah seperti Calang dan Lamno katanya, ikatan kekeluargaan masyarakatnya masih sangat tinggi. Dalam satu desam bukan tidak mungkin mereka itu semuanya mempunyai hubungan kekeluragaan. Inilah yang selama ini menjadi faktor mengapa sampai terjadi penggandaan rumah dan lain sebagainya. “mereka akan berjuang mati-matian agar semua keluarganya memperoleh bantuan, walaupun sebagian keluarga mereka tidak tinggal diwilayah tersebut.” Katanya menutup pembicaraan. (Irma Hafni)

Rabu, 25 April 2007

The Proposal Man!

By On April 25, 2007

The Proposal Man! Tiga potong kata yang membuat saya tergelitik sekaligus berfikir panjang setelah berdiskusi sekian lama dengan seorang teman. Bagi kebanyakan orang proposal bukanlah hal yang asing, karena setiap hari memang kita bergelut dengan itu. Seorang mahasiswa yang ingin menyelesaikan studynya maka mau tidak mau harus membuat proposal sebagai langkah awal dan baru dilanjutkan dengan step-step berikutnya. Bagi seorang peneliti, proposal juga langkah jitu bagi mereka yang tidak punya duit banyak untuk menyelesaikan proyek penelitiannya. Bagi seorang penulis, proposal juga diperlukan untuk menerbitkan karyanya, minimal ada sponsor yang bisa menerima proposalnya tersebut. Bagi nyak-nyak dan dan abang becak yang memerlukan modal untuk berdagang dan berbecak mau tidak mau harus mengikuti prosedur, lalu jadilah proposal ala mereka. Inti dari semua proposal itu adalah meminta uang kepada orang atau lembaga alias sponsor yang dianggap mempunyai dana.

Maka tidak heran langkah-langkah tertentupun diatur sedemikian rupa untuk menggolkan proposalnya, dibuatlah latar belakang yang “sexy” dan tujuan serta penutup yang menggoda ngyadengan tujuan untuk mengetuk hati si empunya uang tadi agar melolosakan proposalnya.

Dan setelah proposal tadi selesai, ia pun siap bergerilya, masih berdasarkan cerita teman saya tadi, dengan map diapit ditangan, pulpen terselip disaku baju, ia tampak siap mempresentasikan gagasannya, tetapi sayangnya tidak didukung dengan penampilan yang oke punya alias ugal-ugalan, memakai jeans belel dan rambut setengah acak-acakan. Barangkali ingin menunjukkan kalau selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, tiga puluh hari sebulan dia sibuk mengurus kepentingan rakyat, tidak tidur, tidak sempat mencuci pakaian dan tidak sempat memangkas rambut, konon lagi untuk meng creambath. Makan juga kadang sempat kadang tidak. Jeleknya lagi, harus main adu otot mata alias saling mendelik, dengan tambahan muka merah dan tampang ditekuk layaknya jeruk purut.

Seorang teman yang lain juga pernah mengeluhkan hal yang sama, semua konsep sudah dirangkum dengan jelas dalam bentuk tertulis. Latar belakang sudah ada, tujuan, bentuk kegiatannya juga jelas tetapi ia menjadi kebingungan saat proposalnya harus diperbaiki karena tidak sesuai dengan si pemilik duit. “tolong berikan masukan bagaimana caranya membuat proposal yang bagus” pintanya suatu hari.

Bagi The Proposal Man, cara-cara membuat proposal yang baik memang harus sangat diperhatikan agar proposal yang ia buat tidak sia-sia dan dianggap sebelah mata oleh si penerima proposal tersebut. Bagaimana cara menarik perhatiannya dan tampil dengan gaya yang paling meyakinkan. “kalau kita sudah ikuti kemauannya tetapi sipenerima proposal masih bertingkah juga, sudah, main hantam saja!” Ungkap seorang teman sambil berkelekar. Main hantam disini bukan berarti harus gontok-gontokan atau main jak bak dukoen, tidak cukup waktu sehari untuk bisa membangun sebuah menara sekelas Eifell, atau untuk membangun tempat sesuci Masjidil Haram. “jangan pernah menyerah! Sekali dua kali ditolak biasa…ketiga kalinya pasti lolos” keyakinan memang harus dipupuk dalam diri kita, diiringi dan semangat serta doa yang kuat. (Ihan)

Senin, 23 April 2007

Kegelisahan seorang teman (Catatan kecil tentang BRR)

By On April 23, 2007
maraknya berbagai hujatan dan cacian yang dialamatkan terhadap Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-NIAS sepertinya sudah menjadi rahasia umum, ada yang menganggapnya biasa saja karena tidak punya kepentingan apa-apa disana, adapula yang menaggapinya dengan sangat antusias, karena ternyata dirinya satu dari sekian orang yang selama ini bernaung disana. namun, adapula yang membantah habis-habisan karena dirinya tidak seperti yang dituduhkan. intinya, apa yang terlihat hitam bukan selamanya noda, dan apa yang terlihat putih bukan selalu kain putih, bisa jadi ampas kelapa yang ujung-ujungnya dibuang ke kotak sampah.
inilah yang barangkali dirasakan oleh salah seorang teman saya, yang sehari-hari bekerja disana sebagai pelayan ummat sebagai mana visi misi pribadinya. dia bukan ingin mengatakan orang lain munafik, bukan juga ingin membela organisasi tersebut yang sering diplesetkan menjadi apasaja, mulai Badan Reuloh Reuloh sampai Bek Rioh Rioh. tetapi, dari gaya bahasanya bolehlah saya menterjemahkan kalau dalam melihat sesuatu haruslah secara fair dan proporsional. tidak boleh gegabah apalagi menghukum si A dengan label koruptor dan si B dengan sematan telah hilang "aumannya" karena duit.
"duit BRR Haram! jangan sempat jadi pegawai BRR, tapi melalui proposal sih WAJIB, dan HARUS KASIH !!!!! Titik" ungkapnya suatu hari. refleks saya tertawa mendengar pernyataan itu, tapi diam-diam saya mencerna, apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, kalau ditanya hari ini siapa yang tidak berhubungan dengan BRR, atau paling tidak siapa yang tidak kecipatran dana dari BRR, rasanya sulit untuk diidentifikasi, kecuali janda-janda dan masyarakat miskin yang tidak pandai membuat proposal yang tinggal dipelosok-pelosok kampung sana.
direkrut BRR amit-amit !!!!!!!!!!. tapi menjadi tenaga ahli di badan/LSM yang digaji dengan anggaran BRR itu sah !!! siapa yg bilang tidak, TITIK !!!!!!!!!!!
lagi-lagi ia sangat kesal sepertinya, bukan kesal apa-apa, ia hanya ingin mengungkapkan uneg-uneg dihatinya. karena menurutnya, banyak sekali orang yang tidak terlibat secara langsung dengan BRR tetapi makan gaji dari uang BRR. bukankah ini sama saja? tapi, tentu saja tidak sebanding dengan gaji yang dikeluarkan oleh BRR terhadap staff ahli mereka yang sampai ratusan juga, uniknya lagi sudah tidak bekerja di BRR tetapi uang ratusan juga itu masih saja dianggarkan. saya sendiri juga pernah melihat daftar gaji mereka, yang beberapa waktu lalu dipublish oleh sebuah tabloid lokal. menakjubkan!!! tapi anehnya, keheranan masyarakat justru dianggap kesirikan karena tidak mampu meraih kursi di badan organisasi terbesar itu.
di akhir pembicaraannya itu, teman saya mengatakan kalau ia sangat sedih sekali, hatinya remuk redam katanya, bukan marah, tapi karena sedih. di seminar-seminar BRR dihujat, diemail, dimilis, hampir tidak pernah ada yang mengatakan sesuatu yang enak didengar, tapi ribuan proposal masuk ke BRR dan mendesak agar BRR menggolkan program yang mereka tawarkan. lagu apa ini?
tapi yang anehnya, mengapa rakyat bisa sangat anti sekali dengan lembaga itu? wajarlah karena ada kearogansi-an disana. bahkan loper koran pun dibentak didepan orang ramai, lalu seperti apa lagi mereka menghargai rakyat, yang -katanya- sedang mereka perjuangkan.

Sabtu, 21 April 2007

Saleum

By On April 21, 2007
salammualaikum warahmatullah
jaroe dua blah ateuh jeumala
jaroe lon siploeh diateuh ulee
meuah lon lakee bak kawoem dumna
jaroe lon siploeh diateuh ulee
salam alaikum lon teugor sapa

jaroe lon siploh beuot sikureung
syarat ulon khuen tanda mulia
jaroe sikureng lon beuot lapan
geulanto timphan ngon asoe kaya
jaroe lon lapan lon beuot tujoeh
ranub lam bungkoh lon jok keu gata

Catatan Rindu jilid pertama

By On April 21, 2007
Mengapa Selalu Bulan??

mengapa selalu bulan, kata ku waktu itu, sabtu malam yang basah. mengalirkan air-air bening dari kelopak mata yang sembab. mengapa selalu bulan yang pertama kali ku pandang saat hati ini rindu? adakah bayang mu disana? adakah senyummu menggantung disana? adakah kehangatan mu kau titip kan disana? meski mata mengatup karena aliran air yang berat.

ku langkah kan kaki menuju ranjang kecil, ku bentangkan kembali catatan-catatan usang tentang kita. semuanya menceritakan tentang kemesraan dan sedikit air mata. air mata bahagia, kesedihan, dan juga air mata kemarahan.

bahwa malam itu, dengan kesadaran penuh, dengan susah payah ku katakan, bahwa semuanya harus berhenti sampai disini. waktu yang telah kusepakati dengan hati ku sendiri. waktu beberapa tahun silam, saat kita baru menanam benih dari pohon bernama cinta.

hanya berselang beberapa saat, bibir ini kembali tersenyum, menyenangkan hati bahwa tidak ada yang perlu ditangisi, waktunya telah tiba, semuanya sudah berakhir, hanya tinggal untaian tali tanpa warna gading saja sekarang.

tapi malam itu memang berbeda dengn malam-malam berikutnya, hati ini selalu bergetar setiap kali menyebut nama kecil mu, mata ini seperti dikomando untuk mengeluarkan air beningnya setiap kali membaca ulang cerita-cerita kita.

dan selanjutnya, engkau menjelma menjadi matahari dan bulan, matahari yang kembali memekarkan rindu ku, bulan yang selalu menemani ku berkisah ketika malam....
aku tak pernah berhenti merindui mu....
kekasih ku yang tak biasa...

apa yang salah?

By On April 21, 2007
ada yang aneh sudah beberapa minggu ini dengan yahoogroups ku, pasalnya setiap kali aku mencoba mengirimkan komentar atau memposting ke semua milis yang aku ikut pasti tidak sampai, tapi mail yang dari milis masuk ke email saya. nah....ada apa ini? apa yang salah? karena penasaran aku pun tanya sana-sini, setidaknya bukan cuma aku yang ngalami begitu.

Jumat, 20 April 2007

Rindu Ku Mekar Kembali

By On April 20, 2007
matahari
kembali memekarkan rindu ku sore ini
aku yang sambil mengamati
seraya mengatur hati
tersenyum senang
aku punya cinta yang tak biasa
yang tidak dipunyai orang-orang
aku tersenyum bersama rintik-rintik rindu ku

Kamis, 19 April 2007

Sebait rindu untuk matahari

By On April 19, 2007
menitipkan rindu pada matahari
meleburnya bersama bayang-bayang
sebuah nama dipandang hingga menjadi kabur
dia yang tertidur dalam lelapnya
tersapu lelah melewati angin dan awan

kenapa harus diberi tahu
kenapa harus diberi kabar
kenapa harus dipertanyakan

kenapa matahari selalu bersinar saat ia tertidur
mengapa bulan selalu ada saat ia duduk
mengapa rindu selalu ada dan ada

Mahasiswa Desak Polda Nad Segera Usut Kasus Money Loundry

By On April 19, 2007

Banda Aceh, Andalas

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam ikatan pemuda pelajar mahasiswa nagan raya (IPPELMASRA) hari ini Jumat, (23/3) melakukan aksi ke kepolisan NAD. Mereka bergerak dari Mesjid Raya Baiturrahman dan berjalan menuju ke Polda sambil membawa poster dan spanduk. Dalam aksinya mereka meminta agar kepolisan RI segera mengusut tuntas kasus money loundry (pencucian uang) di kabupaten Nagan Raya (NARA) yang dilakukan oleh SJQ pada beberapa waktu lalu. Hal tersebut sangatlah penting guna meminimalisir kesalahpahaman agar tidak terjadi konflik horizontal dimasa yang akan dating.

SJQ sendiri sudah ditangkap pada tanggal 22 desember 2006 lalu di Medan Sumatera Utara karena tidak mampu mempertanggung jawabkan darimana asalnya dana sebanyak 10 Milyar direkening pribadinya. Tetapi kasus tersebut baru diketahui oleh publik pada akhir pebruari 2007 lalu. Mereka mensinyalir adanya praktek-praktek politik dalam kasus tersebut sehingga tidak mencuat kepermukaan. “ masyarakat bisa saja mengklaim bahwa ada kekuatan politik yang bersembunyi dibalik semua ini, yang membuat pihak kepolisian terkesan seolah menutupi kasus tersebut” kata Musliadi dalam oratornya.

Pada umumnya praktek money loundring terjadi dinegara-negara maju dan pelakunya adalah mafia-mafia kelas kakap namun sangat disesalkan hal seperti itu justru terjadi dikabupaten baru seperti Nagan Raya yang masih seumur jagung. “Ini merupakan sebuah prestasi yang tidak patut dibanggakan,” katanya.

Namun saat ditanya apakah kasus ini ada kaitannya dengan bupati terpilih pada pilkada lalu yang juga pejabat bupati pada periode lalu. Dengan tegas mereka mengatakan bahwa dalam aksi ini tidak ada unsur poltisnya sama sekali. “Soal siapa yang terpilih itukan sudah pilihan rakyat dan kita tetap dukung, tetapi kita meminta kepada kepolisian, kejati dan BPK untuk mengusut tuntas kasus ini dan menghukum pelakunya. Siapapun dia,” kata Yusri.

Lebih lanjut ia mengatakan kedepan IPPELMASRA akan terus memantau dan berkonsultasi dengan pihak kepolisan agar kasus ini tidak terendapkan lagi, mereka juga berencana akan bertemu dengan gubernur guna mendiskusikan masalah ini dan berharap agar gubernur tetap komit dalam memberantas korupsi tanpa pandang bulu. (Ihan)

Kasus Perwalian Anak Dominan di Banda Aceh

By On April 19, 2007

“Dunia anak adalah dunia penuh warna-warni, penuh canda dan tawa. Bermain dan seabreg kegiatan menyenangkan lainnya, Tapi sayangnya tidak semua anak mengalami masa-masa kecil yang indah, sebaliknya dunia mereka penuh ketakutan, hidup serba kekurangan bahkan menjadi objek kekerasan atau pelaku kekerasan itu sendiri, demikian kata Ayu Ningsih, direktur Lembaga Bantuan Hukum Anak Banda Aceh.

Selama masa jabatannya hampir setahun ini Ayu mengatakan telah menangani sekitar 50 anak dengan berbagai kasus “tetapi yang paling banyak adalah masalah perwalian, ada sekitar 25 anak, selebihnya kasus pembunuhan, pemerkosaan dan pencurian,” katanya. Untuk itu mereka akan terus mengkampanyekan hak-hak anak dan melakukan advokasi terhadap anak-anak yang bermasalah dengan hukum. Karena menurutnya saat ini hak-hak anak lebih sering diabaikan, banyak kalangan menilai bahwa dunia anak adalah dunia yang penuh dengan keindahan sehingga perhatian kearah sana sangat sedikit. Bahkan pembuatan qanun perlindungan anak yang melibatkan biro Pemberdayaan Perempuan dan sudah keluar SK nya dari gubernur tidak diketahui sudah sampai dimana akibat terputusnya komunikasi kedua belah pihak. (Ihan)

Selasa, 17 April 2007

Aku Takut Menikah...

By On April 17, 2007
"Ihan, kapan kamu rencana mau punya anak?"

aku yang saat itu sedang makan langsung berhenti, kugeserkan piring kesamping, lalu menyeruput lemon tea yang tinggal setengah lagi. aku tersenyum memandangi pasangan suami istri didepan ku. sekelabat bayang-bayang seperti menyergapku untuk tidak bisa berkata apa-apa, dan untuk beberapa saat aku hanya diam.

"aku belum fikirkan kesana, dan untuk saat ini itu bukanlah hal yang terlalu penting bagi ku" jawabku asal. entah bagaimana awalnya, lembaran-lembaran lusuh yang pernah aku lihat, dengan dan rasakan seperti terbuka satu persatu. bayangan kekejaman, kekurang ajaran, kebengisan dan rasa tidak percaya berlapis-lapis saling mendahului.

"andaikan punya anak bisa tanpa menikah....alangkah indahnya..." batin ku sambil terus berdialog dengan mereka. tapi untuk apa kalau punya anak hanya sekedar untuk membuktikan bahwa kita sehat dan bisa punya keturunan.

selanjutnya cerita mulai lancar kembali, berbagai kejadian demi kejadian yang pernah kita alami masing-masing mengalir dengan sendirinya.

"aku sebenarnya takut menikah...." kata ku pelan

entah itu wajar entah tidak, akhir-akhir ini hal-hal seperti itu memang sering terfikirkan oleh ku, banyak kejadian dan kenyataan yang mengajarkan ku untuk harus hati-hati. untuk harus bisa memilah dan memilih, mana yang baik dan mana yang tidak. pengalaman mengajarkan banyak hal, dan memberikan banyak hal yang berarti dan penting dalam hidup. meski semua itu dilakukan dengan cara yang salah.

penyesalan akhir

By On April 17, 2007
" kisah Raihana "


Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu"
kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu",
ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi
bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin
karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang
tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata
bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari
pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa
cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun
terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku
terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah
mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota
Malang .

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah
hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.
Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak
mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam"
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini".
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib,
bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan
Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman.
Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan
perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya,
lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah.
"Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku
langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah
berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam
saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat
aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak
dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau
masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya
Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan
tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya
dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana
kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak
kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan
sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana
membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri
di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur
sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin
menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan
Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk
makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan
aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk
mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat
memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00
aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik
sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam
setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku
terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang
suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya,
mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah
sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah
pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia
berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan
Cleopatra.

" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Maâf..maaf jika
mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!"
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil
"dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar
dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang
mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?".
Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di
dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. "
Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar
bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik
dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah
seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada
pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya
pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh
sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada
ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku
sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia
menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi
sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. " Sudah satu
tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku
ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu
akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana
sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri
aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku
memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung
tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan
mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke
enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena
rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh
curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,
Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong
nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal,
no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku
pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut
mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab
dari Medan . Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah
menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang
mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan ? Biasanya pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau
sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku melakukan
langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa
terjadi?". "

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona
dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya
seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan
biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan
juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan
predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia .

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat
saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang
bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh
cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak
akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak
bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil
membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini,
sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al
Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari
pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh
untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1
saya kembali ke Medan , saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk
modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota
Medan . Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin
mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang
diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak
kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin
untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak
bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai
muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang
hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan
bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa
yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin
tidak mau tahu dengan masakan Indonesia .

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya
dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk
menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya
yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang
Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak
dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu
mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di
ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu
cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit,
Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak
tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia , aku
minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir".
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita
bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi
bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul
dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke
polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat
surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan
temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya
pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku,
tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan
yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena
kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum
terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang
sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan
bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar
aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin
memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak
langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan,
yang disimpan dibawah bantal.

Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu.
Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat
surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat
cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan
istriku serong??Dengan rasa takut kubaca surat itu
satu persatu. Dan Rabbi?ì«¡ernyata surat-surat itu
adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku
zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian
mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia
menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang
luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap
melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia
memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa
dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh
dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan
hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena
karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah
terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi,
curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba?â*^??
tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah
hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali
datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini
kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu
ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa
begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan
menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba
padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih
kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang
masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini
cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai
dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang
menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba
masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba
kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya
Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat
mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini
kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan
teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini.
Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha
Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak
oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak.
Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang.
Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan
pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang
lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku,
semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan
cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang
turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika
itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta
pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam
hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata.
Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar
waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut
kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku
yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman
rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan
nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat
kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis
tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana
Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis.
Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.
"
Raihana?ì«'strimu..istrimu dan anakmu yang
dikandungnya". " Ada apa dengan dia". " Dia telah
tiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu telah meninggal
seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami
membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak
selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk
memintakan maaf atas segala kekurangan dan
kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf
karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf
telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia
minta kau meridhionya". Hatiku bergetar hebat. "
Ke?ì«*enapa ibu tidak memberi kabar padaku?". " Ketika
Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus
seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi
kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu
sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin
mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak
mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika
Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah
kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk.
Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada.
Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah
meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia
telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi
kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan
tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan
penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang
masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu
ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana
tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta,
haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin
Raihana hidup kembali.







Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email