Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 01 Mei 2007

Uang

Dalam konteks ekonomi, uang merupakan alat pembayaran yang sah. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kita memerlukan uang untuk ditukar dengan bebagai kebutuhan tadi. Agar proses keberlangsungan hidup terus berjalan. Di nanggroe aceh Darussalam, pasca tsunami, fungsi uang tampaknya bukan sekedar sebagai alat tukar saja melainkan bisa bermakna lain yaitu “jarak”. Yah, jarak antara si kaya dan si miskin, jarak antara si korban tsunami dengan para “dewa” penolong mereka. Jarak antara buruh kasar dan pekerja yang bekerja diruangan ber air conditioner, jarak antara pekerja sosial yang murni memperjuangkan gerakan rakyat dengan pekerja sosial yang mengeruk keuntungan pribadi atas nama rakyat. Jarak antara pegawai BRR dengan orang-orang yang sampai hari ini masih tinggal di barak.

Uang telah menjadi orientasi utama, setelah itu tercapai barulah memikirkan hal-hal lain untuk menunjang orientasi utama tadi seperti misalnya mengurus rakyat. Pun begitu tetap saja membutuhkan perjuangan yang besar, perjuangan untuk menutup mata dan telinga, perjuangan untuk menambal nurani dan mematikannya, perjuangan untuk meningkatkan prestise walaupun dengan itu harus menunjukkan sikap arogan. Saat sudah mempunyai uang banyak, maka ia layak untuk dihargai dan dihormati, dengan sendirinya prestisepun naik ditengah-tengah masyarakat, tetapi ya dengan konsekwensi tadi, jarak.

“Perjuangan” inilah yang lambat laun membuat mereka dijauhi rakyat, dicurigai, dituding dan tidak dipercayai, lalu kembali rakyat disalahkan, dengan dalih sudah dibantu tapi tidak tahu berterimakasih. Sudah dubuatkan rumah malah tidak mau menempati dan yang membuatkan rumah malah di demo. Terang saja, karena rumah yang diberikan kepada rakyat tidak berkualitas alias rumoh-rumohan. Bahannya dibuat dengan racun, salahkan jika masyarakat menolak? Mereka yang kedinginan, kepanasan, kelaparan, tidak bisa berbuat apa-apa untuk “mengusik” pemimpinnya yang duduk manis dimenara gading sana.

Sementara yang selama ini sangat vokal membela rakyat malah memilih bungkam dan pura-pura tidak tahu menahu dengan dalih itu bukan urusan saya, ini bukan hak saya berbicara, dan bla..bla..bla..lainnya. uang! (Ihan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email