Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Minggu, 30 November 2008

Untuk Mak dan Ayah

By On November 30, 2008

Mak!

Mak bekerja seperti ayah

Menawar harga, menimbang lelah

Bila malam ia sering tak tidur

Memikirkan hujan yang tak juga reda

Bila begitu terus

Maka matahari yang sebenarnya akan redup

Senyumnya!

Maka redup pulalah senyumku

Senyum adikku

Tapi Mak bekerja seperti ayah

Mengulum jerih dan perih dengan senyum

Membungkus luka dan lara dengan kerja keras

Mak seperti ayah!

Hingga aku merasa seperti masih punya ayah

03:19 pm

On sun, 30 nov 08



Kangen!

Aku punya cara sendiri untuk mengangeni ayah

Yaitu dengan meninggalkan rumah buatan ayah

Lalu sesekali aku pulang

Ketika lebaran atau ketika kenduri untuk ayah

Dengan begitu ayah selalu menemuiku

Dalam mimpi yang nyaris nyata

Kadang berturut-turut

Dengan begitu aku tak perlu berbagi kangen

Pada ibuku, pada adik perempuanku, pada adik lelakiku

Ayah! Aku anak perempuanmu, ingin berterimakasih

Telah kau ajarkan aku kemandirian

Dengan diammu

Dengan katamu yang sepatah sepatah, dulu

Sekarang, melalui mimpi-mimpi

Ayah semakin muda! Semakin gagah!

03:28 pm

On sun, 30 nov 2008




Mimpi!

Aku menjadi pemimpi

Sehari setelah ayah pergi

Aku bermimpi bukan untuk diriku

Tetapi untuk ibu,

Untuk adik lelakiku

Untuk adik perempuanku

Mimpiku makin menggebu-gebu

Telah kutulis lebih dari seratus mimpi

Lima tahun yang akan datang

Akan kupersembahkan kepada ibu

Ibu, aku telah menjalankan wasiat ayah

Yang hadir dalam mimpiku

Sehari setelah ayah pergi

03:35 pm

On sun, 30 nov 2008

Nama Yang Menjadi Prasasti*

By On November 30, 2008
Di telinga istrinya, dulu berpuluh-puluh tahun yang lalu setelah ia menikahi Syaheera. Laki-laki itu pernah berjanji, berbisik mesra: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu. Lalu ia membisikkan kata-kata tersebut pada sebelah telinganya yang lain. Perempuan itu tersenyum senang. Hatinya bagai dihinggapi seribu Marpho Amattonte. Tubuhnya bergetar ketika lelaki yang sangat dicintai menyentuh kedua pundaknya. Lalu merengkuhnya dalam pelukan yang panjang dan damai.

Tetapi sekarang, setelah ia merasa umurnya tak lagi panjang. Laki-laki itu baru menyadari bahwa ia telah menjadi pengkhianat sejati. Ia telah melanggar janjinya sendiri. Celakanya, ia baru menyadari semua itu sekarang. Ketika ia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, lalu memeluk Syaheera dan berkata: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu.

Lelaki itu terdiam dalam tidurnya. Ranjang termahal yang dulu ia beli beberapa bulan setelah menikah telah menopangnya selama puluhan tahun tanpa pernah mengeluh. Tempat tidur itu tidak pernah marah, memaki ataupun mengadu, padahal ia tahu sepanjang tahun-tahun yang lalu laki-laki ini sering memikirkan perempuan lain ketika menjelang tidurnya. Ia telah menggrafir sebuah nama selain nama istrinya dan membiarkannya bersemayam di hatinya.

Pun sekarang, ketika laki-laki itu sering menangis diam-diam karena teringat pada perempuan yang bukan istrinya itu. Tempat tidur ini tidak pernah menyalahkan atau menghujat. Walaupun ingin sekali ia memberitahukan semua itu kepada Syaheera. Tetapi ia hanya bisa diam dan diam. Sebab Tuhan sudah mentakdirkannya sebagai makhluk mati.

Laki-laki itu terbaring gelisah. Hatinya bergemuruh hebat mengenang perempuan kekasihnya itu. Belahan jiwanya yang lain. Kemanakah dia sekarang. Tidak tahukah dia kalau laki-lakinya kini terbaring lemah tanpa daya. Tak berdaya menahan benih-benih penyakit yang telah menjadi orok dalam setiap rongga tubuhnya. Bukan hanya satu. Oh…mengapa laki-laki itu terbit kembali rindunya sekarang. Setelah berpuluh-puluh tahun mereka tidak pernah bertemu. Tidak pernah bertukar email ataupun short messege service.

Ah, hatinya teriris mengingat perempuan itu akhirnya memilih menikah dengan laki-laki lain. Setelah merengek-rengek ijin darinya. Dan dengan berat hati ia member ijin ketika itu. Walaupun ada ketidak relaan untuk melepas kekasihnya tetapi ia harus bisa. Karena jauh sebelum ia merasa kesakitan seperti ini telah dahulu berkali-kali ia membuat perempuan itu sakit. Melukai hatinya, mengirisnya dengan sikapnya, mengerat-ngerat hatinya dengan kabar istri dan anaknya. Ah, mengapa baru kali ini lelaki itu mengerti tentang kecemburuan dan sakit yang dirasakan perempuan itu. Beginikah? Dan perempuan itu kembali menggadaikan dirinya dengan menikahi laki-laki lain.

Laki-laki itu menyeka air mata yang meleleh di pipinya. Sejenak tangannya turun meraba pipinya, hidung, lalu naik ke matanya. Dan turun lagi ke dagu, bibir. Berkali-kali dan ia menemukan banyak keriput disana. Ia tak muda lagi, tidak segagah dulu. Apakah perempuan itu masih mencintainya bila nanti ia melihatnya. Tetapi kapan? Ia menjadi ragu. Setelah 23 tahun yang lalu, apakah cinta gadis ini masih belum berubah untuknya? Seperti yang sering diucapkannya. Ah, lagi-lagi mengapa ia berharap kesempurnan dari orang lain. Sedangkan ia tak pernah memberinya kesempurnaan apapun untuk perempuan itu. Yang usianya terpaut 19 tahun dengannya.

“Aku takkan pernah bisa menjadi suamimu.” Ucapnya dulu, ketika suatu hari mereka bertemu.
“Aku juga tidak pernah berharap banyak untuk itu.” Perempuan itu menjawab lirih. Laki-laki itu tahu ia berbohong. Matanya tidak bisa menutupi itu. Ia menunduk, berperang melawan gejolak hatinya.
“Lalu?”
“Aku hanya ingin mencintaimu. Mengukir namamu lalu mengubahnya menjadi prasasti. Dan suatu saat, kelak bila kita diperkenankan bertemu kembali. Kamu masih melihat prasasti itu senantiasa menggantung di mataku.” Perempuan itu berujar.
Betapa lirih ucapannya. Hanyut dalam kebekuan dan kesunyian yang tercipta dalam keheningan. Laki-laki itu bagai terbang. Terbuai indah dengan ketulusan dan kebesaran cinta gadisnya. Ia ingin bergerak, menyentuh dan memeluknya. Tetapi rasa bahagia yang telah memakunya seperti pualam membuatnya berubah seperti arca. Hingga gadis itu pergi. Hilang bersama angin, ia masih di tempatnya. Termangu meresapi setiap kalimat yang dikirim kepadanya berapa saat yang lalu.
Itu adalah masa 17 tahun silam. Dan sekarang ia makin sukar untuk menenangkan jiwanya. Betapa ia sangat ingin melihat gantungan prasasti dimata perempuan itu. Masih adakah? Atau cerita pada masa itu hanya untuk membuat ia senang semata. Kelebat perempuan itu menjelma bagai angin, masuk dalam relung jiwanya.
***
Segera laki-laki itu memejamkan matanya ketika terdengar pintu kamar berderit. Syaheera datang dengan segelas juice wortel di tangannya. Istrinya yang tak pernah kekeringan sumber cinta. Yang tak pernah bosan melayannya dengan kualitas cinta nomor satu di dunia. Bahkan mampu mengalahkan cinta Juliet kepada Romeo.
Pelan perempuan itu menyentuh dahinya. Lalu dikecupnya dengan lembut. Ia sangat beruntung bias mencintai lelaki sekharismatik suaminya. Hidupnya selalu basah dengan cinta dan kasih sayang. Kemesraan selalu membalut hidup mereka. Mengantar mereka pada pasangan paling romantis dan membuat siapa saja akan cemburu. Dan…tentu saja perempuan itu.

Lelaki itu masih terbaring dengan mata terpejam. Sesungguhnya ia sedang tidak tidur. Ia hanya merasakan saja ketika tangan lembut istrinya memijit kepalanya. Ia menikmati semua itu dengan jiwa yang melayang, memeluk bayang perempuannya. Ia semakin ingin bertemu. Ingin mencari kebenaran tentang prasasti itu. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin ia akan melakukan perjalanan seperti dulu. Menempuh jarak 15 jam lamanya hanya untuk menenangkan riak di hatinya.

Tiba-tiba terbersit sesuati di benaknya. Bagaimana kalau perempuan itu saja yang menemuinya. Maukah dia? Tapi bagaimana dengan suaminya, apakah ia mengijinkan? Lalu anak-anaknya? Ternyata semua itu tidak semudah yang ia pikirkan. Dan…apakah istrinya juga mengijinkan ia bertemu dengan perempuan lain? Apakah ia tidak akan curiga nanti. Pasti aka nada pertanyaan apa, siapa mengapa dan….. laki-laki itu menjadi pening.
***

Hari ini hari ke sepuluh ia bergulat dengan alam pikirnya. Antara istri dan kekasihnya saling bertabrakan dalam selongsong jiwanya. Setelah begitu lama tidak bertemu dirinya tidak yakin apakah ia masih pantas dipanggil kekasih. Tiba-tiba kematian yang telah ia persiapkan ini menjadi ingin diubahnya. Ia tidak ingin mati sebelum bertemu dengan perempuan itu. Berkali-kali dalam doanya ia meminta kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan beberapa waktu lagi. Dalam setiap doa Rabithahnya ia terus mengingat nama perempuan itu agar jiwanya bergetar. Dan mereka dipertemukan oleh kekuatan doa itu.

“Kenapa Abang sangat gelisah?” Tanya istrinya, berpuluh tahun menyelami jiwa lelaki itu telah membuatnya sangat hafal dengan perangainya. Kesedihan dan kebahagiaannya tidak akan bertukar tempat dalam ingatannya. Tetapi mengapa ia gelisah, itu yang terus mengganggu pikirannya beberapa hari ini. Laki-laki itu masih diam, larut dalam pikiran rumitnya. Apakah ia harus berterus terang, atau berbohong .
“Abang?” Syaheera menyentuh lengan suaminya.
“Ya,…” Jawabnya lemah, antara ingin meneruskan dan tidak.
“Sudah beberapa hari ini abang terlihat gelisah, ada apa? Apakah aku sudah tidak pantas lagi untuk abang jadikan tempat berbagi rasa?” Tanyanya berterus terang.
“Bukan, bukan begitu, jangan berfikir macam-macam. Abang hanya khawatirkan kamu dan anak-anak. Bagaimana bila Abang sudah tidak ada nanti…” jawab lelaki itu berusaha menutupi gelisahnya.

Berbohong adalah pilihan untuk keadaan serumit ini. Tapi sayang, istrinya sudah cukup mafhum dengan tabiat suaminya. Ia tahu, ada yang disembunyikan oleh suaminya.
“Kalau soal aku dan anak-anak, abang tidak perlu khawatir. Semua yang hidup akan mati, dan kita semua sedang mempersiapkan diri untuk itu bukan? Agar kelak di surga kita bisa berkumpul kembali, Menjemput keabadian.” Jawab istrinya bijak ” Tapi adakah yang lain, yang aku tidak ketahui?” Tanyanya lagi dengan lembut dan hati-hati.
Laki-laki itu menatap istrinya, dalam. Sedalam samudra Hindia yang dulu pernah ia arungi ketika menjadi salah satu atlit olah raga air. Adakah istrinya menyimpan sesuatu tentang dirinya? Ia bingung berkali-kali bagaimana harus bersikap. Diambilnya tangan istrinya. Diciumnya lalu diletakkan diatas dadanya.

“Aku ingin bertemu seseorang sebelum kematian menjemputku,” akhirnya ia berkata. Berterus terang.
“Dengan siapa? Indra, Haris, Maimun….?” Syaheera menyebut satu persatu nama teman dekat suaminya. Tapi lelaki itu masih menggeleng. Membuat ketidak mengertian Syaheera semakin besar.
“Lalu siapa?” perempuan itu heran dengan gelengan yang lemah itu.
“Serunai”
“Serunai!” Ia terkaget, Serunai…. Ia mengingat-ingat. Selama ini tidak ada kerabat atau teman mereka yang bernama serunai. Siapa dia? Syaheera menebak-nebak. Tapi… ya, akhirnya ia tahu di mana pernah melihat nama Serunai. Di buku yang sering dibaca suaminya.
“Serunai penulis terkanal itu?” Tanyanya setelah yakin.
“Iya, Abang ingin sekali bertemu”
“Apakah abang sangat mengidolakan dia? Kenapa tidak minta bertemu dengan Andrea Hirata, atau Kang Abik, atau…. Cak Nun mungkin, mereka semua kan idola abang juga” seingatnya nama Serunai tidak pernah disebut-sebut suaminya sebagai tokoh idola sastranya. Tetapi kenapa dengan dia justru suaminya ingin betemu. Tapi…. Syaheera mengingat-ngingat. Buku yang ditulis oleh perempuan itu memang mendominasi koleksi buku-bukunya.

Ah, ia merasa ada yang aneh dengan suaminya, siapa Serunai? Ia tidak perlu menjawab. Tapi ada apa dengan Serunai, dan suaminya? Itu yang ia herankan, ia merasa sesuatu yang aneh merambati alam pikiranya tak perlu dipertanyakan lagi, siapapun akan jatuh cinta padanya. Begitu ia menyimpulkan.

***

Serunai mengatakan sebuah alamat kepada sopir taksi. Tidak sulit karena ia telah mengingat alamat itu berpuluh-puluh tahun yang lalu, yang ia pikirkan sekarang justru bagaimana bisa segera sampai ke sana secepatnya, ia tidak ingin terlambat sedikitpun tidak, maka, kegelisahan adalah teman paling sempurna dalam perjalanannya.
Setelah 17 tahun, bagaimana ia masih bisa sepeduli ini, merasakan takut kehilangan orang itu, ia terbayang akan sebuah suara yang meneleponnya semalam. Suara yang sama gelisahnya dengan dirinya, suara yang menyiratkan tidak ingin kehilangan orang yang amat dicintai, dan untuk itu ia akan melakukan apapun, karena itulah Serunai ada di sini.

Terpaku ia menatap bel yang terletak di sisi sebelah kiri pintu. Antara iya dan tidak, diliputi keraguan. Benarkah kehadirannya memang diinginkan? Tapi kalaupun iya, kehadirannya tentu tidak bisa menjadi obat bagi ajal yang dekat. Ia bergidik memikirkan itu, Ia tidak ingin terlambat sedetikpun dan …. Pintu terbuka.
Seroang perempan meyambutnya, berdiri anggun dengan raut muka yan susah ditebak, Serunai terpaku ditempatnya berdiri. Berharap perempuan itu mengatakan sesuatu kepadanya tapi kata sepertinya memang telah hilang ditelan antara campuran rasa marah dan bersalah, takdirkah ini? Pun ketika Tuhan mengirimnya ke kota ini 3 hari yang lalu untuk sebuah seminar sastra. Apakah Tuhan memang sudah men settingnya agar ia bisa bertemu dengan lelaki itu? Tapi dimana dia? Serunai masih di tempatnya. Dan perempuan itu masih menatapnya tanpa tanya.

Apa ini? Seperti mimpi. Mereka seperti terjerembab oleh parasaaan masing-masing, terasa berat untuk memulai sesuatu dengan kata-kata. Hingga akhrinya hanya isyarat yang membuat Serunai berani melangkah masuk. Mengikuti perempuan anggun tadi menuju kamar dimana laki-laki itu berbaring, lemah, hanya matanya yang terlihat bercahaya.

Serunai terbeliak, inikah lelaki gagahnya dulu? Cintanya yang telah membawa sengah jiwanya terbang. Betapa ….betapa ingin ia mengurangi beban itu, semuanya, tetapi kediaman telah membuat mereka hanyut dalam perasaan. Hening, hanya degub jantung satu sama lainnya saling bersahut-sahutan. Hening yang panjang, yang berubah menjadi leguhan dan tangis saat pelan-pelan ia menyaksikan bibir lelaki itu tersungging ke arahnya. Sementara di atas kepalanya ia melihat malaikat mengapung-ngapung seperti kapas.


2 November 2008
dipersembahkan kepada Z
Marpho Amattonte; kupu-kupu


* Cerpen ini sudah pernah dimuat di Koran Aceh Independen, edisi Ahad, 30 November 2008

Minggu, 09 November 2008

Jari Jari Istriku*

By On November 09, 2008


“Tanganmu indah sekali, Dik,” ucapku suatu malam.

Saat itu kami tengah makan malam berdua di sebuah kafé. Kami sengaja mengambil tempat agak di pojokan agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian orang-orang. Sebaliknya kamilah yang menjadi leluasa untuk memperhatikan orang lain. 

Kebetulan malam itu agak sepi karena bertepatan dengan Minggu malam, anak-anak muda tidak banyak berdatangan karena besoknya mereka harus sekolah dan mungkin malam ini harus menyiapkan tugas yang diberikan gurunya di sekolah.

“Aku selalu bernafsu setiap kali melihat tanganmu dengan kuku-kuku yang indah terawat.” Kata ku lagi melihat tidak ada respons apapun dari istriku. Sesungguhnya ini bukanlah kali pertama aku berkata begitu di depan istriku, sangat sering bahkan dan tak peduli di mana pun berada.

“Sudah, sudah, makan saja dulu.” Jawabnya agak tersipu malu.

Aku tersenyum tipis melihatnya.

Mataku masih belum beralih dari jari-jari tangannya yang lentik, aku justru menatapnya dengan semakin liar. Melihatnya merobek-robek ayam bakar dengan kedua tangannya. Ibu jari dan telunjuknya mencengkeram dengan kuat sedang tiga jari lainnya melengkung mengikuti kedua jari tadi dengan sangat indahnya. Sebuah pemandangan yang amat sangat menyenangkan untuk dinikmati.

“Entah aku bisa mencintaimu atau tidak jika saja Tuhan tidak memberimu tangan sebagus itu,” kali ini aku juga bicara jujur. 

Dan memang tidak ada gunanya berbohong kepada istri sendiri. Kupikir istriku masih tidak perduli, tapi rupanya tidak. Air mukanya seketika berubah, ia meletakkan ayam bakarnya dan menatapku seolah-olah meminta penegasan dari apa yang barusan aku katakan.

Ada kesedihan yang tiba-tiba menggantung di wajahnya, aku memaklumi perubahannya yang tiba-tiba itu. “Tapi syukurlah jari-jari indah seperti itu tidak dimiliki oleh perempuan lain,” sambungku cepat berharap selera makannya tidak hilang.

“Lalu kalau seandainya besok tanganku terpotong dan jari-jariku hilang?” tanyanya dengan mimik wajah serius. Ada kekhawatiran dan kecemasan.

“Itu persoalan lain, lanjutkan saja makannya.”

Begitulah, tampaknya memang berlebihan kalau aku mengatakan asal muasal jatuh cinta kepada istriku karena terpesona pada jemarinya yang lentik dan indah. Saat itu, beberapa tahun lalu pertama kali aku melihatnya tengah mengetik sebuah artikel di rental komputer. Lalu kuberanikan diri menanyai namanya dan meminta nomor teleponnya dan jadilah dia istriku sampai sekarang.

Barangkali ia berpikir kalau aku jatuh cinta karena terpesona pada wajahnya yang hitam manis, atau pada tutur katanya yang lembut dan sopan, atau pada sikapnya yang kadang agak grasak-grusuk itu. Itu memang benar, tapi datangnya jauh setelah aku menikahinya, setelah aku punya banyak waktu untuk memerhatikannya. 

Bahwa selain punya tangan bagus dan cantik istriku juga memiliki wajah hitam manis yang enak dipandang, punya tutur kata yang lembut dan menenangkan. Tapi yang selalu membuatku mabuk adalah jari-jemarinya yang lentik dan indah terawat itu. Barangkali karena aku tidak pernah memuji parasnya itulah suatu hari istriku memberanikan diri bertanya pada ku.

“Apa yang membuat abang jatuh cinta kepadaku sehingga mau menikahi ku?” tanyanya suatu pagi.

Seketika saat itu aku melihat ke jari-jarinya yang tengah mengaduk kopi. Aku agak bingung juga mendapat pertanyaan seperti itu sepagi ini. Kalau aku jawab jujur bisa dipastikan dia akan salah paham nantinya.

“Mau jawaban jujur atau jawaban bohong nih…”

“Idih, Abang ini gimana sih, ya jawaban jujur dong.” Saat itu aku mendapatkan bagian lain dari dirinya selain tangan indah dan wajah manis, yaitu senyum yang menawan.

“Karena jari-jemarimu yang indah, Dik.”

Ia tertegun mendengar jawabanku.

“Tidak ada yang lain?” Tanyanya tanpa kedip.

Aku menggeleng.

“Benarkah?” Ia tampak belum yakin.

Aku mengangguk lagi. Ia tersenyum sambil menyerahkan kopi kepadaku, tapi senyumnya agak getir dan hambar. Barangkali karena dipaksakan. Dan obrolan tentang asal muasal cinta pagi itu berhenti sampai di situ saja. Aku pun tidak pernah menyinggung-nyinggung lagi soal itu.

Hingga suatu hari aku melihat istriku tengah menggosok-gosok kukunya dengan alat seperti gabus berbentuk persegi panjang pipih, aku hanya memperhatikannya saja dari jauh. Benda apa itu, pikirku. Tapi karena penasaran akhirnya aku mendekat.

“Kenapa kukunya?”

“Biar tetap cantik, biar Abang terus mencintaiku,” jawabnya datar tanpa senyum.

Oohh…istriku, ia sepertinya sedang ingin berunjuk rasa kepadaku. Menyampaikan sikap protesnya dengan cara seperti itu. Aku jadi geli mendengarnya. Tapi memang setelah ia melakukan ritual itu kukunya menjadi lebih cantik dan mengkilat, biasanya ia hanya membersihkan dengan jeruk nipis saja agar kukunya selalu bersih.

“Bagaimana?” tanyanya sambil memperlihatkan kedua tangannya kepadaku.

“Cantik,” jawabku seraya menarik tangannya untuk kukecup. “Cccuuuuppp…..”

“Kenapa?” Aku bertanya saat melihat ia menjadi murung, bukankah seharusnya senang mendapat 
pujian dari suami tercinta dengan bonus kecupan di tangan?

“Sedemikian burukkah wajahku sehingga Abang tidak pernah menciumnya?” ucapnya pelan dan sendu.

Masya Allah…jauh sekali yang dipikirkan oleh istriku, aku tersentak dibuatnya. Tapi dengan cepat aku segera mengkalkulasikan antara mencium tangannya dengan mencium keningnya, yah, mencium tangannya jauh lebih banyak, tak terhitung. Tapi…aku sama sekali tidak menduga kalau istriku akan berpikir hingga keayat itu.

“Bukan begitu, Sayang…” aku menjadi sulit menjelaskan kepadanya.

“Lalu apa?” suaranya bergetar tapi ia tidak menangis. 

Inilah satu hal lagi yang kusukai dari istriku, tidak cengeng. Bahkan dalam beberapa hal ia tampak lebih maskulin dari diriku seperti hobi mengebut atau cara dia membenarkan listrik di rumah ini. Tapi semua itu tertutupi dengan kelembutan dan kelentikan jari jemarinya yang indah tadi.

Tangannya tetap lembut walaupun sehari-hari ia berkutat dengan cucian dan bumbu rempah, tutur katanya senantiasa terjaga meskipun ia bisa saja memakiku dan aku tidak akan marah.

“Begini, dulu, asal muasal Abang mencintaimu memang karena tanganmu itu. Itu karena sedikit sekali waktu yang kupunyai untuk bisa bersamamu, sehingga setiap kali kita bertemu yang menjadi perhatianku adalah tanganmu. Tapi setelah kita menikah, setelah Abang punya banyak waktu bersamamu, Abang banyak menemukan yang lain lagi dari dirimu, Dik. Hingga akhirnya aku mencintaimu dengan stok cinta yang berlimpah-limpah.” Uraiku panjang lebar.

“Apa itu?”

Ah, istriku, ia memang sangat pandai berpura-pura. Sebenarnya ia sudah tahu apa maksud dan tujuan perkataanku tapi ia ingin aku mengatakannya dengan jelas.

“Adik punya wajah yang manis, walau tidak seperti bulan tapi selalu ada bintang bergantung di sana. Dan tidak pernah hilang meskipun saat kau marah. Adik punya senyum yang manis, memang tidak semanis senyumnya Desi Ratnasari, tapi cukup ampuh untuk menjadi penenang bagi suamimu yang sering dilanda gelisah ini,” aku memperhatikan wajah istriku lagi, mulai bersinar kembali.

“Kamu punya suara yang merdu sekalipun tengah berteriak menyoraki tim sepak bola jagoan mu.”

“Heheheh…Abang udah deh, jangan merayu terus, nanti aku bisa berteriak lebih keras lagi.” Tawanya begitu lepas

“Berteriaklah di telinga Abang.”

“Aw…aw…” teriaknya riang, aku tertawa.

Istriku, kadang aku merasa Tuhan telah tidak adil kepadanya, karena untuk perempuan sesempurna dia hanya diberikan seorang suami yang cacat. Laki-laki yang hanya mempunyai sebelah kaki dan terus bergantung pada kaki palsu.[]

Cerpen ini pernah dimuat di Aceh Independen edisi Ahad, 9 Nov 2008

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email