Selasa, 24 Februari 2009

Teruntuk

Mei semakin dekat, setahun yang lalu aku berjanji untuk menemuimu pada mei kali ini, aku ingin bernostalgia, merasakan lembut wajahmu dan bening matamu pada pagi mei yang sejuk, seperti beberapa tahun yang lalu.

masih ingat? ketika kita berjalan kaki menaiki bukit kotamu yang tinggi. lalu mendorong mobil menuju atas yang terseok-seok menahan beban yang berat. aku ingin mengulangnya, sebab mei subuh bertahun-tahun yang lalu telah memberikan kenangan yang begitu membekas di hatiku. bahwa aku mempunya seseorang yang sangat berakal budi dan perasa selembut jiwa.

aku ingin menapaki kembali kota bukitmu, sambil menggandeng tanganmu mesra dan sesekali memeluk punggungmu yang kokoh, betapa aku sangat nyaman dalam dekapmu. suaramu yang lembut dan ceria, seperti isyarat bahwa hidup hanya ada keceriaan dan keindahan.

tatkala aku bercerita tentang galau yang semakin galau, kau mengingatkanku bahwa apa saja bisa terjadi di dunia ini. dan kau, meski tak pernah tahu telah memberikan kekuatan yang luar biasa untukku.

kini mei semakin dekat, aku resah sebab tak bisa penuhi janjiku. sebab banyak hal yang telah membuatku untuk terus bertahan di kota berdengung ini. sebuah embanan tugas yang akan terus menjulang tinggi, bahkan melebih diriku sendiri. tapi itu takkan lama, tahun depan, mei yang akan datang, aku akan menemuimu dalam wujud yang berbeda, aku dengan jiwaku yang telah berpetualang, mungkin akan kubawakan beberapa miniatur bentuk cintaku kepadamu. mudah-mudahan aku bisa membuatmu senang...bukankah kau sangat menyukai sesuatu yang sangat berkesan?

mei adalah mei yang basah, sesejuk kumpulan air yang ada di kotamu, sesejuk embun yang menyelimuti tetumbuhan yang menopang tanah beraroma gelora. sebasah hatiku ketika menemuimu pada subuh yang dingin, sayangnya aku tak sanggup menggendongmu ketika itu.

ternyata benar katamu, kasih itu menyembuhkan, bagi yang memberi dan menerima, dan aku benar-benar merasakan itu. kasihku, cintaku, memberikan kesembuhan bertubi-tubi saat kekeringan dan kesakitan menggerontang dalam hatiku.

mei ini tak ada ciuman kerinduan untukmu, tapi aku akan mempersembahkannya dengan cara yang lain saja. tadi aku sudah mengawali, mudah-mudahan kau menyukai apa yang telah aku persembahkan, rembulan merahmu, mungkin tak mendekati sempurna, tapi beberapa hari ke depan, aku akan menyelesaikan setiap piguranya untukmu.

bila bukan kau mungkin aku akan acuh dan tak peduli, bila bukan kau mungkin aku tak mau bersusah payah, dan bila bukan kau mungkin sudah kutinggalkan tempat ini sedari tadi. tapi kau lain....marahku mencair mengingat manjamu, tawaku meledak mengingat rengekmu, dan rasa hormatku tak pernah berujung mengingat apa yang telah kau lewati.

darisanalah aku belajar, bahwa segala sesuatunya akan hadir sesuai yang kita butuhkan. mungkin untuk saat ini aku belum membutuhkan hangat pelukmu meski mei akan selalu basah, barangkali juga mei kali ini tak terlalu harus dilalui bersama untuk mengenang semua nostalgia negeri bukit yang berombak. betapa...kerinduan kadang-kadang menjebak kita.
Previous Post
Next Post

Coffee addicted and mother of words

0 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)