Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 19 Mei 2009

Bila Harus Menikah

Tentu aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun, hari-hariku yang sibuk sudah sangat membantu untuk mengulum semua apa yang ada dalam benakku. Cukuplah ritme kerja sebagai fatamorgana yang sempurna untuk menghadirkan pelangi dengan senyum terkembang seperti lancang kuning.

“Ingat sayang, umurmu sudah 24 sekarang. Kapan kau akan menikah?” sebuah suara yang nyaring, yang tawanya selalu berderai menanyaiku penuh goda. Pada sebuah sore yang hampir terbenam.

Hatiku kesal dan penuh sebal. Mengapa selalu pertanyaan itu? Apakah salah diusia yang sudah 24 ini aku belum ingin menikah?

“Belum terfikirkan untuk menikah!” jawabku ketus disambut gelak tawa yang membuatku semakin manyun. “Aku masih geli membayangkan diusiaku yang sekarang harus sudah menggendong bayi, tangisnya di tengah malam tentu akan mengganggu tidurku…” jawabku antara serius dan tidak.

“Hei, ada apa denganmu hah?! Kalau kau sudah menemukan laki-laki yang tepat ajak saja dia untuk menikah. Sekarang bukan saatnya lagi untuk menunggu.”

Pernyataan itu terdengar sangat konyol di telingaku. Tidak terlalu sulit untuk mengajak seseorang menikah. Tapi juga tidak mudah untuk menjatuhkan pilihan. Keputusan untuk menikah dengan siapa itu butuh pertimbangan.

“Seseorang itu sudah ada, tapi tentu saja aku tidak akan mengajaknya menikah. Bukankah cinta tidak harus berakhir dengan pernikahan? Bukankah cara memiliki cinta seseorang tidak selamanya harus melewati ijab Kabul?” kali ini aku menjawab dalam hati.

Tentu saja aku tidak akan menceritakan kepadanya. Tentang se sosok laki-laki yang begitu gagah di hatiku, yang begitu sempurna dalam pandanganku, yang aku sendiri tidak tahu mengapa harus memberikan seluruh hatiku kepadanya.

Tentu ia juga tak harus tahu mengapa aku berbohong, siapa bilang aku tak berfikir untuk menikah. Aku telah memikirkannya jauh-jauh hari, jauh setelah hatiku tertambat pada hati seorang lelaki. Karena itulah aku tak lagi berfikir untuk menikah.

Akupun tak perlu menceritakan kepadanya, bila aku menikah, tentu saja aku tidak bisa memberikan pasir yang telah aku janjikan kepada seseorang yang aku cintai. Bila aku menikah, itu berarti aku telah mengkebiri hatiku sendiri untuk merindui lelaki yang telah mengajarkan aku tentang sebuah cinta dan perasaan. Dan, bila aku menikah, itu berarti aku telah menjadi pengkhianat sejati, pengkhianat diri dan perasaan. Ia tentu saja tak perlu tahu bila itu terjadi, akulah yang paling terluka.

Tapi lagi-lagi, ucapan –lebih tepatnya peringatan- itu terulang kembali dan kembali terulang. Pada sebuah percakapan dengan seorang teman di sebuah kafe. Hampir saja selera makanku hilang ketika itu. Lagi-lagi aku harus berbohong. “Belum terfikirkan untuk menikah.” Jawabku sambil menyeduk nasi yang disajikan dalam nyiru kecil.

“Nanti kamu nyesel, Dek. Seperti kakak, sudah umur 27 tahun tapi belum memiliki anak.”

Aku tersenyum, mungkin tafsiran dari kegetiran.

“Aku sudah menikahkah jiwaku dengan jiwa seseorang. Aku sudah mentasbihkan diri dalam pikiran seseorang.” Hatiku menjawab lantang.

Bila dengan menikah akan mengobati hati banyak orang, aku akan menikah, tetapi setelah aku menunaikan apa yang telah aku janjikan. Untuk memberikannya pasir dari kota bersejarah yang telah aku torehkan dalam buku impian sadar dan alam bawah sadarku.(*)

4 komentar:

  1. Aku sudah menikahkah jiwaku dengan jiwa seseorang. Aku sudah mentasbihkan diri dalam pikiran seseorang....

    Aku suka kalimat ini, menyentuh. Seide dengan yang dituliskan dalam cerpen ini, aku pernah ngalami nya... Tak terpahami oleh orang lain pasti!!!

    BalasHapus
  2. apa yang ditulisan dalam cerita ini berdasarkan kejadian nyata, beruntung ada seseorang yang mau menceritakan kisahnya kepada saya, lalu, jadilah tulisan singkat ini. mudah-mudahan kita bisa mengambil peljarnnnya

    BalasHapus
  3. cerpen ini seperti menyayat jiwa saya

    empat kali saya baca dalam tiga hari.

    sedih dan sangat sakit bila mengingat semuanya

    BalasHapus
  4. t-ardhan: yang membuat tersayatnya di mana bang?

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email