Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 17 Juli 2009

Dialog Dua Hati

By On Juli 17, 2009

Aku menyebutnya malaikat kecil. Matanya selalu bercahaya seperti lilin. Memberi kedamaian dan menenangkan. Senyumnya lepas. Mempesona siapapun yang melihatnya.

Malaikat kecilku, berdiri gagah berpenyangga kaki yang kokoh. Tangannya menjuntai mungil. Seolah ingin mentasbihkan bahwa ia adalah raja bagi pemilik hati. Pun kepadaku!

Itu adalah beberapa tahun yang lalu. Aku melihatnya pada selembar gambar yang diperlihatkan oleh seseorang. Tetapi ia begitu nyata dalam ingatanku. Ingatan yang terus tumbuh. Dan berkembang. Lalu menjadi dewasa.

Malaikat kecilku telah menjadi pangeran! Pangeran yang gagah. Bahu kekar serupa perisai yang siap melindungi siapapun. Dada bidang sebagai pertanda kelapangan hatinya yang penuh cinta kasih. Tangannya masih menjuntai. Matanya masih berbinar. Ia berdiri di hadapanku. Dengan senyum berderai memancarkan kedamaian.

“Tante Joana?”

Aku terhenyak. Tak menyangka ia mewarisi suara berat ayahnya. Aku berusaha tersenyum. Namun kekakuan dan kegamangan telah dulu menyublimku. Dan aku hanya bisa terpaku. Dengan mata menatapnya tanpa bisa berkedip lagi.

“Tante Joana?”

Ia mengulang. Kembali aku terhenyak. Aku gagap. Tak tahu mau menjawab apa.

“Tante, aku Saleem. Tante tidak lupa padaku kan?”

Saleem. Ya Saleem. Aku tak pernah melupakanmu. Tepatnya aku tak pernah mengingatmu untuk hadir di hadapanku. Aku hanya mengingatmu sebatas dalam ingatan saja. Aku telah merawatmu dalam ingatanku. Membesarkanmu dengan imajinasiku. Tetapi kau hadir dalam dunia nyataku.

“Bagaimana kamu tahu kalau aku Joana?”

Saleem tak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sesuatu dalam saku celananya. Selembar foto lama yang telah buram.

“Ini tante.”

Aku hampir tak bisa berkata-kata. Mataku berkaca-kaca melihat gambar itu. kepalaku menggeleng-geleng sebagai wujud rasa tak percayaku pada apa yang tengah kurasakan.

Kembali aku menatap mata bening milik Saleem. Meminta penegasan atas apa yang ditunjukkannya kepadaku.

“Aku mencurinya dari dompet ayahku, belasan tahun yang lalu.”

“Saleem....” suaraku tercekat.

“Dan aku menyimpannya, dengan harapan suatu hari aku bisa bertemu dengan perempuan dalam foto ini. Tante Joana.”

“Saleem...”

“Ketika itu aku tidak mengerti mengapa ada dua foto di dalam dompet ayahku, yang jelas satu foto ini bukan foto ibuku.”

“Oh...Saleem, aku...aku...”

“Ya tante, aku tidak ingin menyalahkan tante. Tapi sejak itu aku terus menyimpan tante dalam ingatanku, aku merekamnya dan mencoba memperbaharuinya setiap saat.”

“Saleem....aku, aku sudah lama tidak bertemu dengan ayahmu.”

Aku mencoba tersenyum. Sekedar untuk menghilangkan kekagetan diriku.

“Aku tahu tante. Karena itu aku datang kemari. Untuk meminta maaf kepada tante.”

“Meminta maaf untuk apa Saleem?”

“Tante, boleh aku duduk?”

Oh Tuhan, bahkan aku sampai lupa mempersilahkan tamuku duduk. Aku jadi serba salah. Tak siap dengan kejutan sebesar ini. Kejadian yang sama sekali tak pernah terfikir olehku.

“Maaf Saleem, tante lupa. Silahkan duduk. Sebentar, tante buatkan minum dulu ya. Oh ya, apa kamu masih suka minum coklat panas tanpa gula?”

“Tante tahu minuman kesukaanku?”

Mata Saleem mengerjap-ngerjap. Ia tampak bersemangat. Bibirnya menyungging senyum.

Aku mengangguk. Lalu segera ke dapur.

“Ayahmu sering menceritakan tentangmu Saleem.” Kataku sekembali dari dapur. Dengan segelas coklat panas tanpa gula dalam nampan kecil.

Aku memandang wajahnya yang oval, alisnya tebal dan hitam. Matanya bening dengan bola yang berkilau. Ada yang aneh berdesir dalam diriku. Rasa ingin memeluknya yang begitu kuat. Sayang, ia tidak lahir dari rahimku.

“Tapi mengapa ayah tidak menjadikan tante sebagai ibu bagiku?” tanya Saleem tiba-tiba.

Aku tercengang. Tak menyangka ia akan melontarkan pertanyaan itu padaku. Dan kali ini aku benar-benar tak bisa menahan air mataku.

Pelan kusentuh wajah bersihnya. Saleem hanya diam menunggu jawabanku. Kuberi senyum padanya sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja.

“Maaf tante, aku tak bermaksud melukai perasaan tante.”

“Tidak Saleem, tante baik-baik saja.”

“Tante....kenapa? apa tante tidak pernah menanyakan itu pada ayah?”

Saleem! Bagaimana aku harus menjelaskannya. Apa yang harus kukatakan padanya? Semua itu cerita belasan tahun lalu. Untuk apa dihadirkan kembali. ah....

“Karena tante tidak sehebat ibumu sayang, tante tidak seluar biasa ibumu.”

“Tante bohong.”

“Saleem.”

Aku menatapnya. Ia membalas menatapku. Beringsut ia dari duduknya lalu meraih jemariku yang sedikit bergetar.

“Tante mencintai ayahku kan?” tanyanya pelan. Aku menunduk, tak ingin kembali bersitatap dengannya. “Mungkin tidak untuk sekarang, tapi ketika itu tante sangat mencintai ayahku kan? Begitu juga sebaliknya. Benar kan tante?”

Bahkan sampai sekarang Saleem. Lirihku dalam hati.

“Saleem. Jangan paksa tante. Tante tak ingin mengingat itu lagi.”

“Tante, bila iya mengapa tante menolak ketika ayah mengajak tante untuk menikah?”

“Oh...Saleem...jangan paksa tante.”

Saleem memegang tanganku kuat.

“Tante....jawab dengan jujur.”

Suara Saleem memelas. Matanya memerah.

“Karena tante tidak ingin menyakitimu sayang.” Tangisku pecah. Air mataku berhamburan. “Setiap kali melihat fotomu tante merasa kamu adalah anak tante sendiri, yang harus tante jaga, tante rawat, kamu tidak boleh tersakiti, oleh siapapun Saleem. Juga oleh tante. Tante juga tidak tahu mengapa tante merasa sangat dekat denganmu. Padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Tapi mengapa tante mau menyakiti diri tante sendiri?” cecar Saleem.

“Kamu tidak mengerti sayang.” Aku kehabisan kata untuk menjelaskannya.

“Aku mengerti tante.”

“Kamu tidak mengerti apa-apa. Kamu masih terlalu muda untuk bisa mengerti persoalan ini.”

“Lalu mengapa tante tidak menikah dengan orang lain?”

“Saleem?!”

Aku benar-benar tak menduga dengan pertanyaan itu. Dan aku tak punya jawaban untuk itu. Mengapa? Aku sendiri tak pernah tahu mengapa itu bisa terjadi. Aku juga tidak pernah tahu apa aku masih mempunyai cinta untuk orang lain.

“Hidup ini rumit Saleem, tidak semua hal kita harus mengetahuinya. Cinta itu sukar untuk dimengerti dan tidak bisa diprediksi. Tetapi, ketika kita telah menikahkan jiwa kita dengan jiwa seseorang, dan ketika kita telah mentasbihkan seseorang dalam ingatan kita, ketika itulah kita tak lagi bisa memaknai kesakitan.”

“Tante?”

“Ya sayang.”

“Sekarang aku tahu mengapa ayah tak pernah berhenti mencintai tante.”

Aku memeluk Saleem dengan erat. Sejak belasan tahun yang lalu aku telah kehilangan jiwaku. Tetapi hari ini Tuhan mengirimkan jiwa yang lain kepadaku. Jiwa yang aku tahu tak akan pernah meninggalkanku. Dan jiwa yang senantiasa memancarkan cahaya dalam hidupku.



23:23 pm

16 Juli 2009

Inspired by M

Hilang

By On Juli 17, 2009

Miguel de Cervantes pernah mengatakan bahwa orang yang kehilangan kekayaan adalah mereka-mereka yang kehilangan banyak, sedangkan mereka yang kehilangan sahabat adalah kehilangan lebih banyak lagi, tetapi orang yang kehilangan keberanian adalah orang yang kehilangan segalanya.


Banyak hal yang bisa membuat kita tertawa, salah satunya adalah ketika kita membayangkan seorang teman kita, mungkin juga orang yang kita percayai tengah berpura-pura ketika menjawab panggilan telefonnya. Bisa saja yang dipura-purai itu adalah orang lain, mungkin juga kita sendiri. Dan bukan tidak mungkin itu sering terjadi. Dan tidak sedikit orang yang tidak menyadari ini. Dan mereka adalah orang-orang yang terbohongi. Dan yang membohonginya bisa disebut sebagai pengecut atau orang yang kehilangan keberaniannya.


Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah lupa nasehat seseorang tentang teori 5 % nya (thanks a lot Bro! U are my guide for this). Dan sisanya 95 % lagi menurut saya adalah perencanaan. Sesuatu yang terencana akan sering memberikan keceriaan, sebab, ketika sesuatu yang buruk terjadi namun dengan persiapan yang terencana, itu akan menjadi yang terbaik diantara yang terburuk. Dan bila yang terburuk itu terjadi tak perlu repot-repot untuk berteriak mempresentasikan kekesalan hati. Apalagi harus mengeluarkan air mata pada hal yang memang anda sudah tahu itu hanyalah sia-sia.


Keberanian hanya terletak pada bagaimana keputusan diambil ketika anda berada diantara dua jembatan yang akan membawa anda pada satu tujuan yang sama. Sama-sama akan memberikan kehidupan. Mungkin juga sama-sama akan membawa anda pada kematian. Tetapi sekali lagi adalah soal pilihan keberanian. Bagaimana anda bisa mengubah kematian menjadi kehidupan. Bukan menjadikan kehidupan menjadi kematian!


Keputusan sering kali tak bisa diambil tanpa ada kondisi terjepit. Bayangkan ketika anda terjebak hujan lebat. Dan anda hanya mempunyai satu payung yang bisa anda gunakan. Sementara di sebelah kiri dan kanan anda ada dua orang yang membutuhkan pertolongan anda untuk diantarkan ke tempat pemberhentian bus di seberang jalan. Pada saat yang sama, tak bisa saling mendahului, dan yang pasti anda tidak mungkin bisa mengantar mereka secara bersamaan. Apa yang anda lakukan pada kondisi seperti ini? Pada saat itulah keputusan menjadi sangat penting.

Kamis, 09 Juli 2009

Jangan Menangis di Kota Ini*

By On Juli 09, 2009

Jangan Menangis di Kota Ini

By : Ihan Sunrise

Ini bukan pertama kalinya Cut Arafah melakukan perjalanan ke luar kota. Di usianya yang ke 32 ia bahkan sudah menjelajahi ke lima benua. Hampir semua keajaiban di dunia pernah ia kunjungi. Bahkan ia pernah melakukan perjalanan ke Alaska dengan menggunakan Cruise termewah dan termahal. Ia telah mendapatkan begitu banyak kesenangan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Tapi perjalanan kali ini adalah perjalanan luar biasa. Yang sampai kapanpun seumur hayatnya ia tidak bisa melupakan setiap detik kejadiannya. Perjalanan yang telah melahirkan risau dalam jiwa keperempuanannya. Perjalanan yang telah menggrafir luka yang tak berkesudahan baginya, sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu. Ara, begitu ia dipanggil, akan selalu mengingat perjalanan ini.

Ara tahu, alam tengah mencoba menghiburnya. Bahkan bintang berkelip lebih banyak dari biasanya. Bulan berbentuk sabit persis seperti mulut peri yang tengah menyungging senyum untuknya. Pohon-pohon berdesau bagai desisan mesra yang kerap hinggap di telinganya. Dan yang selalu ingin didengarnya.

Namun badai dalam jiwanya telah memasungnya begitu kuat. Memaku bibirnya untuk terkatup rapat. Menambat pandangannya pada patri yang tak jelas. Ia memandang, dengan kedip yang jarang. Dengan bulir bening mengambang. Dalam kegelapan. Dalam kesunyian. Dalam keterkurungan perjalanan yang akan membawanya pada sebuah kota.

Tangannya bergetar saat ia menyentuh tangan lelaki yang lelap di samping kanannya. Air matanya yang tadi kristal kini mengalir bagai mata air yang keluar dari bebatuan. Sejuk basah pada kelopak matanya. Dikecupnya kepala lelaki tersebut dengan ciuman yang hangat dan dalam. Seperti yang ia lakukan pada malam-malam sebelumnya. Ketika lelaki itu ingin terbang menjemput mimpi. Dipeluknya agar lelaki itu mendapat hangat dari seorang perempuan yang telah memberikan seluruh cinta untuknya.

“Tidurlah pangeranku sayang...tidurlah dengan damai.” Bisik hati Ara.

Ara berusaha menyatukan hati mereka dengan perekat sunyi yang syahdu. Agar pada malam-malam berikutnya tak ada kesepian diantara mereka. Agar pangeran selalu mendengar bisik mesra pengantar tidurnya. Meski bukan ia yang akan mengucapkan.

***

“Tunggulah sampai anak kita lahir, Cut Bang. Kata dokter waktunya tidak lama lagi. Aku tidak mungkin melahirkan anak kita tanpamu di sampingku.” Suara Ara terdengar lirih.

Ara bukanlah perempuan manja yang tak bisa jauh dari suaminya. Tetapi dengan kondisi hamil besar ia sangat membutuhkan Zal di sampingnya. Ia tak punya siapapun selain Zal, suami yang amat sangat dicintainya. Bahkan bila ada Zal, ia bisa melahirkan tanpa bantuan bidan. Kira-kira begitulah kekuatan yang bisa ia dapatkan dari lelaki suaminya.

“Aku pasti ada di sampingmu saat kamu melahirkan, Cut Dek.” Seperti biasa suara Zal yang lembut dan mesra terdengar begitu menyenangkan. Tetapi kali ini Ara merasakan kekosongan dari kelembutan suaminya.

“Aku tak yakin.” Jawab Ara dingin.

“Mengapa kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri, Cut Dek?” tanya Zal dengan suara yang masih sama.

Sama seperti bertahun-tahun silam. Suara Zal yang dewasa dan lembut telah berhasil membuat Ara menambatkan hatinya pada lelaki itu. Begitu juga saat mereka menjalani hari-hari sebagai dua orang yang saling mencintai. Tak pernah ada sikap Zal yang membuatnya kesal. Zal begitu sempurna dalam pandangannya dan selalu bisa membuatnya jatuh cinta.

Cinta yang besar, rindu yang banyak telah membuatnya bagai putri berhati lembut. Tak pernah berkeluh kesah meski mereka jarang bertemu. Ia tak pernah menggerutu meski Zal jarang mengabarinya. Sebuah perubahan sikap yang ia sendiri tak pernah bisa memaknainya mengapa.

Tetapi pada malam ini entah mengapa ia menjadi sukar untuk mempercayai suaminya. Ia tahu Zal tak akan berbohong tetapi hatinya yang lain mengatakan Zal tak sepenuhnya benar. Zal hanya sedang berusaha menyenangkan hatinya saja.

“Aku telah mempercayai Cut Bang sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak aku belum menjadi istrimu, bahkan setelah aku menjadi istrimu, Cut Bang. Tapi entah mengapa malam ini perasaanku mengatakan bila aku tak dapat mempercayaimu.” Jawab Ara tenang.

“Cut Dek... Ara sayang...jangan pernah bicara begitu lagi ya. Abang yakin kamu tahu mengapa abang menikahi kamu. Dan itu sudah menjadi jaminan bagi abang untuk tidak pernah meninggalkanmu.”

***

Ara terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Perjalanan ini benar-benar telah memberikan siksaan batin yang dahsyat baginya. Wajah Zal tujuh tahun silam hadir begitu nyata dalam ingatnya. Setiap detil dialognya muncul bagai naskah kuno yang akan dimuseumkan. Kenyataan itu membuat hatinya seperti dikerat-kerat gigi yang tajam. Nyeri hingga ke ulu hati.

“Beri aku kekuatan ya Allah!” teriaknya dalam hati.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang lama. Tetapi juga tidak terlalu singkat. Ara memaki dirinya dalam keterpekuran. Cinta yang besar, rindu yang banyak telah membuatnya terkungkung dalam kerangkeng perasaan yang tak berujung. Ia bagai tersesat dalam labiran cinta yang pernah diberikan Zal padanya.

Tujuh tahun bukan waktu yang lama. Tetapi juga tidak terlalu singkat. Apalagi untuk menanggung sepi dan rindu yang bisa hadir kapan saja. Amarah dan benci yang sering melahirkan dendam dalam jiwanya yang mulia. Hanya lelaki kecilnya, pangeran kecilnya yang berhasil membuatnya keluar dari kebencian itu. Lelaki kecil yang hadir karena cinta yang diinginkan.

Hanya Amar, pangeran kecilnya yang telah memberinya kehidupan selama bertahun-tahun. Suara nyaringnya adalah jelmaan suara Zal yang mampu meluluhkan emosi dalam setiap tindaknya.

“Cinta ini harus dibagi.” Pekik Ara dalam hati sambil memeluk pangeran kecilnya. Dalam gelap. Dalam sunyi. Dengan air mata yang mengkristal bagai intan di kelopak matanya.

***

Langkah kaki pertama yang dipijakkan Ara di kota ini setelah tujuh tahun silam. Sudah banyak yang berubah. Matanya segera menuju ke pojok terminal tua ini, sebuah pohon Angsana besar masih berdiri kokoh di sana. Bunga-bunganya yang kuning berguguran seperti permadani. Tetapi kursi yang dulu pernah ia duduki sudah berubah, sudah berganti dengan kursi yang terbuat dari besi yang bagus.

Amar kecil hanya menurut ketika tangan ibunya mengajaknya duduk di bawah pohon Angsana tersebut. Tak ada kata dalam langkah mereka. Hanya suara degup langkah yang teratur terdengar begitu berirama.

“Kita akan ke mana Bunda?” tanya Amar setelah lama diam merenggut ucapnya.

Ara tak langsung menjawab. Jantungnya berdegub kencang. Wajah Amar dan wajah lelaki yang dicintainya berseliweran dalam benak dan pandangannya. Seolah-olah itu adalah pertanyaan Zal beberapa tahun silam.

“Kita akan pergi ke mana cinta membawa kita.” Jawab Ara datar. Matanya jauh memandang langit-langit yang biru.

Amar kecil mengernyit, tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh ibunya.

“Bunda?” tanya Amar menyentuh lengan ibunya. Matanya yang bening menatap lekat pada wajah sang ibu.

“ee...iiyaa...ada apa sayang?” Ara tergagap.

Ah, ia merasa bodoh sekali. Bukankah itu jawaban yang ia berikan pada Zal sepuluh tahun yang lalu, saat mereka masih menjalin cinta.

“Kita akan ke mana?”

“Bunda akan mengantarkanmu pada seseorang yang telah mengirimkan kamu kepada Bunda.” Jawab Ara dengan bahasa yang sulit dicerna untuk anak sekecil Amar. Amar kecil hanya melongo mendengar jawaban ibunya. “Sebab cinta ini harus Bunda bagi Amar.” Lanjut Ara dengan air mata yang menetes di pipinya. “Dengan seseorang yang telah menitipkanmu dalam rahim bunda.” Lanjutnya dalam hati.

“Bunda...”

Amar memeluk pinggang ibunya. Ada kegalauan yang tiba-tiba dirasakan oleh bocah tersebut. Ia merasakan sesuatu yang tidak dimengertinya. Seperti rasa hampa dan rasa takut yang hadir begitu saja.

Ara memeluk Amar dengan hati terluka. Ia tersedu tanpa suara dengan air mata mengalir. Wajah tenang Zal kembali hadir menghampirinya. Memacu detak jantungnya berirama tidak seperti biasanya. Benci dan cinta telah menyatu dalam hatinya.

“Mengapa harus seperti ini caranya membagi cinta, Zal?” desisnya.

***

“Bunda? Rumah siapa ini?” tanya Amar ketika mereka tiba di depan sebuah rumah yang besar. Model minimalis modern dengan warna abu-abu bercampur merah dan hitam jelas sangat menunjukkan selera pemiliknya yang tinggi.

Pohon-pohon hijau yang banyak membuat rumah ini begitu asri dan menenangkan. Ara menahan sesak di dada. Matanya menatap pada sebuah Gazebo berwarna coklat natural di pojok halaman. Entah mengapa tiba-tiba ia jadi membayangkan betapa seringnya Zal menghabiskan waktu bersama perempuan selain dirinya di tempat itu. Hatinya seperti terbakar. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak jauh.

“Rumah seseorang yang telah memberikanmu kepada Bunda sayang.” Jawab Ara dengan senyum yang dipaksakan.

Seorang perempuan tengah baya muncul dari balik pintu. Beberapa kerutan terlihat mengelilingi kelopak matanya. Namun tidak menghilangkan gurat cantiknya yang alami. Wajahnya yang hitam manis terlihat begitu terawat dan segar. Segaris senyum ia lemparkan pada ke dua tamu yang asing dalam ingatannya.

Ara menatap perempuan tersebut dengan degub jantung yang hampir copot. Kakinya terasa lemas dan seluruh persendiannya terasa gemetar. Mulutnya terkatup rapat sementara mata mereka beradu pandang. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan sepatahpun. Inikah perempuan yang namanya begitu sering kudengar? Perempuan yang selalu membuatku cemburu?

“Maaf, mau bertemu dengan siapa?” tanya perempuan tersebut ramah

“Maaf, apakah anda ibu Syateela?” tanya Ara memberanikan diri.

Perempuan itu merasa takjub dan senyumnya kembali terkembang. Secepat mungkin ia memutar ingatannya barangkali perempuan yang menanyakan namanya merupakan salah satu kenalannya.

“Iya benar. Tapi maaf...saya benar-benar tidak mengenal ibu.” Jawab perempuan itu.

“Ibu memang tidak mengenal saya. Tapi saya sering mendengar nama ibu disebut-sebut oleh seseorang.”

“Oh ya? Siapa?” tanya perempuan itu penasaran.

“Zal!”

“Zal?” perempuan itu mengulang.

“Iya”

“Dia suami saya.”

“Juga suami saya!” jawab Ara tenang.

Wajah yang sedang tersenyum itupun mendadak redup. Mukanya bersemu menahan kekagetan. Ia berusaha tersenyum menepis apa yang barusaja didengarnya. Baginya ini hanyalah kekonyolan yang baru pertama kali didengar seumur hidupnya.

Bagaimana mungkin suaminya punya istri selain dirinya. Mereka selalu bersama, bahkan nyaris setiap detik mereka bersama.

“Anda jangan bergurau. Saya kenal siapa suami saya. Dia tidak mungkin begitu.”

“Saya juga mengenal siapa suami saya. Karena itu saya datang ke mari setelah tujuh tahun kami tidak pernah bertemu.” Suara Ara bergetar. Sebelah tangannya meraih Amar yang sejak tadi tercenung menyaksikan pembicaraan dua perempuan dewasa di hadapannya.

“Mungkin saya bisa menghilangkan Zal dalam ingatan dan hati saya, bahkan saya telah menganggapnya mati sejak tujuh tahun lalu. Sejak ia mengingkari janjinya untuk menemani saya melahirkan. Saya bisa menerima putusan sepihak tanpa sebab dari suami yang amat kita cintai. Saya rela ditinggalkan bertahun-tahun tanpa saya tahu alasanya mengapa, tanpa pernah saya mencari tahu, tanpa pernah saya mengganggunya. Tapi dia tidak....!!” Ara menunjuk Amar.

“Dia harus tahu siapa ayahnya, karena tidak mungkin seorang anak lahir tanpa ayah.”

Perempuan setengah baya tadi memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba menjadi begitu pusing. Ia terhuyung-huyung dalam kejutan yang melebihi gempa berkekuatan 10 SR sekalipun. Matanya berkunang-kunang dan langit menjadi begitu gelap.

“Amar...ini adalah bundamu untuk saat ini dan seterusnya. Sebab cinta ini harus dibagi sayang...” ucap Ara dengan tersendat-sendat.

“Sudah saatnya Zal merawat cinta yang pernah ada dengan saya.” Ara memandang pada perempuan tersebut.

“Tapi Zal sudah meninggal sejak tujuh tahun lalu dalam kecelakaan pesawat terbang yang membawanya ke luar negeri.” Jawab perempuan tersebut sambil bersandar ke dinding. Tubuhnya terasa lunglai hingga ke belulangnya.

Ara luruh dalam tegaknya. Jiwanya terbang setinggi angkasa mencari ruang tertinggi tempat di mana Zal bersemayam saat ini.

08 mei 2009

Didedikasikan kepada seseorang

tulisan ini sudar pernah dimuat di Koran Harian Aceh, edisi Minggu, 5 Juli 2009

Melati Ini Untukmu

By On Juli 09, 2009

Suatu sore yang hampir tenggelam. Matahari memerah telur. Angin bertiup pelan. Sepi. Sunyi. Syahdu. Menjelang senja yang indah. Sekelompok Camar terbang melintasi angkasa. Mencari sarang tempat berteduh. Untuk menghabiskan malam. Menikmati bulan. Menikmati bintang.

Sepasang kekasih. Saling diam menghabiskan sisa hari itu. Mereka duduk berdampingan di atas kursi kayu di sebuah tanah lapang yang luas. Wajah keduanya sendu. Namun masing-masing tak ingin mengatakannya. Sebab semua kata telah tersekat di ujung tenggorokan. Seperti tercekik. Seperti terikat. Sehingga sangat susah untuk diucapkan. Diam. Mereka larut dalam diam. Hingga matahari akan tenggelam menyambut gelap.

Mulut gadis bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi rasa malu membuatnya tertahan. Ia menunggu sesuatu yang akan dikatakan oleh kekasihnya. Hatinya cemas. Rasa takut menyelimuti perasaannya.

Sang lelaki menoleh. Mendapati wajah kekasihnya memucat seperti bulan yang menantang matahari. Ia sentuh jemarinya yang lentik. Dingin. Dan begetar. Perempuan itu menunduk. Matanya panas. Ia ingin menangis. Hatinya bergetar lebih hebat.

“Aku takkan pergi lama. Aku akan segera menjemputmu. Doakan aku sukses di sana.” Ucap lelaki itu perlahan.

Perempuan itu menoleh. Ia makin tersekat. Matanya berkaca-kaca. Hatinya takut. Sebab ia banyak mendengar cerita-cerita orang di kampungnya. Lelaki-lelaki yang telah pergi takkan pernah kembali. di Kota lain mereka akan mendapatkan kehidupan yang lain. Yang lebih luar biasa. Perempuan yang cantik-cantik, kaya, menarik. Ia menjadi sangat cemas. Meragukan ucapan kekasihnya.

“Aku hanya mencintaimu” berkali-kali lelaki itu mengatakannya. Agar kekasihnya yakin bahwa ia akan selalu menyetiainya.

“Aku akan merindukanmu.” Serak suara perempuan tersebut menjawab kalimat demi kalimat dari kekasihnya.

“Tanamlah Melati di tanah ini setiap kali kau merindui aku. Jika suatu saat nanti aku kembali aku akan tahu seberapa banyak rasa rindumu untukku.”

Gelap telah menelan matahari. Dan mereka berpisah. Kembali ke rumah masing-masing. Dengan membawa perasaan masing-masing yang serupa kabut.

Hari-hari tanpa kekasihnya. Perempuan itu menanam setiap rindu yang ia punyai. Bibit-bibit Melati tumbuh di tanah lapang itu. Hatinya bergelegak setiap kali ia mencangkul, mengurai tanahnya sebelum bibit-bibit itu masuk ke dalam tanah. Ia berdoa setiap kali bibit-bibit itu tumbuh. Semoga kekasihnya cepat kembali. telah begitu banyak rindu yang ia tanam. Berpuluh-puluh Melati telah tumbuh.

Ketakutan-ketakutannya hilang setiap kali wewangian Melati menyentuh indra penciumannya dengan lembut. Wewangian yang menyuruhnya untuk terus setia. Wewangian yang menularkan kedamaian dalam hatinya. Sehingga hilanglah semua prasangka dan kecurigaan. Wewangian yang senantiasa melayangkan doa kepada kekasihnya.

Namun ketika bulan berganti tahun, sepotong kabarpun tak pernah ada, ia rindu kepada kata-kata lelakinya, setiap kali dering petugas pos terdengar ia menunggu dengan harap-harap cemas. Dan kecemasan itu berakhir dengan kecewa. Tak ada sepotong kabarpun untuk dirinya.

Lelakinya tak lagi mengingatnya. Mungkin ia telah mendapatkan pengganti dirinya yang cantik dan mempesona di sana. Begitulah pikiran kuat yang mengganggunya berhari-hari. Bukan hanya sakit, ia teriris-iris.

Tahun-tahun berganti, lelakinya mungkin telah benar-benar melupakannya, sementara Melati yang ia tanam terus bertambah. Setiap tahunnya ia memperluas kebun tersebut. Bahkan ia telah mempunyai beberapa orang untuk mengurus Melati-Melatinya.

Melati yang ditanam dengan cinta. Dan juga air mata. Dan dengan kerinduan. Dengan begitu ia kuat menjalani hari-harinya yang berat. Menahan gugatan orang tua, karena usia yang terus bertambah sementara ia tak siap menerima setiap laki-laki yang datang.

Sedangkan kebun Melatinya mulai dikenal banyak orang. Setiap harinya banyak orang berdatangan dari berbagai tempat untuk melihat kebun Melati yang luas itu. Ribuan orang berdecak kagum. Kebun Melati yang penuh ketenangan dan kedamaian. Keharuman yang memberikan cinta dalam setiap orang yang mendatanginya. Membangkitkan semangat dan juga harapan.

Kabar tentang kebun Melati yang luas itupun terdengar oleh seorang lelaki. Yang kini telah berbalut tuksedo hitam dan setiap harinya menyilangkan kaki di belakang meja. Pemilik seorang istri yang cantik dan kaya, dengan dua orang anak yang telah remaja. Setiap kali lelah menghampirinya, sebuah pigura yang berisi foto perkawinan mereka seolah menjadi penebus dari semua kejemuan itu. Ia tampan, istrinya cantik. Ia pintar, istrinya kaya. Ia gagah, istrinya penuh kharisma. Dunia ini benar-benar miliknya.

“Aku telah mendengar kabar tentang kebun Melati yang sangat terkenal itu.” Kata si lelaki pada sang istri. Pada suatu sore. Ketika matahari hampir tenggelam di telan waktu.

“Ya, aku ingin sekali melihatnya. Dan aku ingin kau membelinya untukku.” Kata sang istri manja, sambil memeluk mesra suaminya.

“Membelinya? Untuk apa? Bukankah kita bisa kesana kapan saja kita mau?”

“Aku ingin kebun Melati itu menjadi milik kita.”

Cinta. Adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Sekalipun bulan, atau bintang. Niscaya ia akan melakukannya untuk istrinya. Sebab ia terlalu cinta. Dan tak ingin melihat mata istrinya menggantung mendung.

Maka jarak beratus-ratus kilo meter bukanlah sesuatu yang berat untuk dilampaui. Sepanjang perjalanan mereka berdua sibuk bercerita tentang kebun Melati itu.

“Sebentar lagi akan menjadi milik kita” berkali-kali sang istri bergumam senang penuh keyakinan.

Kedatangan suami istri tersebut menarik perhatian banyak orang. Mereka adalah orang yang sangat kaya raya dan terkenal. Kecuali perempuan pemilik kebun Melati saja yang tak tahu. Karena ia sibuk dengan rindunya. Sibuk dengan Melati-Melatinya. Hingga ia tak menyadari kalau lelaki yang telah beristri itu adalah orang yang sangat dikenalnya dulu.

Wajahnya telah berubah. Penampilannya khas orang kaya. Tuksedo mahal. Sepatu kilat. Dan cara berbicara yang teratur. Mereka sedang menawar.

“Sekalipun anda menukarkannya dengan nyawa anda, saya tidak akan menjual kebun Melati ini.”

“Tapi dengan harga yang kami tawarkan anda bisa membeli sepuluh kali lebih luas lahan yang lain, dan anda bisa kembali menanam Melati di sana.”

Perempuan itu menggeleng. Semuanya bukan karena uang. Tetapi untuk cinta. Untuk sesuatu yang bernama rindu. Ia meneliti wajah lelaki itu. Tampak tahi lalat kecil tepat di bawah dagunya. Tersentaklah hatinya. Mungkinkah lelaki itu?

“Kenapa anda menatap saya begitu?”

“Maaf, apakah nama anda Zal?”

Lelaki itu mengernyit. Bagaimana mungkin ada orang yang mengenalnya di kota ini. Dan ia tahu namanya.

“Anda...” perempuan itu berbalik.

Ia menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Ya. Lelaki itu adalah Zal. Kekasihnya dulu yang berjanji menjemputnya. Tetapi nyatanya belasan tahun terlewati begitu saja tanpa sepotong katapun. Hati perempuan itu terkoyak, tercabik seperti daging yang disayat dengan pisau tumpul. Perih. Jerih. Nganga. Oleh senyum bidadari di samping lelaki itu.

“Kau.....Aliya...”

“Akhirnya kau datang juga, untuk melihat sebesar apa rinduku untukmu. Hanya sebesar ini Zal.” Perempuan itu menebar pandanganya pada kebun Melati yang berkehtar-hektar luasnya.

“Maafkan aku Aliya.”

“Cinta adalah memberi kepada orang yang kita cintai. Memberi berarti kita yang berkorban, atau membayar harganya, dengan bekerja lebih, untuk bisa memberi lebih.”

“Mafkan aku!”

“Beginilah caraku memberi.”

Perempuan itu berlalu. Meninggalkan hatinya yang berkeping-keping. Berserakan seperti Melati-Melati yang gugur. (Ihan)

00:16 am

5 juli 2009

Cinta Yang Tak Sempurna

By On Juli 09, 2009

Masih terlalu awal untuk bisa dikatakan makan malam, tetapi ritual itu telah selesai dilakukan sebelum pukul enam sore. Oleh sepasang suami istri. Tetapi sang istri hanya menemaninya saja. Tidak ikut menyantap hidangan bersama sang suami. Gulai ikan Kakap, balado udang dengan potongan kentang, menjadi pilihan untuk menyambut kedatangan suaminya kali ini.

Garis senang terbentuk di ruas bibirnya. Rasa puas terlukis pada wajah bundarnya. Suaranya nyaring. Setidaknya kali ini ia benar-benar tengah menikmati dirinya sendiri sebagai perempuan, sebagai seorang istri, sebagai ibu. Kelengkapan seperti inilah yang selalu ia dambakan, suami yang selalu berada di sampingnya, anak yang selalu bisa merasakan dekapan ayahnya kapan saja, makanan yang bisa dinikmati berdua, dan mungkin juga membuatkan kopi untuk lelaki yang amat dicintainya; suaminya.

Tetapi setiap kali mengingat itu pikirannya terasa berhenti. Karena selalu saja takutnya menjadi nyata. Sang suami menyudahi makannya. Lalu ia cuci tangannya dengan air yang telah disediakan oleh sang istri. Dengan waslap yang bergantung di dinding ia sapu mulutnya. Lalu ia seduh mulutnya dengan air putih untuk melancarkan pencernaannya. Dan terakhir mengunyah pisang Raja yang memang selalu tersedia di meja makan.

Lalu ia beranjak, melewati koridor kecil dalam rumahnya. Menoleh sedikit ke kamar tidur mereka dan ia segera sampai ke pintu utama. Lalu keluar dan mengucapkan selamat tinggal. ia akan pergi untuk beberapa hari. Kembali ke kehidupannya yang resmi. Bahkan ia tak sempat berpamitan pada bayi kecil miliknya yang telah labuh dalam ayunan. Ia sedang tak tidur. Matanya mengerjap-ngerjap seperti ingin mengatakan sesuatu. Atau mungkin menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu padanya. Seperti misalnya; Papa pergi dulu ya Nak. Atau Papa pergi tidak akan lama. Tak ada. Dan bayi itu memilih bergerak-gerak sebagai wujud protesnya.

Suara mobil menjauh. Bayangnya tak lagi tampak dipandang mata. Perempuan istrinya itu tersadar dari mimpi singkatnya. Mungkin memang sudah ia ditakdirkan untuk selamanya begini. Tak sempat ia berkeluh kesah apalagi untuk bercerita tentang rasa sepi dan susahnya. Suaminya harus kembali meninggalkannya. Dan juga anak mereka. Bibirnya menyungging senyum. Hampa. Hambar. Tanpa harapan.

“Begitulah....” desahnya. Pias.

Perlu waktu lama ketika ia benar-benar mencintai lelaki itu hingga akhirnya mereka menikah dan jadilah sepasang suami istri. Rasa tak percaya menjadi pelengkap kekurang sempurnaan itu. Persis seperti membangun istana di atas pasir. Kapan saja bisa hancur.

Tak lama berselang. Ia mengambil handphonenya dan menghubungi suaminya. Sekedar untuk mengatakan selamat jalan dan berhati-hati. Sebab ada yang menantinya di sini, dan di sana; istri dan anak-anaknya.

“Jangan main perempuan!” ucapnya ketus, mengingatkan sekaligus ancaman.

Tentu ia sudah sangat mengenal suaminya. Maka bila ia mengatakan seperti itu bukan tanpa alasan. Mengingat itu ia ingin memutar waktu, agar ia bisa kembali pada saat di mana ia belum mengenal suaminya. Ia ingin dibuatkan skenario lain dari Tuhan. Tetapi keinginan itu berubah menjadi sesal. Sebab waktu tidak bisa diulang kembali. apalagi skenario Tuhan yang ditulis menjadi garis hidup seseorang.

Maka ia hanya pasrah menjalani hari-harinya. Ia merasa tak sempurna sebagai perempuan.

4 juli 2007

Menjelang tengah malam

Perempuan Yang HIdup Tanpa Cinta

By On Juli 09, 2009
Satu malam di awal bulan juli. Bulan serupa sabit meruncing. Namun tetap bersinar penuh goda. Bintang berkerlipan penuh pesona. Angin bertiup sepoi. Memabukkan dedaunan. Semilir membelai alam. Merdu. Syahdu.

Seorang gadis berusia seperempat abad kurang setahun. Menikmati kesendiriannya pada ujung ranjang yang berbalut sprai batik berwarna coklat. Sesekali ia menyeruput air es yang dibelinya di warung sebelah. Dingin. Sejuk mengaliri kerongkongannya.

Pikirannya berkelindan. Saling beradu gemuruh dengan dentingan pukulan meja oleh lelaki-lelaki yang bermain batu di warung sebelah. Matanya melirik penunjuk waktu di layar notebooknya. Hanya kurang 43 menit pergantian tanggal baru. Tetapi kantuk yang ditunggu tak kunjung tiba. Justru lalakan matanya hampir menyerupai bulan.

Ia ingin, lelah yang kuat segera merengkuhnya dalam tidur yang damai. Ia rindu mimpi yang indah segera menarik dirinya dalam buai lelap. Tapi kelindan demi kelindan membuatnya tak bisa segera merasainya. Ia masih terduduk. Di sudut ranjang berseprai batik. Dengan tangan menari di atas keyboard. Mencoba menuliskan sesuatu. Untuk mengundang kantuk. Untuk membuang resah.

Pikirannya kembali mengulang. Pada dialog dengan seorang ibu. Pada sebuah sore yang hampir terbenam. Yang sudah menjalani kehidupan berkeluarga hampir lima belas tahun. Dan telah melahirkan beberapa orang anak dari buah cinta ia dan suaminya. Tapi benarkah cinta? Sebab tak sekalipun sampai hari ini ia mendengar suaminya melafadzkan cinta kepadanya.

Dan ia tak berani menanyakannya sebab komunikasi diantara mereka tidak terbuka. Tidak ada canda tawa, tidak ada kata-kata mesra, tidak ada waktu untuk saling mencurahkan isi hati. Semuanya berjalan begitu saja. Kaku. Beku. Sunyi. Sepi. Tanpa warna tanpa intonasi. Datar!

Tapi ia sendiri tak berani menggugat. Sebab muasal mereka menikah karena pertalian jodoh oleh masing-masing orang tua. Dan untuk itu ia harus meninggalkan lelaki kekasihnya. Untuk menikah dengan lelaki yang kemudian bergelar menjadi suaminya. Ayah dari anak-anaknya. Menantu bagi orang tuanya. Tak ada protes secara lisan. Hanya hati berontak penuh sesal. Namun tak kuasa menahan ketakberdayaan pada orang tua, jaman dan adat.

Namun perempuan itu terus berjuang. Untuk selalu berusaha mencintai dan menyetiai suaminya. Agar orang-orang menyangka bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, harmonis dan damai. Sehingga dengan itu akan mengukuhkanlah keputusan orang tua mereka dulu; bahwa mereka tak salah memilihkan suami untuk anak perempuannya.

Orang tua, tak pernah masuk ke dalam hati anaknya. Lalu berusaha mengerti dan mencari tahu apa yang dimaui oleh anak-anak mereka. Para orang tua dalam setiap kesempatan selalu berusaha mengkebiri hak anak. Untuk memilih jalur pendidikan, untuk bekerja di mana, untuk menikah dengan siapa.

Gadis itu menerawang. Matanya menjelajah setiap jengkal sudut kamarnya. Langit-langit seperti memberinya penegasan bahwa hidup ini memang kumpulan dari keputusan-keputusan. Namun terlalu sering keputusan yang salah mendominasi si pembuat keputusan.

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email