Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 29 Desember 2010

Menanti Januari

By On Desember 29, 2010
sore ini, ketika aku melewati jalanan yang biasa aku teringat pada sesuatu. Bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menghadirkanmu setiap kali aku merinduimu. dan aku bersyukur karena panca inderaku masih begitu peka terhadap pesan-pesan yang dikirim dengan isyarat apapun.

seperti hari ini, aku teringat bahwa desember sebentar lagi akan berakhir dan kita bersiap-siap menyambut januari. bulan-bulan yang tergabung dalam kumparan tahun selama ini adalah akumulasi dari cinta dan rindu yang tercipta, akumulasi dari kesabaran menahan semua gejolak dan rasa, akumulasi dari seluruh ruang jiwa yang sering melakukan pencarian.

dan semoga saja januari ini mampu memberi jawaban atas segala pertanyaan yang sering dilontarkan oleh hati selama ini. bahwa semuanya akan baik-baik saja, seperti yang pernah kau katakan untuk meneguhkan hatiku. aku percaya bahwa akan ada ritme lain yang bergetar sesuai dengan irama alam, dan kita harus menyesuaikan diri dengan ritme tersebut. semuanya adalah cerita tentang desau angin, tetapi desau dari ribuan butir pasir yang diterbangkan angin akan sangat berbeda dengan gemerisik air laut yang menghalau butiran pantai.

adalah sama-sama menyaksikan, bahwa kita saling bertumbuh untuk meneguhkan, saling bertumbuh untuk membuktikan, bahwa kita cukup berarti. bahwa kedewasaan....terlalu berharga untuk disandingkan dengan ego dan emosi negatif. itu yang membuat kita bertahan, membuatku yakin, membuatku percaya, bahwa engkau adalah yang paling berarti dan indah dari apapun yang pernah kutemui dalam hidupku. bahwa engkau adalah separuh yang mengalir dalam hidupku.

Maka, menanti januari tahun ini begitu menakjubkan, begitu menggairahkan, begitu mempesona, sebab Tuhan selalu punya cara untuk menghadirkanmu setiap kali aku merinduimu.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Untukmu & Untuk Tuhan

By On Oktober 09, 2010

Di manapun kamu, bagaimanapun kabarmu, aku hanya bisa berharap dan berdoa supaya kamu selalu dilindungi oleh Allah dan selalu diberikan kesehatan.dan aku berharap kamu bisa dan sempat membaca catatan kecil ini. Tulisan ini kubuat bukan sebagai sapaan basa-basi hanya untuk mencari perhatian dari siapapun. Perhatian, sekecil apapun bentuknya, bagi kita mungkin telah kehilangan makna.

Catatan ini kubuat juga bukan untuk menceritakan perasaaan rindu dan kehilangan yang bertubi-tubi, rindu itu seperti mata air yang terus menerus mengeluarkan air sekalipun tidak ada seorangpun yang mengetahui atau mengambil air itu. Air itu akan tetap mengalir dan terus mengalir, begitu juga rindu, ia akan terus ada dan akan selalu ada. Walaupun kamu tidak pernah merasakan (atau pura-pura tidak tahu) kalau aku selalu menyimpan rindu yang besar dan banyak untukmu.

Satu hal yang sering aku lupa bahwa kita dipertemukan oleh perbedaan, artinya sekuat apapun aku berusaha membuat persamaan, kita tetap berbeda. Dan perbedaan itu lambat laun membuat sekat di antara kita, dengan sendirinya dan tanpa pesan apapun.

Isyarat yang tanpa penjelasan itu kadang terbaca dalam diam, melalui perubahan sikap, kemiskinan kata-kata, dam salam sapa yang kian menyusut dan aus. Memang, ada saatnya kayu menjadi api, terbakar menyala-nyala, panas dan menjadi bara, lalu padam dan menjadi arang. Mungkin sekarang kita telah menjadi arang. Atau mungkin sumbu cinta yang kita punya terlalu pendek, hingga begitu cepatnya padam. Atau mungkin sebentar lagi segala cerita tentang kita akan menjadi abu, diterbangkan angin dan sama sekali tidak meninggalkan bekas.

Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin terlalu panjang untuk disebut sebagai catatan. Tapi sebagai sebuah kisah ini amatlah sangat pendek. Hanya di sini aku punya kesempatan untuk bicara, mengeluarkan isi hati dan pikiran, walaupun aku sendiri tidak begitu yakin apakah kamu akan membacanya. Tapi paling tidak hati menjadi lega dan semua beban hati berkurang. Memang, kadang-kadang kepadatan rutinitas dan kesibukan seringkali menjadi alasan yang kuat dan jitu. Begitu klise. Tetapi realitanya banyak kisah-kisah klise yang berdampak sangat signifikan dalam kehidupan seseorang. Tetapi bukanlah ke-klise-annya yang mesti disalahkan, tapi sikap dalam membuat keputusan dan pilihan.

Banyak yang aku ingin tanyakan, banyak yang ingin aku diskusikan denganmu, tepatnya aku ingin mendengar suara dan tawamu dengan jeda yang lebih lama dan panjang. Tak lebih. Tapi itu bukan kebutuhan mendesak, artinya kalaupun tidak terjadi ya tidak apa-apa. (aku mulai terbiasa dengan kebohongan perasaan). Toh, masih banyak suara-suara lain yang bisa didengar, ada suara angin yang selalu riuh, suara burung, suara binatang malam hingga suara detak jantung dan denyut nadiku sendiri. Hanya saja, mereka semua bukan kamu.

Mungkin aku akan patah hati, walau tidak bisa disembuhkan tapi aku yakin tidak terlalu menyakitkan dan tidak akan merugikan orang lain, karena bagiku ditinggalkan jauh lebih terhormat daripada meninggalkan. Setidaknya ini lebih baik daripada bersembunyi di balik kepura-puraan. Pura-pura dicintai, pura-pura disayangi, pura-pura punya orang yang peduli terhadapku, padahal semuanya bohong. Kamuflase. Setidaknya dengan seperti ini aku terlepas dari tipuan-tipuan, tipuan kata maupun tipuan perasaan.

Tapi percayalah, rasa hormat untukmu tidak akan pernah berkurang, artinya, bagiku tidak ada bekas orang yang dihormati, rasa hormat terhadapmu akan selalu ada, karena kamu orang yang pintar, baik, bijaksana, cerdas dan juga kaya. Perpaduan yang cukup sempurna bagi seorang laki-laki yang akan membuat perempuan manapun jatuh cinta. Seperti aku jatuh cinta padamu. Tapi kadang-kadang kepintaran juga dapat membawa seseorang pada kelicikan.

Dan rasa syukur selalu kepada Tuhan karena pernah mengirim seseorang seperti kamu dalam hidupku, diberi kesempatan jatuh cinta dan mencintai, diberi kesempatan melihat manik matamu, diberi kesempatan menyentuh dan mencium pipimu, diberi kesempatan untuk membelai rambutmu. Mata yang sampai hari ini masih membuatku tergila-gila. Mata yang memancarkan binar dan kemudaan sekalipun usiamu tidak lagi muda. Mata yang....selalu tersebar di mana-mana. Mata yang selalu membuat rindu.

Semua itu anugerah, anugerah yang melahirkan energi positif dan begitu berarti dalam hidupku. Energi yang membuatku bisa bertumbuh dan terus bertumbuh. Agar aku bisa menjadi lebih baik dari orang-orang di sekelilingku, energi yang bisa membuatku terus mengimprovisasi diri, seperti yang pernah kamu tulis dalam surat panjang untukku, beberapa tahun yang lalu, kamu masih ingat? Saat di antara kita masih belum ada rasa cinta, saat sayang yang tercipta di antara kita adalah rasa sayang dari seorang kakak untuk adiknya, dan adik untuk kakaknya. Namun, ketika pelan-pelan rasa itu berubah menjadi cinta dan rindu yang tidak biasa, kita juga tidak dapat menyalahkan siapapun, sebab masih seperti yang kamu bilang, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Lalu, ketika rasa itu tidak mau pergi, kita juga tidak tahu mau menyalahkan siapa. Sebab kemungkinan-kemungkinan yang ada telah menjadi perekat perasaan.

Aku juga masih ingat, kamu bilang orang yang selalu terbuka adalah orang yang terus ingin maju. Dan aku ingin seperti itu; dengan atau tanpa kamu.

Besok aku pindah dari rumah ini, rumah yang telah aku tempati selama delapan tahun lebih, tiga tahun seorang diri dan lima tahun lebih bersama kamu, jasadmu memang tidak pernah hadir di sana, tapi bayanganmu selalu hadir dalam keseharianku, menempel di langit-langit yang selalu bisa kupandangi saat aku tidur, menemani kesendirianku, menghibur gundah dan menepis sepi, bayangan yang selalu muncul di dinding kamar seperti reinkarnasi yang bisa disentuh, dipandangi dan dicandai. Kita telah hidup bersama, pada saat aku mulai mengikrarkan bahwa aku telah menikahkan jiwaku denganmu. Apakah kita bercerai? Tidak. Aku hanya melepaskan jasadmu, dan bukan jiwamu yang telah tumbuh dalam diriku. Apakah ini berlebihan? Mungkin iya bagimu, tadi tidak bagiku, karena bagiku hati hanya memilih sekali dan itu tidak pernah salah. Sekalipun jasad sering menterjemahkannya secara berbeda.

Di kamar ini suaramu selalu menggema melebur bersama angin, suara yang menenangkan saat gundah mendera diri, suara yang meninabobokan saat kantuk mulai menyerang, dan suara yang selalu hadir saat tawa-tawa kita mencari muaranya. Suara yang...seringkali mengusik adrenalin dan memerindingkan bulu kuduk.

Apakah dengan pindah dari rumah itu akan menghapus semua kenangan tentang kamu? Juga tidak. Batu yang dipahat tidak akan pernah terhapus oleh keadaan. Tapi dengan meninggalkan rumah itu setidaknya aku bisa memberi gradasi warna yang berbeda pada kehidupan setelah itu. Dinding hati ini terlalu banyak dihiasi dengan pigura2 tentang kamu, di rumah baru nanti aku akan berusaha untuk tidak menambahnya (karena menguranginya akan membutuhkan energi yang besar, dan luka yang sangat panjang). Di rumah baru nanti aku akan punya sedikit sekali waktu untuk mengenang semua kenangan kita, dan aku hanya punya sedikit waktu untuk berfikir tentang kesedihan, luka, kecewa dan apapun namanya.

Apakah ini ucapan selamat tinggal atau salam perpisahan? Mungkin iya mungkin juga tidak. Bila menuruti hati selamanya aku ingin bersamamu, seperti yang selalu kukatakan padamu, aku ingin hidup denganmu, punya anak-anak darimu, berharap suatu saat bisa memotong kuku-kukumu yang panjang, atau apapun juga...

Tapi memang realita seringkali berlawanan dengan apa yang diharapkan, kalaupun ini akan menjadi realita, itu akan menjadi potongan kisah tersendiri dalam hidupku. Bahwa kelak, ketika mimpi-mimpiku menjadi nyata, ketika ada sesuatu yang berubah, kamu akan menjadi orang pertama yang aku terimakasihi, karena kamu sempat memberikan cinta untukku. Dan karena cinta itu telah memberikan inspirasi yang besar bagiku untuk berubah.

Terakhir, aku ingin berdialog dengan Tuhan, agar Tuhan menyampaikan kalimat-kalimat ini untukmu.

Tuhan, terimakasih telah kirimkan dia dalam hidupku, kalau boleh jujur, hanya dengan dia aku mengerti tentang hakikat cinta yang sebenarnya, hanya dengan dia aku belajar tentang apa artinya ketulusan dan memberi, sesuatu yang berlaku tanpa syarat dan tanpa pamrih. Hanya dengan dia aku belajar tentang menerima keadaan dengan ikhlas, dan hanya dengan dia aku belajar berdamai dengan diri sendiri. Dengan dia aku belajar menahan gejolak dan amarah, dengan dia...aku mengerti bahwa cinta itu sesuatu yang luar biasa dan menakjubkan. Dan karena dia pula aku paham betul tentang arti kata rahasia.

Tuhan, hanya dengan dia aku merasa menjadi perempuan seutuhnya, menyebut namanya saja sudah mengalirkan energi listrik yang menjalari seluruh urat-urat syaraf, mengusik adrenalin dan membuat tubuh bergetar.

Dengan dia, sisi lain keperempuananku terasah, aku merasa telah menjadi ibu yang menyaksikan anak-anakku bertumbuh, anak yang tdak bisa kupeluk, kusentuh atau kutatap matanya. Tapi aku mencintai dan menyayangi mereka dengan sangat. Dan aku rindu memeluk salah satu di antara mereka.

Tuhan, karena dia aku berani menjalani hidup, dan karena dia aku relakan katup hatiku tertutup untuk nama-nama yang lain, karena setelah namanya tak ada inisial lain. Dan, kalaupun Engkau berkehendak lain, itu akan tetap kujalani sebagai salah satu kisah tersendiri yang mungkin akan menjadi pelengkap hidupku. Tuhan, hatiku adalah lautan terdalam yang menyimpan banyak rahasia tentang dia, tentang lelaki yang sangat luar biasa yang pantas dan layak dicintai. Yang sering menjadi tanda tanya tentang siapa dan bagaimana dia. Dan jawaban-jawaban itu tak lebih dari sepotong senyum yang tidak memberikan penjelasan apapun.

Tuhan, aku pernah menangis di hadapan perempuan yang sangat kucintai; ibuku. Seingatku, aku jarang sekali menangis tetapi sekali dalam hidupku aku pernah menangis di hadapannya hanya untuk dia, dengan suara yang patah aku menceritakan tentang perasaan dan gemuruh hatiku yang saat itu sedang berkecamuk menahaan rindu untuknya. Dan itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan, maksudku, cinta kadang-kadang sering membawa kita pada kebodohan.

Tuhan, sampaikan salam rinduku untuknya, katakan bahwa cinta ini akan selalu ada, sejak dulu, sekarang dan esok. Tuhan, dia adalah lelaki bukan suamiku yang akan selalu menjelma sebagai apapun, sebagai bulan, matahari, angin, senja, malam,sebagai lautan yang akan selalu bergemuruh, di sini, di hatiku.

Tuhan, tolong pejamkan mataku, agar aku bisa meraba wajahnya, menyentuh matanya, menarik sketsa alisnya, menyentuh bibirnya, merasakan hangat nafasnya dan mendengar detak jantungnya. Tuhan, aku ingin menciumnya sekali lagi, dan setelah itu semuanya akan usai.

Bye

with love

Aku 

---------------------------

on Saturday, 09.10.10

10.02 pm

*(Kepada seorang sahabat; belajarlah dari keadaan yang akan mendewasakan, dewasa itu indah dan menakjubkan)

Minggu, 26 September 2010

Happy Milad; My beloved Z

By On September 26, 2010
-->
Sebab selalu ada cinta bagi lelaki yang berulang tahun di hari ini, sebab selalu ada kasih dari hari-hari yang terlalui sebelum dan sesudah tanggal ini, sebab aku cinta maka aku mengingatnya untukmu, melekatkannya dalam jejaring benak dan tak ada masa waktu yang bisa mengelupaskannya.

Karena bagiku lelaki hebat adalah lelaki sederhana yang mampu membuatku bergetar dan terpesona setiap kali mengingat namanya; dan itu hanya namamu. Nama yang tergrafir rapi dengan tinta ingat dan menjadi sumber inspirasi. Nama yang bisa menyemangati meskipun pemilik namanya entah ada di mana. Karena di balik nama itu mengalir di dalamnya ruh dari jiwamu yang layak dan patut dicintai dan dihormati sepenuh hati.

Tidak ada antara dalam mencintaimu, karena perantaraan hanya membawa pada ketidak sampaian. Dan ketikdaksampaian merupakan lolongan panjang serigala malam yang ingin menggapai purnama. Tidak ada antara yang utuh. Maka kupilih mencintaimu dengan caraku; cara paling sederhana yang tidak membutuhkan syarat apapun.

Maka bersiaplah untuk menikmati hari-hari selanjutnya, hari-hari penuh anugerah dan hadiah, hari-hari penuh kejutan dan warna. Karena keinginanku untuk mencintaimu hanya satu; selalu bisa mengingat bahwa hari ini kau berulang tahun.

Happy milad Dear… sebab selalu ada cinta untukmu, di sini, di hatiku, sebab cinta hadirkan rindu, sebab rindu adalah sesuatu yang luar biasa, yang bergumul dan meletup-letup dalam jiwa, yang mampu meluruhkan emosi dan amarah hati, yang mampu kesampingkan ego dan hasrat, yang mampu membenamkan dendam dan kepongahan. Sebab cinta adalah ketulusan yang mengandung keikhlasan, dan keikhlasan melahirkan kebesaran jiwa. Dan kebesaran jiwa mengejawantahkan semua kelelahan karena harus mengurai kata melerai makna setiap tahun di tanggal yang sama hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu.

Happy milad
My beloved Z
26 September 2010
Ihan

Kau, yang diapit dua pohon selaksa Malaikat

By On September 26, 2010
Mungkin itu memang kamu, yang dikirimkan Tuhan dengan cara berbeda. Bukankah selama ini aku meminta agar Tuhan mempertemukanmu denganku? Dan bila kemudian kau hadir di selaput kabut yang basah dan dingin, di antara rintik asap dan rinai hujan yang basah dan lembab, sebasah dan selembab hatiku saat menunggumu datang. Itu adalah anugerah dari sebuah pengecualian.

Kau yang diapit dua pohon selaksa malaikat. Mungkin adalah sebuah pertanda bahwa engkau memang harus dijaga agar selamanya ada. Agar selamanya tumbuh, agar selamanya hidup, di sini; di hatiku. Untuk diingat, untuk dikenang, untuk dijadikan sejarah; untuk dituliskan. Semua kisah tentangmu.

Kau yang berada di antara jalan setapak yang panjang dan lurus, dalam samar pagi dan keliaran rumput ilalang. Seperti meliuk-liuk mengikuti harmoni alam yang gemulai dan menggairahkan. Kau yang terlihat seperti menyatu dengan awan-awan segar, seperti hendak terbang ke nirwana. Menemui Tuhan, lalu meminta ijin untuk bisa kembali ke hadapanku.

25-09-2010
10.53 am
di dedikasikan kepada Mas Recky Christian

Rabu, 01 September 2010

Rindu dan Ingatan

By On September 01, 2010
Mungkin aku bisa bersabar dari apapun, tapi aku tidak bisa bersabar dari rindu terhadapmu. Bahkan mungkin aku bisa alpa dalam banyak hal tapi aku tidak pernah alpa mengingatmu.

Memang, rindu dan ingatan itu sendiri tidaklah seperti mercusuar yang menjulang tinggi dengan cahaya yang berpijar. Berdiri gagah melanglang mayapada dan melahirkan decak kagum. Tidak pula seperti puncak gunung mahatinggi yang diselimuti salju yang putih dan dingin. Yang menghipnotis manusia untuk datang mengunjunginya. Sungguh, rindu dan ingatan ini bukan seperti lautan mahaluas yang penuh dengan riak dan gelombang yang serasi. Yang mampu menyedot ribuan bahkan jutaan manusia untuk mendataginya saban hari. Persis seperti gaya gravitasi yang tidak dapat ditentang.

Rindu dan ingatan ini nyaris seperti debu yang beterbangan dan menempel di dahan-dahan kecil, yang tak terlihat dan tak mampu terjamah. Tak berharga dan seringkali dianggap tak berarti. Tetapi suatu waktu hanya debu itu yang bisa menggantikan diri untuk bersuci.

Rindu dan ingatan ini hanya serupa magma yang meletup-letup di dalam perut bumi, tak ada yang mengetahui wujudnya, tak ada yang bisa memprediksi suhunya, tak ada yang mau mengerti bagaimana ia bisa ada. Hingga seringkali menimbulkan keraguan benarkah ia ada? Benarkah dapat dipercaya? Tetapi ia terus ada dan terus meletup; di dalam jiwa dan hatiku.

Rindu dan ingatan ini hanya seumpama lentera kecil yang mengapung di luasnya laut dan di dalamnya lembah, sunyi dan sepi, tapi ia akan terus menyala dengan sumbu dari pijar kerinduan yang berasal dari dirimu.

bilik hati, 30 agt 2010
11.10 pm

Senin, 02 Agustus 2010

Pada buku bersampul Violet

By On Agustus 02, 2010
Di buku-buku yang terserak aku menemukan obat bagi sakitku. Gelisah yang bertubi-tubi merajam diri di setiap malam menjelang. Lalu pada bait-baitnya yang begitu teratur, aku menemukan sejumput penawar bagi bisa yang tercipta begitu saja. Bisa yang kadang menjelma menjadi racun namun di lain waktu berbeda menjelma menjadi penyembuh.

Sakit yang seringkali aku ingin melepasnya dan berharap semuanya menjadi terbiasa, tapi dari kalimat-kalimat panjang sang legenda aku menemukan arti dari sakit itu sendiri. Sakit adalah kenikmatan untuk kehidupan selanjutnya. Sakit tak harus dihindari, sakit jangan diharapkan menjadi kekebalan agar kita terbiasa, tapi rasakanlah kesakitan itu, nikmatilah setiap potongannya, sambil terus mencari jalan untuk keluar darinya. Kelak ketika kita dewasa, sakit itu akan menjadi kenangan.

Di lembaran-lembarannya aku mulai memahami bahwa tuntutan hanya akan menimbulkan kesakitan, maka bersabarlah, memberilah, jangan pernah meminta, pemberian adalah cermin kebesaran jiwa, mengerti adalah cermin keikhlasan, maka, aku memutuskan untuk memengerti dan memberi saja.

Pada buku bersampul violet....aku menemukan bahwa cinta adalah memberi untuk mengasihi.

Selasa, 13 Juli 2010

Kepada Tuhan Kamu Kutitipkan

By On Juli 13, 2010
Hanya kepada Tuhan saja aku berani menitipkanmu, karena aku hanya percaya kepada Tuhan. Mata Tuhan tersebar di mana-mana, itulah yang membuatku yakin dan tenang bila kamu bersama Tuhan. Telinga Tuhan bertebaran di seluruh penjuru mata angin, itu lah yang membuatku tak was-was bila kamu bersama Nya. Dan hanya bila bersama Tuhan, kamu akan selalu terjaga dan terlindungi.

Kalimat-kalimat yang terus terngiang di sepanjang tidurku semalam, sampai aku terlelap, dan kata-kata yang mengapung dalam benak tak sempat terkirim dalam saku hatimu. Sejenak setelah kita mabuk dalam cerita yang panjang, aku takluk dalam kantuk panjang yang mengatupkan mata. Hingga kemudian aku terjaga ketika kau kembali hadir dalam ruang imajinasiku yang kusebut sebagai mimpi. Di sepertiga malam yang begitu tenang dan senyap.

Ini akhir yang sepi, jeda yang panjang akan melemaskan seluruh otot jiwa dan hati. Semua rahasia hanya terjamin bila aku mengaduh kepada Tuhan. Maka, hanya kepada Tuhan kupercayakan untuk menjagamu. Semoga kita bertemu di satu sudut garis di mana jarak dan waktu bukan masalah. Di mana kesabaran dan penantian akan menjadi delta terakhir bagi pengharapan. Di saat aku bisa menyentuh pipi dan bibirmu dengan pipi dan bibirku dengan takzim. Itulah saat di mana alam menyibak seluruh tabir yang selama ini menyelubungi dirinya.

karena kamu adalah candu yang menyembuhkan segala bentuk sakit dan nyeri.


Ihan Sunrise
____________
13.07.2010
14.53 pm

Jumat, 09 Juli 2010

Belajar dari Yusuf

By On Juli 09, 2010
Bila Tuhan mentakdirkanku menjadi Yusuf Subrata dan kamu ditakdirkan menjadi Cut Tari, sunguh, aku belum tentu sanggup menerima kenyataan seberat itu. Tapi Tuhan memang seorang pembuat skenario yang baik, dan Dia tak pernah salah dalam memutuskan siapa akan memerankan sebagai apa. Karena itu aku ditakdirkan menjadi I dan kamu ditakdirkan menjadi Z. Seperti katamu, setiap jarak yang tercipta sepanjang I dan Z adalah rangkaian kerinduan yang mempermudah kita memperoleh cinta. Kita mempunyai peran masing-masing.

Aku mencoba belajar dari kesabaran dan kebijaksanaan yang berhasil diciptakan oleh seorang Yusuf, meski kesalahan yang pernah kamu atau aku lakukan tidak separah yang dilakukan oleh Cut Tari. Apapun jenisnya, tetap saja kita pernah melakukan kesalahan. Sekecil apapun, kesalahan itu tetap akan melukai hati dan perasaan kita. Aku dan kamu.

Aku belajar tentang totalitas dalam mencintai, seperti cinta Yusuf kepada Cut Tari, bahwa cinta adalah kita ada untuk orang yang kita cintai di saat orang lain menjauh, kita ada di sampingnya di saat dia butuh tempat untuk bersandar pada saat orang lain mencibir, bahwa cinta, adalah kita selamanya ada di sisinya, saat orang lain tak bisa lagi menemukan sesuatu yang layak dan patut untuk dicintai pada seseorang karena perubahan fisiknya, tetapi kita mampu melihat dengan jiwa dan hati bahwa dia adalah pangeran atau bidadari yang selamanya patut untuk dicintai dalam kondisi apapun. Seperti itulah aku ingin mencintaimu.

Cinta adalah mampu memaafkan, cinta adalah mampu mendengar dengan segenap kelapangan hati dan panca indra. Cinta adalah gabungan komunikasi lahir dan batin yang begitu sakral.

Tapi cinta sama sekali tak pernah mengajarkan pengkhianatan. Karena cinta mengajarkan tentang kehormatan dan menghormati. Karena itulah aku menghormatimu, sebab aku cinta!

Ihan Sunrise
________________

09-07-2010
09:28 PM

Selasa, 29 Juni 2010

Lentera yang Lahir dari Rahim Nama

By On Juni 29, 2010
Memang hanya selalu diam yang tercipta setiap kali waktu mengantarkan kita pada keadaan bernama pertemuan. Dan memang hanya itu yang diinginkan keadaan pada waktu itu. Sebab diam selalu memberi keleluasaan untukku menikmati wangi parfummu. Hanya diam yang mampu menenggelamkanku dalam balutan imajinasi yang menggebu. Dan hanya diam yang membuatku kenyang menatap manik matamu.

Dan bibir, menarik segaris senyuman untuk menterjemahkan pergumulan rasa. Kita hanya butuh diam. Sebab keadaan bernama pertemuan tidak membutuhkan celoteh riang. Karena kata hanya dibutuhkan ketika jasad sedang berjeda. Bahasa tubuh kita tidak memerlukan rayuan seperti yang selalu dikirimkan langit kepada alam. Karena jiwa kita mempunyai bahasa sendiri untuk saling mengerti. Semuanya dalam diam!

Kesakralan tercipta dalam diam. Seperti prosesi ijab qalbu yang telah kuikrarkan sejak bertahun-tahun silam. Saat aku melamar hatimu untuk hidupku. Sebelum rahim namamu melahirkan geletar yang terus tumbuh dan hidup. Dan ia berubah menjadi pijar serupa lentera. Dengan itulah aku melihat masa depanku. Dengan lentera yang lahir dari rahim namamu.

Dan bukanlah sesuatu yang berlebihan bila aku mengatakan: aku bangga menjadi seseorang yang berarti di hatimu.

Ihan Sunrise
__________________
Senin, 28.06.2010, 11.38 pm

Rabu, 16 Juni 2010

Aku Lelah Memanggilmu Cutbang

By On Juni 16, 2010
Entahlah. Sejak pertama kali melihatmu aku merasa bahwa kita akan menjadi dekat. Dan ketika kita semakin sering bertemu aku bertambah yakin kalau kamu adalah jodohku. Tapi saat itu belum ada rasa cinta untukmu. Hanya sebatas rasa suka dan kagum. Kekaguman yang memaksaku untuk bersikap dingin terhadapmu.

Kita jarang bertukar sapa. Kecuali jika memang sangat-sangat kepepet seperti saat berpapasan di pintu masuk atau ada keperluan lainnya yang tak dapat didelegasikan. Kaupun, sepertinya memang tak begitu menganggapku penting. Aku menduga-duga saja karena sebagai ketua kelas kau jarang sekali meminta bantuanku yang waktu itu kebetulan menjadi sekretaris kelas. Tapi aku senang, kecanggungan yang tercipta di antara kita membuatku terbebas dari berbagai kesibukan sekolah. Dan aku bisa fokus sepenuhnya pada pelajaran.

Itu cerita belasan tahun silam. Saat kau dan aku masih duduk di bangku sekolah menengah ekonomi atas. Kupikir cerita tentang rasa kagum itu akan hilang begitu saja setelah kita menamatkan sekolah. Rupanya tidak karena kita berdua masih harus bertemu lagi. Kita berdua mendapat undangan khusus masuk salah satu Universitas favorit di negeri ini.

Kita. Aku dan kamu yang tadinya jarang bertegur sapa kini mendadak menjadi akrab. Apalagi saat-saat terakhir di sekolah. Banyak hal yang menyangkut dengan kelanjutan pendidikan kita, kita urus berdua. Seperti menyusun jadwal keberangkatan ke Jogja bersama, persiapan untuk mendaftar ulang, mencari rumah kost dan lain sebagainya.

Singkatnya, kita memilih jalan darat untuk bisa sampai ke Jogja. Dan untuk itu kita harus rela menempuh perjalanan yang berhari-hari dan tentu saja melelahkan. Tapi sangat menyenangkan. Karena kita mengisi seluruh waktu dalam perjalanan untuk bertukar cerita. Dengan sendirinya rasa canggung itu menguap bersama angin kering di dalam bus.

“Boleh aku memanggilmu Cut Bang?” tanyaku ketika kita telah melewati waktu seharian di dalam bus.

“Kenapa?” kau tampak heran.

Kenapa? Akupun tak terlalu paham mengapa harus demikian. Tapi, seketika aku teringat cerita Mak bertahun-tahun yang lalu. Panggilan Cut Bang seorang perempuan kepada seorang lelaki katanya adalah wujud cinta kasih yang dalam dan besar. Rasa hormat yang dipadukan dengan keikhlasan dan ketulusan untuk menyayangi. Begitu kata Mak. Kebudayaan dalam masyarakat Aceh memang begitu, seorang suami diperlakukan sangat istimewa dan cenderung sangat di dewakan.

“Hai kenapa bengong?” sentakmu.

Ah! Aku terkejut sekaligus bingung. Akan kujelaskan bagaimana? Rasanya tak mungkin menjelaskan sedetil itu terhadapmu tentang perasaanku yang sesungguhnya. Benar rasa kagum itu telah tumbuh menjadi cinta. Benar rasa cinta itu melahirkan rasa sayang dan benar rasa sayang itu telah menyuruhku untuk bersikap hormat dan menyangjungmu. Tapi aku perempuan. Tak boleh terlalu mengumbar perasaan.

“Karena kamu orang Aceh. Maksudku lelaki Aceh.” Jawabku sekenanya.

“Iya, tapi mengapa harus Cut Bang, kan bisa saja kamu memanggilku Bang atau Abang. Atau jika kamu memanggilku nama saja aku tidak keberatan. Setiawan! Apalagi kita sebaya, selisih umurku dengan umurmu cuma setahun.” Pungkasmu seperti keberatan.

Kau tak mengerti. Batinku.

“Karena kita akan merantau. Panggilan seperti itu setidaknya akan sedikit mengurangi rasa kangenku pada kampung halaman.” Jawabku mengelak.

Kubuang pandanganku ke luar kaca. Pohon-pohon sawit tampak berjajar di sepanjang jalan. Satu dua orang pekerja terlihat tengah memetik buah-buah bersuku palm tersebut. Tandan-tandannya terlihat merah dan ranum. Dan ini pertanda kita telah sampai diperbatasan antara Aceh dan Medan.

“Terserah kamu.” Jawabmu akhirnya. Kita tertawa. Perjalanan itu terasa begitu menyanangkan.

Dan sejak saat itu sampai hari ini aku terus memanggilmu Cut Bang. Sampai kita menjadi suami istri. Aku tak ingat lagi bagaimana awalnya hingga kita menjadi sangat dekat. Seingatku selama di perantauan kita tak pernah membuat komitmen apapun. Yang aku tahu setahun setelah kita kembali ke Banda Aceh orang tuamu datang melamarku untuk menjadi istrimu.

Hari itu aku merasa bahwa dunia benar-benar milikku. Hidupku terlampau indah untuk diceritakan. Menikah denganmu adalah impian terbesar yang telah kupendam selama bertahun-tahun lalu. Bukankah mukjizat namanya jika kemudian kita benar-benar duduk bersanding di pelaminan?

“Panggil aku Cut Dek.” Pintaku di malam pertama pernikahan kita.

“Mengapa harus itu?” tanyamu pendek.

Mengapa? Aku kembali teringat pada cerita Mak belasan tahun yang lalu. Bahwa seorang suami yang memanggil istrinya Cut Dek berarti ia benar-benar mencintainya. Cut Dek adalah panggilan sakral yang begitu diidam-idamkan oleh setiap perempuan. Maka tak salah bila aku meminta suamiku memanggilku begitu. Bukankah ia mencintaiku?

“Karena aku istrimu, Cut Bang.” Jawabku serius sambil memandangnya mesra.

“Sayang, aku lebih nyaman bila hanya memanggil namamu saja; Sarah. Terdengar lebih mesra dan romantis.” Jawabmu.

“Tapi aku ingin kau memanggilku Cut Dek.”

Begitulah, kita nyaris bertengkar di malam itu hanya gara-gara soal panggilan. Pun begitu suamiku tetap memanggilku Sarah bukan Cut Dek seperti yang aku inginkan. Aku mengalah. Tak ingin merusak suasana bahagia yang sedang melingkupi kami.

***

Hidup terlampau singkat untuk dinikmati, pun dengan pernikahan kami. Tak terasa hampir berjalan dua tahun kami berumah tangga. Semuanya begitu menyanangkan, kami punya karir yang bagus di dunia perbankan. Orang tua kami sangat bangga dengan apa yang kami capai dan kerap membangga-banggakan kami di depan teman maupun kerabatnya. Satu-satunya yang membuat kebahagiaan itu kurang lengkap adalah belum hadirnya anak di antara kami. Tapi lagi-lagi aku merasa beruntung sebab suamiku tak pernah menuntut agar aku segera mempunyai anak.

Tapi rupanya kebahagiaan ini tak berlangsung lama. Pelan-pelan keharmonisan seperti menyusut di antara kami. Aku merasa kembali ke masa-masa SMEA dulu. Kami mulai jarang berdiskusi. Suamiku terasa semakin jauh dan sibuk dengan dunianya. Kami jarang makan bersama. Kesibukan seperti menyerobot waktu yang kami punyai.

Entah sejak kapan aku mulai merasakan perubahan dalam diri suamiku. Tiap kali aku mengajaknya berbicara ia selalu menghindar. Kalaupun kebetulan kami makan bersama semuanya terasa biasa dan hambar. Tak ada pembicaraan yang hangat seperti waktu-waktu dulu. Satu-satunya yang masih bisa membuat kami bersama-sama hanyalah ketika di tempat tidur.

“Cut Bang?” panggilku suatu pagi, saat kami sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia tak menjawab hanya melenguh saja dan memandangku acuh.

“Aku ingin makan di luar nanti malam, pulanglah agak cepat kalau bisa.”

“Kerjaan di kantor masih banyak, lain kali saja. Atau kalau kamu mau makan sendiri silahkan.” Jawabmu kaku.

Ah. Hatiku sakit sekali mendengar jawaban seperti itu. Aku tidak keberatan kalau ia tak mau tapi jawabannya yang menyuruhku pergi sendiri itu yang tak kuterima.

“Aku mau makan bersama dengan Cut Bang, kalau sendiri di rumah juga bisa.” Jawabku lagi.

“Sarah!” ia memandangku tajam. Biji matanya berkilat-kilat. Sesuatu yang tak pernah kulihat sepanjang aku mengenalnya. “ Aku ini suamimu, kau harus dengar apa yang aku katakan, kubilang lain kali ya lain kali.” Ucapnya setengah menghardik.

Aku tak menjawab lagi. Tak ada gunanya meneruskan debat kusir yang hanya akan memperuncing masalah saja. Mungkin dengan segera berangkat kerja pikiranku bisa menjadi lebih tenang. Selama ini hanya ruangan kerjalah yang selalu menjadi tempat bagiku untuk menenangkan diri bila ada selisih paham di antara kami.

Rupanya tidak untuk hari ini, hingga hari menjelang petang seluruh aktivitas pekerjaan tidak membuat sakit hatiku sembuh. Yang ada justru malah perasaan tertekan dan nyeri berkepanjangan bila mengingat rumah.

Aku tak ingin melihat wajah suamiku, tak ingin mendapat tatapan dingin dari pandangannya yang tajam. Aku tak terima dengan sikapnya yang sering mendiamiku tanpa sebab.

Maka aku memutuskan untuk mengelilingi kota setelah menyelesaikan tiga rakaat magrib di Mushola kantor. Memasuki butik-butik langgananku, memasuki toko aksesoris, mengunjungi toko buku dan terakhir memasuki rumah makan vegetarian yang terkenal itu.

Tak ada firasat apapun saat aku memasuki ruangan yang dingin dan bersih ini. Bahkan saat kakiku melangkah naik ke lantai dua didampingi oleh pelayan yang ramah sambil membawakan daftar menupun, aku masih tak punya firasat apa-apa tentang sesuatu. Hingga sampai aku duduk di pojok ruangan dekat akuarium yang besar.

Namun saat aku sedang asyik memilih-milih menu suara lengkingan perempuan membuatku terusik. Aku menoleh, mencari arah suara tadi. Ia tampak melambai-lambaikan tangannya memanggil pelayan. Aku terhenyak, bukan karena sikap perempuan itu yang terkesan tak peduli. Tapi pada sosok yang kulihat menemani perempuan itu.

Mereka terlihat begitu akrab, bertukar tawa dan cerita meski tak jelas apa yang mereka ceritakan. Aku menduga-duga tentu bukan masalah pekerjaan karena mereka sangat santai kelihatannya. Lelaki itu suamiku.

“Mau pesan yang mana bu?” teguran lembut si pelayan membuatku tersadar dari lamunan singkat ini.

***

“Cut Bang?” panggilku lembut begitu suamiku pulang, tentunya setelah ia membersihkan diri dan mengganti dengan pakaian rumah yang santai. Menjelang tengah malam.

Ia tak segera menjawab. Wajahnya terlihat letih tapi jelas rona-rona bahagia terpancar di sana. Hatiku bagai teriris-iris menyaksikan itu.

“Cut Bang?” ulangku. Kutahan suaraku agar terdengar biasa. Padahal kemuncak amarah telah menggelora dalam jiwaku.

“Ya.” Jawab suamiku malas sambil naik ke tempat tidur dan menarik selimut.

Ingin aku mencekiknya untuk meluapkan kemarahanku yang tadi. Rasa sakit hati yang membuncah seketika menimbulkan rasa benci dan jijik terhadapnya.

Begitulah seterusnya, aku nyaris tak punya waktu lagi untuk berbicara dari hati ke hati dengan suamiku. Meja makan yang dulu kerap menjadi tempat favorit kami kini menjadi sepi dan masakan yang kumasak kerap berakhir di tempat sampah.

Seiring dengan itu suamiku mulai sering tugas ke luar kota karena ada promosi jabatan untuk jadi pimpinan cabang di sebuah bank swasta terkemuka. Kami jadi semakin jauh saja. Dan gap yang tercipta semakin terbentang luas. Sikapnya semakin dingin. Bila sedang di luar kota ia tak pernah menghubungiku untuk memberi kabar. Bila aku berinisiatif untuk menghubunginya maka ia akan menjawab dengan enggan, suaranya terdengar tregesa-gesa, seperti keberatan.

Pesan-pesan pendekku tak pernah dibalas. Aku sedih, kesal dan marah. Rasa cinta yang besar ternyata tak mampu membuatku bisa menerima sikap dan perlakuannya yang semena-mena. Mungkin betul seperti kata Mak belasan tahun yang lalu. Bahwasannya banyak istri-istri yang mengganti panggilan mereka terhadap suaminya karena rasa cinta yang berkurang. Tapi aku tak berharap begitu. Aku ingin selalu menjadi istri yang baik, yang tak pernah kekurangan stok cinta dan sayang untuk suamiku. Aku ingin selalu memanggilnya Cut Bang.

Dan kuharap pikiranku tak berubah sekalipun kudapati suamiku yang baru sampai dari luar kota terlihat tergesa-gesa. Mandi, ganti pakaian, ia terlihat rapi dan gagah, dan juga wangi.

“Cut Bang?”

“Ya.”

“Mau ke mana? Kan baru pulang. Apa tidak sebaiknya makan malam dulu. Aku memasak makanan kesukaanmu.”

“Nanti saja makannya, ada meeting jam delapan dengan klien. Aku pergi.”

“Cut Bang?”

Suaraku tercekat bersama angin, sebelum aku selesai berbicara suamiku telah melesat dalam gelam malam. Menemui kliennya. May!

Suamiku. Cut Bangku. Yang telah sekian lama kusimpan cinta hanya untuk dia teganya menyakiti perasaanku. Mengertilah aku sekarang mengapa ia tak pernah mau memanggilku Cut Dek. Karena ia memang tak benar-benar mencintaiku. Pahamlah aku sekarang mengapa ia tak pernah bilang cinta padaku, meski kerap kali ia berkilah bahwa cinta tak perlu pengucapan hanya pembuktian.

Ya, suamiku memang telah membuktikan semuanya. Bahwa ia tak mencintaiku. Ia hanya mencintai May. Perempuan yang kulihat malam itu di restoran. Tentu saja aku tak lupa dengannya, suaranya yang melengking, sikapnya yang manja, tawanya yang ramai dan tentu saja usianya yang terpaut beberapa tahun dengan suamiku. Mungkin itu pulalah yang membuat suamiku akhirnya memilihku untuk dijadikannya istri, karena orang tuanya tak setuju ia menikahi May yang lebih tua darinya.

Aku lelah. Kusapu bulir bening yang terus berjatuhan meski berkali-kali kuusap dengan jemariku yang lentik. Mungkin benar seperti kata Mak belasan tahun yang lalu. Bila rasa cinta sudah tidak ada, bila rasa hormat telah berkurang, dan bila keikhlasan telah menjadi bara. Tak ada gunanya lagi memanggil Cut Bang.

Aku menutup layar-layar di notebook suamiku, selama aku mengenalnya baru sekali ini aku mendapatinya ceroboh terhadap sesuatu. Kututup semuanya, juga pintu-pintu cinta yang dulu terbuka lebar untuknya.(*)


Ihan Sunrise
__________________________
_______
Banda Aceh, 27 April 2010

Dalam Gerimis

By On Juni 16, 2010
Di hujan gerimis itu, kulihat kau berjalan pelan. Matamu lurus menerjang butir-butir hujan, badanmu melayang-layang terkibas angin yang kencang. Sementara langit yang merah kian menenggelamkanmu dalam silau yang panjang. Kau tersaruk-saruk dalam desau angin yang liar.

Aku menyusurimu di belahan jalan yang lain, mengamatimu, mengikuti gerakmu yang mistis, menyeimbangkan diri dengan liukan angin yang begitu nakal. Aku ikut tersaruk, dalam desau angin, ikut tenggelam dalam silau yang dahsyat.

Kita berjalan beriringan, namun dalam ritme badan jalan yang berbeda, aku melihatmu, memanggilmu, tapi suara lengkingku hilang sebelum resonansi suara sampai ke telingamu. Kau tetap berlalu dan aku terus mengejar. Setiap kali aku akan meraih lenganmu yang terapit-apit, setiap kali pula kau terlempar pada jarak yang begitu jauh. Seperti apa kau berjalan, secepat kilat yang sesekali datang bersamaan dengan gemuruh yang resah. Aku ternga-nga, ada apa gerangan denganmu?

Masih dalam hujan yang gerimis, kali ini agak sedikit lebat, dan kau mulai terlihat basah, rambutmu sujud di atas cangkang yang melindungi otakmu. Langit tak lagi merah, cahaya telah meredup, kini gelap yang hadir memasung, dunia dan cakrawala. Tapi kita masih bertahan, kau terus berjalan dan aku terus mengikuti.

Kupanggil namamu sekali, kau menoleh tapi tak menjawab, aku lega, tak sia kuikuti kau sejak tadi. Cemasku hilang, gundahku berkurang. Kau lempar senyum, senyum yang telah membuatku tak alpa mengingatmu sejak bertahun-tahun yang lalu. Hatiku merekah. Gelap ini adalah gelap terindah sepanjang hidupku, sepanjang hariku menunggumu, hingga kutemukan kau di tengah gerimis matahari yang merah hingga gelap mencengkeramnya.

Kupanggil lagi namamu, berkali-kali, tapi kau tak lagi menoleh, pergi dan terus pergi, aku terkapar dalam halusinasi yang kejam, Tuhan menjemputku dengan cara tak biasa, Tuhan mempertemukan kita di saat aku sangat ingin melihatmu, walaupun aku hanya mampu melihatnya dengan imajinasiku, bahkan hingga jasadku hancur berkeping-keping dan darahku bercampur air hujan, aku masih bisa memanggil namamu, nama yang akan membuatku selamanya hidup. Kamu!



17.31 pm
16-06-2010

--------------------
Ihan Sunrise

Selasa, 25 Mei 2010

Di ambang pintu

By On Mei 25, 2010
Melihatmu berdiri di ambang pintu, menjelang malam, sekilas kau melempar senyum ketika mata kita saling bertemu. Memakai baju motif kotak-kotak, dipadu celana jeans, kau terlihat muda dan energik sekalipun usiamu tak lagi cukup muda. Apalagi dengan potongan rambutmu yang pendek sehingga telingamu kentara terlihat.

Aku masih tersenyum, ketika kulihat seseorang turun dari mobil lalu menuju ke arahmu, mataku mencari-cari manik matamu untuk menanyakan sesuatu. "Diakah?" tanyaku dengan pandangan mata memberi isyarat. Kau tersenyum pertanda iya. "Benar", aku yakin itulah jawaban yang kau beri ketika itu sekiranya kita dekat. Sayang, aku hanya dapat melihatnya sebentar saja, sebab senja semakin gelap dan aku harus segera pulang.

Aku kembali tersenyum ketika hampir satu jam kemudian melewati rumahmu. Tapi kali ini sedikit rasa satir dan getir. Pintu rumahmu kulihat terbuka, menganga, tapi kalian sama sekali tak mampu kutangkap bayangnya. Ah...mungkin saja kalian sedang asyik bercengkerama, seperti biasa yang sering kalian lakukan. Aku terus berlalu...

Seharusnya...kau tak harus berlaku begitu, tak harus berdiri di ambang pintu menyambutnya, apalagi kerap tergesa-gesa menjelang kedatangannya, kau yang begitu bersemangat, merasa istimewa dan kehangatan yang menjalari lekuk hati dan jiwamu, tapi diam-diam sering kau pertanyakan mengapa begitu. Harus kah aku menjawab? Haruskah aku bercerita? Haruskah aku memberi tahu bahwa sebaiknya kita sudahi saja semuanya. Kau menyudahi lakonmu, dan aku menyudahi peranku. Menurutku, masing-masing kita sudah punya jawaban.



12:12 pm
25 Mei 2010

Senin, 10 Mei 2010

Laut*

By On Mei 10, 2010
Laut!

Oleh: Ihan Sunrise

Angin selalu bertiup seperti ini. Dingin. Beku. Sepoi yang kirimkan sendu dan kemirisan. Leguhan kesakitan yang tak pernah usai.

Tatkala mataku tertahan pada kerlip lampu nelayan di tengah lautan, akumulasi kesedihan dan kemarahan mengorgasme dalam jiwa. Pemberontakan yang tak pernah menemukan jalan keluar. Sebab bunda selalu bisu. Bungkam atas setiap tanya yang kulontarkan. Mulutnya terkunci. Mungkin juga pikirannya.

Maka aku merasa tak lebih hidup sebagai pecundang yang sarat keraguan. Imajinasi yang terus menerus tersekat perasaan. Aku tak bisa berkhayal dengan sempurna. Hidupku tak bergradasi.

Tiap kali kudapati bundaku mematung di ambang pintu, maka setiap kali pula resah menggelantung dalam benakku. Tanda Tanya besar menggelinjang-gelinjang dalam pikiran. Apakah yang disaksikan bunda saban hari dari ambang pintu itu? Tak pernah kutemukan jawabannya selain diam-diam kulihat ia menyeka air matanya.

Lain waktu, aku berdiri di tempat yang sama. Membuang jauh pandanganku ke tengah laut. Tidak ada apa-apa. Sejak belasan tahun yang lalu hanya itu-itu saja yang kudapati. Gundukan pulau-pulau di seberang sana. Apakah itu yang selalu menarik perhatian bunda?

Bila pada akhirnya aku harus menitikkan air mata bukanlah karena rasa sedih dan kecewa, tetapi karena kemuncak kekesalan yang terjadi atas semua ini.

Dan kegalauan itu begitu memuncak ketika kudapati wajah bunda dibalut kemendungan yang muram. Matanya sembab dan tatapannya begitu pias. Mukanya pucat seperti mayat. Tangannya sedikit bergetar, mungkin campuran rasa takut entah dengan apa. Ia bahkan tak berani memandangku yang tak bergerak di hadapannya.

“Laut.” Katanya sepatah.

Lalu ia kembali diam. Aku menunggu. Apalagi yang akan diceritakan bunda tentang laut.

Laut. Sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Ketika lahir, bahkan sebelum mendengar suara azan aku sudah mendengar deburannya. Sebelum bunda memberiku makanan nasi bercampur pisang aku sudah lebih dulu mengecap asinnya air laut. Laut adalah hidupku. Jiwaku. Rasanya tak ada yang tidak kuketahui tentang lautan.

“Laut adalah…” lanjut bunda terbata.

“Laut adalah apa bunda?” sergahku tak sabar.

Kali ini kudapati air mata mulai menggenang di matanya yang bulat. Aku tak sampai hati karena telah memaksanya berbicara. Harusnya kubiarkan saja bunda dengan diamnya tadi.

“Laut adalah ayahmu.”

“Ayah?” mataku membulat.

***

Ayah. Adalah kata yang selalu membuatku tersekat. Yang mendindingi alam hayalku. Yang menggunting imajinasiku. Yang selalu membuatku berhenti setiap kali berfikir tentang kelengkapan sebuah keluarga. Yang selalu membuatku menangis diam-diam ketika memikirkannya. Yang sering membuatku berbeda dengan teman-teman sepermainan.

Seperti apa ayah? Lelakikah atau perempuan? Pertanyaan bodoh yang kerap menghinggapi pikiran masa kanakku. Dan juga tatapan kosong ibu yang selalu kuingat setiap kali aku merengek-rengek minta diceritakan tentang ayah.

Ah…ternyata begini rasanya mempunyai ayah. Senang. Bahagia. Takjub. Lega.

“Laut adalah jelmaan ayahmu, Mala.” Kata bunda kemarin pagi.

Maka kubiarkan tubuhku dipeluk ayah. Basahnya yang hangat masuk hingga ke pori terdalamku. Rambutku dipenuhi sisik-sisik pasir yang mistis. Maka kubiarkan saja semuanya. Aku pasrah dalam kerinduan yang panjang dan melelahkan selama ini. Kubiarkan jilatan ombak bergantian menerpa tubuhku. “Karena ayah sedang memelukku dengan kasihnya.”

“Apakah ayah berasal dari pulau yang selalu bunda pandang dari ambang pintu rumah kita?” tanyaku menyelidik melawan kegusaran. Bunda mengangguk. Pelan.

Seperti inikah senangnya ketika dulu bunda bertemu dengan ayah? Mereka yang bertemu dan berpisah di lautan. Ayah yang begitu mencintai laut, setengah hidupnya adalah gemuruh lautan, setengah jiwanya adalah debur ombak. Laut adalah pengasuh sejatinya. Maka ia relakan laut menjadi saksi bagi pernikahan jiwa mereka yang tak pernah terputuskan. Ayah dan bundaku. Pun ketika laut menenggelamkan jasadnya. Bunda tak marah. “Laut adalah reinkarnasi setelah kematianku. Datanglah kapan saja kau mau untuk melepas kerinduanmu.” Begitu dulu ayah pernah berpesan kepada bunda.

Mengertilah aku sekarang, mengapa bunda rutin mengunjungi lautan. Karena ayah selalu menantinya di sana dengan penuh cinta. Mereka begitu mesra, berdialog, mereka basah bersama deburan ombak, mereka larut dan kilauan pasir putih yang suci. Mereka bercinta dengan cara yang hanya mereka sendiri yang bisa memaknainya.

Barulah aku mengerti ternyata prosesi itu adalah pengulangan kesakralan cinta mereka. Hingga lahirlah aku. Jilatan buih-buihnya yang pecah kini kupahami bukan sekedar buih pantai yang tak berarti. Tapi buih yang lain. Buih cinta yang ke luar dalam jasad mereka.

“Maka temuilah ayahmu Mala. Perkenalkan dirimu.”

Kuturuti kata bunda tanpa sepotongpun bantahan. Pertemuan ini adalah penantian panjang belasan tahun. Maka aku tak ingin menundanya barang sedetikpun.

Mengertilah aku kini mengapa bunda kerap marah acap kali aku memaki lautan. Atau ketika wajahku murung ketika menghadapi lelautan. Atau ketika aku membuang sesuatu yang tak berharga di atasnya. Mengertilah aku kini. Semuanya.

“Ayah, perkenalkan aku Mala. Anakmu yang lahir tanpa kau ketahui hadirnya dalam rahim bunda.”

Aku melihat ayah mengangguk. Tangannya menggapai-gapai melalui ombak menyentuh kulitku. Bibirnya tersenyum, menyusuti butiran pasir yang terkikis. Matanya berbinar, adalah pantulan cahaya yang membentuk kilauan-kilauan maha dahsyat. Di lautan.(*)


Ihan Sunrise
Bilik hati, 5 april 2010


* Cerpen ini sudah pernah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahad, 09 mei 2010

Kamis, 06 Mei 2010

Pertemuan dalam ruang Imaji

By On Mei 06, 2010

Aku takjub! Tidak. Bukan. Tepatnya heran. Sebab baru kemarin aku berfikir tentang kalian. Menempuh perjalanan sejauh lima puluh kilometer aku sengaja mengatup mata agar kalian bisa hadir bersamaan dalam ruang imajiku. Dan benar saja, kalian hadir begitu memikat, nyaris sempurna. Dan aku merasa senang, juga rasa puas yang begitu besar. Sebab aku bisa pertemukan kalian, walau hanya di ruang imaji yang terbatas.


Takdir berperan besar terhadap perkenalan kita, tentu juga perkenalan antara kau dan dia. Dan kedekatan yang tercipta di antara kita seratus persen aku yakin karena ruang gelisah yang kita punyai mempunyai panjang dan diameter yang sama. Pendeknya, kita bisa bertukar kenyamanan sehingga kita merasa cocok dan bisa bersahabat. Tentu itu tidak mudah bukan mengingat masing-masing kita adalah pribadi yang tertutup.


Tetapi kedekatanmu dengannya, aku yakin karena ikatan kimia yang lain, bukan untuk bertukar kegelisahan, bukan untuk bertukar kekhawatiran, tapi hanya tempat untuk mengeksplorasi rasa senang dan perasaan. Bahwa kalian membutuhkan satu sama lainnya.


Maka setelah itu kita sering bertukar kegelisahan yang sama, bertukar kesedihan, kekesalan hingga bertukar kesenangan. Semuanya seperti titik-titik air yang jatuh dan menyuburkan olah kata kita untuk tak lagi punya rahasia. Semua tentang akal, pikiran, hati dan perasaan, dan juga logika. Semuanya begitu nyata dalam pesan-pesan singkat yang kita terima.


Untuk itulah aku benar-benar takjub. Aku lebih suka mengatakannya kaget. Sebab baru kemarin aku mempertemukan kalian di ruang imajiku, baru kemarin kau bercerita tentang rasa suka citamu, baru kemarin kau berbagi tentang bagaimana kau menunjukkan rasa cintamu terhadapnya, baru kemarin, yah baru kemarin. Baru kemarin juga kau mengatakan bahwa kau menginginkan sesuatu yang tumbuh dan hidup dalam rahimmu, dan itu dari dia. Walaupun untuk itu entah bagaimana caranya. Dan memang baru kemarin aku mempertemukan kalian dalam ruang setengah sadarku untuk mewujudkan keinginan itu.


Kegelisahan itu semakin terasa saat kau mengatakan bahwa kamu mungkin sedang patah hati. Kau tahu, katup-katup jiwa kita mulai menyatu kurasa. Sehingga rasa patah hati benar-benar kurasa menyelinap dalam rongga jiwaku. Aku tergugu untuk beberapa saat. Urung memejamkan mata meski malam sudah sangat larut. Dan kelelahan yang seharian membalut jasad kurasa menghilang. Aku mengkhawatirkanmu. Aku tercenung. Benarkah kau patah hati?


“Tapi patah hati bukanlah bentuk lain dari sebuah kekalahan.” Kataku padanya, mungkin juga pada diriku sendiri.


Entahlah, kau tak butuh nasehat pastinya. Dan aku kesulitan ingin mengatakan apa. Jawabannya tentu saja ada pada airmatamu yang terus mengalir, pada pikiranmu yang susah sekali diajak berdamai, dan tentu saja pada jiwamu yang mulai rasakan bahwa sesuatu itu telah benar-benar tumbuh dan hidup dalam dirimu, meski bukan dalam rahimmu seperti yang kau inginkan.


“Aku hanya inginkan kebenaran atas semua keterusterangannya.” Jawabmu berkali-kali dengan kata yang berbeda.


Aku bukan sedang ingin menyimpulkan, tapi, apakah kebenaran bisa didapatkan tanpa pernah melihat gesturenya? Bahkan ketika ia berbicara, kau tak pernah bisa melihat seperti apa matanya yang ikut berbicara, lalu bagaimana anggota tubuhnya yang lain ikut menterjemahkan. Aku tak sangsi dengan apa yang kau rasakan, aku tahu bahkan sangat tahu bila kau benar menaruh rasa padanya. Bahwa kau sedang tak ingin bermain-main dengan perasaanmu, dan tentu saja perasaannya. Tapi, tapi aku bingung dengan arti kebenaran itu sendiri.


Langit yang kujunjung hari ini memang mendung, tapi semoga saja itu bukan representasi dari akumulasi kesedihanmu yang begitu dalam. Sedihmu adalah sedihku juga. Sebab, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya bahwa kita memiliki ruang kegelisahan dengan ukuran panjang dan diameter yang sama. Yang tentu saja bisa saling bertukar tempat. Percayalah, tak ada ketulusan dan keikhlasan yang sia-sia. Sekalpun hanya untuk sebuah pertemuan yang tercipta di ruang imaji.

Ihan Sunrise

Banda Aceh, 6-5-10

11.05 am


Senin, 26 April 2010

Meulinte*

By On April 26, 2010

Meulintee

Oleh: Ihan Sunrise

“Mak tak habis pikir.” Kataku begitu kami tinggal berdua dengan anak gadisku. Nurul.

“Tak habis pikir apanya?” Tanya Nurul, anak perempuanku bingung.

“Dengan jalan pikiranmu.” Kataku cepat

“Memangnya kenapa dengan jalan pikir Nurul?”

“Seperti hana pikeran.”

“Lalu yang punya pikiran itu bagaimana, Mak?” Tanya Nurul agak tersinggung.

“Ya jangan bawa laki-laki itu ke rumah.” Pungkasku

Nurul yang sedang membereskan meja setelah memindahkan gelas dan piring kecil berisi kue untuk tamuanya tadi tak jadi beranjak. Ia duduk di tempat tamu tadi duduk. Di tangannya masih menggantung kain lap kecil yang akan ia gunakan untuk membersihkan meja bekas tumpahan air teh.

“Terus bawa ke mana? Bang Jack kan mau berkenalan dengan Mak. Wajar kan kalau calon menantu mau berkenalan dengan calon Mak Tuannya. Masak Nurul bawa ke pasar dan pos jaga. Apa kata orang nanti? Masak anak gadis mak rayueng-rayueng lelaki ke sana ke mari tanpa mak kenal siapa orangnya.”

“Kalau itu benar terjadi berarti pikiranmu sudah dibutakan oleh dia.”

“Pikiran yang terang itu kiban Mak?”

“Ya tidak usah berhubungan dengan…si…siapa namanya tadi?”

“Bang Jack.”

“Dari namanya saja mak sudah tidak sreg.” Keluhku.

“Nama aslinya Zakaria. Namanya seperti nama Nabi mak.” Bela Nurul.

Kami terus beradu argumentasi. Tak ada yang mau mengalah. Baik aku maupun Nurul anak perempuanku. Bukan aku tidak setuju dia mau menikah, apalagi usianya sudah 24 sekarang. Sudah pantas. Akupun sudah ingin menimang cucu dari anak perempuanku itu. Tapi aku tidak suka bila ia menikah dengan si Jack itu.

Bila ditanya orang-orang siapa menantu Nyak Wa Fath guru mengaji itu? Aku pasti akan kesusahan menyebut namanya. Jack. Sedikitpun tidak mencerminkan keislaman. Namanya yang bagus malah dipelesetkan jadi Jack. Sungguh tak mengerti agama.

Tetapi sebenarnya bukan hanya soal nama. Si jack itu tak pantas dengan anakku karena dia terlihat sangat tua. Mereka terpaut 20 tahun usianya. Nanti kalau mereka menikah dan anakku ikut tua bagaimana? Maksudku, kalau mereka menikah lalu si Jack itu cepat meninggal dan anakku jadi janda bagaimana?

“Mak terlalu jauh seumike.” Protes Nurul

“Memang harus dipikirkan jauh-jauh. Menikah itu untuk sekali seuumur hidup. Mana bisa asal-asalan.” Tukasku.

Sebenarnya si Jack itu tidak demikian buruknya. Ia terlihat sopan, kata-katanyapun terlihat baik dan teratur. Ia datang dengan membawa oleh-oleh buah-buahan yang banyak. Tapi aku tak suka karena ia bekerja di luar negeri. Nanti kalau anakku dibawa jauh bagaimana. Sementara aku cuma punya satu anak perempuan.

Tapi…kengerianku sebenarnya adalah kehidupan si Jack selama ini di luar negeri. Siapa yang menjamin dia orang baik-baik. Kehidupan di luar negeri itu sangat bebas. Tidak ada aturan. Jangan-jangan dia sudah tidak perjaka lagi. Atau mungkin dia sudah pernah menikah dengan gadis-gadis di luar negeri sana. Siapa tahu?

“Kalau mak terlalu selektif Nurul bisa tidak menikah-menikah.” Nurul cemberut.

Aku menghela napas. Berat. Bukannya aku terlalu selektif. Tetapi sebagai orang tua tentu saja aku tidak ingin anakku kecewa nantinya. Di jaman seperti sekarang ini mencari orang yang baik dan bertanggung jawab itu susah. Apalagi yang pemahaman agamanya memadai. Langka.

“Kamu boleh menikah dengan siapa saja, asal bukan dengan si Jack.” Kataku akhirnya.

“Ya sudah, Nurul mau menikah dengan bang Haikal.” Jawab Nurul dingin. Raut mukanya tanpa ekspresi.

Aku terhenyak. Sesosok lelaki tinggi besar bermain di kepalaku. Alisnya tebal. Kulitnya coklat bersih. Matanya tajam dan bersinar. Giginya begitu rapi. Tapi ia agak gemuk dan berperut. Pun demikian tetap tidak mempengaruhi penampilannya yang enak dilihat. Senyumnya menawan.

Tak ada alasan untuk tidak menerimanya sebagai menantu. Ia berpendidikan, hidupnya berkecukupan, jiwa sosialnya tinggi, tetapi hanya satu kekurangannya.

“Mak tidak rela kamu jadi istri ke dua, Nak.” Kataku mengiba

Ada kesedihan di mata anak gadisku. Membicarakan Haikal tentu akan sangat melukai perasaannya. Sekuat apapun ia berusaha menutupi tapi aku tetap dapat melihat kalau ia sangat mencintai lelaki itu. Mata Nurul mengerjap-ngerjap. Kami terbuai dalam diam. Sibuk dengan perasaan masing-masing.

“Mak sayang sama kamu Nak. Mak tidak ingin hidupmu berantakan nantinya. Menikah bukan hanya soal kesenangan materi saja. Tapi kita harus pikirkan kesenangan hati, karena hanya kedamaian hati yang akan membuat kita dapat menikmati hidup.” Aku membelai rambut Nurul yang luruh dalam pelukanku. Tak terasa ia telah begitu cepat bertumbuh dewasa. Rasanya aku seperti baru kemarin menggendongnya dalam pelukanku.

“Bagaimana kalau dengan bang Fahmi mak?” Tanya Nurul sambil melepaskan diri dari pelukanku.

“Si Fahmi yang duda itu?” tanyaku kepalang kaget.

Gadisku mengangguk. Aku lemas. Terbayang wajah si Fahmi yang diceraikan istrinya beberapa bulan yang lalu, karena kerjanya cuma bersyair saja di pos jaga. (*)

Bilik Hati, 11:52 pm

07 april 2010

* Tulisan ini sudah pernah dipublish di website www.ababil.org
http://ababil.org/index.php/2010/04/meulintee/

Jumat, 23 April 2010

Untukmu, Untuk Lautan

By On April 23, 2010

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sejak bertahun-tahun yang lalu. Kurasakan perbedaan dari caraku merindui dan mencintaimu. Rasa yang begitu melesak-lesak dalam jiwa, menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menemuimu.



Maka sebelum matahari tergelincir, ketika langit masih memerah saga. Aku telah berada di tempat itu, menyusuri jalan-jalan yang pernah kau lintasi beberapa waktu yang lalu. Menaiki bebatuannya yang bersusun. Merasakan lembutnya angin pantai yang tajam. Mendengar deru dentum ombak yang berkecipuk. Menyaksikan cicak-cicak laut yang menempel di bebatuan yang basah. Kepiting yang berlarian dan siput-siput kecil yang kecoklatan.



Aku takjub. Bukan pada diriku sendiri, tetapi pada yang melesak-lesak begitu kuatnya di dalam hati. aku berdiri menghadap lautan. Membentangkan kelopak tangan. Meliarkan pandangan mata. Meneriaki gemuruh. Ya, aku datang menemui lautan. Untuk bertemu dan berdialog denganmu. Laut! Dan juga engkau.



Sesuatu yang tak begitu kusukai sejak dahulu. Karena menurutku laut terlalu lantang untuk disahabati. Terlalu liar untuk diajak bercengkerama. Terlalu menakutkan untuk dijadikan pelipur hati. Terlalu mistis untuk disinggahi.



Tapi kerinduan terhadapmu mengubah segalanya, aku mencoba menyatu dengan lautan. Aku biarkan saja ketika ombaknya dari celah bebatuan menjilati hingga ke mata kakiku. Aku senang saat ombak-ombak itu seperti mengejar, dan aku berlarian di atas batu-batu berlapis itu. Aku tertawa. Aku berteriak. Hei…beginikah rasanya mencintaimu? Beginikah rasanya dekat denganmu? Beginikah rasanya dicandai olehmu? Beginikah rasanya, ya memang seperti ini rasanya.



Kesempurnaan itu terasa begitu lengkap, apalagi ketika setitik air menyapu lidahku. Asin yang menggoda. Asin yang melahirkan rasa ketidak puasan untuk mengecapnya terus menerus. Seperti rasa yang terus tumbuh dan tumbuh di dalam hati. Untukmu. Untuk lautan. Aku akan kembali lagi! Untukmu, untuk lautan, dan juga untuk engkau!



Ulee Lheu, 22-4-2010

Ihan Sunrise

Sabtu, 17 April 2010

Jangan Membunuh Kenangan

By On April 17, 2010

Jangan Membunuh Kenangan

Mencium jemarimu adalah ritual paling dahsyat yang begitu menggetarkan, penghormatan yang menggembirakan dan menyembuhkan, memberi lega dan kepatuhan diri, lain kali, aku akan merasa bersalah bila hanya dapat mencium jemarimu saja.

Barangkali, itulah yang membuatku lantas terdiam, berhenti menduga-duga, berusaha untuk tak menyalahkan, berusaha untuk menerima alasanmu. Karena ketulusan, seperti yang selama ini kupahami selalu saja mengejawantahkan berbagai alasan. Itu pula yang selama ini selalu membawa kita pada muara yang sama.

Dalam dialog panjang kita, resonansi desah nafas yang tak begitu teratur, seiring dengan emosi yang ikut menyelinap. Aku berusaha berdamai dengan keadaan. Kau dan aku dipertemukan dalam perbedaan. Seharusnya kita tak saling menyalahkan seperti ini. Bukahkah kita telah lama saling mencintai?

“Aku datang malam itu, berusaha menemuimu, untuk memenuhi janjiku.” Katamu pelan. Sarat kehati-hatian. Aku hening dalam kesenyapan, tak lantas percaya dengan apa yang kau ucapkan. Aku diliputi keraguan. Benarkah, benarkah kau datang? Tapi mengapa aku tak melihatmu di terminal kota itu?

Aku mendengar tanpa membantah. Siapapun kamu, tentu saja kau berhak membela diri, dan aku, berhak pula mempertimbangkannya.

“Tapi tak kudapati dirimu di salah satu penumpang di dalam bus itu.” Katamu kembali menjelaskan.

Ah…begitu detil kau menjelaskan. Begitu runut. Mungkinkah kau berbohong bila semuanya begitu rinci? Kau benar tentang bus yang kutumpangi malam itu. Kau benar tentang jam keberangkatanku. Tapi yang salah mengapa kau tidak melewati lorong-lorong bus itu untuk menemuiku di bagian belakang?

Hati yang galau. Kemuncak kecewa. Dan kesedihan yang dalam membuatku ingin berlari ketika itu. Menyembunyikan wajahku dari pertanyaan-pertanyaan penuh selidik. Air mata yang menumpuk membuatku tak mampu melihat apapun. Termasuk melihatmu yang berdiri di ambang pintu. Aku menyendiri menyembunyikan luka di mataku.

“Padahal aku telah begitu tergesa-gesa untuk bisa segera menemuimu, kulewati kemacetan kota ini dengan segala keberangan, menyelesaikan kewajibanku secepat mungkin lalu sesegera mungkin menemuimu.”

Aku diam saja. Mendengar penjelasanmu sebaik mungkin. Kuatur nafas setenang mungkin. Aku tak bisa mengartikan apakah ini kesenangan atau apa. Aku hampir tak bisa berkata apapun. Apakah takdir sedang mempermainkan kita ketika itu? Apakah perbedaan itu semakin mencolok saja seperti ini? Sebegitukah sulitnya bagi kita? Rasanya, tawa dan tangisku mulai tak berguna.

“Lalu mengapa kau tidak meneleponku?” tanyaku kemudian. Berharap kali ini kesalahan adalah mutlak milikmu.

“Tapi hape-mu kan tidak aktif…” suaramu menggantung. Serak. Berat.

Ah…siapa yang salah sebenarnya? Hape-ku yang kehabisan baterai atau kamu yang datang terlambat sedikit?

“Ya, tapi aku kan sudah beri tahu jadwal keberangkatanku. Bahkan aku sudah menunda satu jam hanya untuk menunggu kedatanganmu. Tapi kamu masih juga terlambat.” Protesku.

“Lain kali, datanglah lebih awal atau pulang lebih akhir. Kau tahu, kita hidup diluar prediksi.”

Kalau bukan karena jemarimu, mungkin aku akan selamanya marah kepadamu. Ketakziman yang pernah hinggap di jemarimu menjelma menjadi oase di saat-saat kritis ketidak pastian di antara kita.

Seharusnya memang tak perlu kita saling menyalahkan. Kenangan yang tercipta telah membuat kita menjadi orang-orang yang tak biasa. Keluar biasa-an ini yang selamanya akan tumbuh dan hidup.

“Sampai mati.” Katamu

“Ya, sampai salah satu dari kita mati.” Jawabku.

Hening. Selalu menjadi saksi atas pertengkaran kita. Tapi hening, juga selalu menjadi saksi atas ketak bersyaratan cinta yang kita punyai bertahun-tahun ini.

11:14 pm

15 april 2010

Rabu, 07 April 2010

Menghapus Ingatan

By On April 07, 2010
Seperti pernah terjadi sebelumnya. Di mana ya? Aku seperti tak asing dengan kejadian ini. Oh ya, di sebuah cerita film Korea yang terkenal itu. Begitu melankoli dan membekas di benakku. Tapi sama sekali tak kuduga kisahku mirip Soo jin dalam film itu.

Bercelana jeans dan berkemeja puntung. Kau begitu good looking pagi itu, persisnya menjelang siang. Aku begitu bernafsu memandangimu. Kita duduk bersebelahan. Dan aku begitu leluasa melumatmu dalam imajinasiku. Kuselipkan tanganku untuk memeluk pinggangmu, sentuhan paling nyaman yang bisa menetralkan resah hati karena terus menerus menahan rindu. Aku ingin menciummu, tapi ruang bukan hanya milik kita ketika itu. Aku menyentuh pipimu, menyentuh lehermu, menyentuh telingamu. Maaf, aku telah berlaku kurang ajar hari itu. Aku meremas rambutmu sebelum akhirnya kusandarkan kepalaku ke perutmu. Kupeluk kau sebisaku.


Pertemuan kita, ibarat percintaan yang tak usai ketika tubuh akan menggelinjang menahan puncaknya. Kita terkekang oleh keterbatasan waktu. Dan aku terganggu dengan kesibukanmu. Kita tak banyak bicara. Dan aku kehilangan selera untuk menumpahkan perasaanku padamu. Aku berharap kau tahu, caraku menyembuhkan rindu bukan dengan ketergesa-gesaan. Tapi bukankah sejak pertama kali memutuskan bersama denganmu, kita selalu kehilangan waktu-waktu untuk menikmati puncak cinta secara bersamaan?

Aku berusaha mengerti. Kulapangkan jiwa untuk bisa menerimamu apa adanya. Kuputuskan untuk tidak memprotesmu barang sedikitpun hari itu. Kutahan kecewaku untuk bisa bersikap biasa saja ketika itu. Kutahan, kutahan semuanya. Juga hasrat yang membuncah-buncah. Juga pertemuan jiwa yang tak mencapai klimaks kenikmatan. Aku tak ingin mengeluh tentang semua ini.

Pun ketika kau berjanji untuk menemuiku pada senja berikutnya. Aku telah menduga semuanya akan berakhir tak sesuai rencana. Kau terlalu pintar membuatku senang. Tapi akupun telah amat sangat tahu sikapmu. Sebaiknya tak berharap banyak dari ucapan seorang lelaki sepertimu. Karena akan mencederai hati. Benar saja, terakhir di kotamu membuatku terluka.

Persis seperti Soo jin yang menunggu kekasihnya di sebuah terminal kereta. Akupun menunggumu di terminal kota kenangan itu. Tubuhku berkeringat. Tanganku bergetar. Mataku jalang setiap kali melihat jarum jam. Berhentilah. Berhentilah berdetak. Pintaku saban detik. Tapi penunjuk waktu itu lebih patuh pada alam yang terus memerintahnya untuk bergerak.

Hingga akhirnya bus yang kutumpangi bergerak perlahan. Kau tak terlihat menemuiku. Akupun mencoba berdamai dengan perasaan. Kutahan agar tak terlihat cengeng di mata orang-orang. Namun kekecewaan yang memuncak memaksaku untuk menangis dalam diam. Dalam kepayahan berfikir. Dalam ketersendatan mengeluarkan kata-kata. Kubiarkan orang-orang berpendapat tentang apa saja. Semuanya terjadi dalam keremangan dan kesunyian malam. Dan esok pagi, kudapati mata ini sembab dan bengkak. Matahari membuatku tak leluasa melihat.

Kupikir, cerinta tentang luka ini cukup sampai di sini. Aku ingin seperti Soo jin yang kehilangan ingatannya agar tak lagi mampu mengingatmu. Maka kubiarkan setengah dari kenangan tentang kita terhapus. Kuturunkan semua pigura tentangmu dari beranda rumahku. Kuhapus semuanya agar tak lagi terlihat mencolok. Kupaksa diri untuk jauh dari apa saja yang membuatku berhenti memikirkanmu. Aku ingin tidur secepat mungkin begitu masuk ke dalam kamar kenangan itu. Tempat cerita aku dan kamu di ciptakan. Tempat dimana aku selalu tergila-gila padamu.

tapi...aku tetap mencintaimu. Tanpa syarat apapun! (*)




20:45 pm
On wed, 7 April 2010

Senin, 22 Maret 2010

Dialog Dua Hati

By On Maret 22, 2010
Dialog Dua Hati

Oleh: Ihan Sunrise

Aku menyebutnya malaikat kecil. Matanya selalu bercahaya seperti lilin. Memberi kedamaian dan menenangkan. Senyumnya lepas. Mempesona siapapun yang melihatnya.

Malaikat kecilku, berdiri gagah berpenyangga kaki yang kokoh. Tangannya menjuntai mungil. Seolah ingin mentasbihkan bahwa ia adalah raja bagi pemilik hati. Pun kepadaku!

Itu adalah beberapa tahun yang lalu. Aku melihatnya pada selembar gambar yang diperlihatkan oleh seseorang. Tetapi ia begitu nyata dalam ingatanku. Ingatan yang terus tumbuh. Dan berkembang. Lalu menjadi dewasa.

Malaikat kecilku telah menjadi pangeran! Pangeran yang gagah. Bahu kekar serupa perisai yang siap melindungi siapapun. Dada bidang sebagai pertanda kelapangan hatinya yang penuh cinta kasih. Tangannya masih menjuntai. Matanya masih berbinar. Ia berdiri di hadapanku. Dengan senyum berderai memancarkan kedamaian.

“Tante Joana?”

Aku terhenyak. Tak menyangka ia mewarisi suara berat ayahnya. Aku berusaha tersenyum. Namun kekakuan dan kegamangan telah dulu menyublimku. Dan aku hanya bisa terpaku. Dengan mata menatapnya tanpa bisa berkedip lagi.

“Tante Joana?”

Ia mengulang. Kembali aku terhenyak. Aku gagap. Tak tahu mau menjawab apa.

“Tante, aku Saleem. Tante tidak lupa padaku kan?”

Saleem. Ya Saleem. Aku tak pernah melupakanmu. Tepatnya aku tak pernah mengingatmu untuk hadir di hadapanku. Aku hanya mengingatmu sebatas dalam ingatan saja. Aku telah merawatmu dalam ingatanku. Membesarkanmu dengan imajinasiku. Tetapi kau hadir dalam dunia nyataku.

“Bagaimana kamu tahu kalau aku Joana?”

Saleem tak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sesuatu dalam saku celananya. Selembar foto lama yang telah buram.

“Ini tante.”

Aku hampir tak bisa berkata-kata. Mataku berkaca-kaca melihat gambar itu. kepalaku menggeleng-geleng sebagai wujud rasa tak percayaku pada apa yang tengah kurasakan.

Kembali aku menatap mata bening milik Saleem. Meminta penegasan atas apa yang ditunjukkannya kepadaku.

“Aku mencurinya dari dompet ayahku, belasan tahun yang lalu.”

“Saleem....” suaraku tercekat.

“Dan aku menyimpannya, dengan harapan suatu hari aku bisa bertemu dengan perempuan dalam foto ini. Tante Joana.”

“Saleem...”

“Ketika itu aku tidak mengerti mengapa ada dua foto di dalam dompet ayahku, yang jelas satu foto ini bukan foto ibuku.”

“Oh...Saleem, aku...aku...”

“Ya tante, aku tidak ingin menyalahkan tante. Tapi sejak itu aku terus menyimpan tante dalam ingatanku, aku merekamnya dan mencoba memperbaharuinya setiap saat.”

“Saleem....aku, aku sudah lama tidak bertemu dengan ayahmu.”

Aku mencoba tersenyum. Sekedar untuk menghilangkan kekagetan diriku.

“Aku tahu tante. Karena itu aku datang kemari. Untuk meminta maaf kepada tante.”

“Meminta maaf untuk apa Saleem?”

“Tante, boleh aku duduk?”

Oh Tuhan, bahkan aku sampai lupa mempersilahkan tamuku duduk. Aku jadi serba salah. Tak siap dengan kejutan sebesar ini. Kejadian yang sama sekali tak pernah terfikir olehku.

“Maaf Saleem, tante lupa. Silahkan duduk. Sebentar, tante buatkan minum dulu ya. Oh ya, apa kamu masih suka minum coklat panas tanpa gula?”

“Tante tahu minuman kesukaanku?”

Mata Saleem mengerjap-ngerjap. Ia tampak bersemangat. Bibirnya menyungging senyum.

Aku mengangguk. Lalu segera ke dapur.

“Ayahmu sering menceritakan tentangmu Saleem.” Kataku sekembali dari dapur. Dengan segelas coklat panas tanpa gula dalam nampan kecil.

Aku memandang wajahnya yang oval, alisnya tebal dan hitam. Matanya bening dengan bola yang berkilau. Ada yang aneh berdesir dalam diriku. Rasa ingin memeluknya yang begitu kuat. Sayang, ia tidak lahir dari rahimku.

“Tapi mengapa ayah tidak menjadikan tante sebagai ibu bagiku?” tanya Saleem tiba-tiba.

Aku tercengang. Tak menyangka ia akan melontarkan pertanyaan itu padaku. Dan kali ini aku benar-benar tak bisa menahan air mataku.

Pelan kusentuh wajah bersihnya. Saleem hanya diam menunggu jawabanku. Kuberi senyum padanya sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja.

“Maaf tante, aku tak bermaksud melukai perasaan tante.”

“Tidak Saleem, tante baik-baik saja.”

“Tante....kenapa? apa tante tidak pernah menanyakan itu pada ayah?”

Saleem! Bagaimana aku harus menjelaskannya. Apa yang harus kukatakan padanya? Semua itu cerita belasan tahun lalu. Untuk apa dihadirkan kembali. ah....

“Karena tante tidak sehebat ibumu sayang, tante tidak seluar biasa ibumu.”

“Tante bohong.”

“Saleem.”

Aku menatapnya. Ia membalas menatapku. Beringsut ia dari duduknya lalu meraih jemariku yang sedikit bergetar.

“Tante mencintai ayahku kan?” tanyanya pelan. Aku menunduk, tak ingin kembali bersitatap dengannya. “Mungkin tidak untuk sekarang, tapi ketika itu tante sangat mencintai ayahku kan? Begitu juga sebaliknya. Benar kan tante?”

Bahkan sampai sekarang Saleem. Lirihku dalam hati.

“Saleem. Jangan paksa tante. Tante tak ingin mengingat itu lagi.”

“Tante, bila iya mengapa tante menolak ketika ayah mengajak tante untuk menikah?”

“Oh...Saleem...jangan paksa tante.”

Saleem memegang tanganku kuat.

“Tante....jawab dengan jujur.”

Suara Saleem memelas. Matanya memerah.

“Karena tante tidak ingin menyakitimu sayang.” Tangisku pecah. Air mataku berhamburan. “Setiap kali melihat fotomu tante merasa kamu adalah anak tante sendiri, yang harus tante jaga, tante rawat, kamu tidak boleh tersakiti, oleh siapapun Saleem. Juga oleh tante. Tante juga tidak tahu mengapa tante merasa sangat dekat denganmu. Padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Tapi mengapa tante mau menyakiti diri tante sendiri?” cecar Saleem.

“Kamu tidak mengerti sayang.” Aku kehabisan kata untuk menjelaskannya.

“Aku mengerti tante.”

“Kamu tidak mengerti apa-apa. Kamu masih terlalu muda untuk bisa mengerti persoalan ini.”

“Lalu mengapa tante tidak menikah dengan orang lain?”

“Saleem?!”

Aku benar-benar tak menduga dengan pertanyaan itu. Dan aku tak punya jawaban untuk itu. Mengapa? Aku sendiri tak pernah tahu mengapa itu bisa terjadi. Aku juga tidak pernah tahu apa aku masih mempunyai cinta untuk orang lain.

“Hidup ini rumit Saleem, tidak semua hal kita harus mengetahuinya. Cinta itu sukar untuk dimengerti dan tidak bisa diprediksi. Tetapi, ketika kita telah menikahkan jiwa kita dengan jiwa seseorang, dan ketika kita telah mentasbihkan seseorang dalam ingatan kita, ketika itulah kita tak lagi bisa memaknai kesakitan.”

“Tante?”

“Ya sayang.”

“Sekarang aku tahu mengapa ayah tak pernah berhenti mencintai tante.”

Aku memeluk Saleem dengan erat. Sejak belasan tahun yang lalu aku telah kehilangan jiwaku. Tetapi hari ini Tuhan mengirimkan jiwa yang lain kepadaku. Jiwa yang aku tahu tak akan pernah meninggalkanku. Dan jiwa yang senantiasa memancarkan cahaya dalam hidupku.

23:23 pm

16 Juli 2009

Inspired by M

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email