Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 29 Juni 2011

Bu; Ini Tentang Restumu

Mendengar suara pagimu ibu, persis seperti embun yang membilasi serbuk debu di pucuk-pucuk daun hatiku, debu dari resah yang membekapku semalam, juga kelebat rindu dari sosok yang samar, rindu yang tak kupahami dan aku tersadar ketika semuanya telah menjadi jelaga di ruang hatiku.

Seperti tawamu yang menenangkan, maka semua galau hatiku telah kau lipur tanpa nasehat, ah, ibu, betapa kau adalah perempuan maha sempurna yang begitu kuhormati, kau yang memahamiku melebihi diriku sendiri, kau yang selalu memberi jalan panjang untuk kususuri sendiri, tanpa pernah berusaha memaksaku berhenti pada satu tikunganpun yang tidak kukehendaki.

Ibu, legamu adalah lega panjang jalan hidupku, terimakasih untuk tak pernah memintaku menjadi sesuatu seperti yang kau inginkan, tetapi menyuruhku menjadi apa yang aku inginkan, juga untuk restumu atas kerinduanku pada lelaki yang menemuimu di awal april beberapa tahun yang lalu, menangisi lelakiku di hadapanmu kuakui adalah kecengengan, tetapi rindu terhadapnya memang harus kubagi denganmu bukan, karena kau adalah penterjemah rindu.

Tetapi restumu tentatif bukan? dan aku tak ingin menjadikan rindu itu terserak, dan semakin terakumulasi menurutku.

Ibu, Z lelaki yang baik, dan itu sudah cukup untuk menerima siapapun menjadi teman dalam hidupnya, dia lelaki istimewa yang telah mengajarkanku arti berjuang, pada kebijaksanaannya aku banyak memahami tentang sketsa hidup yang rumit, dan cerdasnya telah merambati sebagian dari diriku hingga imajinasiku tak pernah putus, juga pada kepak lengannya yang hangat aku tak pernah menangis di sana, karena dia tidak pernah menawarkan sepotong kesedihanpun untukku; anak perempuanmu.

Mendengar suaramu pagi ini ibu, membuatku tak punya ketakutan dan kebimbangan apapun, juga untuk restumu yang pernah kita bicarakan beberapa tahun silam, terimakasih telah memberiku pilihan untuk tidak segera terlibat pada prosudural kehidupan yang tersekat adat. Aku mencintaimu Bu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email