Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 26 September 2011

Engkau dalam Burdah Rahasia

By On September 26, 2011
Sebab selalu ada rahasia untuk kita nikmati bersama, aroma tubuhmu rahasia, tatapan matamu
rahasia, sentuhanmu rahasia, gelak tawamu rahasia. Namamu rahasia, sketsa wajahmu rahasia,
mencintaimu rahasia, tetapi adalah rahasia yang mampu lahirkan klimaks imajinasi.

Rahasia yang tercipta bagai angin, yang mampu menyentuh bagai kulit lembutmu, yang mampu
membuat berdesir seperti tiupan bibirmu. Yang mampu mendebarkan jiwa, menggetarkan kalbu, lalu,
adakah rahasia lain yang melebihi senikmat mencintaimu?

Kau yang mengalir lembut bagai air sungai, menghanyutkanku ke luasnya hatimu, dan kita terdampar di
delta jiwa, di mana hanya ada kita di sana; aku dan engkau. Untuk kemudia bersama-sama melafalkan
ikrar untuk saling membalut diri dalam kerudung rahasia kehidupan.

Bersamamu kita mengitari alam nirwana, dengan tangga dari leguh-leguh yang sempat muncul dari
suara yang terputus-putus. Di sebuah terminal, tempat semua rahasia terkumpul kita berhenti sejenak,
sekedar untuk menikmati sepoi dari tumpukan kesepakatan. Di sanalah kita pernah menghela napas
lega yang panjang, sambil memasuki ke dalamnya mata masing-masing.

Tak perlu engkau bila hanya ingin menyentuh perasaanmu, tak perlu engkau bila hanya ingin
merasakan hangatnya sentuhanmu, tak perlu engkau bila hanya ingin menjelajahi tatapanmu, tak perlu
engkau bila hanya ingin menyingkap tabir rahasia. Sebab kita adalah rahasia itu sendiri.

Kekasih, dengan bertambahnya usiamu maka bertambah pula usia cinta kita, bertambah pula usia kesungguhan kita untuk meneguhkan hati, untuk saling mencintai, saling menyayangi, saling mendoakan meski engkau dan aku sering berada di ruang dan waktu yang berbeda.

Teruslah besar menjadi pohon yang rindang, agar engkau bisa menjadi payung bagi jiwa-jiwa rentan, teruslah mengalir bagai air agar engkau mampu menyejuki jagad raya, teruslah hidup untukku, dan untuk alam. Teruslah dan jangan pernah berhenti, seperti harapan kita yang semakin tumbuh dan besar.

Happy Birthday My Beloved Z


Yang selalu mencintaimu
Ihan

Rabu, 21 September 2011

Jalan Lengang

By On September 21, 2011
Barangkali, ini adalah langkah di jalan panjang yang lurus, sepi dan lengang, anginpun enggan untuk ada. Udara hanya seperti butir air, menyusup malas ke ruang paru-paruku. Cukuplah denyut nadi sebagai indikator bahwa Tuhan masih bermurah hati. Meski lengang, Ia masih memberiku kesempatan untuk menikmati suasananya.

Jalan ini begitu lurus, tak ada kelokan, tak ada persimpangan, tak ada lampu merah, juga tak ada tanda-tanda akan segera berakhir. Aku terus berjalan, dengan pikiran yang tak lagi mampu mengembangkan imaji, meski untuk menghadirkan sebuah nama dan wajah. Langkahku tak terhenti, meski semua kata telah membeku, membentuk tebing curam yang licin, lidahku tak lagi mampu mentasbihkan narasi.

Ini jalan yang mistis untuk dilalui seorang diri, meski semua rasa telah tawar tetapi ada nikmat dalam pandangan jarak yang panjang. Di ujung sana, semua kisah telah terjilid, semua prasasti telah tersusun, semua sejarah telah tertata rapi, semua kenangan telah menjadi layar lebar.

Lengang ini sungguh luar biasa, bila putih adalah putih sempurna tanpa sekelebat gelap pun, dan bila gelap adalah sempurna bekat tanpa cahaya sebesar dzarrah pun. Ini adalah keadaan yang tercipta dengan sendirinya dan tidak seorangpun bisa mendurhakainya.

Tak ada indikator bahwa angin benar-benar ada di sini, sebab tak ada pepohonan yang bisa bergoyang dahannya, tak ada kabel-kabel listrik, tak ada rumput ilalang. Ini adalah jalan panjang, yang di sisi-sisinya bukan gurun, bukan lautan, bukan tanah lapang, bukan pula savana atau belantara.

Jalan ini, adalah jalan panjang yang di setiap sisinya bertebaran jiwa-jiwa, bertabur hati-hati, berserakan perasaan, jangan memintaku menjelaskan tentang sesuatupun, karena aku hanya pejalan di jalan yang lengang ini.


09.46 pm
19 -Sept 11
Permata Punie

Sabtu, 17 September 2011

Mereka yang Datang

By On September 17, 2011
Mereka datang dengan luka berdarah, kaki patah sebelah, jalan terseok-seok, wajah meringis kesakitan, keringat mengalir di pelipisnya. Mereka datang menemui dokter. Lalu pulang dengan luka mengering, kaki telah kembali tegak, berjalan dengan gagah, muka sumringah penuh senyum, keringat telah kering di pelipisnya.Mereka terluka fisiknya.

Sebagian yang lain datang dengan hati terluka, juga berdarah-darah, wajah kusut menahan murung, senyum terkatup seperti pintu yang terkunci rapat. Mereka datang menemui sepi. Dan tak pernah berharap untuk kesembuhan. Mereka terluka perasaannya. Hidupnya cacat.

Mereka mengurung diri dalam sepi yang panjang, menutup jendela-jendela dunia, memadamkan lampu-lampu cahaya, memotong harapannya sendiri, menciptakan kubangan perih. Lalu menceburkan diri hingga tenggelam. Mati!

Rabu, 14 September 2011

By On September 14, 2011

Selasa, 13 September 2011

Bergumul dengan Diam

By On September 13, 2011
Aku mulai mengerti, mengapa kadangkala angin bertiup lebih kencang dari biasanya, dan air bergerak memutar-mutar gelombang dengan cepat tak sesuai dengan ritmenya, dan matahari menyengat melebihi panas yang sanggup ditahan oleh indera.

Aku mengerti, diam memang banyak memberikan inspirasi, dan juga maknawi terhadap sesuatu yang berlaku, diam mampu menjadi kekasih di saat paling tidak terduga sekalipun, dan pergumulan dengan diam adalah abstrak yang tidak akan diketahui oleh siapapun, maka memilih diam adalah luar biasa.

Diam adalah oase agar api tak menjalar terlalu cepat, hati telah kering memang, tetapi air mata yang jatuh telah melembabkan gurun jiwa yang sepi. Sekali lagi, diam mendamaikan gemuruh serupa guntur sebelum hujan datang, engkau!

Ya, aku telah mengerti sekarang, dan cinta yang akan terucap itu biar dia menjadi karam bersama gelombang yang akan surutu, biar ia menjadi tenang serupa angin yang berhenti berputar, biar ia menjadi dingin serupa matahari yang ditenggelamkan waktu. Biar cinta mati, dan kepada diam selamat datang, mari kita selesaikan pergumulan ini

Gundah!

By On September 13, 2011


Bulan hanyut di hadapanku

01.01 am
09 Sept 11

Rabu, 07 September 2011

Gelombang Air dan Musafir

By On September 07, 2011
Benarkah, ketika engkau mengatakan bahwa yang tidak terlihat telah mampu kau lihat, benarkah,tentang hatiku dan tentang diamku yang tidak memberikan penjelasan apapun. Tetapi engkau telah megetahui semuanya. Sedangkan kita baru beberapa kali bertemu.

Mungkin, kau telah mengetahui segalanya, tentang hatiku, tentang jiwaku, tentang perasaanku, tetapi seperti katamu, kita masih memiliki senyum sebagai tamu agung yang harus diperlakukan dengan kasta tertinggi. Untuk mengelabui galau dan resah yang lebih sering datang.

Dan, bahkan ketika engkau menitikkan air mata, aku sanggup bertahan untuk tidak melakukan itu. Seperti aku tak bisa memenuhi permintaanmu untuk pertemuan pada purnama yang akan menjelang ini. Kita tahu itu hanya sebentar lagi, tetapi akupun tahu hati yang tertutup ini bukan sepenuhnya seperti yang engkau katakan.

Air selalu menemukan jalannya untuk menyelesaikan masalah, anggap saja aku air yang hidup dengan kepulan gelombang, dan engkau adalah musafir yang singgah di hidupku. Maafkan, bila hingga pertanyaan terakhir aku tetap dengan jawaban yang sama; bahwa aku baik-baik saja.

Engkau tahu aku tak baik-baik saja, aku tahu engkau tak percaya dengan ucapanku, tapi biarlah kita sama-sama berbohong, seolah-olah kita saling mempercayai dalam hal ini. Seperti engkau percaya bahwa purnama berikutnya kita akan menyelesaikan semuanya.

Tentang Waktu

By On September 07, 2011
Ini adalah saat di mana hati tertinggal begitu jauh, berserak-serak, terlalu jauh dari pangkal. Ini adalah saat di mana aku mengetahui mengapa aku harus kembali ke kota ini, memang, semuanya adalah penundaan untuk berterus terang, tetapi ini penundaan yang terasa lebih bijaksana. Menurutku!

Yang datang dan yang pergi sama saja, sama-sama menyisakan rindu yang membinasakan. Mungkin, semua pintu memang sudah tertutup, dan hasrat mulai mengatup. Rapat. Erat. Tak ada lagi celah. Tetapi ini juga tentang kebiasaan, adat isitiadat, hukum alam yang tak dapat ditolak.

Ini adalah masa di mana aku hampir tak mengenali diriku sendiri, membisukan kata dalam diam adalah jalan keluar dari semua pertanyaan yang menyesakkan dada. Yah, ini bukan hanya tentang hati yang telah terkunci rapat.!
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email