Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Belajar Mensyukuri Hidup Dari Kang Saptho; Si Manusia Bersisik Ular

By On Oktober 29, 2011

Namanya Saptho. Postur tubuhnya kecil, dengan warna kulit kecoklatan dan dipenuhi sisik-sisik putih serupa sisik ular, rambutnya terlihat acak-acakan dan tidak tumbuh teratur. Bertelanjangkan dada, ia duduk di atas stand berukuran 1x1 m yang telah didekorasi sedemikian rupa, sehingga terkesan seperti di atas bebatuan rimba.
Pertama kali melihatnya anda pasti akan bergidik ngeri, mungkin juga sedikit rasa jijik dan berfikir betapa malangnya lelaki ini, tetapi setelah mengobrol dengannya anda akan takjub mendengar ceritanya. Itulah kesan saya saat bertemu dengan Kang Saptho, lelaki berusia tiga puluh tahun yang dijuluki manusia bersisik ular dari danau Tritis, Indramayu, Jawa barat.
“Kalau mau tanya-tanya silahkan, mau ambil gambar juga boleh.” Katanya ramah ketika saya mendekati standnya.
Memang bukan suatu kebetulan saya bertemu dengan Kang Saptho, sebuah spanduk bertuliskan Pameran Binatang dan Manusia Langka yang bertengger di salah satu pintu masuk gedung  IT Samsung, di Jl. Imam Bonjol Banda Aceh telah menarik perhatian saya sejak beberapa hari lalu. Tetapi karena berbagai kesibukan saya baru menyempatkan diri untuk berkunjung pada rabu (29/6/2011) lalu.  Di situlah saya bertemu dengan Kang Saptho. Dan sebagai seorang ‘manusia langka’ yang sedang dipamerkan, maka sudah sepatutnya Kang Saptho bersikap menarik perhatian pengunjung, termasuk saya.
Secara fisik sulung dari empat bersaudara ini memang sedikit menyeramkan dari manusia normal lainnya, sejak lahir ia mempunyai kelainan berupa kulit bersisik yang lebih menyerupai kulit ular. Apalagi dengan dua gigi depannya yang telah tanggal, dan mata yang bulat tidak simetris seperti memperlengkap ‘keistimewaannya’. Tetapi kelainan itu tidak membuatnya minder dan malu apalagi merasa rendah diri. Dan itu jelas tersirat dari nada suaranya yang riang dan bersahabat.
Sebab akibat tentang kelainan yang diderita Kang Saptho sendiri sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi dari beberapa penelitian yang dilakukan secara medis, salah satunya yang dilakukan oleh seorang dokter dari Jerman mengindikasikan kalau kelainan ini diakibatkan dari persamaan genetik yang dimiliki oleh ke dua orang tuanya. Semacam masih ada pertalian darah di antara ke duanya.
“Ada ikatan genetik atau persamaan darah dari kedua orang tua saya, intinya begitulah.” Jelasnya dengan logat sunda yang kental.
Pun begitu, tak pernah sekalipun Kang Saptho menyalahkan orang tuanya, apalagi dari mereka berempat hanya dia yang mempunyai kelainan genetik seperti itu. Baginya semua itu adalah takdir Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat. Yang penting baginya tetap bisa menikmati hidupnya dengan optimis, dan penuh semangat. Di lingkungannya Kang Saptho juga selalu mendapat perlakuan baik dan tidak ada yang mengucilkanya.
Sebagaimana lelaki normal lainnya, Kang Saptho pun berpenampila layaknya anak muda yang tak mau ketinggalan gaya, sebentar-sebentar ia terlihat sibuk dengan handphonenya, kadang pula menerima telefon dari seseorang denga gaya suara yang mesra dan jenaka.
Di pergelangan tangan kirinya  terdapat beberapa aksesoris, seperti gelang dan arloji berwarna hitam, seuntai kalung dari butiran-butiran kayu menggantung di lehernya,  dan cincin bermata merah delima yang melingkar di jari tengah kirinya. Menandakan bahwa meskipun ia dijuluki sebagai Manusia Bersisik Ular yang secara fisik berberbeda tetapi ia juga manusia yang ingin bersikap dan bertindak sebagaimana manusia normal lainnya.
                Ayahnya adalah seorang Polisi Militer yang saat ini masih bertugas di Indramayu, dan ibunya seorang ibu rumah tangga, mereka menetap di Bandung. Dilahirkan dari keluarga terpelajar membuat Kang Saptho sangat memprioritaskan pendidikan, dia adalah seorang alumni STM N Bandung angkatan 1993 jurusan mesin. Berbekal keahliannya itu selama ini ia bekerja sebagai mekanik di salah satu klub balap motor di daerah Bandung. “Saya mau mandiri, dan ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa saya bisa melakukan yang terbaik.” Katanya semangat.
Tetapi sejak bergabung dengan grup Manusia dan Hewan Langka ini sejak setahun lalu ia vakum dari aktivitasnya sebagai mekanik. Dalam waktu setahun itu ia dan teman-temannya telah melakukan roadshow ke berbagai daerah. Di Aceh sendiri mereka telah melakukan pameran di berbagai kabupaten mulai dari Langsa, Meulaboh, Tapak Tuan, Sigli, Sabang dan Banda Aceh.
Ia bertambah semangat ketika menceritakan tentang Naya (28), sosok perempuan dewasa yang telah menjadi kekasihnya selama dua tahun ini, ia dan Naya kenal dalam sebuah event di Bandung. Dan mereka akan segera menikah dalam waktu dekat ini. “InsyaAllah setelah lebaran.” Katanya bersuka cita.
Kang Saptho memanglah seorang manusia langka yang berbeda dengan manusia kebanyakan lainnya, tetapi dari keberbedaannya saya belajar banyak hal, tentang optimismenya mensyukuri hidup, tentang rasa percaya dirinya, tentang ia yang tak mau menyerah pada keadaan, juga tentang ia yang ingin hidupnya lengkap dengan cinta.



 

Kamis, 27 Oktober 2011

ketika jiwa kita bercinta part 7 (tamat)

By On Oktober 27, 2011
lelaki kekasihku, tidur, tidurlah lelakiku, nyenyaklah walau tanpa pesan cinta dan sapa rindu.

kita telah kembali pada peraturan awal, juga untuk kali ini aku hanya bisa menarik segaris senyum datar.

rasa yang kita miliki mempunyai banyak aturan yang padat. cinta selalu menemui bentur yang tak lunak.

maka hanya kuingat kau sebagai lelaki baik yang menyapaku sebagai bidadari surga.

di dadamu aku ingin luruh, seperti melati yang jatuh di pangku sepasang pengantin.

di matamu aku ingin melesak, dan juga tenggelam, bagai jangkar yang mencengkeran buritan.

di nafasmu aku ingin hanyut, bermuara ke parumu, dan menetap di jantungmu.

lelaki kekasihku, lelaplah dalam mimpi yang telah kukirim bersama senyap.

ada sekerat hasrat yang tak sempat terselesaikan, dan masih tersekat di pangkal lidah, menunggumu untuk melepas rantainya.

cinta, aku adalah aku di mana engkau adalah engkau di hatiku, namamu telah menjadi jelaga, suaramu telah beku, senyummu telah menggumpal.

semuanya bersemayam di hatiku.

26 Oktober 2011 jam 1:24

Ketika Jiwa Kita Bercinta (6)

By On Oktober 27, 2011
“Apa ini?” tanyamu saat aku menyerahkan sebuah paperbag untukmu.

“Kau akan melihatnya sendiri nanti.” Jawabku dengan sepotong senyum datar, dengan air mata yang hampir terjatuh, tapi aku tidak boleh menangis. Sebab kau tak pernah ajarkan aku untuk menyerah, juga pada keadaan.

“Terimakasih banyak.” Katamu lagi. Aku mengangguk. Tak sanggup mengeluarkan walau sepotong katapun untukmu. Hanya tarikan nafas panjang yang kusodorkan untukmu satu persatu.

“Paling tidak ketika kita tidak bisa bersama lagi, ada sesuatu dariku yang bisa kau kenang.” Kataku kemudian. Kau tidak menjawab, mencoba untuk tersenyum tetapi terasa getir. Memang, di antara kita tidak ada yang menegaskan, tetapi kita sama-sama tahu inilang penghujung dari semua prosesi, jalan panjang itu telah menemui perhentiannya.

Ini adalah saat di mana aku harus menjadi penulis yang baik, agar tidak ada sesuatupun yang terlewatkan dari engkau, aku menulisi engkau dengan pandangan mata yang tak pernah beranjak dari dirimu.

“Apa ini?” tanyamu lagi.

“Bukalah, kau akan tahu.”

Kau merobek bungkusnya, sesaat setelah itu aku melihat senyum terindah dari bibirmu, saat kau melihat dirimu ada di hadapanmu. Aku tetap tersenyum meski ingin menangis, rasanya baru kemarin kita berkenalan, lalu kita saling jatuh cinta, lalu kita menjalani hari-hari sebagai kekasih.

“Kau semakin terlihat kecil saja.” Ucapmu setelah kita lama saling diam.

“Tubuhku tergerus rindu yang parah untukmu.”

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk cinta yang parah ini.”

“Di penghujung kebersamaan kita Tuhan mentakdirkan kita untuk menghabiskan separuh malam di bawah purnama.”

“Ya, terimakasih untuk pemberianmu.”

“Bahkan aku tidak bisa memberinya tepat waktu.”

Kau tidak perlu menjawab karena kita telah tahu jawabannya.

Maka, pagi ini ketika kudapati wajahku sembab dan basah aku segera menyesakimu dengan pertanyaan; Cinta, kapan aku menciummu lagi. Dan kau, dengan suaramu yang lembut dan parau mempersilahkanku untuk melakukannya kapanpun aku menghendakinya; ciumlah aku dengan hatimu.



09.00 am
11 oct 2011

Ketika Jiwa Kita Bercinta (5)

By On Oktober 27, 2011
tak ada yang berubah dari bau kekasihku, tak ada yang berkurang dari senyum manisnya, semua masih sama saat kami terakhir bertemu, saat ia menghembuskan asap rokoknya, saat ia memegang handphonenya, saat ia menyentuhku.

tak ada yang berbeda dari keadaan yang tercipta ketika kami bersama, saat ia melirikku, saat aku menyentuh jemarinya.

semua masih sama, pada permintaannya, pada keinginanku, untuk tak ingin segera menyudahi.

semua masih sama, kecuali takdir yang kami tidak tahu kapan berpihak pada kami.

untukmu lelakiku, seluruh cinta adalah untukmu, dari tiada menjadi ada, maka kita akan kembali dari ada menjadi tiada.

10 oct 2011
midnight

Ketika Jiwa Kita Bercinta (4)

By On Oktober 27, 2011
bahkan aku telah sakit saat aku masih bersamamu, aku sakit setiap kali engkau menanyakan pertanyaan yang sama; kapan aku bisa melihat wujud cinta kita, han?

aku sakit setiap kali harus menjawab dengan jawaban yang sama; bersabarlah cinta, aku sedang membetulkan letak wujud cinta kita yang sungsang.

aku sakit, karena ketika cinta kita menemui wujudnya maka kitalah yang tidak dapat menyaksikannya bersamaan.

aku sakit karena harus kembali belajar berhitung, menghitung mundur kebersamaan kita dan itu hanya tinggal sepenggal nafas.

cinta, pergilah, sejauh-jauhnya, karena aku akan menyusulmu dengan pasir di tanganku.

terbanglah, setinggi-tingginya, karena aku akan mengejarmu dengan tangga kata yang mampu menembusi sekat-sekat langit.

pergi, pergilah cinta, bukankah engkau telah menjelma sebagai waktu yang akan mengawalku hingga kelak?

pergi, pergilah cinta, bukankah engkau telah yakin bahwa aku mencintaimu, dan aku telah yakin bahwa engkau mencintaiku.

pergi, pergilah cinta, untuk takdir kita yang semestinya.

11 Oktober 2011 jam 1:34

Selasa, 18 Oktober 2011

Ketika Jiwa Kita Bercinta part 3

By On Oktober 18, 2011
Tuhan tahu kita telah berjuang, sebab ia pertemukan kita bersamaan dengan bulan yang bulat penuh, agar kita  mudah mengingatnya.


Sepanjang malam ini aku ingin menulis untuknmu, menceritakan kekonyolan kita ketika saling mengejek, mentertawakan diri kita yang mesti menelikung keadaan, betapa semua rasa telah begitu lengkap denganmu.


Bila tak ada engkau, dengan siapa lagi aku berani kurang ajar, bila tak ada engkau siapa lagi yang aku rajuki, bila tak ada engkau, maka aku tidak bisa menulis lagi.


Purnama tepat di atas kepalaku, seperti aku yang luruh tepat di jantungmu, sehingga detaknya dapat kurasakana merayapi adrenalinku.


Cinta, bila tak ada engkau aku akan terus tersenyum, kujadikan sebagai kamuflase untuk perasaan kita yang terkorbankan.


Kekakasih, bila tak ada engkau aku akan terus berjalan, untuk menyusuri lekuk tubuhmu dalam imajinasiku.


Lelakiku, bila tak ada engkau aku akan terus berbuat, karena dari balik bukit sana engkau akan terus memandangku; sebagai perempuan yang mencintaimu.

11 oct 2011
pkl 01:16 am

Senin, 17 Oktober 2011

Ketika Jiwa Kita Bercinta Part 2

By On Oktober 17, 2011
Jika engkau matahari, maka engkau akan tenggelam sesuai takdirmu, dan aku hanya penikmat yang hidup dengan hangatmu.

Rasanya baru kemarin pagi tuhan kirimkan engkau, baru kemarin aku berpuas-puas menikmati peluh yang disebabkan olehmu, baru kemarin aku menyadari kulitku telah terbakar oleh sinarmu.

Senja terlalu cepat datang, padahal kita masih ingin bercinta, masih ingin menikmati kopi kental dan rokok di antara riuh mereka yang tak mengetahui kisah kita.

Aku belum lagi lelah memanggilmu cinta, aku belum lagi bosan memintamu menciumku, aku belum lagi puas memahatmu dengan imajinasiku.

Tak ada tawa setelah pertemuan kali ini, sebab kita harus tunduk pada penulis skenario hidup. Juga untuk tanya yang kujawab dengan isyarat mataku; bahwa engkaulah kekasih lahir dan batinku.

Lelakiku, maafkan aku yang tidak dapat mempersembahkan cintaku padamu sesuai waktumu, maafkan aku yang tidak berniat untuk memperlambat semuanya.

Kelak, akan kukatakan pada dunia bahwa aku mengumpulkan semua catatan ini untukmu.


11 oktober 2011 jam 0:52

Jumat, 14 Oktober 2011

Ketika Jiwa Kita Bercinta Part 1

By On Oktober 14, 2011



Bau tubuhmu Cinta, masih sama saat terakhir kita bertemu, masih seharum rindu yang tak pernah aus. Binar wajahmu lelakiku, masih seterang bulan yang sedang purnama di langit Tuhan.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun kuinginkan, kita bisa menikmati separuh malam di bawah tempias purnama.

Memang, bukan di atas pasir laut yang melengketi tubuh kita, bukan pula di atas padang rumput yang menjadi alas tempat duduk kita.

Meski tak banyak kata, aku sudah cukup kenyang dengan melahap wajahmu dalam hening.

Betapa rindu selalu punya jalan untuk menyelesaikan urusannya, seperti kopi pahit yang rindu pada bau kental asap rokok kita. 


Jumat, 07 Oktober 2011

Gadis Bernama Seulawah(*)

By On Oktober 07, 2011
Ihan Sunrise

Ini DOM jilid dua bagi engkau
Tubuhmu terbungkus fajar yang pengap oleh asap
Termegap-megap dalam lidah api yang menjilat-jilat
Serupa lidah ular yang mengeluarkan desis nestapa
Engkau pasrah dalam ketidak berdayaan

Satu persatu tungkaimu lunglai
Nyaris terkapar dalam jiwa yang telah tercabik hormat
Kau meleguh, melolong dalam gulita
Meronta-ronta merenungi nasib

Tetapi tidak seorangpun peduli pada air matamu
Jeritmu kalah oleh titik-titik api yang jalang
Paraumu tersendat-sendat di antara kemarau

Dan, kau simpuh pada lara yang panjang

Banda Aceh, 11 Agustus 2011



(*) puisi ini telah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahad

Senin, 03 Oktober 2011

Tergores Ilalang

By On Oktober 03, 2011
Ilalang tau, aku terluka dengan bekas goresan pinggir daunnya, tetapi ilalang juga tau aku terpesona pada liuknya ketika ia bersebadan dengan angin.

Luka-luka kecil ini tak membuatku terlalu sakit, tapi kemudian membuatku menangis sambil berjalan. Karena dia adalah akumulasi.

Aku telah mabuk pada cara alam membuatku terlena, melalui tarian ilalang ia membuatku lupa diri dan mabuk.

Mabuk yang sebentar, tetapi kita sempat bercinta, lalu bunga-bungamu yang tawar terbang bagai anai-anai.

Pada saat aku terjaga, hanya tinggal bekas lagumu di hatiku, biru dan beku.

Wahai, engkau ilalang yang selalu terlihat gemulai, biru dan bekumu telah sematkan rindu yang riuh.

Wahai, ilalang yang selalu melintas bersama angin, aku jatuh cinta dengan sebenar cinta kepadamu.



Permata Punie
Midnight, 2 oct 11
Padang Rumput Ilalang

Minggu, 02 Oktober 2011

Sajak HUjan

By On Oktober 02, 2011
Pada hujan yang turun telah banyak menginspirasi kisah, pada selepasnya kita pernah terburu-buru menyelesaikan sesuatu, memang selalu begitu, sebab sebagian dari kita adalah milik takdir.

hujan adalah ritmik alam yang mistis, sejuknya mengembun hingga ke jiwa, basahnya pernah hampir kuyupkan sketsa wajahmu, padahal sorenya baru saja kuambil dari seorang teman senimanku yang pandai menggambar.

hujan selalu genangi hatiku, membuat rindu mengapung-ngapung, hampiq termegap-megap ia menahan sesak.


permata punie
30 sept 11
00:03 am
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email