Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 23 November 2011

Ephoria Olahraga dan Semangat Mencibir Masyarakat Kita


saya bukan penggemar olah raga, bahkan tidak ada satu jenis olah ragapun yang saya taruh perhatian khusus. Makanya ketika musim olah raga tiba reaksi saya biasa-biasa saja, sebut saja misalkan ketika musim piala dunia beberapa tahun lalu, atau ketika musim piala FIF, dan yang paling anyar adalah pertandingan pra piala dunia dan sea games yang sedang berlangsung saat ini.

Lazimnya, ketika pesta olah raga tiba masyarakat melalui kesepakatan tidak tertulis telah mempersiapkan dirinya. Di warung-warung kopi mereka menyediakan layar yang lebar-lebar agar para pengunjung leluasa ketika menonton tim kesebelasanya bertanding. Di warung-warung kampung pemandangannya juga tak jauh berbeda, di rumah-rumah, mereka seolah larut dalam ephoria sepak bola.

Saya bukannya tidak setuju dengan ephoria tersebut, di lain sisi saya melihat itu justru bagus untuk memunculkan semangat sportifitas dan memunculkan semangat dalam berolahraga, kecuali untuk saya barangkali.

Namun saya miris ketika melihat semangat yang meledak-ledak itu tiba-tiba berubah menjadi teriakan makian dan umpatan, ketika tim kesebelasannya kalah. Atau, katakanlah ketika timnas Indonesia sedang bertanding dengan timnas negara lain betapa kita sangat kompak untuk mendukung tim kesebelasan tanah air, status di facebook pun tidak jauh-jauh dari ekspresi tersebut, tentunya harapan untuk menang.

Tetapi apa yang terjadi ketika tim jagoannya tidak menang? Harapan-harapan tadi berubah menjadi ungkapan kekecewaan yang mendalam, letupan-letupan kemarahan bernuansa sumpah serapah dengan tudingan seperti para pemain tidak kompak, pelatih yang jelek, si A yang ingin menonjol sendiri, dan lain-lain.

Sekali lagi, saya bukan pecinta olah raga, jadi, menang atau kalah tidak mempengaruhi saya. Hanya saja saya jengah melihat ekspresi orang-orang di sekitar saya. Maksud saya begini, olah raga mengajarkan sportifitas tinggi, tetapi mengapa semangat sporitifitas itu tidak menular ke pendukungnya? Atau memang inilah potret masyarakat kita yang sesungguhnya? Di mana budaya mencemooh dan menghujat masih menjadi karakter utama bangsa kita?

Padahal, secara moril seharusnya kita memberikan dukungan ekstra kepada para pemain yang kalah, agar performa mereka bisa lebih meningkat lagi di lain waktu. Karena secara sederhana, memberikan pujian atas suatu prestasi itu sangat gampang, seseorang yang berhasil dalam suatu pencapaian lebih gampang dielu-elukan, namun, mampukah kita menunjukkan sikap berjiwa besar dalam menerima kekalahan?

Menurut hemat saya, jikapun mereka (tim sepakbola) kalah sebelum bertanding itu jauh lebih terhormat daripada penonton yang hanya mampu menyoraki, meneriaki, bahkan terkesan dipaksakan namun tidak mengerti apa-apa tentang teknik dalam bermain. (Ihan)

3 komentar:

  1. setuju banget, Ihan. Inilah potret masyarakat kita. Mungkin mereka tidak pernah membayangkan jika mereka berada di posisi orang2 yang mereka puji lalu berbalik mereka cacimaki.

    BalasHapus
  2. sama lah dengan kakek Dollah

    BalasHapus
  3. sama apa nih? sama dalam mencibir ya hehehehe

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email