Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 23 November 2011

Kota Ingatan

Di mataku, kota ini bukan lagi sekedar kota untuk mencari makan, tetapi telah menjadi nafas kehidupanku sendiri. Itu karena beberapa lekuknya pernah kita nikmati bersama. Melintasi tempat-tempat yang pernah kita datangi seperti memberikan semangat mengapa aku harus terus bertahan di kota ini.

Memandangi bekas tempat engkau berdiri, atau duduk, entah mengapa tak bisa kubendung sesak yang tiba-tiba menyergap. Ah, kita telah sering kali mengalah, untuk takdir yang tidak bisa kita ciptakan. Untuk itulah, mengapa aku selalu ingin berlama-lama di tempat itu, sekedar untuk menikmati senja atau menghabiskan malam bersama diam yang telah menelan keadaan.

Dan pagi ini, kudapati diriku seperti hendak mengeluarkan air mata, namun aku seperti telah lupa bagaimana caranya menangis,  ya, aku telah hampir lupa sebab telah terlalu sering aku menangis, kadang dengan diam sambil menatap manik matamu, atau kadang sambil terpekur di pelukanmu, atau kadang sambil tersenyum saat membalas ciumanmu.

Betapa tidak, ketika mengatakan cinta untukmu, saat itu kita harus menangis dengan cara tidak biasa, ketika melalui hari-hari sebagai kekasih terlalu banyak perkara yang membuat kita hampir tidak bisa tertawa. Kekasih, inikah perjuangan? Yang pada akhirnya tetap tidak menjadi sebagai pemenang? Pun begitu kekalahan bukanlah milik kita.

Maka, bagaimana mungkin aku ingin pergi dari kota ini. Kota yang bisa kulihat engkau dalam imajinasiku. Kota yang menyemerbakkan harum tubuhmu, kota yang membuatku meriang dan akan sembuh bila berhasil kau dekap. Kota yang telah membuatku menjadi ada.

Kekasih, sesungguhnya tidak ada yang tiba-tiba dari kisah kita, apa yang terjadi hari ini adalah perkiraan tujuh tahun yang lalu. Saat kita masih bercerita tentang emansipasi dan adat istiadat. Saat leguh kita masih bercampur bersama angin malam. Saat teriakan kita tertahan desau pasir di tepi pantai. Pada purnama di lautan itu aku pernah menaruh harap untuk dapat bercinta denganmu.

Saat rinduku terbit untukmu, saat itulah aku teringat akan hutang-hutangmu yang belum sepenuhnya kau tunaikan padaku; tentang lukisan yang belum sepenuhnya kau selesaikan.

Permata punie, 23 November 2011
09:03 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email