Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 17 Januari 2012

Kantung Rahimku Berisi Tequila Ley

By On Januari 17, 2012

Apakah hidup hanya bermuara pada satu hal bernama pernikahan? Aku selalu tergelitik pada pertanyaan sederhana ini. Sebab kulihat, terutama perempuan akan merasa khawatir bila di usianya yang telah cukup untuk menikah tetapi belum menemukan pasangan yang cocok dan siap menikahi mereka.

Aku perempuan, dan aku sangat memahami bahwa menjadi perempuan terkadang cukup kompleks. Awal mula kompleksitas itu muncul ketika pertama kali kudapati celana dalamku dipenuhi bercak merah yang mengerikan. Kengerian yang kemudian memunculkan sensasi lain; semacam perasaan lega bahwa aku telah benar-benar menjadi perempuan, sebentar lagi payudaraku yang awalnya hanya seperti duri pohon randu akan tumbuh besar, padat, kenyal dan menggemaskan, dan bersamaan itu muncul pula perasaan lain dalam diriku, mungkin sedikit rasa bangga akan sesuatu yang menonjol di dada yang tak lagi bidang.

Menjadi perempuan berarti harus bersiap-siap untuk bermetamorfosis, bersiap-siap ketika tubuh mengirimkan sinyal ragawi, bahwa sebagai perempuan aku memiliki kantung rahim yang suatu saat harus diisi dengan wine memabukkan dari sperma para pria. Dan itu hanya terwujud dengan terjadinya pernikahan.

Oh yeah! Ini selalu menarik, sebab pikiranku selalu jauh dari keinginan untuk menikah. Aku tidak ingin ekstrim, tetapi sejauh ini menikah bukanlah prioritas dalam hidupku.
Lalu, bagaimana dengan wine di kantung rahim itu? Apakah mesti wine? Bagaimana kalau tequila ley.925?
Seperti kebanyakan perempuan lainnya, aku pernah membayangkan kira-kira seperti apa itu pernikahan, dimulai dari resepsi mewah, menjadi raja dan ratu sehari, menerima ucapan selamat dari rekan dan handai taulan, lalu malam pertama yang usai dengan kesan datar, dan kehidupan menjadi seperti biasa saja.
Bayangan-bayangan yang mulai hilang sejak payudaraku (kurasa) mulai berhenti bertumbuh, dan darah di celana dalamku tidak pernah muncul dengan warna berbeda, dan sejak aku memahami bahwa aku memiliki cinta luar biasa pada lelaki kekasihku. Aku tak pernah ingin menikah dan tidak terobsesi untuk menikah sejak aku mengikrarkan bahwa aku akan selalu mencintaimu.

Aku ingin mencintaimu dengan bebas, dengan lepas, tanpa ada tuntutan bahwa kita harus menikahi fisik satu sama lainnya untuk menyempurnakan keindahannya. Aku ingin menikah dengan jiwamu, dan ingin engkau menikahi jiwaku, karena kebahagiaan akan mencapai klimaksnya ketika jiwa dipenuhi kebutuhannya.
Menikah tidak akan pernah menyelesaikan masalah kita, juga kompleksitas kita sebagai manusia.

Selasa, 10 Januari 2012

Di Panca Inderaku, Wangi Tubuhmu Melekat

By On Januari 10, 2012
my beloved Z in frame
Pagi ini, aku bangun dengan wajah kusam, mata bengkak dan sembab, bekas air mata semalam. Ada lelah di batinku yang membuat tubuhku terasa berat, membuatku enggan beranjak dari kasur yang ringkih. Hawa dingin menambah kesan beku di hatiku yang memang telah beku.

Aku tak langsung teringat padamu, Cinta. Karena mengingatmu saat bangun tidur adalah ritual yang telah bertahun-tahun kulakukan, meski terkesan sepele namun aku mendapatkan energi dari ritual tersebut. Dan karena aku telah mengingatmu semalam suntuk, pagi ini aku ingin alpa sekali.

Aku terngiang pada pertanyaan semalam, dari seorang Alvin yang memiliki wajah kuning khas Rusia. “Apakah kamu benar mencintai dia?” Tanyanya di ujung telepon.

Sungguh, jika waktu tidak selarut semalam aku tidak ingin terjebak dalam diam panjang, yang membuatku tak mampu berkutik dan gugup meski kami sedang tidak berhadapan. Dan dengan diam itu lelaki keturunan rusia itu akan membuat kesimpulan yang jauh dari kesalahan.

“Tolong berikan handphonenya pada Zorro. Aku ingin bicara dengannya.” Kataku.

“Zorro sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, ia lelah. Kamu belum jawab pertanyaanku. Apakah kamu benar-benar mencintainya?”

“Jangan tanyakan itu padaku.”

“Aku tidak ingin kamu mempermainkan dia, dia mencintai kamu, aku yakin itu.”

Cinta, kukira ia ingin mempertanyakan itu sejak pertama sekali bertemu denganku, karena menurutku ia menaruh curiga atas sikap kita, mungkin, ia melihat bagaimana cara mata kita berbicara satu sama lainnya, dan  bagaimana cara aku mencium tanganmu saat engkau datang dan saat aku beranjak pergi.

Kurasa, ia memperhatikan gelagatku saat mencandaimu, dan saat aku menyerahkan lukisan wajah itu, kau masih ingat cinta? Saat kita duduk sangat berdekatan menyentuh sketsa wajahmu dalam bingkai minimalis itu. Aku sempat melihat senyumnya yang tak biasa soal itu.

Tapi ini bukan tentang Alvin, ini tentang kita, Cinta. Yang sering menaruh kesal pada keadaan yang tidak bisa ditolerir. Kita yang sering memohon pada takdir agar mau sedikit berpihak kepada kita, agar kita tidak perlu melalui lorong-lorong sembunyi hanya untuk menyampaikan bahwa kita menaruh rindu yang sama.

Ah Cinta, jika saja aku dapat berterus terang pada lelaki berwajah kuning itu seperti aku jujur padamu, betapa aku ingin meneriakkan di telinganya bahwa engkau begitu penting untuk hidupku, engkau adalah warna yang membuat duniaku ramai dan indah, engkau adalah anugerah terindah yang posisinya tidak akan bisa digantikan oleh siapapun, engkau lelaki paling istimewa dan aku akan selalu mencintaimu.

Memang, kadang-kadang aku terlalu emosional dalam mencintaimu, aku ingin kita terbang bagai burung liar yang tidak terikat oleh peraturan-peraturan adat, aku ingin sesekali kita bagai perahu yang melayari lautan tanpa perlu khawatir ada yang melihatnya, dan esoknya tidak muncul sebagai berita.

Tapi Cinta, lagi-lagi untuk kali ini kita mesti berdamai dengan diri sendiri, mencoba untuk mentolerir keadaan bahwa kita harus menghormati hubungan istimewa ini, dan, sekalipun semua orang tahu siapa engkau tetap tidak akan mengubah perasaanku untukmu, lelaki hebat yang telah mencintaiku dengan cara sederhana, namun begitu rumit untuk diaplikasikan.

Air mataku telah kering, menguap bersama matahari pagi yang menghangatkan tulang belulang kita, dan meski aku tidak dapat menciummu kali ini, tapi wangi tubuhmu selalu melekat di panca inderaku.

Takdir Kita *

By On Januari 10, 2012
aku menuliskan ini untukmu, seseorang yang telah melekat begitu kuat di hatiku, sehingga membuatku tidak rela bila ada seorangpun yang menyakiti hati dan perasaanmu, apalagi sampai mengobrak-abrik hidupmu, tulisan ini bukan obat, dan aku tidak pernah sembuh karenanya, dan aku tidak pernah berharap engkau akan sembuh dengan hanya membacanya.

aku tidak tahu semalam engkau tidur pukul berapa, kalaupun tidur entah engkau dapat memejamkan hatimu yang sedang ditikam amarah. dan aku juga tidak dapat melihat entah seberapa banyak darah yang mengalir dari nganga lukamu yang disebabkan oleh jiwa-jiwa yang sakit itu.

maaf, bila kau tidak berkenan dengan perkataanku, aku bukan bermaksud untuk memojokkan siapapun, tetapi kupikir aku adalah cermin yang tepat bila kau ingin melihat siapa dirimu sekarang. aku adalah seseorang dengan posisi terbalik dari hidupmu sekarang.

apakah mudah menjadi aku? jawabannya tidak, karena mesti menggadaikan perasaan untuk keberlangsungan hidup untuk jangka waktu yang tidak dapat kuprediksi. apakah gampang menjadi aku? juga tidak, sebab begitu banyak kenyataan yang dengan kesadaran dan kerelaan penuh harus kubungkus seolah-olah adalah mimpi yang akan hilang setelah pagi.

apakah aku ingin kembali ke diriku sebelum aku menjadi seperti ini? jawabannya iya, tetapi itu hanya kemustahilan sebab kita belum mempunyai mesin waktu yang bisa mengembalikan kita ke masa lalu. tetapi, apakah aku menyesal dengan semua ini? satu-satunya jawaban yang kupunya adalah TIDAK!

sebab, satu-satunya hal yang tidak pernah berani kuingkari adalah takdir. Takdir mengajarkanku untuk berani mencintai ikhlas. takdir membawaku pada kedewasaan berfikir dan sikap berani menerima kenyataan. takdir membawaku pada rasa percaya diri untuk tidak menyalahkan sesuatu. takdir mendidikku.

takdir mempertemukan kita, dan aku ingin belajar darai caramu menjalaninya, begitupun engkau, dan juga mereka.

aku memahami, tentang rasa sakit yang tak sanggup dijelaskan, tentang air mata yang tertahan di sudut bibir yang mengembangkan senyum, tentang jiwa yang telah remuk oleh perasaan yang dilumuti kecewa.

aku menyayangimu, dan biarkan engkau tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu.

*kutulis dengan hati dan perasaan yang dalam untuk seorang sahabat, kakak, yang hanya pernah kutemui sekali dalam hidupku
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email