Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Minggu, 08 April 2012

Perempuan Almarhum

AKU baru berumur sepuluh tahun saat pertama kali bertemu dengannya. Perempuan itu mengenakan kebaya berbahan katun berwarna ungu yang telah pudar. Di beberapa tempat dipenuhi bercak tahi lalat berwarna hitam. Binatang jahil, tega sekali ia memberaki baju usang seorang perempuan tua sepertinya.
Perempuan itu menyapaku. Memamerkan giginya yang hitam dipenuhi karat getah sirih bercampur pinang yang telah dikunyahnya sepanjang umurnya. Aku agak takut. Dalam pikiran kanak-kanakku seringainya tak lebih seperti senyum mak lampir. Menghadirkan hawa kengerian.

Rambutnya kelabu, dengan gumpalan warna putih di sana-sini menjulur dari balik songkoknya. Songkok rajut dari bahan wol yang telah cokelat dimakan usia. Di sisi sebelah kirinya terlihat sobek dan dijahit dengan benang warna hitam ala kadarnya.


Aku mencium canggung tangan keriputnya. Aroma terasi dan bawang menyengat halus ke syaraf hidungku. Menghadirkan sensasi mual yang naik hingga ke ubun-ubun. Sejak saat itu aku telah sah menjadi murid Mak Itam, sebutan bagi perempuan tersohor yang berprofesi sebagai guru ngaji di kampung itu.


Mak Itam tersohor bukan saja karena karat giginya yang tebal, seolah-olah giginya telah tanggal semua saking gelapnya. Tetapi karena ia memiliki ilmu agama yang baik, yang diajarkan kepada anak-anak kampung dengan praktik sehabis magrib. Ia mengajarkan ilmu ketauhidan, bersuci dan hukum agama. Mak Itam juga mengajarkan kitab arab berbahasa jawi semisal kitab masailal dan bidayah.

Namun, kekejaman Mak Itam lah yang membuat seluruh muridnya tidak mungkin mengidap amnesia. Mak Itam tidak akan segan-segan menjewer atau memukul muridnya yang bandel, apalagi murid laki-laki yang suka mengusilinya. Ahmad misalnya, pernah sekali waktu Mak Itam menjepit jempolnya dengan kursi yang ia duduki. Sebab musababnya si Ahmad yang umurnya sudah lima belas tahun masih belum bisa menghafal doa shalat. Anehnya, setelah ritual penjepitan itu si Ahmad yang sering dipanggil bloon oleh teman-temannya bisa menghafal ayat sembahyang.

Hari pertama mengaji telah membuatku kecut dengan cerita-cerita sinis para murid mengenai Mak Itam. Namun tidak semua cerita tentang Mak Itam menyeramkan. Ada juga cerita menarik seperti yang dikatakan oleh si Badriyah. Bahwa Mak Itam suka mendongeng. Ada saja cerita yang ke luar dari bibir merahnya, sisa-sisa getah sirih bercampur gambir.

Kalau bukan karena cerita-cerita dongengnya, barangkali Mak Itam telah lama lepas dari cangkang ingatku. Dalam keremangan lampu teplok aku sering menghabiskan separuh malam untuk mendengarkan cerita Mak Itam. Sambil memijit kaki atau lengannya. Kadang-kadang sambil membantunya mengupas pinang. Dengan cemilan jagung atau pisang rebus dan teh manis.

Mak Itam tinggal sendiri. Rumahnya terletak di pinggir sungai dan terpisah dari rumah penduduk. Beberapa murid sengaja menginap di rumahnya agar Mak Itam punya teman, begitu juga aku. Dalam suasana seperti itu perempuan bermata kelabu itu lebih bersahabat. Wajahnya tak lagi garang, bibirnya lebih banyak melengkungkan senyum.

Sekarang setelah puluhan tahun terlewati, cerita-cerita dongeng Mak Itam mulai menghampiriku satu persatu. Tidak seluruhnya mampu kuingat tetapi ada satu cerita yang tak mampu kutepis dari memoriku. Tentang Perempuan Almarhum.

Tentang seorang perempuan muda yang tergila-gila pada lelaki bermata cokelat. Lelaki itu tidak lah memiliki wajah yang sangat tampan, tetapi cukup enak dipandang karena kebersahajaannya. Wajahnya selalu tenang, membuatnya tampak berkharisma dengan kata-katanya yang teratur. Senyumnya tak pernah sepi dari bibirnya. Lelaki yang selalu menghadiahi si perempuan muda dengan nasehat bijak dan petuah penuh makna.
Kadang-kadang, si lelaki bermata cokelat memuji kepintaran si gadis yang pantai beretorika. Yang dalam istilah Mak Itam bermulut tajam. “Mulutnya tajam bagai jarum yang ia gunakan untuk menjahit.” Demikian tegas Mak Itam tentang perempuan muda tersebut.

“Apakah mereka menikah?” tanyaku ketika itu.

“Oh ya, tentu saja. Mereka saling mencintai.” Jawab Mak Itam

Aku tertawa. Tentu saja mereka menikah karena mereka saling mencintai. Mereka akan bahagia dan cerita tamat sampai di sana. Cinderella telah bertemu pangeran hatinya.

“Kau kelihatan senang sekali Nana.” Mak Itam berkata lirih. Aku tersipu karena ia pasti dengan mudah membaca pikiranku.

“Mereka pasti sangat bahagia.” Jawabku.

Mak Itam tersenyum. Dalam remang malam giginya terlihat mengkilat, berbias dengan cahaya kecil dari lampu minyak yang melemparkan jelaga hingga ke lubang hidung kami.

“Ceritaku belum selesai Nana.”

Mak Itam menguap, aku was-was, takut-takut kalau Mak Itam tidak mau melanjutkan ceritanya. Dan benar saja Mak Itam menyudahi ceritanya. Mata tuanya tak mungkin dipaksa terus menerus untuk terbelalak. Ia perlu istirahat. Agar besok tubuhnya kembali bugar.

Sayangnya Mak Itam tak pernah meneruskan ceritanya, tak lama berselang ia terserang demam tinggi dan membuat nyawanya terenggut. Aku bersedih, menangisi kepergian Mak Itam dengan duka dan penyesalan yang luar biasa.

Namun setelah tahun-tahun berlalu aku merasa ruh Mak Itam menyusup ke tubuhku. Untuk meneruskan potongan ceritanya yang tak pernah usai. Mula-mulai aku mengenal seorang lelaki bermata coklat. Memiliki tutur kata lembut seperti yang pernah Mak Itam ceritakan. Aku jatuh cinta dan tergila-gila padanya.

Kisah hidupku dimulai ketika aku telah menikah dengan lelaki itu. Sebuah keputusan terbesar yang pernah kulakukan untuk diriku sendiri. Melalui ruhnya di tubuhku Mak Itam menceritakan tentang helaan napas berkali-kali dari si perempuan muda retorik itu. Namun tak juga memberikan lega untuknya.

Perempuan muda yang selalu diliput khawatir setiap senja tergelincir, ketika malam tiba ia menjadi was-was dan risau, kesedihan melingkupi dirinya dan juga amarah.

“Begitulah perempuam almarhum menunggu suaminya yang tak pernah kunjung datang.” Kata Mak Itam melalui gumaman di mulutku.

Air mataku jatuh. Apakah Mak Itam sedang melanjutkan cerita perempuan almarhum atau sedang membacakan garis takdirku? Karena seperti itulah yang kurasakan saat ini. Perasaan yang bukan hanya sekali ini saja kurasakan.

“Ia pandai berkilah.” Lanjut Mak Itam seolah menasehati.

Aku mengiyakan. Tetapi lelaki yang menjadi suamiku itu tidak pernah berkilah. Ia akan menceritakan seluruhnya kepadaku. Dan cerita-cerita itu lah yang kerap melahirkan cemburu di hatiku. Seperti bara panas yang merambati setiap panca indera dan aku mulai melancarkan protes atas kehadirannya yang sesekali itu.

“Kau akan cemburu Nana.” Demikian katanya sebelum ia menjadi suamiku

“Cinta mampu menyembuhkan segalanya, apalagi hanya soal cemburu.” Kataku berdiplomasi ketika itu.

Ketika itu aku hanya mampu berfikir bahwa cinta tak ubahnya aspirin yang akan menghilangkan nyeri di kepala.

“Kau akan lebih banyak melewati malam-malam yang sepi.”

“Langit tak selamanya berbintang, purnama juga hanya datang sebulan sekali.”

“Kau keras kepala Nana.”

“Aku mencintaimu.”

Aku tertegun. Mengenang kembali percakapan sehari sebelum aku menjadi istrinya. Aku telah berjanji dan mestinya aku tak boleh sakit hati. Benar, malam-malamku adalah kesepian panjang yang menyiksa. Dan benar kata Mak Itam bahwa perempuan almarhun adalah perempuan pemberani yang menciptakan aib untuk dirinya sendiri. Dengan retorikanya ia melawan kebiasaan adat yang membuatnya tersisih. “Seperti engkau yang memilih menjadi istrinya.” Tohok Mak Itam di tengah ketermanguanku.

“Apa salahnya menjadi istrinya.” Protesku. Sekali dalam hidupku aku merasa tak menyukai Mak Itam. Dan buruknya itu setelah ia menjadi almarhum.

“Yang salah adalah engkau telah menjadi madu istrinya.” Tudinya lagi tanpa merasa canggung.

Aku tertohok. Juga tersinggung. Tak semestinya Mak Itam berbicara seperti itu melalui ruhnya yang masuk ke tubuhku.

Aku mulai ragu dengan keberadaan Mak Itam di tubuhku. Tetapi ada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan Mak Itam yang kini menjadi kebiasaanku. Yaitu mengunyah-ngunyah sirih dengan campuran pinang dan kapur. Gigi-gigiku kini mulai berkarat dan berwarna merah pekat, begitu juga dengan bibirku. Dalam setiap kunyahan-kunyahan getir itu aku merasa sebagian luka batinku tersembuhkan. Jarak kesepianku semakin singkat. Tidak lagi sepekat malam yang dilanda gerhana.

“Memang begitulah cara perempuan almarhum mengobati dirinya.” Celetuk Mak Itam seraya pamit dari jasadku.

Kini, tinggal aku yang termangu-mangu menatap diriku yang baru di bayangan cermin.


Banda Aceh, 9 Februari 2012




 http://atjehpost.com/read/2012/02/13/2193/36/13/Perempuan-Almarhum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email