Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Minggu, 24 Maret 2013

Maret yang hampir selesai

By On Maret 24, 2013

Kau lihat angka di kalender itu, Sayang?
Hari ini sudah tanggal dua-dua, dua-nya dua kali, dua-dua.
Sebentar lagi Maret akan usai, akan selesai, seperti musim yang menanggalkan penghujan
Ia pun beralih pada kemarau. Mungkin, sebentar lagi titik-titik api akan bermunculan, memantik, membakar batu, melahap belukar.

Kau ingat Maret?
Ini sejarah bagi kita, bagi aku dan engkau; aku dan kamu; kita
Berkedip-kedip bagai alarm di ingatan kita. Kenangan tentang Maret yang syahdu, penuh harmoni, dan juga kisah. Ah, seperti apa ritmisnya? Ada mendung, gerimis, lalu hujan lebat, petir atau guntur bergemuruh, menggigilkan perasaan kita.

Lalu menjadi embun, matahari muncul, hangat dan merambat hingga ke ubun-ubun kita. Ah...teduh rindang pohon itu mengingatkanku pada matamu yang tenang, mendamaikan dan melesakkan rindu dalam riuh bising perasaan.

Ya, ini maret, kita pertama menyemai kecambah itu di bulan ini, di awal musim yang hangat setelah poranda yang parah. Kita dan Maret; adalah sejarah.


06.56 PM
Jumat | 22 Maret 2013

Rabu, 20 Maret 2013

Tikungan

By On Maret 20, 2013

ENTAH pada tikungan ke berapa dalam hidupku, tiba-tiba saja aku diliputi kegamangan. Mungkin parah, dan mungkin juga entah. Entah, sebab aku tak yakin dengan apa yang kusebut sebagai parah itu.

Kekesalan itu, mungkin hanya seperti kerikil kecil, kuambil di antara setumpuk kerikil liar lainnya, di tepi telaga aku melemparnya tanpa ampun.... plung...bersamaan dengan halo yang terbentuk di permukaan air. Maka tenggelamlah kerikil itu. Tenggelamkah marahku?

Ah, kegamangan ini membawaku pada suasana melankolik yang juga entah. Aku berharap hujan di musim kemarau. Sementara di gunung titik-titik api sebentar lagi akan muncul akibat kekeringan. Akan terbakarkah aku? Tidakkah embun-embun di pengujung subuh itu bisa menyelamatkanku.

Pada kali ini, selepas tikungan panjang kedewasaan, aku terfikir akan mukjizat dan keajaiban. Seperti apa bentuknya? Ah, bukan seperti kerikil pastinya, bukan juga hujan, bukan kemarau apalagi subuh. Ah... seperti dhuha kah? Yang selalu memberi harap dan kebaikan?

Seperti apa? Seperti apa?


19 Maret 2013
23.16 pm
Permata Punie

Selasa, 19 Maret 2013

Mengapa Saya Harus Menulis?*

By On Maret 19, 2013

SEBAGAI sebuah kata kerja, menulis punya arti beragam. Tergantung siapa yang menafsirkannya. Tafsiran tersebut tentunya tak terlepas dari apa yang "dimakan" oleh seseorang selama proses kreatifnya berlangsung.

Pertanyaan mengapa saya harus menulis menjadi pertanyaan umum bagi mereka yang belum memulai menulis. Seperti halnya pekerjaan lain, di balik pertanyaan mengapa tersebut sebenarnya tersirat makna besar. Apakah menulis menguntungkan saya?

Diakui atau tidak manusia sebenarnya adalah makhluk kapitalis yang selalu melihat sesuatu dari sisi yang menguntungkan untuk dirinya sendiri. Seseorang yang menyadari bahwa menulis menguntungkan bagi dirinya, maka ia akan menulis.

Apa saja keuntungan menulis? 


Selasa, 12 Maret 2013

Aku Mentari

By On Maret 12, 2013

Namaku mentari
Yang selalu terbit sesuai titah Tuhanku
Memberi harapan bagi yang berharap
Memberi hangat bagi yang menginginkan
Memberi kehidupan bagi yang rela

Aku mentari
Yang selalu setia pada rotasi takdirku
Aku selalu bersinar
Meski kadang terangnya tak sampai ke hatimu
Kadang aku redup
Bukan karena aku tak sanggup memancarkan binar
Tapi sesekali kubiarkan aku luruh dalam gumul awan

Senin, 11 Maret 2013

Perenang

By On Maret 11, 2013

Seperti seorang perenang yang terus mengarung
Dunia juga ibarat air yang arusnya tak bisa diprediksi
Kadang deras
Kadang tenang
Kadang menyenangkan
Kadang menakutkan
Kadang membuat rindu
Kadang ingin menjauhi

Seperti air,
Mengarungi dunia juga membutuhkan seni
Memerlukan keseimbangan, kesesuaian, kelenturan, keluwesan

Karena dia air
Kita memerlukan kacamata khusus, memerlukan teknik
Memerlukan manuver
Karena setiap tikungan beda tantangan
Setiap kayuh beda aba-aba

Karena dunia ini air
Nafas kehidupan
Seperti kamu...

Minggu | 10 | Maret | 2013

Minggu, 10 Maret 2013

Reuni Cinta Empat Sejoli

By On Maret 10, 2013
Etty, Yuyun, Ihan, Rusmi @istimewa
SALAH satu hal yang paling kurindukan dalam hidupku adalah berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Mereka yang selalu bisa diajak tertawa bersama, tetapi juga kadang meringis bersama, jika enggan untuk disebut menangis bersama.

Setelah sekian lama, kerinduan itu akhirnya terwujud semalam. Kami menghabiskan Sabtu malam sambil nongkrong di kawasan Simpang Lima. Di kedai Cane Pak Nek di depan Mess Pemda Sabang di Banda Aceh.

Reunian ini sebenarnya tak terlalu lengkap, sebab masih banyak yang alpa dalam pertemuan itu. Mestinya masih ada Nita Liana, akhwat paling pendiam soal kehidupan pribadinya, tetapi paling kocak dan rame kalau sudah ngumpul bersama. Teman-teman seangkatan lainnya yang tak kalah kocak juga ada Husnul Maulida, Murni, Siti Husna, dan Yusniar.

Seperti yang terlihat dalam foto, pertemuan itu hanya ada aku (berkerudung merah), Etty (berkacamata), Yuyun (tangan di bawah dagu) dan Rusmi (memegang canai). Meski berempat kami mampu menyulap suasana menjadi hangat. Sedikit informasi, suasana di tempat kami nongkrong semalam agak sepi, mungkin karena sebelumnya hujan, atau bisa jadi karena semalam juga ada tiga event musik yang digelar sekaligus di Banda Aceh.

Kami tertawa bersama sambil menikmati hidangan canai berisi susu, coklat, srikaya dan gula pasir. Di meja kami juga ada pizza mini toping daging, ada kentang goreng, dan martabak. Lengkap sekali dan semakin lengkap karena semua makanan itu kami habiskan tanpa sisa :-)

Pertemuan kami berempat berawal dari kampus tempat kami kuliah dulu, di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Mungkin karena selera humor yang sama, kami akhirnya menjadi dekat dan sering ngumpul-ngumpul bersama. Intensitas berkumpul menjadi jarang bahkan pernah tidak sama sekali begitu kami keluar dari kampus. Aktivitas dan rutinitas yang berbeda membuat kami sempat lupa untuk sekedar tertawa atau makan bersama. Kami semua angkatan 2002, aha, itu sudah lama sekali tapi kami masih terlihat muda dan akan selalu muda, setidaknya pikiran kami lah yang akan selalu menjadi muda.

Untuk bertemu sesering yang kami inginkan memang tidak gampang, Yuyun sekarang di Jakarta dan bekerja di Kantor Akuntan Publik, Etty di PT Aceh Media Grafika sebagai akuntan juga, dan Rusmi di Lembaga Baitul Maal, sedangkan aku menjadi Jurnalis, yang juga minim waktu luang.

Nita Liana @istimewa
Mengapa kami bisa berkumpul semalam? Yuyun sedang di Banda Aceh saat ini, ia mengabarkan padaku pada Jumat malam sebelumnya. Tanpa pikir panjang kami langsung buat janji untuk bertemu dan melepas rindu setelah terakhir bertemu beberapa tahun lalu. Etty yang juga di Banda Aceh tak mau ketinggalan, jadilah kami malam mingguan bersama.

Pertemuan kami menyenangkan, sebab tidak ada satupun di antara kami yang membicarakan soal pekerjaan. Sepertinya di antara kami berempat sedang fokus pada makanan yang tersaji di meja. Ah, yang benar adalah kami sibuk dengan momen-momen untuk mengabadikan kebersamaan tersebut. Sebab setelah perpisahan semua itu akan menjadi keping kenangan yang menjadi referensi sejarah bagi kami.

Entah kebetulan atau apa, dari status Facebook, kuketahui jika Nita Liana juga sedang menikmati pizza di rumahnya. Pizza hasil olahan adik perempuannya. Kalau saja ada dia pasti suasana menjadi lebih hangat lagi. Nita ini dulu sering menginap di rumahku. Apapun, yang terpenting bagi kami adalah saling mengingat, saling mendoakan dan saling mencintai karena Allah.[]

Jumat, 08 Maret 2013

Ending

By On Maret 08, 2013
ilustrasi malam

Perpisahan yang indah adalah perpisahan yang direncanakan
Ini bukan soal kontrak hidup, tapi ini soal konsistensi
Ah, malam lengang tahu apa soal konsistensi?
Seperti apa bentuknya?
Seperti langit yang kelam
Atau seperti matahari yang selalu gagah
Yang melelehkan rasa dari kepingan salju
Menjadi es krim lezat dalam mangkuk oval

Sewindu itu lama;
Sekedar untuk menjelajah sepasang kornea
Sekedar untuk menikmati liur yang manis
Sekedar untuk mendayung sepasang perahu bibir
Sekedar untuk menyetubuhi alam dengan sejuta wangi bunga

Perpisahan yang indah adalah perpisahan yang direncanakan
Mungkin dalam bentuk kepingan puisi atau potongan sajak
Keduanya adalah penyatuan...

~Ending~

Senin, 04 Maret 2013

Menikah untuk Apa?

By On Maret 04, 2013

SALAH SATU hal yang paling saya syukuri adalah terlahir di keluarga yang sangat demokratis. Almarhum ayah dan ibu saya tak pernah memaksakan saya dan anak-anaknya yang lain sesuai dengan kemauan mereka.

Saat sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi saya selalu diberi kebebasan untuk memilih. Orang tua, khususnya ibu hanya memberi pandangan. Namun semua keputusan tetap dipulangkan kepada kami anak-anaknya. Ayah saya seorang yang tegas, sikap demokratisnya tentu saja dibarengi dengan tanggung jawab apabila sudah menetapkan suatu keputusan.

Setelah saya besar dan dewasa, saya mulai menyadari ada tuntutan lain yang biasanya dilakukan oleh orang tua pada anak-anaknya. Khususnya pada anak perempuan; yaitu tuntutan untuk menikah.

Tapi saya melihat itu tidak dilakukan oleh ibu saya. Beliau tak pernah meminta saya untuk menikah, apalagi mendesak. Beliau justru sering mengatakan agar saya memanfaatkan waktu muda saya seproduktif mungkin. Ibu tak pernah mempersoalkan dunia kerja saya yang jam kerjanya ‘tidak jelas’. Ibu juga tak pernah meminta saya untuk menjadi atau bekerja di luar bidang yang saya tidak sukai. Sekali lagi, beliau hanya memberi pandangan secara halus.

Ngomong-ngomong soal menikah, apakah saya tak ingin menikah? Punya keluarga dan punya anak seperti teman-teman yang lain? Secara naluri iya, tetapi itu tidak terlalu mendesak. Ibarat barang primer, sekunder dan tersier, menikah bagi saya saat ini bolehlah diibaratkan sebagai kebutuhan sekunder.

Sekali lagi saya bersyukur ibu saya tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dan saya yakin beliau mengetahui kondisi saya hingga akhirnya tak pernah memaksakan. Ibu selalu bilang menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Itu artinya saya akan menikah ketika saya benar-benar menemukan orang yang bisa saya “cintai”. Lalu, apakah saya belum menemukan orang itu? Jawabannya sudah, menurut saya cukup ideal, sesuai yang saya suka, kami berdua saling mencintai. Tapi mengapa belum menikah? Mari kita tersenyum untuk takdir yang berbeda J Saya tak pernah menyesal mencintainya.

Saat menuliskan ini di dekat saya ada seorang ibu muda. Ia seusia saya, bedanya sudah menikah dan punya seorang anak berusia sekitar dua tahunan lebih. Saya banyak belajar dari caranya berumah tangga. Kabar buruknya pelajaran yang saya terima bukan hal-hal positif. Untungnya saya cukup punya akal untuk menganalisa semua tindakan negatifnya.

Tulisan ini bukan untuk mencari cela orang lain, tapi sebagai perbandingan. Bahwa keputusan untuk menikah alangkah bijak jika disertai dengan perencanaan yang matang. Menikah bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata tanpa mempersiapkan mental untuk menerima perubahan fisik saat hamil, dan melahirkan, kemudian status berganti menjadi orang tua.

Itulah yang tidak saya temui pada seorang tetangga yang saat ini berada di dekat saya ini. Saya mengambil contoh saat ia sedang kesal, anaknya yang belum bisa bicara dengan jelas itu akan disemprot dengan celaan yang tak pantas. Kadang disertai dengan cubitan atau helaan yang membuat anaknya menangis. Saya sering melihat tangannya tergerak refleks memukul atau mendorong ketika si anak melakukan kesalahan.

Perlakuan seperti itu bukan hanya ditujukan pada anaknya saja, tetapi juga pada suaminya. Saya sering mendengar ia melontarkan sebutan serampangan pada suaminya. Saya melihat tak ada sikap hormat atau respect yang diperlihatkan untuk suaminya. Jarang sekali terdengar pujian tentang suami jika ia sedang membicarakan pasal keluarganya.

Masih ada seorang lagi yang sering menyejajarkan nama anaknya dengan penghuni kebun binatang. Kadang disebutnya setan, dan sejumlah makian lain yang saya canggung menuliskannya. Lagi-lagi saya melihat organisasi pernikahan itu sendiri sebenarnya baru dimulai ketika seorang anak hadir. Karena pada saat itu kehidupan menjadi lebih kompleks, perubahan emosional yang tidak stabil dan faktor lainnya yang gampang membuat kondisi seseorang tidak stabil.[]

Minggu, 03 Maret 2013

Yamaha, Bikin Aku Jadi Macho!

By On Maret 03, 2013

Sumber foto internet. Jenis Yamaha RX King milik ayah saya
Siang tadi aku punya kesempatan berkeliling kota. Kebetulan aku sedang libur kerja dan bisa meluangkan waktu sedikit untuk mencari angin segar. Saat tiba di pusat keramaian Taman Sari aku melihat banyak umbul-umbul Yamaha. Rupanya sedang ada perhelatan yang dibuat oleh Yamaha Banda Aceh hari Sabtu ini, 2 Maret 2013.

Melihat logo Yamaha yang besar-besar dengan warna menyolok aku terkenang pada masa belasan tahun silam. Ingatanku terlempar jauh ke masa kanak-kanak saat aku masih tinggal di desa. Desa tempatku tinggal dulu memiliki kondisi geografis yang berbukit-bukit. Media transportasi utama masyarakatnya adalah sepeda motor.

Waktu itu sekitar tahun 1990-an aku melihat ada keragaman alat transportasi yang digunakan oleh warga di tempatku tinggal. Juga warga-warga di desa sekitarnya. Umumnya masyarakat yang membeli sepeda motor menyesuaikan dengan kondisi alamnya. Selain berbukit-bukit waktu itu jalan penghubung antar desa di tempat kami belum beraspal. Waktu musim hujan kondisi jalan tidak hanya becek, tapi juga berlubang di beberapa titik tak jarang ditemui mirip kubangan kerbau.

Seingatku waktu itu tidak ada masyarakat yang mempunyai sepeda motor jenis bebek, merek apapun juga. Umumnya mereka membeli sepeda motor yang tangguh, dan terkesan maskulin, sehingga mampu untuk mengendarai medan jalan yang berat.

Satu-satunya merk sepeda motor yang dipakai waktu itu adalah Yamaha jenis RX King. Tidak seperti sekarang sepeda motor sangat banyak macamnya. Yamaha saja memiliki beberapa jenis misalnya di antaranya Mio, Xeon RC, dan lainnya. Masyarakat jadi punya banyak pilihan.

Seperti warga lainnya, orang tuaku juga memilih Yamaha RX King sebagai alat transportasinya. Setiap hari ayahku mencari nafkah dengan sepeda motor itu. Almarhum ayahku waktu itu seorang pedagang hasil bumi, saat kami masih kecil ia berkeliling desa yang jaraknya sangat jauh untuk membeli kakao kering. Di jok belakang sepasang keranjang digantung, di dalam keranjang rotan itulah ia memasukkan biji-biji kakao yang ia beli.

Saat musim hujan tak jarang ayah pulang dengan kondisi sepeda motor penuh lumpur. Belum lagi beban yang begitu berat di jok belakang dan di keranjang. Tetapi sama seperti ayahku, Yamaha yang dikendarai ayahku tetap terlihat tangguh.

Bukan hanya ayahku, bahkan seorang mantra dari desa tetangga kulihat setiap hari berkeliling kampung dengan motor Yamaha. Ada juga seorang pekerja kebun yang menggunakan Yamaha untuk pergi ke areal perkebunan yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer. Anak-anak muda di kampung kami juga lebih menyukai Yamaha karena mereka terlihat gaya saat mengendarainya.

Aku sendiri, meski perempuan menyukai Yamaha RX King. Kesan maskulinitasnya sangat kental, aku merasa sepeda motor itu tak hanya tangguh, tapi juga keren. Itu juga yang membuatku terus menerus menahan rasa penasaran untuk mencobanya. Aku ingin bisa mengendarainya, menginjak remnya, menarik gas, dan mengoper persnelingnya. Saat SMP keinginan untuk belajar sepeda motor sangat kuat, apalagi saat teman perempuanku yang sebaya, juga sudah diajarkan mengendarai Yamaha RX King milik ayahnya.

Namun karena aku berawak kecil ayah selalu melarangku. Niat tersebut akhirnya kesampaian saat aku masih SMA. Saat ayah tak di rumah diam-diam kukeluarkan Yamaha RX King miliknya dari pintu dapur. Aku kemudian mengengkol motor tersebut memasukkan persneling dan menggenggam koplingnya lantas melesat di jalan. Sore itu aku senang sekali, bayangkan anak perempuan bisa mengendarai motor sekeren itu, pakai kopling pula. Aku merasa macho![]
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email