Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Minggu, 21 Juli 2013

Paradok cinta; Antara ingin melepaskan dan takut kehilangan*

ilustrasi by hdwallpapers.in
MALAM kemarin aku bertamu ke rumah tante sekaligus untuk berbuka puasa bersama di rumahnya. Karena kedatanganku tanpa pemberitahuan jadinya tante nggak nyiapin apa-apa. Menu berbuka nyaris tak ada yang istimewa, juice timun suri, balado tongkol, sayur rebus dan sambal terasi, beberapa potong risol dan tiga bungkus sate yang kubawa.

Acara buka puasa berlangsung akrab dan menyenangkan, sambil bercerita kami menyantap hidangan ala kadar itu dengan lahap. Setelah acara makan-makan selesai satu persatu di antara kami beranjak untuk menunaikan salat magrib. Setelah itu kami bersantai sambil melanjutkan obrolan yang tadi tertunda. Tiba-tiba tanteku nyeletuk. “Si kakak sudah punya calon,” katanya.

Si “kakak” yang dimaksud tanteku adalah anaknya yang nomor dua, adik sepupuku. Deg! Rasanya bagai ada yang tertohok di hatiku paling dalam. Serta merta, sambil kepala mengangguk-ngangguk dan bibir mekar tersenyum mendengar sambungan cerita tante, hitungan matematisku terus berlangsung dengan kilat.

Si sulung tanteku baru saja tamat SMA tahun ini, dua bulan lagi ia baru masuk ke universitas sebagai mahasiswa semester pertama. Umurnya, tentu saja terpaut jauh denganku yang mendekati kepala tiga. Sambil terus mendengarkan cerita tante, aku mencoba manahan rasa miris semacam cemburu yang diam-diam merayap di sanubari. Tiba-tiba, sepupuku yang satu lagi yang baru SMP ikut nyeletuk. “Kakak sudah punya calon?” tanyanya polos ke arahku. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa nyengir.

Siangnya, seharian aku merasakan perasaan yang sama sekali tak bisa kulukiskan. Rona wajah bahagia tanteku semalam seolah terus menerus menerorku. Menghadirkan rasa sentimentil dalam diriku, dan menyentuh naluri perempuanku paling peka.

Aku berusaha mengingat-ngingat kenyataan, beberapa bulan lalu tante yang seumuran denganku baru saja melangsungkan pertunangan dengan pria yang dicintainya. Dua bulan berikutnya kakak sepupuku yang lain juga telah melangsungkan pernikahan. Juga dengan pria yang dicintainya. Sedangkan sepupu lelaki yang sebaya denganku dan paman yang berselisih dua tiga tahun denganku juga sudah bertunangan. Seorang sepupu yang usianya hanya terpaut setahun denganku bahkan sudah mempunyai dua anak.

Ya, tiba-tiba saja aku menjadi tambah sentimentil. Aku seperti “ngeh” bahwa usiaku tak lagi muda sebagai seorang perempuan. Idealnya aku sudah menikah, atau mungkin punya satu atau dua anak yang kecil-kecil. Aku merasa semakin “salah tingkah” menyadari adik lelakiku juga sudah menikah dan punya anak, ditambah paman yang seusia adikku juga sudah sibuk minta bertunangan dengan perempuan yang dicintainya. Lalu, bagaimana denganku?

Pulang dari rumah tante aku mampir di sebuah galeri, di sana aku bertemu dengan teman pria yang pernah satu tempat kerja denganku beberapa tahun lalu. kulihat ia menggendong putrinya yang berusia sekitar tiga atau empat tahun. Ah, banyak teman-teman sebayaku yang telah menikah dan mempunyai anak.

Mestinya aku tak perlu merasa uring-uringan, gelisah ataupun panik. Sebab aku juga mempunyai tambatan hati. Tempat berbagi cerita yang telah lebih sewindu kujalani. Selama ini aku hidup dalam kolam cinta kasih yang rasa-rasanya nggak bakalan kering atau susut. Hari-hariku selalu diliputi rasa senang, bahagia dan selalu berbunga-bunga. Aku hidup dalam stok cinta yang tak pernah kurang, hingga aku menyadari bahwa usiaku tak lagi muda.

Di ujung stok cinta yang makin meluber-luber itu aku pun seperti menemukan jawaban atas perasaanku selama ini. Tentang rasa sepi yang tak pernah tergantikan, yang telah diselimuti perasaan yang menggebu-gebu, tentang rasa tak bisa memiliki yang menyatu dengan fatamorgana tentang kesetiaan. Juga tentang harapan-harapan yang selalu tarik menarik antara hasrat, rasa dan logika. Ya, aku dikepung kemarahan dan sakit hati yang ditimbulkan oleh perasaan cintaku sendiri. Seperti terkapar, aku bahkan tak sanggup menolak ketika rasa itu menghujam bertubi-tubi terhadap diriku.

Sampai detik ini, saat aku menuliskan cerita ini aku masih diamuk gelora yang membara. Kuketahui itulah yang membuatku uring-uringan seharian ini, dan juga ketika aku diliputi rasa kesepian yang begitu panjang. Bahwa aku punya tambatan hati benar, tapi kenyataannya berbeda dari harapan-harapan yang selama ini menjadi topik pembicaraan antara aku dan dia. Berkali-kali aku berfikir, betapa bodohnya telah memerangkapkan diri dalam cinta yang seperti ini. Seperti kutub yang tak pernah menemui titik akhir. Maka cintaku adalah pengembaraan tanpa ujung. Seperti berada di padang pasir yang setitik pun tak kutemukan oase.

Bahwa aku mulai berfikir, cinta bukan hanya untuk memenuhi gejolak ruang batin yang cukup hanya sebatas melepas rindu. Tapi lebih dari itu, untuk membangun jembatan demi jembatan hingga akhirnya sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya; Tuhan!

Bahwa cinta mestinya tak memberi rasa tertekan karena tak bisa memberikan kepastian. Cinta mestinya menjadikanku benar-benar perempuan, menjadikanku seorang istri dan ibu! Kukatakan bahwa dia adalah angin, ada, hanya saja mereka di sekelilingku tak bisa melihat wujudnya. Hanya aku yang bisa. Di usiaku yang lebih dari seperempat abad ini aku mulai menyadari bahwa mencintai rahasia itu misteri. Dia hanya ada untukku, bukan untuk orang-orang di sekelilingku. Sementara aku selalu dicecari oleh orang-orang terdekat yang selalu mempertanyakan keperempuananku. Mempertanyakan kenormalanku. Ah, aku ingin menangis rasanya ketika semua itu hanya kusimpan sendiri.

Aku tahu, Tuhan tahu aku mencintai dia dan juga sebaliknya. Aku ingin memilikinya, menjadikan seluruh panca inderanya hanya untukku seorang. Tapi di suara hatiku yang paling dalam aku menolak itu terjadi. Aku tak ingin melubangi tangki cintaku dan membiarkan stok kasih yang selama ini penuh tumpah hingga akhirnya kosong. Aku ingin dia selalu menjadi rahasia dan berdiam di hatiku. Paradok. Karena aku hanya bisa mengaduh, menangis diam-diam, entah menyesal, aku pun hanya bisa meraba-raba mengenai perasaanku ini.


Tuhan, aku selalu berharap takdirMu yang paling indah. Jadikan aku kuat, tenang dan lumuri aku dengan cintaMu yang tak berkesudahan.[]

*Dikutip dari sebuah akun facebook berinisial GJ, judul dan isi tanpa perubahan sedikitpun

1 komentar:

  1. Takdir Allah adalah yang terbaik, walau awalnya kita sering menyalahi takdir tp lambat laun kita akan bisa melihat bahwa ada hikmah di setiap takdir Allah

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email