Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 14 Agustus 2013

Sahabat, andai saja kalian tahu...

BEBERAPA bulan lalu saya pernah posting tulisan tentang beberapa teman yang sampai sekarang masih terus menjalin komunikasi. Meski ada yang sudah berada di luar kota, tapi kami cukup akrab, untuk menjalin komunikasi kami pun memanfaatkan jejaring sosial.

Sejak kemarin sore, Selasa 13 Agustus 2013, saya teringat pada mereka; Nita, Rusmi, Ety dan Yuyun. Ingin kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol, sambil makan-makan. Tapi berhubung nggak tahu mereka ada di mana ya kerinduan yang muncul menjelang magrib itu pun saya biarkan begitu saja. Saya sempat berniat menghubungi Ety, untuk mengajaknya makan bakso. Tapi karena hujan saya pun mengurungkan niat itu. Mengajak Nita, itu nggak mungkin karena ia tinggal di Aceh Besar, sekitar 14 kilometer ke arah utara Banda Aceh. Rusmi, kemarin saya lupa kalau doi yang jaraknya paling dekat dengan saya. Yuyun, setahu saya Yuyun masih di Jakarta.

Sore ini, kerinduan saya pada mereka pun kembali membuncah. Meski yang tinggal di luar daerah hanya Yuyun, tapi saya, Rusmi, Ety dan Nita jarang sekali bertemu. Kebetulan pekerjaan pun sedang tidak terlalu banyak, saya mengambil hape dan mencoba menghubungi Rusmi. Tentu saja mengajaknya untuk makan malam, sembari nongkrong dan cerita-cerita.

Tapi, jawaban Rusmi mengecewakan. Dia sudah makan, baru saja. Itu artinya ajakan saya terlambat beberapa waktu dari acara makan-makannya. Ya, kalau dipikir-pikir memang terlambat saya mengajaknya. Sudah pukul enam lewat, hampir azan magrib. Tapi bukan jawaban itu yang buat saya kecewa, melainkan acara makan-makannya bersama dua teman lainnya; Ety dan Yuyun.

Ah, terbersit rasa kecewa di hati kecil ini. Jika saja mereka mengajak saya untuk makan sore ini, pasti saya tak bertanya banyak, langsung saya iyakan ajak tersebut. Bahkan Yuyun, tega sekali tak memberi tahu kalau dirinya ada di kota ini. Hm, kadang-kadang terfikir juga, apa susahnya mengirimkan pesan, atau sekedar inbox di facebook, sekedar ngasih tahu. Kalau pun ia sibuk tak bisa ketemu, ya ngga apa-apa juga. 

Saya pun 'protes' kepada Rusmi, kenapa dia nggak ngasi tahu saya, jawabannya terlalu...terlalu...terlalu apa ya, susah jelasinnya. Karena dia pikir saya masih di kampung, oh kawan....padahal tinggal sms, atau telp saja sudah bisa untuk mengetahui di mana posisi seseorang.

Jadi teringat ceramah almarhum KH Zainuddin MZ. Katanya jangan memasukkan sesuatu ke hati terlalu berlebihan. Karena ketika hilang bikin sakit hati dan sedih banget. Saya memang tidak kehilangan teman-teman ini, tapi entahlah...seperti ada yang berembun di hati saya. Mungkin karena mereka sahabat-sahabat saya yang telah mendapat tempat khusus di hati saya.[]

3 komentar:

  1. Kadang aku masih suka juga merasakannya kayak gitu Han, terutama untuk sahabat yang sudah mendapat tempat khusus di hati. Namun sejak menikah, kadar rasa seperti itu sudah mulai berkurang, hehee..
    Arti sahabat bagiku saat ini sama seperti sebelum-sebelumnya, bahwa mereka tentu istimewa..tapi..mengingat banyak hal, aku mulai mengubah persepsi tentang arti sahabat sesungguhnya :D
    Aku pun pernah menuliskannya di blog:
    http://fardelynhacky.blogspot.com/2013/07/arti-sahabat_6229.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eky, ya begitulah, tapi tidak semua bisa kita sama ratakan :-D ada orang-orang istimewa yang memang tanpa diistimewakan pun sudah istimewa hehee

      Hapus
  2. mungkin ada baiknya kejadian ini dijadikan introspeksi diri menurutku.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email