Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 29 Oktober 2013

Sajak Hujan

By On Oktober 29, 2013
Foto by Kompasiana
Kau! Katakanlah kau hujan, yang lahir dari pergumulan semesta. Yang selalu hadir setelah wajah muram sang jagat. Aku suka tempiasmu, yang jatuh satu-satu di pucak imajinasiku. Yang membasahi syaraf-syarafku. Yang melunturkan rasa, dan juga gelora!

Katakanlah kau hujan, yang selalu hadir dalam bentuk embun yang menempel di pucuk dedaunan. Lalu mengering bersama kehangatan yang tercipta antara aku dan engkau. Kau tahu, bulir-bulir itu mereinkarnasi menjadi keringat yang hangat. Yang muncul dari ruang pori percintaan semu.

Jika kau memang hujan, maka kau bisa ada dan tiada. Kau bisa muncul dan senyap, atau diam-diam hanya mengintip sebagai mendung. Aku? Apa bisa aku protes, meminta semesta terus menerus mengedan demi melahirkanmu. Ah, mana peduli dia tentang suasana romantis karena bulir-bulirmu yang melekat di keningku, atau di bibirku, atau di manapun. Ah....


Jumat, 25 Oktober 2013

Pernah kena razia?

By On Oktober 25, 2013
Foto by ATJEHPOSTcom
SEJAK jejaring sosial booming beberapa tahun belakangan ini, mudah sekali mendapatkan informasi. Walau hanya sepotong-potong, paling tidak itu bisa menjadi "bekal" dalam berkomunikasi. Paling tidak, tidak sampai sama sekali ketinggalan informasi lah!

Sepekan ini kuperhatikan pembicaraan hangat di Facebook seputar razia kendaraan yang katanya bertebaran di mana-mana. Misalnya saja di Jalan Panglima Nyak Makam Pango, di Jalan Teungku Chik Ditiro Peuniti dan di Jalan Teuku Umar Seutui. Di Banda Aceh, tiga ruas jalan yang kusebutkan tadi bolehlah dibilang "titik rawan" yang sering sekali digelar razia kendaraan. Selain di kawasan itu, razia juga sering dibuat di Jalan Teungku Daud Beureueh dan di perbatasan Banda Aceh dengan Aceh Besar di kawasan Meunasah Manyang.

Ngomong-ngomong soal razia kendaraan, aku sudah lupa kapan terakhir kali kena tilang dari pak polisi. Selama di Banda Aceh aku pernah beberapa kali kena tilang sampai harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk "menyelesaikan masalah tanpa masalah". Di satu sisi aku menyesalkan uang yang terpaksa keluar dengan sia-sia begitu, di sisi lain aku tak bisa "protes" karena memang tidak memiliki surat-surat lengkap. Selama bisa mengendarai sepeda motor, aku memang tidak pernah memiliki Surat Izin Mengemudi karena memang tidak pernah membuatnya. Bukannya aku tidak ingin memiliki SIM, tapi untuk mengurusnya itu yang membuatku malas. Aku malas berurusan dengan orang-orang berseragam. Itu makanya aku malas mengurus KTP, SIM, pajak, dan hal-hal yang berbau prosedural lainnya.

Senin, 21 Oktober 2013

Idul Adha di kampung tak berpenghuni

By On Oktober 21, 2013
Buatku rumah ini sangat nyaman, berada di tengah sawah, di sekelilingnya
banyak pohon, ada mangga, jambu, jabon, kelapa sawit, belimbing, kelapa,
juga pohon waru. Saat angin bertiup... ambooiii...
Soal jika aku ditanyai orang, apa yang paling kuinginkan dari sebuah momen hari raya? Jawab bahwa, aku hanya ingin berkumpul bersama keluarga; ibu, adik-adikku, ipar dan juga keponakanku. Ayah? Beliau sudah lama berada di surga. Itulah mengapa setiap kali lebaran aku selalu mengusahakan mudik meskipun jatah libur mepet.

Siapa sih yang ngga ingin berkumpul bareng-bareng keluarga? Terutama aku yang sejak SMP sudah merantau. Jadi momen pulang ke rumah memang selalu ditunggu-tunggu. Libur Idul Adha kali ini, sama seperti libur hari raya sebelumnya, aku selalu pulang sehari sebelum makmeugang/punggahan. Biasanya aku sampai di rumah sekitar jam empat atau lima subuh.

Apa yang kulakukan begitu sampai di rumah? Tidur, menunggu sampai matahari terbit. Setelah itu aku langsung bersih-bersih rumah setelah sarapan dan membersihkan diri. Meski bukan hobi, membersihkan rumah menjadi kebiasaanku setiap kali berada di rumah. Salah satu nilai kebaikan yang diajarkan ibu saat aku masih kecil dan terus kulakukan sampai sekarang. Aku juga suka memasak jika sudah pulang ke rumah.

Dibandingkan beberapa kali hari raya sebelumnya, hari raya kali ini lebih istimewa. Bukan karena ada timphan atau lontong, bukan pula karena ada keluarga yang akan menikah setelah lebaran, bukan juga karena aku bisa ikut salat ied di masjid kampung. Tapi karena aku bisa berkunjung ke kampung tempat aku dibesarkan. Nama kampung itu Padang Peutua Ali, berada di Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur. Jaraknya sekitar 7-10 kilometer (kalau ngga salah) dari tempat tinggal kami yang sekarang. Sekitar 20 menit perjalanan dengan roda dua dan empat. Itupun karena kondisi jalannya sekarang sudah bagus walau belum teraspal.

Kami sekeluarga pergi ke sana pada hari Rabu, 16 Oktober 2013, hari raya kedua Idul Adha, menjelang siang sekitar pukul 11:30 WIB. Sebenarnya kepergian ini tak direncanakan. Sebelumnya aku memang sudah bilang ke ibu kalau aku ingin ke sana bersamanya. Sudah beberapa kali pulang kampung niatku berkunjung ke desa itu selalu gagal. Sekitar pukul sepuluh adik iparku tiba-tiba bilang "Kayaknya kalau kita ke Padang enak ya kak?"

Sabtu, 19 Oktober 2013

Dear Zorro

By On Oktober 19, 2013
Ilustrasi
Dear Zorro...

Tiba-tiba aku merasa rindu, sangat! Tapi bukan kepadamu, melainkan pada lorong-lorong sembunyi yang pernah kulalui saat hendak melihat senyummu. Atau pada malam-malam bertabur bintang saat aku bergerak perlahan melewati jengkal demi jengkal tanah Tuhan, untuk sampai kepadamu.

Kau tahu, berkelebat cerita di benakku kala itu. Tak sabar rasanya ingin kutumpahkan di hadapanmu. Agar kau bisa melihat seluruh warna dari "rasa" yang membulir itu. Warna dari luapa emosi karena rindu yang bertubi-tubi menghujam diri ini.

Kau lihat, bulir-bulir itu sebagiannya mengkristal, menjadi kisah dalam baitk-bait berupa puisi, prosa atau cerita-cerita. Hingga pada akhirnya kita selalu percaya bahwa rindu tak pernah jauh dari inspirasi. Kita selalu percaya bahwa inspirasi, sekalipun terlahir dari rahim ketakutan selalu memberi kekuatan. Yang mengalir dalam diri kita untuk tetap bertahan.

Tiba-tiba saja aku ingin menerobos belantara gelap, melewati remang-remang cahaya untuk sampai kepadamu. Timbunan rasa yang bertumpuk di rongga dada ini rasanya tak sanggup lagi kutahan, bagai kancing yang hendak copot. Lalu melesat. Berdenting. Untuk melahirkan irama. Ritme. Harmoni.

Kau pasti tak mengerti. Sama, aku juga ngga tahu apa yang sedang aku katakan. Tepatnya aku tuliskan. Bukankah kita memulai sesuatu dengan ketidakmengertian? Kelak, juga akan selesai dengan ketidakmengertian. Ketidakmengertian yang yang terus bergerak, memberi arti, mendewasakan. Lalu, apakah kita akan tua bersamaan dengan itu? Jawabannya hanya ada setelah lorong-lorong sembunyi itu kita lalui. Untuk kemudian berhulu pada dua pasang mata yang luruh, atau sepasang indera yang saling bertautan, atau mungkin saling menuduh.

Lorong-lorong sembunyi itu bagai memiliki magnit yang menarik kita dalam pusaran yang demikian hebatnya. Menghadirkan bukan hanya getar, tapi juga geletar. Ah, betapa nikmatnya merasai itu semua.

Dear Zorro...
Aku rindu berjalan tergesa-gesa melewati lorong-lorong sembunyi itu. Sungguh! Karena setelahnya aku menemuka muara di ujung hatimu. Dan sepetak delta tempat aku berdiri untuk terus berdiam di kehidupanmu.

~Yours~









Sabtu, 12 Oktober 2013

5 Cara sederhana membuat rilis

By On Oktober 12, 2013
Ilustrasi
Siapa yang sering bikin event atau kegiatan? Jawabannya sudah tentu lembaga/komunitas, kalau individu paling banter ya birthday party atau wedding party, yang lain silakan tambah sendiri.

Pertanyaan berikutnya, apakah event itu mau dihadiri/diketahui banyak orang atau biasa-biasa saja? Kalau mau berarti kita harus melakukan publikasi yang maksimal. Untuk individu misalnya, kita bisa promosi lewat jejaring sosial, undangan, atau pesan singkat melalui SMS/BBM, dst.

Nah, kalau untuk organisasi kita bisa pilih cara lain yaitu publikasi di media mainstream seperti koran cetak atau koran online, dll. Kalau mau yang berbayar kita bisa pasang iklan, tapi kalau keuangan terbatas kita bisa kirimkan surat permohonan untuk meliput acara kita, nah, setelah itu berdoa agar media tersebut mau meliput acara kita heheheh. Kalaupun mereka ngga meliput jangan sedih, harap maklum saja, kita bisa kirimkan rilis kok.

Rabu, 09 Oktober 2013

Andai aku punya 50 miliar

By On Oktober 09, 2013
Ilustrasi pohon uang
Wah... hari ini Rabu yaaa, baru ingat ada tantangan menulis "Andai Aku Punya 50 Miliar" yang jatuh tempo hari ini. Jatuh tempo? Kayak pajak aja yaaa, ini gara-gara tulisan Ari Murdiyanto untuk tema yang sama yang sudah diposting pertengahan pekan lalu. Selain Ari, yang sudah memposting tulisan itu adalah Azhar Iyas dan Alvawan.

Kalau bukan aku yang usulin, mungkin aku ngga bakal buat tulisan ini. Bukan karena tak ingin membuatnya, tapi sepekan ini memang aktivitas lumayan padat. Tapi apa kata, demi "menunaikan" usulan tersebut, dengan tertatih-tatih tulisan ini kutuliskan juga. Dengan perut yang lapar karena belum makan siang. Semoga saja setelah tulisan ini selesai laparnya langsung hilang, bukankah topik uang selalu asyik untuk dibahas?

Siapa yang pernah berandai-andai? Dalam agama yang kuanut berandai-andai memiliki hukumnya sendiri yaitu haram dan dibolehkan. Dalam konteks ini aku mau bicarakan andai-andai yang dibolehkan saja seperti pengandaian karena keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Bukan karena penyesalan atau protes terhadap takdir. Hukumnya tergantung dari apa yang diangankan. Kalau yang diangan/andaikan untuk kebaikan maka nilainya pahala dan sebaliknya. Tapi jika yang diangankan itu kemaksiatan ya jelas nilainya dosa dong. Misalnya para cowok yang berandai-andai menikahi janda kaya agar dapat harta warisannya :-D

Agar lebih postif bolehlah kukatakan bawah andai-andai yang dibolehkan ini disebut impian. Keinginan yang benar-benar kita inginkan, yang kalau ngga terwujud bikin kita sedih. Sejak kecil aku sudah jadi pengkhayal berat, selalu ingin jadi yang berbeda dari orang-orang di sekelilingku.

Kali ini pun aku ingin mengulangnya kembali. Memimpikan diriku yang punya uang di bank sebanyak Rp 50 miliar. Hm... kira-kira mau kuapakan uang itu yaaaa? Kalau untuk didepositokan mungkin bakal sampai ke generasi ke delapan (kali). Kalau diinvestasikan, mungkin bakal lebih lagi. Aku sendiri lebih tertarik yang kedua; investasi!

Pernah dengan agrowisata? Itu lho, industri wisata yang dikawinkan dengan industri pertanian. Ups! Kawin? Maksudnya gini, industri wisata yang dikembangkan berbasis pertanian. Aku bercita-cita punya kebun yang luas di daerah berhawa sejuk di tanah Gayo. Kebun-kebun itu akan kutanami kopi, kentang, sayur-sayuran, atau juga strawberry. Di tengah-tengah kebun aku akan membangun cottage-cottage bermaterial kayu yang warnanya dipadu-padankan dengan konsep alam. Lalu nanti para wisatawan yang menginap di sana bisa ikut memetik kopi, memanen sayur dan belajar bercocok tanam. Mereka bisa tahu bagaimana bentuknya cacing tanah yang bertugas menguraikan tanah-tanah sehingga selalu gembur. Mereka bisa belajar apa itu tanah humus, tanah dengan jenis paling subur yang sangat dibutuhkan manusia.

Kalau cuma itu, masak sih perlu sampai 50 miliar?? Oh begini, untuk mendapatkan kebun itu aku perlu membelinya dari masyarakat, aku perlu membangun infrastruktur yang baik seperti akses jalan ke kebun, pembangkit listrik, sarana air bersih, membuat taman botanikal, membeli kuda sebagai alat transportasi, dan juga untuk gaji karyawan/tenaga kerja.

Hahhhh... capek juga, perutku makin berkeriuk. Tiba-tiba aku teringat untuk menghayal saja tak optimal dilakukan dengan perut kosong. Apalagi untuk mempunyai 50 miliar!

Minggu, 06 Oktober 2013

Overdosis kopi!

By On Oktober 06, 2013
Foto by @infojkt
HARI ini, setelah beberapa bulan pantang kopi akhirnya aku kembali meneguk minuman berkafein itu. Ini bukan suatu kesalahan, mengingat saat memutuskan berpantang dulu aku tidak bernazar atau bersumpah untuk tidak meminumnya lagi. Saat itu, aku hanya berniat akan berhenti untuk sementara. Berikutnya untuk memenuhi anjuran dokter. Selanjutnya untuk membuat hati ibuku lega!

Seperti bertemu pacar rasanya, secangkir kopi yang kuambil di bar kusesap pelan. Kunikmati benar-benar, pahitnya, manisnya, terasa lengket di bibirku, setelahnya aku tersenyum senang. Ah, akhirnya kerinduanku selama ini terbayar sudah. Seperti habis berciuman, berkali-kali kujilat bibirku agar bekasnya benar-benar hilang.

Rindu? Ya, mungkin agak berlebihan tapi memang begitu adanya. Entah sejak kapan aku mulai menyukai kopi. Tapi yang pasti saat masih SD tiap kali pulang ke rumah nenek di Teupien Raya Pidie, aku selalu minta dibelikan racikan kopi di warung. Alasannya? Racikan kopi tersebut lebih kental, lebih pahit dan rasanya tidak terlalu manis. Berbeda dengan seduhan kopi Cap Rusa yang biasa disuguhkan ibu pada masa itu. Rupanya rahasia kelezatan dan kegurihan kopi Teupien Raya itu kabarnya diberi tambahan beras, gambir dan jagung sebagai campuran. Jadi tastenya lebih kuat. Aku memang kurang suka dengan racikan kopi yang greu alias encer.

Di rumah jika aku menyeduh kopi sendiri, kupastikan bubuk kopinya lebih banyak dari takaran biasa dengan takaran gula yang lebih sedikit. Pernah beberapa waktu aku membawa botol minuman yang isinya bukan air putih melainkan kopi, entah itu kopi yang kubeli di warung, atau kopi sachet seperti cappucino atau teh tarek, atau coffee mix.

Sekali waktu aku minum kopi dalam keadaan perut kosong, rupanya itu berpengaruh. Sayangnya waktu itu aku belum mengetahuinya. Jadi, ketika beberapa saat kemudian aku sempoyongan, jantung berdebar-debar, pusing, dan mual kupikir itu keracunan kafein. Aku pun pantang kopi. Tapi tak lebih dari dua minggu. Setelah itu aku kembali seperti biasa, setiap ke warung kopi tak pernah alpa aku memesan kopi.

Hujan yang memusnahkan getar

By On Oktober 06, 2013
Ilustrasi
Sungguh! Rasanya tak bisa kujelaskan, malam tadi aku baru saja "melumatmu" dari cerita demi cerita dalam buku yang kubaca, di akhir halaman kutemukan kenyataan yang membuatku tercengang, seolah-olah Tuhan memang sedang menyiapkan kejutan besar untukku, kejutan dan ketakjuban yang akan kusampaikan padamu hari ini, mungkin pagi, siang, sore atau malam nanti. 

Rasanya memang tak bisa kujelaskan, sebab pagi ini kudapati engkau telah "pergi". Jejakmu hanya berupa "pusara" yang tak bisa kugali, bahkan untuk sekedar menyelipkan pesan kepadamu.

Entahlah, tapi sepertinya hujan pagi tadi memang untuk menyapu habis kenangan tentangmu. Bahkan tak sedikitpun geletar yang tersisa. Dan sore ini semua puing-puing kenangan tentangmu ikut tenggelam bersama terbenamnya matahari.

Mungkinkah kau akan bereinkarnasi? Mungkin jadi semacam rumput liar, angin, badai, atau apapun? Agar aku bisa menyampaikan angka yang tertera di halaman terakhir buku yang kubaca semalam.


Senja yang redup!
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email