Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 21 Oktober 2013

Idul Adha di kampung tak berpenghuni

Buatku rumah ini sangat nyaman, berada di tengah sawah, di sekelilingnya
banyak pohon, ada mangga, jambu, jabon, kelapa sawit, belimbing, kelapa,
juga pohon waru. Saat angin bertiup... ambooiii...
Soal jika aku ditanyai orang, apa yang paling kuinginkan dari sebuah momen hari raya? Jawab bahwa, aku hanya ingin berkumpul bersama keluarga; ibu, adik-adikku, ipar dan juga keponakanku. Ayah? Beliau sudah lama berada di surga. Itulah mengapa setiap kali lebaran aku selalu mengusahakan mudik meskipun jatah libur mepet.

Siapa sih yang ngga ingin berkumpul bareng-bareng keluarga? Terutama aku yang sejak SMP sudah merantau. Jadi momen pulang ke rumah memang selalu ditunggu-tunggu. Libur Idul Adha kali ini, sama seperti libur hari raya sebelumnya, aku selalu pulang sehari sebelum makmeugang/punggahan. Biasanya aku sampai di rumah sekitar jam empat atau lima subuh.

Apa yang kulakukan begitu sampai di rumah? Tidur, menunggu sampai matahari terbit. Setelah itu aku langsung bersih-bersih rumah setelah sarapan dan membersihkan diri. Meski bukan hobi, membersihkan rumah menjadi kebiasaanku setiap kali berada di rumah. Salah satu nilai kebaikan yang diajarkan ibu saat aku masih kecil dan terus kulakukan sampai sekarang. Aku juga suka memasak jika sudah pulang ke rumah.

Dibandingkan beberapa kali hari raya sebelumnya, hari raya kali ini lebih istimewa. Bukan karena ada timphan atau lontong, bukan pula karena ada keluarga yang akan menikah setelah lebaran, bukan juga karena aku bisa ikut salat ied di masjid kampung. Tapi karena aku bisa berkunjung ke kampung tempat aku dibesarkan. Nama kampung itu Padang Peutua Ali, berada di Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur. Jaraknya sekitar 7-10 kilometer (kalau ngga salah) dari tempat tinggal kami yang sekarang. Sekitar 20 menit perjalanan dengan roda dua dan empat. Itupun karena kondisi jalannya sekarang sudah bagus walau belum teraspal.

Kami sekeluarga pergi ke sana pada hari Rabu, 16 Oktober 2013, hari raya kedua Idul Adha, menjelang siang sekitar pukul 11:30 WIB. Sebenarnya kepergian ini tak direncanakan. Sebelumnya aku memang sudah bilang ke ibu kalau aku ingin ke sana bersamanya. Sudah beberapa kali pulang kampung niatku berkunjung ke desa itu selalu gagal. Sekitar pukul sepuluh adik iparku tiba-tiba bilang "Kayaknya kalau kita ke Padang enak ya kak?"


Ha! Aku langsung bersemangat. Berteriak girang! Kusuruh dia langsung menemui adikku untuk memberitahukan rencana ini. Setelahnya adik iparku; Ani, langsung menuju dapur untuk menggoreng ikan asin, membuat sambal terasi, menyiapkan sayur, piring, kuali, dan beberapa perlengkapan lain untuk dibawa ke Padang. Padang adalah nama lain dari Padang Peutua Ali. Aku sendiri segera bergegas ke kota karena harus transfer uang ke seseorang.

***
Setengah 12 kurang lima menit kami bergerak. Langit yang tadi cerah tiba-tiba meredup. Satu-satu rintik hujan jatuh. Tapi mobil terus melaju, hanya saja kami yang duduk di belakang mau ngga mau harus ketiban air. Maklum mobil bak terbuka yang kami tumpangi ini biasanya dipakai untuk mengangkut kelapa sawit. Di belakang ada aku, adikku Diah yang masih kelas 3 MTs, iparku Ani dan anaknya Ulis yang baru dua tahun lebih, plus adiknya adik iparku Ana yang masih kuliah. Di depan ibu bersama adikku Rizal yang bertugas mengemudi.

Kira-kira sepuluh menit perjalanan hujan mulai lebat. Kami terpaksa mampir di rumah seorang kenalan di kampungnya Bupati Rocky (Bupati Aceh Timur). Lumayan, kami disugui roti dan sirup. Kutanyakan apakah ia sudah berkunjung ke rumah Bupati yang hanya berjarak lima meter dari rumahnya. Dan apakah dia menerima amplop? Katanya... "Boh panee na (mana ada),"

Saat hujan reda kami kembali bergerak. Di persimpangan kami berhenti di sebuah kios untuk membeli mie instan dan telur. Lalu kembali berjalan. Aku sudah lama nggak melewati jalur ini. Selama perjalanan aku memilih berdiri dan berpegangan di bak mobil agar bisa memandang ke sekeliling. Bagaikan seorang tour guide, aku menjelaskan setiap yang kami lalui kepada mereka. Misalnya saat mobil menaiki tanjakan sebuah bukit setelah perkampungan Lhok Leumak, kukatakan bahwa itu namanya Bukit Pisang, setelah itu ada turunan yang kami sebut Bukit Rambot, setelah melewati jembatan kecil ada bekas kampung Mampre. Nah, setelah melewati pertigaan belok ke kanan barulah memasuki Lorong Pelita di Desa Padang Peutua Ali, kampung tempat aku dibesarkan dulu.

Padang Peutua Ali memiliki beberapa lorong mulai dari Lorong Mampre, Lorong Binjei, dan Lorong Pelita. Ini merupakan salah satu wilayah transmigrasi di Kabupaten Aceh Timur. Sebelum konflik pada tahun 1990 dan 1999 daerah ini umumnya dihuni oleh masyarakat Jawa yang bercampur dengan masyarakat Aceh. Kini daerah ini dan beberapa kampung di sekitarnya menjadi kampung mati. Yang berpenghuni hanya di Lorong Pelita saja, hanya ada beberapa rumah penduduk.

"Nah, ini rumah sekolah kakak dulu!" kataku menunjuk ke sebuah bangunan sederhana di atas bukit di sebelah kiri. Itulah SD N Padang Peutua Ali tempat aku menamatkan sekolah dasar dulu pada tahun 1990-an. Bangunan yang sekarang bukan lagi bangunan asli. Rumah sekolah ini sudah dibakar dua kali dan sudah pernah kutuliskan ceritanya di sini.

Tak jauh dari sekolah ada beberapa rumah penduduk yang menetap di sana. Dekat dengan komplek CWC, aku ngga tahu komplek apa itu dulunya. Tapi yang jelas saat keluargaku masih tinggal di kampung ini, komplek CWC termasuk "kawasan" yang lumayan ramai. Umumnya komplek ada dua bedeng rumah permanen yang saling berhadapan di sini. Rumah-rumah itu sekarang hanya tinggal puing, mirip benda-benda cagar budaya yang dirambati rumput dan tertutup semak-semak. Penghuninya entah di mana sekarang, yang pasti mereka di luar Aceh. Sedangkan beberapa rumah yang dibangun kembali selama beberapa tahun terakhir tak jauh dari situ, merupakan penduduk setempat yang kembali "pulang" setelah sekian lama mengungsi akibat konflik. Termasuk orang Jawa.

Mobil terus bergerak, menaikin bukit Wak Leman yang mulus. Setelah melewati bukit tersebut di sebelah kanan ada sebuah bangunan berupa rumah panggung terbuat dari papan. Bangunan itu meunasah yang kondisinya sangat memprihatinkan sekarang. Kini semakin mungil bentuknya dan aku yakin ngga ada lagi yang meramaikan meunasah itu. Dulu di meunasah inilah warga Lorong Pelita bertakbir jika malam lebaran tiba. Di meunasah ini pula mereka mengumpulkan zakat fitrah, tempat para ibu-ibunya melakukan wirid mingguan pada sore Jumat.

Berselang beberapa meter dari meunasah ada sebuah bangunan "arkeologi" lainnya yang tampak sangat menyedihkan. Dirambati rumput dan ditumbuhi semak belukar. Itulah bekas rumah kedua milik orang tuaku yang terpaksa dibongkar dan dipindahkan ke kampung dan menjadi rumah tempat kami menetap sekarang. Rumah ini dibangun saat aku masih SMP dengan hasil keringat orang tuaku dari bertani dan berdagang. Rumah ini sangat indah dulunya, di pekarangannya ditanami bermacam-macam bunga oleh ibuku. Di halamannya sering dijadikan area menjemur kakao baik yang dipanen dari kebun sendiri atau yang dibeli dari petani lainnya. Sejajar dengan rumah ini ada rumah wawakku yang dibakar orang tak dikenal saat konflik sekitar tahun 2000an.

Tak lama kemudian aku melihat kebun sawit yang dulu ditanam ayahku saat aku masih kelas enam SD. Sudah tinggi. Kira-kira 10 meter di sisi sebelah kirinya ada hamparan kebun pisang yang hijau dan subur. Milik pamanku.

"Di bawah situ dulu rumah pertama kami!" kataku pada Ani dan Ana.

***

Kebun pisang Cek Li, di areal ini rumah pertama kami dibangun.
dua adik saya Rizal dan  Johan lahir di sini
Sampai di sini aku tertegun. Tiba-tiba ada semacam perasaan sentimentil yang menyerangku. Tiba-tiba aku merasa ada yang terenggut oleh konflik dalam hidupku. Lokasi ini terlihat bagai kebun atau hutan yang tak pernah dihuni manusia. Di sisi kiri dan kanan jalan hanya ada kebun; pisang, kelapa, cokelat, sawit dan karet. Padahal dulu di sini sangat ramai.

Akan kurincikan kembali rumah-rumah siapa saja yang ada di lokasi ini. Di "komplek" kebun pisang dan kelapa yang ada di foto di sebelah kiri ini lah dulu rumahku berdiri. Rumah pertama (bukan yang di dekat meunasah tadi) yang dipunyai orang tuaku. Rumahnya sangat sederhana. Seluruhnya terbuat dari kayu dengan atap rumbia, lantai ruang depannya sudah disemen sementara dapur hanya berupa tanah. Ada dua kamar yang mungil. Rumah ini tak berpagar, di sekelilingnya penuh dengan bunga-bunga dan tanaman yang aku tak hapal semua apa namanya. Halaman rumahku kadang juga berfungsi sebagai jalan pintas. Tak heran jika banyak sekali kendaraan roda dua yang lewat. Posisi rumahku berada di bawah bukit, jadi menurun dan lebih rendah dari jalan utama kampung. Karena kondisi ini jalan masuk ke rumahku akhirnya jadi jalan air kalau musim hujan. Alhasil kami terpaksa mencari alternatif jalan lain yang lebih landai dan aman.

Nah, sejajar dengan rumahku, di seberang jalan di atas bukit ada rumah Bik War dan suaminya Cek Chip (Nama aslinya Rasyidin). Di depan rumah Bik War ini ada rumah Wak Inem (Tukinem) dan suaminya Wak Sabar. Sementara segaris dengan rumahku, kira-kira berjarak 10 meter ada rumah kakaknya nenekku; Nek Wa. Sejajar dengan rumah Nek Wa di seberang jalan sebelah kanan di atas bukit ada rumah Wak Min dan istrinya Wak Isu. Lebih jauh dari lokasi ini di sebelah kanan di atas bukit dulunya ada rumah Bang Biya dan istrinya Bik Henik, tapi mereka kemudian pindah sebelum konflik. Belakangan tak jauh dari rumah Nek Wa ada rumah Kek Samad dan istrinya Mbah Cembre dan rumah Wak Pardi dan istrinya Wak Tukinah.

Jalan desa Padang Peutua Ali, jalan ini bisa tembus ke PT Bumi Flora.
Melihat jalan ini rasanya bagai di hutan belantara.
Padahal dulu di sinilah kami bermain 
Teman mainku adalah anak-anak mereka. Kadang-kadang kami juga bergabung dengan anak-anak dari komplek CWC tadi. Permainan yang paling sering kami mainkan seperti petak umpet (jitong dan tri ala gotri), main gambar, kelereng, engklek, main patung, patok lele, pecah piring, kasti, dan beberapa permainan lainnya. Malamnya kami mengaji di rumah Nek Wa.

Kampung ini baru ada listrik sekitar tahun 1997. Tapi sekarang sudah tak berlistrik lagi :-) menyedihkan sekali ya hiks hiks.

***
Setelah melewati kebun pisang tadi mobil berbelok ke kiri setelah adik perempuanku membua pintu pagarnya yang hanya berupa jaring-jaring besar. Kami berpegangan lebih erat karena jalannya naik turun dan tidak rata, maklum mulai masuk ke ladang.

Aku berkali-kali tarik nafas. Heran dengan apa yang kulihat, benarkah ini penampakan kampungku yang dulu? Rasanya kok sangat asing. Aku seperti terlempar kembali ke masa tahun-tahun 1990-an dulu saat aku masih kecil. Saat kebun-kebun kelapa ini belum setinggi sekarang, belum ada tanaman kakao. Ya, tak ada sebatangpun kakao yang kulihat tersisa. Padahal dulu di sini ada tiga kebun berdampingan; milik Nek Wa, milik ayahku dan milik kakekku. Kakao-kakao itu sudah ditebang rupanya, berganti dengan sawit milik pamanku yang lain. Sedangkan tanah milik keluarga kami ditanami jabon.

Bekas kebun kakao yang kini jadi kebun jabon.
Di sebelah kanan kebun Cek Kim yang ditanam sawit
Setelah gludak-gluduk melewati jalur berbukit-bukit kami sampai di sebuah pondok kecil di tengah ladang. Milik adik ayahku; Cek Kim. Kami segera bergegas turun dari mobil, menurunkan barang-barang, kemudian membentangkan tikar di tanah. Adikku segera membuat dapur untuk memasak sayur dan mie instan. Waktu itu sudah jam 12 lewat, perut kami mulai lapar.

Begitu turun mobil pandanganku langsung tertumbuk pada daun sintrong. Sejenis sayuran hutan yang dulu pernah kuceritakan di sini. Sudah 14 tahun aku ngga pernah melihat dan memakan sayuran ini. Seperti anak kecil, aku langsung heboh, senang karena akhirnya bisa menemukan tanaman "purba" di era modern ini :-D. Langsung saja kupetik daun-daun itu untuk kulalap saat makan siang nanti. Rasanyaaa... hmmm...segar dengan romanya yang khas.

Memasak dengan kayu lebih enak 
Sementara Ani dan Ana masak, aku malah muter-muter ladang, ke parit, nyari cepokak/rimbang bareng keponakanku, lihat tanaman jabon. Pokoknyaaa.... duhhh aku senang sekali, ngga tahu bilang. Sejenak kami bernostalgia. Menunjuk-nunjuk ke segala arah. Di sana ada kebun si ini, di sebelah ini kebunnya kek anu, di ujung sana ada kebun lek itu.

"Di pokok kelapa itu dulu Rizal pernah jatuh," kata ibu menunjuk ke salah satu pohon kelapa di sudut kebun. Ani menoleh. Rizal terkekeh-kekeh. Kebun-kebun itu punya arti dan romantisme yang kuat bagi kami semua. Di atas bukit, dulu ayah dan ibu pernah menanam kedelai saat kami masih kecil. Ingat, dulu Aceh Timur pernah jadi daerah penghasil kedelai terbesar di Aceh lho :-). Sembari menanam palawija ayah dan ibu menanam tanaman tua seperti kelapa, cokelat dan pinang, juga kelapa sawit. Di ladang ini pula, aku pernah dikejar-kejar sapi jantan waktu ngangon/menggembala. Kalau punya ekor rasanya waktu itu ekorku lebih tinggi dibandingkan ekor sapi yang mengejarku.

Setelah tanaman kakao mulai besar dan bisa dipanen, ibu rutin mengajak kami untuk memetik buah cokelat/kakao. Biasanya sore pulang sekolah atau hari libur. Semua kenangan itu masih melekat dengan jelas di ingatan.

Daun sintrong 
Sementara menunggu yang memasak selesai, aku bermain dengan keponakanku. Dia senang sekali naik turun bukit, lalu aku menunggunya di bawah bukit. Dia lari dari atas bukit dan meluncur lalu aku menunggunya di bawah dan menangkapnya. Sempat pula kuajarkan main perosotan pakai pelepah kelapa, tapi medannya kurang jitu.

Ahhh...akhirnya sayur matang, mie instan juga sudah terhidang. Semua pada merapat. Hmm.... nikmatnya makan nasi dengan lalapan daun sintrong, dicocol pakai sambal terasi, melahap nasi dengan ikan asin. Rasanya aku tak ingin pulang ke masa kini. Aku ingin berdiam di sana, di tanah tempat aku tumbuh dan dibesarkan.[]

17 komentar:

  1. hahahhah iya eki, soalnya itu bagian dari kenangan indah di masa lalu

    BalasHapus
  2. nggak tahu harus blg gmana. antara nostalgia dengan miris dgn terjadi dulu ya..
    eh, jdi di kmpung Padang itu gk ada rumh Ihan lgi? kenapa pindah? gk dijelasin diceritanya.. apa gara2 konflik?

    BalasHapus
  3. iya karena konflik Hat, ada kan tuh di ceritanya cuma memang ngga fokus ke situ, tapi makna tersiratnya dapatlah kukira heheheh

    BalasHapus
  4. makasih Ihya, begitu banyak kenangan anak negeri ini yang direnggut oleh konflik yaaa

    BalasHapus
  5. Panjang x ya ceritanya. Tapi menarik dibaca sampe tuntas. Gimana dg kedele Aceh Timurnya sekrg? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahah 'penyakit' Makmur, kalau udah nulis ya gini. Kedelai di Aceh Timur sekarang lagi digalakkan kembali, cuma di daerah Peunaron

      Hapus
  6. Baca cerita Ihan jadi ingat kampung halaman ayahku di kawasan aceh utara sana, dulu pulang kampung harus sembunyi2 bawa HP ntar dikira mata2 dari Banda Aceh, setiap kami pulang kalo ga tentara pasti org GAM yang ke rumah nenek kami nanya-nanya apa keperluan kami ke kampung, takut bukan main. jadi masa2 tahun 1997 sampe tahun 2000 kalo pulang kampung bukannya senang tapi kami jadi deg degan sendiri mengingat masa2 konflik itu. *ini bukan komen tapi curhat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oo di Aceh Utara di mananya kak? Konflik memang menyisakan beragam cerita bagi rakyat Aceh

      Hapus
    2. Kampung Buloh Blang Ara, lewat Simpang Keuramat, pantang ada plat mobil dari BA dulu pasti ditodong minta uang keamanan, cuma demi nenek n kakek tercintah, takut di no duain...

      Hapus
    3. Ooo...iya emang dulu kalau ada mobil-mobil plat aneh langsung dicurigain gitu, tapi sebenarnya kecurigaan itu muncul dari kedua belah pihak...

      Hapus
  7. Duuh, asyik banget, serasa ikut berpetualaang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-D makasih sudah berkunjung mbak Shabrina,

      Hapus
  8. hiks..ikut sedih
    bekas jejak di belakang yang sebagian orang tentu tak berarti tapi bagi pemilik jejaknya pasti sesuatu...
    disini ada dejavu menyergapku...bermain pelepah kelapa untuk perosotan dan masak dengan kayu....kenangan sebagian masa kecil meski besar di Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh iya mbak Eni, aku kalaumembayangkan ini suka sedih sendiri, sampai menitik air mata, ibarat janin yang diaborsi, begitulah proses hilangnya kampung kami.

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email