Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 18 November 2014

Selaksa Kapas

By On November 18, 2014

Sekalipun terlapisi batu, hati perempuan adalah kapas yang teramat lembut. Di sana, kau mendapatkan kehangatan di antara dinginnya deraan hidup yang mematikan. Di sana, kau bisa berdiam tanpa pernah merasa terusir.

Di hatinya, kau merasakan bahwa cinta itu benar-benar tak memiliki garis tepi dan tingkat kedalaman. Di sana, kau bisa membuang segala lampiasan kemarahanmu dan jelaga kekhawatiranmu. Lalu mereka mengubahnya menjadi sumber energi yang menjadi lentera untukmu berpijak dan melangkah.

Taukah kau, tanpa mereka kau hanyalah seonggok daging yang kebingungan mencari jalan pulang. Tanpa mereka kau takkan pernah memahami apa itu rasa, rindu ataupun cinta. Sebab panca indera merekalah yang menerjemahkan keabstrakan itu menjadi sesuatu yang nyata.

Jumat, 14 November 2014

Puisi Langit

By On November 14, 2014

Pernahkah kalian mendengar cerita tentang langit?

Konon katanya langit berada di suatu tempat di ketinggian sana
Keberadaannya tak terjangkau segala apa yang ada di bumi

Jangan bilang bahwa kau selalu melihatnya, 
Sebab itu hanyalah sekumpulan awan yang menjadi salah satu penghalang antara kau dan langit.

Kau, 
Sama seperti aku mungkin juga punya hasrat untuk menatap wajah langit 
Konon katanya wajah itu bertabur cahaya 
Berpendar seperti kunang kunang 
Merekah seperti kelopak mawar jingga yang merona.

Konon, banyak makhluk bumi yang begitu merindukannya 
Berharap suatu saat ia mau membuka selubungnya dan membagikan sedikit cahaya kunang kunangnya.

Di meja makan kita berharap bisa duduk saling berhadapan
Tak perlu saling bertukar kata
Sebab langit memiliki kode dan bahasa yang berbeda
Baginya semua begitu kompleks
Ah, ya, mana ada sih yang sederhana di atas sana

Kesederhanaan itu milik bumi sepenuhnya 
Tempat bagi daun daun luruh 
Tempat bagi cacing membelah diri 
Tempat bagi tanah bersemayam 
Tempat bagi rindu mengumpulkan rasa yang tak pernah sampai ke langit

Seperti yang kubilang tadi, awan bukan satu satunya penghalang

Peuniti, 04:01 PM

Jumat, 10 Oktober 2014

Ketika Burung Kecil Bertengger

By On Oktober 10, 2014
Ilustrasi | burung kutilang @kutilang.or.id

Bagi seekor burung kecil, hinggap di dahan pohon yang rindang bukanlah sekadar berdiri
Dia sedang menguji ketangguhan dirinya
Menguji ketangkasan sepasang sayap lemahnya
Menguji seberapa kuat kukunya mencengkeram dahan
Agar ia tidak terempas ketika angin mengguncang tubuh mungilnya

Ia juga sedang belajar meyakini dirinya sendiri
Percaya pada paruhnya yang rapuh
Belajar awas pada penglihatannya yang terbatas
Belajar bersiul dengan suaranya yang parau

Bertengger di dahannya membuat burung kecil paham maknanya ketinggian
Angin yang tidak selamanya bersahabat
Dan ranting-ranting yang menipu

Ia juga belajar pentingnya waspada
Bahaya yang selalu mengancam
Juga patah hati karena pada akhirnya ia harus pergi

Pohon dengan dahannya yang kokoh dan daunnya yang rimbun adalah cintanya
Yang telah mengajarkannya banyak hal
Tapi dunianya ada di alam bebas sana
Ia harus pergi. Meninggalkan. Mengepakkan kembali sepasang sayap lemahnya


Permata Punie, 10:57 PM
09-10-2014

Kamis, 02 Oktober 2014

Selamat Ulang Tahun, Z

By On Oktober 02, 2014

Selamat ulang tahun. Semoga Tuhan terus memuliakanmu dan mewujudkan semua impianmu. 

Rasanya sulit untuk melupakan hari lahirmu. Lebih sulit lagi untuk membiarkannya berlalu begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Berbulan-bulan tidak saling terhubung ternyata tidak membuatku lantas lupa padamu.

Beratus hari tidak mendengar suaramu tidak lantas membuat semua rindu itu berhenti begitu saja. Bertahun-tahun tidak melihatmu, rasanya aku belum lupa bagaimana garis bibirmu ketika sebuah senyum melengkung di sana. Kurasa masih sama menariknya seperti saat terakhir kali kulihat. Sungguh senyum yang membuat candu dan karenanya kau terus hidup di ingatanku.

Banyak yang ingin kuketahui, tapi sebaiknya tak perlu kutanyakan. Untuk apa mengumpulkan angin jika pada akhirnya hanya akan menjadi badai. Sebutir embun saja sudah membuat hati ini menjadi sangat beku, apalagi jika aku harus menampung ribuan butir hujan dari setiap jawabanmu.

Kamis, 11 September 2014

Rumah September

By On September 11, 2014
ilustrasi

Sering aku bertanya, apa yang diberikan September kepadaku? Nyatanya, ia selalu membawaku pada jalan pulang; ke hatimu!

Jika rasa ibarat belantara hutan hujan yang lembab dan basah, dan selalu menyesatkan. Maka September ibarat lentera yang berada di pucuk arah mata angin. Saat aku menoleh, ke sanalah pandanganku tertuju.

Bagai susunan tata surya yang begitu kompleks, September bagai purnama yang tak pernah alpa hadir. Cahaya terangnyalah yang membuatku paham, bahagiaku hanya ada di manik matamu. Di kilau retina matamu aku belajar untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara amat sederhana.

Bukankah bahagia tidak memerlukan syarat? Mencintaimu juga tidak memerlukan syarat, sebab kita tidak pernah menjanjikan upeti atau sesaji apa pun.

September selalu mengembalikan kita pada rindu yang bertumpuk-tumpuk. Di ujung senja, kita bercerita tentang hangatnya mesra yang tak pernah padam. Lentera kecil yang kita ciptakan bertahun-tahun silam, kau masih ingat warna cahayanya?

Merah, Sayang! Sebab merah adalah cinta.[]

Selasa, 02 September 2014

Pengelana dan Perahu Kecil

By On September 02, 2014
sumber foto

Aku, pengelana yang selalu pulang ke rumah September.
Rumah hangat tak berdinding, tidak beratap, tidak berlantai, tidak bertiang, apalagi berpintu dan berjendela. Di sanalah aku mengurung seluruh hidupku, melarungkan kisah hidupku dalam aliran nafasku sendiri. Di rumah itu semua diksi berubah menjadi rasa, kata-kata menjadi tak berfungsi. Di rumah September aku memilih menjadi bungkam. Tempat aku ber-hibernasi.

Aku, perahu kecil yang ingin membuang jangkar ke inisial terakhir Alfabetis.
Akhir yang menjadi awal bagi sebuah harapan baru, mimpi-mimpi baru, keinginan-keinginan baru. Di inisial itu aku mengukir prasasti dengan tulangku sendiri. Menciptakan lautan dengan darahku sendiri. Gelombangnya adalah deru hasrat yang tak pernah padam. Lautan tempat karang-karang kokoh menancapkan akar-akarnya. Ke dalam diriku sendiri.

Aku, penikmat rindu dan rasa.
Oh, bahkan sehelai rumput yang tergolek masai menjadi begitu indahnya bagi seorang perindu
Konon lagi kesiur angin yang bermanja menggelitik dedaunan. Tak ada yang lebih indah dari pada melihatnya menggelepar usai dicumbu burung-burung di mulut senja.
Di tempatku bersemedi, aku belajar bagaimana menikmati rasa, lalu mewujudkannya menjadi apa yang aku inginkan. Pernahkah kau menyaksikan setiap narasi yang kau tulis lantas menari-nari dengan gerakan paling eksotis. Membawaku ke alam di mana hanya ada kamu dan imajinasimu. Pada saat itu warna-warni bukan sekedar merah, kuning, hijau atau ungu. Warna adalah cinta itu sendiri. Warna adalah ketulusan yang membuatmu paham artinya rela. Warna adalah ujian yang membuatmu memahami arti kesabaran. Warna adalah kau berhasil menundukkan egomu sendiri.

Maka aku selalu tahu ke mana harus pulang, ke mana harus melempar jangkar, dan ke mana harus menjemput rindu!

Senin, 01 September 2014

Kepada September Aku Pulang

By On September 01, 2014

September adalah 'rumah' kita Sayang. 

Sejauh apapun aku pergi dan berpetualang, ke hatimu jugalah aku kembali. 
Hatimu adalah magnet yang akan menarik seluruh serpih besi yang menyelubungi perasaanku.
Hatimu adalah umpan untuk menjinakkan keliaran-keliaran rinduku
Hatimu adalah cangkang tempatku berlindung dari berbagai kepalsuan di luar sana
Maka kepada September-lah aku pulang

Senin, 25 Agustus 2014

Rindu Mengubah Senja Menjadi Sendu

By On Agustus 25, 2014
Ilustrasi senja @pixoto.com

Berbulan-bulan sudah rindu ini tertanam di dalam hati. Kukira sore ini adalah puncak dari semua pergumulan rasa yang tertanam itu. Rindu telah mengubah senja menjadi sendu. Bahkan butir hujan yang hinggap di kaca jendela tak lagi menarik untuk kunikmati. Pucuk-pucuk daun yang digoda angin menjadi tak lagi menghibur. Semuanya bergerak begitu datar, sama sekali tanpa ritme yang biasanya selalu merdu bagai kicau murai.

Dapatkah engkau merasakan betapa hati ini telah mendidih demikian hebatnya? Dapatkah engkau menangkap magma yang mengembun dari balik kata-kata? Dapatkah engkau mencium aroma kesepian yang kian menyengat?

Tidak! Kau tidak akan mengetahui semua itu, bahkan untuk secuil saja. Meski aku melolong panjang pada setiap purnama untuk menggaduhkan semua itu, gendang telingamu tak akan mampu menangkap semua jeritan itu.

Bukan karena kau tidak ingin mendengarnya, tapi aku mengurung semua lengkingan itu di ceruk hatiku yang paling dalam. Bahkan aku sendiri pun tak mampu mendengarnya, bahkan hanya untuk suara kecil serupa desis melata paling berbisa.

Berbulan-bulan rindu itu membesarkan api cinta yang kukira sebentar lagi akan meledak. Anak-anak imajinasi kemudian lahir berloncatan, satu-satu hadir di hadapanmu. Kukira pada saat itu kau akan mematung sejenak serupa seorang durhaka yang dikutuk ibundanya.[]

Minggu, 17 Agustus 2014

Merah Putih yang Kehilangan Makna

By On Agustus 17, 2014
foto by tempo

SAMA seperti tahun-tahun yang lalu, 17 Agustus menjadi momen penting bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka hari ini, 17 Agustus yang jatuh pada hari Minggu kembali disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tak terkecuali warga  di kompleks tempat saya tinggal, di kaki Bukit Barisan di Aceh Besar.

Seminggu sebelum tanggal 17 tiba, para tetua kompleks sudah mengumumkan agar warga memasang bendera di halaman rumah. Warna Merah Putih yang menjadi lambang keberanian dan kesucian. Selembar kain yang mampu memantik semangat patriotisme para pejuang Indonesia di masa lalu.

Beberapa hari setelah itu ada kejadian yang membuat saya berpikir panjang. Apa sih arti selembar bendera bagi kita rakyat Indonesia? Pasalnya, salah satu tetangga saya ada yang mengikatkan benderanya di pohon kuda-kuda yang menjadi pagar rumahnya. Mengikat bendera di pohon kuda-kuda? Yang benar saja! Di mana rasa nasionalismenya? Okelah, tak perlu membawa-bawa istilah nasionalisme, tapi menjemur kain saja kita tak pernah menyangkutkannya begitu saja di dahan pohon bukan?

Bukan hanya saya yang gelisah, tetangga yang lain juga merisaukan laku tetangga tersebut. Menurutnya itu sudah keterlaluan. Sikapnya sudah merendahkan salah satu simbol penting negara ini. Pagi itu 'insiden' bendera di pohon kuda-kuda itu menjadi perbincangan singkat sebelum saya berangkat kerja.

Keesokannya, bendera yang semula diikat di ranting pohon sudah bertengger di tiang yang terpancang di halaman rumahnya. Meski tak berkibar -karena memang sedang tidak ada angin- tapi terlihat anggun dan berwibawa. Tidak nampak 'kuyu' seperti saat masih diikat di ranting pohon. Dalam hati bertanya, mengapa bendera itu sudah berpindah tempat? Rupanya bibi sayalah yang sudah 'membisiki' pemilik rumah tersebut.

Rupanya bibi saya menakut-nakuti si pemilik rumah dengan 'ancaman' akan didatangi bapak-bapak kalau benderanya belum dipasang dengan layak. Ia tak punya alasan yang tepat untuk menegur tetangga tersebut, takut ia tersinggung. Ancaman itu hanya akal-akalannya saja dan terbukti berhasil

"Bukan cuma itu, kompleks ini kan sering dilewati tentara, pasti mereka marah kalau melihat ada warga yang mengikat benderanya sembarangan begitu," kata bibi saya.

Tetangga saya itu, mungkin mewakili sedikit atau banyak rakyat Indonesia lainnya. Yang melihat bendera hanya sebagai pernak-pernik negara yang perlu dikibarkan setahun sekali di bulan Agustus. Tak peduli pada darah ribuan pejuang yang rela berkorban semata-mata untuk melumuri agar setengah dari bendera kita bisa berwarna merah.[]

Selasa, 05 Agustus 2014

Kami Sudah Bercerai

By On Agustus 05, 2014
ilustrasi cerai
Sebut saja namanya Faula. Dia teman saya waktu di pondok pesantren dulu. Setelah belasan tahun tidak bertemu, kami kembali bersua saat lebaran Idul Fitri kemarin. Saya dan Faula bertemu di rumah Abu, pemimpin pondok pesantren tempat kami mengaji dulu.

Tak ada yang berubah dari Faula, setidaknya saya langsung mengenali wajahnya begitu masuk ke rumah Abu.

"Faula kan?" Tanya saya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Dia mengangguk, sambil merengkuh sodoran tangan saya.

Rabu, 23 Juli 2014

Mengapa Harus Dosa Terakhir?

By On Juli 23, 2014
ilustrasi

Dua tahun lalu tak sengaja saya berkenalan dengan seorang laki-laki. Usianya jauh di atas saya. Saat itu rupanya dia sedang patah hati, kekasihnya meninggal dunia belum lama sebelum kami berkenalan. Dari cerita-ceritanya ia mengaku sangat kehilangan. Dari ceritanya pula saya tahu kalau kekasihnya meninggal dunia karena tumor di perutnya. Kisah cinta yang tragis!

"Yang paling saya sesalkan waktu terakhir dia berobat hingga ajal menjemputnya saya tidak bisa menemaninya," begitu kisah lelaki itu suatu ketika pada saya.

Minggu, 13 Juli 2014

Jika Tak Percaya Cinta

By On Juli 13, 2014
Masih ingatkah kamu ketika kita sama-sama menyibak tirai dan membiarkan mentari meninggi mengikuti petunjuk waktu? Di lain waktu kita sama-sama menggulirkannya ke ufuk, dan lautan menelan cahayanya yang menguning telur. Saat itu, kurasa bukan ombak saja yang bergemuruh. Tapi juga hati kita yang berdentum-dentum bagai sedang membadai.

Jika cinta pada akhirnya hanya membuat kita tidak percaya pada cinta, mengapa kita masih ingin jatuh cinta? Mengapa kita masih ingin merasakan rindu yang berdebar-debar, nyeri, tapi terasa sangat manis dan membuat kita ingin merasakannya lagi.

11 Fakta Menakjubkan Tentang Gaza

By On Juli 13, 2014
Masyarakat Aceh menggelar aksi simpatik untuk mendukung Palestina, Minggu 13 Juli 2014.
Foto by ATJEHPOSTcom

1). Ternyata warga negara asing yang disegani oleh warga di sana adalah warga negara Indonesia! Selain karena Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (semoga warga Palestina tidak mengetahui kondisi keIslaman Indonesia supaya tidak kecewa ), juga karena Indonesia selalu memberikan dukungan moriil dibandingkan dengan negara lain, baik negara di Timur Tengah lain sekalipun.

2). Walaupun tinggal di area konflik, anak-anak di Gaza tidak ada yang trauma sedikitpun. Wajah mereka selalu riang dan ceria!.

Jumat, 11 Juli 2014

Wahai, Palestina!

By On Juli 11, 2014

Hatiku tergerus melihat duka di sekujur tubuhmu wahai Palestina
Mengalir darah sebagai rupa kepiluan yang tak dapat kubendung
Air mataku mengalir deras berbungkus nafas tersengal-sengal
Aku tak bisa bicara!
Aku tak bisa bicara!
Aku tak bisa bicara! 
Sebab kesedihan ini terlalu rumit untuk kujabarkan

Aku ingin semua ini hanya mimpi buruk belaka
Tapi tangisan yang kusaksikan itu nyata
Darah yang mengalir karena luka di tubuh-tubuh tak berdosa itu nyata
Rumah-rumah yang hancur berkeping-keping itu nyata
Hujan peluru itu nyata
Ketakutan yang terpancar di wajah-wajah suci itu nyata
Bising riuh suara pelontar itu nyata
Dan jasad-jasad kaku yang terbujur pasi itu juga nyata adanya. 
Bukan mimpi!

Aku tak ingin menangis, tapi air mata ini jatuh dengan sendirinya
Aku tak ingin bersedih, tapi kesedihan ini muncul dengan sendirinya
Sungguh, ada yang tak sempurna dari sucinya bulan yang sedang kami lewati ini. 
Semata-mata karena penderitaan yang kalian rasakan merasuk dalam sanubari kami

Tetapi surga adalah janji Allah untuk kalian wahai para syahid dan syahidah!


Permata Punie, 05:23 | 11 Juli 14


Jumat, 04 Juli 2014

Sepasang Burung Liar

By On Juli 04, 2014
ilustrasi @kutilang.co.id

Hei, apa kabarmu di sana? Semoga kau jauh lebih baik dariku. Semoga senyummu tak pernah berubah, senyum penuh goda yang selalu melekat di ingatanku. Senyum menyenangkan dan menenangkan yang pernah kulihat dan akan selalu kurindukan.

Juni baru saja berakhir, bersamaan dengan gugur terakhir kelopak angsana kuning. Juni pernah memekarkan kuncup-kuncup bunga di hati kita. Berawal dari musim panas bulan Maret yang kering. Memasuki Juli baru aku sadar bahwa kelopak angsana terakhir yang gugur itu adalah kamu.

Kau tahu apa yang tersisa sekarang? Rindu, rindu menggebu-gebu yang memaksaku menghadirkan wajah ranum dan senyum matangmu di setiap pejaman mata. Rindu yang memaksaku untuk bergumul dengan kata-kata karena itulah reinkarnasi terakhirmu.

Selasa, 01 Juli 2014

Mengapa Mudahnya Pria Menganggap Perempuan Tak Ada?

By On Juli 01, 2014
ilustrasi

Mengapa laki-laki mudah sekali untuk tak 'menganggap' perempuan ada? Saya tidak pernah membuat penelitian khusus soal ini, tapi cerita di bawah ini mungkin bisa sedikit menjelaskan.

Sepasang suami istri yang cukup saya kenal, punya tiga anak dengan usia sekitar 14 tahun, 12 tahun dan 1 tahun. Mereka bukan keluarga yang berlebihan, tapi juga tidak terlalu kekurangan. Sudah punya rumah sendiri, dan punya kios kecil yang dikelola untuk membantu menopang kehidupan sehari-hari. Suaminya bekerja di sebuah bengkel dengan penghasilan yang tidak terjadwal.

Belum lama ini keluarga kecil itu mengalami cekcok. Masalahnya sepele, si istri rupanya membuka usaha sampingan tanpa sepengetahuan suaminya. Awal saya juga tak setuju dengan cara ini, bagaimanapun sepasang suami istri haruslah saling terbuka. Tak boleh ada yang ditutup-tutupi, begitulah salah satu 'trik' kelanggengan rumah tangga yang sering saya baca di buku-buku motivasi.

Senin, 23 Juni 2014

Anak yang Dihukum Ibunya

By On Juni 23, 2014
ilustrasi
Aku sedang tidur. Di antara sadar dan tidak kudengar suara langkah kaki orang dewasa masuk ke kamar. Diikuti suara langkah anak kecil sambil menangis terisak-isak. Lalu mengempaskan pantatnya di ranjang tempat aku meluruskan badan.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pukulan, tamparan -tidak begitu kuat- di pipi si bocah tadi. Akhirnya aku benar-benar terbangun tapi sengaja tidak membuka mata. Aku pura-pura tidur, sedikit pun tidak berkutik.

Orang dewasa itu - aku langsung mengenalnya begitu mendengar suaranya- sepertinya sangat kesal. Ia mencubiti anaknya berkali-kali, memukuli pantatnya, sampai-sampai anaknya yang berusia delapan tahun menangis hingga suaranya hilang. Beberapa makian yang diucapkan sambil berdesis turut kutangkap. Si anak meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi ibunya saat itu juga. Lalu si ibu menghukum anaknya dengan hukuman fisik seberat itu.

Aku belum menikah, jadi belum tahu bagaimana rasanya menjadi ibu. Walau aku punya keponakan dan sepupu yang masih balita dan sangat kusayang, tentu rasanya berbeda dengan mengurus anak sendiri. Dalam tidur siang itu, aku berpikir, seorang ibu-atau ayah- apakah pantas memperlakukan anaknya seburuk itu. Apakah karena mereka 'memilikinya' lantas merasa boleh memperlakukan anak-anaknya sesuka hatinya?

Apa yang salah dengan permintaannya?
Kukira yang salah justru kita para orang dewasa, yang terlalu terburu-buru emosi dan menganggap anak-anak kita mampu memahami kondisi orang tuanya. Yang meminta mereka memahami kondisi kita sementara kita tidak mau memahami kondisi mereka. Yang meminta mereka menjadi anak baik sementara kita tidak menunjukkan sikap baik kepada mereka.[] 

Minggu, 15 Juni 2014

Arti Kehilangan

By On Juni 15, 2014
Tak kuasa kuhalangi senja agar tidak menelan sosokmu. Setelah malam-malam kemarin, mungkin kita hanya akan bertemu dalam mimpi. Atau tidak sama sekali?

Aku belajar menerjemahkan perih yang bukan berasal dari goresan mata belati, tak perlu kukatakan lagi, sebab nyeri itu begitu menusuk-nusuk. Tak ada luka yang menganga, tak ada darah yang mengalir, tapi sakit.

Di senja yang sebentar lagi sempurna gelap aku belajar arti kehilangan, bahwa kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah kumiliki, jauh lebih menyakitkan dari pada pasir yang kugenggam kemudian diterbangkan angin.




Senin, 26 Mei 2014

Kunang Kunang

By On Mei 26, 2014
ilustrasi

Kaulah kunang kunang itu. Bahkan kerlip bintang pun tak sanggup mencuri hatiku. Ah, tapi tidak! Kau bukan mencuri tapi meluluhkan hatiku. Kita bercengkerama tentang senja yang tak pernah terselesaikan. Perlukah kita bertanya mengapa matahari perlu tenggelam, agar langit selalu terang? Karena malam adalah sekat tak berlapis namun tak pernah mampu kita tembusi.

Kita bicarakan tirai yang tak perlu disibak. Sebab kaulah kunang kunang itu! Kau mengubah kegelapan menjadi percikan kesenangan yang tak pernah usai. Dan aku, penyuka malam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari gelap.

Kita perlu menabung rindu, agar gebu tak berlalu begitu saja. Rasanya sangat ingin kembali ke siang itu, saat dimana debar dan gugup bercampur menjadi satu. Aku ingin kembali ke tatapanmu dalam diam yang teramat panjang.[]

Rabu, 21 Mei 2014

Tentangmu; Wahai Isra Masjida!

By On Mei 21, 2014
Kak Isra (fb)

Pagi tadi, saat bangun tidur mendadak aku merasa seperti orang linglung. Ini masih bulan Mei kan? Ya, dan Mei sudah hampir berakhir. Ada seseorang yang berulang tahun di bulan ini, tapi aku lupa tanggal berapa. Aku mengingat-ngingat, mengapa Facebook tak pernah mengirimkan pengingat soal ini. Hm... di zaman serba canggih ini rasanya hampir semuanya kita harapkan pada teknologi. Ah, biarlah nanti kutanyakan saja pada orangnya langsung. Aku berniat meneleponnya untuk menanyakan kepastiannya, jika sudah terlewati aku tetap akan mengucap Happy Birthday yang tertunda itu :-)

Dan.... betapa surprisenya ketika satu setengah jam kemudian membuka akun Facebook, ternyata seseorang itu berulang tahun hari ini. Ah, inikah yang disebut sebagai kontak batin itu? Jika iya, ini benar-benar luar biasa sebab komunikasi kami beberapa tahun ini tidak lagi seintens dulu.

Siapakah seseorang itu?

Namanya Isra Masjida. Aku biasa memanggilnya Kak Isra. Di phonebook namanya kutulis Sist Isra. Mengapa ia terasa istimewa? Hm, ini tak terlepas dari cerita masa lalu saat kami masih sama-sama kuliah di Fakultas Ekonomi Unsyiah. Kak Isra ini kakak kelasku di Jurusan Akuntansi. Kami sama-sama menyukai hal-hal yang berbau sastra.

Aku tak ingat lagi kapan persisnya kami mulai berteman, tapi aku ingat kapan pertama kali melihatnya. Di ruang kelas, waktu itu Kak Isra mengambil mata kuliah yang sama denganku karena harus mengulang. Entah semester berapa, yang pasti ruang kuliahnya di lantai dua di gedung belakang (PAP). Sejak pertama kali melihatnya aku sudah terkesan, wajahnya terlihat teduh dan sepertinya menyenangkan. Belakangan aku tahu ada tahi lalat di bibirnya, dan artinya.... dia tak hanya suka menulis tapi juga suka berbicara hihihihi.....

Sejak itu kami mulai menjalin pertemanan. Setelah merasa cukup nyaman dan dekat, aku mulai sering berkunjung ke kost-annya yang sempat pindah beberapa kali di kawasan Darussalam. Kami saling bertukar cerita hidup, dan entah mengapa cerita-cerita itu sampai sekarang masih melekat jelas di ingatan.

Soal mengapa kami menjadi begitu 'dekat' kurasa karena kami termasuk golongan orang-orang Maibe, orang-orang yang lahir di bulan Mei. Kami punya kesamaan sifat; sama-sama keras kepala, ngotot, dan kadang menyebalkan. Makanya kalau dia sudah mulai 'ceramah' sebaiknya diam dan iyakan saja semuanya. Biar cepat berhenti bicaranya hahaha.

Kak Isra;

Banyak sekali yang ingin kutulis tentangmu, tapi di sela-sela kesibukan ini aku hanya mau mengatakan Happy Milad saja dulu. Aku sengaja tidak menuliskannya di wall Facebookmu, karena kamu istimewa. Mereka yang istimewa tentunya akan mendapatkan perlakuan istimewa juga kan? Menurutku ini istimewa, karena tidak mengucapkannya di jejaring sosial :-D

Semoga Tuhan terus bersama hari-harimu yang penuh warna, memudahkan setiap jalan kebaikan yang kau idam-idamkan. Memberi keberkahan di usiamu, ini bukan soal berapa angka usia kita sekarang, tapi soal apakah kita sudah sematang usia kita? Dan aku yakin, kau sudah melampaui itu semua.

Happy milad my beloved sista :-*

Jumat, 16 Mei 2014

Bunga Ini Untukmu

By On Mei 16, 2014

Bunga ini untukmu, 
yang telah menemaniku melarung senja ke ufuk waktu
yang telah mengirimkan debar di ujung semilir bayu
yang telah menyematkan geletar paling rasa dalam diriku
Bunga ini untukmu,




Jumat, 09 Mei 2014

Jadi Pelajar di Tengah Kepungan Konflik

By On Mei 09, 2014
ilustrasi pelajar SMP @kompasiana

Baru ingat kalau kemarin (Kamis, 8 Mei) adalah hari terakhir Ujian Nasional bagi pelajar SMP sederajat di seluruh Indonesia. Bagi mereka yang baru saja selesai UN bolehlah menarik napas lega sesaat, sembari menunggu hasil pengumuman pada awal Juni nanti.

Lima belas tahun lalu aku juga seorang pelajar SMP lho (mendadak ingat umur :-D), masih terekam jelas bagaimana hari-hari terakhirku sebelum seragam putih biru itu benar-benar kutanggalkan. Di masa-masa ini banyak kejadian yang sama sekali tak pernah kuharapkan terjadi. Potongan-potongan kejadian itu sampai sekarang masih terus membekas di ingatan. Tak mau hilang. Tak mau pergi!

Waktu SMP aku kost di Idi Rayeuk, Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur sekarang. Aku sekolah di SMP N 1 Idi Rayeuk, fyi kalau Wakil Gubernur Aceh yang sekarang juga alumni SMP tersebut. Waktu masuk SMP dulu umurku baru sebelas tahun (aku tidak TK, belum genap lima tahun sudah keterima di SD) jadi memang masih anak-anak banget. Rasanya tak bisa dibayangkan anak sekecil itu sudah harus pisah dengan orang tua, tapi demi sekolah apa pun dijabanin deh.

Awal-awal sekolah, aku bersama seorang sepupu kost di Kompleks Asrama Koramil di Idi Rayeuk. Cuma betah beberapa bulan kemudian pindah ke daerah Kp. Blang, lumayan tahan dua tahun, menjelang naik kelas tiga pindah lagi ke Lr. Blang Pidie. Jadi selama tiga tahun SMP sempet tiga kali pindah kost. Pertengahan kelas tiga tahun 1999 aku dan sepupu memutuskan untuk tidak kost lagi. Kami kembali ke rumah orang tua, karena sudah bisa mengendarai sepeda motor kami pergi ke sekolah naik sepeda motor dan menempuh jarak belasan kilo.

Jarak segitu mending kalau aspal, lha ini jalannya cuma berlapiskan tanah kuning, kalau hujan beceknya minta ampun. Belum sepanjang jalan yang ada cuma kebun-kebun penduduk. Tapi kami selalu bersemangat, karena kalau pergi ke sekolah selalu rombongan, ada kali hampir sepuluh orang masing-masing bawa motor sendiri. Seru euy!

Okai, lupakan sejenak cerita keseruan itu. Rentang waktu antara tahun 1989-1998 Aceh melewati masa-masa konflik yang parah karena penetapan status Darurat Operasi Militer. Kondisi itu tentu saja berdampak juga di daerah kami. Seingatku pergolakan pertama yang terjadi di kampung kami awal tahun 1990-an, waktu itu aku belum sekolah.

Pergolakan kedua terjadi pada tahun 1999, ini tidak termasuk kejadian-kejadian seperti demonstrasi besar-besar pada tahun 1998 efek dari krisis moneter. Sejak Soeharto lengser kita tahu kondisi Indonesia sangat tidak stabil, tapi di Aceh situasinya jauh lebih mencekam karena buntut dari konflik. Konflik inilah yang membuat Soeharto menetapkan DOM di Aceh pada tahun 1989, dicabut tahun 1998 saat aku masih kelas dua SMP.

Setelah pencabutan status DOM perlawanan dari pihak GAM jadi terbuka, inilah yang kumaksud pergolakan kedua tadi. Waktu itu mulai ada teror-teror, desas-desus yang meresahkan sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Menjelang pertengahan tahun kami mengikuti Ujian Nasional, kami pergi pagi-pagi sekali supaya tidak telat sampai ke sekolah.

Aku ingat, di hari pengumuman kelulusan kami, teman dekatku kehilangan ayahnya. Beberapa hari sebelumnya ayahnya diculik orang tak dikenal, hari itu mayatnya ditemukan. Saat mendengar kabar itu, aku yang tadinya girang karena lulus dengan nilai bagus langsung tak semangat, sedih, merasa kehilangan. Ayah temanku itu berteman baik dengan ayahku, pernah beberapa kali datang ke rumah kami dan makan bersama. Aku sempat datang ke rumahnya untuk samadiyah.

Setelah itu kampung menjadi kocar-kacir, surat kaleng ditempel di kios-kios kampung. Pokoknya dalam tempo tiga hari kampung harus kosong, kami semua mengungsi, yang sempat membongkar rumahnya ya bongkar, kalau tidak ya ditinggalkan begitu saja dan hanya bisa berucap saat rumah itu kemudian menjadi bangkai setelah dibakar.

Waktu itu aku ikut ke mana pun ayah pergi, ibu sudah hampir sebulan ke Bireuen karena kakek sakit parah, dua adikku dibawa ibu. Jadi di rumah, aku hanya tinggal dengan ayah, kalau malam nenek, om dan wawak beserta keluarganya menginap di rumah, ini salah satu cara untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku mengemasi barang-barang di rumah dibantu sodara-sodara yang lain. Kami semua meninggalkan kampung itu sampai sekarang.

Kami sekeluarga mengungsi ke kampung nenek dari pihak ayah, jadi kampung halamanku yang sekarang. Kemudian aku mendaftar ke SMA, pergi ke tukang jahit dan belanja keperluan sekolah bersama ayah. Tak lama kemudian aku diterima di SMA. Melanjutkan hari-hari sebagai remaja di tanah yang bising dengan desing peluru.

Di lain waktu aku akan menyajikan cerita ini dengan utuh.[]

Selasa, 06 Mei 2014

Definisi Cinta yang Tak Pernah Kita Bicarakan

By On Mei 06, 2014
Pohon rindang @ihansunrise
Apa artinya cinta?

+++

Hujan baru saja turun, rintiknya belum sempurna kering, daun-daun mungkin lebih riang sekarang setelah panas menghantamnya bertubi-tubi sejak beberapa hari ke belakang.

Aku, mematung di tepi jendela, menatap bulir-bulir hujan yang jatuh di tepi beranda. Dingin merasuk ke pori-pori, membuatku terpaksa merapatkan tangan.

Aku teringat kamu, ya, kamu yang pernah bertukar cerita tentang hujan denganku. Kamu yang selalu mengirimkan kehangatan ketika aku terserang dingin karena gigil menahan rindu. Kamu yang berubah menjadi musim-musim yang selalu kuperlukan.

Kamis, 01 Mei 2014

Jangan Under Estimate, Sinetron Ini Asli Indonesia Kok!

By On Mei 01, 2014
@google

Plagiat sedang "naik daun" agaknya, sejak pertengahan Februari lalu sampai hari ini kata plagiat sering sekali saya dengar. Berawal dari kasus Anggito Abimanyu yang salah satu artikelnya di Kompas diduga memplagiat tulisan orang lain. Berlanjut pada salah satu cerpen pemenang lomba Perhutani yang sempat menjadi polemik di dunia maya. Karena terbukti plagiat cerpen bersetting hutan Kalimantan itu akhirnya dibatalkan oleh dewan juri.

Pagi tadi begitu membuka situs berita tersiar kabar kalau sinetron terbaru di RCTI yang berjudul "Kau yang Berasal dari Bintang", diduga menjiplak drama Korea berjudul "Man from the Star". Beberapa teman juga ada yang men-share di Facebook. Walau tak seheboh polemik lomba cerpen Perhutani, tapi seru juga mengikuti komen-komen di Facebook. Apalagi di berita ditulis kalau stasiun tv Korea Selatan, SBS berencana untuk menggugat RCTI. Hm, berarti ceritanya bakal panjang :-)

Rabu, 30 April 2014

Otak-Otak Gurih from Jakardah

By On April 30, 2014

Menjelang siang tadi begitu sampai ke tempat kerja temen di kantor langsung nyodorin sebuah paket. Udah ketebak, pasti itu paket dari Mbak Siwi, temen di Jakarta yang dua hari lalu ngabarin mau kirim sesuatu untukku. Apakah sesuatu itu? Sesuatu itu adalah.... otak-otak, kuliner khas Jakarta yang terbuat dari tepung dan daging ikan. Rasanya enak, gurih dan agak-agak kenyal gitu. 

Pertama kali makan otak-otak pas ke Jakarta akhir 2011 lalu. Waktu itu aku dan seorang teman baru saja turun dari busway di daerah Jakarta Selatan. Ternyata di sekitar terminal busway kalau malam hari banyak sekali para penjaja makanan. Umumnya yang dijual jajajan rakyat, salah satunya otak-otak ini. Aku beli beberapa, setelah dicoba rupanya enak dan kemudian mborong untuk dibawa pulang ke Aceh :-D

Otak-otak ini mirip dengan pepes, proses pembuatannya juga sama yaitu dipanggang diatas bara setelah adonan dibalut daun pisang. Makannya dicocol pakai saus kacang. Kalau ngga suka saus kacang bisa juga langsung dimakan gitu aja.

Pas ke Jakarta lagi akhir Februari kemarin aku nyari otak-otak di sekitar kawasan Blok M Jakarta Selatan, tapi ngga ketemu. Dan Mbak Siwi yang baik hati akhirnya mengirimkannya untukku. Hari ini untuk yang kedua kalinya aku mencicipi makanan itu, hmmm enak, makasih Mbak Siwi :-)

Minggu, 27 April 2014

Serunya Hidup Jadi Anak Desa

By On April 27, 2014
Pelepah kelapa atau tukok u (Aceh) @detik
Kira-kira, apa yang akan dibicarakan oleh dua orang ibu rumah tangga jika sedang bersama? Membicarakan fenomena kawin cerai artis, trend fashion terbaru, atau cerita Pashmina Aisha?

Hm... bukan karena penasaran jika aku akhirnya memilih bergabung bersama dua orang ibu rumah tangga malam kemarin. Yang satu bibiku, yang satu lagi tetangga depan rumah. Karena sambil nyambi goreng kacang dan kerupuk untuk dijual, bibi mengajak tetangganya ngobrol di dapur. Sambil membantu membungkus kerupuk, sesekali aku ikut berkomentar mengenai topik yang mereka bicarakan.

Kamis, 17 April 2014

Nama untuk Ketiadaan

By On April 17, 2014
Ilustrasi
Masih ingat percakapan kita di sekali waktu?

Waktu itu aku bertanya, untuk apa kita bersama? Untuk selamanya ada, katamu ketika itu. Kau benar, karena itu kita selalu bersama bukan? Ah, tapi bersama itu memiliki banyak definisi bukan? Bagi kita, bersama adalah memberi ruang lebih dalam ingatan kita untuk mengenang kisah.

Dan malam ini, setelah beberapa waktu aku alpa mengingatmu, entah mengapa semua tentangmu kembali berkelebat. Mungkin sejak aku sadar bahwa engkau kini sudah benar-benar entah. Sejak harapan untuk saling bertemu panca indera hanya tinggal harapan semu. Ah, tak sanggup rasanya melawan takdir ini. Sama seperti ketaksanggupanku melawan debar rindu yang telah melebam biru.

Kali ini, aku bingung memberi nama apa untuk sebuah ketiadaan.


Selasa, 08 April 2014

Surat Cinta untuk Suamiku yang Jadi Caleg

By On April 08, 2014
ilustrasi

Suamiku,

Aku melihatmu tertegun di beranda rumah kita sore ini. Apa yang kau lihat? Ikan koi warna-warni yang melenggak-lenggok di akuarium kecil itukah? Atau kau sedang terbuai dengan nikmat kesiur angin sore yang sesekali berdesir lembut.

Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan tentang pertarungan esok hari bukan?
Ah, kau pasti tak setuju dengan istilah 'pertarungan' yang kukatakan ini. Aku ingat, beberapa waktu sebelumnya saat kau mengatakan keinginan untuk maju dalam percaturan politik di negeri ini. Kau akan naik sebagai caleg, katamu waktu itu. Katamu, ada partai yang 'meminangmu'.

Aku mengenalmu sudah bertahun-tahun lamanya. Meski belum seluruhnya, aku jelas amat sangat mengenalmu. Kau bagian dari keseluruhan hidupku. Maka ketika ada kelompok tertentu yang meminangmu kala itu, aku langsung tersulut cemburu. Itu artinya, akan ada waktu-waktu di mana kau tak sepenuhnya milikku. Akan ada waktu di mana perhatianmu untukku akan berkurang. 

Kamis, 03 April 2014

Ada Pangeran Kodok Dalam Diriku

By On April 03, 2014
ilustrasi 

Pagi tadi waktu bangun tidur, dada tiba-tiba terasa berat saat bernafas. Korongkongan terasa perih dan panas. Suara pun tiba-tiba berubah sangat macho. Laki banget deh pokoknya. Ini jelas bukan efek merokok, karena aku tidak merokok. Ini cuma gejala penyakit lama yang sesekali bertandang ke empunya badan. Memang, sejak sore kemarin aku merasa tak nyaman dengan kondisi badanku.

Sakit? Sakit apakah itu?

Selasa, 01 April 2014

Kuatkan Jiwaku, Tuhan!

By On April 01, 2014


Kuatkan jiwaku Tuhan, dari pilu yang terus melukai semesta
Kuatkan hatiku Tuhan, dari perih karena menahan luka tak kunjung kering
Tuhan, cukup aku saja yang merasa bagaimana masa kanak-kanak itu terenggut muram

Tuhan, jaga negeriku!



Senin, 31 Maret 2014

Kriteria Caleg Idaman

By On Maret 31, 2014
ilustrasi
Pemilu legislatif yang digelar pada Rabu 9 April 2014 mendatang hanya tinggal hitungan hari. Malam tadi entah gimana kok bisa-bisanya saya mimpi kalau pemilu sudah berlangsung. Saya juga ikut nyoblos. Padahal sampai hari ini saya belum bisa memutuskan apakah akan menyoblos atau tidak.

Pasalnya meski tinggal di Aceh Besar dan beraktivitas di Banda Aceh, saya ber-KTP Aceh Timur. Otomatis kalau mau menyoblos pada hari H nanti ya harus pulang kampung. Tapi berdasarkan pengalaman dua periode terakhir, saya tidak pernah pulang kampung untuk memberikan hak pilih saya. Entah kali ini. Bisa jadi bisa tidak!

Jumat, 28 Maret 2014

Ziarah Rasa

By On Maret 28, 2014
Dua belas jam. Aku tau itu bukan waktu yang lama. Tapi aku merasa perjalanan ini bagai setahun. Mungkin lebih. Aku disergap jenuh yang bertubi-tubi. Berbagai kecamuk keinginan melabirin di ruang ingat. Aku ingin waktu membawaku lebih cepat ke kotamu.

Semakin deru itu melaju semakin kubaui aroma kotamu yang sibuk. Tapi bersamaan dengan itu ketakutan paling maha terus melesakku. Aku menatap ke luar jendela. Membuang pandang ke langit paling biru di ujung langit. Tetapi hatiku tetap kelabu. Muram tak dapat kutolak. Apa yang kucari di kota itu tanpamu. Hari ini adalah penyempurnaan dari segala benci yang kurasa untuk sebuah perjalanan.

Selasa, 25 Maret 2014

Surat Terakhir

By On Maret 25, 2014
ilustrasi
Ini hari ke dua puluh tiga aku tak melihat beranda jejaring sosialmu. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat rindu padamu. Sangat. Aku ingin melihat biji matamu yang cokelat. Juga senyummu yang ranum menggoda. Tiba-tiba aku merasa sangat menyesal telah mem-block akun jejaring sosialmu dua puluh tiga hari yang lalu. Mestinya itu tak kulakukan bukan? Bukan cuma akun, aku juga memblock nomormu di handphoneku. Selebihnya adalah diam yang panjang.

Hari ini, ketika rindu tiba-tiba menyergap begitu hebat. Aku teringat padamu. Aku mengecek nomor yang masuk ke daftar blacklist di handphoneku. Ada 75 panggilan masuk, semuanya dari nomormu. Mungkin kau juga meninggalkan pesan, tapi karena terlanjur masuk daftar hitam aku yakin pesan-pesan itu hanya tersangkut di awang-awang.

Senin, 24 Maret 2014

Setelah Kamu Pergi

By On Maret 24, 2014
ilustrasi
Sekali waktu, aku pernah merasa sangat kehilangan. Tapi seperti biasa, aku tidak menangis. Maksudku, aku hanya menangis diam-diam saja. Agar tidak ada yang mengetahui jika aku sedang terluka. Kehilangan. Perih. Atau apa pun namanya.

Aku sering mengaduh. Tapi itu hanya di hadapanmu saja. Waktu itu kau pernah bilang, bahwa kadang-kadang setelah seseorang tiada justru kita makin merasakan kedekatan yang luar biasa dengan orang itu. Kau benar. Karena setelah kehilangan itu aku makin sering bertemu dengannya di mimpi-mimpiku. Aku makin sering mengingatnya. Dan pada setiap kesedihan yang menimpaku, tidak ada seorang pun yang pertama kuingat selain dia. Dia adalah ayahku!

Dan sekarang kau pergi. Aku tahu menangis bukanlah cara terbaik untuk menyembuhkan luka. Memang, kita tak bisa berharap banyak pada senyum yang melengkung di bibir. Tapi senyuman adalah oase yang selalu memberi harap bukan? Juga untuk luka ini, aku berharap akan kering seiring berjalannya waktu. Bukankah kau juga pernah menyembuhkan luka dengan cara seperti itu?

Selasa, 18 Maret 2014

Puitis = Romantis?

By On Maret 18, 2014
ilustrasi
Mendadak ingat jawaban Ari Lasso di sebuah tayangan infotainment beberapa tahun lalu. Sering menciptakan lagu-lagu puitis bernada romantis, apakah Ari Lasso termasuk sosok yang romantis? Begitulah pertanyaan host tayangan tersebut kala itu.

Waktu itu, sebelum Ari Lasso menjawab aku sempat menaruh harap. Pastilah Ari sangat romantis. Aku menyukai beberapa lagu-lagunya. Ee.. rupanya tebakanku meleset. Ari malah menjawab, ia termasuk orang yang yaahh... mungkin semacam kaku dalam mengekspresikan perasaan. :-)

So, apa hubungannya dengan Ari Lasso? Jelas tidak ada, karena aku bukan penyanyi. Aku cuma seorang blogger. Ya, seorang blogger yang isi blognya didominasi oleh catatan-catatan beraroma puitis berbalut romantisme. Justru karena inilah aku teringat pada Ari Lasso.

Kamis, 13 Maret 2014

Rupa Angin

By On Maret 13, 2014
kincir angin @roundmerryround.blogspot.com

Dear Zorro,

Kau tahu rupa angin?

Angin itu, lembut, mesra, pengasih. Angin itu penyayang, meneduhkan, membawa terbang.

Apa karena Langit Itu Biru?

By On Maret 13, 2014
halilintar @mirajnews.com
Apa karena langit itu biru maka banyak yang menggantungkan harapannya di sana? Bagaimana jika langit selamanya kelabu, dengan rupa yang bermuram durja pula. Masih adakah yang menggantungkan harapannya ke langit?

Untuk waktu sepagi ini, ingin kutanyakan hal itu padamu. Apakah kau bisa menjawabnya?

Kupikir embun belum lagi kering di batang-batang rumput. Kabut juga masih menyelimuti gugusan bukit Barisan. Tetapi mengapa hati ini terasa begitu membara, namun tanpa debar. Ya, tanpa debar sama sekali.

Apakah bulan urung menjadi purnama di penanggalan kali ini?

Selasa, 11 Maret 2014

Tidak Punya BB (Tidak) Sama Dengan Kere (?)

By On Maret 11, 2014
@blackberryempire.com
Di Bandara Soekarno Hatta akhir Februari lalu, aku berkenalan dengan seorang gadis. Usianya terpaut beberapa tahun di atasku. Dari dialeknya aku sudah bisa menebak dari mana dia berasal. Orangnya ramah. Setidaknya, aku punya teman berbincang yang asyik sembari menunggu jadwal keberangkatan.

Lazimnya sebuah perkenalan, meminta nomor telepon atau nomor kontak lainnya adalah hal yang lumrah. Itu juga yang terjadi pada kami.

"Kau punya pin BB?" tanyanya.

Kamis, 06 Maret 2014

Mekanik Kecil

By On Maret 06, 2014
ilustrasi by kaskus
Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.

Minggu, 02 Maret 2014

Lima Fakta Unik ini Terjadi di Aceh

By On Maret 02, 2014
@blaoblong.blogspot.com

Setiap daerah punya keunikannya masing-masing. Keunikan ini akan menjadi ciri khas atau identitas suatu daerah. Walaupun tidak ada hubungannya dengan budaya atau adat istiadat di daerah setempat. Begitu keunikan atau sisi lain itu disebut orang yang mendengarnya akan langsung teringat atau terbayang-bayang pada daerah tertentu. Begitu juga halnya dengan Aceh.

Provinsi yang berada di ujung paling barat Indonesia ini memang punya banyak keunikan yang selalu menjadi pembicaraan. Entah itu terkait dengan produk hukumnya, cita rasa kuliner, atau hal-hal yang terkait dengan kebiasaan lainnya.

Beberapa hal unik di bawah ini sudah menjadi kebiasaan yang lazim di Aceh. Mungkin Anda sudah atau sama sekali belum pernah mendengarnya. Kalau penasaran datang saja langsung ke Aceh.

Rabu, 26 Februari 2014

Cinta dan Kelaziman

By On Februari 26, 2014
ilustrasi @goodlightscraps.com

kau mungkin bisa mengeringkan matamu, lalu berkedip-kedip, sesaat kemudian matamu yang tadinya memerah karena menangis perlahan-lahan memudar. lihat, kau melihat dirimu kembali ceria di hadapan cermin. kau menarik sesungging senyum, manis, orang-orang menangkap yang manis muncul dalam dirimu.

aku masih menunggu. selanjutnya apa yang akan dikatakannya?

tapi kau tak bisa menahan hatimu untuk berhenti menangis. kau boleh kuat, tapi selalu ada sisi terlemah dalam diri seseorang. kau tak bisa memaksa hatimu tersenyum seperti menarik segaris lengkung di bibirmu

lalu? aku bertanya dalam hati

Senin, 24 Februari 2014

Rindu

By On Februari 24, 2014
@peterdraw.wordpress.com
Yang kupahami, bahwa waktu tak sanggup menggerus debar yang lahir karena rasa yang teramat dalam. Seperti ombak yang tak sanggup mengikis kokohnya karang. Waktu juga tak sanggup mengikis gugup yang lahir karena rindu. Bukan, ini bukan tentang waktu, tapi tentang rasa dan rindu yang muncul di antara aku dan engkau.

Aku sungguh rindu menatap biji matamu yang tak sempurna hitam. Senyummu yang terkulum penuh goda. Juga sepasang tanganmu yang mengepak sempurna kala merengkuhku. Dalam ingatanku semua itu lebih indah dari kepakan camar yang terbang melintasi awan.

Aku rindu wangi semerbak yang menguar dari setiap panca inderamu.

Kamis, 20 Februari 2014

Orderan Surat Cinta

By On Februari 20, 2014
ilustrasi

Apakah menulis dan penulis sama?

Menulis adalah kata kerja (verb) sedangkan penulis adalah kata benda (noun). Merujuk pada kamus bahasa Indonesia menulis artinya membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb). Di zaman canggih ini menulis juga berarti mengetik huruf-huruf di media digital.

Sedangkan penulis adalah orang yang menulis. Entah itu (menulis) naskah cerita, status di jejaring sosial atau postingan-postingan di blog.

Pertanyaannya apakah semua orang bisa menjadi penulis? Menurut hemat saya jawabannya IYA. Pertanyaan berikutnya apakah semua orang yang menulis berarti berprofesi sebagai penulis? Nah ini tergantung, karena yang namanya profesi harus diikuti dengan keahlian.

Kamis, 13 Februari 2014

[TUTORIAL] Cara Menginstall Alexa Otomatis

By On Februari 13, 2014
ilustrasi @shutterstock
Bagi blogger pemula seperti saya, menulis ya menulis saja. Tak peduli apakah tulisan saya ada yang baca, tak peduli berapa page rank-nya, tak peduli berapa rangking di alexa-nya. Sekali lagi, menulis ya menulis saja. Hanya untuk mengosongkan ide-ide liar yang bertebaran di kepala. Juga untuk mengasah kemampuan menulis. Dengan rajin nulis di blog saya termotivasi untuk menulis lebih rapi, misalnya serius belajar tentang EYD.

Setelah beberapa tahun terlantar, beberapa bulan menjelang tahun 2013 berakhir aktivitas blogging kembali saya lakukan. Postingannya mulai teratur dan stabil, saya juga mulai rajin men-share postingan-postingan di blog. Kadang-kadang spamming juga ke page-page yang saya ikuti.

Salah satu perkembangan yang baik adalah page rank blog saya yang tadinya 0 sekarang jadi 1. Ohoho... apakah itu page rank? 

Rabu, 12 Februari 2014

Pada Secangkir Teh

By On Februari 12, 2014
ilustrasi
Membuang pandang lewat jeruji jendela, menikmati kesiur angin sore, menatap daun-daun yang bergoyang mengikuti irama angin. Sebentar lagi langit sempurna gelap, ufuk akan mengulumnya dan membawanya ke belahan bumi yang lain.

Uhm... tapi ufuk tak mampu mengulum wajahmu dari ingatanku. Wajah teduh yang selalu menggantung bagai anggrek hutan di ranting pohon.

Aku terkenang pada senja yang pernah kita habiskan bersama. Senja yang basah, menghadirkan kerlab-kerlib lampu-lampu di genangan air di badan jalan. Kita membuang rindu pada secangkir teh yang kau seduh.[]

Sabtu, 08 Februari 2014

Jodoh

By On Februari 08, 2014
sepasang pengantin baru saat jalan-jalan di Taman Kuliner Ulee Lheue

SUDAH lama tidak meng-update blog. Tau-tahu Februari sudah lewat sepekan. Baiklah, kali ini aku akan menulis tentang JODOH. Tetap saja tak jauh-jauh dari tema cinta, sesuai title blog ini.

Yang di atas itu foto sepupuku bersama istrinya. Namanya Miswardi, tapi aku punya panggilan khusus untuknya. Bang Suwar. Usiaku dengannya hanya terpaut 22 hari, saat balita kami tumbuh bersama. Sering mandi hujan dan main lumpur berdua sampai menggigil dan gigi bergemeretak.

Pernah sekali waktu wawak -ibunya bang Suwar- membeli dua pasang baju. Untukku dibelikan baju kembang model terusan. Khas baju anak perempuan. Tapi aku menolak menerima baju itu, minta bajunya bang Suwar. Endingnya terpaksa beli baju yang sama seperti yang bang Suwar punya. Kata ibu, dulu aku juga sering mengigit bang Suwar sampai biru-biru. Tapi bang Suwar tidak pernah membalas, cuma nangis pilu hehehe. Dia memang baik, sampai sekarang juga baik.

Selasa, 28 Januari 2014

Gelombang Rasa

By On Januari 28, 2014
gelombang ombak foto by pixabay
Bilakah cinta akan berakhir jika gelombang suara masih melahirkan getar geletar yang sama? Di pucuk siang yang terik ini, kita memang tak perlu mengaduh. Sebab rasa telah dulu mengambil perannya sebagai embun yang menggantung di pucuk-pucuk rumput. Di dalam diri kita yang gampang terbawa arus emosi.

Di hadapanmu rindu menjadi dirinya sendiri. Tak memedulikan harga diri, tak perlu menjadi dewasa. Sebab cinta adalah pengejawantahan. Cinta adalah sebaya katamu sekali waktu. Memudakan yang tua, mendewasakan yang muda. Cinta bukanlah kasta yang tersekat-sekat bagai anak tangga lalu susah payah kita mendakinya.

Lalu apa namanya ini? Oh, mungkin ini harmoni atau mungkin ini resonansi. Yang akan menggerakkan seluruh panca indera kita untuk memantulkan kasih, dan sayang, dan cinta. Lalu berubah menjadi keliman yang melekatkan hati. Itulah kenapa kelindan pertanyaan yang tak pernah terjawab ini membawa kita pada ujung tawa yang tak berkesudahan.

Cinta katamu, bukan soal seberapa rapat fisik yang saling menyatu. Bukan juga soal seberapa kuatnya jari jemari saling menggenggam. Atau bibir yang tak kunjung berhenti dari menyebut sebuah nama. Cinta adalah pertautan hati, emosi, juga rasa. Cinta adalah angin, yang tak pernah ada tetapi ada. Cinta itu kamu![]
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email