Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 07 Januari 2014

Karena Kami Tak Punya Bioskop

foto by tribunnews
SELAMA dua pekan ini 'demam' film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk sepertinya sedang mewabah. Di time line Facebook sering muncul entah itu ulasan, resensi, status, capture foto, bahkan tiket nonton di bioskop.

Pelan-pelan rasa iri menyelinap di hati saya. Saya tahu ini tak baik, tapi kali ini rasa iri tersebut telah menjangkiti saya dan parahnya tak sanggup saya tangkal. Betapa tidak, Tenggelamnya Kapal VDW disebut-sebut sebagai film sastra terbaik penutup tahun 2013. Buncahan perasaan ingin menonton film itu membuat saya benar-benar iri pada mereka yang punya bioskop di kotanya.


Saya tinggal di Aceh, tepatnya di Banda Aceh. Sebagai kota bergelar ibu kota provinsi rasanya kurang lengkap jika sebuah gedung bioskop pun tidak ada. Tapi itulah realitanya. Kami (saya) terpaksa menonton film-film bagus setelah melewati musim wabah. Juga terpaksa berpuas diri dengan hanya menonton di layar televisi atau komputer. Sementara itu cukuplah dengan melihat trailernya saja, atau membaca ulasannya di blog/media mainstream.

Jika ngotot benar, sebenarnya bisa pergi ke provinsi tetangga; Sumatera Utara (Medan). Tapi biaya yang kami keluarkan untuk membeli tiket dan akomodasi jadi tak sebanding. Istilahnya berat di ongkos. Bagi mereka yang mempunyai uang lebih banyak yang mengambil alternatif itu. Namun bukan berarti mereka tidak mengeluh lho.

Tahun lalu misalnya, saya berkesempatan main ke rumah seorang dosen Unsyiah. Waktu itu lagi booming film Habibie dan Ainun. Hanya untuk menonton film berdurasi dua jam lebih itu, bu dosen serta suami dan dua anaknya rela ke Medan. Alasannya Habibie dan Ainun film yang bagus dan layak ditonton, termasuk untuk anak-anak. "Jika di Banda Aceh ada bioskop kita tentu bisa berhemat uang, waktu dan tenaga," kira-kira begitu yang ia sampaikan waktu itu. Saya setuju dengan pendapat ini.

***
Bioskop terakhir yang beroperasi di Banda Aceh adalah Gajah Theater. Bioskop ini berada di kawasan Simpang Lima. Pertengahan 2002 silam saat saya pertama kali ke Banda Aceh, bioskop ini masih beroperasi. Waktu itu bersama teman-teman kampus hampir ikut menonton film Eifel I'm In Love. Namun gedung bioskop ini rusak karena terjangan tsunami 26 Desember 2004 silam. Setelah itu, sampai hari ini gedung bioskop itu telah berubah fungsi.

Gajah bukanlah satu-satunya bioskop di Banda Aceh, setahu saya ada Jelita Theater yang dulu berlokasi di Beurawe (Hermes Mall sekarang), ada Rajawali di Peunayong, ada juga yang di kawasan Blang Padang tapi saya lupa namanya. Selain Gajah, beberapa bioskop tersebut sudah lebih dulu tak berfungsi. Tak hanya di Banda Aceh, di kabupaten lain bioskop juga pernah ada. Namun tak ada satupun yang masih beroperasi.

***
Wacana untuk kembali menghadirkan bioskop di Banda Aceh sebenarnya pernah mencuat. Bahkan Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin, sangat menginginkan agar gedung bioskop kembali ada di Banda Aceh. Namun keinginan tersebut terbentur dengan para pemangku kebijakan lainnya sehingga sampai hari ini belum juga terealisasi. Hal tersebut pernah disampaikan oleh pak wali kota saat membuka Klinik Jazz di Unsyiah pertengahan 2013 lalu.

Benturan tersebut tak lain karena Aceh merupakan provinsi bergelar Syariat Islam. Keberadaan gedung bioskop dikhawatirkan menjadi sarana baru untuk bermaksiat. Contoh yang sering dijadikan alibi untuk hal ini misalnya berbaurnya penonton laki-laki dan perempuan, juga film-film yang diputar tak senonoh. Padahal, soal ini sebenarnya bisa dicari win-win solution lah. Dalam hal ini pemerintah harus luwes dalam menyikapi problematika sosial. Atau karena mereka memang malas berfikir untuk mencari solusi? Entahlah...

Bahkan, saking kesalnya dengan situasi ini seorang teman tahun lalu pernah membuat petisinya di change. Saya termasuk salah satu yang memparaf petisi itu. Aneh rasanya, untuk sebuah bioskop saja kita harus membuat petisi online.

Tak ada bioskop bukan berarti tak bisa nonton. Selama ini anak-anak muda Banda Aceh tak kehilangan akal kreatifnya kok. Tempat-tempat umum sering 'disulap' menjadi bioskop dadakan. Yang paling sering adalah gedung Sultan Selim II, AAC Dayan Dawood Unsyiah dan Taman Budaya Aceh. Namun film-film yang diputar adalah film dokumenter/teater khususnya karya anak Aceh. Di Gedung Sosial juga pernah untuk memutar film Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

Selain itu acara nonton bersama juga sering digagas oleh kelompok mahasiswa atau komunitas. Komunitas Tikar Pandan termasuk yang paling sering memutarkan film-film bagus. Saya pernah menonton Festival Film Eropa di komunitas ini. Namun di komunitas ini tentunya tak akan ditemukan tayangan film 5 CM, Soekarno, Habibie dan Ainun atau TKVDW.

Sarana alternatif ini tentunya tidak bisa disamakan posisinya dengan bioskop. Di bioskop, kita bisa menyaksikan film-film berskala nasional dan internasional. Bioskop tak bisa disubstitusi layaknya beras diganti dengan roti, ubi atau jagung.

Lalu, apa pentingnya sebuah bioskop? Bicara soal penting tak penting, memang ada yang lebih prioritas. Itulah yang kita sebut kebutuhan primer. Seiring berjalannya waktu, zaman berubah, skala prioritas masyarakat juga ikut berubah. Kini menonton merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat. Dengan adanya bioskop misalnya roda ekonomi akan berputar. Ah, jadi melebar ke mana-mana nih :-D. Jika dikalkulasikan mungkin tak sedikit uang orang Aceh yang 'terbuang' ke luar kota hanya untuk menonton film. Selain membeli tiket nonton, mereka tentunya akan membeli makanan, membayar sewa penginapan, dan lainnya. Tidakkah ini menjadi bahan pertimbangan untuk para pengambil kebijakan?

Kalau soal kekhawatiran 'bermaksiat', bisa saja dipisahkan antara tempat duduk perempuan dan laki-laki. Saya melihat masyarakat Aceh sudah 'tahu diri' dengan aturan ini, di ruang kelas, di forum-forum, mereka telah terbiasa dengan ini. Lagipula, seorang yang cerdas dan terdidik rasanya tidak akan bermesum di depan publik, sekalipun mencuri-curi melakukannya.

Terlepas dari semua itu, bioskop merupakan sarana hiburan legal yang mestinya disediakan pemerintah untuk kepentingan publik. Banyak film-film bagus yang layak tonton dan mendidik kok. Bahkan, dengan kewenangannya pihak terkait berhak 'menyortir' film apa saja yang boleh ditayangkan di Aceh.

***

Hari ini saya kembali membaca review mengenai TKVDW. Aih, jika di kota saya ada bioskop pasti saya sudah nonton itu film. Sampai selesai menuliskan ini saya masih teringat ucapan pak wali yang mengatakan akan mengupayakan ada bioskop, gedung seni/pertunjukan, dan galeri di Banda Aceh. Semoga.[]

23 komentar:

  1. Tapi percayalah! kita benar-benar tak butuh bioskop. memang film-film tanah air mulai bersinar lagi, tapi apa yang saya dapatkan di Bandung lain dari apa yang kamu rindukan. Karena ada begitu banyak film-film yang minim makna positif yang rilis setiap waktunya di bioskop. Jika memang sudah tak terbendung, haruslah pendirian bioskop sudah dengan manajemen yang benar-benar profesional oleh Pemerintah Daerah Aceh agar mampu mempertahankan keluhuran nilai-nilai di Aceh. Sketsa gedung yang cocok dengan rakyat Aceh, pengelolaan jam tayang, sensor film, tim penyeleksi dari WH dan lain-lain haruslah diperhatikan dan sudah terprogram sejak pendiriannya. :)

    BalasHapus
  2. Memang bioskop dulunya ada waktu sebelum Tsunami datang, tp sekarang ngak lagi. begitu pun penerbit jarang. karena rakyatnya sudah melupakannya. :(

    BalasHapus
  3. naseeeeee...naseb. ureung aceh lee that yang jawai dan bangai. semua mengkambinghitamkan syariat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eky aku setuju, syariat tak pantas dijadikan alibi untuk mengekang kreatifitas positif

      Hapus
  4. kalau yang punya lebih banyak uang bisalah dia mengubah salah satu ruangan di rumahnya menjadi bioskop pribadi, semisal Blitz Megaplex, privacy dan kenyaman mungkin lebih dari sekedar di XXI tetapi ritual nonton di bioskop yang dimulai dari melihat-lihat poster film yang sedang diputar lalu ngantri beli karcis trus berbondong-bondong masuk studio itu yang tidak dapat digantikan. semoga saja mimpi kaum muda atjeh untuk memiliki bisokop di ibukota provinsinya bisa segera terwujud, sesuasi tulisan diatas, win-win solution pastilah bisa diterpakan sekarang yang diperlukan adalah niat, kalo ada niat dari semua pihak terutama dari yang berkuasa, pastilah bisa, insya Allah......

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin kak Nijar, pemerintah memang harus bijak, menurut hematku segala sesuatunya takboleh dipandang dan diambil keputusan sepihak saja :-)

      Hapus
  5. Atau karena mereka memang malas berfikir untuk mencari solusi? Entahlah... <- Kok aku setuju ya sama ini. Aku pernah baca di mana lupa, ada yg bilang (entah walikota entah wakil entah siapa) bahwa membentuk kota yang madani juga perlu memikirkan untuk sarana hiburan bagi warganya. Salah satunya bioskop.

    Kalau alasannya bioskop itu tempat ajang maksiat, kan bisa diakali.. Aceh bikin lembaga sensor sendiri utk menyeleksi film yg bisa ditayangkan di Aceh misalnya. Terus di gedung dilengkapi CCTV, penonton dipisahkan antara pria dan wanita, alih-alih lampu ruangan dimatikan, bisa dibuat redup misalnya, dsb. Ah, entahlah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yang ngomong pak wali kota Ari, di acara klinik jazz di darussalam pas Dwiki Dharmawan datang tempo hari.

      nah itu, Ari aja bisa mikir sejauh itu, kok mereka kagak ya hahaha

      Hapus
    2. Eh, KTP pernah putar film Indonesia, yang malah tidak diputar di bioskop resmi. Ari sudah menuliskannya: http://buzzerbeezz.com/2012/06/17/review-nonton-postcards-from-the-zoo-di-episentrum/

      Hapus
  6. Di MAkassar, bioskop2 pada mati juga satu2. Sekarang tidak ada bioskop yang berdiri sendiri tapi masih ada bioskop2 di dalam mal2 di kota ini.
    Sayang juga ya, film2 kan ada juga yang bermanfaat dan berkualitas.
    Yah, mudah2an suatu saat ada yang tergerak mendirikan bioskop di Banda Aceh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Mugniar, masih mending tuh ada bioskop di mall heheheh, walau ngga sebesar yang independen tapi bisa jadi alternatif

      Hapus
  7. Saya sudah biasa nonton film basi, minjem kaset di rental atau sewaktu ditayangkan di TV. Bukan karena di kota saya nggak ada bioskop, tapi merasa lebih nyaman aja kalau nonton di rumah, bisa santai leyeh-leyeh sambil ngemil bebaaas hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Oci, kalau itu pilihan namanya, bagaimanapun membuat pilihan itu lebih asyik daripada terpaksa memilih hahahah

      Hapus
  8. aku lebih parah berarti ya, gak punya tivi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau cuma untuk nonton movie ngga perlu tv Amalia, cukup di kompi/lapie, lebih enak ngga ada iklannya heheh

      Hapus
  9. saya tuh yang foto tiket :D
    Ada plus minus nya sih ya mbak bioskop ini. Untuk Balikpapan, walau bukan ibukota provinsi tapi merupakan kota paling ramai karena pintu gerbang Kaltim ada 3 bioskop di sini. Tapi, saya sih nggak bisa setiap saat juga. Sering ketinggalan juga nonton filmnya. Ini karena suami lagi off kerja jadi deh bisa beberapa hari di Balikpapan :)

    BalasHapus
  10. Meski saya tinggal di daeraj satelit ibu kota yg nota bene punya 3 cineplex sendiri kotanya, atau bahkan bila ingin ke bioskop premier yg lux dan mahal bisa lari ke jakarta karena dekat pun... Saya gak pernah nonton bioskop. Terakhir tahun 2011. Padahal pengennnn bangettt... Tapi gak tega nitipkan baby n kiddy ke asisten sementara ibunya nonton film. One day kalo adik udah 3 tahunan, aku pgn ajakin nonton film anak yg bermutu. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha itu ngga pernah nonton karena ngga mau ninggalin anaknya mbak Anik :-), menurutku itu pilihan seorang ibu yang bijaksana

      Hapus
  11. sebenarnya, bukan syariat yang jadi alasan. bisa jadi karena waktu. bersabarlah, nanti pas udah ada bioskop pun timbul penyakit baru ini itu. contoh, itu hermes mall, dulu kan banyak sibuk permasalahin di aceh gak ada mall. nah, sekarang? soe rame mall deungoen keudee kupi? begitu juga bioskop, lebih banyak peminat yang download/copy film kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi sih begitu, ya itu selalu ada pro dan kontra memang.....

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email