Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Jumat, 04 Juli 2014

Sepasang Burung Liar

ilustrasi @kutilang.co.id

Hei, apa kabarmu di sana? Semoga kau jauh lebih baik dariku. Semoga senyummu tak pernah berubah, senyum penuh goda yang selalu melekat di ingatanku. Senyum menyenangkan dan menenangkan yang pernah kulihat dan akan selalu kurindukan.

Juni baru saja berakhir, bersamaan dengan gugur terakhir kelopak angsana kuning. Juni pernah memekarkan kuncup-kuncup bunga di hati kita. Berawal dari musim panas bulan Maret yang kering. Memasuki Juli baru aku sadar bahwa kelopak angsana terakhir yang gugur itu adalah kamu.

Kau tahu apa yang tersisa sekarang? Rindu, rindu menggebu-gebu yang memaksaku menghadirkan wajah ranum dan senyum matangmu di setiap pejaman mata. Rindu yang memaksaku untuk bergumul dengan kata-kata karena itulah reinkarnasi terakhirmu.


Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak pernah tahu bahwa kau benar-benar berarti di hidupku. Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak tahu bahwa aku benar-benar bisa mengalahkan ego yang selama ini mengepungku. Ego untuk memilikimu seumur hayatku. Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak tahu betapa kau sangat pantas untuk dicintai dan dikasihi. Jika aku tidak kehilanganmu, aku tidak tahu bahwa kau bukan untuk dimiliki.

Karena kita adalah sepasang burung liar yang punya sepasang sayap untuk menentukan arah hidup masing-masing. Sepasang burung liar yang dipertemukan angin di dahan paling tinggi di pohon rasa. Sesaat kita berteduh, mengunyah buah-buah ranum yang memikat hati. Kemudian kita tertidur, lelap, sampai angin membangunkan kita.

Ah, untuk sesaat aku kehilangan imajinasku. Aku mulai kebingungan bagaimana menjalin kalimat-kalimat indah seperti yang sering kujalin dulu. Beberapa potong di antaranya kutitip kepada angin untuk disampaikan padamu. Bahwa aku rindu. Sangat!

1 komentar:

  1. Rindu ketika seharusnya berpisah, sepertinya itulah makna dari puisi ini ... Semoga bukan rindu terlarang, hehe ...

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email