Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 28 Desember 2015

Dear, Zenja...

By On Desember 28, 2015

Kupanggil kau Zenja...
Yang datang kala malam mulai menjelang
Mengirimkan burung-burung camar yang hendak pulang ke sarang
Mengirimkan angin semilir yang menusuk sanubari paling pribadi
Mengirimkan sengau waktu yang diseret mentari

Oh,
Kau Zenja paling kudamba
Yang meluruhkan seluruh daun-daun
Yang menjinakkan seluruh keliaran
Yang membuat takluk debu-debu beterbangan
Yang membuat hati berdegup riuh

Zenja,
Kau yang hadir saban waktu bergulir
Dan aku yang pulang saban waktu bergilir
Kita berpisah saat ujung bibirku bertemu dengan ujung matamu
Kau datang dengan mata terkatup
Aku pergi dengan bibir menganga

Zenja,
Kau tak pernah melihat apa yang seharusnya kau lihat
Sedang aku tak pernah mengatakan apa yang seharusnya kukatakan
Kita menatap dalam diam
Saling bicara dalam isyarat
Takdir membuat kita patuh pada semuanya

Zenja,
Ya, kau Zenja paling kudamba
Karena setelahmu purnama hadir di penanggalan ke-15 
Purnama yang binarnya terpancar di matamu
Karena setelahmu bintang gemintang tak pernah sepi
Bintang yang percik sinarnya ada di hatimu

Zenja... oh Zenja...


Kamis, 10 Desember 2015

Kau Tahu, Cinta!

By On Desember 10, 2015
Kau tahu, Cinta
Pagi tanpa menyapamu seperti pagi tanpa kicau burung, hening dan sepi. Membuat dunia seolah terasa begitu menjemukan. Kau selalu kurindukan, seperti pucuk-pucuk daun yang berharap embun selalu datang di pangkal pagi. Dan dengannya cinta semakin tumbuh dan hijau. Dengan cinta itu aku mengukur nafasku dan menghitung denyut nadiku. Karena di setiap detakan jantung aku merasakan kehadiranmu.

Dan kau tahu, Sayang
Apa pun denganmu entah itu bercanda, atau kita bertengkar sekalipun, selalu membuatku bahagia. Karena setelah itu selalu ada cinta yang meletup-letup, seperti percik bara api yang menghiasi malam yang pekat. Seperti kunang-kunang yang berkerlipan di ranting pohon di malam hari. Dengannya hatiku menjadi serupa bunga yang mekar. Kau dengan segala kelebihan dan kekuranganmu selalu bisa memekarkan hatiku yang sedang kuncup.

Cinta,

Aku bahagia menjadi bagian hidupmu
Kurasa aku telah kehabisan kalimat untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu

Rabu, 09 Desember 2015

Cinta Tak Pernah Sudah

By On Desember 09, 2015
Cinta tak pernah sudah. Sekalipun kita tidak bisa bernegosiasi dengan waktu. Cinta dalam definisiku bukan berarti pertemuan dua mahluk untuk kemudian menyulam banyak puisi. Bukan pula kontak fisik yang dengannya kita bisa mendendangkan semua harmoni.

Bagiku cinta adalah cinta itu sendiri. Yang tidak perlu kuterjemahkan apalagi mereka reka mengenai maknanya. Cinta adalah angin yang bisa kurasakan hadirnya. Yang ada dan nyata meski wujudnya tak pernah berbentuk.

Buatku cinta tak pernah sudah. Meski kita harus mencari definisi baru untuk mengartikan ketidakbersamaan. Kebersamaan hanya akan melahirkan pengharapan dan pertanyaan. Sedang aku ditakdirkan bukan untuk bertanya apalagi berharap.

Aku takkan pernah bertanya pada merak yang bersayap indah. Meski padanya sering kuceritakan tentang mimpi mimpiku. Padanya sering kukatakan tentang segala hasrat. Aku takkan pernah bertanya apalagi berharap. Sekalipun waktu akan meluruhkan sehelai sayapnya yang selama ini membuatnya enggan berpaling.

Cerita cerita itu hanya dongeng pengantar tidur. Seperti kicau seorang mabuk yang melantur. Cerita cerita itu mengalir bagai air bah, aku tidak tau apakah setetes saja ada hinggap di ingatannya. Aku terlalu banyak bercerita sehingga lupa apa yang kuharapkan darinya. Tapi yang kuingat tak pernah ia bertukar suka duka denganku. Itulah caranya membuatku seperti anai anai.

Cinta tak pernah sudah. Sekalipun aku tau dia hanya akan menjadi dongeng yang menarik diceritakan pada perempuan. Dia tak pernah ada. Puisi puisi ku lah yang membuatnya terus hidup.  Sajak sajakku yang membuatnya terus ada. Rindu dan apa pun yang aku punya yang membuatnya terus hadir.

Aku hampir lupa berdiri di pojok tahun yang ke berapa sekarang. Aku terikat oleh bayang bayang angin yang menggelora. Melenakan. Membuai. Membuat hati menjadi berdenting denting. Nyaring yang berasal dari pecahan hati yang berserakan. Tetapi aku tidak akan memintanya untuk menyatukannya. Sebab cinta tak pernah sudah.[]

Jumat, 30 Oktober 2015

Catatan di RSZA: Diagnosa Penyakit Mak

By On Oktober 30, 2015
MAK perempuan yang hebat, kuat dan tegar. Beliau lahir di Tamiang 47 tahun silam. Di usianya yang belum genap setengah abad, Mak mempunyai segudang kisah hidup yang jika ditulis bisa menjadi berjilid-jilid. Kepingan alur cerita hidupnya sering menjadi pengantar tidur saat kami masih kecil. Dibandingkan kisah bahagia, lebih banyak cerita satir yang membuat mata berembun ketika mendengarnya. Tapi Mak mampu melewati semuanya dengan tegar. Mak tak pernah mengeluh apalagi menyesali takdir hidupnya.

Kini ketegaran itu seolah takluk pada penyakit yang dideritanya. Hampir dua bulan Mak terbaring di ranjang rumah sakit. Pindah dari satu ruang ke ruang lain. Bobot tubuhnya menyusut drastis, matanya cekung, senyum di bibirnya seketika hilang, kalah pada sakit yang menggerogoti tubuhnya. Tenaganya ikut sirna, bahkan untuk memegang piring atau gelas saja tak kuat lagi. Saya bersyukur sebab harapannya untuk sembuh tidak ikut tenggelam, walaupun kadang-kadang tampak sesekali binar matanya meredup.

Seumur hidupnya Mak hanya pernah dirawat di Puskesmas sekali waktu hamil si bungsu 16 tahun silam. Seingat saya Mak memang jarang sakit, kalaupun sakit hanya flu dan demam seperti yang dialami banyak orang. Tapi sejak ayah meninggal pada 2008 lalu kondisi kesehatan Mak mulai terganggu. Soal kesehatan yang terganggu ini agak susah untuk dijelaskan. Mak menderita penyakit non medis alias peunyaket donya. Entah sudah berapa banyak orang pintar yang didatangi Mak. Mulai dari orang Aceh hingga orang Batak, dari orang Teumieng hingga Jawa. Uang yang habis juga tak terhitung banyaknya. Rumah kami berkali-kali 'dicuci' dengan garam. Tetap saja Mak tidak sembuh. Indikasi sembuh pada penyakit yang tak kasat mata memang tak bisa diukur.

Selama itu pula hampir Setiap malam Mak mengalami mimpi buruk. Mak seringkali mengigau sampai berteriak-teriak. Kadang ia mimpi dikejar orang berjubah hitam, kadang mimpi seperti diterkam anjing hitam dan binatang lainnya. Setiap orang yang mengobati Mak bilang sakit Mak 'turunan' dari almarhum ayah yang juga terkena peunyaket donya.

Dua tahun belakangan Mak mulai menderita penyakit degeneratif -mungkin karena faktor stres- seperti diabetes mellitus dan asam urat. Lambungnya juga mulai bermasalah. Ketiga penyakit ini membuat Mak sering mengonsumsi obat obatan, baik obat medis maupun ramuan tradisional. Atau obat herbal yang dibeli di toko Cina.

Awal September lalu tiba-tiba Mak ngedrop dan masuk ICU. Sehari sebelumnya,  Sabtu, 5 September Mak menelepon saya. Kami ngobrol lama, suara Mak terdengar lemah. Tanpa diberi tahu pun saya sudah tahu kalau Mak sakit. Tapi karena hari libur Mak menunda rencana ke rumah sakit hingga hari Senin nanti. Rupanya belum sampai Senin Mak sudah masuk rumah sakit duluan karena terserang sesak nafas berat pada Minggu sekitar jam empat pagi. Mak pun langsung dilarikan ke RS Graha Bunda Idi Rayek.

Mendapat kabar Mak masuk rumah sakit, Minggu siang saya langsung pulang kampung. Jelang tengah malam saya sampai di rumah sakit. Sejumlah keluarga menunggui Mak di rumah sakit. Saat masuk ke ruang ICU masih teringat dengan jelas waktu itu Mak tidur dengan napas tersengal sengal. Di hidungnya menempel selang oksigen. Cairan infus masuk ke pembuluh darahnya melalui jarum. Tengah malam saat Mak terbangun dan melihat saya di sampingnya, Mak nampak lega walaupun tidak diucapkan.

Enam hari di rumah sakit kondisi Mak semakin parah. Sesak napasnya semakin menjadi jadi, dua hari terakhir Mak mulai batuk-batuk. Keluarga akhirnya meminta rujukan agar Mak dibawa ke Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh.

Jumat, 11 September pukul tiga sore akhirnya Mak dibawa ke Banda Aceh dengan ambulans. Tiba sekitar pukul sebelas malam. Hiruk pikuk IGD menyambut kedatangan kami. Untuk proses administrasi awal diurus oleh perawat pendamping. Dokter jaga di IGD langsung menangani Mak dengan cepat. Semuanya berlangsung begitu cepat, mereka mengambil darah Mak untuk diperiksa di laboratorium, ada juga yang menanyakan perihal riwayat penyakit Mak pada saya. Selanjutnya Mak dibawa ke ruang radiologi. Dokter yang memeriksa Mak curiga ada yang tidak beres di paru paru Mak setelah punggung kiri dan kanan ditepuk tepuk.

Malam pertama di RSZA saya dibuat takjub. Pasalnya hasil foto rontgen nya langsung jadi nggak lebih dari lima belas menit. Salut sama petugas medis yang begitu sigap seolah nggak ada beda antara siang dengan malam. Usai di rontgen Mak kembali dibawa ke IGD. Selanjutnya dua dokter pria menjelaskan hasil foto rontgen tadi pada saya. Intinya ada cairan di pleura paru Mak. Tapi cairan ini bukan karena trauma, melainkan karena efusi.

"Efusi itu apa dok?" Tanya saya.

Walaupun sudah larut malam konsentrasi saya masih oke. Penjelasan dokter saya simak baik-baik. Yang tidak paham langsung tanya saja. Ini memudahkan saya untuk menjelaskan pada keluarga yang umumnya sangat awam dengan dunia medis.

"Efusi itu cairan yang berasal dari infeksi," kata dokter menjelaskan.

Singkatnya, pleura atau pembungkus paru Mak sudah kelebihan cairan. Sehingga membuat Mak seperti orang tenggelam saat bernafas. Selain didiagnosa efusi pleura, Mak juga didiagnosa terkena pneumonia dan sepsis. Tentang penyakit ini akan saya tulis terpisah.

Sakit paru yang dialami Mak membuat kami kaget. Selama ini Mak tidak pernah mengalami sesak atau batuk. Tidak ada gejala yang mengindikasikan paru nya bermasalah. Yang membuat kami heran Mak bahkan pernah memeriksakan paru nya pada dokter spesialis tapi dinyatakan bersih.

Setelah menjelaskan tentang kondisi Mak, dokter lantas meminta persetujuan keluarga untuk penyedotan cairan paru. Surat tanda persetujuan keluarga ditandatangani oleh adik saya. Sekitar jam setengah empat pagi Mak lantas dibawa ke ruang operasi untuk pemasangan water seal drainase atau WSD. Operasi hanya dilakukan oleh dua dokter dibantu seorang perawat. Masuk waktu subuh operasi pun selesai. Setelah itu Mak kembali dibawa ke ruang radiologi untuk foto rontgen post WSD. Sejak saat itu Mak resmi menjadi 'warga' rumah sakit.[]

*ditulis di sela-sela gesa di ruang rawat bedah Jeumpa 3 RSZA



Rabu, 28 Oktober 2015

Catatan di RSZA; Ketika Kami Jadi Warga Rumah Sakit

By On Oktober 28, 2015
MENJADI warga rumah sakit? Sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya, apalagi hingga berpuluh-puluh hari. Sekeren dan setinggi apapun tipe rumah sakit tersebut, tetap saja saya dan keluarga tidak pernah mengidam-idamkannya untuk menjadi salah satu pasiennya.

Kenyataannya hingga hari ini, Rabu, 28 Oktober 2015, sudah 53 hari kami menjadi warga rumah sakit. Enam hari di RS Graha Bunda Idi Rayek, sisanya di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Semua cerita ini berawal dari sakitnya Ibu; perempuan terkasih yang saya panggil Mak.

Hampir dua bulan berada di rumah sakit bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang kami (saya) rasakan namun sulit untuk diungkapkan, apalagi dituliskan. Sebagai orang yang beriman, kami tidak lupa kalau ini bagian dari Qada dan Qadar-nya Allah. Saya selalu menguatkan Mak agar ikhlas dan sabar (bukan berarti menyerah), karena sakit akan menggugurkan dosa-dosa kecil seseorang. Sedangkan saya sebagai anak, menjadikan kondisi ini sebagai ladang amal dan ladang jihad saya. Saya merawatnya dengan sepenuh hati. Yang terbayang di mata saya adalah betapa lelahnya Mak dulu saat merawat saya yang menderita asma ketika masih kecil. Inilah saatnya gantian.

Selama Mak sakit aktivitas saya juga berubah total. Hampir dua bulan ini saya tidak pernah mencium bau kantor (terimakasih saja rasanya tidak cukup untuk membayar pengertian teman-teman Sikureung Sipakat). Konon lagi untuk nongkrong bersama teman sambil menikmati kopi hitam yang nikmat. Saya sudah rindu bau anyir pantai Ulee Lheue sambil makan jagung bakar bersama karib saya Nita Liana. Rindu bermalas-malasan setelah pulang kerja di rumah sahabat saya Etty Livia Harahap. Saya juga sudah rindu kasur busuk saya di rumah, tempat saya membuang penat dan menyulam mimpi.

Aktivitas saya hanya berkutat di sekitar rumah sakit saja; mengantre di apotik untuk mengambil obat; kadang ke laboratorium untuk mengantar sampel darah Mak, mengantre di Bank Darah untuk mengantarkan sampel darah untuk keperluan crossmatch atau mengambil darah untuk transfusi, selebihnya memang lebih banyak di kamar menjaga Mak.

Banyak yang penasaran dan bertanya-tanya kenapa fokus saya tiba-tiba hanya terpusat pada Mak, Mak dan Mak. Kenapa sampai saya tidak bisa membagi sedikit waktupun untuk nyambi masuk kantor. Atau tetap bekerja sambil merawat Mak misalnya. Atau sekadar untuk santai sejenak di kantin rumah sakit seperti keluarga pasien lainnya. Menjelaskan ini memang tidak mudah. Dan tidak semua orang bisa memahami.

Kondisi Mak tidak memungkinkan saya untuk meninggalkannya lama-lama (tentang diagnosa penyakit Mak saya ceritakan lain waktu). Komplikasi penyakit membuat tubuhnya sangat lemah, yang paling kentara adalah sesak. Karena sesak ini pula Mak sempat mendapatkan perawatan khusus di Intensive Care Unit atau ICU. Paru kirinya yang tidak normal membuat Mak hanya bisa tidur terlentang, tidak bisa berbalik ke kiri ataupun ke kanan. Berbalik sedikit saja langsung batuk dan sesak berat. Selain itu, di rusuk kirinya juga dipasang selang Water Seal Drainase atau  WSD untuk menyedot cairan di paru. Otomatis ruang gerak Mak semakin terbatas.

Suhu tubuhnya juga tidak stabil, demamnya naik turun. Belum lagi reaksi obat yang membuatnya sepanjang hari dan malam mual muntah. Mual muntah ditambah sesak napas, ditambah nyeri punggung dan pinggang hebat sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana kondisinya. Kadang Mak hanya bisa terkulai di bahu saya karena tidak sanggup lagi menahan tubuhnya. Tenaganya terkuras habis untuk mengeluarkan isi perutnya yang tinggal cairan. Hingga hari ini, semua kegiatan Mak hanya berlangsung dari tempat tidur. Untuk mengurangi sakitnya yang kami lakukan adalah memijit dan mengipasinya sampai ia tertidur.

Tidur adalah sesuatu yang paling kami dambakan agar bisa dialami Mak. Kesempatan kami untuk beristirahat adalah ketika Mak tidur. Entah itu sekadar untuk menghirup udara segar sejenak ke luar ruangan, atau merebahkan badan untuk mengendurkan syaraf, atau untuk tidur sebentar. Tapi sayangnya Mak tidak pernah bisa tidur lama. Ini juga yang membuatnya semakin lelah.

Bukan hanya Mak yang lelah, kami anak-anaknya juga lelah. Lelah fisik yang kami rasakan tida seberapa dibandingkan lelah psikologis. Melihat mata Mak yang kadang-kadang redup karena hampir putus asa adalah siksaan berat bagi kami, khususnya saya. Adakalanya cerita yang kami sampaikan untuk menghibur Mak sama sekali tidak berguna. Saya hanya bisa menahan kesedihan itu di hati, kalau sudah tidak tahan lagi saya tinggal masuk ke kamar mandi dan menangis sepuasnya di sana.[]

*Ditulis di sela-sela gesa di  depan ruang ICU RSUZA


Jumat, 02 Oktober 2015

Antibiotik

By On Oktober 02, 2015
Senja gagal membungkam resah
Rumput rumput pasrah terkulai terpanggang matahari
Sedang aku masih di sini
Masih berkarib dengan aroma antibiotik

Senin, 17 Agustus 2015

Terbentur Rindu

By On Agustus 17, 2015
Ilustrasi

AKU hampir tidak percaya gemuruh ombak yang begitu menggila ini tiba-tiba redam begitu saja. Bahkan senja tak sempat melihat senyum perpisahan darinya. Ia pergi tanpa lambai keangkuhan yang sering kali membuat lunglai. Ia pergi dengan anggun meski tanpa permisi.

Aku lebih tak percaya sebab redamnya gemuruh ini karena engkau. Ouh... siapa aku harus memanggilmu. Angin kah, hujan, atau badai yang berwujud dalam kelopak salju nan lembut. Yang siap menggulungku dalam pusaran rasa yang paling dahsyat.

Aku tahu kau sudah menggulungku bertahun-tahun silam, bahkan jauh sebelum aku tahu apa itu tenggelam. Jika pada akhirnya kita kuyub, kurasa itu karena hujan yang tak sanggup lagi menahan dirinya. Ia menjelma menjadi apa saja, meski tak pernah menampakkan wujudnya yang asli. Rasa, bukankah hanya untuk dinikmati?

Di pengujung senja aku berangsur-angsur pulih. Tidak, aku sedang tidak terluka. Aku juga tidak sedang sakit. Lantas pulih dari apa? Aku sedang tak ingin berdebat dengan jiwaku sendiri. Aku hanya ingin menikmati semilir yang dikirimkan semesta. Berdesir di dalam kalbu yang melahirkan mimpi-mimpi indah. Aku sedang tak berada di dunia khayal, maka rindu dan rasa ini ibarat sepotong es krim yang siap melumerkan seluruh kerigidan.

Aku hanya ingin takluk pada rasa yang kuinginkan. Tapi juga tidak sedang menghancurkan apa yang telah kokoh selama ini. Jika hidup hanya kepingan puzzle yang perlu kususun, maka biarkan kehadiranmu menjadi pelengkap kepingan yang ke seribu satu. Kita seperti dadu, bertemu karena ada seseorang yang melemparkannya. Aku hanya mencari kebahagiaan. Mungkin dengan jalan yang tak harus sama yang dilalui para musafir lain.

Kau yang diantar waktu dengan apa adanya. Dengan segala tentangmu yang biasa-biasa saja, tapi terselip banyak keistimewaan. Tak perlu menjadi perayu untuk membuat seseorang tersanjung bukan? Tak perlu menjadi pelawak untuk membuat seseorang tersenyum. Tak perlu menjadi petani bunga untuk bisa menanam bunga di hati seseorang.

Aku hanya tak percaya mengapa rindu yang gaduh ini tiba-tiba patuh. Diam tak berani menunjukkan raut wajahnya yang kesal. Bahkan suaranya yang lengking tiba-tiba tersedot ke dalam kerak bumi paling dalam hingga aku tak mampu menjangkaunya. Hanya ritme jantungku yang kurasa kian teratur, berdegup pelan pertanda kehidupan sedang berlangsung. Aku tidak sedang jatuh cinta, tapi sedang terbentur rindu.[]

Rabu, 27 Mei 2015

Sepotong Surat yang Terpenggal

By On Mei 27, 2015



Dear Zorro...

Jantungku masih berdetak dengan ritme yang sama saat aku menuliskan surat ini. Begitu juga dengan irama nafasku. 

Seperti yang kau tahu, hanya kau yang bisa membuat ritmenya menjadi semacam terjangan angin ribut yang membabi buta. Membuat jantung seperti terguling-guling dan napas tersengal bagai kehilangan oksigen.

Kita sangat sering mendefinisikan cinta, rasa dan juga rindu. Masihkah sama definisinya? Atau, masihkah perlu didefinisikan?

Dear Zorro,

Bagiku, kau bukan sekadar definisi, atau sebuah inisial. Tapi adalah rasa dan rindu itu sendiri. Kau seperti bara yang mampu memercikkan bibit-bibit api, menyala dan membuat semuanya menjadi terbakar. Dan kita menggelepar dalam bilangan waktu yang kuharap menjadi stagnan.

Kamu itu seperti kopi, seksi di nama nikmat di rasa. Senyummu menerjemahkan semua hasrat dan gejolak yang terbenam di sisi paling beku. Meski angkuh sering kali campur tangan dan mencuri semua keindahan itu.

Kau tahu, ada waktu di mana kita harus memadamkan api yang besar itu. Memaksa kebekuan menjadi cair dan mencari jalan keluarnya sendiri. Meski untuk itu kita tidak bisa memusnahkan apa yang sudah mendekam di hati. Seperti pintu yang terkunci dan berkarat. 

Minggu, 10 Mei 2015

Happy Birthday, Sayangku

By On Mei 10, 2015

"Happy Birthday Sayangku" smoga smakin dewasa, smakin jaya, smakin pintar, smakin manis dan juga smakin sayang sama aku. 

I Love U

Salam

Z


---

Dan cinta, atau rindu, atau rasa. Masihkah perlu diberi nama?

Yours

Senin, 04 Mei 2015

Sebab Kau Bukan Maryam

By On Mei 04, 2015

Dia yang selama ini kau anggap hujan bukan tak mungkin adalah badai berwajah embun. Yang selalu sejuk menenangkan saat kau masuk ke kornea matanya. Yang selalu mendamaikan mana kala hatimu sedang riuh.

Dia yang kau anggap sebagai dahan kokoh untuk menopangmu, bukan tak mungkin hanya ranting rapuh yang mampu melemparmu ke dasar jurang. Kau menjuntai di lengan kokohnya, tanpa sedikitpun ragu bahwa dia takkan memelukmu saat kau terhuyung.

Kau mungkin lupa, bahwa ucapan-ucapannya telah dilumuri gula sehingga kau tak sadar bahwa dia begitu melenakan.

Kau mungkin lupa, jika dia bukanlah payung yang dengan rela melindungimu dari hujan. Karena itu dia terus mengarang cerita tentang musim semi yang indah, dan musim panas yang hangat. Dan kau terjebak pada warna-warni bunga hasil imajinasinya.

Kau mungkin lupa, dia tak bersayap layaknya merak, tapi memiliki pesona yang lebih dari itu. Ia mengibas-ngibaskan pucuk ekornya, sehingga kau terbujuk dan terpesona.

Cinta mungkin telah mengubah dia di penglihatan mu, tapi dia adalah dia yang tak akan pernah berubah. 

Cinta mungkin telah menyulap kaktus bak melati yang mewangi, tapi duri-duri halusnya tetap akan menusukmu suatu ketika.

Rasa mungkin telah mengabaikan sisi paling sensitif dari dalam dirimu, tapi dia akan mengubahnya menjadi candu paling memabukkan.

Membuatmu nyaris seperti Zulaikha yang terpesona pada Yusuf. Tapi dia bukan Yusuf, dan kau bukan Maryam yang melahirkan Isa dengan segala kesuciannya.



Permata Punie
Senin, 04 mei 2015
01;30 WIB

Rabu, 18 Maret 2015

Senja Jatuh

By On Maret 18, 2015
ilustrasi

Senja baru saja jatuh dan waktu menelannya perlahan. Di muka jendela, aku duduk sambil menatap julurnya yang perlahan menghilang. Lautan di seberang pucuk cemara telah mengulumnya.

Tiba-tiba saja aku terjebak pada perasaan melankolia yang entah. Ingatanku melayang jauh, padamu tentu saja. Kita pernah menghabiskan senja bersama bukan? Walau tanpa diiringi bilur-bilur merah jingga yang membusungkan dada jelang waktu memeluknya.

Sedang apa kau Cinta?

Pasti di sana matahari masih begitu sombongnya memancarkan cahayanya yang tanpa ampun. Atau angin sedang bertiup pecicilan dan menerbangkan debu-debu yang kering. Membentuk badai gurun dan membuat wajahmu memerah atau matamu perih.

Aku masih ingin sendiri. Membiarkan badai di hatiku mereda dengan sendirinya.[] 

Selasa, 17 Maret 2015

Si Ratu Buah

By On Maret 17, 2015

BIBIT-bibit pohon manggis itu disemai di polybag. Jumlahnya ratusan batang dengan rentang usia enam sampai delapan bulan. Tinggi batang pohonnya berkisar antara dua puluh sampai tiga puluh sentimeter. Di tempat usaha pembibitan CV Prima Flora itu bibit pohon manggis siap dijual bersama ratusan jenis bibit tanaman lainnya.
Salah seorang pekerja, Rizki Satria, mengatakan peminat pohon manggis di Aceh mulai tinggi, tetapi pada umumnya ditanam dengan pola tumpang sari bersama tanaman lainnya.

Selain itu kata Rizki, pertumbuhan manggis sangat lamban. Saya memperhatikan ‘bayi’ manggis asuhan Rizki, meski usianya ada yang hampir setahun, ketinggiannya belum mencapai setengah meter. Tiap batang mempunyai daun tidak lebih dari sepuluh helai.

Buah tropik itu katanya memerlukan waktu minimal enam tahun untuk berbuah. Literatur lain menyebutkan sekitar 10-15 tahun. Di tempat itu budidaya manggis dilakukan secara generatif.

“Manggis susah dicangkok karena memiliki getah seperti nangka. Bibit-bibit manggis di sini kami peroleh dari para petani manggis di Aceh. Ada juga yang kami pasok dari Medan,” ujarnya, saat saya datang ke lokasi pembibitan di Gampông Santan, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar pertengahan Januari lalu. Namun bibit yang dipasok dari provinsi tetangga itu umumnya sudah berupa pohon.

Semerbak Seulanga

By On Maret 17, 2015

SORE masih bergayut mendung ketika saya mengunjungi Taman Hutan Kota awal Desember lalu. Hujan baru saja reda. Bercak-bercak air masih tersisa di jembatan kayu yang berfungsi sebagai jalan masuk utama. Kedatangan saya ke taman itu seolah disambut barisan aneka pepohonan dan bunga-bunga yang berwarna-warni.

Lima belas langkah menyusuri jembatan, pandangan saya tertuju pada tanaman perdu yang ditanam di sebelah kiri saya. Tingginya sekitar satu meter dan ditanam di drum minyak bekas. Dari jarak beberapa langkah semerbak aroma menguar dari perdu itu. Saya mendekat, lantas melekatkan hidung pada salah satu tangkai bunganya. Hm… semerbak.

Kenanga. Itulah nama yang disematkan kepada bunga yang mempesona ini. Dalam bahasa Aceh bunga bernama latin Cananga Odorata itu disebut Seulanga. Wanginya tak hanya semerbak, tapi juga eksotis. Barangkali inilah yang menginspirasi perusahaan multinasional asal negeri Napoleon Bonaparte Chanel No. 5 memilih Seulanga sebagai salah satu ingredient-nya.

Ada perbedaan mencolok antara Seulanga muda dan yang tua. Yang muda berwarna hijau, sama dengan warna daunnya, sementara Seulanga yang tua terlihat kekuningan.

Titik Balik Aida MA Jadi Penulis

By On Maret 17, 2015
Aida MA @istimewa

Kata ini memiliki arti yang besar bagi seorang Aida Maslamah, atau yang dikenal dengan nama pena Aida MA. Seperti kata Orhan Pamuk; I Write because I have never managed to be happy. I write to be happy. Aida pun menemukan momentum yang menjadi titik balik yang membuatnya terjun ke dunia menulis.

Sebagai seorang introvert, Aida sulit mengungkapkan banyak hal dengan lisannya. Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan kesedihan. Tak kehabisan akal, ia menuangkan semua yang mengganjal hatinya menjadi tulisan-tulisan yang panjang. Begitulah caranya melepaskan energi negatif dari dalam dirinya.

“Momentum itu justru muncul, saat saya mengalami perubahan hormon yang sangat signifikan. Ketika saya melahirkan anak pertama, saya mengalami kondisi baby blues semacam post partus syndrome, kelelahan demi kelelahan itulah yang saya tuliskan dalam sebuah tulisan. Alhamdulillah dengan menuliskannya saya lebih tenang dan menikmati setiap prosesnya. Sejak itu saya memutuskan menjadi penulis,” ujarnya kepada The Atjeh Post.

Fathun; Aktivis Muda Visioner

By On Maret 17, 2015
Muhammad Fathun @istimewa

DI TENGAH kesibukannya mempersiapkan skripsi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala ini mendapatkan kesempatan yang luar biasa. Pada 28-30 Agustus 2014 mendatang, Fathun akan mewakili Indonesia di Global Forum of the United Nations Alliance of Civilization (UNAOC) di Bali. Ini merupakan kali pertama forum tersebut dibuat di Asia Pasifik, dan Indonesia mendapat kesempatan sebagai tuan rumah.

“Dari dulu sudah punya keinginan untuk mengikuti sebuah konferensi yang dibuat oleh PBB, dan Alhamdulillah ini kesempatan yang luar biasa,” kata Fathun saat berbincang-bincang dengan The Atjeh Times, Sabtu pekan lalu.
Untuk lolos ke forum ini Fathun harus bersaing dengan tiga ribuan aplikasi yang dikirimkan anak muda dari seluruh dunia. Ia mengaku menghabiskan waktu sampai sebulan untuk mempersiapkan aplikasinya sebelum dikirim. Hasilnya tak sia-sia, bersama dua pemuda Aceh lainnya Fathun dinyatakan lolos bersama seratus pemuda di seluruh dunia untuk mengikuti acara itu.

Acara itu sendiri langsung dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, Presiden SBY dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Bukan hanya istimewa, dengan mengikuti pertemuan ini Fathun berharap bisa menyerap banyak informasi yang bisa diterapkan dalam membangun Aceh sesuai dengan kapasitasnya sebagai anak muda.

Cerita Mantan Teller yang Sukses Jadi 'Teler'

By On Maret 17, 2015
Ferhat Muchtar @facebook


Pernah bekerja sebagai teller bank selama tiga tahun, cukup membuat Ferhat Muchtar punya ‘modal’ untuk menghasilkan karya. Dalam kurun waktu tersebut ia berhasil menelurkan 17 cerita berdasarkan pengalamannya bekerja di bank.

Cerita-cerita itu bisa dibaca di buku Teller Sampai Teler (TST) yang diterbitkan Elexmedia belum lama ini. Awalnya catatan-catatan itu ditulis untuk seru-seruan saja di blog pribadinya. Sekaligus untuk rekam jejak sebelum akhirnya memutuskan resign pada 2013 lalu.

Di luar dugaan, sambutan pembaca blognya sangat bagus. Selain banyak yang suka dengan cerita-cerita lucu dan konyolnya, banyak juga yang mengusulkan agar kumpulan tulisan itu diterbitkan saja.

“Jadi semangatlah aku lengkapi semua sampai beberapa cerita, ketika sudah cukup kuberanikan diri untuk kirim ke penerbit,” kata  Ferhat kepada ATJEHPOST.co kemarin, Senin 13 Oktober 2014.

Jalannya untuk menelurkan buku tak mulus seperti yang diharapkannya. Meski seluruh naskah sudah terkumpul, dua penerbit pernah menolak hasil kreatifitasnya. Tak putus asa, ia kembali mengirim ke penerbit ketiga dan akhirnya lolos.
“Aku yakin setiap naskah selalu punya jodoh dengan penerbit. Alhamdulillah keyakinan itu betul-betul terwujud. Allah ganti dengan yang lebih baik, penerbit yang ketiga ini termasuk jaringan penerbit terbesar di Indonesia. Awalnya sama sekali enggak kusangka akan menerima naskahku,” kata alumni Fakultas Ekonomi Unsyiah ini.

Rabu, 11 Maret 2015

Era dan Fathur; Duta Wisata Banda Aceh 2014

By On Maret 11, 2015
Zahratul Fajri dan Fathur Maulana @Heri Juanda

SENYUMNYA mengembang. Dari ja-rak beberapa meter saya melihat sorot matanya yang berbinar. Berbalut longdress ungu motif bunga-bunga, dipadu kerudung polos warna senada, kesan feminim begitu kental dalam dirinya.

Gadis yang ada di depan saya itu adalah Inong Banda Aceh 2014. Namanya Zahratul Fajri, akrab disapa Era. Orangnya supel dan mudah bergaul, itulah kesan yang saya dapatkan setelah dua kali bertatap muka dengannya. Petang Senin, 31 Maret lalu saya dan Era berjanji bertemu di tempat wisata favoritnya, Kapal Apung.

Sesaat kemudian kami segera memasuki pintu gerbang dan menyusuri jembatan tajuk di sisi sebelah kiri, berdekatan dengan lokasi Taman Edukasi. Bagi gadis yang dinobatkan sebagai Inong Banda Aceh (Duta Wisata) pada 22 Maret 2014 lalu ini, objek wisata tsunami Kapal Apung sangatlah istimewa.

“Ini salah satu bukti bahwa bencana tsunami yang pernah melanda Aceh, khususnya Banda Aceh sangat dahsyat,” katanya.

Dawai Biola Menyayat Emperan Dewan

By On Maret 11, 2015
Icha, Jamal dan Donny @dok ATJEHPOST.co


MENENTENG biola, gadis kecil itu melangkah percaya diri menuju fondasi tiang bendera di tengah halaman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Banda Aceh. Dua pria dewasa mengiringi: Jamal Abdullah ayah gadis kecil itu dan Donny Arief musisi Aceh.

Mereka membentuk formasi di atas fondasi. Laksana berada di atas panggung berhias bunga asoka yang memang sudah tumbuh di sana, si kecil Aisyah Suha Nabilah berdiri menyandarkan biola di bahunya. Di kirinya, Jamal duduk berdampingan dengan Donny yang memegang gitar.

Tak lama kemudian, gadis kecil yang biasa disapa Icha itu mulai menggesek dawai biolanya. Perlahan-lahan lengkingannya seakan menyayat hati. Ditingkahi petikan gitar Donny serta suara merdu Jamal yang syahdu menyanyikan lagu “Nazam”, lalu bersambut tepukan tangan penonton.

“Deungon bismillah awai lôn peuphôn, lôn lakèe ampôn seugala desya, lôn lakèe ampôn bak Tuhan sidroe, yang peujeut asoe langèt ngon dônya, neupeujeut uroe lawan ngon malam, neupeujeut Adam ngon Siti Hawa…” Jamal terus berdendang.

Citra Rahman; Backpacker yang Doyan Camping Sendirian

By On Maret 11, 2015
Citra Rahman @ihansunrise.blogspot.com

Memakai sweater lengan panjang dipadu celana jeans biru, pria muda itu duduk di antara pembicara dan peserta Bincang Blogger yang dibuat oleh salah satu komunitas blogger di Aceh beberapa pekan lalu.

Namanya Citra Rahman. Di kalangan teman-teman dekatnya pria berkulit cokelat ini biasa dipanggil Citra. Perawakannya kecil, namun memiliki postur atletis karena ia gemar berolahraga.

Begitu namanya dipanggil, microphone lantas berpindah tangan. Ya, Sabtu, 29 Maret lalu Citra Rahman menjadi salah satu pembicara di acara itu. Ia sengaja diundang untuk menginspirasi sejumlah anak muda mengenai ketertarikannya di dunia traveling dan literasi.

Backpacker Cilet Cilet. Itulah julukan yang ditabalkan untuk dirinya. Nama backpacker merujuk pada hobi jalan-jalannya. Sedangkan cilet-cilet yang berarti ‘asal-asalan’, menurutnya karena ia bukan termasuk seorang backpacker 'sejati'.

Obsesi Gadis Pemetik Biola

By On Maret 11, 2015
Nada Zaiyyana Haula @dok ATJEHPOST/Heri Juanda

“Nada ingin sekali bisa tampil di depan Gubernur Aceh,” kata Nada Zaiyyana Haula, gadis remaja berusia 14 tahun yang pandai memainkan biola itu. Keinginan itu adalah hal yang memungkinkan bagi Nada.

Bukan tak mungkin suatu saat ia bisa memainkan biolanya di depan Gubernur Aceh sebab beberapa waktu lalu gesekan biolanya telah menarik perhatian Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza. Saat itu Nada dan teman-temannya di El Hakim Band sedang tampil. Illiza yang menghadiri kegiatan itu tiba-tiba meminta mikrofon dan langsung naik ke panggung untuk bernyanyi bersama mereka. “Rasanya senang sekali bisa satu panggung dengan Bu Illiza. Kami sangat senang dan bersemangat waktu itu,” kata Nada, kepada The Atjeh Times, Senin pekan lalu.

Gesekan biola Nada ketika mengiringi lagu When I See Your Smile di acara seni lintas kebudayaan Thirsty Mic beberapa waktu lalu, juga mampu menarik perhatian penonton. Tak hanya pandai memainkan senar biolanya, Nada juga mampu menyatu dengan alunan musik yang diciptakannya. Setiap usai tampil, remaja kelahiran Banda Aceh, 29 Maret 1999 ini selalu menemukan semangat baru untuk mempelajari alat musik itu.

Minggu, 01 Maret 2015

Wahai Mendung

By On Maret 01, 2015
Ilustrasi cahaya yang muncul di balik mendung @panoramio

Wahai mendung, 
Tidakkah kau punya keinginan, sekali saja dalam hidupmu untuk menanyaiku; apakah aku berharap hujan turun?
Selama ini aku hanya mengenal embun, yang selalu hadir di ujung malam
Mengapa kau begitu sombong, dan selalu angkuh dengan dada membusung, bahwa di dalamnya kau simpan berjuta-juta benih yang kau sebut bayi hujan
Kau mengenalkan aku pada suara gemuruhmu yang menakutkan, dan perlahan aku belajar mengikuti harmoninya
Kau mengajarkan aku pada badai, yang kau sebut sebagai satu-satunya cara untuk melahirkan hujan
Kau mengenalkan aku pada petir, yang kau sebut sebagai puncak rasa
Lalu di mana hujan yang kau ceritakan itu?
Jika kaupun tak pernah yakin kalau hujan itu ada, mengapa tidak kau kirim terik yang membuatku mati seketika

Minggu dini hari, 1 Maret 2015

Rabu, 21 Januari 2015

Bee Meuhoeng di Kawasan Pendopo

By On Januari 21, 2015
Kuntum bunga pulai @ihansunrise.blogspot.com

Ada yang menarik perhatian saya belakangan ini setiap kali melintasi Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Kawasan ini bagi saya sangat istimewa, karena di lokasi inilah Makam Sultan Iskandar Muda berada. Sultan yang pernah membawa Aceh ke puncak kegemilangan. Membuatnya terus dikenang dan disebut-sebut hingga hari ini. Dibanggakan anak cucunya.

Rumoh Aceh dan Museum Aceh juga berada di kawasan ini. Tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan untuk ‘melihat’ Aceh dari dekat. Di samping itu ada Gedung Juang, gedung yang berfungsi sebagai kantor Shu-chokan (Pemerintahan Militer/Residen Aceh) ketika Jepang masuk ke Aceh tahun 1942. Di halaman kantor itu tempat kedua dikibarkan bendera Merah Putih oleh pejuang Aceh setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI.

Selasa, 20 Januari 2015

Wabah Batu Akik

By On Januari 20, 2015
Batu akik @kompas

BATU akik tampaknya bukan lagi sebagai fenomena, tapi telah menjadi 'wabah'. Karena hampir tak ada orang yang sepertinya tidak membicarakan batu akik. Terlepas apa pun konteks yang mereka bicarakan.

Buat saya, batu akik bukanlah semacam alienasi. Sejak kecil sudah pernah melihat yang namanya batu cincin. Belakangan saja baru tahu kalau batu cincin itu merupakan hasil akhir olahan batu akik atau batu alam.

Perkenalan intens dengan batu akik bermula pada awal 2012 lalu, waktu itu tidak sengaja datang ke pameran batu akik yang dibuat di Taman Sari Banda Aceh. Saya bertemu dengan ketua Ikatan Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh alias GaPBA. Namanya Nasrul Sufi. Dialah yang mengenalkan saya pada banyak jenis batu akik; yakud, kecubung, dan giok. Bentuknya sudah berubah dalam wujud batu cincin, gelang, gasper, dan kalung.

Di pameran itu saya juga melihat langsung proses pengolahan batu-batu alam itu sehingga menjadi batu-batu yang indah, dan tentu saja harganya juga tinggi. Soal harga, dipengaruhi oleh tingkat kesulitan mendapatkan batu itu sendiri.

Jumat, 16 Januari 2015

Sebab Aku Cinta

By On Januari 16, 2015
ilustrasi @google

Sebab aku cinta, maka mendoakanmu menjadi kerelaan
Amarahku seumpama gumpalan es yang mencair dengan sendirinya
Seperti debu yang diterbangkan para angin
Begitulah rasa menghapus semua kealpaanmu

Sebab aku cinta, maka aku ingin melengkapi
Seperti percintaan lebah dan bunga yang menawan
Seperti angin yang mengawini bunga-bunga padi

Sebab aku cinta, maka kau selalu ada


dedicated for Z



Minggu, 11 Januari 2015

Rindu, Api dan Cinta

By On Januari 11, 2015
ilustrasi kembang api


Rindu itu seperti api, menghangatkan saat kecil, membakar ketika besar. Cinta tanpa rindu, seperti ruang tanpa udara, tak berdesir. 

Saat waktu perlahan beranjak dan mengulum cahaya dengan segala kerakusannya, hanya gemuruh rindu di relung batin yang tak sanggup ditenggelamkan. Rindu tetap melekat erat, seperti sel kanker yang merapat lekat, lalu jasad mati karenanya.

Aku rindu pada 'rindu' yang menggelenyar, yang berkecipak-kecipuk, bersorak gaduh. Saat malam benar-benar gelap, hanya rindu yang menjadikan semuanya terlihat begitu indah. Rindu menerbitkan ribuan bintik bintang di mata, membuatku berkedip-kedip karena takjub.

Rindu yang berdenyar-denyar itu, kaulah pemantiknya, Cinta.[]

Cinta Kedua

By On Januari 11, 2015
ilustrasi

Aku sedang terburu-buru saat ponselku berdering malam itu. Telepon dari Emak. Tombol shut down di komputer baru saja kutekan. Aku juga masih harus merapikan meja kerjaku dulu sebelum pulang. Kertas yang berserakan, pulpen, tape recorder, membuat meja kecil ini terlihat semakin sempit. Deringan pertama berlalu begitu saja, aku berniat menelepon Emak setiba di rumah nanti.
Biasanya jam segitu aku masih stand by di kantor. Pekerjaan sebagai jurnalis memang menyita waktuku. Aku terbiasa pulang kerja malam hari, bahkan jika sedang mengejar tenggat tak jarang sampai menjelang larut malam.
Tapi malam itu, walaupun azan Isya belum berkumandang aku memutuskan untuk menyudahi aktivitasku. Sejak petang kurasa tubuhku menghangat. Tenggorokanku juga terasa panas. Namun mendengar deringan telepon dari Emak yang kedua kalinya, terpaksa kuurungkan niat untuk segera pulang. Tak biasanya Emak seperti ini. Mendadak aku jadi was-was.

Jumat, 09 Januari 2015

Belajar Ekologi di Hutan Kota

By On Januari 09, 2015


Hadirnya Taman Hutan Kota memberikan suasana berbeda bagi masyarakat urban yang sehari-hari kerap diserbu polusi

SEKELOMPOK remaja menyusuri lorong jalur pejalan kaki di Taman Hutan Kota BNI. Mereka saling berceloteh dan tertawa riang. Kadang berlari kecil sambil saling berkejar-kejaran. Sesekali, salah satu di antara mereka menunjuk-nunjuk ke sekitarnya. Puluhan jenis tanaman yang mereka lihat di sana rupanya cukup menarik perhatian.

Setelah menyusuri lorong berkelok sejauh beberapa puluh meter, mereka mulai menapaki jembatan tajuk yang menanjak. Usai menuruni jembatan tajuk ada beberapa fasilitas bermain seperti perosotan dan enjot-enjotan. Di sanalah mereka berhenti untuk menikmati fasilitas gratis itu. Layaknya pergi piknik, sekelompok remaja yang mengaku tinggal di Darussalam itu juga membawa makanan kecil untuk disantap bersama.

Jembatan tajuk di Hutan Kota BNI yang berada di Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh telah menjadi ikon tersendiri yang menjadi daya tarik pengunjung. Seluruh lantai jembatan terbuat dari kayu. Begitu juga railing yang berfungsi sebagai tempat untuk berpegangan. Tapi jangan sekali-kali duduk di railing tersebut karena sangat berbahaya. Jembatan ini sangat panjang, membelah hingga ke hutan rawa yang ditanami mangrove jenis Rhizophora sp.

Kamis, 08 Januari 2015

Kota Pusaka di Ujung Barat Indonesia

By On Januari 08, 2015
           
Belum lama ini saya berkesempatan berkeliling Banda Aceh. Ibu Kota Provinsi Aceh ini hanya seluas 61,36 km² yang terbagi menjadi sembilan kecamatan. Tak memerlukan banyak waktu untuk mengunjungi sejumlah tempat menarik di sini.
Banda Aceh baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-809. Mendengar jumlah usia kota ini saja sudah membuat saya terkagum-kagum. Di usianya yang sudah lebih dari delapan abad ini, entah sudah berapa peradaban terbangun di atasnya. Karena itulah Banda Aceh ditabalkan sebagai salah satu Kota Tua dan Kota Pusaka di Indonesia.

Wisata Religi

Islam dan Aceh pasangan yang serasi. Sejak belasan tahun lalu provinsi di ujung barat Indonesia ini resmi memberlakukan perda syariah. Banda Aceh sendiri kian gencar mempromosikan sektor ‘wisata religi’ dengan berbagai destinasi menarik yang dimilikinya.

Para pelancong tak perlu khawatir, karena  perda tersebut hanya berlaku bagi warga lokal. Karenanya jangan lewatkan kesempatan berwisata religi ke beberapa destinasi khusus.  Landmark Aceh Masjid Raya Baiturrahman, yang berdiri megah di jantung kota merupakan tujuan utama pelancong. Inilah masjid kebanggaan orang Aceh, selain megah arsitektur masjid ini unik dengan gaya Mughal yang khas.

Saat pertama kali melihatnya saya langsung teringat pada Tajmahal di India. Masjid ini masuk dalam daftar 100 masjid menakjubkan di dunia versi Huffington Post. Sementara Yahoo pernah menempatkannya dalam 10 masjid terindah di dunia.

Nuansa Eropa muncul dalam corak ukiran dan material masjid yang mewarisi gaya Mooris di Alhambra dan Masjid Cordoba. Inilah masjid bergaya elektik yang mengadopsi arsitektur Mughal dan kolonial yang menjadi andalan wisata syariah Aceh.

[RESENSI]: Jetty Maika; Balet dan Cita-citanya untuk Indonesia

By On Januari 08, 2015

Judul              : Jetty Maika: Bertahan di Ujung Pointe…

Penulis          : Budi Maryono dan Gana Stegmann

Tebal              : 167 halaman

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit  : 2014

 

JETTY Maika adalah seorang balerina ternama di Indonesia. Karirnya sebagai penari balet dimulai ketika usianya 18 tahun pada 1985 silam. Ibu dua anak ini pertama kali ‘terjerumus’ ke dunia balet sejak usia lima tahun. Semuanya gara-gara sang ibu yang dipanggilnya Mami.

Tanpa sepengetahuan Jetty, Mami mendaftarkannya ke sekolah balet. Setiap akan berangkat ke tempat les Jetty selalu menekuk wajahnya. Sinyal kalau ia tidak suka dan merasa terpaksa, tapi sayangnya Mami tak pernah merespon ‘pemberontakannya’.

Padahal, Jetty kecil bercita-cita ingin menjadi pramugari. Cita-cita yang selalu dikaitkan dengan keinginan berkeliling dunia secara gratis. Meski gagal menjadi pramugari balet mewujudkan cita-citanya untuk berkeliling dunia.

Sejak kecil dunia Jetty hanya terbatas pada dua hal saja; sekolah dan balet. Ia tidak punya teman, baik di sekolah maupun di lingkungannya. Teman-teman sekolahnya menganggap Jetty sombong dan judes karena selalu berjalan dengan dagu tegak. Saat SMP ia dujuluki si ‘bola bekel’ sedangkan saat SMA dijuluki si ‘katak’. (Halaman: 25)
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email