Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 21 Januari 2015

Bee Meuhoeng di Kawasan Pendopo

Kuntum bunga pulai @ihansunrise.blogspot.com

Ada yang menarik perhatian saya belakangan ini setiap kali melintasi Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Kawasan ini bagi saya sangat istimewa, karena di lokasi inilah Makam Sultan Iskandar Muda berada. Sultan yang pernah membawa Aceh ke puncak kegemilangan. Membuatnya terus dikenang dan disebut-sebut hingga hari ini. Dibanggakan anak cucunya.

Rumoh Aceh dan Museum Aceh juga berada di kawasan ini. Tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan untuk ‘melihat’ Aceh dari dekat. Di samping itu ada Gedung Juang, gedung yang berfungsi sebagai kantor Shu-chokan (Pemerintahan Militer/Residen Aceh) ketika Jepang masuk ke Aceh tahun 1942. Di halaman kantor itu tempat kedua dikibarkan bendera Merah Putih oleh pejuang Aceh setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI.


Terpaut beberapa belas meter dari situ, berdiri dengan anggun Meuligoe Gubernur Aceh. Tempat tinggal orang nomor satu di Aceh yang terlihat megah meski usianya sudah beratus-ratus tahun.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, melainkan kuntum-kuntum bunga berwarna pucat yang sedang bermekaran di kawasan tersebut. Bunga-bunga itu berasal dari pohon pulai yang ditanam di ruas kiri jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Tak hanya pulai, di sepanjang jalan itu juga ada beberapa pohon lainnya seperti flamboyan, akasia dan angsana atau bak asan.

Bunga ini menarik perhatian, bukan saja karena terlihat dominan di antara hijaunya dedaunan. Tapi juga karena baunya yang sangat menyengat. Masyarakat Aceh menyebutnya meuhoeng! Bagi mereka yang tidak tahan dengan aroma ini bisa menyebabkan terjadinya reuneng-reuneng di kepala alias membuat pusing. Pohon pulai juga terlihat banyak di sepanjang kawasan Lueng Bata dan tersebar di beberapa ruas jalan protokol lainnya di Banda Aceh.

Nama botani pohon ini adalah Alstonia Scholatis yang termasuk jenis tanaman keras. Pohonnya bertajuk banyak sehingga sering dijadikan tanaman peneduh terutama di pinggir-pinggir jalan. Sepintas daun-daunnya mirip daun kemboja, tapi berbentuk jari-jari yang hijau mengkilat. Selain pulai, pohon ini dikenal juga dengan nama pule, kayu gabus, lamo atau jelutung.

Saya membayangkan kuntum-kuntum yang sedang bermekaran itu adalah bungong jeumpa. Aromanya semerbak, tidak meuhoeng! Wangi yang menjadi simbol keperkasaan wanita Aceh yang hidup bukan hanya untuk pelengkap pria. (Baca: Si Ceudah Rupa dari India)
Jeumpa adalah bunga identitas Aceh yang selalu dipuja-puji hingga dalam syair. Seharusnya yang sedang bermekaran di sana memang jeumpa, ada untuk menyempurnakan keistimewaan Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah seperti yang saya sebut di atas.

Saya juga membayangkan seorang turis baru keluar dari Rumoh Aceh dan mencium aroma pulai yang menyengat tiba-tiba bertanya. “Apakah ini bunga khas Aceh?”. Kemudian kita menjawab “Bukan, itu bunga pohon pulai,”. Mereka kembali bertanya “Bunga khas Aceh yang seperti apa?”

Kita pun hanya bisa menjawab tergagap “Seperti… seperti…” sambil mencari-cari adakah bak jeumpa di antara deretan pohon pulai yang gagah perkasa itu?

1 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email