Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Senin, 28 Desember 2015

Dear, Zenja...

By On Desember 28, 2015

Kupanggil kau Zenja...
Yang datang kala malam mulai menjelang
Mengirimkan burung-burung camar yang hendak pulang ke sarang
Mengirimkan angin semilir yang menusuk sanubari paling pribadi
Mengirimkan sengau waktu yang diseret mentari

Oh,
Kau Zenja paling kudamba
Yang meluruhkan seluruh daun-daun
Yang menjinakkan seluruh keliaran
Yang membuat takluk debu-debu beterbangan
Yang membuat hati berdegup riuh

Zenja,
Kau yang hadir saban waktu bergulir
Dan aku yang pulang saban waktu bergilir
Kita berpisah saat ujung bibirku bertemu dengan ujung matamu
Kau datang dengan mata terkatup
Aku pergi dengan bibir menganga

Zenja,
Kau tak pernah melihat apa yang seharusnya kau lihat
Sedang aku tak pernah mengatakan apa yang seharusnya kukatakan
Kita menatap dalam diam
Saling bicara dalam isyarat
Takdir membuat kita patuh pada semuanya

Zenja,
Ya, kau Zenja paling kudamba
Karena setelahmu purnama hadir di penanggalan ke-15 
Purnama yang binarnya terpancar di matamu
Karena setelahmu bintang gemintang tak pernah sepi
Bintang yang percik sinarnya ada di hatimu

Zenja... oh Zenja...


Kamis, 10 Desember 2015

Kau Tahu, Cinta!

By On Desember 10, 2015
Kau tahu, Cinta
Pagi tanpa menyapamu seperti pagi tanpa kicau burung, hening dan sepi. Membuat dunia seolah terasa begitu menjemukan. Kau selalu kurindukan, seperti pucuk-pucuk daun yang berharap embun selalu datang di pangkal pagi. Dan dengannya cinta semakin tumbuh dan hijau. Dengan cinta itu aku mengukur nafasku dan menghitung denyut nadiku. Karena di setiap detakan jantung aku merasakan kehadiranmu.

Dan kau tahu, Sayang
Apa pun denganmu entah itu bercanda, atau kita bertengkar sekalipun, selalu membuatku bahagia. Karena setelah itu selalu ada cinta yang meletup-letup, seperti percik bara api yang menghiasi malam yang pekat. Seperti kunang-kunang yang berkerlipan di ranting pohon di malam hari. Dengannya hatiku menjadi serupa bunga yang mekar. Kau dengan segala kelebihan dan kekuranganmu selalu bisa memekarkan hatiku yang sedang kuncup.

Cinta,

Aku bahagia menjadi bagian hidupmu
Kurasa aku telah kehabisan kalimat untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu

Rabu, 09 Desember 2015

Cinta Tak Pernah Sudah

By On Desember 09, 2015
Cinta tak pernah sudah. Sekalipun kita tidak bisa bernegosiasi dengan waktu. Cinta dalam definisiku bukan berarti pertemuan dua mahluk untuk kemudian menyulam banyak puisi. Bukan pula kontak fisik yang dengannya kita bisa mendendangkan semua harmoni.

Bagiku cinta adalah cinta itu sendiri. Yang tidak perlu kuterjemahkan apalagi mereka reka mengenai maknanya. Cinta adalah angin yang bisa kurasakan hadirnya. Yang ada dan nyata meski wujudnya tak pernah berbentuk.

Buatku cinta tak pernah sudah. Meski kita harus mencari definisi baru untuk mengartikan ketidakbersamaan. Kebersamaan hanya akan melahirkan pengharapan dan pertanyaan. Sedang aku ditakdirkan bukan untuk bertanya apalagi berharap.

Aku takkan pernah bertanya pada merak yang bersayap indah. Meski padanya sering kuceritakan tentang mimpi mimpiku. Padanya sering kukatakan tentang segala hasrat. Aku takkan pernah bertanya apalagi berharap. Sekalipun waktu akan meluruhkan sehelai sayapnya yang selama ini membuatnya enggan berpaling.

Cerita cerita itu hanya dongeng pengantar tidur. Seperti kicau seorang mabuk yang melantur. Cerita cerita itu mengalir bagai air bah, aku tidak tau apakah setetes saja ada hinggap di ingatannya. Aku terlalu banyak bercerita sehingga lupa apa yang kuharapkan darinya. Tapi yang kuingat tak pernah ia bertukar suka duka denganku. Itulah caranya membuatku seperti anai anai.

Cinta tak pernah sudah. Sekalipun aku tau dia hanya akan menjadi dongeng yang menarik diceritakan pada perempuan. Dia tak pernah ada. Puisi puisi ku lah yang membuatnya terus hidup.  Sajak sajakku yang membuatnya terus ada. Rindu dan apa pun yang aku punya yang membuatnya terus hadir.

Aku hampir lupa berdiri di pojok tahun yang ke berapa sekarang. Aku terikat oleh bayang bayang angin yang menggelora. Melenakan. Membuai. Membuat hati menjadi berdenting denting. Nyaring yang berasal dari pecahan hati yang berserakan. Tetapi aku tidak akan memintanya untuk menyatukannya. Sebab cinta tak pernah sudah.[]
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email