Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 01 Juni 2016

Tradisi Meugang yang Dirindukan

ilustrasi kari daging @iffinbiru.blogspot.com


Serupa aroma kuah daging yang mengepul, begitulah aroma Ramadan mulai menggoda, yang selalu dinanti, yang selalu dirindukan, yang selalu didamba, dan sebelum Ramadan hadir izinkan saya menghaturkan maaf atas segala khilaf dan alpa, agar saya bisa menjemput Ramadan dengan lega ~ Ihan Sunrise

+++

Hmm... aroma Ramadan mulai mengusik indera. Baunya, rasa-rasanya seperti uap kuah daging yang dimasak Ibu di hari meugang. Ya, hari meugang yang selalu kutunggu-tunggu. Hari paling istimewa di dalam hidupku. Dan aku yakin istimewa pula bagi masyarakat Aceh pada umumya.

Meugang atau makmeugang adalah istilah khusus yang dipakai masyarakat Aceh untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Makmeugang ini ditandai dengan 'pesta daging' sehari atau dua hari sebelum puasa dimulai. Disebut juga sebagai meugang sa atau meugang dua. Di Aceh tradisi ini sudah terjadi turun menurun sejak zaman Kerajaan Aceh dulu. Tak berlebihan jika kukatakan terasa hambar menyambut puasa tanpa tradisi meugang ini. Tradisi meugang semacam simbol suka cita umat Islam di Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Secara teknis meugang dilakukan tiga kali dalam setahun. Yaitu menjelang Ramadan, menjelang hari raya Idul Fitri dan menjelang hari raya Idul Adha. Inilah momen paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Aceh selain hari besar Islam.

Mudah sekali mengenali sedang berlangsungnya meugang di Aceh. Pasalnya pasar akan tumpah ruah dengan manusia yang turun dari berbagai pelosok. Tujuan utama mereka utamanya adalah pasar daging, pasar ikan dan pasar sayur. Kita akan melihat orang tua muda berdesakan untuk membeli daging. Entah itu daging sapi, daging kerbau atau unggas, juga ikan basah sebagai pelengkap belanjaan. Umumnya memang kaum pria, meski tak sedikit juga kaum perempuan yang turun ke pasar untuk berbelanja daging.

Lorong-lorong pasar yang dilalui seolah menebarkan aroma daging yang segar. Juga aura kegembiraan dari wajah-wajah orang yang lalu-lalang. Alkhususan para pedagang yang kebanjiran pembeli.

Di hari meugang setiap rumah yang kita lewati otomatis akan menebarkan aroma kuah daging yang dimasak dengan berbagai macam rupa. Seperti asam keueng, masak puteh, masak mirah, semur, sop, rendang, atau daging goreng bercampur bawang dan cabai, seperti yang tak pernah absen di meja makan kami. Setiap orang yang berpapasan di jalan pasti akan menyapa dengan kalimat seumpama, "peu ka masak sie?" atau "peu ka lheuh bu meugang?"


+++

Menceritakan meugang seketika membuatku teringat pada almarhum ayah. Dulu ketika ayah masih ada, meugang menjadi hari yang teramat istimewa baginya. Kami selalu bermakmeugang dua hari berturut-turut.

Pagi-pagi sekali ayah sudah ke pasar untuk membeli daging. Bukan cuma ‘dagingnya’ saja, tapi ayah juga membeli paru, hati dan tulang belulang dalam jumlah yang banyak. Ayah tak pernah irit soal ini. Prinsipnya, tradisi setahun sekali untuk apa dihemat-hemat. Daging yang tak habis diolah di hari meugang akan disimpan di kulkas atau direbus untuk diolah selama puasa nanti.

Di rumah Ibu mulai menyiapkan bumbu yang terdiri dari rempah-rempah tradisional khas Aceh seperti kunyit, bawang merah, cabai kering atau capli kleng, bawang putih, kelapa gongseng, ketumbar, pala, merica, kemiri, jintan, biji ketapang, cabai rawit dan aneka rempah lainnya. Tak ketinggalan pula daun-daunan seperti daun kunyit, daun pandan, daun salam koja atau ôn teumurui, daun salam, lengkuas, yang semuanya digunakan untuk membaui olahan daging. Masih belum cukup, telah tersedia juga rempah tambahan seperti bunga cengkeh, kapulaga, kulit kayu manis. Ya, masakan Aceh memang kaya rempah seperti masakan masyarakat di Asia Selatan.

Aku –yang biasanya baru mudik sehari sebelum meugang- tak hanya memangku tangan. Aku mengukur kelapa, memeras santan hingga menyiapkan tungku untuk merebus tulang.  Seisi rumah tak ada yang berdiam diri, setiap anggota keluarga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kalau yang perempuannya lebih banyak berkutat di dapur, yang prianya biasanya mengerjakan tugas-tugas kasar, seperti mengupas kelapa, menyiapkan kayu bakar atau sekadar ngemandor.

Begitu ayah pulang dengan sekarung tulang belulang dan setumpuk daging, ibu sudah siap dengan bumbu yang sudah dihaluskan dengan batu giling. Ayah tidak suka bumbu yang dihaluskan dengan mesin. Bersigap aku dan Ibu membersihkan daging-daging itu. Kami saling membagi tugas. Aku biasanya sering kebagian tugas membuat sop. 

Ibu dengan cekatan memotong-motong daging, mencucinya hingga bersih, menggarami dan memberi perasan jeruk nipis agar amisnya hilang. Setelah itu dibumbui dengan rempah yang sudah dihaluskan tadi. Lalu dijerang di atas api. Olahan pertama yang dibuat ibu adalah asam keueng kesukaan ayah. Racikannya ini tidak menggunakan santan dengan rasa asam dan pedas yang dominan.

Saat daging itu mendidih…hmm…aroma rempahnya telah berbaur dengan aroma daging yang lezat. Sungguh tak kuasa untuk menahannya. Mengecoh perut dan tetiba menjadi seperti orang kelaparan yang sudah seminggu belum melihat makanan. Sementara menunggu daging matang, kita menelan air liur saja dulu.

Begitu daging asam keueng matang, ayah langsung mengambil piring, menyendok nasi dan melahapnya dengan nikmat. Kami sekeluarga biasanya makan rounde pertama, alias makan sebelum waktu makan siang tiba.

Di hari meugang ini pula ayah memanggil semua rekan dagangnya. Mereka umumnya anak-anak muda yang masih bebas kelayapan di hari meugang. Beberapa di antaranya memang sudah berkeluarga dan datang karena urusan dagang. Maka, ramailah rumah kami dengan orang-orang yang melahap kenduri meugang dengan penuh suka cita. Rumah kami dipenui wajah-wajah dengan luapan kegembiraan, mereka bercengkerama dengan piring di tangan tanpa perlu merasa sungkan. Itulah potret rumah kami yang selalu ramai. 

Bertahun-tahun setelah ayah tiada, tradisi itu tetap kami teruskan. Meskipun orang-orang yang makan khanduri meugang tiap tahunnya terus berbeda. Ya, karena orang-orang yang bekerja dengan keluarga kami terus berganti wajah. Di hari itu aku dan ibu –sambil memasak- juga turut bernostalgia. Mengenang meugang-meugang yang telah lalu ketika ayah masih ada. Kami mengumpulkan semua kenangan masa lalu. Terkadang dengan mata yang berkaca-kaca dan menyembunyikan kesedihan.

Setiap hari meugang tiba, rasa-rasanya aku masih melihat ayah berdiri di pintu tengah sambil menyilangkan tangan atau kaki. Lalu ayah bertanya “peu ka masak?” atau “peu kajeut ta pajoh?”. Ah ayah…

Dan sejak sewindu lalu kami terpaksa ‘biasa’ merayakan meugang tanpa ayah. Ada yang berubah memang. Ada yang kurang memang. Ada yang tak lengkap memang. Tapi kami tetap bisa menikmati lezatnya daging meugang. Tapi entah bagaimana dengan meugang lusa nanti, karena untuk pertama kalinya setelah ayah tiada kami terpaksa tidak bermakmeugang di rumah. Dengan kondisi tidak semua anggota keluargaku bisa berkumpul karena kondisi yang tak sanggup kuceritakan. Lusa, entah airmata siapa yang akan tumpah.[]


2 komentar:

  1. Di rumah lia, Ayah juga yang jadi raja kalau meugang. Walaupun kita gak terlalu gemar makan daging apalagi yang di sudah dipanaskan berkali-kali, tapi Ayah selalu beli daging dalam jumlah besar dan dimasak dengan berbagai resep. Lia yang liatnya udah keliyengan sendiri. Tapi karena ini tradisi, rasanya kok jahat juga kalau dihapus dari keluarga. Ntar kita semua malah merasa kehilangan. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. suka cita menyambut tradisi meugang sebenarnya bukan karena dagingnya, karena bagi masyarakat Aceh makan daging itu hal yang biasa, tapi kebersamaan yang tercipta, anak-anak yang sudah menikah biasanya akan pulang mengunjungi orang tuanya dan makan bersama (yang jaraknya terjangkau), saling mengunjungi dan mencicipi hasil olahan di hari meugang, terasa hangat.... keluarga kami juga bukan pencinta daging berat, dan daging itu enaknya memang disantap sekali setelah masak, kalau udah dipanasin bener kayak kak Lia bilang, udah nggk asyik untuk disantap karena kolesterol tinggi hehehe

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email