Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 19 Juli 2016

Dialog Ihan dan John; Di Secangkir Kopi Beku Itu Akan Melumer

By On Juli 19, 2016
ilustrasi

"Aku tidak pernah membenci angin, hanya karena dia bisa 
menerbangkan daun-daun "
~Ihan Sunrise ~




Ihan Sunrisebang John Kapoor Irani apa kabarmu?

John Kapoor Irani: Kabarku baik, namun angin selalu menghapus kabarmu

Ihan Sunrise: angin menghempas kita ke arah yang berlawanan, ada saat di mana kita tak kuasa menepis pusarannya

John Kapoor Irani: Hmmm...sebenarnya aku meragukan angin, krn pusaran itu kita sendiri yg menciptakannya ? Ceritamu bulan ceritaku bintang, padahal kita mendiami malam yg sama.Ceritamu bulan ceritaku bintang, padahal kita mendiami malam yg sama.Tak tau malunya kita Ihan Sunrise

Ihan Sunrise: John Kapoor Irani hmmm harus kujawab apa? bahkan saat kita bernaung pada langit yang sama kita harus rela untuk selalu berjeda, sebab kau malam dan aku siang. Hey...aku tak rela ada jeda,Hey...aku tak rela ada jeda,

 John Kapoor Irani Nah itu, seperti isyaratmu..aku tak tau malu seperti bulan, yang memainkan malam tanpa alasan. haruskah seperti kokok pagi? Layaknya mentari yang jadi penerang...

Ihan Sunrise: John Kapoor Irani aku ingin mendobrak pagar yang selama ini membekap kita, sungguh, aku rindu pada nyanyian murai di pagi hari yang lahir dari rahim pita suaramu, mungkin, di secangkir kopi pagi beku itu akan melumer dalam sebuah perjamuan

John Kapoor Irani Setuju..bukankah kopi tanpa cinta terasa hambar dan tak berwarna, seperti itu juga hari hari tanpa kata akan mengisyaratkan dusta.. Baiklah, tunggu suaraku sebelum jamuan berlalu..kukabari esok dimana kita bisa bertemu 

Ihan Sunrise John Kapoor Irani baiklah, aku akan menunggu dan selalu akan, seperti malam yang resah menunggu pagi datang, tetapi tetap menunggu di pagi berikutnya



Senin, 18 Juli 2016

11 Kutipan Tentang Cinta & Rasa

By On Juli 18, 2016

red rose @pixabay

Jangan pernah merasa terpuruk, meski di saat kau merindukan butir-butir embun di pagi hari, yang kau dapatkan justru uap dari air mendidih
~Juni 2016_15:52 PM~

Jangan pernah bertanya tentang siapa di antara kita yang pertama kali jatuh cinta 
~11 Juni 2016~

Jika akhirnya kita bertemu itu bukanlah kebetulan, tetapi karena Tuhan memang menginginkan kita bertemu 
~12 Juni 2016~

Semua tentangmu telah kularung dalam air yang deras, kecuali sepotong syair yang terus terngiang di telingaku 
~13 Juni 2016 _ 11:31 PM~ 

Pagi mungkin saja mengingatkanku padamu, tetapi pada mentari kupercayakan untuk menghapus segala teriakan bisu 
~14 Juni 2016_09:01 AM~

Rinai hujan ini mengingatkanku pada pertemuan rahasia kita yang melewati lorong-lorong sembunyi, suatu kali, kita pernah sama-sama memunguti perasaan yang berlompatan di banyak situasi 
~14 Juni 2016_18:00 PM~ 

Kau hanyalah angin, terkadang datang untuk memberi lena, tapi lebih sering datang sebagai puting beliung, menghancurkan seluruh perasaan dan emosi 
~15 Juni 2016_14:36 PM~ 


Pada akhirnya kita tetap harus memutuskan, kembali atau tidak sama sekali 

~16 Juni_12:10 PM~ 

Berhentilah menggenggam jika pada akhirnya hanya untuk melepaskan 
~16 Juni_ 18:00 PM~

Hanya hujan yang bercampur kenangan yang membuat kita kadang kala harus mengingat masa lalu 
~17 Juni _11:00 AM~

Ketika airmatamu jatuh bersamaan dengan jatuhnya rintik hujan di langit, itu artinya kau hanya perlu bercerita pada semesta dan pemiliknya. Bukan pada siapa yang ada di dekatmu, yang bahkan hingga kau pergi dia tak tahu karena apa airmatamu luruh. 
 ~15 Juli _11:59 PM~ 

Pagi yang membingungkan, sebab aku terbangun dengan memikirkanmu, dan aku resah setelahnya, haruskah kau kupikirkan? 
~16 Juli_09:41 AM~

Sabtu, 16 Juli 2016

Ujung Pertemuan

By On Juli 16, 2016
ilustrasi

"Ketika air matamu jatuh bersamaan dengan jatuhnya rintik hujan di langit, itu artinya kau hanya perlu bercerita pada semesta dan pemiliknya, bukan pada siapa yang ada di dekatmu, yang bahkan hingga kau pergi dia tak tahu karena apa air matamu luruh"

Ada yang tak pernah menipu, yaitu malam dengan gelapnya. Dan siang dengan terangnya.

Aku hanya ingin mengatakan tentang ujung dari sebuah pertemuan. Entah itu pertemuan semalam atau pertemuan bertahun-tahun silam. Sebuah pertemuan bukankah selalu berujung pada perpisahan? Dan perpisahan, bukankan itu awal untuk sebuah pertemuan yang baru?

Ya, sebuah pertemuan baru yang selalu dipersiapkan untuk kisah yang baru pula.

Aku selalu ingat, bahwa ujung dari sebuah pertemuan adalah jeda. Memberi kesempatan bagi jiwa untuk bergemuruh sekeras-kerasnya. Ujung pertemuan selalu menyisakan sesuatu yang tak tuntas. Dan aku tak pernah lupa, pada apa yang bergerak perlahan hingga akhirnya melesat mengikuti angin, ada kisah yang tercabik di sepanjang jalur yang ditinggalkan.[]




Kamis, 14 Juli 2016

Arloji Takdir

By On Juli 14, 2016
ilustrasi @pixabay

"Kapan kau datang ke kotaku, aku ingin bicara denganmu," tanyaku di suatu sore, melalui email.

"Akhir Ramadan atau lebaran," jawabmu singkat.

"Baiklah, aku menunggumu," balasku kemudian.

***

Petang ini, ketika aku sedang berada di salah satu ruangan di rumah sakit terbesar di kota ini, aku kembali teringat padamu. Tepatnya pada percakapan singkat kita dua bulan lalu. Aku teringat karena Ramadan telah berakhir, pun Idul Fitri. Tetapi pertemuan yang kita bicarakan itu tak pernah terjadi.

Aku teringat, karena di rumah sakit inilah kita terakhir kali bertemu. Setahun yang lalu. Tepat di hari ulang tahunmu setelah hari raya qurban. Aku belum lupa saat melihatmu muncul di koridor rumah sakit, juga senyum yang kau lemparkan saat mata kita saling bersitatap untuk yang pertama kalinya. Mata yang memancarkan kerinduan. Aku juga masih ingat lirih suaramu ketika berbicara padaku.

Rasanya aku tidak percaya, pertemuan terakhir kita berlangsung setelah hari ulang tahunmu. Setelah aku mengirimkanmu sepotong kalimat penuh doa. Kemudian takdir kita berhenti setelah hari ulang tahunku. Setelah kau mengirimkanku sepotong ucapan yang sangat manis.

Rabu, 06 Juli 2016

Merindukan Maaf di Hari Nan Fitri

By On Juli 06, 2016
Adalah hari ketika daun-daun merindukan hujan untuk membersihkan diri dari debu yang menggumpal.

Hari di mana benih-benih bersiap menjadi kecambah untuk tumbuh menjadi pohon yang baru.

Hari di mana ranting-ranting bersuka cita menyambut tunas-tunas yang baru.

Pun aku, 

Merindukan maaf untuk menghapus dosa-dosa yang berjelaga.

Merindukan maaf untuk khilaf-khilaf tak terduga

Merindukan maaf untuk prasangka-prasangka tak terkira

Akulah daun, benih, dan ranting itu....

Dan dimaafkan adalah hujan yang dirindukan, paling dinanti

Mohon maaf lahir dan batin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H


with love
Ihan



Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email