Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Kamis, 20 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Kebahagiaan Itu Harus Diciptakan, Dia Tidak Datang Sendiri


"Hai, kau sudah pulang?" seekor kunang kunang mencegatku dari balik pintu kamar. "Kami sudah menunggumu sejak tadi," sambungnya.


Sedetik kemudian seekor kunang kunang yang lain muncul, diikuti sekor yang lainnya. Ada tiga kunang kunang yang sekarang berputar-putar di depanku. Salah satunya adalah Ratu kunang kunang. 

Mereka memamerkan kepakan-kepakan sayap yang indah dan perut mereka yang berkilauan hijau kekuningan. Mereka adalah kunang kunang yang pada malam malam sebelumnya datang bergantian.

"Maaf telah membuat kalian harus menunggu lama. Tadi aku ada urusan di luar. Sebenarnya tadi aku berharap kalian datang lebih awal, ada yang ingin kuceritakan. Tapi, karena kalian tak muncul-muncul juga aku memutuskan pergi sebentar, mencari angin segar," kataku panjang lebar sambil merebahkan badan di kasur. Lelah dan kantuk menggayutiku. Aku melirik jam dinding, hampir setengah dua belas.

"Kami tahu dengan siapa kau berurusan tadi." Salah satu dari mereka membuka suara. Sambil mengulum senyum. Seperti mengetahui sesuatu. Aku melotot.

Kemudian salah satu dari mereka berbisik-bisik kepada yang lainnya. Aku berusaha menguping, tapi tetap tak tahu apa yang mereka bicarakan. Hingga salah satu dari mereka seperti memberi kode.


Lalu sekawanan kunang kunang lain bermunculan di kamarku. Jumlah mereka tak terhitung. Mereka membentuk berbagai formasi indah dan kelihatannya seperti sedang berpesta merayakan sesuatu.

Rasa kantuk yang menghinggapiku menyusut. Mataku berbinar-binar menyaksikan atraksi ini. Kesenangan merayapi urat syarafku. Senyumku mengembang. Aku mengerjap-ngerjap bersuka cita.

"Ini hadiah untukmu. Hiburan atas kerisauan yang sempat kau rasakan tadi," seekor kunang kunang berusaha menjelaskan situasi ini. "Semoga kami selalu bisa memberikan kebahagiaan dan senyuman untukmu wahap penikmat rasa."

"Tidak, tidak, sekarang aku tidak cemas lagi. Aku sedang berbahagia sekarang," jawabku malu-malu.

"Kami tahu, hiburan ini untuk melengkapi kebahagiaanmu malam ini. Hmmm...ngomong-ngomong tadi diam-diam kami mengekori kalian."

"Hah?! Kalian mengikutiku? Untuk apa? Untuk memata-matai aku?"
"No no no...bukan, tentu saja bukan untuk itu. Kami hanya ingin memastikan dengan siapa kau membersamai waktu."

"Lalu?"

"Kami merasa kau tidak biasa melakukan ini. Tak pernah kulihat kau keluar rumah sekadar hanya untuk mencari angin segar selarut itu."

"Hm.... Kalian pandai sekali mengorek-ngorek.... Eh, tunggu dulu, kalian bilang 'tak pernah kulihat...' bukankah kalian baru beberapa malam saja datang menemuiku? Bagaimana kalian tahu malam-malam sebelumnya yang aku lalui?"

"Belum saatnya kau mengetahui itu. Jika waktunya tiba akan kami ceritakan semuanya."

"Baiklah. Lalu apa yang kalian lakukan setelah mengetahui dengan siapa aku mencari angin segar?"

"Setelah mengetahui dengan siapa kau menghabiskan waktu lalu kami pulang dan merencanakan semua ini."

"Terimakasih atas kejutannya, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarga kunang kunang."

"Kami sengaja datang untuk menjadi temanmu, agar kau bisa berbagai dengan kami. Karena..."

"Karena apa?"

"Kehadirannya lagi-lagi bukan untuk diceritakan. Benar, bukan?"

"Tapi untuk dinikmati..." aku menjawab lugas.

Lalu kami tertawa bersama. Ya, kunang kunang itu benar. Banyak hal yang tak bisa diceritakan, bahkan kepada diri kita sendiri. Terlalu banyak rahasia.

Tapi entah mengapa tiba-tiba kesenduan kembali menghinggapiku. Sebulir bening mengapung di pelupuk mataku. 

"Kebahagiaan itu harus diciptakan, dia tidak datang sendiri. Untuk saat ini, nikmati kebahagiaan ini, meski hadirnya hanya sebentar... Kau telah menciptakan kebahagiaanmu sendiri." Ratu kunang kunang yang sebelumnya hanya diam mengampiriku. Ia berusaha menyeka air mataku dengan tangan mungilnya. 

Aku membentangkan tangan. Hanya sekali lompatan Ratu kunang kunang sudah ada di telapak tanganku. Aku memandanginya dengan takjub. "Tidak, bukan aku, tapi kalian yang sudah menciptakan kebahagiaan ini. Melalui dia bukan?"

Ratu kunang kunang tersenyum. Menyejukkan. "Sekarang tidurlah.... Semua yang kalian bicarakan tadi akan menjadi dongeng pengantar tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak. Lupakan semua takdir belasan tahun. Kita akan menciptakan takdir berbeda untuk hari-hari selanjutnya."

"Terimakasih."

Dan aku tidur dengan cerita-cerita yang kuciptakan sendiri, sebagai dongeng pengantar tidur.[]

1 komentar:

  1. Met bobok kakak, semoga ditemani kunang-kunang dalam mimpinya. :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email