Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 16 Mei 2017

Secangkir Kopi Hitam dan Kolase Rindu di Bawah Rumoh Aceh Ar-Raniry

Ilustrasi @mrwallpaper.com


"Kupi saboh, Bang," kataku.

"Kupi?"

"Yap! Kupi!"

Jawabku mantap sambil mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong. "Bak meja nyan beh," kataku lagi sambil menunjuk sebuah meja di dekat kasir.

"Jeut!" Jawab si peracik kopi dengan ramah.

Setelah sepekan absen menyesap kopi, pagi tadi akhirnya aku kembali menyeruput minuman hitam dengan aroma yang khas itu. Kali ini aku memilih Solong Corner yang lapaknya ada di bawah Rumoh Aceh di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Seorang diri, tanpa gawai, aku menikmati pagi yang dibaluri mendung dengan menyesap kopi yang hangat. Sembari membaca tulisan-tulisan lama di majalah tempatku bekerja dulu. Ah, bukankah kopi adalah teman paling syahdu untuk menikmati kesendirian?

***
Rumoh Aceh di UIN Ar-Raniry sebelum ada Solong Corner @Arkin Kisaran/ist


Sebenarnya ini agenda minum kopi tanpa rencana. Ceritanya, pagi tadi aku mengantar adik yang hari ini mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry.


Saat di area parkir, seorang petugas keamanan menyapa kami dengan hangat. Lalu terjadilah dialog singkat yang mengujung pada keberadaan Rumoh Aceh di kompleks kampus ini.

"Bang, di mana Rumoh Aceh yang diresmikan Menteri Agama saat Pionir lalu?" tanyaku.

"Kok tahu ada Rumoh Aceh di sini?" tanyanya penasaran.

"Saya baca di berita," jawabku sekenanya.

"Di sana," matanya memberi isyarat ke arah utara. "Di depan bank. Ada jual kopi juga di bawahnya," katanya berpromosi.

"Serius?" tanyaku berbinar. Hidangan kopi hitam mengepul nikmat langsung terbayang.

"Serius! Enak lho kopinya, kalau mau ngopi bisa langsung ke sana saja," ia menjelaskan dengan ramah. Senyumnya menambah hangat obrolan singkat kami.

"Baiklah, terimakasih ya."

Aku berpamitan. Usai mengantar adik di ruang 11 di lantai 2, aku segera tancap gas menuju kedai kopi yang dimaksud.

Tak susah mencari kedai kopi Rumoh Aceh ala UIN Ar-Raniry ini. Jika kita masuk dari pintu gerbang UIN, letaknya ada di sebelah kanan sebelum Bundaran Rektorat. Pas di depan kantor beberapa bank yang membuka cabang pembantu di Ar-Raniry.

Rumoh Aceh ini adalah hibah dari mantan Rektor UIN Ar-Raniry. Diresmikan oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan gelaran Pionir beberapa pekan lalu, dengan tujuan menjadi pusat pelestarian kebudayaan Aceh di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh. (Sumber: portalsatu)

***

Belum pukul delapan saat aku mampir ke kedai kopi ini pagi tadi. Pemandangan yang terlihat tak ubah seperti di kedai kopi pada umumnya. Hanya saja bisa ditebak, mayoritas pengunjung adalah kalangan mahasiswa dan sivitas kampus seperti dosen dan pegawai lainnya. Atau, satu-satu orang luar yang 'tersesat' seperti aku.

Mereka menikmati hangatnya kopi pagi dengan santapan kue-kue atau nasi gurih. Sambil bercengkerama dengan sejawat. Bahkan beberapa orang tua terlihat membawa anak-anak mereka. Derai-derai tawa menjadi pelengkap harmoni ala warung kopi.

Ada 12 meja berukuran sedang yang disusun di bawah Rumoh Aceh yang disangga 28 tiang itu. Warnanya yang cokelat senada dengan tiang-tiang dan warna Rumoh Aceh yang natural. Setiap meja dikelilingi empat kursi plastik berwarna biru toska.

Dari belasan meja itu, hanya ada beberapa meja saja yang kosong. Aku memilih salah satunya yang berada di dekat meja kasir. Untuk teman minum kopi pagi ini, aku memilih sebungkus nasi gurih dengan lauk ikan tongkol balado. Dan sebotol air mineral.

Tak lama kemudian secangkir kopi hitam terhidang di meja. Aku menghirup aromanya yang menggoda, ini kebiasaanku jika minum kopi. Ada kenikmatan tersendiri ketika aromanya yang pekat menembusi lorong-lorong gelap indera penciumanku. Sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan oleh para penikmat kopi.

Di ketinggian sana tampak langit mulai gelap. Kepulan aroma kopi yang kupesan menyatu dengan semilir angin yang berlalu lalang dengan girang.

Sementara aku menikmati bahagia dengan caraku sendiri; yang dikirim Tuhan lewat secangkir kopi, hujan turun membasahi bumi. Memenuhi rintih dedaunan dan doa-doa para pecinta hujan.

Oh, adakah yang lebih romantis dari ini; secangkir kopi, setumpuk rinai hujan, sejumput semilir angin, yang berkolase dengan burai-burai rindu untuk seseorang.[]


Note: karena tanpa gawai aku tidak bisa memotret aktivitas di sini.

3 komentar:

  1. Emang deh kak ihan, jago banget membuat sesuatu hal yg biasa, enak untuk dibaca. I like it, :) Yel belum pernah kemari kak, pengen kesini juga lah, kayaknya seru!

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh thanks Yell, ntar abis lebaran bisa kita ke sana. Tempatnya asyik lhooo

      Hapus
  2. hmm... terasa suasananya, Han. Barangkali sesekali perlu ke sana untuk benar-benar merasakan kopinya.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email