Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Rabu, 17 Mei 2017

Semangat Berlari dan Nostalgia Masa Kecil yang Penuh Petualangan

Jalan tembus Ulee Tuy - Japakeh yang memesona @Ihan Sunrise

Akhir-akhir ini lagi doyan banget buat lari. Tapi karena akunya tergolong manusia berkasta 'melankoli', jadinya nggak suka lari di tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian, semisal di Lapangan Blang Padang. Sukanya di tempat-tempat yang lengang-lengang aja seperti gambar di atas. Biar bisa menikmati suasana. Itu kan 'tipikal' kasta ini banget, suka alone tapi bukan berarti lonely lho ya hehehe.

Ada tiga jalur yang menjadi rute favoritku buat lari. Pertama, jalur potong yang menghubungkan GampĂ´ng Ulee Tuy dengan Kompleks TNI di Japakeh. Kedua, rute hutan trambesi yang ada di Kompleks Rindam Mata Ie. Ketiga, rute Kuburan Cina dari Gue Gajah tembus ke Mata Ie.

Di tulisan ini aku mau cerita yang rute pertama aja dulu. Soalnya dari tiga rute tadi, yang ini paling favorit dan berkesan. Menemukan rute ini adalah kejutan tersendiri buatku. Pasalnya bertahun-tahun tinggal di Permata Punie, baru sebulan terakhir aku tahu ada jalan di dekat kawasan yang pemandangannya bikin terus bertasbih.

Ceritanya, suatu sore aku dan Coach (sebut saja begitu) janjian buat lari bareng. Dia lari pakai kaki, aku lari pakai roda (baca: sepeda). Ini idenya dia, soalnya kalau sama-sama lari aku bakal tertinggal jauh dengannya, atau dia yang harus melambatkan 'intonasi' larinya.

"Yuk kita lewat sana, lihat kabut kita," katanya memberi aba-aba setelah melakukan pemanasan.

Ini gaya Coach sedang pemanasan sambil menatap ikan-ikan kepala timah di irigasi @Ihan Sunrise

Aku yang sudah bersiaga menurut saja mengikuti arahannya. Setelah menempuh jarak yang tidak begitu jauh sampailah kami di jalan beraspal yang mulus dan licin. Warna aspalnya masih pekat, pertanda jalannya belum terlalu lama selesai dibuat. 

Di kiri dan kanan jalan membentang areal persawahan yang baru saja selesai musim panen. Sisa-sisa batang padi terlihat kecokelatan, kontras dengan warna awan yang sore itu tampak biru dan bersih. Khas awan setelah diguyur hujan lebat.

Di kejauhan sana, di Bukit Barisan gumpalan-gumpalan kabut tampak seperti kapas yang mengapung di udara. Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku berdecak kagum. Masya Allah indahnya. Sekarang tahulah aku kenapa diajak lewat rute ini.

"Hahahah.... rugi dia tinggal di sini udah lama," celetuk Coach yang bikin hati terasa nyeri. Iya dong, malu dong ngaku anak Permata Punie, tapi nggak tahu ada jalan tembus segini cakepnya. Duh Ihan.... ke mana aja ente?

Selain pemandangan indah sehabis hujan seperti sore itu, pagi adalah pilihan tepat untuk melewati rute ini. Bayangkan, berlari sambil menghirup udara perkampungan yang bersih dan segar, dengan siraman matahari pagi yang hangat dan kaya vitamin D. 

Sembari itu, kita bisa memanjakan mata dengan menyaksikan sembulan pucuk Gunung Seulawah di kejauhan. Yang bentuknya bagaikan pucuk duri yang menancap di pohon kapuk. Sementara di sisi selatan indera kita dimanjakan dengan pemandangan berupa gugusan Bukit Barisan. 

Jika beruntung kita bisa menyaksikan kawanan burung enggang yang melintasi areal persawahan. Ohh... indah dan nikmat nian bukan? Sejak sore itu, meski seorang diri setiap kali berlari aku pasti melewati rute ini.

Adakalanya di perjalanan aku bertemu dengan orang-orang yang juga melakukan aktivitas sama. Ada yang sepasang perempuan paruh baya, ada ibu-ibu hamil yang berjalan dengan putri kecilnya, dan juga sejoli yang bersepeda bersama, lalu berhenti di salah satu titik untuk selfie berdua. 

Sepeda ini setinggi pemiliknya. Lumayan bikin biru-biru di area tertentu waktu pertama mengayuhnya @Coach

Bila akhir pekan, setelah puas berlari biasanya langsung ke kolam di kaki bukit untuk berenang. Datang pagi-pagi sekali sebelum pukul delapan, kolam serasa milik sendiri. Masuknya pun tak perlu bayar karena penjaga di pintu gerbang sudah tanda muka kami. Tapi sebagai 'barterannya', harus merasakan dinginnya air yang menusuk-nusuk hingga ke tulang. Nah ini perjuangan besar buat orang yang alergi dingin seperti aku. Tapi, 'anak kecebong' ini 'kan ingin jadi katak yang pandai berenang.

Mari menyebur dan nikmati gigil yang membekukan tulang belulang @Ihan Sunrise

Sebenarnya aktivitas lari dan renang yang aku giatkan akhir-akhir ini ada maksud terselubungnya. Selain karena memang ingin sehat dan untuk membakar kalori berlebih, juga sebagai latihan dasar sebelum memulai aktivitas baru berikutnya. Jadi ceritanya abis lebaran nanti mau serius main sepedaan, jadi mulai sekarang badannya harus dilatih dulu. 

Dengan lari misalnya, aku ingin melatih otot-otot kaki dan betis agar lebih kuat dan cekatan. Sementara dengan berenang, untuk melatih pernapasan dan bahu agar lebih kuat. Dengan sepeda, apa yang ingin aku dapat? Nah kalau ini, karena aku ingin sekali pergi ke air terjun yang sampai sekarang masih dirahasiakan keberadaannya oleh Coach. 

"Harus dengan sepeda baru bisa ke sana," kata Coach berkali-kali, bikin hati berapi-api karena panas.

Apapun itu, thanks to Coach karena udah nularin semangat berolahraga padaku. Aku jadi merasa kembali ke masa kanak-kanak yang penuh petualangan dan kebahagian. Kapan-kapan nanti aku cerita tentang masa kecilku. 

See, Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan hamba-Nya bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email