Langsung ke konten utama

Belajar dari Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro

Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro saat berbicara di general session Sabtu, 29 Juli 2017 @Ihan Sunrise

Nama Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro ini sudah saya dengar sejak Maret 2009 silam. Saat itu saya mengikuti Success Seminar (yang menjadi cikal bakal BBS di Banda Aceh) yang pembicaranya adalah Bu Putu Srirahmaningsih, ibunya Bu Rahmasari.

Yang tertangkap dalam ingatan saya adalah, Bu Putu ini sangat bangga pada Bu Rahmasari. Dari Bu Rahmasari pula Bu Putu mengenal usaha yang dengan izin Allah SWT membuat mereka punya kehidupan yang lebih baik hingga saat ini. Lain kali saya akan ceritakan siapa sih Bu Putu ini. Sedikit spoiler, beliau ini adalah mantan penjahit yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Pernah divonis hidup enam bulan lagi karena menderita kanker rahim, tapi ia masih hidup sampai sekarang.

Nah, belakangan nama Bu Rahmasari ini makin sering saya dengar karena sering dipromosikan. Khususnya selama empat bulan terakhir. Beliau akan hadir ke Medan sebagai guest speaker di Leadership Seminar yang dibuat N21 Indonesia di Grand Antares Hotel, 29-30 Juli 2017. Dan saya, demi melakukan yang namanya 'cover both side' dari cerita Bu Putu bertahun-tahun silam, sudah mengantongi tiket LS ini sejak awal dipromosikan.

Dan saat pertama kali melihat langsung pasangan ini di panggung khusus pada Jumat malam, saya benar-benar takjub pada mereka. Ada beberapa hal yang membuat saya terkesan. Pertama, aura positif yang terpancar dari wajah mereka itu rasanya menyebar ke seluruh ruangan dan kecipratan ke saya. Wajah-wajah tanpa beban dan tulus. Senyumnya semringah. Bikin kita yang melihat ikut bahagia dan berseri-seri.


Berbeda sekali dengan wajah beberapa pejabat yang pernah saya temui. Nampak stress, kusut masai, dan senyumnya meski dibuat semanis mungkin terasa sekali dipaksanakan. Dan soal ini hati kita pasti bisa menangkapnya dengan jelas. Bikin kita ingin buru-buru beranjak dari hadapan mereka.

Yang kedua tentu saja karena latar belakang Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro yang menurut saya cukup unik. Mereka punya karakter yang berbeda pula tapi bisa sama-sama saling menyesuaikan. Pak Bimantoro yang sanguin-melankoli misalnya, terpaksa 'menaikkan' grade-nya. Sedangkan Bu Rahmasari yang koleris-melankolis dengan sadar terpaksa menurunkan grade-nya.

Buat saya, inilah wujud cinta yang sebenarnya pada pasangan. Ketika kita mau mengalah demi seseorang, padahal sebenarnya kita ingin sekali menang demi 'memenangkan' ego kita.

Bu Rahmasari dan Pak Bimo saat berbicara di Leaders Meeting pada Jumat malam, 28 Juli 2017 @Ihan Sunrise

Soal latar belakang, mereka lebih banyak cerita saat berbicara di general session. Bu Rahmasari adalah sulung dari empat bersaudara dan berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Beliau mengenal usaha yang di-support oleh N21 saat masih mahasiswa di usia 22 tahun. Di tengah kondisi keluarganya yang sedang 'jatuh-jatuhnya'. Mentornya saya kenal dan punya cerita yang nggak kalah serunya.

"Ayah saya itu swasta dan ibu saya penjahit. Waku masih mahasiswa kiriman uang saku dari ibu saya itu cuma cukup untuk dua minggu. Jadi saya sejak awal kuliah itu sudah terbiasa cari sampingan," kata Bu Rahmasari.

Bahkan sejak TK ibunya terbiasa menitipkan es lilin untuk ia jual. Sebagai bonus Bu Rahmasari akan mendapatkan sebiji es lilin. "Jadi sejak kecil itu sudah terbiasa dagang untuk membantu perekonomian keluarga. Dan saya mulai melakukan usaha ini awalnya tanpa restu orang tua." kata Bu Rahmasari.

Sementara Pak Bimantoro dulunya adalah anak muda yang punya hobi balap dan jadi ketua geng motor. Bisa ditebak seperti apa kehidupan masa mudanya. Nyaris menjadi orang-orang madesu alias masa depan suram.

"Jangan menunggu bukti, tapi jadilah bukti." Itulah sepotong kalimat motivasi dari Pak Bimantoro yang saya catat tadi.

Tapi ketika Allah berkehendak siapa yang bisa menahannya. Kun faya kun. Jadi, maka jadilah. Hingga akhirnya mereka berdua tumbuh dan berproses, dan hasilnya seperti yang saya saksikan saat ini; mereka punya kehidupan yang luar biasa, tapi juga rendah hati. Terus berbagi inspirasi dan menebar kebaikan pada banyak orang.

Tentang latar belakang mereka, tidak perlu saya tuliskan dengan detail dan mendramatisir. Sebab saya yakin masih banyak orang lain yang punya kisah hidup lebih getir, lebih miris, lebih satir, dan lebih terpuruk dari keluarga Bu Rahmasari ini. Tapi kalau masih ada yang penasaran dengan success story-nya bolehlah kita japrian saja ya.

Saya justru terinspirasi dengan bagaimana cara beliau berjuang melawan keterpurukan itu. Berani melawan diri sendiri setiap kali merasa ingin menyerah, berani mengambil keputusan, berani mengenyahkan rasa malu, dan berani membayar harganya.

Dan untuk itulah saya hadir ke pertemuan spektakuler ini. Untuk mendapatkan kiat-kiat dari sepasang suami istri yang sudah memberi bukti dan menjadi bukti bagi banyak orang. Ya, 25 tahun bertahan di usaha yang dirintisnya sejak masih mahasiswa dulu bukanlah hal biasa. Pastinya banyak tantangan yang mereka hadapi, tapi yang menjadi bold-nya adalah setiap kali jatuh mereka bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi! Jatuh, bangkit lagi!

"Kalau Anda ingin lakukan yang enak, lakukan yang enggak enaknya dulu." Begitu Bu Rahmasari berpesan di akhir pertemuan pada Jumat malam.

Life story mereka benar-benar bikin kita ingin dan harus move. Sesuai dengan tema LS bulan Juli ini.

Anak baik yang ingin punya kisah cinta seperti Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro eaaa. @Amir Murthada


Di luar itu semua, yang membuat saya sangat terkesan adalah pada hubungan mereka berdua yang begitu hangat dan harmonis. Saat diceritakan love story mereka, hati saya langsung berbunga-bunga. Tersenyum-senyum sendiri. Seru!

Bukan hanya pada mereka saja, tapi hampir pada semua pasangan yang saya kenal di organisasi N21. Sebagai anak muda yang InsyaAllah juga akan menikah nantinya, melihat pasangan suami istri bisa sama-sama menjadi guest speaker di panggung yang sama itu benar-benar luar biasa. Artinya mereka pastilah tumbuh dan berkembang bersama, sehingga layak berdiri di panggung yang sama pula.

Di tengah karut marutnya zaman, yang disebut-sebut sebagai zaman modern ini, anak muda seperti saya ini butuh rule model yang up to date dalam hal membangun rumah tangga. Setiap bertemu orang sukses (versi saya tentunya), saya selalu penasaran. Bagaimana sih kehidupan keluarganya, harmonis nggak, bisa jadi panutan nggak. Soalnya buat saya sukses itu harus terintegrasi. Jadi nggak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja.

Dan di organisasi N21 ini saya melihat definisi sukses yang berbeda. Seperti kata salah satu pembicara lainnya di LS tadi bahwa sukses itu bukan hanya bicara soal uang. Tapi juga ada aspek lain yang memengaruhi seperti keluarga, sosial, emosional, bahkan dari sisi religiusitas dan mental kita sangat memengaruhi.[]

Komentar

  1. Tengkyuu akak udh nulis tulisan yg super ini. Bagus kali buat yg mau membangun rumah tangga. Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayooo dekka.....semangat membangun....

      Hapus
  2. Wah, dua pasangan yang luar biasa, semoga bisa kayak mereka nantinya bareng si dia, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini satu pasang, Yelli. Kalau dua pasangan orangnya jadi empat hahahah. Insya Allah, dengan niat dan usaha yang lillahi ta'ala, insya Allah kita bisa

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

POPULER

Lelaki Kecil Penjaja Bendera di Trotoar Jalan

"Bendera, Pak! Bendera!"  Seorang anak merapatkan wajahnya ke sebuah mobil di persimpangan lampu merah di Simpang Kodim Banda Aceh, sore pekan lalu. Di tangannya ada sejumlah bendera Merah Putih berukuran mini. Usianya kuperkirakan belum genap lima belas tahun. Pakaiannya tampak lusuh. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Saat mendongak, nampak jelas rasa lelah menggantung di wajahnya yang terbakar matahari.  Pemandangan itu masih bercokol di ingatanku hingga hari ini. Saat membayangkannya kembali, ada rasa terenyuh di hati ini. Sekaligus rasa geram, namun entah kepada siapa. Memang, di musim 17-an seperti sekarang ini melihat pemandangan orang berjualan bendera Merah Putih bukan hal yang aneh. Hanya saja, dilakukan oleh seorang anak seusia itu jelas tak bisa dianggap lazim. Melihat anak tersebut kembali aku teringat pada sebuah gambar yang dikirimkan teman di grup WhatsApp. Potret seorang anak yang terduduk di trotoar jalan, tepat di saat jam sekolah pula. Anak itu juga sedan…

Kepada Ayah di Surga

Kepada Yang Ku Rindu
Ayah,
Di Surga

assalammualaikum wr wb

Ayah...
Aku datang menyapamu, kali ini bukan dengan doa seperti biasa tetapi dengan kata-kata yang ingin kuceritakan langsung kepadamu. aku yakin, kau mendengar dan melihat gelisahku dari surga. melihat betapa rindunya aku kepadamu.

Ayah...
aku ingin bercerita sedikit kepadamu,
tentang suasana rumah kita, suasana kampung halaman kita, semuanya ayah...juga tentang kesombongan orang-orang yang senang melihat orang lain terluka dan sengsara.

Aku sedih Ayah, selalu menangis setiap kali mengingatmu, mengenang perjuanganmu mendidik kami adalah kekuatan terbesar untukku dan adik-adik, kau mengajarkan kami kemandirian, kerja keras, karena itulah kami tetap bisa hidup meski ayah sudah tiada. aku semakin sedih bila berada di rumah kita, rumah terasa sepi meski sebenarnya selalu ramai seperti biasa tatkala engkau masih ada. teman-temanmu masih sering mengunjungi rumah kita ayah, mereka makan, atau kadang tidur melepas lelah, mereka masih mengangg…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Karena Ibu Aku Rela Jadi Istri Kedua

Hanya beberapa saat setelah saya memposting Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri, sebuah pesan masuk ke akun media sosial saya.

Pesan itu dari seseorang yang sudah saya 'kenal' lama. Namun beberapa tahun belakangan ini kami hampir tak pernah berinteraksi. Terakhir berkomunikasi dengannya pada Februari lalu, setelah tanpa sengaja saya melihat fotonya dengan seorang bayi muncul di beranda saya.

"Hai Dek, selamat ya sudah punya momongan. Lama tidak saling komunikasi ternyata sudah ada yang berubah status," tulis saya melalui pesan inbox ketika itu.

"Heeii kaka... yaa ampuuun kamana wae.. hehe. Iya alhamdulillah, makasih yaa ka." balasnya singkat.

Setelah itu tidak ada lagi komunikasi. Tidak pula kami bertukar pin dan nomor telepon. Sampai akhirnya beberapa hari lalu ia kembali menyapa saya melalui pesan inbox, "kisah aku ditulis dong kak."

Saya sempat terpekur sesaat. Mengapa ia meminta saya menuliskan kisahnya? Adakah sesuatu yang 'tak lazim&#…

Anak Muda Keren Itu Namanya Akbar

Ambivert sepertiku, menjadi dekat dengan seseorang itu tidaklah mudah. Dekat dalam artian seseorang itu bisa menjadi 'teman ngopi' atau 'teman cekikikan' di aplikasi chatting. Minimal bisa jadi kawan buang suntuklah kalau sedang stres dan ingin gila-gila sedikit. Nggak perlu 'jaim-jaiman' dan bisa berekspresi apa adanya saja. Lebih dari itu, jika memungkinkan bisa jadi kawan curcol yang kadang-kadang kerap kambuh seperti PMS.

Dan Akbar adalah teman baru yang belakangan cukup sering terlibat obrolan dan menjadi dekat. Kami mengobrol apa saja, mulai dari film, musik, tempat-tempat wisata, hingga sepak bola. Olahraga yang tadinya bagai belantara penuh duri buatku. Akbar, si pemuda berkacamata yang sangat tergila-gila pada bola itu sedang berusaha menularkan virusnya padaku.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Akbar awal Februari lalu, saat berburu mie ikan di Laweung, Pidie. Saat itu Akbar ikut dengan Rio, teman sesama blogger di komuni…