Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 18 Juli 2017

Ketukan Pintu dari Bu Dhe

Oseng tempe pemberian Bu Dhe @Ihan Sunrise


Jelang magrib kemarin begitu sampai di rumah setelah pulang lari, ada suara yang memanggil-manggil dari pintu depan. Ternyata ibu kost yang kami panggil Bu Dhe. "Kak, ke rumah ya ambil sayur," ujarnya nyaris berbisik.

Rupanya beliau tidak mengantarkan langsung karena di rumah sedang ada teman yang mampir usai lari bareng. "Wahhh Bu Dhe, jadi nggak enak nih," kataku dengan perasaan tak enak yang sesungguhnya.

Bukan apa-apa, pasalnya, siang sebelumnya Bu Dhe baru saja mengantarkan lauk ke kost-an kami yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Daun singkong santan dan tumis udang sabu yang enak banget. Petang kemarin lauk yang diberikan lebih banyak lagi, sayur asem, rendang telur dan oseng tempe. Sebelumnya kami juga pernah mendapat hantaran dua piring munjung nasi goreng dengan lauk ayam semur yang menggoda selera.

Belum genap dua minggu menjadi salah satu penghuni kostnya, sudah tiga kali mendapat kiriman rezeki dari ibu kost. Sampai sampai adikku nyeletuk, mungkin kita anak kost kesayangan. Alhamdulillah wa syukurillah.

Setelah cukup lama tinggal di rumah paman, akhirnya aku kembali merasakan menjadi anak kost. 'Status' yang mulai kusandang sejak duduk di bangku SMP. Hidup sebagai anak kost penuh dengan warna warni. Kadang suka tapi lebih banyak dukanya. Mau tak mau bisa tak bisa harus bisa mandi sendiri, eh, mandiri maksudnya. Dan harus pandai bersosialisasi dengan wargakost lainnya. Biar kalau kiriman telat datang punya tempat mengadu. #eh lagi....

Ini sangat penting bagi anak rantau. Jauh dari orang tua tentulah tidak mudah. Ada tantangan. Hal yang sama juga berlaku bagi bapak atau mamak rantau yang jauh dari keluarga. Selain kiriman yang sering telat, yang berakibat pada menurunnya kreativitas memasak, membuat solidaritas sesama anak kost cukup tinggi. Setidaknya ini yang dulu kurasa saat menjadi agen 007 di Lr. E. Para penghuninya sering bertukar makanan. Dari tukar tukar makanan itulah aku jadi tahu rasanya gulee jruek drien khas barat selatan.

Belum lagi efek makan yang tidak teratur, menyebabkan anak kost umumnya mempunyai keluhan penyakit lambung. Nah kebayang kan bagaimana jika perut sedang mengulah sementara kita jauh dari orang tua? Karena itu berteman dengan penghuni kamar sebelah sangat penting. Minimal saat kita sakit ada yang membantu melakukan pertolongan pertama. Tidak meronta ronta sendiri di kamar dan dicuekin warga sebelah.

Nah, kembali ke cerita ibu kostku. Sejak pertama kali ketemu dulu aura ramahnya memang sudah terlihat. Begitu juga suaminya, Pak Dhe. Anak anaknya juga. Bahkan salah satu anaknya ternyata sudah duluan bertatap muka waktu aku liputan ke salah satu masjid di Banda Aceh.

Keramahan dan kehangatan keluarga inilah yang membuat ibu tenang meninggalkan dua anak perempuannya di kost yang baru ini. Kata ibu, walaupun kami jauh dari orang tua minimal ada yang mengawasi. Padahal aku kan sudah teruji sebagai anak kost hahaha.

"Kalau ada apa apa ketok aja pintu rumah Bu Dhe. Jangan takut takut," kata Bu Dhe saat mengobrol dengan ibu beberapa hari lalu, sebelum ibu balik ke 'kampung'.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bu Dhe yang sering mengetok-ngetok pintu kost kami dengan membawa makanan. Sering sering ya Bu Dhe.... Eh.... Aduhhh.... Malah nggak tahu diri ini.[]

2 komentar:

  1. Nasib anak kos harus siap menerima hidangan dari tetangga #eh

    BalasHapus
  2. Enak banget kk, diantarin melulu makanan sm ibu kostnya, kmi malah gx ada ibu kostnya lagi. Ajak2 dong klu bnyak makanan :D

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email