Langsung ke konten utama

Ketukan Pintu dari Bu Dhe

Oseng tempe pemberian Bu Dhe @Ihan Sunrise


Jelang magrib kemarin begitu sampai di rumah setelah pulang lari, ada suara yang memanggil-manggil dari pintu depan. Ternyata ibu kost yang kami panggil Bu Dhe. "Kak, ke rumah ya ambil sayur," ujarnya nyaris berbisik.

Rupanya beliau tidak mengantarkan langsung karena di rumah sedang ada teman yang mampir usai lari bareng. "Wahhh Bu Dhe, jadi nggak enak nih," kataku dengan perasaan tak enak yang sesungguhnya.

Bukan apa-apa, pasalnya, siang sebelumnya Bu Dhe baru saja mengantarkan lauk ke kost-an kami yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Daun singkong santan dan tumis udang sabu yang enak banget. Petang kemarin lauk yang diberikan lebih banyak lagi, sayur asem, rendang telur dan oseng tempe. Sebelumnya kami juga pernah mendapat hantaran dua piring munjung nasi goreng dengan lauk ayam semur yang menggoda selera.

Belum genap dua minggu menjadi salah satu penghuni kostnya, sudah tiga kali mendapat kiriman rezeki dari ibu kost. Sampai sampai adikku nyeletuk, mungkin kita anak kost kesayangan. Alhamdulillah wa syukurillah.

Setelah cukup lama tinggal di rumah paman, akhirnya aku kembali merasakan menjadi anak kost. 'Status' yang mulai kusandang sejak duduk di bangku SMP. Hidup sebagai anak kost penuh dengan warna warni. Kadang suka tapi lebih banyak dukanya. Mau tak mau bisa tak bisa harus bisa mandi sendiri, eh, mandiri maksudnya. Dan harus pandai bersosialisasi dengan wargakost lainnya. Biar kalau kiriman telat datang punya tempat mengadu. #eh lagi....

Ini sangat penting bagi anak rantau. Jauh dari orang tua tentulah tidak mudah. Ada tantangan. Hal yang sama juga berlaku bagi bapak atau mamak rantau yang jauh dari keluarga. Selain kiriman yang sering telat, yang berakibat pada menurunnya kreativitas memasak, membuat solidaritas sesama anak kost cukup tinggi. Setidaknya ini yang dulu kurasa saat menjadi agen 007 di Lr. E. Para penghuninya sering bertukar makanan. Dari tukar tukar makanan itulah aku jadi tahu rasanya gulee jruek drien khas barat selatan.

Belum lagi efek makan yang tidak teratur, menyebabkan anak kost umumnya mempunyai keluhan penyakit lambung. Nah kebayang kan bagaimana jika perut sedang mengulah sementara kita jauh dari orang tua? Karena itu berteman dengan penghuni kamar sebelah sangat penting. Minimal saat kita sakit ada yang membantu melakukan pertolongan pertama. Tidak meronta ronta sendiri di kamar dan dicuekin warga sebelah.

Nah, kembali ke cerita ibu kostku. Sejak pertama kali ketemu dulu aura ramahnya memang sudah terlihat. Begitu juga suaminya, Pak Dhe. Anak anaknya juga. Bahkan salah satu anaknya ternyata sudah duluan bertatap muka waktu aku liputan ke salah satu masjid di Banda Aceh.

Keramahan dan kehangatan keluarga inilah yang membuat ibu tenang meninggalkan dua anak perempuannya di kost yang baru ini. Kata ibu, walaupun kami jauh dari orang tua minimal ada yang mengawasi. Padahal aku kan sudah teruji sebagai anak kost hahaha.

"Kalau ada apa apa ketok aja pintu rumah Bu Dhe. Jangan takut takut," kata Bu Dhe saat mengobrol dengan ibu beberapa hari lalu, sebelum ibu balik ke 'kampung'.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bu Dhe yang sering mengetok-ngetok pintu kost kami dengan membawa makanan. Sering sering ya Bu Dhe.... Eh.... Aduhhh.... Malah nggak tahu diri ini.[]

Komentar

  1. Nasib anak kos harus siap menerima hidangan dari tetangga #eh

    BalasHapus
  2. Enak banget kk, diantarin melulu makanan sm ibu kostnya, kmi malah gx ada ibu kostnya lagi. Ajak2 dong klu bnyak makanan :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

POPULER

Lelaki Kecil Penjaja Bendera di Trotoar Jalan

"Bendera, Pak! Bendera!"  Seorang anak merapatkan wajahnya ke sebuah mobil di persimpangan lampu merah di Simpang Kodim Banda Aceh, sore pekan lalu. Di tangannya ada sejumlah bendera Merah Putih berukuran mini. Usianya kuperkirakan belum genap lima belas tahun. Pakaiannya tampak lusuh. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Saat mendongak, nampak jelas rasa lelah menggantung di wajahnya yang terbakar matahari.  Pemandangan itu masih bercokol di ingatanku hingga hari ini. Saat membayangkannya kembali, ada rasa terenyuh di hati ini. Sekaligus rasa geram, namun entah kepada siapa. Memang, di musim 17-an seperti sekarang ini melihat pemandangan orang berjualan bendera Merah Putih bukan hal yang aneh. Hanya saja, dilakukan oleh seorang anak seusia itu jelas tak bisa dianggap lazim. Melihat anak tersebut kembali aku teringat pada sebuah gambar yang dikirimkan teman di grup WhatsApp. Potret seorang anak yang terduduk di trotoar jalan, tepat di saat jam sekolah pula. Anak itu juga sedan…

Kepada Ayah di Surga

Kepada Yang Ku Rindu
Ayah,
Di Surga

assalammualaikum wr wb

Ayah...
Aku datang menyapamu, kali ini bukan dengan doa seperti biasa tetapi dengan kata-kata yang ingin kuceritakan langsung kepadamu. aku yakin, kau mendengar dan melihat gelisahku dari surga. melihat betapa rindunya aku kepadamu.

Ayah...
aku ingin bercerita sedikit kepadamu,
tentang suasana rumah kita, suasana kampung halaman kita, semuanya ayah...juga tentang kesombongan orang-orang yang senang melihat orang lain terluka dan sengsara.

Aku sedih Ayah, selalu menangis setiap kali mengingatmu, mengenang perjuanganmu mendidik kami adalah kekuatan terbesar untukku dan adik-adik, kau mengajarkan kami kemandirian, kerja keras, karena itulah kami tetap bisa hidup meski ayah sudah tiada. aku semakin sedih bila berada di rumah kita, rumah terasa sepi meski sebenarnya selalu ramai seperti biasa tatkala engkau masih ada. teman-temanmu masih sering mengunjungi rumah kita ayah, mereka makan, atau kadang tidur melepas lelah, mereka masih mengangg…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Karena Ibu Aku Rela Jadi Istri Kedua

Hanya beberapa saat setelah saya memposting Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri, sebuah pesan masuk ke akun media sosial saya.

Pesan itu dari seseorang yang sudah saya 'kenal' lama. Namun beberapa tahun belakangan ini kami hampir tak pernah berinteraksi. Terakhir berkomunikasi dengannya pada Februari lalu, setelah tanpa sengaja saya melihat fotonya dengan seorang bayi muncul di beranda saya.

"Hai Dek, selamat ya sudah punya momongan. Lama tidak saling komunikasi ternyata sudah ada yang berubah status," tulis saya melalui pesan inbox ketika itu.

"Heeii kaka... yaa ampuuun kamana wae.. hehe. Iya alhamdulillah, makasih yaa ka." balasnya singkat.

Setelah itu tidak ada lagi komunikasi. Tidak pula kami bertukar pin dan nomor telepon. Sampai akhirnya beberapa hari lalu ia kembali menyapa saya melalui pesan inbox, "kisah aku ditulis dong kak."

Saya sempat terpekur sesaat. Mengapa ia meminta saya menuliskan kisahnya? Adakah sesuatu yang 'tak lazim&#…

Anak Muda Keren Itu Namanya Akbar

Ambivert sepertiku, menjadi dekat dengan seseorang itu tidaklah mudah. Dekat dalam artian seseorang itu bisa menjadi 'teman ngopi' atau 'teman cekikikan' di aplikasi chatting. Minimal bisa jadi kawan buang suntuklah kalau sedang stres dan ingin gila-gila sedikit. Nggak perlu 'jaim-jaiman' dan bisa berekspresi apa adanya saja. Lebih dari itu, jika memungkinkan bisa jadi kawan curcol yang kadang-kadang kerap kambuh seperti PMS.

Dan Akbar adalah teman baru yang belakangan cukup sering terlibat obrolan dan menjadi dekat. Kami mengobrol apa saja, mulai dari film, musik, tempat-tempat wisata, hingga sepak bola. Olahraga yang tadinya bagai belantara penuh duri buatku. Akbar, si pemuda berkacamata yang sangat tergila-gila pada bola itu sedang berusaha menularkan virusnya padaku.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Akbar awal Februari lalu, saat berburu mie ikan di Laweung, Pidie. Saat itu Akbar ikut dengan Rio, teman sesama blogger di komuni…