Langsung ke konten utama

Anak Muda Keren Itu Namanya Akbar


Akbar (berkacamata) @Facebook/Akbar Rafsanjani

Ambivert sepertiku, menjadi dekat dengan seseorang itu tidaklah mudah. Dekat dalam artian seseorang itu bisa menjadi 'teman ngopi' atau 'teman cekikikan' di aplikasi chatting. Minimal bisa jadi kawan buang suntuklah kalau sedang stres dan ingin gila-gila sedikit. Nggak perlu 'jaim-jaiman' dan bisa berekspresi apa adanya saja. Lebih dari itu, jika memungkinkan bisa jadi kawan curcol yang kadang-kadang kerap kambuh seperti PMS.

Dan Akbar adalah teman baru yang belakangan cukup sering terlibat obrolan dan menjadi dekat. Kami mengobrol apa saja, mulai dari film, musik, tempat-tempat wisata, hingga sepak bola. Olahraga yang tadinya bagai belantara penuh duri buatku. Akbar, si pemuda berkacamata yang sangat tergila-gila pada bola itu sedang berusaha menularkan virusnya padaku.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Akbar awal Februari lalu, saat berburu mie ikan di Laweung, Pidie. Saat itu Akbar ikut dengan Rio, teman sesama blogger di komunitas Gam Inong Blogger yang hari itu berbaik hati menjadi pemandu berburu mie ikan Laweung yang lezat.

Sebenarnya ada beberapa lagi teman Rio yang diajak sore itu, tapi yang nama dan wajahnya nyangkut di ingatanku ya cuma Akbar. Mungkin karena dia yang paling banyak omong waktu itu, dan anaknya komunikatif juga. Sehingga pertemanan kami berlanjut melalui Facebook dan Instagram. Sampai akhirnya saling bertukar nomor handphone dan janjian mencicipi kopi telur khas Lameu yang rasanya creamy banget di bulan Mei.

Di bulan puasa kemarin Akbar memprovokasiku untuk mencoba kopi arang Tangse yang gurih. Alhamdulillah sudah kesampaian saat libur lebaran Idul Fitri kemarin. Tapi cerita perjalanan ke sana belum sempat aku tulis karena alasan yang bisa dimaklumi. :-)

Akbar saat mengambil video air terjun Lhok Jok di Mane, Pidie @Ihan Sunrise


Akbar. Menyebut namanya saja sudah membuat senang, karena aku sangat menyukai nama-nama dengan huruf vokal 'a'. Asalnya dari Garot, Pidie. Daerah yang terkenal dengan  'festival' meriam bambunya saat lebaran Idul Fitri tiba. Wajahnya mirip India. Dan kalau tersenyum aku yakin akan membuat hati adik itu meleleh berkali-kali.

Dia ini unik menurutku. Kreatif. Dan juga energik. Potret anak muda potensial. Dia juga agamis. Berlatar belakang sebagai 'aneuk dayah' di pesantren tradisional tidak menyurutkan niatnya untuk terjun ke dunia kreatif. Khususnya dunia perfilm-an dengan spesifikasi film dokumenter. Soal ini, saat ngobrol di UK Lounge pertengahan Juli lalu, Akbar bilang ia tercebur ke dunia film. Alias tak sengaja tapi akhirnya malah keterusan.

"Awalnya cuma dimintai tolong untuk riset di sebuah dayah di Sigli oleh seseorang yang ingin membuat film dokumenter, tapi belakangan saya malah terlibat sebagai tim produksinya." Lebih kurang seperti itulah kata Akbar saat itu.

Berawal dari situ Akbar lantas mengikuti coaching khusus yang dibuat oleh Aceh Documentary. Dan saat ini ia sedang menggarap film dokumenter bertema urban yang akan diikutsertakan dalam lomba film dokumenter di Jepang. Karena lokasi garapannya ada di Banda Aceh, jadilah kami bertemu kembali. Otomatis komunikasi juga makin intens karena aku terlibat sebagai 'calo' untuk mencari calon objeknya. Hahaha.

Akbar jogging di lapangan Rindam IM di Mata Ie @Ihan Sunrise


Bersama Rio, Akbar yang seorang videomaker ini juga mengelola akun Rio de Jaksiuroe di Youtube. Melalui video-video kreatif yang mereka buat, dua anak muda ini mempromosikan potensi wisata Pidie kepada siapa pun yang mereka temui.

Nah, aku adalah 'korban' kreativitas mereka dan dampaknya bisa mengunjungi beberapa tempat wisata di Pidie. Bagi kalian yang ingin mengunjungi Pidie, tak ada salahnya mengontak mereka. Pasti ada banyak informasi yang kalian dapatkan dari mereka.

Pertemanan dengan Akbar tak hanya berlangsung di ruang chatting, tapi juga di dunia nyata. Pada suatu kesempatan kami berolah raga bersama di lapangan Rindam, Mata Ie, Aceh Besar. Bersama kami juga ada Vira, teman Akbar sesama sineas muda yang bernaung di bawah Aceh Documentary.

Dua anak muda ini menurutku sangat keren. Vira misalnya, selain punya talenta khusus di film, dia juga calon dokter dan saat ini sedang merampungkan skripsinya. Dari foto-foto aktivitas di Facebook-nya tampaknya ia juga seorang relawan di C Four.

Hal lain yang sering kubicarakan dengan Akbar adalah tentang India. Salah satu negara di Asia Selatan yang sering dikait-kaitkan dengan Aceh, dan sangat ingin kami kunjungi. Sebagai penggemar Sharukh Khan dan Aamir Khan, memasukkan nama India ke dalam daftar negara yang ingin kukunjungi bukanlah kesalahan.

Ada beberapa tempat yang paling ingin aku kunjungi di India yaitu Tajmahal dan Benteng Merah di Agra. Dua situs ini merupakan peninggalan Dinasti Mughal yang cakupan wilayahnya saat itu meliputi India, Pakistan, Banglades dan Afghanistan saat ini.

Setelah Dinasti Mughal hancur dan digantikan oleh Kerajaan Marathi, sampai akhirnya masuk kolonial Inggris dan wilayah tersebut menjadi terpisah-pisah. Umat Islam yang tadinya mendiami wilayah India bermigrasi ke wilayah yang kini menjadi negara Pakistan.

Selain itu aku juga sangat ingin berkunjung ke sungai Gangga, sungai yang dianggap suci oleh umat Hindu di India. Di sini sering dilakukan ritual kremasi mayat. Faktanya air sungai ini berasal dari gletser yang mengalir dari puncak Himalaya yang berada sekitar 14 ribu mdpl.

Terakhir, aku ingin sekali ke Kashmir, wilayah India yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Negara yang menjadi musuh bebuyutan India. Setidaknya itulah yang sering kulihat di film-film bernuansa sejarah maupun sport movie.

Kami ingin sekali bisa ngetrip bareng ke India, semoga dimudahkan oleh Allah ya, Akbar?[]

Komentar

  1. Kayaknya meati pake kacamata juha ni. Biar meren kayak akbar..
    Hahahaahah.

    Jangan lupa, singgah juga ke tempatku.

    Salam | #Sikonyol.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau emang udah keren nggak pakai kacamata pun keren heheheh

      Hapus
  2. Ehem, ternyata abang itu bernama Akbar, kwwkwkw

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

POPULER

Lelaki Kecil Penjaja Bendera di Trotoar Jalan

"Bendera, Pak! Bendera!"  Seorang anak merapatkan wajahnya ke sebuah mobil di persimpangan lampu merah di Simpang Kodim Banda Aceh, sore pekan lalu. Di tangannya ada sejumlah bendera Merah Putih berukuran mini. Usianya kuperkirakan belum genap lima belas tahun. Pakaiannya tampak lusuh. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Saat mendongak, nampak jelas rasa lelah menggantung di wajahnya yang terbakar matahari.  Pemandangan itu masih bercokol di ingatanku hingga hari ini. Saat membayangkannya kembali, ada rasa terenyuh di hati ini. Sekaligus rasa geram, namun entah kepada siapa. Memang, di musim 17-an seperti sekarang ini melihat pemandangan orang berjualan bendera Merah Putih bukan hal yang aneh. Hanya saja, dilakukan oleh seorang anak seusia itu jelas tak bisa dianggap lazim. Melihat anak tersebut kembali aku teringat pada sebuah gambar yang dikirimkan teman di grup WhatsApp. Potret seorang anak yang terduduk di trotoar jalan, tepat di saat jam sekolah pula. Anak itu juga sedan…

Kepada Ayah di Surga

Kepada Yang Ku Rindu
Ayah,
Di Surga

assalammualaikum wr wb

Ayah...
Aku datang menyapamu, kali ini bukan dengan doa seperti biasa tetapi dengan kata-kata yang ingin kuceritakan langsung kepadamu. aku yakin, kau mendengar dan melihat gelisahku dari surga. melihat betapa rindunya aku kepadamu.

Ayah...
aku ingin bercerita sedikit kepadamu,
tentang suasana rumah kita, suasana kampung halaman kita, semuanya ayah...juga tentang kesombongan orang-orang yang senang melihat orang lain terluka dan sengsara.

Aku sedih Ayah, selalu menangis setiap kali mengingatmu, mengenang perjuanganmu mendidik kami adalah kekuatan terbesar untukku dan adik-adik, kau mengajarkan kami kemandirian, kerja keras, karena itulah kami tetap bisa hidup meski ayah sudah tiada. aku semakin sedih bila berada di rumah kita, rumah terasa sepi meski sebenarnya selalu ramai seperti biasa tatkala engkau masih ada. teman-temanmu masih sering mengunjungi rumah kita ayah, mereka makan, atau kadang tidur melepas lelah, mereka masih mengangg…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Karena Ibu Aku Rela Jadi Istri Kedua

Hanya beberapa saat setelah saya memposting Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri, sebuah pesan masuk ke akun media sosial saya.

Pesan itu dari seseorang yang sudah saya 'kenal' lama. Namun beberapa tahun belakangan ini kami hampir tak pernah berinteraksi. Terakhir berkomunikasi dengannya pada Februari lalu, setelah tanpa sengaja saya melihat fotonya dengan seorang bayi muncul di beranda saya.

"Hai Dek, selamat ya sudah punya momongan. Lama tidak saling komunikasi ternyata sudah ada yang berubah status," tulis saya melalui pesan inbox ketika itu.

"Heeii kaka... yaa ampuuun kamana wae.. hehe. Iya alhamdulillah, makasih yaa ka." balasnya singkat.

Setelah itu tidak ada lagi komunikasi. Tidak pula kami bertukar pin dan nomor telepon. Sampai akhirnya beberapa hari lalu ia kembali menyapa saya melalui pesan inbox, "kisah aku ditulis dong kak."

Saya sempat terpekur sesaat. Mengapa ia meminta saya menuliskan kisahnya? Adakah sesuatu yang 'tak lazim&#…