Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Minggu, 17 September 2017

Kutu Kecil dan Kutu Besar



Dia menyebut buku-buku koleksiku sebagai 'kutu', dan aku menyebutnya sebagai 'kutu besar' berkaki dua yang tingginya melebihi Adam Jordan .  Baiklah, sebut saja buku-bukuku adalah kutu kecil yang memang menggelitik untuk dibaca.

"Tambah lagi donk kutunya." 

Itu komentarnya saat 'kutunjukkan' buku berjudul BUKAN UNDANG UNDANG BIASA. 

"Iyaaaaa...... hahahaha..... tapi kutu ini nggak bikin gatal kayak kutu yang di sebelah situ."

"Kasian yaa yg sudah pernah rasai gatal'a kutu."

"Iya dong, kutunya kakinya dua, tingginya melebihi Adam Jordan. Kalau ngomong.....aduhhhhhh, bikin gatal tujuh keliling."

"Mandi sanaa. Dasar kutuaaan."

Aku hanya bisa terbahak --terbahak dalam arti yang sesungguhnya-- membaca pesan terakhirnya. Begitulah kami saling ejek dan membalas.

+++

Buku ini hadiah dari 'kuis' di pengujung acara Dialog Literasi Perempuan yang dibuat Kohati Badko HMI Aceh setengah hari sore tadi di Aula Kesbangpol Aceh di Kuta Alam, Banda Aceh.

Dialog ini menghadirkan tiga narasumber yaitu psikolog dan penulis buku Blak-blakan Our Secret Nur Jannah Al-Sharafi, yang sebelumnya dikenal dengan nama Nur Jannah Nitura. Lalu ada dosen Fakultas Hukum Unsyiah dan penulis buku Hukum Adat, Teuku Muttaqien Mansur. Dan Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia Yarmen Dinamika.

Di ujung acara Bu Nur Jannah memberikan kuis. Bagi enam peserta yang mampu mendeskripsikan paling panjang sebuah objek yang ditentukan, akan mendapatkan masing-masing satu buku. Objeknya adalah vas bunga dari porselain yang tentunya berisi dengan kuntum-kuntum bunga plastik. 
Aku salah satu di antara peserta yang beruntung mendapatkan hadiah buku.

BUKAN UNDANG UNDANG BIASA ditulis keroyokan oleh 20 penulis, salah satunya adalah Pak T. Muttaqien Mansur. Sebagai refleksi 10 tahun Undang Undang Pemerintahan Aceh. Sebuah undang-undang yang disebut Dekan FH Unsyiah Prof. Faisal A. Rani dalam testimoninya, lahir dari kepentingan penyelesaian konflik secara damai, maka wajah ia harus dijaga oleh berbagai pihak.

+++

Pulang dari diskusi ini aku dan Yelli memilih jalan kaki menuju kost-an di Peulanggahan. Karena sama-sama tidak membawa kendaraan. Saat pergi siangnya kami janjian naik Trans-K. 


Ketika melewati jalur pedestrian di sepanjang pinggir Krueng Aceh, kami berhenti sejenak untuk foto-foto. Tepatnya aku yang meminta untuk difoto dengan koleksi 'kutu' baru. Sebenarnya ingin berlama-lama di sini, tapi karena hari sudah senja, kami segera pulang. Thanks untuk Yelli sudah menjadi fotografer dadakan.[]

1 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email