Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Nggak Janji

Gimana ya rasanya kalau orang yang paling kita harapkan bertemu tiba-tiba mengatakan 'nggak janji ya' saat kita mengusulkan waktu pertemuan, walaupun cuma bercanda. Pasti rasanya enggak enak banget, aku tahu gimana rasanya, karena baru saja mendapatkan jawaban seperti itu hahaha. Rasanya tuh, seperti kantong plastik yang tadinya menggelembung penuh oleh udara tiba-tiba kempes.

Kalau merujuk pada teori 'bahasa kasih' yang dibuat oleh Garry Chapmann, aku masuk dalam kategori manusia yang bahasa kasihnya adalah 'kata-kata pendukung' dan 'sentuhan fisik'. Dua hal ini akan membuat aku merasa sangat disayangi dan dicintai. Aku sangat sensitif dengan yang namanya 'kata-kata', setiap kata yang diucapkan/dituliskan oleh seseorang, tak bisa sekadar lewat begitu saja.

Makanya, ketika tadi ada seseorang yang aku sangat ingin bertemu dengannya dan dia menjawab 'nggak janji ya' saat aku menawarkan waktu temu dengannya, keinginan untuk bertemu dengann…

Pesona Seribu Bukit

GEROMBOLAN angin yang mencuri-curi masuk lewat celah jendela minibus L300 membangunkan saya pagi itu. Udara dingin menyergap. Menyelinap menembusi jaket yang membalut tubuh. Merasuk hingga ke tulang. Bahkan, syal berbahan wol yang saya lilitkan di leher tak membantu banyak untuk memberikan rasa hangat. Saya mengerjap-ngerjap, menghilangkan sisa kantuk yang masih melekat di pelupuk mata. Matahari belum sempurna terbit. Sekelebat pemandangan tiba-tiba tertangkap oleh indera. Sungai lebar yang berkelok-kelok di kejauhan, sawah hijau yang berundak-undak, rumah-rumah penduduk, begitu padu dengan lanskap di sekitarnya yang hijau. Pucuk-pucuk pinus menjulang di lembah dan puncak bukit. Kabut yang masih mengapung di udara menambah kesyahduan pagi itu. Perlahan mentari mulai muncul di ufuk timur. Menumpahkan cahaya jingganya ke pucuk-pucuk pohon. "Saya sudah sampai ke Gayo Lues.” Hati saya membatin penuh girang. Kegirangan yang sama agaknya juga dirasakan teman-teman. Belakangan saya tah…

Senyum Senja Mentari Pagi

"Kalau kita punya anak, aku yang berikan nama, ya?" kataku pada Zenja di suatu pagi.

"Boleh."

"Aku sudah siapkan dua nama lho."

"Wow. Mantab."

Hingga pagi itu Zenja masih menuliskan mantap dengan 'b' bukan dengan 'p'. Biasanya aku selalu protes, tapi bukankah cinta adalah pemakluman? Biarkan saja dia menulis tanpa tertib bahasa seperti itu.

"Kalau laki-laki aku akan beri nama Senyum Senja. Kalau perempuan Mentari Pagi," kataku pada hari yang lain.

"Nama Islam saja. Nama itu doa."

"Itu kan juga doa, Sayang."

"Ya, boleh aja nggak dilarang. Kalau mau berpuisi ikuti Jalaluddin Rumi."

"Aku suka nama berbahasa Indonesia yang puitis. Senyum Senja itu representasi dirimu, dan Mentari Pagi itu aku."

"Aku ingin punya baby, kalau kita punya bayi kembar tiga seru ya."

"Iya, seru."

Lalu kami sibuk berbincang tentang bayi kembar. Kerepotan seorang ibu. Kerepotan seorang aya…