Minggu, 30 Juli 2017

Belajar dari Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro

Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro saat berbicara di general session Sabtu, 29 Juli 2017 @Ihan Sunrise

Nama Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro ini sudah saya dengar sejak Maret 2009 silam. Saat itu saya mengikuti Success Seminar (yang menjadi cikal bakal BBS di Banda Aceh) yang pembicaranya adalah Bu Putu Srirahmaningsih, ibunya Bu Rahmasari.

Yang tertangkap dalam ingatan saya adalah, Bu Putu ini sangat bangga pada Bu Rahmasari. Dari Bu Rahmasari pula Bu Putu mengenal usaha yang dengan izin Allah SWT membuat mereka punya kehidupan yang lebih baik hingga saat ini. Lain kali saya akan ceritakan siapa sih Bu Putu ini. Sedikit spoiler, beliau ini adalah mantan penjahit yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Pernah divonis hidup enam bulan lagi karena menderita kanker rahim, tapi ia masih hidup sampai sekarang.

Nah, belakangan nama Bu Rahmasari ini makin sering saya dengar karena sering dipromosikan. Khususnya selama empat bulan terakhir. Beliau akan hadir ke Medan sebagai guest speaker di Leadership Seminar yang dibuat N21 Indonesia di Grand Antares Hotel, 29-30 Juli 2017. Dan saya, demi melakukan yang namanya 'cover both side' dari cerita Bu Putu bertahun-tahun silam, sudah mengantongi tiket LS ini sejak awal dipromosikan.

Dan saat pertama kali melihat langsung pasangan ini di panggung khusus pada Jumat malam, saya benar-benar takjub pada mereka. Ada beberapa hal yang membuat saya terkesan. Pertama, aura positif yang terpancar dari wajah mereka itu rasanya menyebar ke seluruh ruangan dan kecipratan ke saya. Wajah-wajah tanpa beban dan tulus. Senyumnya semringah. Bikin kita yang melihat ikut bahagia dan berseri-seri.

Selasa, 18 Juli 2017

Ketukan Pintu dari Bu Dhe

Oseng tempe pemberian Bu Dhe @Ihan Sunrise


Jelang magrib kemarin begitu sampai di rumah setelah pulang lari, ada suara yang memanggil-manggil dari pintu depan. Ternyata ibu kost yang kami panggil Bu Dhe. "Kak, ke rumah ya ambil sayur," ujarnya nyaris berbisik.

Rupanya beliau tidak mengantarkan langsung karena di rumah sedang ada teman yang mampir usai lari bareng. "Wahhh Bu Dhe, jadi nggak enak nih," kataku dengan perasaan tak enak yang sesungguhnya.

Bukan apa-apa, pasalnya, siang sebelumnya Bu Dhe baru saja mengantarkan lauk ke kost-an kami yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Daun singkong santan dan tumis udang sabu yang enak banget. Petang kemarin lauk yang diberikan lebih banyak lagi, sayur asem, rendang telur dan oseng tempe. Sebelumnya kami juga pernah mendapat hantaran dua piring munjung nasi goreng dengan lauk ayam semur yang menggoda selera.

Belum genap dua minggu menjadi salah satu penghuni kostnya, sudah tiga kali mendapat kiriman rezeki dari ibu kost. Sampai sampai adikku nyeletuk, mungkin kita anak kost kesayangan. Alhamdulillah wa syukurillah.

Setelah cukup lama tinggal di rumah paman, akhirnya aku kembali merasakan menjadi anak kost. 'Status' yang mulai kusandang sejak duduk di bangku SMP. Hidup sebagai anak kost penuh dengan warna warni. Kadang suka tapi lebih banyak dukanya. Mau tak mau bisa tak bisa harus bisa mandi sendiri, eh, mandiri maksudnya. Dan harus pandai bersosialisasi dengan wargakost lainnya. Biar kalau kiriman telat datang punya tempat mengadu. #eh lagi....

Ini sangat penting bagi anak rantau. Jauh dari orang tua tentulah tidak mudah. Ada tantangan. Hal yang sama juga berlaku bagi bapak atau mamak rantau yang jauh dari keluarga. Selain kiriman yang sering telat, yang berakibat pada menurunnya kreativitas memasak, membuat solidaritas sesama anak kost cukup tinggi. Setidaknya ini yang dulu kurasa saat menjadi agen 007 di Lr. E. Para penghuninya sering bertukar makanan. Dari tukar tukar makanan itulah aku jadi tahu rasanya gulee jruek drien khas barat selatan.

Belum lagi efek makan yang tidak teratur, menyebabkan anak kost umumnya mempunyai keluhan penyakit lambung. Nah kebayang kan bagaimana jika perut sedang mengulah sementara kita jauh dari orang tua? Karena itu berteman dengan penghuni kamar sebelah sangat penting. Minimal saat kita sakit ada yang membantu melakukan pertolongan pertama. Tidak meronta ronta sendiri di kamar dan dicuekin warga sebelah.

Nah, kembali ke cerita ibu kostku. Sejak pertama kali ketemu dulu aura ramahnya memang sudah terlihat. Begitu juga suaminya, Pak Dhe. Anak anaknya juga. Bahkan salah satu anaknya ternyata sudah duluan bertatap muka waktu aku liputan ke salah satu masjid di Banda Aceh.

Keramahan dan kehangatan keluarga inilah yang membuat ibu tenang meninggalkan dua anak perempuannya di kost yang baru ini. Kata ibu, walaupun kami jauh dari orang tua minimal ada yang mengawasi. Padahal aku kan sudah teruji sebagai anak kost hahaha.

"Kalau ada apa apa ketok aja pintu rumah Bu Dhe. Jangan takut takut," kata Bu Dhe saat mengobrol dengan ibu beberapa hari lalu, sebelum ibu balik ke 'kampung'.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bu Dhe yang sering mengetok-ngetok pintu kost kami dengan membawa makanan. Sering sering ya Bu Dhe.... Eh.... Aduhhh.... Malah nggak tahu diri ini.[]

Kamis, 13 Juli 2017

Kau yang Menggelitik Hatiku

Ilustrasi
Tak perlu kusebut kau sebagai apa dan siapa,
jika hanya untuk mengatakan kehadiranmu kini menjadi penting

Aku masih ingat saat pertama kali kita bertukar nama dan cerita
Amat riuh dan heboh
Seolah semua kata adalah milik kita
Dan ruang itu hanya milik berdua

Aku masih ingat, 
Suatu senja setelah hujan usai
Kau mengajakku ke kaki bukit
Kita akan melihat kabut, katamu
Sore itu kau menjadi saksi betapa aku sangat bahagia

Apa perlu menyebutmu sebagai apa dan siapa,
jika hanya untuk mengatakan kehadiranmu telah menggelitik hatiku

Bagai cawan yang selama ini kosong,
lalu penuh dengan rasa hangat
Bagai pintu yang selama ini rapat, 
lalu terkuak perlahan
dan berbagai rasa menerobos masuk

Tak perlu kusebut kau sebagai apa dan siapa
Karena aku tidak sedang mencari definisi