Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Belajar dari Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro

Nama Bu Rahmasari dan Pak Bimantoro ini sudah saya dengar sejak Maret 2009 silam. Saat itu saya mengikuti Success Seminar (yang menjadi cikal bakal BBS di Banda Aceh) yang pembicaranya adalah Bu Putu Srirahmaningsih, ibunya Bu Rahmasari.

Yang tertangkap dalam ingatan saya adalah, Bu Putu ini sangat bangga pada Bu Rahmasari. Dari Bu Rahmasari pula Bu Putu mengenal usaha yang dengan izin Allah SWT membuat mereka punya kehidupan yang lebih baik hingga saat ini. Lain kali saya akan ceritakan siapa sih Bu Putu ini. Sedikit spoiler, beliau ini adalah mantan penjahit yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Pernah divonis hidup enam bulan lagi karena menderita kanker rahim, tapi ia masih hidup sampai sekarang.

Nah, belakangan nama Bu Rahmasari ini makin sering saya dengar karena sering dipromosikan. Khususnya selama empat bulan terakhir. Beliau akan hadir ke Medan sebagai guest speaker di Leadership Seminar yang dibuat N21 Indonesia di Grand Antares Hotel, 29-30 Juli 2017. Dan saya, demi me…

Ketukan Pintu dari Bu Dhe

Jelang magrib kemarin begitu sampai di rumah setelah pulang lari, ada suara yang memanggil-manggil dari pintu depan. Ternyata ibu kost yang kami panggil Bu Dhe. "Kak, ke rumah ya ambil sayur," ujarnya nyaris berbisik.

Rupanya beliau tidak mengantarkan langsung karena di rumah sedang ada teman yang mampir usai lari bareng. "Wahhh Bu Dhe, jadi nggak enak nih," kataku dengan perasaan tak enak yang sesungguhnya.

Bukan apa-apa, pasalnya, siang sebelumnya Bu Dhe baru saja mengantarkan lauk ke kost-an kami yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Daun singkong santan dan tumis udang sabu yang enak banget. Petang kemarin lauk yang diberikan lebih banyak lagi, sayur asem, rendang telur dan oseng tempe. Sebelumnya kami juga pernah mendapat hantaran dua piring munjung nasi goreng dengan lauk ayam semur yang menggoda selera.

Belum genap dua minggu menjadi salah satu penghuni kostnya, sudah tiga kali mendapat kiriman rezeki dari ibu kost. Sampai sampai adikku nyeletuk…

Kau yang Menggelitik Hatiku

Tak perlu kusebut kau sebagai apa dan siapa,
jika hanya untuk mengatakan kehadiranmu kini menjadi penting

Aku masih ingat saat pertama kali kita bertukar nama dan cerita
Amat riuh dan heboh
Seolah semua kata adalah milik kita
Dan ruang itu hanya milik berdua

Aku masih ingat, 
Suatu senja setelah hujan usai
Kau mengajakku ke kaki bukit
Kita akan melihat kabut, katamu
Sore itu kau menjadi saksi betapa aku sangat bahagia

Apa perlu menyebutmu sebagai apa dan siapa,
jika hanya untuk mengatakan kehadiranmu telah menggelitik hatiku

Bagai cawan yang selama ini kosong,
lalu penuh dengan rasa hangat
Bagai pintu yang selama ini rapat, 
lalu terkuak perlahan
dan berbagai rasa menerobos masuk

Tak perlu kusebut kau sebagai apa dan siapa
Karena aku tidak sedang mencari definisi