Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Dear, Zenja...

Kupanggil kau Zenja...
Yang datang kala malam mulai menjelang
Mengirimkan burung-burung camar yang hendak pulang ke sarang
Mengirimkan angin semilir yang menusuk sanubari paling pribadi
Mengirimkan sengau waktu yang diseret mentari

Oh,
Kau Zenja paling kudamba
Yang meluruhkan seluruh daun-daun
Yang menjinakkan seluruh keliaran
Yang membuat takluk debu-debu beterbangan
Yang membuat hati berdegup riuh

Zenja,
Kau yang hadir saban waktu bergulir
Dan aku yang pulang saban waktu bergilir
Kita berpisah saat ujung bibirku bertemu dengan ujung matamu
Kau datang dengan mata terkatup
Aku pergi dengan bibir menganga

Zenja,
Kau tak pernah melihat apa yang seharusnya kau lihat
Sedang aku tak pernah mengatakan apa yang seharusnya kukatakan
Kita menatap dalam diam
Saling bicara dalam isyarat
Takdir membuat kita patuh pada semuanya

Zenja,
Ya, kau Zenja paling kudamba
Karena setelahmu purnama hadir di penanggalan ke-15 
Purnama yang binarnya terpancar di matamu
Karena setelahmu bintang gemintang tak pernah sepi
Bintang yang perci…

Kau Tahu, Cinta!

Kau tahu, Cinta Pagi tanpa menyapamu seperti pagi tanpa kicau burung, hening dan sepi. Membuat dunia seolah terasa begitu menjemukan. Kau selalu kurindukan, seperti pucuk-pucuk daun yang berharap embun selalu datang di pangkal pagi. Dan dengannya cinta semakin tumbuh dan hijau. Dengan cinta itu aku mengukur nafasku dan menghitung denyut nadiku. Karena di setiap detakan jantung aku merasakan kehadiranmu.
Dan kau tahu, Sayang Apa pun denganmu entah itu bercanda, atau kita bertengkar sekalipun, selalu membuatku bahagia. Karena setelah itu selalu ada cinta yang meletup-letup, seperti percik bara api yang menghiasi malam yang pekat. Seperti kunang-kunang yang berkerlipan di ranting pohon di malam hari. Dengannya hatiku menjadi serupa bunga yang mekar. Kau dengan segala kelebihan dan kekuranganmu selalu bisa memekarkan hatiku yang sedang kuncup.
Cinta,
Aku bahagia menjadi bagian hidupmu Kurasa aku telah kehabisan kalimat untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu

Cinta Tak Pernah Sudah

Cinta tak pernah sudah. Sekalipun kita tidak bisa bernegosiasi dengan waktu. Cinta dalam definisiku bukan berarti pertemuan dua mahluk untuk kemudian menyulam banyak puisi. Bukan pula kontak fisik yang dengannya kita bisa mendendangkan semua harmoni.

Bagiku cinta adalah cinta itu sendiri. Yang tidak perlu kuterjemahkan apalagi mereka reka mengenai maknanya. Cinta adalah angin yang bisa kurasakan hadirnya. Yang ada dan nyata meski wujudnya tak pernah berbentuk.

Buatku cinta tak pernah sudah. Meski kita harus mencari definisi baru untuk mengartikan ketidakbersamaan. Kebersamaan hanya akan melahirkan pengharapan dan pertanyaan. Sedang aku ditakdirkan bukan untuk bertanya apalagi berharap.

Aku takkan pernah bertanya pada merak yang bersayap indah. Meski padanya sering kuceritakan tentang mimpi mimpiku. Padanya sering kukatakan tentang segala hasrat. Aku takkan pernah bertanya apalagi berharap. Sekalipun waktu akan meluruhkan sehelai sayapnya yang selama ini membuatnya enggan berpaling.

C…

Catatan di RSZA: Diagnosa Penyakit Mak

MAK perempuan yang hebat, kuat dan tegar. Beliau lahir di Tamiang 47 tahun silam. Di usianya yang belum genap setengah abad, Mak mempunyai segudang kisah hidup yang jika ditulis bisa menjadi berjilid-jilid. Kepingan alur cerita hidupnya sering menjadi pengantar tidur saat kami masih kecil. Dibandingkan kisah bahagia, lebih banyak cerita satir yang membuat mata berembun ketika mendengarnya. Tapi Mak mampu melewati semuanya dengan tegar. Mak tak pernah mengeluh apalagi menyesali takdir hidupnya.

Kini ketegaran itu seolah takluk pada penyakit yang dideritanya. Hampir dua bulan Mak terbaring di ranjang rumah sakit. Pindah dari satu ruang ke ruang lain. Bobot tubuhnya menyusut drastis, matanya cekung, senyum di bibirnya seketika hilang, kalah pada sakit yang menggerogoti tubuhnya. Tenaganya ikut sirna, bahkan untuk memegang piring atau gelas saja tak kuat lagi. Saya bersyukur sebab harapannya untuk sembuh tidak ikut tenggelam, walaupun kadang-kadang tampak sesekali binar matanya meredup.

Catatan di RSZA; Ketika Kami Jadi Warga Rumah Sakit

MENJADI warga rumah sakit? Sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya, apalagi hingga berpuluh-puluh hari. Sekeren dan setinggi apapun tipe rumah sakit tersebut, tetap saja saya dan keluarga tidak pernah mengidam-idamkannya untuk menjadi salah satu pasiennya.

Kenyataannya hingga hari ini, Rabu, 28 Oktober 2015, sudah 53 hari kami menjadi warga rumah sakit. Enam hari di RS Graha Bunda Idi Rayek, sisanya di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Semua cerita ini berawal dari sakitnya Ibu; perempuan terkasih yang saya panggil Mak.

Hampir dua bulan berada di rumah sakit bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang kami (saya) rasakan namun sulit untuk diungkapkan, apalagi dituliskan. Sebagai orang yang beriman, kami tidak lupa kalau ini bagian dari Qada dan Qadar-nya Allah. Saya selalu menguatkan Mak agar ikhlas dan sabar (bukan berarti menyerah), karena sakit akan menggugurkan dosa-dosa kecil seseorang. Sedangkan saya sebagai anak, menjadikan kondisi ini sebagai ladang amal …

Terbentur Rindu

AKU hampir tidak percaya gemuruh ombak yang begitu menggila ini tiba-tiba redam begitu saja. Bahkan senja tak sempat melihat senyum perpisahan darinya. Ia pergi tanpa lambai keangkuhan yang sering kali membuat lunglai. Ia pergi dengan anggun meski tanpa permisi.

Aku lebih tak percaya sebab redamnya gemuruh ini karena engkau. Ouh... siapa aku harus memanggilmu. Angin kah, hujan, atau badai yang berwujud dalam kelopak salju nan lembut. Yang siap menggulungku dalam pusaran rasa yang paling dahsyat.

Aku tahu kau sudah menggulungku bertahun-tahun silam, bahkan jauh sebelum aku tahu apa itu tenggelam. Jika pada akhirnya kita kuyub, kurasa itu karena hujan yang tak sanggup lagi menahan dirinya. Ia menjelma menjadi apa saja, meski tak pernah menampakkan wujudnya yang asli. Rasa, bukankah hanya untuk dinikmati?

Di pengujung senja aku berangsur-angsur pulih. Tidak, aku sedang tidak terluka. Aku juga tidak sedang sakit. Lantas pulih dari apa? Aku sedang tak ingin berdebat dengan jiwaku sendiri.…

Sepotong Surat yang Terpenggal

Dear Zorro...
Jantungku masih berdetak dengan ritme yang sama saat aku menuliskan surat ini. Begitu juga dengan irama nafasku. 
Seperti yang kau tahu, hanya kau yang bisa membuat ritmenya menjadi semacam terjangan angin ribut yang membabi buta. Membuat jantung seperti terguling-guling dan napas tersengal bagai kehilangan oksigen.
Kita sangat sering mendefinisikan cinta, rasa dan juga rindu. Masihkah sama definisinya? Atau, masihkah perlu didefinisikan?
Dear Zorro,
Bagiku, kau bukan sekadar definisi, atau sebuah inisial. Tapi adalah rasa dan rindu itu sendiri. Kau seperti bara yang mampu memercikkan bibit-bibit api, menyala dan membuat semuanya menjadi terbakar. Dan kita menggelepar dalam bilangan waktu yang kuharap menjadi stagnan.
Kamu itu seperti kopi, seksi di nama nikmat di rasa. Senyummu menerjemahkan semua hasrat dan gejolak yang terbenam di sisi paling beku. Meski angkuh sering kali campur tangan dan mencuri semua keindahan itu.
Kau tahu, ada waktu di mana kita harus memadamkan api ya…

Happy Birthday, Sayangku

"Happy Birthday Sayangku" smoga smakin dewasa, smakin jaya, smakin pintar, smakin manis dan juga smakin sayang sama aku. 

I Love U

Salam

Z


---

Dan cinta, atau rindu, atau rasa. Masihkah perlu diberi nama?

Yours

Sebab Kau Bukan Maryam

Dia yang selama ini kau anggap hujan bukan tak mungkin adalah badai berwajah embun. Yang selalu sejuk menenangkan saat kau masuk ke kornea matanya. Yang selalu mendamaikan mana kala hatimu sedang riuh.
Dia yang kau anggap sebagai dahan kokoh untuk menopangmu, bukan tak mungkin hanya ranting rapuh yang mampu melemparmu ke dasar jurang. Kau menjuntai di lengan kokohnya, tanpa sedikitpun ragu bahwa dia takkan memelukmu saat kau terhuyung.
Kau mungkin lupa, bahwa ucapan-ucapannya telah dilumuri gula sehingga kau tak sadar bahwa dia begitu melenakan.
Kau mungkin lupa, jika dia bukanlah payung yang dengan rela melindungimu dari hujan. Karena itu dia terus mengarang cerita tentang musim semi yang indah, dan musim panas yang hangat. Dan kau terjebak pada warna-warni bunga hasil imajinasinya.
Kau mungkin lupa, dia tak bersayap layaknya merak, tapi memiliki pesona yang lebih dari itu. Ia mengibas-ngibaskan pucuk ekornya, sehingga kau terbujuk dan terpesona.
Cinta mungkin telah mengu…

Senja Jatuh

Senja baru saja jatuh dan waktu menelannya perlahan. Di muka jendela, aku duduk sambil menatap julurnya yang perlahan menghilang. Lautan di seberang pucuk cemara telah mengulumnya.

Tiba-tiba saja aku terjebak pada perasaan melankolia yang entah. Ingatanku melayang jauh, padamu tentu saja. Kita pernah menghabiskan senja bersama bukan? Walau tanpa diiringi bilur-bilur merah jingga yang membusungkan dada jelang waktu memeluknya.

Sedang apa kau Cinta?

Pasti di sana matahari masih begitu sombongnya memancarkan cahayanya yang tanpa ampun. Atau angin sedang bertiup pecicilan dan menerbangkan debu-debu yang kering. Membentuk badai gurun dan membuat wajahmu memerah atau matamu perih.

Aku masih ingin sendiri. Membiarkan badai di hatiku mereda dengan sendirinya.[]

Si Ratu Buah

BIBIT-bibit pohon manggis itu disemai di polybag. Jumlahnya ratusan batang dengan rentang usia enam sampai delapan bulan. Tinggi batang pohonnya berkisar antara dua puluh sampai tiga puluh sentimeter. Di tempat usaha pembibitan CV Prima Flora itu bibit pohon manggis siap dijual bersama ratusan jenis bibit tanaman lainnya. Salah seorang pekerja, Rizki Satria, mengatakan peminat pohon manggis di Aceh mulai tinggi, tetapi pada umumnya ditanam dengan pola tumpang sari bersama tanaman lainnya.
Selain itu kata Rizki, pertumbuhan manggis sangat lamban. Saya memperhatikan ‘bayi’ manggis asuhan Rizki, meski usianya ada yang hampir setahun, ketinggiannya belum mencapai setengah meter. Tiap batang mempunyai daun tidak lebih dari sepuluh helai.
Buah tropik itu katanya memerlukan waktu minimal enam tahun untuk berbuah. Literatur lain menyebutkan sekitar 10-15 tahun. Di tempat itu budidaya manggis dilakukan secara generatif.
“Manggis susah dicangkok karena memiliki getah seperti nangka. Bibit-bibi…

Semerbak Seulanga

SORE masih bergayut mendung ketika saya mengunjungi Taman Hutan Kota awal Desember lalu. Hujan baru saja reda. Bercak-bercak air masih tersisa di jembatan kayu yang berfungsi sebagai jalan masuk utama. Kedatangan saya ke taman itu seolah disambut barisan aneka pepohonan dan bunga-bunga yang berwarna-warni.
Lima belas langkah menyusuri jembatan, pandangan saya tertuju pada tanaman perdu yang ditanam di sebelah kiri saya. Tingginya sekitar satu meter dan ditanam di drum minyak bekas. Dari jarak beberapa langkah semerbak aroma menguar dari perdu itu. Saya mendekat, lantas melekatkan hidung pada salah satu tangkai bunganya. Hm… semerbak.
Kenanga. Itulah nama yang disematkan kepada bunga yang mempesona ini. Dalam bahasa Aceh bunga bernama latin Cananga Odorata itu disebut Seulanga. Wanginya tak hanya semerbak, tapi juga eksotis. Barangkali inilah yang menginspirasi perusahaan multinasional asal negeri Napoleon Bonaparte Chanel No. 5 memilih Seulanga sebagai salah satu ingredient-nya.
Ada p…

Titik Balik Aida MA Jadi Penulis

Kata ini memiliki arti yang besar bagi seorang Aida Maslamah, atau yang dikenal dengan nama pena Aida MA. Seperti kata Orhan Pamuk; I Write because I have never managed to be happy. I write to be happy. Aida pun menemukan momentum yang menjadi titik balik yang membuatnya terjun ke dunia menulis.
Sebagai seorang introvert, Aida sulit mengungkapkan banyak hal dengan lisannya. Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan kesedihan. Tak kehabisan akal, ia menuangkan semua yang mengganjal hatinya menjadi tulisan-tulisan yang panjang. Begitulah caranya melepaskan energi negatif dari dalam dirinya.
“Momentum itu justru muncul, saat saya mengalami perubahan hormon yang sangat signifikan. Ketika saya melahirkan anak pertama, saya mengalami kondisi baby blues semacam post partus syndrome, kelelahan demi kelelahan itulah yang saya tuliskan dalam sebuah tulisan. Alhamdulillah dengan menuliskannya saya lebih tenang dan menikmati setiap prosesnya. Sejak itu saya memutuskan menjadi penulis,” ujarny…

Fathun; Aktivis Muda Visioner

DI TENGAH kesibukannya mempersiapkan skripsi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala ini mendapatkan kesempatan yang luar biasa. Pada 28-30 Agustus 2014 mendatang, Fathun akan mewakili Indonesia di Global Forum of the United Nations Alliance of Civilization (UNAOC) di Bali. Ini merupakan kali pertama forum tersebut dibuat di Asia Pasifik, dan Indonesia mendapat kesempatan sebagai tuan rumah.
“Dari dulu sudah punya keinginan untuk mengikuti sebuah konferensi yang dibuat oleh PBB, dan Alhamdulillah ini kesempatan yang luar biasa,” kata Fathun saat berbincang-bincang dengan The Atjeh Times, Sabtu pekan lalu. Untuk lolos ke forum ini Fathun harus bersaing dengan tiga ribuan aplikasi yang dikirimkan anak muda dari seluruh dunia. Ia mengaku menghabiskan waktu sampai sebulan untuk mempersiapkan aplikasinya sebelum dikirim. Hasilnya tak sia-sia, bersama dua pemuda Aceh lainnya Fathun dinyatakan lolos bersama seratus pemuda di seluruh dunia untuk mengikuti acara itu.
Acara itu …

Cerita Mantan Teller yang Sukses Jadi 'Teler'

Pernah bekerja sebagai teller bank selama tiga tahun, cukup membuat Ferhat Muchtar punya ‘modal’ untuk menghasilkan karya. Dalam kurun waktu tersebut ia berhasil menelurkan 17 cerita berdasarkan pengalamannya bekerja di bank.

Cerita-cerita itu bisa dibaca di buku Teller Sampai Teler (TST) yang diterbitkan Elexmedia belum lama ini. Awalnya catatan-catatan itu ditulis untuk seru-seruan saja di blog pribadinya. Sekaligus untuk rekam jejak sebelum akhirnya memutuskan resign pada 2013 lalu.

Di luar dugaan, sambutan pembaca blognya sangat bagus. Selain banyak yang suka dengan cerita-cerita lucu dan konyolnya, banyak juga yang mengusulkan agar kumpulan tulisan itu diterbitkan saja.

“Jadi semangatlah aku lengkapi semua sampai beberapa cerita, ketika sudah cukup kuberanikan diri untuk kirim ke penerbit,” kata  Ferhat kepada ATJEHPOST.co kemarin, Senin 13 Oktober 2014.

Jalannya untuk menelurkan buku tak mulus seperti yang diharapkannya. Meski seluruh naskah sudah terkumpul, dua penerbit pernah meno…

Era dan Fathur; Duta Wisata Banda Aceh 2014

SENYUMNYA mengembang. Dari ja-rak beberapa meter saya melihat sorot matanya yang berbinar. Berbalut longdress ungu motif bunga-bunga, dipadu kerudung polos warna senada, kesan feminim begitu kental dalam dirinya.

Gadis yang ada di depan saya itu adalah Inong Banda Aceh 2014. Namanya Zahratul Fajri, akrab disapa Era. Orangnya supel dan mudah bergaul, itulah kesan yang saya dapatkan setelah dua kali bertatap muka dengannya. Petang Senin, 31 Maret lalu saya dan Era berjanji bertemu di tempat wisata favoritnya, Kapal Apung.

Sesaat kemudian kami segera memasuki pintu gerbang dan menyusuri jembatan tajuk di sisi sebelah kiri, berdekatan dengan lokasi Taman Edukasi. Bagi gadis yang dinobatkan sebagai Inong Banda Aceh (Duta Wisata) pada 22 Maret 2014 lalu ini, objek wisata tsunami Kapal Apung sangatlah istimewa.

“Ini salah satu bukti bahwa bencana tsunami yang pernah melanda Aceh, khususnya Banda Aceh sangat dahsyat,” katanya.

Dawai Biola Menyayat Emperan Dewan

MENENTENG biola, gadis kecil itu melangkah percaya diri menuju fondasi tiang bendera di tengah halaman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Banda Aceh. Dua pria dewasa mengiringi: Jamal Abdullah ayah gadis kecil itu dan Donny Arief musisi Aceh.

Mereka membentuk formasi di atas fondasi. Laksana berada di atas panggung berhias bunga asoka yang memang sudah tumbuh di sana, si kecil Aisyah Suha Nabilah berdiri menyandarkan biola di bahunya. Di kirinya, Jamal duduk berdampingan dengan Donny yang memegang gitar.

Tak lama kemudian, gadis kecil yang biasa disapa Icha itu mulai menggesek dawai biolanya. Perlahan-lahan lengkingannya seakan menyayat hati. Ditingkahi petikan gitar Donny serta suara merdu Jamal yang syahdu menyanyikan lagu “Nazam”, lalu bersambut tepukan tangan penonton.

“Deungon bismillah awai lôn peuphôn, lôn lakèe ampôn seugala desya, lôn lakèe ampôn bak Tuhan sidroe, yang peujeut asoe langèt ngon dônya, neupeujeut uroe lawan ngon malam, neupeujeut Adam ngon Siti Hawa…” Jamal …

Citra Rahman; Backpacker yang Doyan Camping Sendirian

Memakai sweater lengan panjang dipadu celana jeans biru, pria muda itu duduk di antara pembicara dan peserta Bincang Blogger yang dibuat oleh salah satu komunitas blogger di Aceh beberapa pekan lalu.

Namanya Citra Rahman. Di kalangan teman-teman dekatnya pria berkulit cokelat ini biasa dipanggil Citra. Perawakannya kecil, namun memiliki postur atletis karena ia gemar berolahraga.

Begitu namanya dipanggil, microphone lantas berpindah tangan. Ya, Sabtu, 29 Maret lalu Citra Rahman menjadi salah satu pembicara di acara itu. Ia sengaja diundang untuk menginspirasi sejumlah anak muda mengenai ketertarikannya di dunia traveling dan literasi.

Backpacker Cilet Cilet. Itulah julukan yang ditabalkan untuk dirinya. Nama backpacker merujuk pada hobi jalan-jalannya. Sedangkan cilet-cilet yang berarti ‘asal-asalan’, menurutnya karena ia bukan termasuk seorang backpacker 'sejati'.

Obsesi Gadis Pemetik Biola

“Nada ingin sekali bisa tampil di depan Gubernur Aceh,” kata Nada Zaiyyana Haula, gadis remaja berusia 14 tahun yang pandai memainkan biola itu. Keinginan itu adalah hal yang memungkinkan bagi Nada.

Bukan tak mungkin suatu saat ia bisa memainkan biolanya di depan Gubernur Aceh sebab beberapa waktu lalu gesekan biolanya telah menarik perhatian Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza. Saat itu Nada dan teman-temannya di El Hakim Band sedang tampil. Illiza yang menghadiri kegiatan itu tiba-tiba meminta mikrofon dan langsung naik ke panggung untuk bernyanyi bersama mereka. “Rasanya senang sekali bisa satu panggung dengan Bu Illiza. Kami sangat senang dan bersemangat waktu itu,” kata Nada, kepada The Atjeh Times, Senin pekan lalu.

Gesekan biola Nada ketika mengiringi lagu When I See Your Smile di acara seni lintas kebudayaan Thirsty Mic beberapa waktu lalu, juga mampu menarik perhatian penonton. Tak hanya pandai memainkan senar biolanya, Nada juga mampu menyatu dengan alunan musik yang dicipta…

Wahai Mendung

Wahai mendung, Tidakkah kau punya keinginan, sekali saja dalam hidupmu untuk menanyaiku; apakah aku berharap hujan turun?Selama ini aku hanya mengenal embun, yang selalu hadir di ujung malamMengapa kau begitu sombong, dan selalu angkuh dengan dada membusung, bahwa di dalamnya kau simpan berjuta-juta benih yang kau sebut bayi hujanKau mengenalkan aku pada suara gemuruhmu yang menakutkan, dan perlahan aku belajar mengikuti harmoninyaKau mengajarkan aku pada badai, yang kau sebut sebagai satu-satunya cara untuk melahirkan hujanKau mengenalkan aku pada petir, yang kau sebut sebagai puncak rasa
Lalu di mana hujan yang kau ceritakan itu?Jika kaupun tak pernah yakin kalau hujan itu ada, mengapa tidak kau kirim terik yang membuatku mati seketika
Minggu dini hari, 1 Maret 2015

Bee Meuhoeng di Kawasan Pendopo

Ada yang menarik perhatian saya belakangan ini setiap kali melintasi Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Kawasan ini bagi saya sangat istimewa, karena di lokasi inilah Makam Sultan Iskandar Muda berada. Sultan yang pernah membawa Aceh ke puncak kegemilangan. Membuatnya terus dikenang dan disebut-sebut hingga hari ini. Dibanggakan anak cucunya.
Rumoh Aceh dan Museum Aceh juga berada di kawasan ini. Tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan untuk ‘melihat’ Aceh dari dekat. Di samping itu ada Gedung Juang, gedung yang berfungsi sebagai kantor Shu-chokan (Pemerintahan Militer/Residen Aceh) ketika Jepang masuk ke Aceh tahun 1942. Di halaman kantor itu tempat kedua dikibarkan bendera Merah Putih oleh pejuang Aceh setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI.

Wabah Batu Akik

BATU akik tampaknya bukan lagi sebagai fenomena, tapi telah menjadi 'wabah'. Karena hampir tak ada orang yang sepertinya tidak membicarakan batu akik. Terlepas apa pun konteks yang mereka bicarakan.

Buat saya, batu akik bukanlah semacam alienasi. Sejak kecil sudah pernah melihat yang namanya batu cincin. Belakangan saja baru tahu kalau batu cincin itu merupakan hasil akhir olahan batu akik atau batu alam.

Perkenalan intens dengan batu akik bermula pada awal 2012 lalu, waktu itu tidak sengaja datang ke pameran batu akik yang dibuat di Taman Sari Banda Aceh. Saya bertemu dengan ketua Ikatan Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh alias GaPBA. Namanya Nasrul Sufi. Dialah yang mengenalkan saya pada banyak jenis batu akik; yakud, kecubung, dan giok. Bentuknya sudah berubah dalam wujud batu cincin, gelang, gasper, dan kalung.

Di pameran itu saya juga melihat langsung proses pengolahan batu-batu alam itu sehingga menjadi batu-batu yang indah, dan tentu saja harganya juga tinggi. Soal harga,…

Sebab Aku Cinta

Sebab aku cinta, maka mendoakanmu menjadi kerelaan Amarahku seumpama gumpalan es yang mencair dengan sendirinya Seperti debu yang diterbangkan para angin Begitulah rasa menghapus semua kealpaanmu
Sebab aku cinta, maka aku ingin melengkapi Seperti percintaan lebah dan bunga yang menawan Seperti angin yang mengawini bunga-bunga padi
Sebab aku cinta, maka kau selalu ada

dedicated for Z


Rindu, Api dan Cinta

Rindu itu seperti api, menghangatkan saat kecil, membakar ketika besar. Cinta tanpa rindu, seperti ruang tanpa udara, tak berdesir. 

Saat waktu perlahan beranjak dan mengulum cahaya dengan segala kerakusannya, hanya gemuruh rindu di relung batin yang tak sanggup ditenggelamkan. Rindu tetap melekat erat, seperti sel kanker yang merapat lekat, lalu jasad mati karenanya.

Aku rindu pada 'rindu' yang menggelenyar, yang berkecipak-kecipuk, bersorak gaduh. Saat malam benar-benar gelap, hanya rindu yang menjadikan semuanya terlihat begitu indah. Rindu menerbitkan ribuan bintik bintang di mata, membuatku berkedip-kedip karena takjub.

Rindu yang berdenyar-denyar itu, kaulah pemantiknya, Cinta.[]

Cinta Kedua

Aku sedang terburu-buru saat ponselku berdering malam itu. Telepon dari Emak. Tombol shut down di komputer baru saja kutekan. Aku juga masih harus merapikan meja kerjaku dulu sebelum pulang. Kertas yang berserakan, pulpen, tape recorder, membuat meja kecil ini terlihat semakin sempit. Deringan pertama berlalu begitu saja, aku berniat menelepon Emak setiba di rumah nanti. Biasanya jam segitu aku masih stand by di kantor. Pekerjaan sebagai jurnalis memang menyita waktuku. Aku terbiasa pulang kerja malam hari, bahkan jika sedang mengejar tenggat tak jarang sampai menjelang larut malam. Tapi malam itu, walaupun azan Isya belum berkumandang aku memutuskan untuk menyudahi aktivitasku. Sejak petang kurasa tubuhku menghangat. Tenggorokanku juga terasa panas. Namun mendengar deringan telepon dari Emak yang kedua kalinya, terpaksa kuurungkan niat untuk segera pulang. Tak biasanya Emak seperti ini. Mendadak aku jadi was-was.

Belajar Ekologi di Hutan Kota

Hadirnya Taman Hutan Kota memberikan suasana berbeda bagi masyarakat urban yang sehari-hari kerap diserbu polusi
SEKELOMPOK remaja menyusuri lorong jalur pejalan kaki di Taman Hutan Kota BNI. Mereka saling berceloteh dan tertawa riang. Kadang berlari kecil sambil saling berkejar-kejaran. Sesekali, salah satu di antara mereka menunjuk-nunjuk ke sekitarnya. Puluhan jenis tanaman yang mereka lihat di sana rupanya cukup menarik perhatian.
Setelah menyusuri lorong berkelok sejauh beberapa puluh meter, mereka mulai menapaki jembatan tajuk yang menanjak. Usai menuruni jembatan tajuk ada beberapa fasilitas bermain seperti perosotan dan enjot-enjotan. Di sanalah mereka berhenti untuk menikmati fasilitas gratis itu. Layaknya pergi piknik, sekelompok remaja yang mengaku tinggal di Darussalam itu juga membawa makanan kecil untuk disantap bersama.
Jembatan tajuk di Hutan Kota BNI yang berada di Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh telah menjadi ikon tersendiri yang menjadi daya tarik peng…

Kota Pusaka di Ujung Barat Indonesia

Belum lama ini saya berkesempatan berkeliling Banda Aceh. Ibu Kota Provinsi Aceh ini hanya seluas 61,36 km² yang terbagi menjadi sembilan kecamatan. Tak memerlukan banyak waktu untuk mengunjungi sejumlah tempat menarik di sini. Banda Aceh baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-809. Mendengar jumlah usia kota ini saja sudah membuat saya terkagum-kagum. Di usianya yang sudah lebih dari delapan abad ini, entah sudah berapa peradaban terbangun di atasnya. Karena itulah Banda Aceh ditabalkan sebagai salah satu Kota Tua dan Kota Pusaka di Indonesia.
Wisata Religi
Islam dan Aceh pasangan yang serasi. Sejak belasan tahun lalu provinsi di ujung barat Indonesia ini resmi memberlakukan perda syariah. Banda Aceh sendiri kian gencar mempromosikan sektor ‘wisata religi’ dengan berbagai destinasi menarik yang dimilikinya.
Para pelancong tak perlu khawatir, karena  perda tersebut hanya berlaku bagi warga lokal. Karenanya jangan lewatkan kesempatan berwisata religi ke beberapa destinasi khusus.  L…

[RESENSI]: Jetty Maika; Balet dan Cita-citanya untuk Indonesia

Judul              : Jetty Maika: Bertahan di Ujung Pointe…
Penulis          : Budi Maryono dan Gana Stegmann
Tebal              : 167 halaman
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  : 2014

JETTY Maika adalah seorang balerina ternama di Indonesia. Karirnya sebagai penari balet dimulai ketika usianya 18 tahun pada 1985 silam. Ibu dua anak ini pertama kali ‘terjerumus’ ke dunia balet sejak usia lima tahun. Semuanya gara-gara sang ibu yang dipanggilnya Mami.
Tanpa sepengetahuan Jetty, Mami mendaftarkannya ke sekolah balet. Setiap akan berangkat ke tempat les Jetty selalu menekuk wajahnya. Sinyal kalau ia tidak suka dan merasa terpaksa, tapi sayangnya Mami tak pernah merespon ‘pemberontakannya’.
Padahal, Jetty kecil bercita-cita ingin menjadi pramugari. Cita-cita yang selalu dikaitkan dengan keinginan berkeliling dunia secara gratis. Meski gagal menjadi pramugari balet mewujudkan cita-citanya untuk berkeliling dunia.
Sejak kecil dunia Jetty hanya terbatas pada dua hal saj…