Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id 

Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone, tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini.

Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop.

Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini?

Berprofesi sebagai jurnalis membuat saya…

Bulan Tak Lagi Menarik

Sudah lama bulan tak lagi menarik buatku. Mungkin sejak aku ingin melupakanmu dengan sungguh-sungguh.

Luka. Luka. Luka

Luka. Luka. Luka.
Kurasakan asin air mata hinggap di sudut bibir
Jatuh dari indra. Merasuk kembali ke indra.




Aku Milik Siapa?

Ada hal-hal kecil yang selalu menjadi pertanyaan menggelitik bagi sepasang kekasih yang saling mencintai: seberapa berartinya aku untukmu?tapi aku tidak berani bertanya padamu tentang itu. aku sudah tahu jawabannya. jadi kunikmati saja semua ragam perasaan ini:cinta yang meletup-letup! rindu yang meruak-ruak! dan cemburu. cemburu yang amat sangat menyiksa!cemburu. sekalipun bercampur semilir angin, dia takkan pernah mengirimkan kesejukan. apalagi berpikir akan berubah menjadi oase tatkala dicampur berdebit-debit air.ingin sekali aku menjadi kamuyang dicintai sepenuh hatidirindui sepenuh jiwadisebut-sebut di setiap doatetapi selalu disembunyikan di balik cakrawala di hatinya selalu menetapberdiam laksana karangtak tersentuh oleh apa punbegitu rapat ia sembunyikansebab kamu hanya miliknyaaku milik siapa?

Selamat Tinggal Januari

Selamat tinggal Januari. Selamat tinggal semua kisah masa lalu. Segala sesuatu yang telah dimulai pasti selalu ada akhirnya. Ada endingnya. Terserah, suka atau tidak dengan ending itu. Mau menerima dengan hati legawa atau dengan kerelaan yang terpaksa.

Aku menerimanya. Dengan lapang dada. Karena aku percaya, Tuhan mempercayakan aku untuk semua yang telah terlalui.

Aku ingat. Belasan tahun lalu. Ah, sudah sangat lama ternyata. Sudah belasan Januari pula yang terlalui. Banyak cerita demi cerita yang tercipta. Cerita itu kita tutup dengan satu pertanyaan sederhana dan jawaban yang sederhana pula.

"Apa keinginanmu di tahun ini?"

"Ingin menjadi lebih baik."

Ya. Sama. Kau dan aku menginginkan kehidupan yang lebih baik. Baik. Sulit untuk kita menerjemahkannya, ya? Sulit untuk kita mendefinisikannya.

Seperti apa kehidupan yang baik itu? Entah. Aku hanya merasa sekarang lebih baik. Aku lega. Hatiku seperti hamparan mahaluas. Tak sedikit pun kulihat ada ceruk yang membuatku…