Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Yang Tak Pernah Kembali

MENTARI baru saja pulang. Terburu-buru. Di kejauhan sang waktu berdiri sambil berkacak pinggang. Seolah berkata; kalau kau tak segera pulang, maka kau akan mendapat hukuman dari pemilik semesta. Mentari selalu patuh. Tak peduli bagaimanapun semua makhluk berharap agar ia bertahan lebih lama walau sedetik saja. Mentari tak ingin mencuri jatah rembulan. Kekasih yang sudah dipasangkan pemilik semesta untuk menjadi temannya di dunia ini. Meski tak bisa terbit bersamaan, baginya justru itu merupakan bentuk ketulusan dan kerelaannya dalam memiliki. Akupun beranjak. Menyudahi ritualku menyaksikan seremoni pergantian waktu dari terang menjadi gelap. Bersamaan dengan rapatnya daun jendela, bulan sudah menyembul di balik gumpalan awan. Semuanya menjadi senyap. Daun-daun berhenti bergemerisik. Burung-burung sudah kembali ke sarang. Dering telepon mengagetkanku. Kulipat sajadah. Kemudian bangkit meraih smartphone di kasur. Panggilan masuk dari Julie. "Ya, ada apa?" "Suaramu lemas sek…

4 Jurus Sarkas Menjawab Pertanyaan 'Kapan Nikah?'

SERING mendapatkan pertanyaan 'kapan nikah' ada kalanya memang menyebalkan ya, Ladies. Apalagi kalau pertanyaan itu datang pas masa-masa PMS atau tanggal tua, apa hubungannya ya hihihi.... Lebih-lebih kalau yang nanya itu temen sendiri yang nikahnya juga baru bulan kemarin. :-P

Tapi nggak perlu sewot sampai berewokan kok, Ladies. Santai aja. Telat menikah bukan berarti kamu nggak laku, bisa jadi jodohmu nanti adalah Shahrukh Khan atau Brad Pitt. Syukur-syukur bisa dapat pangeran Arab yang gantengnya bikin hati meleleh. Atau jangan-jangan malah Arap Maklum xixixixi.

Biasanya, kalau ada yang nanya begituan apa sih jawaban kamu? Diem aja, senyum-senyum aja, kedip-kedip, atau cengengesan sambil bilang.....'cariin dong' dengan muka memelas kayak daun talas keriting.

Lentera

Malam sudah terlalu uzur. Harusnya aku sedang terbuai mimpi sekarang. Tapi apa daya, kandungan kafein dalam kopi instan yang kuteguk usai magrib tadi masih membelengguku. Terus terang, aku membenci situasi seperti ini.

Tak bisa tidur artinya akan banyak kenangan yang melintas tanpa permisi. Melenggang bagai penyanyi di panggung murahan yang mengundang hasrat. Mau tak mau aku terpaksa mengingatnya kembali. Memejamkan mata bukan untuk tidur, melainkan untuk mengingat kenangan.

Kenangan paling mengusik itu adalah tentangmu, Tera. Pertama-tama aku akan terlempar ke Sabtu sore saat pertama kali kita berkenalan. Di sebuah taman peninggalan raja paling masyur negeri ini. Aku ingat sekali, kau mengenakan jeans pudar dengan atasan kemeja flanel kotak-kotak hitam dan merah. Simbol ketegasan dan keberanian. Dua warna yang juga amat kusukai.

Kau, dengan kamera ponselmu memotret semua objek yang menurutmu menarik. Aku memperhatikan gerakanmu dari jauh. Kadang kau berjongkok, ada kalanya duduk, atau m…