Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Menanti Januari

sore ini, ketika aku melewati jalanan yang biasa aku teringat pada sesuatu. Bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menghadirkanmu setiap kali aku merinduimu. dan aku bersyukur karena panca inderaku masih begitu peka terhadap pesan-pesan yang dikirim dengan isyarat apapun.

seperti hari ini, aku teringat bahwa desember sebentar lagi akan berakhir dan kita bersiap-siap menyambut januari. bulan-bulan yang tergabung dalam kumparan tahun selama ini adalah akumulasi dari cinta dan rindu yang tercipta, akumulasi dari kesabaran menahan semua gejolak dan rasa, akumulasi dari seluruh ruang jiwa yang sering melakukan pencarian.

dan semoga saja januari ini mampu memberi jawaban atas segala pertanyaan yang sering dilontarkan oleh hati selama ini. bahwa semuanya akan baik-baik saja, seperti yang pernah kau katakan untuk meneguhkan hatiku. aku percaya bahwa akan ada ritme lain yang bergetar sesuai dengan irama alam, dan kita harus menyesuaikan diri dengan ritme tersebut. semuanya adalah cerita tentang des…

Untukmu & Untuk Tuhan

Di manapun kamu, bagaimanapun kabarmu, aku hanya bisa berharap dan berdoa supaya kamu selalu dilindungi oleh Allah dan selalu diberikan kesehatan.dan aku berharap kamu bisa dan sempat membaca catatan kecil ini. Tulisan ini kubuat bukan sebagai sapaan basa-basi hanya untuk mencari perhatian dari siapapun. Perhatian, sekecil apapun bentuknya, bagi kita mungkin telah kehilangan makna.Catatan ini kubuat juga bukan untuk menceritakan perasaaan rindu dan kehilangan yang bertubi-tubi, rindu itu seperti mata air yang terus menerus mengeluarkan air sekalipun tidak ada seorangpun yang mengetahui atau mengambil air itu. Air itu akan tetap mengalir dan terus mengalir, begitu juga rindu, ia akan terus ada dan akan selalu ada. Walaupun kamu tidak pernah merasakan (atau pura-pura tidak tahu) kalau aku selalu menyimpan rindu yang besar dan banyak untukmu.Satu hal yang sering aku lupa bahwa kita dipertemukan oleh perbedaan, artinya sekuat apapun aku berusaha membuat persamaan, kita tetap…

Happy Milad; My beloved Z

-->
Sebab selalu ada cinta bagi lelaki yang berulang tahun di hari ini, sebab selalu ada kasih dari hari-hari yang terlalui sebelum dan sesudah tanggal ini, sebab aku cinta maka aku mengingatnya untukmu, melekatkannya dalam jejaring benak dan tak ada masa waktu yang bisa mengelupaskannya.
Karena bagiku lelaki hebat adalah lelaki sederhana yang mampu membuatku bergetar dan terpesona setiap kali mengingat namanya; dan itu hanya namamu. Nama yang tergrafir rapi dengan tinta ingat dan menjadi sumber inspirasi. Nama yang bisa menyemangati meskipun pemilik namanya entah ada di mana. Karena di balik nama itu mengalir di dalamnya ruh dari jiwamu yang layak dan patut dicintai dan dihormati sepenuh hati.
Tidak ada antara dalam mencintaimu, karena perantaraan hanya membawa pada ketidak sampaian. Dan ketikdaksampaian merupakan lolongan panjang serigala malam yang ingin menggapai purnama. Tidak ada antara yang utuh. Maka kupilih mencintaimu dengan caraku; cara paling sederhana yang tidak membutuh…

Kau, yang diapit dua pohon selaksa Malaikat

Mungkin itu memang kamu, yang dikirimkan Tuhan dengan cara berbeda. Bukankah selama ini aku meminta agar Tuhan mempertemukanmu denganku? Dan bila kemudian kau hadir di selaput kabut yang basah dan dingin, di antara rintik asap dan rinai hujan yang basah dan lembab, sebasah dan selembab hatiku saat menunggumu datang. Itu adalah anugerah dari sebuah pengecualian.
Kau yang diapit dua pohon selaksa malaikat. Mungkin adalah sebuah pertanda bahwa engkau memang harus dijaga agar selamanya ada. Agar selamanya tumbuh, agar selamanya hidup, di sini; di hatiku. Untuk diingat, untuk dikenang, untuk dijadikan sejarah; untuk dituliskan. Semua kisah tentangmu.
Kau yang berada di antara jalan setapak yang panjang dan lurus, dalam samar pagi dan keliaran rumput ilalang. Seperti meliuk-liuk mengikuti harmoni alam yang gemulai dan menggairahkan. Kau yang terlihat seperti menyatu dengan awan-awan segar, seperti hendak terbang ke nirwana. Menemui Tuhan, lalu meminta ijin untuk bisa kembali ke hadapanku.
25-0…

Rindu dan Ingatan

Mungkin aku bisa bersabar dari apapun, tapi aku tidak bisa bersabar dari rindu terhadapmu. Bahkan mungkin aku bisa alpa dalam banyak hal tapi aku tidak pernah alpa mengingatmu.

Memang, rindu dan ingatan itu sendiri tidaklah seperti mercusuar yang menjulang tinggi dengan cahaya yang berpijar. Berdiri gagah melanglang mayapada dan melahirkan decak kagum. Tidak pula seperti puncak gunung mahatinggi yang diselimuti salju yang putih dan dingin. Yang menghipnotis manusia untuk datang mengunjunginya. Sungguh, rindu dan ingatan ini bukan seperti lautan mahaluas yang penuh dengan riak dan gelombang yang serasi. Yang mampu menyedot ribuan bahkan jutaan manusia untuk mendataginya saban hari. Persis seperti gaya gravitasi yang tidak dapat ditentang.

Rindu dan ingatan ini nyaris seperti debu yang beterbangan dan menempel di dahan-dahan kecil, yang tak terlihat dan tak mampu terjamah. Tak berharga dan seringkali dianggap tak berarti. Tetapi suatu waktu hanya debu itu yang bisa menggantikan diri untuk…

Pada buku bersampul Violet

Di buku-buku yang terserak aku menemukan obat bagi sakitku. Gelisah yang bertubi-tubi merajam diri di setiap malam menjelang. Lalu pada bait-baitnya yang begitu teratur, aku menemukan sejumput penawar bagi bisa yang tercipta begitu saja. Bisa yang kadang menjelma menjadi racun namun di lain waktu berbeda menjelma menjadi penyembuh.

Sakit yang seringkali aku ingin melepasnya dan berharap semuanya menjadi terbiasa, tapi dari kalimat-kalimat panjang sang legenda aku menemukan arti dari sakit itu sendiri. Sakit adalah kenikmatan untuk kehidupan selanjutnya. Sakit tak harus dihindari, sakit jangan diharapkan menjadi kekebalan agar kita terbiasa, tapi rasakanlah kesakitan itu, nikmatilah setiap potongannya, sambil terus mencari jalan untuk keluar darinya. Kelak ketika kita dewasa, sakit itu akan menjadi kenangan.

Di lembaran-lembarannya aku mulai memahami bahwa tuntutan hanya akan menimbulkan kesakitan, maka bersabarlah, memberilah, jangan pernah meminta, pemberian adalah cermin kebesaran jiw…

Kepada Tuhan Kamu Kutitipkan

Hanya kepada Tuhan saja aku berani menitipkanmu, karena aku hanya percaya kepada Tuhan. Mata Tuhan tersebar di mana-mana, itulah yang membuatku yakin dan tenang bila kamu bersama Tuhan. Telinga Tuhan bertebaran di seluruh penjuru mata angin, itu lah yang membuatku tak was-was bila kamu bersama Nya. Dan hanya bila bersama Tuhan, kamu akan selalu terjaga dan terlindungi.

Kalimat-kalimat yang terus terngiang di sepanjang tidurku semalam, sampai aku terlelap, dan kata-kata yang mengapung dalam benak tak sempat terkirim dalam saku hatimu. Sejenak setelah kita mabuk dalam cerita yang panjang, aku takluk dalam kantuk panjang yang mengatupkan mata. Hingga kemudian aku terjaga ketika kau kembali hadir dalam ruang imajinasiku yang kusebut sebagai mimpi. Di sepertiga malam yang begitu tenang dan senyap.

Ini akhir yang sepi, jeda yang panjang akan melemaskan seluruh otot jiwa dan hati. Semua rahasia hanya terjamin bila aku mengaduh kepada Tuhan. Maka, hanya kepada Tuhan kupercayakan untuk menjagamu…

Belajar dari Yusuf

Bila Tuhan mentakdirkanku menjadi Yusuf Subrata dan kamu ditakdirkan menjadi Cut Tari, sunguh, aku belum tentu sanggup menerima kenyataan seberat itu. Tapi Tuhan memang seorang pembuat skenario yang baik, dan Dia tak pernah salah dalam memutuskan siapa akan memerankan sebagai apa. Karena itu aku ditakdirkan menjadi I dan kamu ditakdirkan menjadi Z. Seperti katamu, setiap jarak yang tercipta sepanjang I dan Z adalah rangkaian kerinduan yang mempermudah kita memperoleh cinta. Kita mempunyai peran masing-masing.

Aku mencoba belajar dari kesabaran dan kebijaksanaan yang berhasil diciptakan oleh seorang Yusuf, meski kesalahan yang pernah kamu atau aku lakukan tidak separah yang dilakukan oleh Cut Tari. Apapun jenisnya, tetap saja kita pernah melakukan kesalahan. Sekecil apapun, kesalahan itu tetap akan melukai hati dan perasaan kita. Aku dan kamu.

Aku belajar tentang totalitas dalam mencintai, seperti cinta Yusuf kepada Cut Tari, bahwa cinta adalah kita ada untuk orang yang kita cintai di s…

Lentera yang Lahir dari Rahim Nama

Memang hanya selalu diam yang tercipta setiap kali waktu mengantarkan kita pada keadaan bernama pertemuan. Dan memang hanya itu yang diinginkan keadaan pada waktu itu. Sebab diam selalu memberi keleluasaan untukku menikmati wangi parfummu. Hanya diam yang mampu menenggelamkanku dalam balutan imajinasi yang menggebu. Dan hanya diam yang membuatku kenyang menatap manik matamu.

Dan bibir, menarik segaris senyuman untuk menterjemahkan pergumulan rasa. Kita hanya butuh diam. Sebab keadaan bernama pertemuan tidak membutuhkan celoteh riang. Karena kata hanya dibutuhkan ketika jasad sedang berjeda. Bahasa tubuh kita tidak memerlukan rayuan seperti yang selalu dikirimkan langit kepada alam. Karena jiwa kita mempunyai bahasa sendiri untuk saling mengerti. Semuanya dalam diam!

Kesakralan tercipta dalam diam. Seperti prosesi ijab qalbu yang telah kuikrarkan sejak bertahun-tahun silam. Saat aku melamar hatimu untuk hidupku. Sebelum rahim namamu melahirkan geletar yang terus tumbuh dan hidup. Dan ia …

Aku Lelah Memanggilmu Cutbang

Entahlah. Sejak pertama kali melihatmu aku merasa bahwa kita akan menjadi dekat. Dan ketika kita semakin sering bertemu aku bertambah yakin kalau kamu adalah jodohku. Tapi saat itu belum ada rasa cinta untukmu. Hanya sebatas rasa suka dan kagum. Kekaguman yang memaksaku untuk bersikap dingin terhadapmu.

Kita jarang bertukar sapa. Kecuali jika memang sangat-sangat kepepet seperti saat berpapasan di pintu masuk atau ada keperluan lainnya yang tak dapat didelegasikan. Kaupun, sepertinya memang tak begitu menganggapku penting. Aku menduga-duga saja karena sebagai ketua kelas kau jarang sekali meminta bantuanku yang waktu itu kebetulan menjadi sekretaris kelas. Tapi aku senang, kecanggungan yang tercipta di antara kita membuatku terbebas dari berbagai kesibukan sekolah. Dan aku bisa fokus sepenuhnya pada pelajaran.

Itu cerita belasan tahun silam. Saat kau dan aku masih duduk di bangku sekolah menengah ekonomi atas. Kupikir cerita tentang rasa kagum itu akan hilang begitu…

Dalam Gerimis

Di hujan gerimis itu, kulihat kau berjalan pelan. Matamu lurus menerjang butir-butir hujan, badanmu melayang-layang terkibas angin yang kencang. Sementara langit yang merah kian menenggelamkanmu dalam silau yang panjang. Kau tersaruk-saruk dalam desau angin yang liar.

Aku menyusurimu di belahan jalan yang lain, mengamatimu, mengikuti gerakmu yang mistis, menyeimbangkan diri dengan liukan angin yang begitu nakal. Aku ikut tersaruk, dalam desau angin, ikut tenggelam dalam silau yang dahsyat.

Kita berjalan beriringan, namun dalam ritme badan jalan yang berbeda, aku melihatmu, memanggilmu, tapi suara lengkingku hilang sebelum resonansi suara sampai ke telingamu. Kau tetap berlalu dan aku terus mengejar. Setiap kali aku akan meraih lenganmu yang terapit-apit, setiap kali pula kau terlempar pada jarak yang begitu jauh. Seperti apa kau berjalan, secepat kilat yang sesekali datang bersamaan dengan gemuruh yang resah. Aku ternga-nga, ada apa gerangan denganmu?

Masih dalam hujan yang gerimis, kali…

Di ambang pintu

Melihatmu berdiri di ambang pintu, menjelang malam, sekilas kau melempar senyum ketika mata kita saling bertemu. Memakai baju motif kotak-kotak, dipadu celana jeans, kau terlihat muda dan energik sekalipun usiamu tak lagi cukup muda. Apalagi dengan potongan rambutmu yang pendek sehingga telingamu kentara terlihat.

Aku masih tersenyum, ketika kulihat seseorang turun dari mobil lalu menuju ke arahmu, mataku mencari-cari manik matamu untuk menanyakan sesuatu. "Diakah?" tanyaku dengan pandangan mata memberi isyarat. Kau tersenyum pertanda iya. "Benar", aku yakin itulah jawaban yang kau beri ketika itu sekiranya kita dekat. Sayang, aku hanya dapat melihatnya sebentar saja, sebab senja semakin gelap dan aku harus segera pulang.

Aku kembali tersenyum ketika hampir satu jam kemudian melewati rumahmu. Tapi kali ini sedikit rasa satir dan getir. Pintu rumahmu kulihat terbuka, menganga, tapi kalian sama sekali tak mampu kutangkap bayangnya. Ah...mungkin saja kalian sedang asyi…

Laut*

Laut!

Oleh: Ihan Sunrise

Angin selalu bertiup seperti ini. Dingin. Beku. Sepoi yang kirimkan sendu dan kemirisan. Leguhan kesakitan yang tak pernah usai.

Tatkala mataku tertahan pada kerlip lampu nelayan di tengah lautan, akumulasi kesedihan dan kemarahan mengorgasme dalam jiwa. Pemberontakan yang tak pernah menemukan jalan keluar. Sebab bunda selalu bisu. Bungkam atas setiap tanya yang kulontarkan. Mulutnya terkunci. Mungkin juga pikirannya.

Maka aku merasa tak lebih hidup sebagai pecundang yang sarat keraguan. Imajinasi yang terus menerus tersekat perasaan. Aku tak bisa berkhayal dengan sempurna. Hidupku tak bergradasi.

Tiap kali kudapati bundaku mematung di ambang pintu, maka setiap kali pula resah menggelantung dalam benakku. Tanda Tanya besar menggelinjang-gelinjang dalam pikiran. Apakah yang disaksikan bunda saban hari dari ambang pintu itu? Tak pernah kutemukan jawabannya selain diam-diam kulihat ia menyeka air matanya.

Lain waktu, aku berdiri di tempat yang sama. Membuang jauh…

Pertemuan dalam ruang Imaji

Aku takjub! Tidak. Bukan. Tepatnya heran. Sebab baru kemarin aku berfikir tentang kalian. Menempuh perjalanan sejauh lima puluh kilometer aku sengaja mengatup mata agar kalian bisa hadir bersamaan dalam ruang imajiku. Dan benar saja, kalian hadir begitu memikat, nyaris sempurna. Dan aku merasa senang, juga rasa puas yang begitu besar. Sebab aku bisa pertemukan kalian, walau hanya di ruang imaji yang terbatas.
Takdir berperan besar terhadap perkenalan kita, tentu juga perkenalan antara kau dan dia. Dan kedekatan yang tercipta di antara kita seratus persen aku yakin karena ruang gelisah yang kita punyai mempunyai panjang dan diameter yang sama. Pendeknya, kita bisa bertukar kenyamanan sehingga kita merasa cocok dan bisa bersahabat. Tentu itu tidak mudah bukan mengingat masing-masing kita adalah pribadi yang tertutup.

Tetapi kedekatanmu dengannya, aku yakin karena ikatan kimia yang lain, bukan untuk bertukar kegelisahan, bukan untuk bertukar kekhawatiran, tapi hanya tempat untuk mengekspl…

Meulinte*

Meulintee
Oleh: Ihan Sunrise

“Mak tak habis pikir.” Kataku begitu kami tinggal berdua dengan anak gadisku. Nurul. “Tak habis pikir apanya?” Tanya Nurul, anak perempuanku bingung.“Dengan jalan pikiranmu.” Kataku cepat“Memangnya kenapa dengan jalan pikir Nurul?”“Seperti hana pikeran.”“Lalu yang punya pikiran itu bagaimana, Mak?” Tanya Nurul agak tersinggung.“Ya jangan bawa laki-laki itu ke rumah.” Pungkasku Nurul yang sedang membereskan meja setelah memindahkan gelas dan piring kecil berisi kue untuk tamuanya tadi tak jadi beranjak. Ia duduk di tempat tamu tadi duduk. Di tangannya masih menggantung kain lap kecil yang akan ia gunakan untuk membersihkan meja bekas tumpahan air teh.“Terus bawa ke mana? Bang Jack kan mau berkenalan dengan Mak. Wajar kan kalau calon menantu mau berkenalan dengan calon Mak Tuannya. Masak Nurul bawa ke pasar dan pos jaga. Apa kata orang nanti? Masak anak gadis mak rayueng-rayueng lelaki ke sana ke mari tanpa mak kenal siapa orangnya.”“Kalau…

Untukmu, Untuk Lautan

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sejak bertahun-tahun yang lalu. Kurasakan perbedaan dari caraku merindui dan mencintaimu. Rasa yang begitu melesak-lesak dalam jiwa, menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menemuimu.

Maka sebelum matahari tergelincir, ketika langit masih memerah saga. Aku telah berada di tempat itu, menyusuri jalan-jalan yang pernah kau lintasi beberapa waktu yang lalu. Menaiki bebatuannya yang bersusun. Merasakan lembutnya angin pantai yang tajam. Mendengar deru dentum ombak yang berkecipuk. Menyaksikan cicak-cicak laut yang menempel di bebatuan yang basah. Kepiting yang berlarian dan siput-siput kecil yang kecoklatan.


Aku takjub. Bukan pada diriku sendiri, tetapi pada yang melesak-lesak begitu kuatnya di dalam hati. aku berdiri menghadap lautan. Membentangkan kelopak tangan. Meliarkan pandangan mata. Meneriaki gemuruh. Ya, aku datang menemui lautan. Untuk bertemu dan berdialog denganmu. Laut! Dan juga engkau.

Sesuatu yang tak begitu kusukai sejak dahulu. Karena men…

Jangan Membunuh Kenangan

Jangan Membunuh KenanganMencium jemarimu adalah ritual paling dahsyat yang begitu menggetarkan, penghormatan yang menggembirakan dan menyembuhkan, memberi lega dan kepatuhan diri, lain kali, aku akan merasa bersalah bila hanya dapat mencium jemarimu saja.Barangkali, itulah yang membuatku lantas terdiam, berhenti menduga-duga, berusaha untuk tak menyalahkan, berusaha untuk menerima alasanmu. Karena ketulusan, seperti yang selama ini kupahami selalu saja mengejawantahkan berbagai alasan. Itu pula yang selama ini selalu membawa kita pada muara yang sama.Dalam dialog panjang kita, resonansi desah nafas yang tak begitu teratur, seiring dengan emosi yang ikut menyelinap. Aku berusaha berdamai dengan keadaan. Kau dan aku dipertemukan dalam perbedaan. Seharusnya kita tak saling menyalahkan seperti ini. Bukahkah kita telah lama saling mencintai?“Aku datang malam itu, berusaha menemuimu, untuk memenuhi janjiku.” Katamu pelan. Sarat kehati-hatian. Aku hening dalam kesenyapan, tak lantas percaya …

Menghapus Ingatan

Seperti pernah terjadi sebelumnya. Di mana ya? Aku seperti tak asing dengan kejadian ini. Oh ya, di sebuah cerita film Korea yang terkenal itu. Begitu melankoli dan membekas di benakku. Tapi sama sekali tak kuduga kisahku mirip Soo jin dalam film itu.

Bercelana jeans dan berkemeja puntung. Kau begitu good looking pagi itu, persisnya menjelang siang. Aku begitu bernafsu memandangimu. Kita duduk bersebelahan. Dan aku begitu leluasa melumatmu dalam imajinasiku. Kuselipkan tanganku untuk memeluk pinggangmu, sentuhan paling nyaman yang bisa menetralkan resah hati karena terus menerus menahan rindu. Aku ingin menciummu, tapi ruang bukan hanya milik kita ketika itu. Aku menyentuh pipimu, menyentuh lehermu, menyentuh telingamu. Maaf, aku telah berlaku kurang ajar hari itu. Aku meremas rambutmu sebelum akhirnya kusandarkan kepalaku ke perutmu. Kupeluk kau sebisaku.


Pertemuan kita, ibarat percintaan yang tak usai ketika tubuh akan menggelinjang menahan puncaknya. Kita terkekang oleh keterbatasan …

Dialog Dua Hati

Dialog Dua HatiOleh: Ihan Sunrise
Aku menyebutnya malaikat kecil. Matanya selalu bercahaya seperti lilin. Memberi kedamaian dan menenangkan. Senyumnya lepas. Mempesona siapapun yang melihatnya. Malaikat kecilku, berdiri gagah berpenyangga kaki yang kokoh. Tangannya menjuntai mungil. Seolah ingin mentasbihkan bahwa ia adalah raja bagi pemilik hati. Pun kepadaku!Itu adalah beberapa tahun yang lalu. Aku melihatnya pada selembar gambar yang diperlihatkan oleh seseorang. Tetapi ia begitu nyata dalam ingatanku. Ingatan yang terus tumbuh. Dan berkembang. Lalu menjadi dewasa.Malaikat kecilku telah menjadi pangeran! Pangeran yang gagah. Bahu kekar serupa perisai yang siap melindungi siapapun. Dada bidang sebagai pertanda kelapangan hatinya yang penuh cinta kasih. Tangannya masih menjuntai. Matanya masih berbinar. Ia berdiri di hadapanku. Dengan senyum berderai memancarkan kedamaian. “Tante Joana?” Aku terhenyak. Tak menyangka ia mewarisi suara berat ayahnya. Aku berusaha ters…